A/N: Huff... Susahnya jadi anak SMA. Tugas menumpuk tiada akhir, ulangan pada remidi semua, dan begitu deh... (?)

Baiklah, disini chapter 2 Tasteless Heart, maaf karena author telat meng-update ficnya. Hal itu dikarenakan author lagi kebanjiran tugas... T^T

Baiklah, happy reading, minna-san... ^^

Disclaimer: Inazuma eleven is belong to level-5

Warning: AU, OOC, Shonen ai, sedikit inspirasi dari manga Kitchen Princess. Don't like? Bacalah dulu! Masih tak suka? Jangan diflame, apalagi di abuse. Kasihan author yang begadang ngetik fic ini... T^T

Tasteless Heart

Chapter 2

My Second Meet With that Little Kitty

Sang mentari senja telah mengucapkan salam perpisahannya pada langit, digantikan oleh ratu rembulan yang mulai naik ke peraduan. Awan-awan mulai berarak memadukan warna hitam untuk langit malam. Bintang-bintang kecil mulai berdatangangan sambil menari-nari di angkasa. Sungguh malam yang istimewa untuk hari dimana takdir itu dimulai...

"Kau tahu, aku baru saja bertemu dengan anak laki-laki yang aneh sekali!" Mamoru mulai bercerita tentang pengalamannya di sore hari tadi kepada Ichirouta. Dengan semangat Mamoru menceritakan detail-detail kejadian itu, sedangkan teman sekamarnya hanya mendengarkan dengan seksama sambil tersenyum kecil.

"Jadi... Kau berjanji akan membuatkan kue untuk anak itu?" Tanya Ichirouta setelah selesai mendengar keseluruhan cerita Mamoru.

"Iya! Dan aku yakin kalau dia pasti ada di sekolah ini! Semoga bisa cepat bertemu..." Mamoru mulai memejamkan matanya sambil berdoa. Tanpa sadar, bocah berambut cokelat itu mulai tersenyum lembut. Ichirouta yang melihatnya langsung tersenyum geli.

"Ahahaha...! Sepertinya Mamoru suka sekali ya pada orang yang baru kau temui itu?" Ichirouta mulai mengacak rambut Mamoru. Kata-kata Ichirouta barusan membuat Mamoru tertegun.

"Suka...?" Mamoru mulai menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya tuan muda berusia 14 tahun ini memang masih kurang paham dengan sebuah hal yang bernama 'cinta' dan 'suka'. Hal itu memang sudah sering diajarkan padanya, tapi Mamoru sendiri masih merasa bahwa itu adalah hal yang abstrak. Karena ia sendiri tak pernah tahu akan wujud cinta yang sebenarnya.

"Ichirouta, memangnya dari mana kau dapat menyimpulkan bahwa aku menyukai si rambut bawang itu?" Ichirouta yang ditanyai Mamoru hanya sweatdrop saat mendengar kata 'rambut bawang'. Namun kemudian anak berambut turquoise yang diikat ponytail itu langsung memberi penjelasan pada Mamoru.

"Ahaha... Itu mudah saja Mamoru. Keluarga Kazemaru itu bekerja di bidang psikologi. Lagipula, siapa yang tidak sadar bila kau bercerita tentangnya sambil senyum-senyum terus begitu...?" Ichirouta mulai menoel-noel pipi Mamoru. Sementara yang diceramahi hanya menggembungkan pipinya, sedikit sebal karena merasa kalah.

"Jadi... Aku menyukainya ya?" Mamoru mulai tertunduk sambil memainkan jarinya. Semburat warna merah mulai terlihat di kedua pipi tembemnya. Melihat itu, lagi-lgi Ichirouta hanya tersenyum kecil saja.

"Hahaha! Asyiknya jadi orang yang sedang jatuh cinta..." Ichirouta tertawa renyah sambil membuatkan susu hangat untuk Mamoru. Mendengar ucapan Ichirouta, beberapa hal mulai terlintas dalam pikiran Mamoru.

"Kalau Ichirouta sendiri bagaimana?" Mamoru mulai bertanya dengan polosnya. Sedikitnya, pertanyaan itu membuat Ichioruta kaget sampai terlonjak.

"Ehh? Aku? Aduh... Bagaimana ya..." Sesosok orang mulai terbayang dalam benak Ichirouta. Begitu pula dengan lintasan kejadian yang telah lalu. Sudah sangat lama, namun ingatan tentang hari-hari itu masihlah belum pudar sama sekali. Kenangan dan janji saat pertemuan pertama, pengalaman berharga saat menjalani hari-hari bersama, dan juga tumbuhnya harapan dan perasaan baru saat terakhir kali berjumpa. Itulah segala hal yang telah diberikan olehnya. Oleh orang yang paling berharga dalam hidup Ichirouta...

Ichirouta makin terlarut dalam lamunannya. Membuat Mamoru memiringkan kepala, lalu mulai mendekati Ichirouta sambil menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan mata sang pemuda bermata cokelat madu itu.

"Hoi, Ichirouta. Kau baik-baik saja? Ichirouta? Ichiroutaa!" Teriakan Mamoru langsung dapat mengembalikan Ichirouta ke alam sadarnya. Pemuda berambut turquoise itu cengo dan termenung sendiri.

"Kau sedang membayangkan seseorang ya? Hayooo, siapa dia?" Mamoru mulai menggoda Ichirouta, sementara yang digoda hanya tertunduk malu saja.

"Orang yang kusukai... Bukannya tidak ada sih, tapi..." Ichirouta memalingkan wajahnya, "Orang itu pergi meninggalkanku. Entah kapan akan kembali, aku tidak tahu..." Ichirouta memaksakan dirinya untuk tersenyum, namun tentu saja Mamoru dapat membaca isi hatinya.

"...Pasti akan bertemu lagi!" Mamoru mengeluarkan cengiran khasnya sambil mengepalkan tangannya dan meninju udara. Lalu bersorak-sorak dengan penuh semangat. Dasar anak hiperaktif (plak!).

"Ya... Pasti akan bertemu lagi..." Ichirouta tersenyum lembut, teringat pada sebuah ucapan yang pernah didengarnya dari orang 'itu'...

Tralala.. Ini pembatas cerita...

Pagi telah datang. Hembusan angin yang berpadu dengan lembutnya embun pagi menyapa daun-daun di halaman. Tirai jendela mulai berayun karena dimainkan oleh angin. Di dalam asrama Raimon, tepatnya di kamar nomor 13. tempat dimana telah ada 2 orang yang tertidur di ranjang susun dengan damainya. Terlalu damai sampai datangnya badai, berupa alunan melody dengan frekuensi yang luar biasa. Dari mana kalau bukan dari jam weker berbentuk Kuriboh putih milik Mamoru?

"KRIIING!"

"Berisssiiik!" Terdengar suara kemarahan dari sosok Ichirouta yang masih setengah ngelindur. Mamoru yang didesak oleh 2 alunan suara maut ini langsung terbangun sambil terkaget-kaget. Ditundukkannya kepala bertanduk miliknya itu untuk melihat sosok Ichirouta yang telah meracau tak jelas...

"Hei kau! Yang benar saja! Jangan bangunkan aku yang pegawai negeri sipil ini! Biasanya aku hampir tak pernah tidur dan akhirnya sekarang dapat tidur nyenyak, tapi kau malah membuyarkan istirahat pendekku! Keluar kau! Hei, orang yang seenak jidat nyetel jam weker pas ditelingaku!" Dan Mamoru-pun sweatdrop sendiri saat mendengar racauan Ichirouta. Memangnya sejak kapan Ichirouta menjadi pegawai negeri? Ah, sudahlah. Namanya juga orang masih belum sadar sepenuhnya...

"Ichirouta? Kau masih waras kan...?" Dan kata-kata Mamoru yang sebenarnya tidak bermaksud buruk ini ternyata cukup menohok juga. Untungnya sih, Ichirouta masih dalam keadaan setengah sadar, jadi sang anak berambut turquoise panjang tersebut hanya cengo saat kembali ke alam sadar.

"...Oh, sepertinya aku ngelindur lagi. Gomen, Mamoru..." Anak berambut turquoise itu hanya dapat tersenyum memelas saat tersadar dari kengelindurannya. Dan Mamoru-pun hanya tersenyum garing.

Pagi itu berjalan dengan sangat cepat. Ah, tidak... Tepatnya sangat terburu-buru. Ichirouta langsung bergegas menyiapkan sarapan. Sementara Mamoru, dengan kemampuan mandi bebeknya dapat keluar-masuk WC hanya dalam waktu 5 menit, plus dengan telah memakai seragam sekolahnya.

"Seragam itu cocok untukmu..." Dan Ichirouta malah tersenyum dengan normalnya saat mendapati Mamoru yang telah ngejreng, tanpa memusingkan soal kecepatan mandi Mamoru sedikitpun.

"Ehehehe, arigato!" Balas Mamoru yang kemudian mulai memakan sandwich yang dibuatkan Ichirouta. Dilihat dari cara makannya, sepertinya Mamoru memang ingin cepat-cepat sampai ke sekolah. Apalagi kalau bukan karena soal si rambut bawang yang kemarin ditemuinya itu? Mamoru ingin bertemu lagi dengannya secepatnya. Melihat sikap Mamoru, Ichirouta hanya tersenyum geli sambil mengelengkan kepala.

"Jangan terburu-buru, Mamoru. Nanti juga pasti akan bertemu 'dengannya' kok..." Dan dengan suksesnya, ucapan Ichirouta membuat Mamoru terbatuk dan blushing. Tak mengelak sedikitpun, Mamoru hanya membisu sambil tetap memakan rotinya. Meski wajahnya saat ini terlihat berwarna merah padam.

'Hihihi... Lucu sekali anak ini.' Batin Ichirouta sambil tetap memakan sandwich bagiannya.

Tralala... Ini pembatas cerita... (plak!)

Mamoru melangkahkan kakinya mengitari halaman Raimon Gakuen sambil bersenandung riang. Ichirouta-pun ikut tersenyum lembut saat melihat Mamoru yang sedang dalam great-mood-mode ini. Di lapangan ini terdapat banyak murid yang akan mengikuti upacara semester baru. Dan disini, berdirilah sosok Mamoru Endou dengan segala harapannya...

'Semoga bisa bertemu lagi...'

Sayangnya, keinginan Mamoru tersebut agak sulit terwujud. Diperkirakan telah masuk sekitar kurang lebih 1000 orang murid baru di semester ini, sementara jumlah total siswa di sekolah ini masih belum jelas. Ditambah Mamoru hanya memiliki informasi berupa nama orang itu saja. Bahkan Mamoru-pun juga berpikir bahwa ini akan memakan waktu yang cukup lama, namun tentunya anak ini takkan menyerah...

Baiklah, kita lewatkan upacara penerimaan siswa baru ini. Kini Mamoru sedang berjalan berdua bersama Ichirouta, menuju taman rahasia yang didatangi Mamoru kemarin harinya.

"Disini... Kemarin aku bertemu dengan si rambut bawang itu di pohon sakura..." Mamoru mulai bercerita pada Ichirouta sambil tersenyum kecil.

"Kalau bia bertemu lagi di tempat ini, artinya kau berjodoh dengannya." Ichirouta mulai tersenyum lebar, sementara Mamoru langsung blushing sambil mengalihkan pandangannya.

"Yah... Mungkin saja."

"..Kumohon, makanlah flan buatanku ini..." Terdengar suara seorang gadis. Mamoru dan Ichirouta yang mendengar suara itu saling berpandangan, lalu langsung berjalan perlahan menuju asal suara. Dibalik sebuah pohon sakura, tampak sosok anak perempuan berambut ungu, sedang bicara dengan seseorang. Sayangnya sosok orang yang ada di hadapan gadis manis itu tertutupi oleh batang pohon sakura.

"...Tidak mau." Sosok dibalik sakura ini menjawab dengan datar. Suara berat yang tidak asing. Namun baik Mamoru ataupun Ichirouta sama sekali tak memikirkan siapa pemilik suara itu, mereka malah asyik mengintip di balik pohon sakura yang lain.

"Ternyata Raimon Gakuen memang hebat... Baru semester baru begini sudah ada yang tembak-menembak..." Gumam Mamoru yang cengo.

"Kan cuma memberi makanan. Lagipula, sepertinya gadis itu akan ditolak. Sayang sekali, padahal manis begitu..." Bisik Ichirouta sambil geleng-geleng kepala, merasa kasihan pada gadis manis berambut ungu itu.

"Ya sudahlah, kita intip saja mereka dulu..." Ucap Mamoru antusias. Ngomong-ngomong, sejak kapan mereka berdua beralih profesi menjadi tukang intip? Ternyata, baik Mamoru ataupun Ichirouta sama saja. Sama-sama gajenya.

Berlanjut ke sang gadis dan gebetannya...

"Tapi, aku sudah susah payah membuatnya..." Gadis itu mulai meratap dengan puppy eyes.

"Memangnya ada orang yang mau makan flan hancur begini? Lagipula, mau kau kasih makanan apapun juga aku takkan menerimanya!" Sang pria yang tertutup sakura itu mulai membentak sang gadis, sambil menatap ilfeel pada flan yang disodorkan gadis berambut ungu tersebut..

"Kumohon... Tak baik jika kau selalu menolak untuk memakan sesuatu." Gadis itu mulai menyodorkan flan buatannya pada sang pria, disertai dengan senyuman tulus, "Aku tak ingin melihatmu yang merasa sakit saat melihat makanan..."

"Aku.. Tidak butuh!" Pria tersebut emosi dan langsung mengibaskan flan buatan sang gadis berambut ungu. Mata gadis itu terbelalak saat mendapati flan yang telah susah payah dibuatnya itu hancur berantakan di tanah, sementara ada seorang lagi yang merasa sangat emosi.

"Dia... Buang-buang makanan... Tidak akan kumaafkaaan!" Dan dengan segala tindak bonek(bondo nekat)nya, Mamoru langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menerjang ke arah sang pria yang telah membuang flan 'berharga' itu. Menghiraukan Ichirouta yang cengo karena ditinggal begitu saja.

"Mamoru! Tunggu dulu...!" Percuma kau meneriakinya Ichirouta, Mamoru terlanjur kabur.

'Sepertinya anak itu menjadi sangat peka bila menyangkut soal makanan...' Dan Ichirouta hanya sweatdrop sambil tersenyum geli, lalu melangkah menyusul Mamoru.

"Hei kau! Jangan buang-buang makanan seenaknya! Dasar... ...!" Gerakan Mamoru yang sudah mencengkram kerah baju pria itu terhenti. Tadinya Mamoru ingin segera menghajar anak itu, namun pemikirannya seolah terhenti saat melihat wajah dari sosok yang ada dalam cengkramanya itu.

"Kau..." Cengkraman Mamoru merenggang saat menatap wajah orang yang ada dihadapannya. Mata cokelat Mamoru membulat sempurna, sementara sosok berambut putih tulang itu menatap datar Mamoru dengan sepasang mata onyxnya. Tangan anak itu bergerak menepuk pelan kepala Mamoru, dengan wajah yang masih tanpa ekspresi. Itulah khasnya...

"...Kita bertemu lagi, anak kucing..."

"Shuuya... Goenji...?"

To be Continued...

Dan akhirnya Mamoru bertemu lagi dengan si rambut bawang (plak!). Dan saia Cuma bisa update fic yang ini karena keterbatasan waktu mengetik saia. Banyak tugas... T^T

Nah, pertanyaannya, siapakah cewek yang ngasih flan ke Shuuya? (pertanyaan kagak penting banget)

Oke oke, kita balas review dulu...

Aurica Nestmile:

Ahaha! XD dimana-mana, Mamoru memang selalu kocak.

Shuuya juga kok nggak marah ya dipanggil rambut bawang begitu? (plak!)

Ehehe... Arigato, Yue-chan...! XD

De-chan Aishiro:

Hyaaa! XD Arigato De-chaan! X'3

Ufufu.. KittyShipping? Boleh juga! XD saia mau merekap nama Shippingnya, tapi masih belum bisa ke warnet... T^T

Ehehe... Saia pernah tahu ada salad dari bunga Cosmos... ^^ Dan akhirnya ide salad dari bung itu muncul. Lalu bunga Cosmosnya saia pindahin di kebun mansionnya Shuuya yang di fic DC.. (plak!)

Huhuhu... Shuuya sakit, tepatnya karena shock atau apalah itu. (jdakk!)

ShuuyaxYuuto? Siip! XD Disini juga mereka punya hubungan keluarga kok.. (kayaknya sepupuan lagi sih)

Ahaha... Saia sering bikin kue, tapi banyak gagalnya. Sepertuhnya salah mama saia juga sih... -_- (jadi keinget cake yang bantat gara-gara dicemplungin milo sama sang mama)

Oke! Arigato reviewnya, De-chan...! XD

Akazora no Darktokyo:

Betul sekali, aru... Ini terinspirasi dari manga Kitchen princess...

Ehehe... Nantinya akan ada sedikit kejutan, aru (Cuma sedikit karena saia nggak ingin bikin fic yang lebih ruwet lagi)

Wah, saia banyak misstypo ya, aru?

Oke oke... Arigato, aru... (dihajar sampai setengah hidup)

Lho? Ngomong-ngomong, kenapa saia jadi ikutan pakai bahasa aru begini? 0_0

EA Omoko Natsuki:

Horee! XD Lanjutkan! (dihajar SBY)

Thx buat favnya ya, Natsuki-san... ^^

Arigato juga buat reviewnya...

Lalu terimakasih untuk bapak dan ibu saia, serta tukang tambal ban dan tukang parkit di sekolah saia... Hmppph! (dibekep)

Oke... Selesai sudah sesi balas review...

Huu... Saia kangen pada saat dimana kita semua pada komen-an foto-foto InaIre di fb... (gak penting!)

Arigato...

The Fallen Kuriboh