Costae ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi yang udah bersedia baca, apalagi repiu...duh,,,,saya sangat terharu...sampai menitikkan air mata 1 liter ~dikemplang~

Cyooo : iya chi, ini bukan one-shot, makasih udah mau nunggu, nek up date pasti aku kasih tau...via plurk ato sms

Tsuki n Rie : wohohohohohohoho.....emang aku nulisnya pair SasuYuki, gara2 tokoh utamanya mereka berdua... Masamune aku jadiin tokoh sampingan dulu wakakaka ~ditendang ma Date~ Di chapter 1, Date baru terpesona, belum trus suka ma Yukimura....

Dbluesea a.k.a mb dyka : ih...dikau nyama2in diri ma Masamune? Daku tak trima!!!!! Btw, emang Mouri itu mirip ma sapa? Kok daku merasa dikau menyamakan diriku dengan dia gara-gara omongannya yg ketus? Kalo u nton anime Senbasa pasti tau deh sapa Mouri.

~1 Liter Air Mata~

"Yukimura..."

"Ha?" jawabnya malas.

"Sasuke-san bakal datang gak,ke pertandingan Honda cup? Aku ingin main basket dengannya setelah nonton Honda cup"

Yukimura menendang batu kecil di depannya. "Hhhh...Ieyasu. Nii-san tidak mau dihubungi selama dia kuliah. Hei..ini 'kan Honda cup, dia pasti akan datang menonton, kau juga tau, Sasuke-nii sangat suka basket."

Mouri memperhatikan omongan mereka dari belakang. Dia lalu menjejeri Yukimura, merangkulnya. "Kau rindu bertemu dengannya,'kan? Dengan Sasuke-san." Wajah Yukimura mendadak mendung, dia lalu berhenti. Sore itu, mereka sedang berjalan di sekitar sungai. Matahari sore mengirimkan cahaya yang hangat menyinari mereka. Yukimura naik ke jembatan yang melintasi sungai kecil di bawahnya, Mouri dan Ieyasu mengikuti. Dia melemparkan kerikil kecil ke sungai.

"Nii-san punya banyak tugas, kuliahnya berat. Dia harus mendahulukan kewajibannya sebagai mahasiswa, sampai-sampai sulit untuk berkomunikasi dengan kami." Yukimura berkata sambil tetap melemparkan kerikil-kerikil ke sungai. Tak taunya di bawah ada bebek berenang, dan kerikil Yukimura hampir saja mengenai ekor bebek tersebut.

"Hampir saja kena."

"Menurutku tetap saja aneh. Sesibuk apapun, pasti masih ada kesempatan untuk menghubungi keluarga di rumah. Ayahku saja yang dinas ke luar negeri tidak pernah lupa menghubungi ibu dan aku." Mouri menanggapi omongan Yukimura. Ieyasu menarik Mouri dan berbisik. "Ssstt...jangan bicara begitu, Yukimura semakin sedih."

"Lupakan! Ayo cepat ke rumahku, ayah sudah menyiapkan kare super lezat untuk kalian." Yukimura menarik tangan kedua temannya dan berlari ke rumah.

"Aku pulang!"

"Permisi." Ucap dua teman Yukimura.

"Yukimuraaaa!!!!" Takeda Shingen berdiri melipat kedua tangan di depan dadanya.

"Oyakata-sama!" Yukimura sangat menghormati ayah adopsinya. Eits, aku belum bilang ya? Yukimura Takeda adalah anak angkat atau anak adopsi dari Takeda Shingen. Hubungan mereka memang sudah sebagai ayah dan anak, namun, Yukimura yang sangat mengagumi sosok ayah angkatnya ini, memberi dia julukan 'Oyakata-sama." Julukan itu biasa digunakan oleh jenderal kepada Tuan besarnya pada zaman Sengoku. Yukimura selalu bertekad untuk tidak pernah mengecewakan Oyakata-sama-nya.

"Yukimura! Kau terlambat 1 jam dari waktu seharusnya kau pulang!"

"Oyakata-sama! Di jalan ada yang jual jus enak, jadi aku mampir sebelum pulang."

"Buodoh!! Keterlambatan bisa membuat orang yang kau sayangi khawatir. Kau harus lapor jika memang pulang terlambat!"

"Maafkan aku , Oyakata-sama! Aku tidak akan mengulanginya! Dan aku akan selalu mengingat perkataan Oyakata-sama!"

"Bagus,Yukimura!"

"Oyakata-sama!"

"Yukimura!"

"Oyakata-sama!"

"Yukimura!"

"Oyakata-sama!"

"Yukimura!"

"Oyakata-sama!"

"Ehehm...ano...Takeda-san...kami ada di sini, bolehkah sekarang kami masuk?" Ieyasu sudah pegel rupanya berdiri di belakang Yukimura melihat percakapan aneh bin ajaib ala Shingen dan Yukimura. Percakapan itu emang biasa terjadi di rumah Yukimura. Tidak ada yang saling menyakiti lewat perkataan, sudah jadi kebiasaan. Semua itu Shingen lakukan supaya Yukimura mendapatkan didikan yang benar.

"Oh...rupanya ada Mouri-kun dan Ieyasu-kun."

"Ayah, mereka akan menginap malam ini di rumah, kami akan mengerjakan tugas bersama."

"Kalau begitu, bereskan kamarmu sekarang! Jangan turun sebelum kau selesai. Kami menunggumu di meja makan. Mouri-kun, Ieyasu-kun, silakan masuk."

"Siap! Oyakata-sama!" Yukimura segera menghilang secepat kilat ke kamarnya.

"Terimakasih, Takeda-san." Mereka masuk ke rumah Yukimura yang cukup besar dan hangat. Dari dapur tercium bau kare yang menggoda selera. Perut mereka berbunyi.

"Hahahaha....sana, kalian mandi dulu. Aku akan menyiapkan meja makan."

"Aku bantu, Takeda-san."

"Terimakasih Mouri-kun."

Ieyasu duluan mandi, Mouri membantu menyiapkan meja makan, sedangkan Yukimura berlari ke sana ke mari di lantai 2 membereskan kamarnya. 'Ambil futon 2 untuk mereka, selimut juga, bantal....' Bruk. Tiba-tiba Yukimura terjatuh di koridor. Tak ada bagian lantai yang licin yang bisa membuat dia terjatuh. 'Ugghh....kenapa aku tiba-tiba pusing?' Pandangan Yukimura kabur, dia merasa agak sesak nafas. Dia berhenti dan memposisikan dirinya agar dia bisa bernafas dengan baik. Setelah beberapa menit, dia berdiri lagi. 'Aku kenapa sih?' Dia heran, tapi memilih untuk tidak memikirkannya. Dia dengan riang mengangkat futon-futon, bantal,dan selimut ke kamarnya lalu menata di salah satu sudut, supaya tetap bersih saat akan dipakai. Setelah itu dia menuju kamar mandi.

"Yukimura!! Jangan lama-lama! Kami sudah lapar!" Teriak Ieyasu dari bawah. Ieyasu dan Mouri adalah teman bermain Yukimura sejak SMP, jadi mereka ada di rumah yukimura seperti di rumah sendiri, dan boleh teriak teriak.

"Tunggu aku!!!" Yukimura menuruni tangga dengan semangat. Nah, mereka berempat sudah menghadapi piring masing masing. "Itadakimasu!" Makan malampun mereka nikmati bersama.

Sementara itu, di Obihiro, tempat Takeda Sasuke menuntut ilmu. Ruang seminar hanya terisi separuhnya saja. Mata kuliah yang diajarkan adalah mata kuliah pilihan, selain itu mata kuliah ini terkenal killer, bikin IP mahasiswa jeblok. Sasuke salah satu mahasiswa yang berani mengambil mata kuliah ini. Kini,di sampingnya, duduk seorang Fuuma Kotaro, yang juga berani mengambil mata kuliah serem itu. Mereka satu tempat tinggal di Obihiro. Sama seperti Sasuke, Kotaro juga tidak berasal dari Obihiro.

Sasuke mengetu-ngetukkan pensilnya. Semakin bosan, dia ngemut pantat pensil, lalu memutar-mutar pensil. 10 menit kemudian, dia mengambil shuriken dari dalam tasnya, menggoyang-goyangkan ke sana kemari. Wups, shuriken itu lepas, terbang, tapi berhasil ditangkap dengan tangkas oleh Kotaro.

"Professor melihat ke arahmu."

Sasuke membenarkan posisi duduknya, dia cengengesan.

"Gomen, Kotaro...hari ini aku sedang bosan, dan kesal."

"Apa yang mengganggumu?" Kotaro menanggapi kata-kata Sasuke sambil tetap memandang lurus ke arah dosen yang mengajar.

"Aku bermimpi bertemu ibuku."

"Hm..." Kotaro mencoret-coret buku catatannya.

"Dia menyuruh aku pulang dan membahagiakan Yukimura, katanya :'Kalau tidak, kau akan menyesal'."

"Bagus itu."

"Hey,Kotaro...kau tidak di pihakku?"

"Hah....buat apa aku di pihak orang bodoh yang pergi dari rumah dengan alasan kuliah hanya untuk memuaskan ke-egoisan dirinya, sampai tidak mau bertemu dengan keluarganya lagi?" ejek Kotaro bernada sinis,menunjuk hidung Sasuke dengan ujung pensilnya.

"Singkirkan pensilmu dari hidungku! Liburan semester ini aku di sini saja, ambil semester pendek."

Plok. Kotaro menampar kepala Sasuke.

"Dasar keras kepala."

a.n

Ketika aku nulis kata 'Obihiro", jadi inget ma dosen dari Obihiro University yang pernah berkunjung ke kampus dan ngobrol2 dengan saya, duh,,,menyenangkan sekali bisa ngobrol dengan beliau......dan...hasil obrolannya saya bikin jadi fanfic...wakakakakaka