Sex Dreams

Chapter 2

Author : Lady Ze

Tittle : Sex Dreams

Main Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Warning : Genderswitch for Uke, NC – 18

Summary :

Kim Jaejoong berharap dia tidak bercinta dengan Yunho hanya dimimpi liarnya saja.


Aku menghela napas panjang berkali-kali, hari ini hari pertamaku berkerja sebagai sekretaris Tuan Jung, Jung Yunho, namja tampan, tegas, berkuasa yang berusia dua puluh delapan tahun. Namja berumur delapan tahun di atasku yang mampu membuatku bergairah hanya karena mendengar suaranya, memandangnya dari kejauhan, astaga...Jung Yunho, kau telah berkuasa penuh atas diriku, kau harus tahu itu.

Lift berbunyi tepat di lantai tiga puluh, ruangan kerja namja tampan itu. Ketegangan melingkupi diriku, dengan langkah sedikit kaku aku berjalan menyusuri lorong.

"Selamat pagi, Nona Cho."

Sekretaris itu mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas ke arahku, matanya berjalan dari sepatu high heels-ku hingga puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum kepadanya.

"Selamat pagi, Nona Kim. Penampilan anda lebih baik hari ini." katanya kepadaku, entah itu sebuah sindiran atau pujian, aku tidak peduli. Yang jelas aku harus berterima kasih kepada Junsu si cerewet yang menyuruhku memakai dress berwarna pink ini.

"Gomawo, saya anggap itu sebuah pujian untuk saya." kataku kemudian aku berdehem. "Jadi, dimana ruang kerja saya, Nona Cho ?"

"Panggil Kyuhyun saja, kita telah menjadi teman kerja disini, bagaimana?"

"Oh, baik, Kyuhyun."

"Duduklah dulu, aku akan menelepon Tuan Jung perihal kedatanganmu." Oh, kini dia menggunakan bahasa non-formal kepadaku, oke, aku mengikutimu, Kyuhyun.

"Ya, Kyuhyun."

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Kyuhyun menutup gagang teleponnya.

"Nah, Jaejoong, kau disuruh masuk ke dalam."

"Oke, Kyuhyun."

Aku berdiri, merapikan sebentar pakaianku yang terlihat sedikit kusut. Berjalan menuju pintu berwarna hitam, mengetuknya, dan membukanya dengan pelan.

"Permisi, Tuan Jung."

"Silahkan masuk, Jaejoong." katanya memamerkan senyuman kepadaku. Sial! Menyilaukan!

"Ya." Aku berdiri tepat dihadapannya. Aku berharap wajahku tidak terlihat bodoh saat ini.

"Duduklah, Jaejoong. Tidak usah terlalu tegang, santai saja." ucapnya kepadaku.

Aku langsung duduk, merapatkan kedua pahaku, dan tanganku berada di atas pahaku. Tuan Jung dengan sebuah berkas yang cukup tebal duduk di depanku. "Ini adalah berkas yang harus kamu baca, Jaejoong. Di dalamnya terdapat beberapa tugas-tugas yang harus kamu kerjakan dan sebagainya." katanya sambil mendorong berkas yang ada di atas meja itu ke arahku. Hei! Apa baru saja Jung Yunho berbicara dengan bahasa santai-nya? Dimana kata-kata "saya" dan "anda"?

"Iya, Tuan. Saya akan membaca dan mempelajarinya. Saya akan berusaha dengan baik."

Dia kembali memamerkan senyumannya kepadaku. Kali ini dia memajukan badannya ke arahku. Dekat, hingga aku bisa mencium dengan jelas parfum yang ia pakai, parfum yang kusukai. "Panggil Yunho saja, Jaejoong. Ah, Yunho oppa. Itu terdengar lebih manis."

Apa? Apa baru saja dia menggodaku? Jangan beritahu aku!

"A…apa?" tanyaku gugup.

Yunho semakin memajukan badannya, terlalu dekat, kali ini aku bisa merasakan hembusan napasnya menyentuh wajahku.

"Emm…" Aku mengerang ketika bibir hatinya menyentuh bibirku. Tidak ada pergerakan, ia hanya menempelkan bibirnya. Aku bosan! Aku memberanikan diriku dengan menggerakkan bibirku, melumat bibir bawahnya. Dia membalas, melumat bibir atasku. Dan aku kembali memberanikan diri dengan memeluk lehernya, membiarkan tangannya menekan tengkuk leherku, membuat ciuman ini semakin dalam dan panas.

"Nona Kim Jaejoong?!" Yunho menegurku sedikit memekik.

"Ah! Mi…mianhe." Aku terloncat dari tempat dudukku. Oh Tuhan! Apa baru saja aku membayangkan berciuman dengan Jung Yunho?

"Apa yang sedang berkelana dipikiranmu eoh?" tanyanya tanpa ekspresi. Aku tahu, aku baru saja membuat kesalahan.

"Ti…tidak, maafkan aku, Tuan Jung."

"Stop! Panggil aku Yunho oppa. Aku sudah memberitahumu. Dan tidak usah terlalu kaku bila bicara denganku, Jaejoong."

"Kenapa?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku. Harusnya aku menurut saja, tapi ini terlalu aneh. Kyuhyun saja, sekretaris lamanya masih memanggilnya Tuan Jung, sedangkan aku, baru beberapa menit duduk di ruangannya sudah disuruh memanggilnya oppa? Apa tidak terlalu aneh? Dan apa katanya? Lebih manis? Yang benar saja!

"Tidak apa-apa,Heechul biasa memanggilku seperti itu. Sudah tidak usah dibahas lagi. Kembali ke ruanganmu sekarang dan baca berkas yang kuberikan tadi, mengerti?"

"I...iya." jawabku gugup.


Sudah hampir satu jam aku membaca berkas ini. Terlalu banyak yang harus kukerjakan, aku kira aku hanya menemaninya meeting di luar perusahaan saja. Ternyata tidak! Dan yang benar saja, setiap jam istirahat aku harus mengantarkan makan siang untuknya. Bukankah itu seharusnya tugas Kyuhyun?

Suara telepon menghentikan aktivitas membacaku. Aku mengangkat gagang teleponnya.

"Selamat pagi. Hotel Hilton dengan Kim Jaejoong. Ada yang bisa saya bantu?" kataku dengan suara yang kubuat selembut mungkin.

"Jaejoong, ke ruanganku sekarang."

"Y...ya." jawabku gugup. Aku terlalu gugup mendengar suaranya yang terdengar seperti mendesah.

Aku langsung menuju ke ruangannya. Sedikit kuperhatikan penampilanku, rambutku yang tadi terurai kini kugulung ke atas. Tidak apa-apa, dia tidak mungkin protes.

"Permisi, Tuan…ah, maksudku Yunho oppa. Ada apa memanggilku?" tanyaku membetulkan kalimatku.

"Kemarilah, Jaejoong."

Aku melangkahkan kakiku untuk masuk lebih dalam menuju meja kerjanya yang…rapi? Sesuatu yang langka untuk seorang pimpinan.

"Ya?"

"Tolong bawa map ini ke Hotel Hilton yang berada di Mapo-gu, lalu temui Shim Changmin. Suruh dia tanda tangan disini." katanya tanpa ekspresi dengan jari telunjuknya yang menunjuk sebuah ruang kosong dengan nama Shim Changmin di bawahnya. Jari yang panjang, lentik dan…apa rasanya bila jari itu bermain-main ditubuhku?

"Mengerti?" tanyanya lagi membuyarkan lamunanku.

"Ya, aku mengerti, Yunho oppa."

"Oke, pergilah sekarang."

"Sekarang?"

"Ya, tunggu apa lagi?" tanyanya masih tanpa ekspresi.

"A…aku tidak punya kendaraan." lirihku.

"Oh, kau bisa meminta supir mengantarmu. Nah, cepatlah pergi."

"Ya." Aku langsung menggenggam map berwarna biru itu. Membungkukkan badanku kepadanya, lalu aku berbalik untuk keluar dari ruangannya.

"Hei, Jaejoong!" Aku menoleh ketika dia memanggil namaku.

"Ya?"

"Sebaiknya jangan menggulung rambutmu. Aku tidak suka melihat tatomu."

Tubuhku langsung terasa lemas. Saat ini juga aku melepas ikat rambutku. Menyisirnya dengan tanganku. Ah, aku merasa sudah ditolak secara tidak langsung.

"Sudah, Yunho oppa. Maafkan aku." Aku pun keluar dari kamarnya sambil menahan malu. Sial!


Aku melangkah masuk ke Hotel Hilton di Mapo-gu ini. Ini pertama kalinya aku ke hotel ini. Gedungnya sama besarnya dengan Hotel Hilton tempatku berkerja di Gangnam-gu.

"Permisi, saya Kim Jaejoong. Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Shim Changmin?" tanyaku kepada seorang resepsionis.

"Ya, apa anda sudah membuat janji, Nona Kim?"

Oh, apakah Shim Changmin adalah orang penting disini? "Saya belum membuat janji. Saya hanya disuruh oleh Tuan Jung Yunho untuk meminta tanda tangan Tuan Shim Changmin."

"Oh, Tuan Jung. Silahkan anda ke lantai tiga puluh, Nona Kim. Saya akan memberitahu sekretarisnya."

"Ya, terima kasih." jawabku masih penuh dengan kebingungan. Yang bisa kutebak saat ini adalah Shim Changmin seorang Direktur hotel ini. Apa dia tampan juga, eoh?

Lift yang membawaku sudah sampai di lantai tiga puluh. Aku berjalan menelusuri lorong yang hampir sama dengan lorong ruangan Jung Yunho. Hanya saja aku tidak merasa gugup berjalan disini.

"Permisi, saya Kim Jaejoong." kataku kepada seorang sekretaris berambut hitam.

"Ya, silahkan masuk, Nona Kim. Saya sudah ditelepon oleh resepsionis tadi."

"Terima kasih."

Aku menuju sebuah pintu bertuliskan Direktur, mengetuknya tiga kali, lalu membuka handle pintunya. Aku mengerutkan kening ketika melihat seorang namja yang masih sangat muda, mungkin masih berusia belasan tahun, duduk di kursi yang seharusnya milik seorang direktur.

"Permisi, apa Tuan Shim Changmin ada?" tanyaku kepadanya. Mungkin saja namja ini adalah anaknya yang sedang bermain-main disini.

Dia tersenyum lebar kepadaku. Lalu dia berjalan menghampiriku. "Ada yang bisa saya bantu?"

Hei! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan anak kecil seperti dia. "Saya mencari Tuan Shim Changmin, bukan anda anak muda." kataku dengan ketus.

Dia malah tertawa. "Bagaimana bila saya bilang, kalau saya adalah Shim Changmin, hm?"

Aku membelalakkan mataku. Apa katanya? "Be…benarkah?" tanyaku gugup karena aku merasa bersalah.

"Ya, tentu saja. Apa saya perlu mengeluarkan identitas agar anda percaya, nona cantik?"

Pipiku merona ketika dia mengatakan aku cantik. Andai saja Yunho yang mengatakannya, aku tidak akan ragu untuk menciumnya saat itu juga. "Ti…tidak, saya percaya. Maafkan saya telah lancang, Tuan Shim."

"Tidak apa-apa. Silahkan duduk, nona…"

"Kim Jaejoong. Nama saya Kim Jaejoong." kataku.

"Ya, Nona Kim. Silahkan duduk. Apa anda sekretaris baru Yunho hyung?"

"Ya, saya hanya menggantikan Kim Heechul selama dua minggu." jelasku.

"Oh, begitu. Lalu ada perlu apa mencari saya?"

"Ah, ini Tuan Shim. Tuan Jung meminta tanda tangan anda disini." kataku sambil memberikan map biru yang sejak tadi kugenggam.

Tanpa berbicara, dia menandatanganinya. "Sudah selesai." ucapnya.

"Terima kasih, Tuan Shim. Maafkan kelancangan saya tadi." kataku.

"Tidak apa-apa. Orang lain juga sering seperti itu kepada saya."

"Benarkah?"

"Ya, mereka mengira saya adalah anak direktur hotel ini."

Tepat sekali! Itu yang kupikirkan tadi!

"Kalau boleh tahu, berapa umur anda?" Maafkan aku harus menanyakan umurmu, aku terlalu penasaran untuk ini.

"Delapan belas tahun."

"Delapan belas?!" seruku tanpa sadar.

"Ya, tidak usah kaget, nona cantik. Tapi saya menyukai ekspresi terkejut anda tadi, terlihat sangat manis."

Oh, apa dia sedang merayuku?

"Ma..maaf. Baiklah, saya permisi dulu. Terima kasih, Tuan Shim." Aku berdiri dari dudukku. Aku membungkukkan badanku. Walaupun dia lebih muda dariku, tetap saja jabatannya di atasku.

"Tunggu sebentar!"

"Ya?"

"Apa aku boleh minta nomor ponselmu, Jaejoong noona. Engh…aku ingin berteman denganmu." katanya tersipu malu. Wajahnya terlihat sangat manis.

"Bo…boleh." Aku pun memberinya kartu namaku. Tidak masalah bukan bila berteman saja.

"Terima kasih, Jaejoong noona."

"Sama-sama, Tuan Shim." kataku tersenyum kepadanya.

"Panggil aku Changmin saja. Aku akan senang bila noona memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin terikat dengan peraturan kantor yang harus menggunakan bahasa formal. Itu terlalu kuno."

Ya, aku setuju!

"Iya, Changmin. Sampai jumpa." Dan aku keluar dari ruangannya. Aku tidak tahu kenapa berkata sampai jumpa kepadanya. Apa yang kuharapkan?

"Haah…andai saja Yunho seperti Changmin…" gumamku.


Di perjalan pulang, aku melirik jam tanganku. Setengah jam lagi waktunya istirahat. Artinya aku harus ke restoran hotel terlebih dahulu, mengambil makan siang Yunho dan mengantarkannya. Itu terlalu rumit, kenapa tidak menyuruh pelayan restoran saja? Apa Kim Heechul juga melakukan hal yang sama, eoh?

"Sudah sampai, Nona Kim."

"Terima kasih sudah mengantarkanku, ahjussi."

Aku berlari kecil menuju restoran kecil. Tinggal lima belas menit lagi. Aku tidak ingin dia mengomel karena aku telat mengantarkan makan siang.

"Permisi, saya ingin mengambil makan siang Tuan Jung." kataku kepada seorang pelayan.

"Sebentar, nona. Silahkan tunggu sebentar."

Aku mengangguk dengan pasti. Tidak berapa lama, pelayan tadi keluar dengan sebuah kotak bekal bertingkat dua.

"Ini, Nona Kim."

"Terima kasih." Aku langsung mengambil kotak bekal itu. Dan aku masih berlari kecil menuju lantai tiga puluh-nya Jung Yunho.

Ketika di lantai tiga puluh, aku menyempatkan melihat jam tanganku. Sisa lima menit lagi. Aku mempercepat langkahku menuju ruangannya dan langsung membuka pintunya.

Dia yang masih berada di meja kerjanya bingung melihatku dengan napas terengah-engah yang masih memegang map biru dengan tambahan kotak bekalnya.

"Maafkan aku, oppa. Aku takut telat mengantar makan siangmu."

"Oh. Bagaimana? Apa kamu sudah meminta tanda tangan Changmin?"

"Ya, ini map-nya. Aku tidak tahu kalau dia masih sangat muda." kataku lagi. Aku hanya berusaha mengubah suasana kaku ini menjadi lebih nyaman. Seperti aku dan Changmin tadi.

"Ya, dia sangat pintar. Apa kamu tertarik, eoh?"

Omo! "Ti…tidak, aku hanya kaget saja ketika dia mengatakan umurnya."

'Dan aku hanya tertarik kepadamu, Yunho sayang.' tambahku dalam hati.

"Yasudah, kamu bisa istirahat siang. Letakkan saja makan siangku di meja makan. Terima kasih."

Aku merengut kesal. Aku sudah susah payah agar tidak telat ke ruangannya. Dan dia hanya menanggapinya tanpa ekspresi.

"Baiklah."


Aku sekarang berada di kantin khusus karyawan hotel ini. Bersama Junsu dan juga bersama namja memuakkan yang berlebihan, Park Yoochun.

"Bagaimana pekerjaanmu, Joongie sayang?" tanya Junsu kepadaku.

"Tidak terlalu menarik, Junsu."

"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Junsu lagi.

"Tidak ada. Hanya saja aku merasa berkerja dengan sebuah robot yang tidak berperasaan. Terlalu kaku, dingin, tidak memiliki ekspresi, haah…entahlah…Suie."

"Kyaa…kau memanggilku Suie? Sama seperti Chunnie. Aku menyukainya, Joongie."

"Haah...jangan samakan aku dengan jidat lebar itu, huh." kataku mendengus kesal.

"Ya! Nona Kim Jaejoong! Jidatku tidak bersalah! Jangan bawa-bawa dia! Dasar maniak!"

"Apa! Kau mengatakan aku maniak! Bukankah itu kamu, Yoochun! Dasar Playboy!"

"Ya! Hentikan!"

Aku dan Yoochun sama-sama terdiam ketika Junsu berteriak cukup nyaring. Karyawan lain yang sedang makan siang pun menoleh ke arah kami.

"Dia yang salah, Suie sayang." ucap Yoochun membela dirinya.

"Mwo? Kamu yang salah! Jidatmu memang lebar dan itu fakta. Terima saja-lah, Yoochun!" Aku membela diriku juga.

"Astaga! Kalian berdua! Berhenti!" Untuk kedua kalinya Junsu berteriak. Wajahnya sampai memerah.

"Maaf." lirihku.

"Oke, Park Yoochun, habiskan makananmu dan Kim Jaejoong cepat ceritakan lagi tentang Tuan Jung. Kau tahu, aku sangat penasaran." ucapnya diakhiri dengan kekehan.

"Ya, Suie. Apa yang harus kuceritakan lagi? Bukankah tadi aku sudah mengatakan sifatnya, eoh?"

"Yah, tapi apa hanya itu saja?"

"Ah, aku baru ingat. Dia menyuruhku memanggil Yunho oppa. Dan dia berbicara denganku seperti teman lama."

"Mwo? Benarkah?"

"Hum! Hanya itu saja sifat bagusnya, menurutku. Dibalik tubuh robotnya."

"Dan kau masih berharap bisa bercinta dengannya, huh? Kau tidak takut bila dia bercinta denganmu seperti robot, eoh?"

Aku menatap tajam kepada orang yang bertanya seperti itu. Lagi-lagi dia yang menyulut emosi-ku. "Ya! Itu tidak mungkin! Aku belum tahu hal itu karena aku belum pernah mencobanya, Yoochun!"

Yoochun hanya tertawa, membuatku semakin emosi. Ketika aku hendak bicara lagi, ponselku berbunyi. Sebuah nomor asing meneleponku.

"Halo?"

"Jaejoong noona?"

Ternyata dia. Aku melirik ke arah Junsu dan Yoochun yang terlihat penasaran dengan orang yang meneleponku. "Ya, ada apa?"

"Apa noona sedang istirahat?"

"Iya, aku sedang makan siang dengan teman-temanku." jawabku dengan suara lembut. Dan sekali lagi aku melirik ke arah Junsu dan Yoochun, mereka terlihat semakin penasaran.

"Oh, begitu? Jadi tidak apa-apa aku meneleponmu, noona?"

"Tentu saja. Apa kamu sudah makan siang, Changmin?"

Aku kaget ketika Junsu menggenggam tangan kiriku dengan kuat. "Changmin? Shim Changmin meneleponmu?!" katanya berbisik. Aku tidak menjawabnya. Aku langsung saja berdiri dan meninggalkan Junsu dan Yoochun.

"Jaejoong noona? Ada apa? Apa aku menggaggumu dengan temanmu?"

"Aniya, aku sudah meninggalkan mereka. Aku sedang menuju ruanganku. Kamu sudah makan siang?" tanyaku lagi. Sekedar berbasa-basi.

"Ya, aku tidak pernah telat untuk makan siang, noona. Andai saja tadi kita makan siang berdua, itu pasti sangat menyenangkan."

"Hahaha...benarkah? Sayang sekali."

"Engh...bagaimana kalau makan malam berdua?"

"Makan malam?"

"Ne, malam ini. Apa kamu mau, noona?"

"Kapan?" Aku menghentikan langkahku. Aku tidak jadi masuk ke dalam lift. Aku menuju sebuah lorong yang mengarah ke toilet dan aku berdiri di lorong ini.

"Malam ini. Apa noona bisa?"

"Eh? Cepat sekali?"

"Tidak apa-apa. Lebih cepat lebih baik, noona. Jadi bagaimana?"

"Baiklah. Aku bisa, Changmin."

"Benarkah?! Aku akan menjemputmu!" Aku tertawa kecil mendengar suaranya yang terdengar ceria. Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru.

"Kau tahu alamatku?"

"Tentu saja! Ada di kartu namamu, noona. Jam delapan malam, oke?"

"Ya, Changmin. Aku akan menunggumu."

"Baiklah, nona cantik. Sampai jumpa! Aku harus menutup teleponnya sekarang."

"Jangan memanggilku seperti itu, Changmin. Baiklah, sampai jumpa!"

Sambungan telepon kami pun terputus. Aku kembali menuju lift. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri. Aku merasa senang. Sudah sangat lama aku tidak makan malam dengan seorang namja. Terakhir kalinya adalah bersama mantan kekasihku ketika aku masih sekolah.

Tapi...andai saja Jung Yunho yang mengajakku makan malam, aku pasti akan merasa sangat senang lagi.


"Jaejoong, Tuan Jung mencarimu. Cepat ke ruangannya." kata Kyuhyun kepadaku.

"Oh, terima kasih." Aku segera menuju ruangannya.

Ketika di dalam ruangannya, aku melihat dia masih sibuk di meja kerjanya. Makan siang yang buru-buru kubawa tadi belum tersentuh sama sekali.

"Ada apa, Yunho oppa?"

"Sudah selesai istirahatnya?"

"Ya, begitulah."

"Jaejoong, nanti malam kau ikut denganku. Seorang investor hotel ini mengajakku makan malam, dan aku membutuhkanmu. Karena ada kemungkinan beliau akan menambah sahamnya di hotel ini. Aku perlu kamu untuk membawa berkas-berkas. Mengerti?"

Aku terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebarnya. Aku sudah berjanji akan malam kepada Changmin. Dan Yunho juga mengajakku. Ini adalah kesempatan langka bagiku, makan malam bersama Yunho walaupun ada orang lain. Tapi, sisi baikku tidak ingin membuat Changmin sedih.

But, bila kita berakhir dengan bercinta...aku pasti tidak akan menolakmu, Yunho sayang. Tapi aku tahu, itu tidak mungkin. Dan aku pasti akan berakhir di kamar mandi, sendiri...

Apa yang harus kulakukan?

"Ma...maaf, Yunho oppa. Aku ada janji dengan temanku. Apa tidak bisa Kyuhyun saja yang menggantikanku?" Sisi baikku mengalahkan sisi jahatku yang egois. Aku memilih bersama Changmin. Karena memang dia yang mengajakku duluan.

Yunho memandangku dengan tajam. Tatapannya terlihat sangat tidak suka. Kemudian dia menghela napas kasar.

"Baiklah. Aku harap ini tidak akan terjadi lagi, Jaejoong. Kembali ke ruanganmu." suaranya terdengar sangat menakutkan.

Aku mengangguk gugup dan langsung menuju ruanganku. "Aku harap oppa makan siang terlebih dahulu. Aku tidak ingin oppa sakit." Bibirku agak bergetar ketika mengatakan hal itu, memang bukan tugasku untuk menyuruhnya makan. Hanya saja aku tidak ingin wajah tampannya berkurang karena sakit.

"Hm."


"Jaejoong, bisa bicara sebentar?" tanya Kyuhyun ketika aku hendak masuk ke ruanganku. Aku pun berbalik dan menuju ruangannya.

"Ya, ada apa?"

"Tuan Jung baru saja meneleponku. Dia sepertinya sedang marah karena kamu mementingkan urusan pribadi daripada pekerjaan."

Yang benar saja! "Iya, aku ada janji dengan temanku untuk makan malam bersama. Dia meneleponku sebelum aku masuk ke ruangan Yunho...ah, maksudku Tuan Jung. Aku tidak enak bila membatalkan janji kami. Dia pasti akan sedih sekali." jelasku kepada Kyuhyun.

Entah kenapa, aku sungguh tidak enak bila membatalkan janjiku kepada Changmin walaupun aku ingin sekali bersama Yunho.

"Apa benar dia temanmu? Bukan kekasihmu, eoh?" Kyuhyun dengan segenap rasa penasarannya bertanya kepadaku dengan nada menggoda.

"Bukan. Kau penasaran, eoh?" tanyaku balik menggodanya.

"Kau tahu saja, Jaejoong."

"Hmm...baiklah. Aku tidak ingin membuatmu mati penasaran. Sebenarnya aku akan malam dengan Shim Changmin, Direktur Hotel Hilton di Distrik Mapo-gu." jawabku dengan memamerkan senyuman lebarku.

"Shim Changmin?!"


To be continued.

Berniat untuk review ?

Big thanks to :

monstermin, cindyshim07, Edelweis, Keybin, viekrungysweetpumpkin, ninanutter116116, jungri27, missjelek, Dipa Woon, Vic89, , Cherry Yunjae, zhe, Himawari Ezuki, yoon HyunWoon, jae sekundes, han eun ji, lipminnie, Yjckiss, Rara, Riska0122, INTANDOOJON, Nony, myeolchigyuhee, star, Geumran, liekyusung, dianes, I was a Dreamer, RyGratia, Minyuuu, meirah.1111, TriaU-KnowHero, jaena, Hana – Kara, BooMilikBear, leebbunny, CuteCat88, Rly c jaekyu, farla 23, tarry 24792, momoyunjae, ringo-ichigo, Casshipper Jung and Guest.

-ZE-