Code Lyoko :

"Girls' Aggressive Side" (chapter 2)

By : Yusaki Sanjyou ©2012

.

.

.

Disclaimer : Code Lyoko © Moonscoop. Cerita ini, "Internet Problem" dan cerita-cerita lainnya adalah benar punya Saki.

Summary : Sissi telah menyampaikan rencananya untuk mendapatkan Ulrich kepada ayahnya. Dan beliau menyetujuinya. Hmm… Apa benar, rencana Sissi yang menurutnya sempurna bisa memisahkan Ulrich dan Yumi serta kelompoknya?

Rated : T

Genre : Friendship, Romance

A/N : Saki mau minta maaf atas typo di chapter 1 yang lalu. Soalnya Saki ngetik chapter 1 malem-malem. Kalo chapter ini ngetiknya shubuh-shubuh. Semoga di chapter ini nggak ada typo lagi. Latar cerita masih di season 2. Saki masih menunggu review dari minna. Tapi, bagi para reviewer, tolong jangan kasih review berupa flame.

w w w

"Lihat saja nanti, Ulrich… Aku pasti akan mendapatkanmu kali ini, lihat saja!" gumam Sissi.

Saat Sissi sudah sampai di kamarnya, Nicholas dan Herb bercerita sambil berjalan ke kamarnya masing-masing.

"Aku sungguh berharap rencana Sissi tidak akan berhasil kali ini," kata Herb dengan nada kesal.

"Kalau kau menyukai Sissi, itu artinya kau juga harus mendukungnya, Herb…," komentar Nicholas.

"Ya, seharusnya memang begitu. Tapi tidak untuk rencananya kali ini. Karena rencananya kali ini berkaitan dengan Ulrich. Hhhh! Awas kau, Ulrich!" balas Herb menumpahkan kekesalannya.

"Sudahlah, Herb. Kita lihat saja nanti sore… Yang namanya rencana tidak selalu berhasil, kan?" kata Nicholas menenangkan Herb.

Herb mengangguk pelan.

w w w

Sementara itu, Jeremy dan Aelita…

"Aelita, sebaiknya kita langsung saja mencoba data-data baru ini. Karena jumlahnya lumayan banyak, mungkin akan memakan waktu yang lama… Kita langsung saja ke pabrik ya?" ujar Jeremy.

"Ya, Jeremy. Lebih cepat lebih baik…," kata Aelita yang berjalan di sebelah Jeremy.

Jeremy menghentikan langkahnya, "Mmm, aku mau ambil flashdisk di kamarku dulu. Apa kau mau ikut?" tanya Jeremy.

"Baiklah, aku akan ikut denganmu," Aelita mengangguk.

Sesampainya di kamarnya, Jeremy segera mengambil flashdisk berwarna biru muda yang ada di sebelah komputernya, lalu segera bergegas menuju pabrik.

w w w

"Hei, Ulrich. Apa tidak apa-apa jika nilai fisika-mu dikisaran 5 terus? Aku tidak bermaksud mengejekmu, tapi aku hanya mengkhawatirkanmu soal ini. Yaah, kau tahu kan? Kalau begini terus, kau bisa dikeluarkan dari sekolah…" tanya Yumi khawatir.

"Haah…, Aku juga kepikiran nilai fisika-ku terus, Yumi. Aku tidak ingin membuat orangtuaku kecewa dengan hal ini. Mungkin nanti sore aku akan ke perpustakaan untuk belajar dengan Jeremy, itu-pun kalau dia mau…," jawab Ulrich dengan nada pasrah.

Yumi tersenyum, "Berjuanglah, Ulrich. Ganbattene. Aku mendukungmu," kata Yumi menyemangati Ulrich sambil mengacak-ngacak rambut Ulrich.

Ulrich blushing, "Terima kasih, Yumi…,"

"Ulrich, apa kau tidak ingin belajar dengan reinkarnasi Einstein yang baru ini?" tanya Odd yang mulai sombong lagi.

"Tidak, terimakasih. Reinkarnasi Einstein yang baru pasti punya penelitian, kan? Aku tidak ingin menganggu jalan penelitianmu itu," jawab Ulrich sambil menyuap habis spaghetti-nya.

"Ya, benar juga sih…," Odd menganggukkan kepalanya, "Aku sedang dalam penelitian yang bernama 'Penelitian Odd tentang anak perempuan di kelas 8'!" lanjut Odd.

Yumi dan Ulrich saling berpandangan, tak mengerti apa maksud Odd. Lalu mereka tertawa bersama.

w w w

Di pabrik…

"Aelita, masuklah ke scanner. Aku akan mencoba data-data dari flashdisk ini satu persatu. Kita akan tahu yang mana yang cocok nanti," pinta Jeremy sembari memakai headphone-nya.

"Kuharap salah satu dari data-data itu ada yang cocok denganku. Aku tidak ingin virus yang diberikan X.A.N.A padaku berhasil menguasaiku," sahut Aelita.

"Pasti ada, Aelita. Aku yakin itu. Kita tidak boleh putus asa hanya karena X.A.N.A," Jeremy menenangkan Aelita.

Aelita tersenyum dan ia segera memasuki salah satu scanner di ruang scanner.

"Kau sudah siap, Aelita? Tenang saja, ini takkan mengubah susunan apapun dari dirimu," tanya Jeremy.

Aelita menghela nafas, "Aku siap," lalu Aelita melangkahkan kakinya masuk ke scanner.

"Baik, aku akan memulai prosesnya," Jeremy mengetikkan suatu perintah di keyboard-nya.

"Aku akan mencoba dengan data yang pertama terlebih dahulu…," Jeremy membuka data itu dan menyamakannya dengan data-nya saat ia mematerialisasi Aelita, "Hmm… Kurasa tidak. Ini sama sekali tidak cocok. Aku akan mencoba dengan data yang lainnya… Kalau data yang ini juga berlawanan dengan data yang kumasukkan saat mematerialisasi Aelita,"

Tiba-tiba ada panggilan dari Ulrich, Jeremy segera menerimanya.

"Ada apa, Ulrich? Apa ada yang aneh di sekolah?" tanya Jeremy.

"Yaa… Mungkin ada yang aneh kalau kau dan Aelita tidak mengikuti kelas setelah istirahat hari ini… Kau ingat kan? Setelah istirahat, kita ada kelas matematika. 5 menit lagi kita akan memulai pelajarannya," jawab Ulrich.

"Oh tidak! Aku lupa soal itu! Terima kasih sudah mengingatkanku, Ulrich. Aku dan Aelita akan segera ke sekolah sekarang juga," kata Jeremy, lalu ia mengakhiri panggilan Ulrich.

Jeremy juga menghentikan proses penyamaan data pada Aelita, "Aelita, kau boleh keluar sekarang," ucap Jeremy.

Aelita keluar dari scanner dan langsung menuju lab.

"Proses-nya cepat sekali, Jeremy. Lalu, data apa yang cocok untukku?" tanya Aelita sambil menghampiri Jeremy.

"Kalau itu, aku belum tahu, Aelita. Aku baru saja dapat telepon dari Ulrich. Dia memberitahuku kalau kita melupakan sesuatu. Kau tahu apa yang kita lupakan? Kelas matematika. Dan yang lebih buruk, kelasnya akan dimulai 5 menit lagi," jelas Jeremy.

"Ah, tidak! Kenapa aku bisa melupakannya ya? Maaf ya, Jeremy. Gara-gara mengurusiku, kau jadi telat masuk kelas," ujar Aelita pelan.

"Apa? Tidak, Aelita. Ini bukan salahmu. Aku terlalu memaksakan kalau kita harus melakukannya hari ini. Jadi ini adalah salahku. Baiklah, ayo kita kembali ke sekolah, mungkin memang tidak mungkin untuk kembali dalam 5 menit, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," Jeremy melepas headphone-nya, dan segera pergi ke elevator bersama Aelita.

w w w

Pada saat yang sama, di kelas 8…

"Baik, anak-anak. Materi kita kali ini adalah lingkaran. Tapi sebelum kita mulai pelajarannya, kemana Jeremy dan Aelita?" tanya Ibu Meyer.

Ulrich berdiri dari kursinya dan mengangkat tangan kanannya, "Aelita pergi ke klinik sekolah, Bu. Katanya dia sedikit pusing. Sedangkan Jeremy menemani Aelita di klinik sekolah," kata Ulrich bohong.

"Hmm… Baiklah. Tapi tolong panggilkan Jeremy dan katakan padanya untuk masuk ke kelas. Walaupun ia sering mendapat nilai sempurna dalam matematika, tapi pelajaran ini amat penting dan tidak boleh dilewatkan," pinta Ibu Meyer.

"Baik, Ibu Meyer," Ulrich berdiri dari kursinya dan bersiap meninggalkan kelas, tapi Odd meminta Ulrich untuk menunggu sebentar, karena ia ingin mengatakan sesuatu.

"Wah, kebohongan yang bagus, Ulrich! Kau sampai bisa bolos dari kelas matematika!" puji Odd dengan berbisik.

"Ini bukan mauku, Odd. Tidak mungkin kan, kalau aku bilang Jeremy dan Aelita sedang di pabrik untuk menyamakan data untuk membuat antivirus untuk Aelita? Tidak akan ada yang percaya dengan itu dan rahasia kita selama ini soal Lyoko dan juga X.A.N.A akan terbongkar," balas Ulrich, dengan berbisik juga.

"Bolehkah aku ikut denganmu? Aku ingin bolos dari kelas matematika juga, sepertimu. Ya? Ya?" pinta Odd.

"Tidak, Odd. Jeremy dan Aelita sudah meninggalkan kelas, begitupun aku, lalu kau ingin ikut juga denganku. Yang ada, kita hanya akan dicurigai," kata Ulrich tidak setuju kalau Odd ikut dengannya.

"Kumohon, Ulrich! Aku sangat tidak mengerti pelajaran matematika tentang lingkaran sejak SD, juga soal aljabar. Jadi, berada 1.5 jam di kelas untuk membahas itu hanya akan menjadi neraka bagiku. Ya, Ulrich?" pinta Odd lagi.

"Ulrich! Apa yang kau lakukan? Cepat panggil Jeremy!" kata Ibu Meyer tegas.

"I..iya, Bu. Sebentar..," balas Ulrich agak sedikit kaget.

"Ulrich, kumohon…," Odd mulai mengeluarkan jurus puppy-eyes-nya. (Lah, emangnya ada?)

"Ulrich!" panggil Ibu Meyer lagi.

Ulrich menggeleng, "Maaf, Odd. Kau harus disini," lalu Ulrich segera keluar kelas.

Wajah Odd berubah menjadi cemberut. "Kurasa hari ini aku adalah anak laki-laki populer yang paling tidak beruntung di seluruh dunia," batin Odd.

w w w

"Ayolah Jeremy… Dimana kau? Kalau terlalu lama, kebohongan ini dapat terbongkar…," kata Ulrich pelan sambil mencari Jeremy di koridor.

"U..Ulrich! Haah.. haah.. Maaf, aku terlambat… A-apa pelajarannya sudah dimulai?," tanya Jeremy yang baru sampai di Kadic dengan nafas yang masih tidak stabil akibat berlari tadi.

"Yaah, materi kita hari ini adalah lingkaran. Aku mengatakan kalau Aelita sedang berada di klinik sekolah karena sedikit pusing, dan kau yang menemaninya. Tapi Ibu Meyer memintaku untuk memanggilmu, Jeremy. Dia bilang, walaupun nilaimu sudah bagus, bahkan sering mendapat nilai sempurna, tapi kau tidak boleh melewatkan materi hari ini," jelas Ulrich panjang.

"Terima kasih, Ulrich. Kau menyelamatkan kami dari hukuman dengan cara berbohong," ujar Aelita yang berada di sebelah Jeremy.

"Sebenarnya, Odd bilang kalau kebohongan yang kulakukan adalah kebohongan yang bagus…" tambah Ulrich.

"Ya, tapi mau bagaimanapun, itu tetaplah kebohongan. Dan bohong itu tidak baik, jadi lebih baik kita segera ke kelas agar kita tidak dicurigai," tukas Jeremy cepat.

"Ah ya, kau benar. Ayo kita kembali ke kelas," kata Aelita mengiyakan perkataan Jeremy.

"Mmm…, Jeremy," panggil Ulrich, "Bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mengajariku tentang soal-soal yang keluar pada ujian fisika minggu lalu? Aku akan menunggumu di perpustakaan. Kira-kira, jam berapa kita mulai?" pinta Ulrich.

"Boleh saja. Aku senang dapat membantu. Bagaimana kalau jam 3 sore nanti? Kelas matematika akan selesai pada jam 2, kau bisa istirahat 1 jam dulu, lalu kita akan belajar lagi. Bagaimana?" Jeremy menyetujui permintaan Ulrich.

Ulrich mengangguk, tanda ia setuju.

"Hei, kalian sedang apa? Ibu Meyer sudah menunggu kita!" seru Aelita yang sudah berlari menuju kelas.

"Kami menyusul di belakangmu, Aelita," kata Ulrich sambil berlari, sedangkan Jeremy berada di belakangnya.

w w w

"…Jadi, nilai x adalah -13. Bagaimana? Kalian paham?" kata Ibu Meyer menjelaskan.

"Berapa kali Ibu menjelaskannya, aku tetap menganggap kalau nilai x pada soal itu berarti X.A.N.A, atau bisa dibilang virus. Argh, keberadaan matematika di pikiranku seperti keberadaan X.A.N.A di Lyoko maupun di bumi! Begitu menganggu!" gumam Odd, tangannya menggambar monster-monster X.A.N.A di buku tulis matematikanya.

Melihat Odd yang asyik sendiri dengan buku tulis dan pensilnya, Ibu Meyer berencana akan menyuruh Odd untuk menyelesaikan soal matematika di depan kelas.

"Odd, kurasa kau sudah sangat memahami materi yang Ibu berikan hari ini. Jadi, bagaimana kalau kau menyelesaikan soal ini?" suruh Ibu Meyer.

Odd kaget dan berdiri secara spontan untuk membaca soal yang diberikan Ibu Meyer. "Aduh, bagaimana ini? Tidak ada Jeremy, lagi!" gerutu Odd dalam hati.

"Bagaimana, Odd? Apa kau sudah menemukan jawabannya? Berapa nilai x pada soal ini?" tanya Ibu Meyer.

"Ah! I-itu.. eh.. nilai x-nya… 5! I..iya, 5!" jawab Odd asal.

"Baguslah, Odd. Jawabanmu tepat. Tapi, bagaimana cara kau menyelesaikannya? Coba kau tulis cara penyelesaiannya di papan tulis," suruh Ibu Meyer lagi.

"Eeeh? Ma..maju?" Odd mulai sweatdrop.

"Iya, kau kan sudah bisa menjawabnya, Jadi, tinggal tuliskan saja cara penyelesaiannya di papan tulis. Apa susahnya sih?" Ibu Meyer menghampiri Odd dan menyerahkan spidol-nya pada Odd.

"Maaf kami telat, Ibu Meyer!" ucap Jeremy saat memasuki kelas. Ulrich dan Aelita berdiri di belakang Jeremy tanpa mengatakan apa-apa.

Ibu Meyer kembali mengambil spidol-nya dari tangan Odd, "Ah, kau sudah datang. Tapi kenapa lama sekali? Baiklah, sebagai hukuman karena telat masuk kelas, kerjakan soal yang ada di papan tulis itu, gantikan Odd. Nilai x-nya sudah ditemukan, yaitu 5, hanya saja, cara penyelesaiannya belum ditulis. Coba kau tuliskan di papan tulis, Jeremy. Kau sudah merasa lebih baik, Aelita? Baguslah… Ulrich, Aelita, kalian boleh duduk," Ibu Meyer mempersilakan.

Jeremy menyelesaikan soal yang diberikan Ibu Meyer di papan tulis. Itu mudah baginya. Sedangkan Ulrich kembali duduk di sebelah Odd. Saat Jeremy sudah selesai mengerjakan soal yang diberikan, Ibu Meyer memeriksa jawaban Jeremy, ternyata jawabannya benar. Ia kembali duduk di sebelah Aelita.

w w w

KRIIIIIIING!

Bel tanda pelajaran selesai telah berbunyi, Ibu Meyer menyudahi materinya hari ini. Anak-anak kelas 8 berhamburan keluar dan saling berkomentar tentang materi pelajaran matematika yang menurut mereka sulit, hari ini.

Ulrich dan Jeremy bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan sesuai jam yang sudah dijanjikan. Yumi pulang ke rumah. Aelita kembali ke kamar. Sedangkan Odd melanjutkan penelitiannya tentang anak perempuan di kelas 8 dengan cara stalking.

Saat berjalan menuju perpustakaan, Ulrich bertemu dengan Odd. Ia ingin mengobrol sebentar dengannya.

"Hei, Odd. Bagaimana pelajaran Ibu Meyer tadi?" tanya Ulrich mengawali pembicaraan.

"Haaah… Itu sama seperti keadaan X.A.N.A di Lyoko maupun di bumi. Begitu mengangguku. Aku juga tidak mengerti materinya. Yang dijelaskan Ibu Meyer tadi hanya x-x saja! Nilai x, 2x, x : y, aaakh! Mengingatnya saja sudah membuatku pusing. Itu karena kau tidak memperbolehkanku untuk membolos denganmu dari pelajaran matematika," jawab Odd sambil mengingat kejadian tadi siang.

"Aku tidak membolos, Odd. Aku kembali ke kelas, tadi. Bukan meninggalkan kelas. Kan sudah kubilang, nanti guru-guru akan mencurigai kita. Kau ingat kejadian waktu itu kan? Jim hampir saja mengetahui rahasia kita," kata Ulrich mengulang ucapannya tadi siang.

"Yaah, memang benar sih…," Odd terkekeh. "Kau tahu saat Ibu Meyer menyuruhku menyelesaikan soal di depan kelas, kan? Padahal, aku hanya menjawab asal, tapi kebetulan, jawabanku benar. Dan yang lebih baiknya lagi, saat aku disuruh menuliskan cara penyelesaian dari soal tersebut, Jeremy, kau, dan Aelita langsung datang, dan tugasku digantikan oleh Jeremy… Hehehe. Hari ini aku memang beruntung, dapat nilai ujian fisika bagus, dan juga berhasil menjawab soal matematika, walaupun secara asal dan aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya…," ujar Odd.

"Ya.. Ya.. Sekali lagi, selamat atas prestasi dadakan Anda, Tuan reinkarnasi Einstein," balas Ulrich menggoda Odd.

"Baiklah kalau begitu. Sebenarnya aku sedang melanjutkan penelitianku sekarang. Kalau kau sedang apa? Kok bawa buku-buku pelajaran?" tanya Odd mengalihkan pembicaraan.

"Aku sedang…," Ulrich menghentikan ucapannya sebentar, karena ia teringat sesuatu, "..Ah tidak! Aku melupakan Jeremy! Padahal akulah yang meminta bantuan darinya. Aaakh, dia pasti akan marah nanti,"

"Jeremy? Ada apa dengannya, Ulrich? Kau berjanji untuk belajar bersama ya?" tanya Odd lagi.

"Iya. Aku yang memintanya untuk mengajariku soal-soal fisika yang keluar dalam ujian minggu lalu. Kami berjanji untuk berkumpul di perpustakaan jam 3. Apa kau tahu sekarang jam berapa?" jawab Ulrich sambil melontarkan pertanyaan pada Odd.

"Hmm..," Odd mengecek jam di handphone-nya, "..Sekarang jam 3.10. Belum begitu terlambat kok, Ulrich…," kata Odd agar Ulrich tidak menyalahkan dirinya atas keterlambatannya.

"Walaupun hanya 10 menit, tapi sesampainya disana, pasti Jeremy akan menceramahiku tentang pengelolaan waktu. Haah~~~," balas Ulrich lemas.

"Jangan khawatir, Ulrich. Aku yakin, Jeremy tidak akan bicara apa-apa… Sekarang, kau masih sempat untuk pergi," Odd kembali menepuk-nepuk punggung Ulrich untuk menyemangatinya.

"Baiklah, aku pergi dulu ya. Selamat melanjutkan penelitianmu, Odd!" seru Ulrich sambil berlari menuju perpustakaan.

"Dah, Ulrich!" Odd melambaikan tangan, "Hee? Penelitian..? Oh iya, aku lupa! Heidi~~~~~~~!" Odd mengejar Heidi dan kembali men-stalk-nya.

w w w

Di perpustakaan…

"Uuh, mana Ulrich? Kok dia lama ya?" gumam Jeremy sambil melihat keadaan di sekitar perpustakaan.

"Baiklah, kalau dia belum datang, lebih baik aku mencari buku dulu saja. Mungkin ada yang menarik," lanjut Jeremy, lalu ia meninggalkan buku pelajarannya di meja yang tak jauh dengan rak tempat ia mencari buku.

"Buku ini…," Jeremy mengambil sebuah buku dan membaca judulnya, "'Software Komputer', sepertinya ini bagus. Aku bisa mempelajarinya dan membuat software sendiri yang berkaitan dengan Lyoko, nanti," batin Jeremy.

Ulrich masuk ke perpustakaan dan mencari Jeremy. "Jeremy?" panggilnya pelan.

Jeremy menoleh, "Ulrich, sini!" kata Jeremy dengan berbisik.

Ulrich menaruh buku-bukunya di meja terlebih dahulu, barulah ia menghampiri Jeremy di rak yang posisinya tak jauh dari meja.

"Buku apa itu?" tanya Ulrich, masih dengan suara yang pelan.

"Tentang software komputer… Nanti, kalau aku sudah selesai mempelajarinya, aku janji, aku akan membuat software yang berkaitan dengan Lyoko agar bisa memudahkan kalian melawan monster-monster X.A.N.A," jawab Jeremy sambil tersenyum, ia sudah mendapatkan bayangan kalau ia sudah bisa membuat software.

"Ooo… Baguslah kalau begitu, tapi… Bisa kita mulai sekarang?" pinta Ulrich sambil berjalan kembali ke kursinya.

"Baik," Jeremy membawa buku tadi dan kembali ke kursinya.

"Mana yang kau tidak mengerti? Nomor berapa?" tanya Jeremy memulai pengajarannya.

"Umm… Aku… No-nomor 1, Jeremy…," jawab Ulrich agak sedikit gugup dan menahan malu karena nomor 1, yang biasanya paling mudah, tapi menurutnya sulit.

"Ini? Ini kan hanya mencari jarak saja. Kau tahu rumus-nya kan? S = v x t. Jadi, tinggal masukkan saja angka-angka yang tertera di sini dan tinggal kalikan. Kau akan menemukan hasilnya," jelas Jeremy.

"S itu sama dengan apa ya? Lalu, kalau v dan t itu apa?" tanya Ulrich yang masih bingung dengan penjelasan Jeremy.

"Apa kau benar-benar lupa pelajaran ini, Ulrich? Kita sudah mempelajarinya di kelas 7. Tapi tidak apa-apa, aku akan menjelaskannya lagi… S sama dengan jarak, v artinya velocity atau kecepatan, sedangkan t artinya time atau waktu. Yang ditanyakan di soal ini adalah nilai s yang berarti jarak. Kalau dilihat dari rumusnya, s = v x t. Jadi nilai v dikalikan nilai t, dan akan menghasilkan nilai s," jelas Jeremy panjang lebar.

"S = v x t… Berarti, yang ini dikalikan dengan ini ya… Hmm," Ulrich mencoret-coret kertas hvs kosong yang sudah dibawanya untuk mengerjakan hitungan, "..Apa hasilnya 32 km/jam?" tanya Ulrich memastikan jawabannya.

"Ya, benar. Sekarang, kau sudah paham kan? Lalu, nomor berapa lagi yang kau tidak mengerti?" balas Jeremy.

"Nomor 2.., tolong ya, Jeremy?" pinta Ulrich.

Jeremy membaca soal nomor 2 di kertas ujian fisikanya :

'Pada menit pertama, sebuah mobil menempuh jarak 200 meter. Pada menit kedua, mobil itu memperlambat kelajuannya, sehingga jarak yang ditempuh hanya 150 meter. Pada menit ketiga, mobil itu mempercepat kelajuannya, sehingga ia menempuh jarak 275 meter. Berapakah kecepatan rata-rata dari mobil tersebut?'

"Oh, ini..," komentar Jeremy setelah ia selesai membaca soal nomor 2.

"Ini mudah, rumusnya s1 + s2 + s3 per t1 + t2 + t3. Yang dimaksud s1 disini adalah 200 meter, s2-nya 150 meter, sedangkan s3-nya 275 meter. Kau tinggal menjumahkannya, lalu hasilnya dibagi dengan 3 menit, asal 3 menit itu sebagai pertambahan dari-," penjelasan Jeremy terpotong oleh sesuatu.

'Mohon perhatian… Berdasarkan keputusan Kepala Sekolah Delmas yang melarang adanya kelompok dalam berteman, maka mulai hari ini, siapapun yang terlihat hanya berteman dengan teman yang itu-itu saja, ataupun masih berteman dalam kelompok, akan diberikan surat peringatan.

Jika surat peringatan itu sudah diterima sebanyak 3 kali, maka akan dikeluarkan dari sekolah dan akan dipindahkan ke sekolah lain yang kualitasnya lebih rendah daripada Kadic. Demikian pengumuman ini saya sampaikan, terima kasih'

"Apa maksud pengumuman yang disiarkan di siaran sekolah oleh Jim tadi? Jeremy, apa kau tahu?" tanya Ulrich yang konsentrasinya buyar karena saat dijelaskan Jeremy, tiba-tiba ada pengumuman.

"Oh tidak, ini gawat..," ucap Jeremy panik.

"Ada apa, Jeremy?" tanya Ulrich untuk memastikan keadaan Jeremy.

"Ini pasti perbuatan Sissi. Dia meminta pada kepala sekolah agar menerapkan aturan itu, karena dia ingin bergabung dengan kelompok kita, tapi selalu kita tolak. Jika tidak boleh berteman dalam kelompok, aku akan sulit menghubungi kalian apabila X.A.N.A menyerang, ataupun kesulitan saat aku menyampaikan tentang adanya perkembangan baru di Lyoko," jelas Jeremy yakin dengan hipotesis-nya.

"Apa? Sissi? Itu adalah sebuah nama yang paling membuatku kesal! Dia selalu saja ingin mencari masalah! Lalu, Jeremy, apa kau punya solusi soal hal ini?" komentar Ulrich.

"Ini yang aku takutkan… Tidak ada. Aku belum punya solusi untuk masalah ini, dan kau tahu kan, Ulrich? Jika kita melanggar aturan ini, maka kita akan dikeluarkan dari sekolah, dan akan dipindahkan. Aku tidak mau orangtuaku khawatir soal ini..," balas Jeremy pelan dengan nada kecewa.

"Oh, ya ampun… Kalau kita tidak berkelompok, bagaimana dengan X.A.N.A dan juga Lyoko?" tambah Ulrich.

#To Be Continue#

.

.

Sekilas tentang cerita,

Behind the story :

Saki : Moshi-moshi, minna~! Saki kembali lagi nih~! Ini chapter pertama Saki dengan kata-kata diatas kisaran 1000-an. Saki sendiri juga nggak tau kenapa. Padahal inspirasi chapter ini nggak ada loh… Adanya buat chapter-chapter selanjutnya…

Ulrich : Terus? Mau curhat gitu? Kalo mau curhat, sama Mama Ded*h gih!

Saki : Sabar.. sabar… Saki puasa nih. Kenapa sejak fic pertama Saki sampe fic kedua masih aja ada Ulrich yang selalu gangguin Saki?

Ulrich : Kamu doang yang meras terganggu, Saki… Tapi kenyataannya, yang lain nggak merasa gitu kok…

Saki : Iya aja deh, biar lama!

Oh ya, minna~ Maaf telat nih, tapi Saki mau ngucapin mohon maaf lahir dan batin. Mungkin selama ini ada kata-kata yang kurang berkenan dari Saki di hati readers…

Ulrich : Saki tuh nggak ada di hati readers tau! :P

Saki : Iiiih! Ulrich jahat banget sih! *mukulin Ulrich*

Ulrich : Wooooi! Selo bang! Inget! Puasa!

Saki : Eh iya, maaf… Btw, sekarang Saki udah sekelas nih sama kamu, Ulrich. Sama-sama kelas 8. Jadi, kamu nggak bisa ngeremehin Saki, terutama di pelajaran ipa, soalnya Saki dapet nilai tinggi di raport pas pelajaran itu!

Ulrich : Mau nyombongin diri ya? Udah cukup aku denger Odd nyombongin diri di fic Saki di chapter 1 dan 2. Nggak usah ditambahin Saki lagi deh~

Saki : Minna, FYI aja nih, nggak penting sih, tapi waktu bagian Jeremy ngajarin Ulrich soal-soal fisika itu, Saki sambil ngetik sambil ngambil buku catetan ipa. Soalnya ada rumus yang lupa… Hehehe

Ulrich : Yeee! Katanya pinter ipa? Kok gitu aja lupa?

Saki : Saki nggak seneng fisika dan kimia, Ulrich! Saki senengnya biologi! Tapi karena nonton Code Lyoko, walaupun nggak seneng pelajaran fisika, tapi tetep dapet ilmu fisika setelah nonton… Misalnya waktu lagi belajar tentang teknologi nano. Juga ilmu kimia waktu lagi belajar soal gas tertawa HO2 ( Kalo nggak salah, Saki lupa sih).

Ulrich : Makanya, nonton terus ya biar ada manfaatnya. Terutama buat pelajaran komputer, ipa, sama matematika. Tuh, Saki jadi seneng ngotak-ngatik laptop tuh, gara-gara merasa dia tuh jago komputer kayak Jeremy…

Saki : Yah malah promosi dia… Oke deh, nggak usah berlama-lama. Saki mau balesin review dulu ya (bagi yang bukan author/readers *Saki nggak tau apa namanya*) :

Hannamari Megumi : Arigatou Gozaimassu, review-mu membuat Saki bersemangat nih! Iya ya… Paling nyebelin kalo Sissi udah minta bantuan ayahnya. Terus, kesel juga kalo Sissi pingin misahin Ulrich sama Yumi. Urgh! Kalo ada beneran, pingin Saki apain gitu!

Nah, sekarang giliran Saki untuk meminta review dari para readers nih. Caranya masih gampang kok… Tinggal klik aja tombol 'review' di bawah ini, gampang kan?