Berjalan beriringan dengan heiress Gremory ternyata cukup merepotkan, pada awalnya dia hanya ingin mengobservasi daerah yang dia huni sekarang ini agar cepat mengetahui tindakan apa yang akan dia ambil. Beberapa kali dia menghela nafas, jujur saja walaupun dia ini memiliki sifat cukup egois dan dingin namun dia sangat tidak suka kecanggungan. Dia akan lebih memilih untuk berjalan sendiri atau melakukan apapun secara individual. tanpa ditemani siapapun, karena jujur saja itu membuatnya risih.
Apalagi sedari tadi Rias hanya berdiam diri tanpa sepatah katapun dia keluarkan dari dalam mulutnya, memang itu bagus karena dia juga tidak harus meladeni ocehan yang tidak berguna. Tapi jika harus memilih maka dia akan meninggalkan perempuan ini sendiri.
Sudah beberapa jam lalu dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar setelah makan bersama keluarga Gremory tadi, dia cukup merasa terbantu akan pertolongan dari Sirzech dan juga keluarganya. Tapi ia juga harus waspada karena beberapa kali juga Sirzech mencoba mengorek informasi tentang dia.
Berterima kasih kepada otaknya yang sangat jeli mencari jawaban, tentang asal dirinya dan bagaimana dia bisa terdampar di dimensi ini. Jika dilihat dari wajah Sirzech, sepertinya pria itu juga cukup terkejut dengan kasus pindah dimensi yang ia alami, yah~meskipun dia memang Hanya menceritakan 20% kebenaran saja.
Apapun yang bisa diketahui semua orang adalah ia yang hanya seseorang berkemampuan spesial, dia tidak ingin mencari masalah didunia ini dan hanya akan sedikit mengawasi saja, itupun jika semua berjalan lancar. Dia berpindah dimensi bukan untuk mencari ketenaran atau apapun yang berhubungan dengan popularitas nya di dunia ini, ia hanya harus diam dan menunggu waktu.
"Anu, tuan Naruto."
"Cukup Naruto, saat kau memanggilku dengan kata 'tuan' itu membuatku risih karena memang terdengar aneh dimana kau memanggil nama hiasan ramen dengan sebutan sopan. Lagipula aku ini juga bukan tipe orang yang ingin sebuah penghormatan." Naruto berucap dengan tetap berjalan tenang mengabaikan beberapa iblis yang memandang dirinya.
"Naruto, terima kasih untuk pertolongan mu waktu itu. Jika kau tidak datang, maka kemungkinan besar aku akan tetap menikah dengan Raiser."
"Tidak perku berterima kasih padaku, lagipula sudah kukatakan jika aku datang karena ketidaksengajaan. Lagipula kau cukup aneh, bagaimana kau bisa menolak pria seperti Raiser itu? Aku sedikit mengakui kehebatan yang dia miliki, bahkan kemampuan Regenerasi miliknya hampir menyamaiku. Teknik sihir yang dia miliki juga lumayan kuat, sihir api yang bisa dikembangkan lebih jauh jika dia mau belajar menguasainya."
Di negara elemntal dimana banyak Shinobi pengguna jutsu api, penguasaan yang dimiliki Raiser masih terlalu rendah, setidaknya dengan skill-skill aneh yang dimiliki para iblis dimana mereka menyebut sebuah teknik dengan nama sihir, Raiser harusnya bisa meningkatkan kualitas elemen yang dia miliki. Potensi untuk iblis itu berkembang sangat besar, berbeda dengan manusia sepertinya yang harus mengasah fisik untuk menampung semua kekuatan yang ada, para iblis sejatinya sudah memiliki fisik jauh diatas manusia normal dan energi yang lebih besar juga.
"Tapi Naruto, aku sedikit penasaran bagaimana kau dapat menggunakan semua kekuatan itu. Belum lagi alasan mengapa kau bisa bertahan di tempat kami para iblis, kau pasti tahu sendiri bagaimana beratnya tekanan dunia kami ini dan buruknya udara disini."
"Latihan tentu saja, selama 19 tahun hidupku aku gunakan untuk berlatih, bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal menyenangkan seperti bermain dengan teman-temanku atau hal yang lainnya. Ibuku sudah meninggal ketika aku dilahirkan akibat sebuah insiden, ayahku dibunuh ketika menjalankan perintah dari penguasa dan juga kakakku dihianati oleh pemimpin organisasi yang di ikuti."
Mengingat itu membuatnya kembali membuka kenangan usang tentang keluarganya, "penghianatan, cinta, dan kebencian dengan itulah aku hidup, maka jika ingin menjadi seorang yang dapat menguasai semuanya aku harus menjadi kuat dan membalaskan dendam kepada orang yang sudah mengambil semua yang aku miliki."
Naruto tersenyum diakhir kalimatnya dan beralih memandang Rias yang juga tengah tertegun dengan cerita yang dia miliki. "Lalu bagaimana denganmu, kulihat kau juga cukup kuat untuk bisa mengalahkan Raiser saat pertarungan. Kudengar juga kau mendapatkan julukan Ruin Princess dari para iblis karena kau juga mewarisi kekuatan seperti kakakmu."
"Tentang itu..." Rias menggantungkan kalimatnya dan membuat Naruto sedikit melirik ke arahnya.
Pemuda itu tidak mengetahui apa yang dipikirkan Rias dan mengapa mata gadis iblis itu agak ragu untuk menceritakannya. Pada akhirnya Naruto hanya menghela nafas dan memilih menyudahi topik ini.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu pandai mengolah energiku dan memvariasikan Power Destruction seperti kakak. Aku selalu khawatir jika kekuatan itu malah akan menyerang teman-temanku."
Dia mulai mengerti sekarang mengapa Rias terlihat sangat lemah pada waktu pertanding itu, mungkin saja wanita ini sudah terlebih dahulu kehabisan energi yang mana itu bisa lebih dimanfaatkan untuk hal lain. Jika memang benar apa yang dikatakan Rias mengenai kerisauan nya, maka ia bisa menyimpulkan jika kelemahan yang dimiliki perempuan ini bukan ada pada kekuatan maupun energinya, hanya saja kontrol atas keluarnya energi yang membuat pertarungan perempuan ini sangat mudah ditebak.
Jika itu dirinya maka dia tidak perlu menghawatirkan teman ataupun keluarga karena dia selalu bertindak sendiri, semua yang terjadi di dunia nya terpaksa membuat dirinya berjalan menempuh takdirnya seorang diri. Dia bisa saja memanfaatkan orang lain untuk keperluan ambisinya, namun sebatas itu jika orang yang ia manfaatkan kehilangan nyawa ataupun sudah tidak berada dipihaknya ia tidak peduli selama semua keinginannya tercapai.
Dia hidup di dunia hitam dimana mereka yang paling kuatlah yang dapat bertahan, orang egois yang bisa meninggalkan segalanya dan juga keinginan besar dalam mencapai sebuah ambisi. Dia hidup di dunia dimana cahaya dianggap sebagai Tuhan dan kegelapan dianggap sebagai momok yang menakutkan, namun anehnya semua orang malah menyembah Tuhan dan berteman dengan hal yang berkebalikan.
Siklus yang dia alami di dunianya dulu membuat dia sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan Rias, tepatnya ia tidak ingin mengerti. Seorang teman itu hanyalah alat yang bisa dimanfaatkan dan pantas untuk di buang ketika tidak dibutuhkan.
"Tapi jika kau berfikir kau akan kalah, mengapa kau memilih pertarungan ini?" Naruto mencoba bersikap normal dan tidak terlalu membantah apa yang difikirkan nya.
"Karena tidak ada cara lain, kakakku sudah terlanjur membuat keputusan pertunangan ini dan tidak ada cara untuk menolaknya kecuali dengan duel ini."
"Aneh, apa maksudmu?"
Rias mengambil nafas panjang, terlihat sekali dia juga tidak terlalu mengerti tentang keputusan sang kakak yang menjodohkan dirinya dengan pewaris klan Phenex itu.
Tapi jika alasannya adalah untuk memperbanyak keturunan ras murni maka agaknya dia jadi sedikit paham, namun tetap saja semua itu tanpa persetujuannya. Rias sendiri mengerti betul mengapa perjodohan antara pewaris klan ini cukup sering terjadi setelah mereka kehilangan separuh klan iblis pada saat perang saudara.
Kira-kira hanya tersisa tidak lebih dari 15 klan iblis murni saja yant tersisa sampai saat ini, itupun dengan anggota yang ikut mati dalam perang.
"Lupakan pertanyaanku tadi, aku tahu kau juga tidak mengerti kenapa kakakmu melakukan hal ini kan."
"Ummmm, sebenarnya aku juga mengerti ini untuk kelangsungan ras iblis murni, tapi aku tetap tidak paham mengapa kakak sama sekali tidak memberitahuku dan menggelar acara ini secara mendadak. Dan karena hal ini juga aku jadi hanya memiliki waktu sekitar seminggu untuk melatih semua anak buahku."
"Anak buahmu, apa itu ikatan untuk evil pieces yang kalian bahas tadi?"
Naruto sempat membahas tentang hal ini waktu di meja makan, perbincangan antara Rias dan Sirzech yang ingin menggunakan sesuatu padanya dan juga perkataan Kurama mengenai sesuatu yang kedua orang itu masukkan ke tubuhnya membiatnya sedikit curiga.
Beruntung dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena mau bagaimanapun juga tidak akan ada yang bisa memasukkan makluk atau benda apapun kedalam tubuhnya. Karena ada seekor makluk hidup terkuat di dalam tubuhnya yang akan menolak segala benda ataupun kontrak lain, jadi dia tidak perlu risau akan apa yang dilakukan Sirzech.
Dengan sedikit ancaman juga agaknya cukup berhasil, dia yang sedikit mengeluarkan aura intimidasi andalannya sanggup membuat Sirzech berfikir ulang untuk mengulangi kesalahannya itu. Meski dia juga tidak akan menyerang siapapun, asalkan mereka juga tidak mengusiknya itu sudah cukup.
Tapi, untuk sementara ini dia akan berjalan perlahan untuk dahulu. Dia juga datang kemari bukan untuk mencari masalah dengan siapapun, ia terlalu muak dengan segala konflik yang sudah dia lalui. Maka jika Naruto bisa, dia akan menjalani hidupnya disini secara normal.
"Aku, minta maaf soal keinginan ku yang ingin menjadikanmu budakku tanpa izinmu terlebih dahulu."
"Yah, aku cukup memakluminya."
Rias memandang Naruto yang sepertiya sama sekali tidak mempermasalahkan perihal tersebut, namun dari jawaban yang dikeluarkan pemuda itu dia agak sedikit penasaran juga. Mengenai kemampuan Naruto yang terlihat begitu hebat dan sementara Naruto sendiri adalah seorang manusia yang dia kenal sangat lah lemah.
Tubuh yang tidak abadi dan juga stamina yang terbatas, Umur yang memiliki batas waktu. Bahkan jika tanpa beberapa alat yang dipercayakan pada umat manusia maka dia yakin jika mereka bukanlah apa-apa.
Jika dibandingkan dengan Rias, maka harusnya sangat terpaut jauh. Dia adalah iblis yang hampir memiliki daya hidup abadi, dia tidak akan menua dan semua energinya akan terus bertambah seiring berjalannya usianya. Bahkan semenjak seorang iblis dilahirkan maka saat itu juga bayi iblis akan langsung memiliki kekuatan.
Tapi mengapa dari semua hal itu, hukum yang berlaku sama sekali tidak berpengaruh pada Naruto? Bahkan dia bisa mengalahkan seorang Raiser hanya dengan seujung jarinya tanpa mengeluarkan usaha berlebihan seperti dirinya.
Jika dikatakan iri, makan rias akan mengatakan jika dia sangat iri dengan kemampuan Naruto. Dilihat secara gamblang pun dia tahu seberapa kuat pemuda ini, aura yang dipancarkan benar-benar sangat kuat, bahkan ia tidak berhenti bergetar ketika tatapan mata kelam itu memandangnya.
"Naruto, mungkin ini terkesan ikut campur, tapi jika boleh tahu darimana kau mendapatkan semua kekuatan itu?" Rias memandangi Naruto yang juga menatap pada dirinya, dia dapat melihat pemuda itu sedikit mengeluarkan dengusan sebelum menjawab pertanyaannya.
"Apa kau ingin mengikuti apa yang aku lakukan untuk menjadi seperti diriku yang sekarang ini?" Tanya Naruto meluruskan pandangannya ke arah jalanan.
"Jika itu bisa membuatku lebih hebat, kenapa tidak?" Jawab Rias memiringkan wajahnya, jika Naruto itu seorang pemuda yang sedang mengalami masa puber maka bisa dipastikan dia akan terpesona dengan kecantikan yang ditunjukkan oleh perempuan iblis ini. Namun sayang nya Naruto bukanlah pemuda yang akan mengikuti insting hewan yang kebanyakan dimiliki oleh setiap pemuda seumuran dengannya.
Pemuda itu sedikit tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Rias, baginya itu tidak lebih dari jawaban dari seseorang yang begitu mendambakan kekuatan.
Kalau begitu, bunuhlah ayahmu, ibumu, dan semua anggota klan Gremory." Nada bicara yang berubah kosong diikuti pandangan kosong yang ditunjukkan Naruto, perubahan mimik wajah yang cukup signifikan itu membuat Rias membulatkan matanya dan menatap wajah sang pemuda itu dengan penuh keterkejutan.
"A-apa maksudmu?" Dia cukup pintar untuk mencerna bahwa Naruto sedang tidak bercanda dengannya, tapi mungkinkah... dia bahkan tidak mempercayainya!
"Aku sama sekali tidak bercanda, jadi hentikan pandanganmu itu." Naruto memutar bola matanya, sedikit merasa risih ketika tatapan Rias sedikit berlebihan.
"Ma-maksudmu, ka-kau membunuh semua keluargamu hanya demi, kekuatan?" Ujar Rias sedikit ragu.
"Yah, sebenarnya hanya 50 persen saja karena beberapa dari mereka berhasil lolos dan pasukan dari penguasa segera datang."
Dia tahu banyak yang sering bercanda bahwa banyak sekali yang bilang jika seseorang telah dibutakan oleh kekuatan maka apapun akan mereka lakukan bahkan menghabisi nyawa orang yang mereka sayangi. Tapi dia tidak menyangka jika semua itu memang benar-benar ada.
Bahkan bagi dirinya yang mendapatkan cap makhluk yang paling egois dan juga digambarkan penuh kerakusan pun tidak akan pernah mampu membunuh keluarganya sendiri, dia tidak sanggup melihat darah keluarganya berada ditangannya. Untuk kekuatan, dan bahkan demi menjadi dewa pun jika kau mengorbankan keluarga atau orang yang kau sayangi, maka itu tidak lebih sebagai hasil yang kosong.
Naruto yang melihat Rias hanya terdiam sembari mengikuti nya dari arah belakang hanya tersenyum remeh, "Keraguan itu tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan, jika kau ingin maju kau harus membuang beberapa hal yang menghambatmu untuk maju. Teman, sahabat, keluarga, mereka hanya akan membuatmu malas dan juga merasa cukup akan sesuatu. Memang mungkin akan ada perbedaan tersendiri jika kau memiliki seseorang yang berada didekatmu, namun jika kau kehilangan sesuatu itu maka kau juga akan langsung terpuruk ke dalam jurang yang dalam."
"Jika kau mengira aku adalah orang baik maka kau salah, Rias. Aku adalah seorang pembunuh yang sangat mendambakan kekuatan, selama itu bisa membuatku puas akan kekuatan maka apapun akan aku lakukan termasuk menghabisi nyawa seseorang. Hidup memang seperti ini, aku yang lemah tidak akan bisa menggapai apapun dan akan tersingkir oleh hukum rimba."
"Tapi, kau juga tidak punya hak untuk membunuh mereka semua, aku tidak tahu seberapa besar masalah yang kau miliki tapi kau harusnya tidak melakukan itu! kau tahu siapa yang kau habisi adalah keluargamu, apa kau tidak merasakan apapun?! Hatimu, dimana hatimu? kau ini manusia, bukan iblis, bahkan kami pun tidak akan pernah melakukan hal sehina itu!"
Grrrrrrrrr! Suara wanita itu membuatku jengah! Sebaiknya kau hentikan dia Naruto!* Kurama menggeram di dalam mindscape. Naruto menanggapin itu santai dan segera menenangkan Kurama yang terdengar sangat kesal itu. *Aku tidak mengerti, kau itu Masocist atau apa?! kenapa kau sangat senang jika dibenci orang lain?* Selama ini yang mengerti Semua tentang Naruto sepenuhnya hanyalah Kurama, karena bijuu itu telah tersegel didalam tubuh Naruto selama pemuda itu belum dapat mengunyah makanan. Jadi wajar saja dia kesal karena sifat yang Naruto miliki inilah yang paling dia benci.
"Hey, jangan mengatakan hal seperti itu, lagipula aku juga hanya mengatakan hal yang benar kan?"Kurama mendecih kesal dan mengurung kan niat membalas ucapan Naruto, ia lebih memilih kembali memejamkan mata merahnya tanpa mempedulikan Naruto.
"Tenanglah, lagipula hal itu juga tidak akan berpengaruh padamu." Ujar Naruto sembari mengacak surainya, ia sedikit terkekeh geli dan membuat Rias mengernyitkan dahinya. "Lagipula, aku juga tidak menyuruhmu melakukan apapun yang aku lakukan, kau memang benar jika mengatakan aku sangat hina bahkan sampah sekalipun dan aku tidak akan membantah sedikitpun."
Bagi Naruto perkataan yang menghina atau merendahkan seperti itu sudah tidak asing lagi baginya, jadi dia tidak mempermasalahkan Rias yang akan memandangnya seperti apa.
Setelah itu mereka kembali berjalan dalam hening, Rias tidak tahu lagi bagaimana dia harus berbicara. Dia terlalu canggung saat mata hitam itu sempat menatapnya tadi.
"Buchou!???"
Kedua makluk berbeda itu menghentikan langkahnya dan berbalik arah, mendapati seorang pemuda bersurai coklat yang melambai ditengah kerumunan bangsa iblis.
"Issei?" cicit Rias yang menyadari siapa yang memanggilnya.
"Yo, Buchou!"
"Issei, Akeno? sedang apa kalian disini? bukankah aku menyuruh kalian tetap diruang pemulihan?"
Issei menggaruk kepalanya yang tak gatal, cengiran lebar dia tunjukkan pada sang ketua yang menatap dirinya sebelum mata coklat cerah itu terpaku pada sosok pria tampan yang tidak asing baginya. "Aku seperti pernah melihatmu? tapi dimana?" Kedua gadis lain yang bersama mereka menatap Naruto setelah Issei berkata demikian.
"Aku lupa mempekenalkan, dia adalah Uchiha Naruto, orang yang mengalahkan Raiser."
Perempuan ponytail disamping Issei mengernyitkan keningnya, "Tapi, dia kan."
"Ya, aku manusia, apa ada masalah?" Tanya Naruto yang menyadari arti pandang seorang Akeno, sementara perempuan itu memandang Rias untuk meminta kepastian. Dia yang terluka cukup parah akibat pertarungan itu tidak terlalu mengerti tentang detail hasil pertarungan, dia hanya diberikan informasi bahwa ada pihak ketiga yang ikut dalam pertandingan itu.
"Tch! jika saja aku bisa menahan Gauntlet lebih lama pasti aku yang akan menang." Issei yang masih kesal akan kekalahan telaknya mencibir Naruto, ia cukup kesal mengetahui bahwa sang penyelamat itu adalah seorang pria tampan seperti Kiba temannya! Sial, jika begini saingannya untuk mendapatkan Buchou akan semakin sulit!
Naruto yang sedikit tertarik dengan ucapan dari Issei mendekati pemuda itu, dan mendekatkan wajahnya. Akeno beserta Rias mengambil sikap waspada, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Naruto selanjutnya!
Sementara itu, hawa berat sedikit menguar diudara dan membuat beberapa iblis kelas rendah menyingkir, Issei yang tiba-tiba merasakan hawa ini sedikit menegang!
Berat! teriak Issei yang merasakan betapa kuatnya aura yang dikeluarkan Naruto, dan mata itu... berubah!
"Hoy! kau ini kenapa ha!?" teriak Issei yang berhasil mengumpulkan kembali kesadaran penuhnya. Tapi apa-apaan mata merah menyala itu tadi?! aura intimidasinya sangat kuat.
Sedikit mendengus kecil, Naruto memundurkan tubuhnya dan mulai berbalik arah, dia melanjutkan perjalanannya sambil mengucapkan beberapa kata yang membuat Issei dan seekor eksistensi terkejut.
"Aku bisa melihat seekor makluk aneh yang berada di tubuhmu dengan jelas, jika kau mampu mengasah tubuhmu lebih dari ini aku pastikan kau mampu memiliki kekuatan yang cukup hebat."
.x.
Malam maupun siang tidak ada bedanya, awan terasa sama disini, hawanya pun masih tetap buruk dengan udara beracun yang cukup untuk melumpuhkan seseoranf dalam waktu singkat. Gambaran tentang buruknya Underworld atau lebih bisa dibilang dunia bawah ini bisa dibilang sedikit tertolong akibat beberapa penemuan yang dilakukan oleh pihak iblis.
Mendengar beberapa penjelasan yang mengatakan jika tempat ini dulunya jauh lebih buruk membuatnya bertanya kepada dirinya sendiri, tentang bagaimana para iblis bisa mendapatkan kekuatan yang besar dalam waktu singkat. Bisa dikatakan jika tubuh mereka berevolusi, mulai menyamakan dengan kondisi sekitar dan membuat kekebalan tubuh untuk menahan efek racun tempat ini.
Tapi, pertanyaannya jika memang mereka menyebut bahwa mereka adalah ras iblis, bagaimana dengan ras lain? bila ada iblis pastilah ada malaikat, dan jika ada malaikat tentu saja ada manusia lalu bagaimana dengan dewa? atau... Tuhan? Apakah mereka ada?
Jika di Dunia miliknya, semua diatur oleh sistem chakra dengan sang pencipta nan penemu chakra itu sendirilah yang dinamakan dewa Shinobi. Lantas, bagaimana sistem dunia ini berjalan? pertanyaan ini yang masih belum bisa dia pecahkan, meskipun dia bertanya pada Sirzech pun percuma, sepertinya iblis yang mendapat gelar raja itu masih saja bungkam.
Dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan informasi namun tidak sekarang, pertama-tama dia harus keluar dari pengawasan para iblis!
Naruto tahu benar jika semenjak dia meninggalkan Rias bersama teman-temannya tadi, ia masih merasakan satu pancaran energi teramat tipis yang dia rasakan mengikutinya dari tadi.
Naruto bisa membunuhnya, atau bahkan melenyapkannya namun ia tidak dapat melakukan hal itu karena jika saja mungkin dia adalah suruhan Sirzech maka ia akan mendapatkan masalah yang cukup serius. Dan itu adalah hal terakhir yang ia tidak harapkan.
huhh...
Pemuda itu menghela nafas panjang, dan memilih berdiri dari tempatnya duduk saat ini. Dia memandang ke depan sesaat, menatap hamparan hutan buatan yang berada di bawah tebing tempatnya berdiri, dia berbalik dan menghilang dalam sekejap mata, membuat iblis yang sedari tadi memantaunya terkejut hebat.
Muncul disertai petir hitam memercik beberapa saat di tubuhnya, Naruto berhasil mengejutkan beberapa iblis di ruangan keluarga Gremory. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sosok Rias dan anak buahnya yang mengisi ruangan itu.
Perempuan putih dengan postur tubuh kecil, lelaki tampan dengan surai pirang, gadis ponytail tadi dan juga sosok lelaki yang sempat ia 'lihat'. Mereka nampak waspada untuk sesaat sebelum menjadi terkejut akibat seseorang yang sedang mereka bicarakan malah datang secara tiba-tiba.
"Naruto? Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Rias dengan wajah yang membuat Naruto berkenyit heran.
"Teleportasi, memangnya kenapa?"
"Ti-tidak, hanya saja, ka-kau sejak kapan berada disana?"
Naruto melirik ke arah gadis kecil yang memandangnya cukup dalam, dan dalam sekejap mata dia telah menunduk dan menatap mata emas sang gadis tajam. Issei mengambil sikap siaga, dan sesegera mungkin menarik gadis itu menjauh karena kebetulan posisinya berada paling dekat dengan gadis cilik itu.
"Kau mau apa dengan Koneko-chan?!" Desis Ise tajam, sementara Naruto memberikan pandangan blank miliknya.
"Wajahnya dan rambutnya mengingatkanku pada seseorang yang sudah kuhabisi, jadi kufikir dia bisa hidup kembali atau apa, tapi ternyata salah orang." Ucap Naruto ringan seolah mengatakan itu tanpa beban. Dan tentu saja hal tersebut membuat Rias mengerutkan keningnya mengingat apa yang dikatakan Naruto saat mereka bersama tadi.
-X-
""Kalau begitu, bunuhlah ayahmu, ibumu, dan semua anggota klan Gremory."
Perkataan itu itu kembali terngiang-ngiang di telingaku, apa benar di membunuh semua keluarganya? semudah itu?
mungkin dia itu memiliki hati iblis.
atau mungkin dia adalah psikopat gila yang haus akan kekuatan, hanya itulah yang mampu aku fikirkan mengenai Naruto sekarang.
Mengatakan itu seolah tanpa beban, bahkan sangat ringan. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran pemuda ini, mengesampingkan hal itu aku lebih memilih fokus pada apa yang akan dia lakukan sekarang.
Dia mengatakan jika Koneko mirip seseorang yamg sudah dia bunuh? apa dia bermaksud membunuh Koneko?
Aku mengeratkan genggaman tanganku dan bersiap melakukan sihir kapan saja, untuk berjaga-jaga aku melirik Akeno yang mengangguk mengerti.
"Yah, tapi itu hanya masa lalu ku, tidak penting sih." Dia mengatakan itu sembari berjalan menjauh dan mengambil tempat duduk di sebelah Kiba yang terlihat sangat tenang, aku bahkan tersenyum kecil melihat ksatria ku bisa memiliki sifat setenang ini. Jika saja rencanaku berjalan lancar pada saat melawan Raiser, pasti si Phenex itu bisa kukalahkan.
Hah...
Aku kembali memandang Naruto setelah mengambil nafas lega, "Jadi, apa kau memiliki kepentingan?" Tanyaku padanya dengan agak sinis, entah kenapa aku menjadi muak terhadapnya, apalagi setelah dia bercerita sendiri bahwa dia sudah membunuh keluarganya sendiri.
Naruto sama sekali tidak menatap wajah atau mataku, bahkan dia sama sekali tidak terusik dengan pandanganku yang sepertinya terlihat menyalak ini.
"Hey, Rias."
Dia memanggil namaku.
"Apa?" Jawabku ketus dan berjalan agak menjauh, kulihat Kiba dengan tidak nyaman juga beranjak menjauh dari Naruto.
"Kau, pasti tahu kan, cara keluar dari sini?"
Aku mengernyitkan keningku, apa maksudnya?
"Aku tidak mengerti maksudmu." Ucapku jujur, karena memang aku sama sekali tidak mengetahui apa yang dia maksud.
"Iblis, malaikat, Dan manusia. di sebelah mana kira kira aku bisa keluar dan pergi ke dunia manusia?"
Aku membeku sesaat, namun itu segera kututupi dengan ketenanganku. Aku menggeleng pelan dan mendekap kedua tanganku di depan dada. "Aku tidak tahu."
Sebenarnya ada dua cara untuk keluar dari sini, pertama melewati gerbang pembatas antara dunia ini dengan dunia atas, atau dapat langsung menteleport ke tempat manusia. Namun dikarenakan kakak sudah berpesan bahwa Naruto adalah tawanan tidak resmi, maka aku tidak bisa memberitahukan cara agar keluar dari sini.
Aku juga memiliki alasan tersendiri mengapa tidak ingin Naruto pergi kedunia atas, mengingat obrolannya tadi sudah dipastikan jika aku tidak akan membiarkan orang haus darah seperti Naruto berkeliaran secara bebas, lagipula kekuatan misterius yang dia bawa itu cukup membahayakan, agar amannya lebih baik dia diawasi langsung oleh kakak.
Aku tidak tahu apa maksud dari tatapan Naruto kali ini, tapi aku berspekulasi bahwa dia sedang menyelidiki bahwa aku sedang berbohong. Tapi itu percuma, ketenanganku dalam berbicara sudah cukup terlatih.
Aku dapat melihat Naruto beranjak berdiri dan mendekat ke arahku, dia menyentuh pundakku dan sedikit melirikkan mata hitan kelam itu pada ku. Aku sama sekali tidak mengerti, namun...
"Terima kasih."
... kenapa dia berterima kasih?
Sebelum sempat kutanyakan, dia terlebih dahulu membuka pintu dan menghilang dibaliknya. Tapi masa bodoh dengan hal tersebut, masih ada hal yang perlu kuurus.
-Re-
Naruto berjalan dilorong dengan tangan kanan berada disakunya, dia tersenyum kecil dan memandang telapak tangan kiri yang ia gunakan untuk menepuk pundak Rias sebelum memasukkan tangan itu kembali ke saku celanyanya.
"Sukses."
-x-
-x-
-x-
Bersambung...
