RIVAL
…
Disclaimer!
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Story by Green7
Warning: Shounen Ai, Typo(s) Fault story, ooc, Au
Rate T
DLDR, NO Flame!
….
[Novel]
Enjoy Read
…
"Baby" suara baritone yang biasanya tegas dan penuh tekanan tiba-tiba berubah berat nan pelan.
Dia yang biasanya membuat terintimidasi malah terdengar seperti rajukan manja dari remaja tanggung yang baru saja mengecap asmara, padahal umurnya sudah tak lagi muda, malah tahun depan mau menginjak kepala tiga.
Tapi siapa yang berani protes, toh Akashi yang seperti ini sungguh langka karena hanya ditunjukkan pada Akashi Tetsuya seorang.
"Hmmmm" tak ada gerak barang sedikit-pun dari bibir peach kenyal yang minta disantap.
Hanya dengungan suara yang tak layak disebut sebagai respon dari orang yang tengah minta bermesraan, ho rupanya si biru muda memancing untuk dihajar habis-habisan apalagi bibir yang mungil yang entah kenapa selalu cari masalah dengan dirinya, tapi anehnya Akashi malah tak pernah keberatan, toh dia selalu bisa menaklukkannya dengan membuat si biang candu itu mendesah pasrah.
"Tetsuya!"
nama yang menjadi favaorit lidahnya dilafalkan, masih dengan nada yang sama tak satu ketukanpun berubah,
malah kali ini disertai dengan kepala yang menyender nyaman pada sebelah bahu kecil itu, tubuhnya sedikit merosot hingga tingganya terlihat sejajar dengan sosok manis bersurai biru muda yang juga tengah bersandar pada empuknya sandaran ranjang mereka.
"Hmmmm" tak berubah juga,
Raut wajah lurus masih terlihat serius, pandangan manik birunya asyik meniti setiap baris dari berlembar-lembar tulisan yang kini tengah dalam pangkuan, seakan atensi merah yang siap menerkam disebelah seperti angin lalu yang memang tak perlu dihiraukan.
Novel yang telah terbuka hampir setengahnya ditutup paksa, secepat kilat kemudian benda tebal dengan lembar ratusan itu tergolek tak berdaya di atas dinginnya lantai keramik kamar mereka, memantik respon luar biasa dari sang pemilik.
"Sei-kun!" manik biru muda melotot tak suka.
Memandang tajam sang suami yang malah kini tengah tersenyum menyebalkan.
kalau tak begini mana mau dia mengganti lenguhan sialan itu dengan kata yang lebih bermakna seperti, -nama sang suami- yang baru beberapa detik lalu telah dilafal.
Seijurou tersenyum penuh kemenangan, tak terganggu sama sekali dengan wajah marah yang malah membuatnya ingin segera menyantap hidangan malamnya yang begitu lezat.
Bagaimana tidak, lihat saja pipi bulat yang menggembung itu, mata yang melotot tajam terlihat seperti minta disayang-sayang, lalu biang candu berwarna peach yang mengerucut.
ah rasanya seijurou ingin segeras melahapanya, meraupnya lalu menghisapnya hingga bengkak dan memerah, membuatnya mengeluarkan cairan putih mengkilat, mengobrak-abrik gua hangat yang tersembunyi dibaliknya.
Membayangkannya saja sungguh nikmat, seijurou sampai menelan ludahnya tak sabaran.
Makhluk biru muda itu rupanya benar-benar minta segera dihajar, dan Akashi Seijurou jelas tak keberatan untuk melakukannya, bahkan semalaman atau hingga pagi pun ia sanggup melakukannya, menghajar Tetsuyanya dengan cumbuan mesra.
Cumbuan yang dijamin membuat ketagihan hingga si biru muda pada akhirnya akan minta tambah juga.
"Sei-kun mau dihajar ya! Kembalikan novelku sekarang juga!"
tangan terlipat di depan dada, wajah tak terima yang menurut seijurou kian membuat dirinya tertantang untuk segera melakukan apa-apa malah kian nampak jelas, bahkan kali ini disertai warna merah samar yang menambah variasi putihnya kulit wajah bidadarinya.
"Bukan tetsuya yang menghajar, tapi aku!" balas seijurou dengan aura dominasi yang menguar.
Alis serupa surai berwarna langit menukik bak jalan turunan, ditambah beberapa kerutan pada dahi yang seakan membentuk jembatan, raja merah absolute itu benar-benar telah memantik kekesalan isteri tercinta.
"Sei-kun mau mengajakku ber- hmptttt" protes Tetsuya keburu diinterupsi dengan lumatan ringan, hitung-hitung sebagai pembuka. kilah seijurou.
"Tentu saja, dari tadi dikode tidak peka juga" bibir dijilat seduktif, menyesap rasa manis yang tertinggal.
"Eh, jadi-hmppttttttt" rasa candu dari bibir mungil itu menjalar secepat kilat, hingga membuat seijurou tak tahan untuk kembali menyesap biang candu itu.
Kali ini lebih ganas dan panas, bahkan lidah diikut sertakan begitu dapat akes masuk ke dalam setelah menggigit pintu masuk kenyal itu gemas.
Lidah bertarung saling melilit,meliuk sana sini, tak ada yang mau mengalah untuk menyentuh setiap inci gua hangat masing-masing, seijurou yang lebih berpengalaman tentu saja sudah dipastikan memenangkan pertarungan, lihat saja bagaimana Tetsuya mulai terengah kepayahan, menggedor manja dada bidang yang kian menyudutkan, bahkan punggung yang semula bersandar pada sandaran ranjang sudah sempuran menyentuh empuknya kasur berukuran luar biasa,.
"Hoshhh hoshhhh ahhh" masih kepayahan ditambah terbuai nikmat membuat kata-kata seakan sangat sulit keluar dari belah bibir Tetsuya.
"Kh Khenapahh menchiumh kalau mau bertengkar, hoshh hoshh" bibir yang memanas meski telah basah akibat saliva diusap kasar sebagai bentuk pelampiasan,
bukannya peka, Tetsuya malah serius mengira jika suami tercinta memang berniat mengajak bertengkar. Seijurou sampai melongo sesaat hingga sadar jika memang isterinya ini bukan tipe yang biasa.
"memang mau mengajak Tetsuya bertengkar he" seringainya tampan
Seijurou langsung menerkam, memenjarakan tubuh kecil itu dalam tindihan, tanpa membiarkan sedikitpun ada celah untuk Tetsuya bergerak, tipe Tetsuya yang tak peka memang lebih baik langsung diserang, yah Seijurou cukup mengerti jika isterinya akan cepat paham jika langsung di praktekkan, dan dia berjanji tak akan berbasa-basi lagi setiap keinginan untuk bercumbu mesra datang.
jadilah pertengkaran itu berlangsung beberapa jam. bergulat panas beberapa ronde membuat alas tempat tidur yang semula rapi jadi berantakan.
"Sei-kun keterlaluan, huh" rajuk Tetsuya begitu kewarasan dan tenaganya terkumpul sempurna, meski bagian pinggang hingga ke bawah masih terasa perihnya.
beruntung Seijurou tak kehilangan kendali hingga ia selamat dari kegiatan begadang penuh nikmat semalaman, tapi tetap saja, Fakta dia akan pincang atau malah tak bisa berjalan tak bisa dipungkirinya, bahkan ketika membersihkan diri di kamar mandi saat pagi tadi pun dia harus di gendong bak puteri.
"Eh, keterlaluan bagiamana? Aku memandikan Tetsuya "modus sambil repe sana sini", memakaikan baju, lalu membuatkan sarapan, bahkan hampir seharian aku menggendong Tetsuya kemana-mana kan?" seijurou membela dirinya.
"Salah siapa aku jadi begini!" Tesuya masih merajuk juga, padahal matahari sudah kian meninggi tapi acara ngambek sedari pagi masih terus lanjut rupanya.
"Salah Tetsuya, itu sudah pasti!" ucap seijurou ringan sambil menikmati sajian acara pada layar besar di depan keduanya.
"hah, Sei-kun!, jelas-jelas sei-kun yang salah sampai membuat ku tak bisa jalan begini"
ingin sekali rasanya Tetsuya walk out, biar si merah itu tahu betapa kesalnya dia saat ini namun apa daya, bokong yang masih butuh penenenangan tak mau bekerjasama, apalagi sekarang paha mulus yang hanya tertutup tunik hingga ke lutut malah dijadikan bantal dadakan, padahal jelas-jelas bantal sofa ada disana malah tak dimanfaatkan sesuai fungsinya.
"Iya memang aku yang melakukannya sayang-" wajah yang semula menyamping kini mendongak ke atas, menatap wajah merajuk kekasih hatinya yang begitu menggemaskan.
"nah itu ngaku kan" Tetsuya sedikit puas dengan pengakuan Seijurou yang keras kepala, ia menang kali ini namun sayang rasa puas itu tak sampai satu menit hingga seijuro melanjutkan kalimat pembelaannya.
"Itu karena Tetsuya yang mengabaikanku, dan malah terlihat begitu asyik dengan novel sialan itu padahal tetsuya tahu sendiri aku paling tak suka diduakan" tengkuk mulus ditarik hingginia menunduk, membuat kedua bibir menempel.
seijurou masih belum bisa lepas dari jerat candu bibir tetsuya mungkin tak akan pernah bisa hingga rasanya ia ingin mengecap benda kenyal itu setiap saat.
remot dalam genggaman langsung menyentuh kepala merah suaminya yang tak tahu diri itu, yang di sahut dengan pekik kesakitan.
jelas tetsuya sedang ngambek masih saja ambil kesempatan, dan oh tetsuya mengerti sekarang jika suami tercintanya itu cemburu gara-gara novel, tapi tetap saja itu tidak benar bukan menjadikan benda mati itu alasan untuk menghajarnya habis-habisan di atas ranjang meski ia suka, tapi Tetsuya tidak terima jika novel-kun kesayangannya dianggap seperti itu.
"Alasan Sei-kun tidak bisa diterima, lagi pula gara-gara sei-kun aku jadi batal bertemu pengarang novel favoritku hari ini, bokongku sakit sampai tak bisa kemana-mana, padahal aku mau minta tanda tangan di novel terbarunya yang juga mau kubeli hari ini, pokonya sei-kun tidak akan ku maafkan!"
meski tahu dirinya adalah sumber petaka nikmat semalam tapi tetap saja si biru muda tak mau mengakhiri acara ngambeknya.
"Sei-kun akan tidur sendiri malam ini . DI LU AR!" ucapnya penuh penekanan.
kepala seijurou yang semula berbantal manja di atas pahanya di dorong hingga terjatuh ke karpet beludru, si merah meringis kesakitan sementara tetsuya beranjak pergi dengan jalan yang terlihat mengangkang. Meski begitu seijurou tersenyum puas, tak masalah dengan ancaman isetrinya toh dia punya senjata rahasia yang bisa meluluhkan isterinya hingga memberi asupan cinta nanti malam.
Handphone dalam saku di rogoh.
"Reo, katakan pada si Grey Hamasa itu untuk memberikan satu novel sialannya, jangan lupa ditanda tangani juga!!".
tanpa menunggu jawaban dari seberang sana Seijurou langsung memutus panggilan, tanpa tahu jika bawahan yang juga teman SMA nya itu tengah melafal sumpah serapah.
Rupanya pengarang favorite Tetsuya adalah teman SMA Seijurou, awalnya ia berencana untuk memberikan si jangkung abu-abu yang sudah berhasil merebut perhatian isterinya dengan kalimat roman picisannya itu pelajaran.
Mungkin dengan menutup kantor penerbit yang menerbitkan novelnya, atau yang lebih sadis macam rajaman gunting koleksinya, ah Tapi dia mengurungkan niatnya, karena jika sang isteri merajuk dan mengancam tak dapat jatah dalam jangka waktu panjang, Seijuro bisa memanfaatkan "Memaksa" kepiawaian temannya dalam menyusun kalimat piciaan untuk membuat novel terbaru yang diyakini bisa membuat isterinya luluh dan lupa dengan ancamannya, apalagi jika novel itu edisi terbatas yang memang sengaja dibatasi oleh seijurou demi membuat takluk isterinya.
dengan begini dia dan adik kecilnya akan sejahtera tanpa takut kedinginan saat malam.
End
Gomenne kalau gak nyambung, thanks for readers yang sudah mau membaca, follow, favorite, dan meninggalkan jejak di fanfic unfaedah saya.
Jujur baru kali ini buat drabble, jadi kalau meleset mohon dimaklumi, saya hanya penulis amatir. Semoga Terhibur ;)
