Chapter 1
Denting piano bersimfoni pelan, bersenandung satu-satu terdengar di sepanjang lorong gelap sebuah bangunan kusam yang tidak dia ketahui bentuk serta rupa dindingnya. Sungmin menatap asing sekaligus bingung selaras lorong gelap sebuah bangunan asing yang entah sejak kapan dia huni? Dan mengapa dia berada di tempat ini? Terlebih dalam keadaan diri bertemankan gelap. Sungguh bodoh dirinya yang tidak membawa lampu minyak atau lentera.
Namun, ada apa dengan langkah kakinya yang terus mengomando diri menyusuri lorong gelap ini tanpa perasaan takut hilang arah atau terbentur dinding. Seolah telah terinstruksi, sekalipun logikanya berkata tidak mungkin dan mustahil berjalan lancar di tengah kegelapan yang kelam, tanpa adanya secercah cahaya. Kakinya tidak berniat berhenti.
Hanya suara tepak langkah serta suara denting piano yang terdengar mendominasi, menggema di setiap sisi tubuhnya, menjadi pemandu langkah Sungmin sekalipun tanpa terpaan sinar penerangan.
Lagu itu, terdengar kelam; mengalun pedih dan terpatah, seolah-olah tengah berusaha mengaiskan sebuah kenangan kelam di tiap nada lagunya. Melagu kian jelas, suara piano itu terdengar makin keras ketika suara lain mengiringi ketukan pedihnya.
Bukan suara denting piano, itu suara tawa seseorang. Dia terdengar sangat senang hingga suara tawa yang dia timbulkan nyaris menenggelamkan suara denting piano yang terus berlanjut.
Langkah kaki Sungmin masih tertapak di lantai lorong, sebuah perasaan penasaran dengan pemilik suara tawa dan pemain piano itu tak pelak membelenggu benak Sungmin. Mungkin saja, mereka adalah pemilik bangunan ini; setidaknya Sungmin dapat bersapa salam dengan mereka. Tanpa sadar, bibir Sungmin tertarik; rupanya lelaki manis itu turut tersenyum ketika suara tawa yang terdengar di setiap sisi dinding lorong tanpa sengaja merayu hatinya untuk turut serta merasakan kebahagiaan si penimbul suara.
Kening mengernyit samar, perasaan bingung kembali menaungi benak Sungmin saat melihat pergerakan tangan yang terulur tanpa komando, meraih kenop pintu. Sebuah pintu tua yang menjulang kukuh berdiri di hadapannya dan dapat dia dengar suara tawa dan denting piano dari balik pintu tua itu terdengar makin keras, namun entah mengapa? Perasaan resah serta takut kemudian mendominasi selingkar kalbu.
Tubuhnya bergetar samar, pendengaran yang mulai terhipnotis terdorong ke dalam kesadaran diri. Membuatnya tersentak kaget, napasnya tersenggal. Iris mata Sungmin membulat, melihat bulir keringat yang membasahi ujung jemarinya.
Tentulah perasaannya tengah berkelana gundah, suara tawa itu tidaklah seindah pada mulanya, suara tawa itu terdengar mengerikan; sebuah tawa kepuasan serta kebengisan. Sementara denting piano yang terus mengalun pedih, berubah menjadi nada lagu kematian; sebuah nada kejahatan, nada balas dendam serta haus akan darah.
Sungmin tidak bergerak, tubuhnya mematung di depan pintu dengan genggaman tangan bergetar di kenop pintu. Dia meneguk ludah berat, bisikan hati mendorong dirinya menjauh. Namun, sepasang kaki seolah terpasung rantai besi. Tidak dapat bergerak hingga sebuah pergerakan pintu yang terbuka pelan, menarik genggaman tangannya.
Seulas desah lega bergumam di bibir begitu pintu yang terbuka berhasil dia tahan. Atas dasar keinginan hati yang menyergap pekat, Sungmin memiringkan kepala hendak mengintip keadaan di dalam ruangan itu.
Sebuah keputusan yang salah, seharusnya sejak tadi Sungmin berbalik meninggalkan bangunan ini, seharusnya sejak tadi dirinya menghiraukan perasaan penasaran ini, seharusnya sejak tadi aku berlari dan seharusnya sejak tadi aku tidak memasuki bangunan ini, racauan hatinya yang bergetar di bibir.
Apa yang terjadi di hadapanya saat ini hanyalah sebuah halusinasi, Sungmin berharap demikian. Tubuhnya kembali membeku, detak jantung bertalu cepat dan berat sementara keringat dingin makin mengaliri tubuh serta wajah putih yang berubah pias.
Di sana, tepat di samping piano kuno yang terlihat usang. Seorang gadis cilik bergaun hitam kemerahan tengah menangis tertahan sambil menjentikkan jemari kecil nan pucatnya di atas tuts piano. Sementara, sesosok gadis dewasa berambut panjang berdiri tenang di belakang sang gadis cilik, tertawa hebat sambil mencabik pelan lengan atas sang gadis cilik.
Aroma amis darah berbau anyir terhirup di lubang hidung Sungmin, terasa begitu menyengat dan busuk. Sungmin kembali merasa bingung, mengapa berbau busuk? Mengapa darah yang menguar tiba-tiba berubah beraroma busuk?
Iris mata Sungmin membulat terkesiap, detak jantungnya seketika tertahan. Gadis itu berhenti tertawa, begitupula dengan permainan sang gadis cilik. Suasana menjadi senyap, dingin dan meremangkan bulu roma.
Langkah kakinya sontak terayun ke belakang saat mendapati pergerakan kepala gadis berambut panjang itu. Dia perlahan menggerakkan kepalanya hendak menoleh ke tempat Sungmin.
Suaraku yang seolah lenyap tanpa sebab selama perjalananku menyusuri lorong gelap itu mendadak dapat aku suarakan kembali ketika sepasang mata merah penuh kebencian menatap lekat ke arahku. Aku berteriak sekuat yang aku mampu dan bergegas berlari sekencang mungkin, sebelum ruaman kegelapan menyelimuti kesadaranku, suara tawa mengerikan itu kembali berdentang terpaut di telinga dan menggetarkan hatiku, menggemakan nuansa traumatik tersendiri.
(*_*_*)
Tepat jam dua belas malam Sungmin kembali terbangun dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik. Tubuhnya bergetar hebat, sementara detak jantungnya berdetak di luar batas beriringan dengan deru napas tersenggal dan linangan air keringat di sekujur tubuh serta wajah. Dia tidak mengerti, mengapa setiap kali terbangun di tengah malam kondisi tubuhnya seperti seorang yang baru saja mendapati mimpi buruk dalam tidurnya.
Kelopak matanya terpejam, mengambil napas secara perlahan lalu dia hembuskan. Jemari lentik berkulit putih itu, bergerak menekan kening yang tiba-tiba turut berdenyut pelan setelahnya beralih meraih gelas minum yang terletak di meja nakas.
Sungmin mengedarkan pandangan, menerawang menatap jarum jam yang menunjukkan angka dua belas; ingin berupaya mengingat kembali kilasan mimpi samar yang seketika tersapu lenyap dari ingatan. Kening mengernyit, merasa bingung sekaligus janggal dengan keadaan yang selama tiga hari ini terjadi berulang di waktu yang sama. Kurang lebih dalam kurun waktu tiga hari di tengah malam, Sungmin selalu terbangun dalam keadaan berantakan; tubuh berkeringat, jantung berdetak cepat dan napas tersenggal tidak beraturan.
Desah hela panjang menyelimuti raut gundah Sungmin, sesungguhnya mimpi apa yang aku alami selama tiga hari ini? Mengapa terasa mencekam dan menggetarkan hati, namun mengapa tidak mampu aku ulaskan kembali setiap kilasannya? Dan mengapa pula hanya suara isak tangis serta suara tawa seseorang yang masih samar terngiang di telinga. Sebenarnya siapa orang itu? Siapa orang yang tengah menangis dan tertawa?
Berbagai untaian kalimat praduga berputar di benak Sungmin, berulang-ulang disetiap tidurnya yang terjaga hingga menyebabkan dentuman pening di kepala. Sungmin mendesis pelan, menyalurkan rasa sakit di kepala melalui gerungan bibir yang mengeluh.
Suara pintu yang terketuk pelan memindahalihkan keluhan Sungmin akan kondisi diri yang sampai saat ini tidak mampu dia pecahkan asal musababnya.
Merasa sudah begitu lelah dengan peristiwa aneh yang menimpa dirinya beberapa hari ini, Sungmin mencoba melupakannya, mencoba menghiraukannya dan berupaya menganggap semua halnya hanya sebuah keadaan halusinasi semata yang kadang bisa terjadi akibat kondisi diri yang terlalu lelah maupun sedang banyak pikiran.
Ya, mungkin saja seperti itu sekalipun lelaki berparas cantik itu masih merasa curiga sekaligus penasaran dengan semua kilasan peristiwa janggal yang menyelimuti bunga tidurnya, Sungmin tetap berusaha melenyapkannya, sampai di mana dia dapat membongkar kebenarannya.
"Ya masuk, pintunya tidak terkunci, bu," ujar Sungmin serak sambil meletakkan gelas minum ke meja nakas.
Raut wajah wanita cantik berusia lima puluh-an itu terlihat cemas sekaligus muram, Sungmin memiringkan kepala menatap penuh tanya pada roman tersebut. Ada apa dengan mimik wajah ibu? Apa tadi aku tanpa sengaja berteriak? Pikir Sungmin dalam hati.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sungmin?" tanya ibu sambil menatap lekat-lekat wajah bingung putranya. Kelopak mata Sungmin mengerjap pelan, salah satu tangannya terulur meraih punggung tangan ibu dan mengusapnya.
"Ibu, aku baik-baik saja," jawab Sungmin seadanya. Memang benar Sungmin baik-baik saja, tubuhnya tidak sedang meriang ataupun mengalami getar menyakitkan sebagaimana orang sakit rasakan. Anemia yang dia derita juga baik-baik saja. Lalu, apa yang wanita lembut itu cemaskan?
Sungmin tersentak, bibirnya terkatup dengan sorot mata yang mengedar kalut, penuh pemikiran. Apakah berhubungan dengan kondisi aneh yang aku alami selama beberapa hari ini? Terbangun di tengah malam dalam keadaan kacau.
"Beberapa hari ini, Ibu sering mendengar suara teriakanmu di tengah malam, Sungmin. Kau terlihat kacau, sayang. Ada apa? Kau mengalami mimpi buruk? Atau kau sedang banyak masalah ataukah kalian sedang bertengkar?" tanya ibu secara beruntun, membuat Sungmin bingung ingin menjawab dari mana pertanyaan tersebut.
Ya, berteriak, rupanya analisis tidak mendasar Sungmin menjadi kenyataan. Sungguh di luar perkiraan bila ternyata dirinya turut berteriak di tengah lelap yang tidak tenang, namun sekali lagi keanehan nyata menyelubungi kesadaran Sungmin. Dia sama sekali tidak merasakannya maupun mengingatnya di mana ketika suara teriakan terlempar disela lelapnya. Sungguh, kejadian ini entah mengapa semakin membuat perasaan takut mengelabuhi benak.
"Ibu, keep calm okey. Dont worry, Mom. Im fine, hubungan kami juga baik-baik saja..-" Sungmin mendesah pelan, merasa tidak mengerti dengan pertanyaan terakhir ibunya yang mengikutsertakan hubungan percintaannya ke dalam sikap anehnya beberapa hari ini. "... Ibu, mengapa sampai menuduh kami sedang bertengkar? Bukankah tadi sore Kyuhyun mengantarku pulang dan dia juga ikut makan malam bersama kita," lanjutnya sambil menggeleng tidak mengerti.
Raut cemas yang tergurat pekat di wajah lembut ibu kemudian berangsur lenyap meskipun sorot baya itu masih begitu lekat menyelisik wajah serta tubuh putranya, masih berniat mencari titik celah keraguan hati Sungmin melalui gestur tubuh dan mimik wajahnya.
"Oh God, maafkan ibu, son. Ibu hanya terlalu cemas dengan keadaanmu, terbilang sudah tiga hari ini kau mengalami kebiasaan lelap yang tidak sepatutnya."
"Aku tahu." Hela panjang mendahului lontaran tanya ibu yang hendak terlempar lagi ke arah Sungmin. "Bad dream, bu. Hanya itu tidak lebih," ujarnya menenangkan sambil menatap teduh sorot cemas raut lembut itu.
Pada akhirnya Kyeongsuk hanya mampu mengangguk paham sambil mendesah panjang tanda menyerah, mencoba mempercayai lontaran sang putra demi melunturkan gejolak kegundahan hati yang terketuk tidak beraturan sejak mendapati diri Sungmin bergerak kacau di dalam lelapnya. Pada mulanya, Kyeongsuk memang tidak terlalu mencemaskannya, sebab kemungkinan putranya hanya tengah mengalami malam yang buruk. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kebiasaan itu tidak menyurut dan kian tampak.
Tentulah, membuat dirinya menjadi cemas. Karena, peristiwa ini baru dia alami saat putranya menginjak semester akhir. Sesungguhnya, sejak Sungmin kecil; putra imutnya itu sama sekali tidak pernah mengalami malam buruk atau bermimpi buruk. Mungkin sekali, dua kali; tetapi, tidak dengan raut wajah ketakutan serta teriakan mencekam yang seolah-olah terlihat nyata. Tidak, kondisi Sungmin lebih terlihat seperti tengah mencoba melepaskan diri dari jeratan kegelapan jahat ketimbang hanya sekadar mimpi buruk sebagaimana bunga mimpi pada umumnya.
"Baiklah, lain kali jangan memendam masalahmu seorang diri, Sungmin. Lepaskan saja semua masalahmu, sayang. Ibu bersedia mendengarnya agar kejadian ini tidak terus berulang mengganggu lelapmu."
Sungmin mengangguk kecil merespon nasehat ibunya. Kyeongsuk tersenyum kecil, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Sungmin. "Yeah, lets go to bed, son. Ini masih tengah malam," kata Kyeongsuk usai mengusap puncak kepala dan mengecup kening putranya.
Sungmin mengerjap penuh tanya menatap ibu yang mendadak terdiam di tempat, menatap dirinya dengan siluet pandangan penuh arti.
"Ada apa, bu?"
Kyeongsuk menggeleng, seulas lekuk hangat terlukis jelas di sepanjang lekuk bibirnya. "Tidak, ibu pikir kau ingin ibu temani tidur malam ini," terka Kyeongsuk dengan nada penuh harap. Jelas saja, Kyeongsuk masih enggan hati meninggalkan Sungmin dalam keadaan muram seperti ini. Entah bagaimana? Namun, perasaan seorang ibu patutlah selalu benar.
Suara tawa kemudian meluncur bebas dari celah bibir Sungmin. Kyeongsuk mendesah kecewa ketika melihat gelengan menolak dari sang putra.
"Tidak bu, aku bukan anak kecil. Sudahlah, aku baik-baik saja, tidak perlu cemas dan sebaiknya ibu segera kembali ke kamar, sebelum ayah menangis mencari keberadaan ibu," canda Sungmin yang seketika mendapat pukulan lembut di puncak kepalanya.
"Dasar anak nakal. Jika ayahmu mendengar candaanmu ini, jangan harap kau dapat hidup dengan tenang."
"Tentu saja tidak. Aku akan menginap di rumah Kyuhyun," ledek Sungmin sambil menjulurkan lidah. Kyeongsuk kembali tertawa, dia kemudian terpekik gemas lalu merengkuh tubuh Sungmin dengan erat dan menciumi sepasang pipi putihnya.
"Baiklah. Baiklah, anak ibu dan ayah sudah besar. Dia sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan meninggalkan kami," seru Kyeongsuk bergetar. Iris matanya berbayang, terbaluti bulir bening yang memantulkan mimik sendu sang putra.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan ibu dan ayah sekalipun nanti aku dan Kyuhyun menikah, aku tidak akan pergi. Karena aku tidak akan membiarkan rumah ini sepi," jawabnya lembut sambil balas merengkuh tubuh ibu dan mengecupi pipinya.
Tangan Kyeongsuk bergerak mengusap tubuh belakang Sungmin disela kecupan ringan di puncak kepala. Mencari secercah ketenangan hati yang sejak tadi masih menggerung ingin tinggal.
"Yeah, i see. Ibu dan ayah sangat mencintaimu, nak."
Ibu melepas rengkuhannya dan bergerak mengecup kening Sungmin dalam durasi waktu sedikit lama.
"Kembalilah tidur, besok kau masih ada kelas, bukan?" Kepala Sungmin mengangguk menjawab pertanyaan Kyeongsuk.
"Alright, lekas tidur. Good night, my little angel."
"Night too, Mom."
Bibirnya mengulaskan satu senyuman hangat ketika Kyeongsuk bergumam pelan di balik pintu kamar yang terkuak sedikit sebelum tertutup sepenuhnya, sebuah gumaman 'selamat malam dan kata cinta' lenyap bersama suara gigi kenop pintu yang memasuki lubang tepian pintu. Kelopak mata bergerak menutup bola mata yang sedikit memanas karena rasa kantuk yang bersiap kembali menenggelamkan kesadaran Sungmin ke alam bawah mimpi.
Namun sekali lagi, hela napas lelah mendesau dari celah bibirnya saat suara samar seseorang yang tengah terisak dan tertawa melenyapkan rasa kantuknya, menuai keengganan diri untuk kembali bergelung ke dalam mimpi.
"Setengah satu," gumam Sungmin dengan lirikan mata tertuju ke ponsel putih yang tergeletak nyaman di meja nakas. "Apa tidak mengganggu?" tanyanya ragu di dalam pantulan ponsel yang memenuhi pandangan.
Kening Sungmin berlipat mencoba mengingat kebiasaan Kyuhyun di waktu dini hari dan sepertinya menghubungi dirinya di waktu ini bukanlah hal yang mengganggu bila mengingat kebiasaan Kyuhyun yang pula seringkali terbangun di tengah malam demi mengerjakan tugas kuliah ataupun hanya sekadar bermain game.
Yeah, pada akhirnya Sungmin putuskan untuk mengambil ponsel putihnya dari meja, berkutat sebentar dengan layar lebarnya kemudian menempatkannya di telinga.
Terhitung tiga nada sambung panjang yang memenuhi pendengaran di sepanjang penantian diri mendengar suara berat Kyuhyun menyapa dari balik telepon. Sudah nada sambung yang keempat dan tiba-tiba berganti suara berat Kyuhyun ketika nada sambung kelima nyaris turut serta memenuhi pendengaran Sungmin.
"Ya, sayang. Ada apa?"
Suara berat yang mengalun lembut, mengulaskan sebuah kurva tipis di sudut bibir sewarna kelopak sakura di musim semi. Tetap sama, nada suara Kyuhyun dalam memenuhi salam sapanya sama sekali tidak berubah sekalipun di kala lelaki tampan itu marah. Maka, dia akan lebih memilih berdiam diri lalu menjauhi Sungmin ketimbang meneriakinya ataupun membentaknya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Sungmin berbasa-basi yang sejujurnya sudah dapat dia prediksi jawabannya. Terdengar kekehan ringan di balik line telepon.
"Sama sekali tidak."
Benar bukan, Kyuhyun memang tidak akan pernah menyeruakan ketidaksukaannya maupun ketidakserasian pendapatnya kepada Sungmin bila menyangkut tentang kekasih imutnya ini. Terkadang hal tersebut mengganggu perasaan Sungmin, seharusnya dia berkata jujur. Bila tidak suka katakan saja, Sungmin tidak akan mempermasalahkannya dan juga tidak akan merasa sakit hati atau kecewa, justru hatinya akan mendesah lega sebab Kyuhyun telah mampu melepaskan belenggu hatinya yang membatasi ruang geraknya hanya demi menyenangkan hati Sungmin.
Hanya saja setiap kali Sungmin berpendapat seperti itu, Kyuhyun selalu berakhir merengkuh tubuhnya dan mengecup bibirnya lalu berkata, 'Segala hal yang menyangkut tentangmu sama sekali tidak pernah membuatku merasa terbebani maupun terganggu, sayang. Aku berkata jujur.'
Ya, bila dirinya sudah berkata demikian, tentulah Sungmin tidak bisa berbuat lebih. Pada akhirnya hanya sebuah anggukan pasrah yang terlontar dari diri Sungmin, berusaha mempercayai lontaran kalimat manis yang terlempar dari bibir kekasihnya itu.
"Apa kali ini yang kau lakukan? Bermain game atau mengerjakan tugas?"
"Kuduga kau sudah mampu menebaknya dari suara bising yang timbul."
Sungmin mengembungkan pipi, si kulit pucat itu memang orang yang membosankan, tidak pandai menguntai kata basa-basi. Yeah, rupanya memang diriku yang salah mencari topik pembicaraan. Lagipula, memang sungguh merugi bila menanyakan hal yang bahkan jawabannya telah mampu dia dapatkan. Bodoh sekali, pikirnya.
"Lalu, apa yang terjadi denganmu? Ini masih dini hari," tanya Kyuhyun kemudian saat tidak kunjung mendengar suara tenor kekasihnya.
Sungmin menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke headbed.
"Terbangun," jawabnya singkat.
"Bad dream again?"
Kepalanya mengangguk dua kali, sudah menjadi kebiasaan sekalipun Kyuhyun tidak mampu melihat gestur tubuh lelaki manis itu.
"Begitulah."
Suara backsong dari game yang tengah dimainkan Kyuhyun tiba-tiba lenyap dari pendengaran, rupanya Kyuhyun mematikan gamenya setelah mendapat jawaban dari sang kekasih yang pula turut membuatnya merasa cemas akan kebiasaan Sungmin akhir-akhir ini.
"Kau ada masalah, sayang. Mengapa akhir-akhir ini sering sekali mendapatkan mimpi buruk?"
Nada suara Kyuhyun terintonasi cemas membuat hati Sungmin terselimuti perasaan hangat. Namun, otaknya berputar bingung ingin menjawab dengan untaian kata seperti apa bila kilasan mimpi buruk yang acap kali Sungmin alami beberapa hari ini sama sekali tidak dapat dia definisikan kronologinya, semua lenyap bersama kesadaran diri yang mendorong lelapnya.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kau tahu semua kilasan mimpi itu tiba-tiba menghilang, aku sama sekali tidak dapat mengingatnya lagi," keluh Sungmin frustasi sambil memijat kening.
"Ingin melakukan video call?" tawar Kyuhyun yang spontan Sungmin tolak.
Sungmin tidak akan pernah menghendaki kekacauan dirinya terlihat oleh Kyuhyun, akibat tabiat yang terpanggul di tubuh kekasihnya. Sungmin tidak ingin membuat lelaki tampan itu berepot diri bertandang ke rumahnya di waktu dini hari sebab keadaan dirinya yang tidak sedang dalam kondisi baik.
"No, thank's, baby. Aku baik-baik saja, trust me."
"Sayang, benar kau tidak sedang mengalami masalah. Tidak perlu menyembunyikannya dariku, katakan saja."
Kyuhyun rupanya masih teguh terhadap analisanya, baiklah sedikit menggodanya malam ini tidak masalah bukan.
"Ya, sebenarnya ada beberapa masalah yang sedang mengganggu diriku akhir-akhir ini," ujarnya mencoba serius sekalipun kikikan geli berulang kali nyaris terhempas keluar.
"Hm, katakan."
Suara deham, dua kali meluncur dari celah bibir Sungmin. Rona wajahnya mengulaskan gambaran mimik jahil bersela sedikit cemberut. Sekali lagi sudah menjadi kebiasaan meskipun Kyuhyun tidak dapat melihat roman aktingnya saat ini.
"Aku bermasalah dengan para penggemarmu di kampus, Kyu. Sejujurnya itu sangat mengganggu, terlebih mereka terdiri dari kumpulan gadis cantik. Bagaimana jika kau tiba-tiba terjatuh ke dalam pesona mereka?" keluhnya sambil mengerucutkan bibir kesal.
Sementara, di seberang telepon hela panjang bersama geraman gemas melingkupi pendengaran Sungmin.
"Dear, sepertinya malam ini aku ingin bergegas menyelinap ke kamarmu."
"Untuk apa?"
"Menghukummu, tentu saja."
Sungmin berdecak pelan mendengar jawaban Kyuhyun. Kebiasaan sekali bila dia salah berbicara atau sedang menguntai candaan di waktu yang tidak tepat, Kyuhyun tidak akan segan menghukum kekasih manisnya itu dengan tindakan cabul.
Oh Tuhan, inilah salah satu sifat Kyuhyun yang membuatku was-was, pria itu sangat pervert, keluh Sungmin dalam hati.
"Dasar cabul. Kau yang untung, aku rugi."
"Kita menikmatinya bersama, sayang. Jangan mengelak."
Bisa diprediksi bila saat ini si kulit pucat itu pasti tengah menyeringai, sangat menyebalkan.
"Aku serius, kita sudah sering membahas perihal ini, Sungmin. Kau tahu di mana cinta dan hatiku berlabuh."
"Ya, i see. Aku hanya bercanda."
Ada apa? Tanpa sadar bibirnya bergumam dalam suara bisik lirih ketika suara Kyuhyun perlahan mengalun jauh dan terdengar samar. Sungmin mengedarkan pandangan, suasana kamar mendadak senyap kemudian aura dingin menyergap tubuhnya.
Mimik wajahnya menegang, bayang-bayang hitam melambai di balik jendela kamar, mengacaukan kesadaran diri yang berusaha Sungmin pegang erat-erat; begitu hela angin dingin menerpa sisi tubuhnya. Tunggu, hembusan angin? Suara riuh ranjang yang terlonjak akibat dari pergerakan spontan Sungmin (melompat dari ranjang) menambah keriuhan detak jantung yang bertalu kacau. Entah sejak kapan? Kini, keringat dingin turut menyemarakan kekacauan hatinya.
Sungmin masih dalam keadaan sadar dan tidak salah melihat, jendela kamarnya jelas masih tertutup dengan rapat sama sekali tidak terkuak meski hanya sedikit, lantas dari mana asal hempasan angin yang menerpa sisi tubuhnya. Iris mata Sungmin menyipit, menatap lekat-lekat menyorot gorden jendela yang terayun lambat.
Samar suara yang sempat menghilang kembali dia dapatkan. Panggilan cemas Kyuhyun, Sungmin hiraukan. Jemari tangannya tetap bertahan menggenggam telepon di telinga yang belum terputus. Tepak langkah perlahan menyusuri karpet berbulu berwarna cokelat muda yang terasa lembut, berderap menghampiri lambaian gorden yang senantiasa masih bergerak menampilkan setengah bayang pemandangan gelap di luar jendela.
"KYUHYUN!"
Seolah tersadar dari dunia fana, teriakan terkejut yang mencelos dari bibir memantul akibat dari bayang hitam yang sekejap mata melayang ke jendela dan menghantamnya dengan keras. Dapat dia dengar, detak jantung yang ribut berlomba dengan seruan cemas Kyuhyun yang terdengar makin jelas.
"Sayang, ada apa? Kau baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba berteriak seperti itu?! Sungmin ... jawab pertanyaanku?! Sungmin."
Kyuhyun nyaris membentak Sungmin saat sang terkasih tidak kunjung merespon panggilannya. Sementara, Sungmin masih terpaku di tempat. Dia menghela napas panjang, tangan kirinya berkeringat dan bergetar parah begitupula dengan getar bibirnya.
"Tidak. Aku ... aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut, sesuatu menghantam jendela kamarku, Kyuhyun."
Sungmin tidak mampu menyembunyikan getar ketakutannya dan tampaknya Kyuhyun mengetahui hal tersebut. Pria tampan itu kemudian terdiam sejenak, sebelum kembali menguntai kata menenangkan.
"Sayang, tenang. Tidak akan terjadi apapun. Jendelamu terkunci rapat, bukan?"
Kepalanya mengangguk samar sambil menggumam pelan, masih tidak mampu menenangkan detak jantung yang bertalu kian meledak resah ketika menyadari kelambu gorden tidak lagi bergerak resah seperti tadi, bahkan kain berwarna putih itu terlihat rapi seperti semula sama sekali tidak terlihat kusut maupun terbuka sedikit. Padahal bila mengingat pergerakan lambatnya tadi, seharusnya gorden itu sedikit terkuak maupun terlihat kusut. Tapi...
Sungmin menggeleng kuat, geratan gigi pada bibir bawah menguat seiring niat hati mendekati jendela hendak meneliti keadaan sekaligus mencari siluet bayang hitam yang baru saja menghantam kaca jendela kamar.
"Dear, kau masih di sana? Kau baik-baik saja. Apa perlu aku ke rumahmu sekarang?"
Perkataan Kyuhyun sekali lagi menyentak kesadaran Sungmin. Hela napas yang mulai terhisap normal mengepul dari celah bibirnya.
"Ya, tidak apa. Aku baik-baik saja, Kyu. Tidak perlu kemari, ini sudah dini hari. Aku hanya meminta kepadamu untuk tidak mematikan sambungan telepon kita selama aku melihat keadaan di luar."
"Tentang hantaman itu?"
"Ya, apa kau mendengarnya?" tanya Sungmin penuh harap.
Setidaknya bila Kyuhyun mampu mendengar hantaman tersebut, dirinya memang benar-benar dalam keadaan sadar. Bukan hanya sekadar halusinasi ataupun perasaan paranoid akibat dari gangguan mimpi buruk tiga hari ini.
"Yeah, aku mendengarnya, cukup kuat. Maka dari itu berhati-hatilah, kuaklah sedikit gordennya. Jangan terlalu menampakkan dirimu," pesan Kyuhyun yang menuai desah lega dari Sungmin. Dirinya ternyata tidak sendiri. Kyuhyun mendengarnya.
Sungmin menjulurkan tangan kirinya yang samar-samar masih terasa bergetar dan kebas, pelan sangat lambat. Ujung jemari telunjuknya kemudian menyentuh sisi kanan gorden, lekukan pada gorden dia remas dengan lembut setelahnya menarik gorden itu ke sisi kiri, seperti yang dipinta oleh Kyuhyun; Sungmin hanya menguaknya sedikit.
Tubuhnya bergerak condong ke jendela dengan kepala yang terjulur ke arah gorden lalu sedikit berposisi miring. Sebuah pemandangan yang sekali lagi membuatnya merasa traumatik terpandang di depan matanya.
"Kau sudah mendapatkannya, sayang?"
Kepalanya mengangguk satu kali bersama sorot pandangan yang terbias nanar ke bawah.
"Ya, seekor burung...-"
Dapat Sungmin rasakan, napasnya kembali terhela berat; tercekat di kerongkongan. Aroma darah dari burung tersebut entah mengapa memenuhi indera penciuman Sungmin. Kyuhyun terdiam, dia rupanya lebih memilih menunggu kalimat kekasihnya yang terasa memberat.
"...burung gagak dengan kondisi yang mengenaskan. Kepalanya patah, Kyu," lanjutnya sambil berbisik berat.
Aroma anyir itu makin menusuk ke dalam pernapasan, sementara pandangan Sungmin mengedar mencari celah jendela yang mampu dia rasuki. Namun nihil, jendela ini benar-benar tertutup dengan rapat.
"Lalu, kenapa terdengar berat, sayang. Hanya seekor burung, sudahlah tidak perlu takut_."
"Aku mencium aroma darahnya, Kyu!"
Tanpa sadar Sungmin terpekik histeris memotong perkataan Kyuhyun.
Sungmin melangkah mundur secara bertahap bersela dengan pandangan yang mulai mengabur. Dia tidak mengerti, sejak kapan tubuhnya bergetar sehebat ini dengan bola mata memanas hendak menangis. Kejadian malam ini sungguh di luar nalar logika Sungmin, sedangkan gorden putih itu kembali bergerak, kini cukup kasar.
Pada akhirnya Sungmin tak kuasa, dia terisak di tengah untaian kalimat rancu yang terlontar gagap; tertutupi kebisingan kain gorden yang saling menggesek ribut. Telapak tangannya bergetar hebat, menutup bibir yang kian bergetar takut dan tidak tahu arah.
"Kyuhyun, jendelanya tertutup rapat bahkan masih terkunci. Tapi mengapa? Mengapa aku mampu mencium aroma darahnya? Kenapa ... kenapa gorden itu bergerak? Aku merasakan angin berembus. Kyuhyun ... apa yang harus aku lakukan?!"
Kini Sungmin benar-benar ketakutan, terisak hebat hingga tersenggal. Napasnya terembus satu-satu dan langkah kakinya masih terus melangkah ke belakang, menghindari koyakan gorden dan aroma darah yang makin menghunus pekat nyali Sungmin.
Ponsel yang tergenggam erat terjatuh saat untaian menenangkan dari Kyuhyun meluncur secara bertahap memenuhi pendengaran. Sungmin menghiraukannya sebab suara tangis serta tawa seseorang yang beberapa hari ini samar mengaungi pendengarannya terdengar kian jelas membungkam kicauan menenangkan dari Kyuhyun, bergema keras seolah sebuah musik yang tertancap di setiap sudut ruangan. Berkumpul memenuhi ruang kamar Sungmin.
"PERGI! PERGI! HENTIKAN JANGAN GANGGU AKU!"
Sungmin mulai meracau panik, bola matanya bergerilya cepat ke arah pintu kamar namun seolah terpaku, tubuhnya tidak dapat dia gerakkan, bagai terpasung di dalam rantai besi.
"AYAH! IBU TOLONG AKU!"
Kepanikan kian mencekam, situasi beberapa menit yang lalu kembali terulang. Hantaman serta bayang hitam tak kasat mata berbondong menyentuh kaca jendela kamar seperti hendak menghancurkannya. Sementara itu, aroma pekat darah menyelubungi ruang kamar. Tercium makin lekat hingga nyaris membuat Sungmin mual. Perutnya bergolak, berputar acak akibat aroma busuk yang mendominasi aroma anyir di pernapasannya.
Kesadaran diri yang tertindas aroma busuk membuat Sungmin melupakan sebuah gambaran aneh di balik jendela kamar, terlepas dar aroma busuk yang membuat perutnya bergolak. Suara hantaman beruntun yang sempat membuatnya nyaris gila berubah menjadi ketukan satu-satu. Iris matanya dapat melihat siluet gambaran sosok misterius, berkuku panjang dari balik gorden yang mulai terkuak sedikit demi sedikit. Terlihat tengah mengetuk pelan lalu mengeratnya, menggesek meninggalkan jejak darah panjang di sepanjang kaca jendela kamarnya.
Bayangan hitam itu perlahan mendekat dan gorden yang terkuak sedikit makin melebar. Seekor burung gagak tiba-tiba mengepakkan sayapnya di balik kaca jendela, setelahnya suara teriakan keras menggema dari balik bibir saat kuku hitam panjang mengerat leher si burung gagak lalu menarik paksa kepalanya. Iris mata Sungmin membulat penuh, suara tawa itu serta sorot mata yang terpintai perasaan tiada puas dan haus akan darah; mendorong Sungmin ke dalam hisapan kelam di alam bawah sadarnya.
Punggung Sungmin menekan kuat dinding kamar yang menghalau niat untuk melarikan diri. Berbagai barang yang terpandang mata melayang ke arah jendela yang masih memantulkan bayang-bayang hitam menyeramkan, kian mendekat ingin meraih tubuh Sungmin.
"TIDAK! TIDAK! PERGI JANGAN DEKATI AKU! PERGI JANGAN GANGGU AKU!"
(*_*_*)
Suara nada sambung panjang yang terdengar nyaring dari balik ponsel selepas teriakan kacau Sungmin tentulah tidak akan menahan diri Kyuhyun di atas ranjang lebih lama lagi. Lelaki tampan itu kemudian bergegas melompat dari ranjang, bergerak meraih jaket dari gantungan baju setelah meraih kunci mobil di meja nakas. Perasaannya tentu tidak dapat dideskripsikan lagi, bagaimana raut datar itu menampilkan kegundahan hati yang tersirat kelam di sepanjang langkah larinya menuruni anak tangga hingga mengambil alih perhatian sang ayah dari posisinya membuat secangkir kopi.
Telah mampu menggambarkan sebuah keresahan hati yang menggebu di sepasang mata sang ayah.
"Kyuhyun..."
Perkataannya berhenti saat menangkap raut terkejut dari sepasang bahu yang sekilas menegang, namun Kyuhyun tidak berniat berbalik barang sejenak demi menatap wajah ayahnya. Lelaki itu memilih merundukkan tubuh meraih sepasang sepatu dari tempat sepatu lalu mengenakannya dengan cepat.
"Ingin pergi kemana? Ini masih dini hari."
"Ke rumah Sungmin, ayah," jawab Kyuhyun cepat. Tangannya telah meraih kenop pintu, namun harus kembali tertahan oleh lontaran kata heran dari sang ayah. "Haruskah sekarang..."
"Aku harus ke sana sekarang," kata Kyuhyun tegas dengan sorot mata tajam mengharuskan.
Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu tersenyum kecil, kepalanya mengangguk dua kali. "Baiklah, hati-hati di jalan. Truk-truk besar biasa beroperasi di waktu dini hari."
"Ya, aku pergi," seru Kyuhyun tidak sabaran yang menuai kekehan kecil dari Younghwa.
"Dasar anak muda."
(*_*)
Kyuhyun menghela napas lega begitu dirinya telah sampai di halaman depan rumah Sungmin. Sedikit banyak dia tidak menghiraukan perkataan ayahnya tentang kalimat hati-hati yang tertuang di dalam kecepatan mobil di atas rata-rata. Beruntung saja, jalan pintas yang dia ambil bukanlah jalan lebar yang dapat dilewati truk-truk besar itu, hingga Kyuhyun dengan suka cita menggila di sepanjang jalan sepi seolah jalan raya itu miliknya. Suara debum kasar yang berasal dari pintu mobil yang tertutup secara kasar menjadi komando langkah Kyuhyun dalam menyusuri halaman samping rumah Sungmin yang menjadi letak kamar Sungmin.
Kamar Sungmin berada di lantai dua, sebuah kamar tanpa balkon. Maka, bila ada suatu hal yang menghantam jendela kamar Sungmin otomatis onggokan tubuh tersebut terlempar ke halaman. Tentang hantaman tersebut, Kyuhyun memang benar-benar mendengarnya. Tersengar keras, namun setelah dirinya memijaki halaman samping rumah Sungmin. Serasah ranting maupun daun pun tidak dia temukan, apalagi seekor burung gagak dengan kondisi tubuh yang mengenaskan seperti itu.
Apa aku sedang bermimpi? Pikir Kyuhyun tidak mengerti. Sekali lagi, dia menyusuri tiap sudut halaman samping rumah Sungmin, terlebih bertepatan di bawah kamar Sungmin. Tetap saja, dia tidak menemukan apapun.
"PERGI! PERGI DARI HADAPANKU! PERGI JANGAN GANGGU AKU! AYAH! IBU! TOLONG AKU!"
Suara teriakan Sungmin menjadi spontanitas Kyuhyun dalam melupakan onggokan tubuh seekor burung gagak yang tidak berhasil dia temukan jasadnya. Lelaki bertubuh jangkung itu kemudian berlari memasuki rumah Sungmin yang rupanya tidak terkunci. Sebab teriakan rusuh sang pemilik, para penjaga rumah besar itu pun berbondong-bondong masuk hendak menolong sang tuan rumah yang berdiri resah di depan pintu kamar Sungmin.
"Ahjumma ... ahjussi," sapa Kyuhyun sambil membungkukkan tubuh. Sepasang suami istri yang semula berteriak resah di depan kamar Sungmin serentak menoleh ke tempat Kyuhyun.
"Kyuhyun. Syukurlah kau datang tepat waktu, nak," rintih Kyeongsuk disela isakan cemasnya. Kyuhyun menatap pintu kamar Sungmin. "Apa yang sedang terjadi, ahjumma?"
"Kami tidak tahu, Kyuhyun. Sungmin tiba-tiba berteriak histeris di dalam kamar dengan keadaan pintu yang terkunci," jawab ayah Sungmin ditengah kegiatan diri menenangkan sang istri.
Kyuhyun mengangguk paham, setelah meminta izin untuk mendobrak pintu kamar Sungmin dengan bantuan dua satpam penjaga rumah megah itu, Kyuhyun dapat meneliti keadaan sang kekasih yang jauh dari kata baik-baik saja.
Berbagai barang berserakan di segala penjuru kamar Sungmin, sementara sang kekasih meringkuk histeris di sudut kamar.
"AKU BILANG PERGI! PERGI DARI SINI! JANGAN GANGGU AKU! PERGI!" teriak Sungmin kalut sambil merengkuh sepasang telinganya dan menangis hebat. Kyuhyun bergerak ke tempat Sungmin kemudian mengulurkan tangan merengkuh tubuh bergetar kekasihnya. Berontakan keras tak pelak dia dapatkan.
"TIDAK! JANGAN SENTUH AKU! PERGI! PERGI!"
"Sayang ... Sungmin, tenang ini aku, Kyuhyun."
Sungmin tertegun, iris matanya yang memerah sembab menatap lekat-lekat wajah Kyuhyun sebelum menenggelamkan tubuhnya ke dalam rengkuhan erat Kyuhyun. Terisak ketakutan di dalam gerak tangan Kyuhyun yang membaluti tubuh belakangnya. Sungmin merasakan kehadiran orang lain, kedua orang tuanya memandang dirinya dengan raut cemas. Ibu Sungmin terlihat enggan meninggalkan kamar putranya, namun sang ayah terus berbisik lembut menenangkan sang ibu untuk pergi memberikan privasi pada sepasang kekasih muda itu.
"Kyuhyun ... jendela ... gorden ... darah ... burung gagak."
Sungmin kembali meracau takut, sementara Kyuhyun terdiam. Hanya pergerakan tangan yang melindungi keresahan sang kekasih.
"Ya, tidak apa. Tidak ada yang terjadi, semua baik-baik saja, sayang," bisik Kyuhyun menenangkan sambil melirik ke arah jendela.
Lingkupan perasaan bingung masih menaungi hatinya, tentang semua racauan Sungmin serta suara hantaman yang dia dengar melalui sambungan telepon, mustahil dapat Kyuhyun acuhkan begitu saja. Sungmin mendongak, menatap keterdiaman Kyuhyun yang tersorot ke dalam sebuah lamunan. Iris matanya kemudian mengintip dari balik tubuh Kyuhyun.
"Apa kau menemukannya?"
Kyuhyun terperanjat, jantungnya sedikit bertalu dua kali lebih cepat saat suara serak Sungmin tiba-tiba menyelusup ke dalam lamunannya. Wajahnya merunduk, menatap arah pandangan Sungmin yang terarah lurus ke jendela.
"Halaman samping rumahmu bersih," bisik Kyuhyun sumbang di antara langkah kaki cepat Sungmin yang kembali menghampiri jendela kamarnya. Menguak gorden jendela dengan kasar lantas membuka kaitan jendelanya.
Sungmin membekap bibir, kepalanya menggeleng dua kali. "Tidak mungkin. Tidak mungkin penglihatanku salah. Tidak mungkin."
Kyuhyun berderap mendekati Sungmin, memberikan sebuah rengkuhan hangat dari belakang. "Sungmin..."
"Ini bukan sebuah halusinasi, Kyuhyun. Aku masih sadar. Aku melihatnya, benar-benar melihatnya. Tentang burung gagak itu, sosok hitam dan darah. Aku melihat semuanya, Kyuhyun. Seharusnya kau dapat menemukan burung gagak itu, seharusnya..." Sungmin tersenggal, namun racauannya masih belum berniat berhenti.
"...seharusnya bekas darah itu..."
Lumatan lembut yang terasa menuntut membungkam racauan Sungmin. Suara gumaman protes dari Sungmin teredam, bergetar di antara tautan bibir mereka. Kyuhyun mengulum lembut bibir Sungmin, namun ketat di waktu bersamaan. Menghisapnya sedikit kasar sebelum melepaskannya.
"Dengar sayang. Jangan seperti ini. Aku percaya kepadamu, karena suara hantaman itu pula aku dengarkan. Tapi, aku mohon jangan seperti ini. Tenangkan dirimu, sayang. Cobalah untuk menerima kenyataan."
Kyuhyun menangkup wajah Sungmin, mengusap sisinya dengan hangat bersama sorot teduh yang menenangkan. Sungmin meraih tangan Kyuhyun lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku hanya takut, Kyu. Aku hanya takut semua peristiwa ini..."
Kyuhyun mendesis menenangkan, lengannya menarik tubuh Sungmin kembali ke dalam rengkuhannya.
"Tidak akan terjadi apapun. Aku akan selalu melindungimu, Sungmin."
Kelopak mata Sungmin terpejam, menikmati sentuhan hangat di sepanjang tubuh belakangnya, mencoba meletakkan semua beban psikisnya malam ini ke dalam balutan kasih Kyuhyun. Berupaya melupakan kejadian yang dia alami dan meleburkannya ke dalam kenyataan yang ada, seperti yang dikatakan Kyuhyun.
Semoga apa yang aku takutkan tidak menjadi kenyataan.
Go To Next Chap (^^)
