Being a cool man
Main Cast :
-Oh Sehun
-Luhan as girl
Other cast :
-Irene
-Chanyeol
-Kai
Summary : Luhan hanya ingin membantu nasib percintaan Sehun dengan cara mengubah pria itu menjadi pria yang tampan dan keren. Bukannya mendapat sebuah tamparan di pipinya sehingga ia harus kehilangan sahabatnya.
/"Tidak ada cinta sebagai sahabat antara laki-laki dan perempuan. Lebih baik kau menjauh dan jangan dekati Sehun lagi"- Irene / "Maafkan aku"- Sehun/ "Gwenchana"- Luhan.
Rate : T
Disclaimer : Cast dalam cerita ini sepenuhnya milik Tuhan. Terutama Sehun, setengahnya milik saya, hehe *plak* But, this story is Mine. FF ini murni asli pemikiran saya.
Warning : awas typo nyempil.
.
.
.
.
Happy reading
Ps. Doa dulu sebelum dibaca.
.
.
.
Chapter 2
.
.
Sudah hampir tiga minggu Luhan dan Sehun terlihat tak pernah bertegur sapa maupun berbicara. Walaupun mereka duduk dibangku yang bersebelahan tidak menutupi jika satu diantara mereka tidak ada yang membuka mulut sebagai bahan perbincangan.
Setelah kejadian tiga minggu yang lalu dimana Irene yang menampar Luhan. Hubungan Sehun dan Irene hampir putus jika saja waktu itu Irene tidak menangis sejadi-jadinya berusaha memohon agar Sehun tidak memutuskannya. Pada akhirnya Sehun yang memang tak sanggup melihat perempuan menangis akhirnya luluh dan berbaikan pada Irene.
Mulut Sehun sebenarnya telah gatal ingin berbicara. Banyak yang ingin ia tanyakan pada Luhan perihal kejadian tiga minggu lalu. Terutama Apakah ia baik-baik saja? Wajah Luhan kian hari memucat, walau ia telah menutupi nya dengan sedikit polesan Sehun tetap tahu jika wajah Luhan memucat dan juga akhir-akhir ini ia terlihat mudah kelelahan. Dan ini bukan pertama kalinya Sehun melihat Luhan yang memejamkan matanya seperti sedang menahan sakit.
Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?
- Being a cool man -
Sepulang sekolah Irene langsung melangkahkan kaki kecilnya riang menuju kelas Sehun. Ia berhenti diambang pintu ketika melihat Luhan masih berada disana berdua bersama Sehun yang sibuk membereskan alat-alat tulis dan berbagai alat bekas praktek mereka tadi. Matanya memandang geram pada perempuan itu. Irene yakin, ini pasti salah satu dari rencana liciknya agar dirinya dan Sehun putus.
Sungguh perempuan licik
Irene mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. Ini tak boleh lagi terjadi, ia harus segera menyingkirkan Luhan dari Sehun. Makin lama perempuan itu membuat dirinya marah. Ia harus diberi pelajaran sebanyak mungkin.
"Sehun-ah" Sehun menoleh dan tersenyum melihat Sehun yang telah berada di ambang pintu dan berjalan mendekati nya.
"Kita jadi melihat pameran di sungai han bukan?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu ayo" setelah Sehun menutup tasnya dan menggendongnya di punggung. Irene langsung menarik tangan Sehun segera mungkin pergi dari sana. Karena rencananya harus berjalan lancar tanpa sepengetahuan Sehun. Ia tak mau jika Sehun membantu perempuan licik yang berusaha merusak hubungan nya dan Sehun.
Setelah menyusun rapi alat yang telah ia gunakan sebagai bahan praktek Luhan bergegas mengambil tasnya dan menyampirkannya ke punggungnya. Ia berjalan keluar setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Setelah menutup pintu kelas ia kembali berjalan untuk pulang kerumah.
Ketika akan berbelok ia dikejutkan oleh Seulgi -teman sekelasnya sewaktu kelas satu dulu- yang tiba-tiba muncul. Seulgi mendesah lega melihat Luhan yang datang.
Tepat sekali
"Luhan, untunglah kau belum pulang. Bisakah kau membantu ku?"
Belum sempat Luhan menjawab Seulgi sudah langsung menariknya dan membawanya ke dalam Lab Kimia.
"Aku tidak bisa membersihkan gulanya dalam tabung reaksi" ujar Seulgi dan menunjukkan satu tabung reaksi yang berisi air gula yang telah berubah menjadi caramel.
"Astaga, Seulgi-ya pasti kau membakarnya diatas api bukan" Seulgi mengangguk membenarkan "apa Jang saem tak memberitahu mu jika membakar air gula ini jangan diatas api. Tapi dipinggirannya saja"
"Saem sudah memberitahu hanya saja aku tak menurutinya karena itu terlalu lama. Aku takut waktu habis disaat aku belum lagi menjawab soal pertanyaan di kertas. Ahh~ praktek ini membuatku pusing" Luhan tersenyum memaklumkan
"Kemarilah biar ku bantu" Seulgi menyerahkan tabung reaksi pada Luhan untuk dibersihkan oleh Luhan
Tiba-tiba ..
Ponsel Seulgi berdering. Seulgi permisi keluar sebentar dan mengangkat panggilan yang ternyata dari
Irene
"Bagaimana? Ia masuk perangkap?"
"Tentu saja. Rencana kita berhasil"
"Bagus. Kau memang yang terbaik Seulgi-ya"
Pip
Panggilan terputus. Seulgi kembali masuk kedalam lab dengan raut wajah yang ia buat semenyesal mungkin.
"Kenapa dengan wajah mu?"
"Maafkan aku Lu. Ibu ku menelpon dan mengatakan jika kakak ku masuk rumah sakit. Bisakah aku pulang duluan"
"Kenapa kau bertanya lagi. Seharusnya kau cepat pergi ke rumah sakit" suruh Luhan cepat.
Biar bagaimana pun ini menyangkut tentang keluarga nya Seulgi. Tak masalah jika ia sendirian dalam lab untuk membersihkan tabung reaksi. Yang penting Seulgi cepat kerumah sakit.
"Tapi kau-"
"Jangan khawatir kan aku. Khawatirkan kakak mu dirumah sakit"
Seulgi tersenyum pada Luhan "Gomawo Lu. Aku duluan ya"
"Hati-hati" Luhan menatap Seulgi yang pergi dengan buru-buru.
"Semoga kakaknya baik-baik saja" gumamnya.
Tanpa ia sadari, ternyata Seulgi meninggalkan lilin yang menyala dekat dengan larutan kimia yang mudah terbakar. Tempat larutan kimia tersebut miring dan tak dapat bertahan hingga jatuh mengenai lilin yang menyala. Seperti kilat, api dari lilin itu menyambar begitu cepat dan menjalar.
Asap dari api tersebut beterbangan hingga masuk ke indra penciuman Luhan. Gadis itu terkejut melihat segumpalan asap dalam lab Kimia dan matanya membola melihat Api yang mulai menjalar. Dengan cepat ia berusaha pergi dari sana menjatuhkan tabung reaksi nya yang belum sepenuhnya bersih.
Ia menjerit tatkala sebuah rak berisi alat-alat kimia terjatuh. Dan api yang mulai merambat membuatnya memutari rak tersebut agar bisa keluar. Namun, disaat yang tidak tepat rasa sakit dikepalanya muncul diikuti dengan pandangannya yang mulai berputar-putar. Tubuhnya berjalan dengan terhuyung masih berusaha mencari pintu keluar dari sini.
Luhan menggapai knop pintu berusaha membukanya namun sialnya pintu itu malah terkunci. Rasa pusing dikepalanya mulai menjadi, ditambah lagi keadaan lab yang terbakar makin memperburuk keadaannya. Tangannya menggedor pintu dan berusaha berteriak sekuat mungkin meminta pertolongan.
Tapi tidak ada siapapun yang mendengarnya. Tenaganya mulai melemah, nafasnya mulai terputus-putus belum lagi dengan kepalanya yang semakin bertambah sakit. Luhan berusaha mengeluarkan ponsel dari saku roknya dan mendial seseorang
Sehun
Entah kenapa hanya Sehun yang muncul dipikirannya. Ia terus mendial nomor Sehun namun berulang kali pula ia harus mendapatkan jawaban jika Sehun tak menjawab panggilannya.
Ku mohon.. angkat... Ku mohon
Uhuk uhuk
Api mulai membesar dan asap yang kini telah sepenuhnya mengisi lab Kimia. Membuat dada Luhan terasa sesak dan terbatuk ketika asap itu terhirup olehnya. Sakit dikepalanya tak dapat ia toleransi lagi. Rasanya sangat sakit
Siapapun tolong aku
Hingga rasa sakit itu menguasainya membuat ia tak dapat lagi menahan nyeri dikepalanya. Luhan merosot ke bawah dengan nafas yang mulai tersengal ia berusaha melepaskan gelang ditangannya dan mengeluarkan gelang tersebut dari bawah pintu yang memiliki cela sedikit berharap seseorang mengenali gelangnya dan tahu jika didalam ada Luhan yang terkunci sebelum semua berubah menjadi gelap.
Sehun tolong aku
- Being a cool man -
Sehun dan Irene duduk disalah satu bangku taman dekat sungai Han. Mereka berdua asyik memakan ice cream ditangan mereka. Bahu lebar Sehun dijadikan sandaran kepala oleh Irene. Dan tangan Sehun merangkulnya.
"Ini sangat menyenangkan"
"Pamerannya bahkan belum dimulai"
"Bukan pameran yang ku maksud. Tapi kita, senang rasanya kita dapat menghabiskan waktu dengan berdua"
Sehun tertawa kecil dan mengecup kepala Irene sayang. Sang gadis tersenyum merasakan kebahagiaan dalam dirinya. Bahagia karena Sehun di sisinya dan bahagia karena tidak akan ada lagi perempuan bernama Luhan. Tanpa Sehun ketahui Irene tersenyum miring mengingat rencananya yang berhasil 100%.
"Ah!" Irene kembali ke posisi duduk semula dan melepaskan rangkulan Sehun membuat si pria merasa bingung
"Kita harus berfoto. Kemarikan ponsel mu. Aku harus memperbanyak moment kita dalam ponsel mu"
Sehun hanya tersenyum dan menuruti sang gadis lalu mengeluarkan ponselnya. Irene mengambil banyak foto dirinya dan juga Sehun. Setelah merasa puas, gadis cantik itu menghentikan acara memotretnya dan melihat hasil potretannya. Mereka bersua tertawa ketika wajah konyol mereka tertampil di layar ponsel Sehun.
"Tunggu sebentar. Aku ingin ke toilet" Sehun menghentikan aktivitas mereka melihat hasil foto.
"Baiklah. Cepatlah kembali"
"Siap tuan putri"
Sepergian Sehun tinggalah Irene sendiri disana yang masih sibuk dengan ponsel Sehun. Senyumnya terus mengembang melihat foto mereka yang terpampang dengan jelas disana. Tapi tiba-tiba senyum itu menghilang ketika sebuah panggilan masuk ke ponsel Sehun.
Luhan
Itu panggilan dari Luhan. Irene dengan cepat menggeser ikon merah dan tak lama kemudian Luhan kembali menelfon membuatnya merasa marah dan mematikan ponsel Sehun.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari ponsel Irene. Itu dari Seulgi yang mengatakan jika rencana mereka berhasil ditambah sebuah foto sebagai bukti. Irene tersenyum miring dan menyadari jika tadi Luhan menelfon untuk meminta bantuan pada Sehun agar membantunya. Beruntungnya ponsel Sehun ada padanya.
"Kenapa dengan senyum mu"
Irene mendongak dan melihat Sehun yang telah datang.
"Kau kembali" katanya ketika Sehun telah duduk. Irene segera memberikan ponsel Sehun.
"Ponsel mu mati"
"Oh, benarkah" Sehun mengeceknya dan benar saja ponselnya mati. Ia memasukkan ponselnya dalam saku celana.
"Bukankah pamerannya akan berlangsung?"
"Ah iya, kau benar. Ayo kita kesana aku tak ingin gagal melihat pameran yang hanya diadakan setahun sekali ini" ujar Irene penuh semangat dan menarik tangan Sehun.
TBC or END?
Cuap-cuap sedikit nggak apa-apa kali ya
Haiii
Aku kembali, hehe. Ada yang kangen *Gakkkkk
Luhan gimana itu ada rasa gak rela sebenarnya buat adegan lulu di dalam lab. Jahat gak sih? Siapa yang jahat? Irene kah? Seulgi kah? Sehun kah? Atau aku :v
Jadi, aku mau ngucapin terima kasih sebesar-besarnya bagi readers yang udah review, follow, favorite, dan sudah mau meluangkan waktu untuk baca cerita gaje ku ini. Review kalian sangat berharga untukku. Sekali lagi terima kasih, hehe :D
Dan juga soal alur yang cepat. Sebelumnya, cerita ini sudah ku finishkan dan memang alurnya sengaja ku buat cepat, hehe :D
Sekian cuap-cuap dari aku.
Semoga betah dan gak bosan dengan cerita gaje ini.
Big Thanks to :
Frizcha717, Arianne794, aleina8, LSaber, Universegoodnight, sarah, selynLH7, Apink464, listyoctaviani, galaxynine, Seravin509, dreamsoo12, AyuPacarChanyeol, KimaHunHan, misslah, auliaMRQ, NaruLoveAnime, NinditaAnggraeni, Salshabilla, lulubaek, sehun9499, chan61, LuluV, Sella Brizcswitch, babybobo, dkwlsajin, fansanakayam, kepala jamur,
