Cast:

Kim Doyoung, Jung Jaehyun, Lee Taeyong

and others;

Warning:

Yaoi!

Jaehyun tidak bisa begitu saja melupakan kejadian siang ini. Ia sebenarnya hanya penasaran, jadi ia mencoba mencari tahu. Tapi jawabannya benar-benar diluar perkiraan. Itu tentu saja juga yang pertama bagi Jaehyun—mencium seorang pria. Tapi mungkin 'yang pertama' bagi Doyoung adalah hal yang berbeda dengan dirinya. Yang pertama bagi Doyoung adalah benar-benar pertama baginya. Sedang bagi Jaehyun, pertama artinya adalah pertama dengan seorang pria.

Jaehyun berkali-kali menghela nafas, dan Mina disampingnya hanya memperhatikan dengan kening berkerut. "Kau kenapa?" dan akhirnya Mina tak tahan untuk bertanya.

"Apa kau masih ingat rasanya ciuman pertama?" Mina memutar bola matanya jengah karena Jaehyun malah balik bertanya padanya.

"Tentu saja." Mina mengingat-ingat. "Ciuman pertama itu sangat berkesan bagi semua orang, apalagi melakukannya dengan yang tercinta." Jawab Mina.

"Kalau melakukannya dengan orang yang tidak kau harapkan, bagaimana perasaanmu?" Mina lagi-lagi mengerutkan kening menerima pertanyaan lainnya dari Jaehyun.

"Kepalamu terbentur atau apa?" Mina menatap Jaehyun penuh selidik. "Untuk apa bertanya hal seperti itu padaku?" ia mendengus, tapi tetap melanjutkan, "Lagipula aku mana tahu hal semacam itu. Ciuman pertamaku ya bersama orang yang kucinta. Itu kau!"

Jaehyun merenung lagi. Hari ini setelah ciuman yang sama sekali tak direncanakannya bersama Doyoung—teman sebangkunya yang manis, pemuda itu terus menatap tajam padanya seolah ingin menikamkan pisau tajam diseluruh tubuh Jaehyun. Ia bahkan menjaga jarak, padahal mereka satu meja. Jaehyun juga super penasaran dengan Taeyong yang merangkul Doyoung saat pulang sekolah, dan mereka pulang dengan mobil yang sama—seingat Jaehyun itu adalah mobil milik Taeyong. Jaehyun menyesal ia bolos dua hari berturut-turut dan tak tahu apapun tentang Kim Doyoung. Pertama kali melihat Doyoung duduk di bangku kosong samping miliknya, ia cuek saja. Dan Doyoung juga sama saja tak pedulinya meski mereka duduk bersebelahan selama jam pelajaran pertama. Lalu jadi merasa canggung di pelajaran kedua sampai terakhir.

"Apa sih yang kau pikirkan?" Mina mengembalikannya dari lamunan.

"Kau tahu siswa baru yang tadi melihat kita berciuman?" Mina ingin sekali memukul kepala Jaehyun yang dari tadi selalu mengabaikan pertanyaannya.

"Ya, dia bilang namanya Doyoung kan?" jawab Mina.

Jaehyun mengangguk. "Dia chairmateku."

"Lalu?" Mina berhenti protes dan mengikuti saja kemana pembicaraan ini akan berlanjut.

"Apa kau percaya bahwa dia belum pernah berciuman?" Hah! Mina shock bukan karena Doyoung belum pernah berciuman, tapi lebih kepada kenapa ia harus peduli dan kenapa Jaehyun harus sekali membahas hal ini disaat mereka sedang berduaan.

Mina memijit pelan keningnya, "Jae, aku pusing dan aku tak tahu kemana arah pembicaraan kita. Aku mengajakmu kerumahku karena ingin menghabiskan waktu berdua denganmu, bukan membicarakan soal ciuman pertama seseorang. Aku tidak peduli dia belum pernah berciuman atau apapun. Aku hanya peduli kau untuk menghangatkan bibirku sekarang." Mina menarik leher Jaehyun untuk menciumnya—tapi ia ingin mengumpat setelahnya karena Jaehyun malah berdiri dan meraih tasnya.

"Sorry, aku harus pergi." dan tak peduli dengan wajah merah Mina yang menahan marah—Jaehyun pergi begitu saja.

Doyoung uring-uringan dan sesekali menggosok kuat bibirnya hingga jadi semakin merah dan bengkak. Ia ingin mengumpat, tapi tak satu umpatanpun yang bisa keluar dari mulutnya—ia kehilangan semua kata-kata kasar yang dikuasinya. Ia berusaha menghilangkan bayangan ciumannya dengan pemuda tak tahu malu aka Jung Jaehyun, tapi bahkan rasa hangat dibibirnya tak mau hilang. Seperti bagian itu masih terselimuti mulut Jaehyun. Ia bahkan tak sadar kakak tirinya—yang sama tidak tahu malunya dengan Jaehyun sudah berdiri heran didepan pintu kamarnya dengan kedua lengan menyilang didepan dada, Lee Taeyong.

"Hei." Satu sapaan dari Taeyong berhasil menyadarkan Doyoung. "Berhenti menggosok-gosok bibirmu seperti itu atau kau kucium." Doyoung mendelik mendengarnya.

"Kupecahkan bibirmu, kalau kau berani." Doyoung memasang wajah garangnya—yang selalu berhasil membuat Taeyong gemas.

Taeyong tertawa. Doyoung itu aslinya bermulut sadis dan bertatapan sinis. Hanya dihari pertama mereka tinggal bersama Doyoung menampakkan sisi manis—fakenya. "Terserah." Taeyong mengangkat bahu tak peduli. "Aku lapar. Kau mau masak atau kita makan diluar?" tanyanya.

Doyoung juga baru sadar kalau dia kelaparan. Ia memegangi perutnya dan melirik jam diatas nakas. Pukul delapan lebih sebelas menit, pantas saja cacing-cacing diperutnya sudah meronta. "Makan diluar saja, aku sedang malas memasak." Jawabnya.

"Oke. Kau punya waktu lima menit untuk bersiap-siap, aku tunggu diparkiran." Kemudian Taeyong berlalu dari sana, meninggalkan Doyoung yang baru tersadar bahwa dia bahkan belum mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. Entah sudah berapa lama ia mondar mandir tadi—sebelum Taeyong menyadarkannya.

Taeyong dan Doyoung perlu berdebat selama dua puluh menit untuk menentukan dimana mereka akan makan malam. Mobil Taeyong bahkan sudah melaju sangat jauh dari apartemen saat mereka akhirnya memilih restoran cepat saji untuk mengisi perut yang suara cacingnya sama bersahutannya dengan perdebatan mereka. Taeyong yang merasa paling lelah karena harus berdebat panjang dengan Doyoung memesan dua menu sekaligus untuk mengisi perutnya. Doyoung hanya mencibir ketika Taeyong sesekali menyalahkannya tentang makan malam yang terlambat disela kunyahan rakusnya. Ketika Doyoung akan mengumpat untuk membalas serangan mulut tak berpendidikan Taeyong, kakak tirinya itu sudah tersedak makanannya sendiri. Doyoung tertawa keras, menghiraukan tatapan tajam pelanggan lain. Sementara Taeyong merutuki kesialannya.

Mereka makan dengan cepat, kurang dari waktu perjalanan mereka menuju restoran ini.

"Kau pulang sendiri ya." Doyoung melotot mendengar kalimat yang keluar dengan tak tahu dirinya dari kakak tiri sialannya ini. "Aku ada janji pergi ke club dengan Johnny dan Lucas." Lanjutnya.

"Lalu bagaimana caranya aku pulang?" tanya Doyoung.

Taeyong menyeringai, "Bagaimana kalau kau ikut?" tawarnya. "Club malam kota Seoul tak pernah mengecewakan kok." Taeyong menarik tangan Doyoung tanpa persetujuan. Ia yakin sebentar lagi adik tirinya itu pasti akan—

"Lee Taeyong sialan." —mengumpat. "Aku kan belum bilang iya."

"Nah, kau baru saja bilang iya." sebelum membiarkan kata-kata kasar lain keluar dari mulut adik tiri manisnya, Taeyong langsung mendorong Doyoung memasuki mobil. Segera menjalankan mobilnya ditemani tatapan tajam milik Doyoung.

Mobil Taeyong terparkir rapi didepan bangunan besar di pusat kota Seoul. Didepan bangunan itu tertulis "127 Night Club" dengan lampu merah dan biru yang kilaunya membuat mata Doyoung sakit "Ini bukan yang pertama bagimu, kan?" tanya Taeyong. Doyoung hanya menjawabnya dengan anggukan malas. "Ayo turun." dan ia terpaksa ikut saja.

Taeyong berjalan dua langkah didepannya, dan telinga Doyoung langsung disambut alunan musik memekakkan telinga, juga matanya yang dipaksa melihat adegan tak senonoh dari dua orang pria dan wanita yang berciuman sampai air liurnya mengalir kemana-mana. Iyuhh.. menjijikan, batin Doyoung. Ini memang bukan yang pertama bagi Doyoung mengunjungi night club, tapi tetap saja ia tak seterbiasa Taeyong.

Taeyong menaiki tangga menuju lantai dua dan Doyoung lagi-lagi harus mengasihani mata berharganya karena disini ada lebih banyak lagi pemandangan menjijikkan. Tidak hanya pria-wanita yang berlaku tak senonoh, tapi wanita-wanita bahkan pria-pria juga.

"Ayo masuk!" Doyoung tersentak ketika Taeyong menarik tangannya memasuki ruangan nomor 7.

Pemandangan dalam ruangan itu tak ada bedanya dengan diluar. Mata Doyoung lagi-lagi harus menyaksikan—kali ini tiga orang pria saling mencumbu seperti tak ada hari esok. Seorang pria yang bertubuh paling kecil berada ditengah dengan mulut yang dicumbu oleh bibir pria sebelah kanan, dan leher yang dijilat dan dihisap oleh pria sebelah kiri. Nah, sekarang Doyoung benar-benar menyesal mengikuti Taeyong. Ia melirik kakak tirinya itu yang hanya menatap malas ketiga pria didepannya. Doyoung menerka-nerka, dia tidak akan bernasib sama dengan pria yang ditengah itu kan?

"Hei, aku disini. Bisa kalian berhenti?" dua pria itu akhirnya menyadari kehadiran Taeyong dan Doyoung, kemudian melepaskan mulut mereka dari bibir dan leher pria mungil ditengah.

"Oh, Taeyong hyung. Hai." Pria yang tadi memuluti leher pria yang ditengah menyapa Taeyong. Ah iya, Doyoung ingat siapa dia. Lucas, satu tingkat dibawah ia dan Taeyong. Doyoung menajamkan penglihatannya dibawah cahaya lampu yang remang. Ia mengenal ketiga pria itu rupanya. Johnny, satu tingkat diatasnya—dulu satu tingkat dengan Taeyong. Dan.. Doyoung membelalakkan matanya. Itu Ten kan? Pria Thailand—mantan kekasih Taeyong— yang satu tingkat dengannya. Well, jangan tanya mengapa Doyoung bisa tahu hal-hal semacam itu. Taeyong selalu memaksanya menempel kemanapun pria itu pergi ketika mereka disekolah. Dan kakak tirinya itu populer sekali, jadi fakta tentangnya mudah sekali diperoleh. Selama tiga hari ini Doyoung selalu makan siang bersama Taeyong dan dua temannya—Johnny dan Lucas. Doyoung hanya pernah sekali bertemu Ten—mereka berbeda kelas— ketika ia menggunakan toilet sekolah.

"Kau membawa Doyoung juga? Wah, kalian memang tak terpisahkan ya." Ini Johnny yang berbicara. Doyoung mengangguk canggung mendengar kalimat pria itu.

"Tentu." Tangan Taeyong dengan lancangnya langsung merangkulkan lengan kirinya pada bahu Doyoung, membawanya duduk disofa yang sama dengan Johnny, Lucas dan Ten.

Beberapa menit kemudian, ketiga orang itu—Taeyong, Johnny, dan Lucas— mulai larut bersama vodka dan obrolan kotor mereka. Doyoung tidak peduli, dia berpindah duduk disofa pojok ruangan dengan segelas wine ditangan kanannya. Sampai Ten bergabung duduk disampingnya juga dengan segelas wine ditangan.

"Aku Ten." Ucapnya dengan tangan terjulur dihadapan Doyoung.

Doyoung melirik tangan itu sekilas dan menyambutnya. "Ya, aku tau kau." Ia meneguk lagi winenya sebelum melanjutkan, "Aku Doyoung."

Mereka berjabat tangan beberapa saat, kemudian melepaskannya. Ten menyamankan duduknya disebelah Doyoung, dan menatap ketiga pria didepannya yang asyik berbincang. "Bagaimana bisa kau menjadi adik Taeyong?" tanyanya setelah keheningan diantara mereka.

Doyoung melirik Ten sekilas sebelum menjawab pertanyaannya, "Ibuku yang kurang beruntung bertemu dan jatuh cinta dengan Ayahnya."

Ten tertawa mendengar jawaban Doyoung. "Ayahnya orang baik, kok." Cetus Ten. Matanya menatap lurus pada Taeyong yang masih asyik berbincang dengan dua temannya. "Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Tuan Lee membantu restoran keluargaku yang hampir bangkrut."

Doyoung berdeham pelan. Ia juga mengakui kebaikan hati Ayah tirinya itu. "Lalu, kau?" Doyoung kembali meneguk winenya, kemudian menatap Ten. "Bagaimana bisa berpisah dari Taeyong hyung dan—bersama Johnny hyung dan Lucas?" sebenarnya Doyoung tak ingin tahu tentang ini, tapi ia tak punya ide lain untuk dibicarakan pada Ten. "Kau tak perlu menjawabnya jika tak ingin." Doyoung tak mau Ten salah paham karena kelancangannya.

Ten tersenyum kecil dan meneguk winenya sebelum menjawab, "Aku berselingkuh dengan Johnny." Doyoung mencoba untuk tak terkejut, tapi ini benar-benar diluar dugaannnya. Ia pikir Taeyong—kakak tirinya yang brengsek itu yang mencampakkan Ten. "Aku mencintai Johnny, dan—tidak bisa mencintai Taeyong." Ten melanjutkan.

"Aku setuju menjadi kekasihnya karena merasa perlu membalas budi pada Tuan Lee. Tapi ketika bertemu Johnny, aku malah jatuh cinta padanya." Ten melirik Doyoung yang mendengarkan ceritanya dengan wajah serius. "Kau pikir aku brengsek?" tanyanya.

"Mungkin." Doyoung mengedikkan bahunya acuh. "Lalu bagaimana dengan Lucas?"

"Selain aku, Johnny itu juga brengsek." Ten menatap kekasihnya—Johnny yang juga menatapnya dan tersenyum. "Aku kekasihnya, tapi dia membiarkan Lucas menyentuhku." Raut wajah Ten berubah sedih. "Tapi tenang saja. Suatu saat aku pasti bisa membuatnya menjadi milikku, dan aku hanya menjadi miliknya."

Doyoung merasakan pusing seketika, bukan karena gelas kedua winenya. Tapi karena hubungan mengerikan yang dimiliki oleh orang-orang yang saat ini tengah berada disatu ruangan dengannya. "Sorry, sepertinya aku butuh ke toilet." Ia pamit meski merasa tak perlu pamit pada Ten. Pria Thailand itu hanya mengangguk, kemudian meneguk habis winenya.

Doyoung tidak bisa tidak memikirkan percakapannya dengan Ten beberapa saat yang lalu. Ia penasaran bagaimana perasaan Taeyong ketika mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Dan bagaimana setelah semua itu, mereka tetap berhubungan baik? Lee Taeyong itu benar-benar menakutkan.

"Kita bertemu lagi." Doyoung terkejut mendengar suara dari arah belakangnya. Ia menoleh cepat sampai pusing dikepalanya semakin menjadi. Orang yang paling tidak ingin dilihatnya, bersandar angkuh didinding samping pintu toilet. "Aku tidak menyangka. Seseorang yang bilang ciuman pertamanya baru saja diambil, datang ketempat seperti 127 Night Club." Pria itu menatap Doyoung sinis.

Doyoung memutar bola matanya jengah. Didepannya berdiri bajingan lainnya—Jung Jaehyun. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang. Ciuman pertamanya telah direbut secara paksa oleh Jaehyun. Itu sangat menyebalkan. Tapi bertemu lagi dengan Jaehyun ditempat seperti ini, lebih menyebalkan. Doyoung tidak peduli apa yang dipikirkan Jaehyun tentangnnya sekarang. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini, karena Doyoung baru saja mendapat kesialan selanjutnya karena harus bertemu lagi dengan Jaehyun.

"Aku tak punya urusan denganmu." Doyoung melangkah dengan tenang melewati Jaehyun, tapi tangan pria itu mencekalnya.

"Kau punya urusan, sejak kau meninggalkan luka dilidahku." Jaehyun menjulurkan lidahnya, dan dapat Doyoung lihat luka yang tidak bisa dibilang kecil disana. Astaga! Doyoung tidak tahu kalau dia menggigit sangat kuat sampai meninggalkan luka selebar dan sedalam itu.

"Kau perlu ke dokter kalau begitu." Doyoung mencoba menghiraukannya, dan berusaha menarik tangannya dari genggaman kuat Jaehyun. Tapi tidak berhasil. "Apa maumu? Itu bukan salahku, kan? Kau yang menciumku duluan, dan itu bagaimana aku melindungi diri."

"Kau berbohong soal ciuman pertama itu, kan?" Jaehyun menatap Doyoung penuh selidik.

Doyoung mendengus. "Maaf ya, tapi aku bukan pria seperti itu. Aku selalu menjaga diriku, sebelum aku bertemu pria kurang ajar sepertimu."

"Itu juga yang pertama bagiku." Doyoung melotot tak percaya mendengar kalimat itu dari mulut lancang Jaehyun.

"Kau mau aku percaya itu?" Doyoung berdecih.

Jaehyun menyeringai. "Itu pertama bagiku—melakukannya dengan seorang pria."

Doyoung jengah. Ia tidak peduli dengan percakapannya dengan Jaehyun saat ini. Ia hanya ingin pergi, tapi tangannya masih digenggam sangat kuat oleh Jaehyun. Lagi-lagi ia menyesal berjalan sendirian tanpa Taeyong.

"Kau menarik." Jaehyun menatap tepat kemanik hitam Doyoung, menguncinya. "Mau jadi kekasihku?"

"APA?!" Doyoung memekik.

Ternyata Jung Jaehyun itu lebih menakutkan.

To Be Continued

Hei, hei. Saya datang dengan Chapter pertama. Terimakasih untuk reviewnya. Iya, saya setuju kalau fanfic JAEDO sekarang udah jarang banget. Jadi saya ingin mengajak pembaca semuaterutama para JAEDO Shipper untuk melestarikan fanfic Jaedo.

Gimana-gimana Chapter 1nya? Masih kurang moment Jaedo? Sabar yaa..

Sampai bertemu di Chapter selanjutnya. Terimakasih.