Summary :

Bumi selalu berputar pada porosnya. Ahli Fisika dan Geografi mengakui itu. Segala Hal yang terjadi pasti akan ada balasannya. Ada kesaksian diantara 'hal yang tertutup' walau ada pepatah "Bangkai yang disembunyikan, lama-lama baunya tercium juga". Dan apakah hal yang disembunyikan pada akhirnya akan terbuka juga? Bagaimana jika terbuka di tengah jalan?. Apakah keegoisan manusia yang merasa 'suci' mampu mengalahkan egonya sebagai pihak yang mencintai?.

02-07-12

Dear, Diary

Tuhan, Aku tahu kau baik pada semua umatmu. Aku tahu kau maha mendengar segala doa dalam waktu yang bersamaan. Tidak hanya aku yang meminta ampunan dosa, dan bukan hanya aku yang meminta kedamaian dalam hidupku. Juga, bukan hanya aku yang berdoa agar mampu melupakan masa laluku yang hina ini. Tutup semua buku dan membuka buku yang baru. Meskipun rencana-rencana manis layaknya keputihan air susu telah berubah menjadi kubangan lumpur. Bantu aku untuk kembali hidup dan bantu aku untuk bangkit kembali. Aku tak mengerti kenapa aku sampai bertindak sejauh ini. Maafkan aku, Tuhan..

Seorang gadis, bukan! Bukan gadis, tapi wanita. Ia meletakkan pena merah jambunya di atas buku kecil yang sudah ditutup rapat. Ia menghela nafas seraya membiarkan air matanya turun untuk yang ke-sekian kalinya. Tangannya terangkat untuk menghapus cairan bening yang mengalir membasahi pipi seputih dan selembut kapas itu. Hari ini, ia telah membunuh seseorang yang tak berdosa. Membunuh seseorang yang tak tahu apa-apa. Ia memejamkan matanya dan mengingat-ingat semua kenangannya dulu, dua tahun yang lalu. Saat roda kehidupan berada di atas.

08-07-2009

"Aku dapat! Huaaa senangnyaaaa"

Teriak seorang gadis bersurai merah muda sepanjang bahunya. Rambut merah muda yang tidak terlalu panjang itu adalah cirri khas utama baginya. Paling unik, karena tak ada yang menyamai.

"Hey, Sakura! Kau dapat berapa? Boleh aku lihat?"

Gadis yang dipanggil Sakura itu menoleh dan tersenyum, kemudian ia mengangguk dan membuka katupan tangannya.

"Lihatlah, Karin! Aku dapat yang paling bagus"

Gadis bernama Karin itu tersenyum, rambut panjangnya tergerai rapih dan semilir angin sore memainkannya sehingga rambutnya semakin terlihat bagus.

"Sudah sore, lepaskan saja. Ayo kita pulang"

Sakura mengangguk dan membuka katupan tangannya lebih lebar sehingga kupu-kupu yang ada di tangannya kembali terbang bebas menyisahkan bubuk-bubuk Kristal di telapak tangannya. Ia menoleh pada Karin yang mengulurkan tangan dengan kain putih yang ia genggam, kemudian dengan senang hati Sakura mengambilnya.

"Karin, apa nanti malam kau ada acara?"

"Sepertinya tidak, kau mau mengatakan apa sebenarnya?"

Jawab Karin tanpa menoleh padanya. Mereka masih menyusuri jalanan besar menuju rumah mereka.

"Kau tentu hadir di acara sekolah nanti malam kan?"

"Tentu saja, ku dengar beberapa alumni juga akan hadir. Kau pasti senang bertemu dengan Pain disana"

"Um? Tidak juga, kami sedang ada masalah. Sepertinya hari ini juga ia belum menghubungiku"

"Aku bingung, sebenarnya kau dan Pain ini memiliki hubungan apa sih?"

"Kami masih berteman seperti biasa"

"Lalu apa masalahmu dengannya?"

"Sebenarnya, aku sudah berkali-kali mendapat ancaman melalui pesan singkat dari seseorang yang tidak aku kenal"

"Apa isinya?"

"Entahlah aku tidak paham, aku mengira ia pacarnya Pain"

"Hah.. kau masih polos seperti biasanya. Sudah sana pulang, dan jangan lupa berdandan yang cantik untuk nanti malam"

"Ne, kau harus membantuku berdandan!"

Ujarnya kesal sambil menggembungkan pipinya. Karin hanya tertawa dan melambaikan tangannya. Mereka berpisah di depan rumah masing-masing.

Karin membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu. Pria yang sudah lama ia kenal dan mengisi hatinya satu tahun ini. Ia duduk layaknya menunggu seseorang dengan tangan yang terlipat di dadanya.

"Sejak kapan kau datang?"

Pria itu bangkit dari duduknya dan tersenyum. Kemudian ia menghela nafas dan mendekat ke arah kekasihnya.

"Apa itu sambutan untuk kekasihmu yang sudah menunggu selama satu jam ini?"

"Mana aku tahu kau akan datang"

"Jelas kau tidak tahu, ponselmu saja tidak kau bawa"

Karin menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. Sedangkan pria yang ia sebut kekasihnya itu telah memperkecil jarak antara mereka. Bibir mereka berpaut untuk menyentuh satu sama lain, dan cukup dalam seperti terasa dunia milik mereka sendiri.

"Hey! Masih terlalu cepat!"

Karin menghentikan kegiatannya dengan reflex dan mendorong pelan bahu kekasihnya setelah menyadari ada orang lain selain mereka. Ia menoleh dan mendapati seorang pria lagi dengan bosan duduk di sofa dan menghela nafas.

"Gaara, kau tidak bilang kau akan datang dengan Pain"

Pria yang dipanggil Gaara itu mengangkat bahunya santai dan kembali duduk di samping Gaara.

"Kalian mau aku buatkan minuman?"

"Tidak usah, aku akan mengambilnya sendiri nanti. Aku kesini karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan"

Karin mengerutkan dahinya mendengar Pain berbicara. Memang ada hal serius yang akan dikatakan Pain, Karin duduk berhadapan dengan dua pria di hadapannya.

"Karin, aku ingin minta bantuanmu"

Ujar Pain seraya melemparkan sebuah kotak ke atas meja. Karin membuka kotak itu dan tersenyum.

"Ini untuk Sakura?"

"Ya, balur ia dengan sempurna malam ini. Aku tidak perduli berapapun biayanya keluarkan saja, kau tinggal katakana padaku"

"Aku dapat bagian?"

"Ambil saja sesuka hatimu"

"Waw"

"Dan ingat! Aku tidak mau tahu karena malam ini aku akan menjalankan segalanya"

"Aku tahu, aku akan membuatnya sempurna"

"Baiklah, hanya itu, aku mau pulang dan bersiap-siap"

Pain berdiri dan menatap Gaara. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum sinis tanpa arti.

"Kau pulanglah duluan. Aku masih ada urusan dengan gadisku"

"Dia sudah bukan gadis"

Karin hanya tersenyum sinis dan membiarkan Pain pergi sendiri dari rumahnya meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

Pain membuka pintu mobilnya dan menghela nafas sebentar. Ia menatap rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Karin, kemudian ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Sekali lagi, ia melihat keberadaan rumah itu dari kaca spion mobilnya. Baleno 'ceper' biru itu segera beranjak pergi dari tempatnya.

Lagu Make It Mine dari Jason tengah berdering menandakan ada panggilan masuk. Dengan malas, Pain merogoh ponselnya dan mendapati satu nama disana. Ia memasang earphone dan menggeser layar ponselnya dengan ibu jari.

"Ya Konan, aku dalam perjalanan" || "Aku tahu, tunggu saja sebentar lagi" || "Iya, kau jangan kemana-mana. Tetap disitu sampai aku datang" || "Apa? Baiklah"||

Setelah mengakhiri pembicaraan tadi, ia segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebentar lagi malam, dan pesta segera dimulai. Pain tidak punya banyak waktu untuk itu. Setelah dirasa ia tiba di tempat tujuan, ia memberhentikan mobilnya dan segera turun untuk menemui seseorang.

"205"

Pain membaca nomor kamar yang tertera di dalam pintu. Ia masuk dan mendapati seorang perempuan tengah berdiri memandang kearah jendela kamar sambil menangis.

"Konan"

Perempuan yang dipanggil Konan itu menoleh dan menghambur ke pelukan Pain, dengan sigap ia membalas pelukan itu dan mengusap punggung perempuan yang menangis di pelukannya.

"Tenangkan dirimu dulu, aku akan memulai semuanya dari awal. Segera bereskan pakaianmu, dan aku akan menunggu di luar"

Ujarnya tenang sambil mengecup kening Konan, ia kemudian keluar dari kamar hotel dan bersandar pada dinding marmer yang dingin itu. Ia menghela nafas dan meraih ponselnya. Selembar foto telah terjatuh dari saku kemejanya. Ia mengambil foto itu dan menatapnya dalam diam. Itu foto Sakura, gadis yang akan menjadi korban selanjutnya. Ia menghela nafas dan memasukkannya kembali ke saku kemeja, sementara ia melihat jam di arlojinya sudah menunjukkan pukul 19:00. Tak lama, Konan segera keluar dari kamar dan mendapati Pain yang menatapnya dengan sendu.

"Kita akan menghadapi semuanya, aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Sekarang berhentilah menangis. Ayo kita pergi"

Pain merangkul perempuan bernama Konan itu dan segera pergi meninggalkan hotel. Mobil Baleno birunya segera beranjak dari tempat yang sudah lama mereka tempati bersama itu.