"Saya tahu siapa pelakunya."
Yaya dan Ying saling melempar tatapan bingung dan tak percaya kearah Pak Udin yang mengaku bahwa ia tahu siapa pelakunya.
Yaya berdehem kecil, "Apa Bapak serius dan yakin kalau bapak tahu siapa pelakunya?" Tanya Yaya memastikan perkataan Pak Udin.
Pak Udi mengangguk mantap, "Ya, saya yakin. Sebab saya melihat dengan mata kepala saya sendiri," Tegas Pak Udin.
Ying mengambil pose berpikir sesaat, lalu kembali mengajukan pertanyaan.
"Dari mana Bapak tahu pelaku kejadi Ny. Zila ini, Pak?" Tanya Ying.
Pak Udin berpikir sesaat, "Kemarin…
FlashBack On…
Tap…Tap…Tap…
Derap langkah kaki tersebut membuat jiwa Pak Udin terbangun. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan memperjelas pendengarannya.
Tap… Tap… Tap…
Langkah kaki itu masih terdengar jelas dipendengarannya. Dengan segera, Pak Udin bangkit dari tepat tidur lalu mengarahkan kakinya keasal suara.
"Ini akibat yang kau terima."
Mendengar perkataan itu, Pak Udin semakin panik. Dengan segera, ia mempercepat langkah kakinya menuju ke Kamar Ny. Zila, tempat dimana suara itu berasal.
Ia mengintip sedikit dari balik daun pintu. Matanya terbelak seketika ketika ia melihat Pemuda yang ia kenali sebagai 'tetangga' Ny. Zila berada di kamar Ny. Zila.
Ia melihat Ny. Zila ingin berteriak, namun…
"GYAA-Hmmph! Hmph!" Pak Udin menatap horror Pemuda yang membekap mulut Ny. Zila sehingga ia pingsan.
"Inilah akibatnya."
Merasa tak terima dengan perbuatan itu, Pak Udin memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suara, "Hei! 'Tn. Zola'!" Seru Pak Udin.
Pemuda bernama 'Tn. Zola' itu pun tersentak kaget, sehingga sapu tangan yang ia gunakan untuk membekap Ny. Zila pun terjatuh. Tn. Zola shok ketika melihat Pak Udin berada di daun pintu kamar Ny. Zila.
"U-Udin?" Spontan, Tn. Zola langsung melompat dari Jendela Kamar Ny. Zila yang terbuka. Pak Udin tersentak kaget ketika melihat tindakan nekat Tn. Zola.
Pak Udin berlari kearah Jendela dan mengedarkan pandangannya.
Kosong.
"Dimana Tn. Zola?" Bingungnya dalam keheningan malam. Ia menatap Ny. Zila yang jatuh pingsan akibat obat bius.
FlashBack Off…
…setelah itu, saya langsung menelpon ambulan. Lalu, saya tidak tahu lagi," Jelas Pak Udin panjang lebar.
Yaya dan Ying saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Ny. Zila diserang oleh tetangganya sendiri?" Bingung Yaya.
"Dan oleh orang yang akrab dengannya?" Timpal Ying. Pak Udin mengangguk membenarkan perkataan keduanya.
"Apa Bapak tahu, kira-kira ada masalah apa dengan keduanya?" Tanya Ying.
Pak Udin berpikir, "Setahu saya, Tn. Zola mencintai Ny. Zila, namun ia tidak pernah membalas rasa tersebut."
Keduanya mengangguk mengerti.
"Lalu… jika memang benar begitu, dimana Tn. Zola tinggal?" Tanya Yaya. Pak Udin menunjuk kearah seberang rumah Ny. Zila, "Disana."
.
.
.
Good Detective
Disclamer: BoBoiBoy © Animonsta
Genre: Mistery & Tragedy
Rating: T (Bisa naik dan juga bisa turun)
Summary: "Berbagai macam tragedi dan juga kejadian-kejadian aneh, juga misterius kerap kali terjadi belakangan ini. Para Detektif pun mulai bekerja dan menyelidiki kasus-kasus hingga tuntas. Bisakah mereka dipanggil 'Good Detective'?
WARNING! Yaya dan Ying tidak berpenampilan seperti yang asli! GaJe! Typos is becoming beware! Author's Newbie! dll.
Chapter 2: Ny. Zila Problem Part 2
"Diserang oleh tetangganya sendiri?" Bingung Tn. Aba dengan pelaku kasus Ny. Zila. Yaya mengangguk.
"Ya, Tuan. Memang pelakunya cukup dekat. Diduga, pelaku menyerang korban karena cinta si pelaku tak dihiraukan oleh si Korban," Jelas Yaya.
Tn. Aba memutar bola matanya jengah, "Mmm…, Masalah cinta ternyata."
Yaya ikut terkekeh geli, "Ya, begitulah."
"Kalau begitu, nanti siang coba kamu temui Tn. Zola. Lalu tangkap dia jika dia memang bersalah. Mengerti?" Pita Tn. Aba.
Yaya mengangguk mengerti, "Tentu, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Tn. Aba mengangguk.
Yaya pun keluar dari ruang Tn. Aba. Baru saja beberapa langkah ia tempuh, suara salah satu dari temannya memanggil namanya membuat langkahnya terhenti.
"Yaya!" Panggilnya. Yaya menoleh keasal suara.
Itu Gopal. Salah satu Senior Detektif Pulau Rintis. Ia berlari menghampiri Yaya.
"Hai Yaya, Kau tidak ingin ikut makan bersama kami?" Tawar pemuda itu. Yaya tersenyum, lalu menggeleng kecil.
"Tidak, terima kasih Gopal. Aku sedang sibuk." Tolak Yaya halus. Ia pun membalikkan badannya lalu kembali berjalan pergi.
"Ada Boboiboy loh!" Goda Gopal membuat langkah Gadis berperingai tegas tapi lembut itu terhenti.
Telinga Yaya menegak ketika mendengar kata Boboiboy. Nama Pemuda yang selama ini ia kagumi dan cintai. Wajahnya spontan memerah ketika mengingatnya. Ia berbalik menghadap Gopal yang menyeringai licik.
"Emm… mungkin aku bisa beberapa menit makan sebentar," Jawab Yaya dengan tersipu malu. Gopal terkekeh kecil lalu menyikut bahu Yaya.
"Yaelah, Yaya. Kalau suka gak usah disembunyiin napa? Udah ketahuan jelas tahu!"
Yaya mendecak kesal dengan perilaku Gopal kali ini. Dengan kesal, ia menginjak kaki pemuda berdarah india tersebut membuatnya meringis kesakitan.
"Awh! Sakit Yaya!" Seru Gopal sambil memegangi kakinya yang terasa 'nyut-nyut'.
"Bodo!" Seru Yaya sambil mengembungkan pipinya kesal dan berjalan meninggalkan Gopal sendirian.
"Hei, Yaya! Akh! Tunggu!"
…
Di Café Pulau Rintis…
"Jadi, bagaimana hasil Kasus Ny. Zila?" Tanya Fang sambil menyeruput Cappuccino miliknya.
Ying menghela nafas, "Ya, gitu deh. Repot. Untung aja salah satu rekan Ny. Zila tahu siapa pelakunya. Ya'kan Yaya?" Yaya mengangguk setuju.
"Dan untung aja Ny. Zila belum sempat dilukai oleh Tn. Zola. Hahh…," Lega Yaya.
Boboiboy terkekeh geli, "Ya, aku yakin kalian bisa menyelesaikan tugas ini. Kalian'kan detektif yang hebat."
Pujian Boboiboy membuat pipi Yaya dan Ying memerah kecil ketika mendengar hal itu. Gopal berusaha keras menahan tawanya agar tidak pecah. Yaya dan Ying mendeathglare Gopal yang sedang menahan tawanya.
Sekali lagi, dengan kesal, Yaya menginjak Kaki Gopal dengan kencang.
"AWW-Hmmpp!" Belum sempat teriakkan kesakitan Gopal berakhir, Ying menutup mulut Gopal agar tidak bersuara lagi.
Boboiboy menatap heran Gopal, "Ada apa Gopal?"
Gopal menunjuk kakinya. Menyadari hal itu, Yaya menginjaknya semakin keras menggunakan hak sepatu botsnya.
Teriakkan tertahan Gopal semakin kencang. Yaya dan Ying hanya menyengir kuda. "Yaelah, palingan cuman digigit semut. Ya'kan Gopal?" Yaya menekankan kata 'Ya'k…' sambil mengencangkan injakkannya. Membuat Gopal hanya mengangguk.
Melihat hal itu, Yaya dan Ying melepaskan 'siksaan' maut mereka.
Boboiboy menatap mereka dengan penuh keheranan. Sedangkan Fang hanya mampu menggeleng jengah melihat tingkah mereka.
Skip Time…
Yaya dan Ying kini berada di depan pintu rumah Tn. Zola.
"Siap?" Tanya Yaya. Ying mengangguk.
Tok… Tok… Tok…
"Permisi…," Sapa Yaya.
Pintu pun terbuka menampilkan sosok pemuda bernama Tn. Zola yang kini berwajah muram.
"Kami dari Detektif-"
"Aku tahu, tangkap saja aku," Potong Tn. Zola membuat Yaya dan Ying menatap Tn. Zola bingung.
"Aku sudah menyerah untuk mendapatkan Zila. Lebih baik aku menyerah," Jelas Tn. Zola. Yaya menatap Tn. Zola khawatir.
"Apa Tn. Zola tidak apa?" Tanya Yaya. Tn. Zola tersenyum tipis.
"Panggil saja Papa Zola. Aku suka dengan panggilan itu," Ujar Tn. Zola atau yang kini bisa dipanggil 'Papa Zola'.
"Baiklah, Papa Zola. Bisa kita bicara didalam?" Usul Ying. Papa Zola mengangguk lalu mempersilahkan keduanya masuk kedalam rumahnya.
Kini mereka duduk di Sofa ruang tamu.
"Jadi, kenapa Papa berbuat seperti ini?" Bingung Yaya. Papa Zola menghela nafas sedih.
"Aku hanya ingin bersama Zila, itu saja. Sejak dulu aku mencintainya, namun dia tidak pernah ingin mendengarkan aku. Ia selalu menganggap aku sebagai seorang Kakak. Itu sebabnya aku geram," Ujar Papa Zola. Ying menatap prihatin pemuda yang tengah jatuh cinta ini.
"Owh…, seharusnya papa bisa membicarakan hal ini baik-baik dengan Ny. Zila. Siapa tahu semuanya malah akan menjadi lebih baik?"
Papa Zola mengangguk setuju, "Aku tahu aku salah."
Yaya dan Ying saling pandang sesaat.
"Jadi gimana nih, Ya?" Bingung Ying.
Yaya berpikir sejenak, "Aku rasa aku punya ide."
…
"Aku minta maaf, Zila. Seharusnya aku gak pernah berbuat seperti itu." Ujar Papa Zola dengan nada penyesalan.
"Aku tahu. Aku juga minta maaf ya karena tidak mau peduli sama perhatian kamu. Seharusnya aku lebih peka akan perasaanmu. Maaf'kan aku ya, Zola."
Papa Zola dan Ny. Zila saling pandang dengan tatapan bahagia. Yaya dan Ying saling pandang senang dan geli melihat pemandangan ini.
"Emm… Yaya dan Ying, saya ingin menghapus tuntutan saya terhadap kasus ini. Bisa'kan?" Ying mengangguk. "Tentu, Ny. Zila. Terima kasih telah bekerja sama dengan kami."
Ny. Zila tersenyum lembut, "Panggil aja, Mama Zila."
Papa Zola yang mendengar itu tersenyum kecil. Yaya terkekeh geli. "Selamat ya!"
Ying menyikut lengan Yaya sambil tersenyum lebar membuat sang empunya mengnyerit heran.
"Ini saatnya untuk bilang…" Yaya tertawa kecil.
"We are a Good Detective, aren't We?" Seru keduanya bersamaan. Mama Zila mengelus kepala Yaya dan Ying.
"Yes, You are." Yaya dan Ying tertawa bersama. Akhirnya masalahnya selesai juga.
Di tempat lain,
"APA?! PAPA ZOLA GAGAL DALAM MENJALANKAN TUGAS?!"
"Ma-maaf, Tuan. Aku…"
"AKU GAK MAU TAHU YA, ADUDU! KAU DAN ROBOT UNGUMU ITU HARUS BERHASIL MEMBUAT DETEKTIF-DETEKTIF SIALAN ITU GAGAL!"
"Iya, Tuan Pasti." Sosok makhluk dengan kerudung coklat menutupi wajahnya yang berbentuk kotak menyeringai licik.
"Pasti, Tuan Ejojo. Pasti."
TBC
Author's Note: Yosh! I'm Back! Jadi kalian sudah tahu ya dalang dari kejadian kejadian aneh di Pulau Rintis? Hehehe…
Doain aja semua karakter di Boboiboy bisa muncul ^^
Balasan Review:
Miyazono-Nerra:
Makasih udah review ya! Ada kok! Pairnya bisa kamu tebak aja ^^
Rampaging Snow:
Thanks Because Want to Review. Makasih atas semangatnya juga! Usul donk Kasusnya ^^
Thanks ya! Sisanya lewat PM!
Quiz: Siapakah robot ungu yang dimaksud oleh Ejojo?
Gampang'kan?
Ayo! Kasih usul soal kasus-kasus di Chapter berikutnya ya!
