Hanya dengan tiga ketukan dariku dan semua keinginanmu akan...terkabul!
Bingo!
TRIPLE KNOCK
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story: Lotuce
Inspired: "Triple Knock" comic
Genre: Fantasy, Romance, Mystery, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate: T
"Lepas!"
Rontaan yang keluar dari mulut wanita dengan tubuh mungil itu menyadarkan pria yang tengah menariknya paksa. Pria itu kembali ke dunia nyata setelah termenung dengan pikirannya. Menyadari halaman belakang kampus yang sepi, pria bermata biru itu melepas genggaman eratnya.
PLAK
Satu tamparan kuat menyakiti pipi kiri pria dengan tubuh maskulin itu. Ia sengaja tidak menghindari, merasa pantas menerima pukulan bahkan cacian. Ia sendiri yang memulainya. Membuat sang gadis yang tengah berada di perpustakaan terusik akan tingkahnya.
Dia hanya cemburu. Hati pria itu panas melihat pacarnya terus bersama seorang pria nerd dan menjauhinya belakangan ini. Hari ini kemarahannya tidak bisa ditahan lagi. Ia menghampiri kekasihnya yang berada di perpustakaan bersama pria nerd itu. Api cemburunya makin membara melihat tawa canda diantara mereka. Tanpa peduli tempat, segera ia melayangkan tinjuan tepat di perut pria nerd itu. Penjaga perpustakaan mencoba merelai namun ia malah ditubruk oleh bahu sang pria. Tanpa rasa bersalah, pria itu menarik paksa kekasihnya keluar perpustakaan, ingin bicara empat mata.
"Maaf." Pria itu menatap khawatir pergelangan kiri kekasihnya. Ia lupa sesaat bahwa tenaganya sebagai seorang pria sangatlah kuat. Kulit pergelangan kekasihnya memerah, hampir lecet. "Kita ke klinik, akan kuobati tanganmu." Pria berkulit tan itu mengelus lembut pergelangan kekasihnya.
"LEPAS NARUTO!" Sepertinya gadis itu sangat kesal, ia bahkan mulai risih disentuh oleh pria pirang itu. "AKU MUAK DENGANMU!" Gadis bermata keunguan itu mencoba melepaskan diri dari dekapan sang pria namun berakhir dengan kegagalan.
"SHION! DENGARKAN AKU!" Gadis itu langsung terdiam mendengar suara kekasihnya yang menggelegar. Gadis itu takut. Ia berhenti meronta. "Maaf aku membuatmu terluka." Pria itu memegang kedua bahu sang gadis yang bergetar, ia merasa sangat bersalah karena gadis yang ia cintai begitu ketakutan dan tangan sang gadis yang terluka akibat emosinya yang tidak terkendali. "Tapi kau harus tahu, Shion," pria pirang mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat luapan emosinya, "hatiku benar-benar sakit. Kau menjauhiku dan malah dekat-dekat dengan si nerd itu! Kau itu pacarku! Berhentilah berdekatan dengan pria lain! Kau itu milikku!"
PLAK
Lagi. Pria pirang itu mendapat tamparan di pipi kirinya.
"CUKUP NARUTO! KAU TERLALU EGOIS!" Sudah tak ada lagi rasa takut di dalam diri gadis itu. Yang ada hanya rasa sakit dan kemarahan. Ia muak diperlakukan seperti seorang tahanan. Menjalin hubungan dengan pria yang ia cintai malah membuatnya terkekang. Bukan itu yang ia inginkan.
"Egois?" Nada suara pria itu begitu dalam penuh ancaman. "Apanya yang egois, SHION! KAU YANG MENJAUHIKU TANPA SEBAB!" Pria itu mendorong pelan kekasihnya ke batang pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia menonjok batang itu penuh tenaga, melampiaskan kekesalannya. Darah mengalir deras dari jemari tangan kanannya. "Sekarang katakan...apa salahku sampai kau menjauhiku!"
"Kenapa harus bertanya padaku?" Gadis itu tersenyum mengejek. "Tanyakan pada dirimu sendiri, NARUTO!"
"MANA KUTAHU! CEPAT JELASKAN!"
"Kau tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?!" Gadis itu menjerit dalam hati tapi ia berusaha tampak tegar di depan pria itu. Ia tak mau terlihat lemah. "Kau! Selama ini aku selalu menurutimu! Apapun perintahmu selalu kulakukan!" Gadis itu memandang tajam mata biru sang pria. "Aku selalu ada untukmu kapanpun!" Gadis itu berhenti sejenak. "Tapi kau memperlakukan seperti boneka yang bisa kau mainkan sesukamu! Kau tak pernah peduli bagaimana perasaanku! Kau tidak pernah membiarkanku bergaul dengan pria lain! Kau seenaknya menuduhku selingkuh! Saat aku terpuruk kau malah asik dengan teman-temanmu! Setiap tindakanku selalu kau awasi!" Setetes air mata jatuh, tubuhnya gemetar menahan tangis. "Kau bahkan melukai orang yang tidak bersalah! Kau terlalu egois, Naruto! KAU BERTINDAK SEENAKNYA!"
Pria itu terdiam. Tidak menyangka dirinya dimata sang kekasih sangatlah buruk. Ia tahu dirinya memang berlebihan jika menyangkut gadis berusia 20 tahun itu. Tapi itu wajar, menurutnya. Ia tidak ingin gadis itu lebih dekat dengan orang lain selain dirinya ataupun keluarganya. Apalagi sampai direbut orang. Ia tak akan segan menyakiti siapa saja yang berani mengharapkan hubungan lebih dari sekedar teman pada kekasihnya. Terutama pria nerd itu!
"Aku gak pernah menganggapmu seperti boneka, Shion!" Walau intonasi pria itu keras tapi matanya menatap sendu. "Aku hanya ingin melindungimu dari mereka!"
"Melindungi apanya!? Kau itu mengekangku!"
"Justru aku melakukannya untuk kebaikanmu! Bagaimana kalau ada yang menyakitimu?!"
"Kau terlalu, NARUTO! BERHENTILAH BERSIKAP OVER!" Bahu sang pria ia dorong, pria itu tak dapat mencegahnya karena begitu tiba-tiba. "Dan yang sebenarnya menyakitiku," sang gadis menggigit bibirnya keras masih berusaha menahan isak tangisnya, "KAU! KAU NARUTO!"
"Apa?" Rasanya ada bambu runcing tepat menusuk jantungnya. Perkataan gadis itu membuatnya jatuh tertelan bumi.
"KITA PUTUS!" Satu lagi yang membuat pria itu semakin shock.
"Jangan bercanda..." Pria itu malah terkekeh pelan. Mustahil, ia tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya.
"Terserah kau saja! Percaya atau tidak bagiku kau bukanlah pacarku lagi!" Sang gadis beranjak pergi sambil mengepalkan tangannya, jangan sampai air matanya jatuh saat pria itu masih ada di dekatnya.
"Kau bercanda 'kan, Shion?" Pertanyaan tak percaya dari pria itu memaksa sang gadis menghentikan langkahnya.
"Aku serius, bodoh!" Tanpa menoleh sang gadis segera berlari pergi tak peduli pada mantan kekasihnya yang terus berteriak memanggil namanya.
"SHION!" Pria itu melampiaskan kemarahannya pada batang pohon Sakura berwarna putih. Tak peduli rasa sakit di kedua tangannya maupun bunga-bunga putih yang rontok akibat ulahnya.
OOOOO
Aku mendengar suaramu.
Pedih yang kau bawa bersama asa.
Jeritan hatimu juga rasa sakit kehilangan.
Aku terlahir atas keputusasaan.
Kebanggaan akan dirimu sendiri.
Perpaduan antara kedamaian dan kebencian.
Kau yang tak pernah puas atas apa yang kau miliki.
Akan kukabulkan permohonanmu.
Apapun itu.
Sampai saat dimana tak ada harapan.
Mengambil semua yang berharga dalam hidupmu.
Aku akan kembali.
Kau yang terpilih untuk kesiaan.
KNOCK –Ketukan pertama
Apa kau akan segera puas?
KNOCK –Ketukan kedua
Aku tak akan pergi sebelum kau menyadarinya atau kau yang kehilangan hidupmu.
KNOCK –Ketukan ketiga
Akhir ditentukan pendirian.
Percayakah kau?
BINGO!
Aku datang.
Akan kuajari kau tentang kehidupan sebenarnya.
Kau yang selalu meminta enggan memberi.
Akan kuperlihatkan apa itu penyesalan.
Dan kutunjukkan padamu kehampaan.
TRIPLE KNOCK
Aku akan berlalu saat kau menyadarinya atau kehilangan hidupmu.
Tentukanlah pilihanmu!
OOOO
BANDARA INTERNASIONAL KONOHA
JEPANG
15.45
:
Hamparan manusia berlalu-lalang di lobi bandara. Sebagian besar menunggu penumpang pesawat yang tiba dari Milan, Italia. Penduduk Konoha itu mengangkat spanduk bertuliskan nama-nama orang yang mereka tunggu kehadirannya,ada juga yang hanya duduk tenang di sofa empuk yang berjejer rapi berbentuk bulat dan ditengah bulatan itu berisi pot pohon hias beraneka warna.
DING DONG
[Mohon perhatian! Pesawat dengan pendaratan pukul 15.50 dari Milan, Italia, telah tiba.]
[Sekali lagi, pesawat dengan pendaratan pukul 15.50 dari Milan, Italia, telah tiba.]
Beberapa pengunjung yang masih duduk segera berdiri menuju barisan penunggu yang dibatasi pagar besi cukup panjang. Pintu kaca otomatis terbuka diiringi dengan penumpang pesawat yang keluar. Mulai terdengar suara-suara berisik para pengunjung yang menanti keluarga ataupun kerabat mereka.
Seorang wanita bermata hijau keluar mendorong troli berisi 3 koper ukuran sedang. Seorang remaja mengikuti sambil menjinjing mantel bulu cukup tebal milik wanita diselahnya. Gadis belia itu menjadi sorotan diantara banyaknya perempuan di bandara. Ia terlalu cantik.
"Maaf, bu, harusnya aku yang membawa trolinya." Gadis itu berbicara pada wanita usia 40-an yang tengah mendorong troli dengan kekuatan penuh saking beratnya.
"Tenang, sayang. Ibu sudah terlatih untuk situasi seperti ini." Balas wanita itu penuh percaya diri. "Kalau kau yang membawanya bisa-bisa kau terluka, sayang..."
"Ibu berlebihan sekali." Gadis itu tersenyum tipis.
Mereka berdua sudah tiba di pintu masuk bandara. Wanita itu semakin geram karena orang yang ditunggunya belum datang. Wajahnya yang cantik berubah menakutkan.
"Nyonya Namikaze!" Seorang pria berambut coklat turun dari Mark L4 coklat metalik. Raut ketakutan terpancar melihat majikannya memasang wajah sangar.
"Darimana saja kau, YAMATO?!" Belum sampai ke tempat wanita itu berdiri, pria itu langsung diserang oleh sang wanita berambut merah dengan pukulan mematikannya. Kepala pria bernama Yamato terlihat benjol walau samar.
"Aduduhhhh..." Yamato meringis kesakitan. Kepalanya memerah berkat pukulan berupa jitakan dari sang wanita.
"Makanya kau harusnya sudah ada disini sebelum aku tiba!" Sang wanita yang tidak merasa bersalah memandang kesal Yamato.
"Maaf, nyonya."
"Hah sudahlah~cepat bawa koper-koperku!"
Yamato segera membuka bagasi mobil lalu memasukkan semua koper majikannya. Pekerjaannya harus segera tuntas sebelum sang nyonya mengamuk lagi.
"Sayang, ayo masuk!" Wanita itu menghampiri sang gadis lalu menariknya pelan memasuki sedan kesayangannya. Gadis itu hanya mengikuti dalam diam.
"Siapa gadis cantik itu?" Yamato mengutak-atik otaknya mengingat-ingat kerabat keluarga majikannya. Tapi ia rasa keluarga Namikaze tidak mempunyai kerabat seperti gadis itu.
"YAMATO!" Teriakan wanita itu mengembalikan kesadaran Yamato. Segera ia menutup bagasi dan masuk ke bangku kemudi. Kedua wanita dengan rambut berbeda telah duduk di bangku belakang. Yang satu terdiam anggun sedang yang jauh lebih tua menatapnya garang. Yamato sangat menyesal menjadi sopir pribadi Nyonya Namikaze. Ia ingin berhenti segera.
OOOO
"Kau ini kenapa? Lihat tanganmu itu udah berubah bentuk!" Salah-satu mahasiswi jurusan kedokteran itu segera mengambil kotak P3K yang berada di meja tak jauh dari ranjang yang diduduki Naruto.
Gadis itu berpapasan dengan Naruto saat berjalan di halaman belakang gedung perpustakaan. Melihat Naruto yang terluka, gadis bernama Tamao itu segera membawa paksa Naruto ke klinik kampus. Nalurinya sebagai calon dokter memaksanya merawat Naruto walau ia sedang terburu-buru ingin pulang mengistirahatkan badan.
"Jangan diobati!"
Tamao terheran mendengar larangan teman sekampusnya. Sudah tahu darah mengucur deras tapi pria itu masih saja menolak diobati. Belum lagi pria itu sering melamun, entah sedang memikirkan apa.
"Hei! Kau mau tanganmu itu membusuk?!" Tamao menakut-nakuti Naruto tapi pria itu masih diam. "Setidaknya biarkan aku memperban lukamu dulu! Setelah itu baru temui dokter dan minta dijahit. Sobekan ditelunjuk kananmu cukup parah!"
"Tidak perlu!"
"Jangan sok kuat, Naruto! Masih untung aku memberikan pertolongan pertama!" Tamao melirik sekilas jemari-jemari Naruto yang kotor penuh tusukan batang pohon. Ia harus membersihkannya segera sebelum kuman-kuman menyebar dan Naruto terinfeksi.
"Bukan itu! Tapi 'kan –"
"Tapi apa sih? Bilang yang jelas!" Tamao kesal.
"Itu...kau 'kan mahasiswi kedokteran..."
"Ya, aku memang mahasiswi kedokteran. Lalu masalahnya apa?!" Tamao makin kesal. Naruto bicara tidak jelas.
"Maksudku...apa gak apa-apa kau mengobati lukaku?"
"Astaga, PIRANG!" Tamao menjerit histeris. "Begini-begini aku sudah menyelamatkan puluhan nyawa! Kau masih meragukanku?!"
"Tapi kau 'kan mahasiswi kedokteran hewan, TA-MA-O!" Naruto berteriak sekuatnya. "Jangan samakan aku dengan kucing-kucing liar diluar sana!"
DUG
Kotak perkakas bertuliskan 'P3K' sengaja Tamao arahkan ke kepala Naruto. Bunyi cukup kuat kotak P3K yang beradu dengan kepala memenuhi ruangan berisi tempat tidur yang berjejer rapi di sisi kiri pintu.
"ADUHHHHH" Naruto berusaha menghindar dari serangan berikutnya. Tangannya yang terluka tidak bisa melindungi kepalanya. Lengannya saja yang ia jadikan tameng kebringasan Tamao.
"DASAR TIDAK TAHU TERIMAKASIH!" Tanpa kelembutan, Tamao memegangi lengan Naruto dan menariknya kuat kearah wastafel. "RASAKAN INI!" Aksi gila Tamao yang tanpa belas kasihan akan selalu Naruto ingat. Bagaimana ketika gadis berambut coklat panjang itu meremas kasar tangannya ketika dibersihkan juga saat diobati cairan antiseptik. Tidak ada kelemahlembutan sama sekali. Tak sepantasnya ia kuliah di Fakultas Kedokteran, sekalipun ia ingin menjadi dokter hewan.
"SAKITTTT! LEPAS, GILA!"
"Sudah mengejekku, sekarang berani bilang aku gila?!" Rasanya ada api yang berkobar-kobar di tubuhnya. Tanpa ampun, Tamao mengikat perban Naruto sekencang-kencangnya. Biarlah, ia tak peduli pada pasien manusianya. Siapa suruh pria itu meragukan kemampuan dirinya? Walau ia calon dokter hewan, tapi ia dapat diandalkan mengobati luka orang.
"AMPUN!" Menit-menit berlalu hanya diisi oleh teriakan pria pirang yang menjerit kesakitan.
OOOO
"MINATO!" Pria tegap yang baru pulang kantor itu segera dipeluk oleh istrinya tak lama setelah memasuki kediaman Namikaze. Pria itu membalas pelukan istrinya. Ia sangat merindukan kehangatan sang istri. Sudah cukup lama mereka terpisah oleh benua berbeda.
"Bagaimana kabarmu,honey? Kapan kau tiba? Kenapa tidak mengabariku? Untung tadi hanya meeting jadi aku bisa pulang cepat dan bertemu denganmu!" Minato memeluk pinggang istrinya erat sambil berjalan memasuki rumah besar itu. Tak peduli dengan Yamato yang kembali menjadi pesuruh tengah kesusahan membawa koper kantor dan arsip-arsip dari sedan tuannya. Salahkan majikannya itu yang tidak mempekerjakan pelayan. Hanya Yamato dan dua orang satpam yang bekerja di kediaman Namikaze. Sungguh terlalu!
"Nanti saja kita bahas, Minato." Kushina melepaskan dasi Minato dan segera menyuruhnya duduk di ruang keluarga. "Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang." Kushina tersenyum senang meninggalkan Minato yang masih kebingungan. Wanita itu berdiri di ujung tangga tanpa berniat untuk naik. "Sayang, turunlah!"
Minato berusaha menahan sabar ketika sapaan manis keluar dari mulut istrinya. Awas saja kalau istrinya berani membawa pulang pria apalagi menyebutnya 'sayang'. Tidak akan Minato maafkan pria itu.
Suara sandal yang bertubrukan dengan keramik terdengar pelan dengan ritme beraturan. Minato semakin penasaran dibuatnya. Ia segera berdiri ketika langkah itu makin terdengar keras di telinganya. Minato mebelakkan mata melihat seorang remaja berkulit putih dengan paras cantik berdiri disamping istrinya.
"Siapa dia?" Pipi Minato memerah ketika gadis itu tersenyum padanya.
"Ya?" Kushina memandang penuh arti suaminya lalu tersenyum ceria. "Tentu saja anak kita, Minato~"
"HAHHH?!"
OOOO
Shion masih menangis di ruang siaran jurusan Ilmu Komunikasi. Ia mencoba berhenti menangis tapi tidak bisa. Apa ia sudah salah memutuskan hubungannya dengan pria yang ia cintai sejak pandangan pertama itu? Isakannya terdengar sendu di tengah sepinya ruangan itu. Tak ada siapapun kecuali dirinya.
Bagaimanapun Shion masih mencintai pemuda itu. Pemuda bodoh yang selalu bersikap semaunya. Jika dipikir kenapa dirinya bisa jatuh hati pada pemuda menyebalkan itu? Kenapa tidak Todoroki, Sajin, Yahiko, atau senior lainnya yang pernah menyatakan cinta padanya? Atau sekalian saja teman kecilnya, Riichi.
"Shion.." Seorang pria memasuki ruang siaran itu pelan. Gadis yang ia cari rupanya sedang dalam tekanan batin.
Shion segera menghapus jejak air mata di pipinya. Ia terbangun dari posisi tidurnya di meja anggota klub siaran itu. Matanya agak sakit karena ia menangis sambil kelopaknya tertekan oleh kedua lengannya yang terlipat diatas meja.
"Maaf mengganggu." Pria berkacamata tebal itu perlahan menghampiri Shion. "Aku membawakan tasmu, tadi tertinggal di perpus." Ia menaruh ransel kecil berwana putih diatas meja. "Aku pergi dulu, ya. Tidak enak kalau ada yang lihat kita berduaan."
"Tunggu!" Shion menarik tangan kanan pria yang mengenakan kemeja panjang yang dimasukkan ke dalam celana hitam. "Maaf. Apa perutmu masih sakit? Tidak memar, 'kan?" Shion menatap sedih punggung pria itu.
"Tidak apa." Pria itu membalikkan badan, menatap gadis di depannya. "Jangan menangis lagi." Suara lembut pria itu membuat Shion nyaman.
"Tolong temani aku."
Pria itu berpikir sebentar. "Kau yakin?"
Shion hanya mengangguk. Segera pria tinggi itu duduk disebelahnya. "Aku putus dengannya."
"Apa?!" Pria itu kaget, tak menyangka kedua sejoli yang serasi secara keseluruhan itu berpisah. "Apa karena aku?"
"Kau selalu menyalahkan diri!" Shion membentak sang pria namun segera tersenyum. "Aku lelah bersamanya."
"Kenapa? Aku pikir kalian sangat cocok." Bibir pria itu sedikit gemetar mengatakan pernyataannya.
"Tapi dia itu dingin! Selalu seenaknya!" Shion mulai terisak mengingat kenangannya bersama Naruto. "Dia benar-benar –" Tangis Shion pecah. Kembali ia menundukkan dirinya. Wajahnya ia palingkan kekiri agar tak bertatapan langsung dengan pria disebelahnya.
"Tenanglah..." Pria itu menepuk halus pundak Shion yang tengah membaringkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Air mata terus mengalir. "Menagislah..aku akan menemanimu sampai kau kembali tersenyum."
Shion memenuhi ruangan sunyi itu dengan isakan dan air mata. Pria itu masih memerhatikan Shion lalu ia usap lembut rambut pirang gadis itu.
"Aku akan menjagamu, Shion. Dan dengarlah walau kau tak bisa mendengarnya. Aku...mencintaimu Shion. Untuk kali ini dan seterusnya, aku tak akan melepasmu."
OOOO
To be continued
.
.
Thanks untuk review, follow, dan favoritnya untuk Triple Knock ^^
Untuk part 1 adakah yang mau komen?
Sebenarnya agak bingung sih nentuin siapa cwo nerd itu haha jika ada yang mau ngasih saran silahkan ya :)
.
.
Love you:
Aileem712 I Lotta Cygnus I Morita Naomi I Namikaze Minto I shinobigila I SanSan I Pretty Puma
