Warning: Shota
Rated: naik jadi mature karena UST
Chapter 2
The Consent
"Argh! Kenapa juga harus hujan! Padahal ramalan cuaca mengatakan bahwa malam ini bulan purnama penuh dan cuaca bakalan cerah. Sial." Eren menutup jendela ventilasi atas dengan tangan kurusnya sambil mengumpat kesal. Bocah berambut cokelat itu kemudian menoleh kanan kiri mengamati tempat perlindungan sementara mereka. Gerbong kereta barang yang mereka masuki penuh dengan tumpukan jerami yang menggunung membuat Eren tersenyum lebar karena ini adalah tempat yang sempurna untuk mereka istirahat. 10 menit yang lalu Eren dan Levi masih menikmati indahnya pemandangan malam di langit, mereka bahkan sempat bertemu dengan penyihir di kota yang mereka lewati. Namanya Annie dan dia penyihir yang sedikit dingin tetapi sepertinya orang yang baik. Awalnya hanya tetes gerimis tetapi dengan sekejap berubah beringas dan membuat mereka basah kuyup hanya dalam hitungan detik. Eren berteriak panik sambil meluncur menukik kearah daratan mencari perlindungan dari hujan dan menemukan kereta barang yang sedang melaju kearah barat.
"Heh. Aku memang jenius. Kita tak perlu meneruskan perjalanan dengan sapu terbang, Levi." Eren menggeliat diatas tumpukan jerami dengan senyum puas. "Hmm bau jerami memang menenangkan! Mari kita istirahat saja untuk malam ini. Tak mungkin juga melakukan perjalanan dengan cuaca yang buruk. Mungkin kereta ini bisa membawa kita ke kota yang asyik."
"Ya ya terserah."
Eren menoleh pada kucingnya yang duduk sejengkal dari tempat ia berbaring. Levi cemberut karena basah oleh air hujan. Eren mengibas-kibaskan rambut basahnya kearah Levi sambil tertawa. Si kucing hitam kemudian meloncat menjauh sambil mendesis.
"Eren! Beraninya kau-"
"Ahaha maaf! Habis melihatmu cemberut basah kuyup begitu aku jadi ingin menggoda." Eren terkikik lalu merangkak menjauh dari kucing mungil yang hendak mencakarnya kesal. "Ampun! Ampun! Haha. Aw stop Levi!"
Dasar bocah! Kalau saja aku tidak dalam wujud kucing begini aku sudah mencubit pipi dan menjewer telingamu sampai biru. Cih tubuh yang tak berguna. Aku terlalu memanjakan bocah ini sampai dia berani mempermainkanku.
Levi menggumam kesal dalam hati. Ia mengibaskan tubuh kucingnya dari kepala sampai ekor seperti layaknya kucing yang sedang mengeringkan badan. Menghela, Levi duduk mengamati Eren yang melepas pakaian penyihirnya –yang seperti dress- dan hanya menyisakan celana dalam brief putihnya. Levi mengedip pelan. Eren membelakanginya sehingga Levi bisa mengamati punggungnya yang halus dan pantat mungilnya dengan leluasa.
Ah yeah. Dilihat berkali-kalipun selalu menarik.
Bocah berambut cokelat dihadapannya sama sekali tak sadar kucing hitamnya sedang mengamatinya dengan pikiran yang jauh dari kata bersih. Ia mengkibas-kibaskan baju penyihirnya berkali-kali lalu meletakkannya disamping. Ia lalu menggeliat diatas jerami seperti ulat dan menghela panjang.
"Ah enaknya."
Levi mengedip. Baru sadar bahwa ia mengamati Eren tanpa berkedip. Suara helaan Eren membuyarkan pikiran mesumnya, tentang Eren berada dibawah tubuh manusianya dan ialah yang membuat Eren menggeliat seperti itu…
"Levi?" Suara mengantuk bocah penyihir itu membuatnya tubuhnya bergetar. Levi bergerak pelan menuju Eren yang berada semeter darinya. Si bocah itu tidur tengkurap tetapi ia menoleh ke arah Levi dan menggerakkan tangannya. "Kesini dong. Apa kau kedinginan?"
Kucing hitamnya hanya terdiam. Ia lalu mendengus terhibur membuat Eren menaikkan alisnya. "Eh? Apa pertanyaanku lucu?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Wujud kucingku ini sama seperti kucing pada umumnya. Aku tahan dengan cuaca dingin." Levi mendekat lalu berbaring disamping wajah Eren. "Kau kedinginan?"
Reflek tubuh Eren gemetar. Ia tertawa kecil dan mengangguk.
"Coba kau menenggelamkan diri diantara jerami ini. Itu akan membantu." Levi menjilat pipi Eren mencoba membuat bocah bermata hijau itu bangun dari rasa kantuknya. Eren mengerang enggan. Ia lalu dengan malas mencoba duduk dan memeluk jerami disekelilingnya dan menutupi tubuhnya. "Ugh. Jerami ini menusuk-nusuk kulitku, Levi. Geli." Eren menahan tawa. Ia berteriak kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika beberapa helai jerami menggoda telinganya. "Ah!"
Levi hanya bisa menahan nafas melihat reaksi Eren yang sensitif terhadap selimut jerami. Ia bisa membayangkan bahwa salah satu titik sensitif milik bocah itu ada ditelinganya. Eren masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa detik kemudian Levi bisa membayangkan bocah itu akan jadi kesal dan lalu memaksa diri tidur tanpa selimut yang nantinya akan berujung pada masuk angin atau demam dan perjalanan mereka terhambat. Eren masih belum bisa merapal mantera apapun untuk membantunya dalam kondisi seperti ini sehingga Levi mau tak mau harus melakukan sesuatu.
"Apa boleh buat."
Eren berteriak kaget ketika sebuah tangan manusia memegang kepalanya. Ia membelalakkan mata ketika melihat wujud manusia Levi.
"Levi!" Eren tak bisa mengontrol tinggi suaranya membuat Levi menutup matanya jengkel karena ia berteriak tepat ditelinganya. "Kenapa kau berubah? Bukankah ini akan membuatmu jatuh sakit?" Nada khawatir Eren membuat Levi menghela nafas lembut.
"Ssh. Kondisi tubuhku masih lebih mending karena aku bisa berubah jadi kucing dan menghimpun tenaga lagi. Besok aku bisa tidur di tasmu. Kemari dasar bocah. Aku lebih khawatir kau jatuh sakit karena kedinginan." Eren tetap memandang wajahnya dengan khawatir yang berlebihan. Ia menarik tangan kiri Eren dan melingkarkannya pada pinggang miliknya lalu memeluk bocah bermata hijau pirus yang berteriak kaget didadanya.
"Levi!"
Nah, ini baru suara Eren yang kurindukan.
Eren bisa merasakan wajahnya memerah ketika sadar Levi telanjang. Tubuhnya terasa sangat hangat dibandingkan dengan miliknya. Ia mendekat, merasa familiar dengan aroma tubuh Levi dan kucing hitamnya dan menghela nafas lega. Ia berpikir ini ketiga kalinya Levi menunjukkan wujud asli miliknya dihadapan Eren. Dua diantaranya muncul ketika Eren dalam bahaya. Jatuh dari pohon setinggi 5 meter ketika ia berumur 12 tahun dan ketika ia tenggelam di sungai terbawa arus saat mengejar topi miliknya beberapa bulan yang lalu. Perawakan Levi tidak terlalu tinggi. Sekitar sejengkal dari tinggi badan miliknya. Tubuh manusia Levi sangat kuat tetapi ketika ia berubah lagi menjadi kucing, Levi akan menjadi lemas. Eren mendongakkan kepalanya menatap mata abu-abu lelaki dihadapannya.
"Umh, apa besok kau baik-baik saja?"
"Yeah aku yakin. Malam ini bulan purnama jadi jangan khawatir. Aku merasa lebih kuat dari biasanya."
"O-kay."
Levi menaikkan alisnya tanda bahwa ia mempersilahkan Eren bertanya lebih lanjut.
"Umh. Levi berapa umurmu? Aku selalu penasaran…" Eren bertanya pelan dan sedikit takut. "Kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa kok!" Tangannya yang berada di pinggang Levi tanpa sadar bergerak seperti ia sedang mengelus wujud kucing hitam miliknya,sebuah gestur menenangkan yang membuat Levi tanpa sadar mendesah pelan. Tangan Eren tiba-tiba berhenti. Ia mempererat pelukannya dan berbisik ditelinga Eren. "Hei teruskan bocah."
Tubuh Eren bergemetar dalam sepersekian detik, tetapi ia kemudian melanjutkan mengelus pinggang Levi membuat lelaki berambut hitam legam itu bergumam senang. Kebiasaan kucingnya jadi melekat.
"Hm aku tidak terlalu yakin dan ingatanku agak samar. Tapi sepertinya aku berumur 16 tahun saat kutukan ini menimpaku."
Eren mengangguk-angguk dengan mata hijau yang memancarkan rasa keingintahuan yang tinggi. "Apa kau tidak menua?"
Levi mengangkat bahunya. "Tak yakin. Kurasa aku bisa menua kalau aku tidak berwujud kucing terus menerus."
"Kenapa kau tidak meminta bantuan ibu untuk membantumu, Levi?" Eren mengernyitkan dahinya. "Ibu pasti bisa membantumu!"
"Bocah, apa kau lupa bahwa yang bisa mendengarku berbicara hanya kau? Dan tidak ada satu pun penyihir yang kutemui bisa mendengarku."
Eren mengangkat bahunya dengan ekspresi malu-malu. "Aku bisa bertanya pada Ibu. Tapi kau selalu melarangku. Kenapa?"
"Ini… agak rumit dijelaskan pada ibumu." Levi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap bocah berambut cokelat dalam dekapannya dengan seksama. Eren mengernyitkan alisnya yang tebal menunggu jawaban Levi. Matanya otomatis terfokus pada bibir merah Eren. Ia tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri membuat Eren bertanya apa dia haus. Menggeleng, Levi lalu mengangkat tangannya dan jari jemarinya menelusuri bibir Eren dengan lembut.
"Le…vi?"
"Kau ingat yang kukatakan saat ulang tahunmu yang ke-13 minggu lalu?"
Eren yang tidak terbiasa dengan wujud manusia Levi makin gugup ketika ia lupa apa yang Levi katakan.
"Umh kalau tidak salah kau mengatakan sesuatu tentang… um."
"Dasar bodoh tentu saja kau lupa."
"Hei! Salah sendiri kau memutuskan mengatakannya ketika aku sedang mengantuk!"
Levi menghela nafas panjang. Ia mengelus lembut rambut Eren yang masih lembab, secara sengaja menyentuh daun telinganya yang membuat bocah didekapannya menggeliat karena geli.
Betapa sensitifnya…
"Levi, kau tidak melanjutkan omonganmu…"
"Eren, kau sudah mengalami mimpi basah kan?"
Kalau saja cahaya dikereta lebih terang, pikir Levi, wajah Eren yang semerah kepiting rebus dihadapannya adalah yang termerah yang pernah ia lihat dari seluruh ekspresi Eren Jaeger.
"A- apa?"
"Mimpi basah. Mimpi yang menyenangkan yang membuatmu bingung, panas, terangsang dan bangun dalam kondisi pakaian dalammu basah karena penismu mengeluarkan-"
Eren berteriak malu dan menutup mulut Levi dengan tangannya.
"Levi! Aku tahu apa itu mi-mimpi basah!"
Lelaki berambut hitam itu menyeringai melihat betapa malunya Eren ketika membahas sesuatu yang diluar kebiasaannya. Eren jarang bergaul dengan teman lelaki sepantarannya kecuali dengan Armin. Levi dikecualikan karena ia lebih sering mengomeli Eren dan ia lebih tua 3 tahun diatasnya. Eren tahu ia sudah memasuki tahap awal kedewasaannya karena Armin meminjaminya buku tentang reproduksi (Levi yakin Armin menjauhi untuk membahas tentang mimpi basah karena mereka berdua sama-sama malu. Dasar bocah.) Levi memegang pergelangan tangan Eren dan melepas tangan yang membungkam mulutnya.
"Eren. Hei lihat aku."
"Ugh," Eren menenggelamkan wajahnya dileher Levi. "Gak mau."
"Heh. Kenapa harus malu, dasar bocah. Itu adalah hal yang normal. Eren, lihat aku." Levi melonggarkan pelukannya dan Eren mendongak, pipi tetap bersemu merah. "Aku tak punya banyak waktu dalam tubuh manusia ini. Untuk saat ini sih."
Bocah berambut cokelat itu membelalakkan matanya mendengar kata 'saat ini'. Ia mengangguk mengerti. "Kau sudah menemukan cara untuk kembali ketubuh manusia selamanya?"
"Ada beberapa teori. Salah satunya adalah kau."
Eren mengangguk lagi. Ia mengerti bahwa dirinya spesial karena tidak ada manusia atau yang lainnya yang bisa mengerti Levi berbicara.
"Dan…," Levi sedikit bimbang meneruskan. Ia kembali menatap bibir merah Eren yang semakin merah karena bocah ini suka menggigit bibirnya ketika malu dan nervous. "Ada hubungannya dengan mimpi basah juga."
Eren terdiam.
"Umh-"
"Aku bisa berubah pertama kali menjadi manusia saat menyelamatkanmu ketika kau dengan bodohnya tergelincir dari pohon. Kau berumur 12 tahun lebih 6 bulan. Aku hanya bisa bertahan dalam wujud manusia selama 5 jam. Cek. Dan saat aku itu aku sadar bahwa malam sebelumnya juga pertama kalinya kau mendapatkan mimpi basah. Aku bisa mencium baunya."
Eren menundukkan kepalanya. Levi bisa merasakan suhu tubuh mereka sepakat untuk sama-sama bertambah beberapa derajat. Ia menahan nafas dan melanjutkan pembicaraan mereka. "Aku mengambil kesimpulan bahwa… kau bermimpi tentangku? Tentang kita?"
"Ugh. Levi hentikan…" Eren menggelengkan kepalanya. Ia lalu berbalik membelakangi Levi yang tak mau berhenti menyentuh bocah dihadapannya. Ia memeluk Eren dari belakang dan menariknya lagi. "Ssh sudah kubilang tidak usah malu. Tidak didepanku, Eren. Aku sudah melihat apapun tentangmu yang lebih memalukan daripada itu. Ingat saat kau mengompol didepan-"
"ARGH!" Eren berbalik dan mencium Levi. Lelaki bermata abu-abu itu akhirnya terdiam. Lebih tepatnya terdiam kaget. Disaat Levi berniat untuk memperdalam ciuman mereka, Eren melepas bibir lembutnya.
"Puas?" Ia berbisik pelan. Pipinya terlihat semakin merah membuat Levi berharap warna itu takkan bisa pudar dari sana. "Aku bermimpi mencium seorang lelaki yang lebih tinggi dari padaku. Dengan mata abu-abu dan rambut hitam legam. Aku tidak tahu siapa kau sebelumnya… bangun pagi saat itu benar-benar membuatku bingung setengah mati dengan keadaan celana dalamku yang basah…lalu kau menampakkan wujud aslimu."
"Jadi kau sudah bertemu dengan wujud asliku duluan di mimpi huh?" Levi menyeringai lalu wajahnya kembali serius. "Eren aku suka padamu. Suka bukan dalam arti sebagai teman atau saudara. Aku suka padamu seperti… dalam mimpimu."
Eren berteriak kecil sambil menutup mukanya. "Leviiii bisakah kau berbicara denganku satu persatu dan tidak membombardirku sekaligus."
"Oke. Ehem. Sori." Levi membuka tangan yang menutup muka Eren dan mengecup bibir merah itu dengan lembut, merasakan sensasi menjalar yang asing. "Mengertikah yang ingin aku bicarakan padamu, Eren?"
Eren mengangguk pelan. Ia akhirnya mendongak menatap mata Levi dalam. "Aku suka padamu juga."
Levi tersenyum lebar dan memeluk Eren erat.
Ah, akhirnya… tahap awal terlaksana.
TBC
A/N:
Ini... entah kenapa jadi pretty mecum daripada chapter 1 yang fuwa-fuwa but i'm not sorry. Niatnya memang ini seperti porn with plot dan with shota eren gitu.
Fakta yang terungkap:
1. Umur: Eren 13 tahun dan Levi 16 tahun (untuk penjelasan lebih lanjut nanti dichapter2 selanjutnya)
2. Levi akhirnya bisa berubah jadi manusia tapi hanya untuk beberapa jam saja. Terjadi pertama kali ketika Eren mengalami mimpi basahnya yang pertama.
3. Ini based loosely with Kiki's delivery service AU. Tapi bener-bener jauh innocentnya sama punya Hayao. U dont say.
Enjoy dan jangan lupa review. Silahkan taruh apa-apa yang membuat kalian penasaran, pertanyaan dan mungkin kritik saran etc. Salam homo.
