"Kau harus sadar di mana kau berada kini. Siapapun kau dan apapun kau, kau tak lebih dari seorang gadis kecil liar yang kasar." hanya satu jengkal, kedua wajah itu berjarak.
"Tak ada siapapun di sini dan tak ada yang tahu kau di sini. Aku bisa melakukan apa saja padamu DETIK INI JUGA dan kau bisa apa hah?!" mata Hinata terpejam ketika nada bicara Naruto meninggi di bagian akhir.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi sensei, saya hanya pinjam saja.
.
.
.
WILD KIDDO
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
WILD KIDDO by Authors03
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 2
.
.
.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Hinata memekik dan mengelap wajah dengan satu tangannya. "Air liur kau muncrat kemana-mana, brengsek!" pekiknya dengan suara nyaring sambil menarik tangannya agar lepas dari gengaman Naruto. "Dasar jorok menjijikan!!!!"
Kami-sama, jika Naruto melempar bocah ini keluar dari jendela, dosakah?
"Ka"
"Dengar kau, dasar jorok! Apa kau tahu siapa aku?!" Hinata menatap menantang sambil menarik-narik tangannya tapi tangannya tak kunjung lepas dari gengaman kasar itu. "Kau berani macam-macam denganku, kau akan tahu apa akibatnya! lepaskan aku sebelum ayahku menyeretmu ke penjara!!" lanjutnya mengancam.
"Kau kira aku perduli?! Siapa kau dan apa yang kau bisa, dasar bocah kurang ajar! Akan ku lempar kau keluar jendela dan kau bisa mengadu ke ayahmu itu dari Neraka!" Naruto menyeret Hinata dengan menarik satu tangannya. badan mungil Hinata tak mampu menahan agar dirinya tetap diam, tak ikut tertarik.
"Bocah bocah pala lu! umurku susah 17 tahun! Lepaskan aku, sialan!" rontak Hinata. Jujur saja, ia cukup takut karena lelaki ini sungguh menyeretnya ke jendela dan membuka kaca jendela itu.
"17 tahun? Kau lebih terlihat seperti bocah ingusan berumur 12 tahun yang tak pernah belajar sopan santun!"
"Kyaaaahhh!! huaaaaa!! Lepas ayah ibu huaaaa!!" tangis Hinata langsung pecah saat Naruto benar-benar menmbuat setengah badannya keluar dari jendela dengan kedua tangan kecilnya mengengam erat sisi jendela. Ia tak sadar kalau Naruto mengengam erat baju belakangnya.
"Minta maaf." perintah Naruto tanpa rasa iba sedikitpun meski ia juga cukup takut gadis ini benar-benar jatuh dari lantai 22 ini.
"Gak mau! Lepaskan huaaaaaa!!! Ayah ayah huaaaaa!!" tangisan Hinata semakin nyaring karena ketakutan akan jatuh mengancam.
"Minta maaf!" Naruto memperjelas perintahnya, ia sedikit menekan punggung Hinata, membuatnya semakin histeris.
"KYAAAAHHH!! MAAF MAAF HUAAAAAAAA MAAAFKAN AKU!!"
"Minta maaf karena?" Naruto ingin kejelasan.
"KARENA KAU SURUH HUAAAAA LEPAS!!" jawab Hinata dengan polosnya membuat Naruto menggeleng kepala. Gadis ini sungguh membuatnya frustasi.
"Kau benar-benar."
Grep!
"Kyaaahhh Ittai!" desis Hinata menahan sakit di bokong karena Naruto menariknya kuat hingga ia terjatuh terduduk di lantai.
"Hiks kau hiks awas saja kau. Aku hiks pasti akan mengadu ke ayahku hiks." Hinata menyeka air mata serta mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Berani sekali lelaki ini melakukan hal tadi padanya. Seumurnya hidup, cuma sekali ia pernah diperlakukan seperti itu dan lelaki kucing ini membuatnya menjadi DUA KALI!
Naruto berjongkok di dekat Hinata. Entah insiatif darimana, ia berniat berbicara secara lembut pada gadis ini. "Siapa namamu?"
"Kepo!" jawab Hinata mengabaikan.
Sabar~ Naruto menghela nafasnya. Yang ia tahu jika cara kasar tak berhasil menjinakkan seorang anak kecil, kau harus menggunakan cara yang halus.
"Di mana kau tinggal?" tanya Naruto lagi.
"Di KUBURANMU KELAK!" Hinata melototi Naruto, Naruto melihat jelas mata dan wajah merah habis menangis itu.
"Kau..." Naruto menyeka air mata Hinata yang sudah kering tapi Hinata malah memejamkan cepat matanya karena mengira Naruto akan menamparnya.
"Siapa namamu?" tanya Naruto semakin lembut.
Hinata membuka mata dan mengamati sejenak bola mata biru langit itu. Tatapan yang sangat lembut dan menghanyutkan.
"Hyuu-
-MALAIKAT PENCABUT NYAWAMU!" Pekik Hinata tersadar dari lamuannya sambil menepis tangan Naruto di pipinya.
Dahi Naruto mengkerut hebat. Gadis ini sungguh!!!
Grep
"Iitai!" Hinata berdiri karena Naruto menarik daun telinganya ke atas.
"Kau bilang ingin mengadu ke ayahmu'kan?" tanya Naruto datar. "Ayo, aku akan dengan senang hati menemui ayahmu dan memberitahunya soal tingkah tak sopanmu!" tambah Naruto menyeret Hinata pergi. Ia harus memberitahu orang tua gadis ini soal tingkah kurang ajar anak mereka ini.
.
.
.
.
Disinilah mereka berada.
Ruang tamu kediaman Hyuuga.
"Hinata, jelas-jelas itu salahmu!" mulut Hinata terbuka, matanya melebar. Apakah ia salah dengar? "Kau kira sudah berapa usiamu? Kapan kau akan berhenti bertingkah seperti bocah yang tak tahu sopan-santun?" suara itu meninggi.
"Ayah, kenapa kau tega memarahiku?" raut wajah Hinata terlihat sangat kaget, sedih dan tak percaya. lihatlah bibirnya melengkung ke bawah tapi lelaki yang di panggil ayah malah semakin menegas. "Apa kau dengar ayah?!" air mata memenuhi pelupuk mata Hinata. Kenapa tiba-tiba begini? Kenapa ayah tiba-tiba marah dan tak membelanya seperti biasanya? "Kau bukan anak kecil lagi, Hina! Bisakah kau bersikap seperti perempuan dewasa?!" dan tangis Hinata pun pecah.
"Huaaaaa!! Ayah sudah tak menyayangiku!" air matanya mengalir deras layaknya anak usia lima tahun mencari ibunya yang tak berada di kamar.
Sedangkan Naruto di sebelah Hinata hanya bisa menatapnya tak percaya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa pada sikap Hinata ini.
"Huaaaaa!! Ayah jahat!! Huaaaa!! Ayah jahat!" terus menghapus air matanya yang mengalir. Hiashi, ayah Hinata cukup tak tega melihatnya tapi bagimana pun ia harus tegas.
"Hyuuga Hinata, hentikan renggekan bocahmu itu!" bukannya berhenti, tangis Hinata malah semakin pecah.
"HUAAAAAAA!! AYAH JAHAT! MENGAPA KAU TIBA-TIBA JADI JAHAT PADAKU! HUAAAAA!! APA YANG TERJADI PADA AYAHKU HUAAAAAAA!!"
Ya ampun. Naruto menggeleng, ia memohon demi apapun, semoga kelak anaknya tak seperti gadis ini.
Dia bisa menjadi sangat gila ketika marah. Tapi, dia juga bisa menjadi sangat cengeng ketika bersedih.
"Hyuuga Hinata! Aku bilang berhenti menangis!" Ayolah, bukan Hinata namanya kalau dia menurut.
"HUAAAAAAAAAAAA!!"
"Ini peringatan terakhirku, Hyuuga!"
.
.
.
Dan akhirnya Hinata berakhir di seret dan terkurung di dalam kamarnya. menangis? Masih. Tentu saja, bahkan mengamuk di dalam sana dengan menghancurkan seisi kamarnya, menyisihkan Hiashi dan Naruto di ruang tamu.
"Asal kau tahu, kau orang pertama yang berani menatapku langsung di mata dan mengadu soal putriku." Hiashi berucap dengan nada frustasi tapi aura arogan Hyuuga tetap terpancar darinya.
Naruto tampak datar tak bergeming apalagi merasa takut ataupun segan pada Hyuuga ini, tak seperti orang-orang lain ketika berhadapan dengannya.
"Maafkan saya sebelumnya, saya tak bermaksud menakutinya dengan mengancam akan melemparnya keluar jendela." sungguh, Naruto menyesal.
"Istriku selalu melarangku untuk memanjakan putriku. Satu jam sebelum kau kemari, istriku mengadu padaku kalau Hinata pergi ke kantornya dan menghancurkan ruang rapat. Dia mambakar dokumen penting dan menghajar beberapa penjabat hanya karena tak mendapatkan janji jalan bersama yang istriku janjikan." Hana, istrinya itu memanglah sangat sibuk tapi harusnya Hinata mengerti. Dia tak seharusnya mengacau seperti itu apapun alasannya, layaknya manusia tak punya akal. Itu sangat memalukan. Harusnya dia sadar akan kesalahannya dan menyadari betapa susah ibunya membereskan hal itu. Dia juga harus sadar betapa murkanya Hana. Jikasaja urusannya tlah selesai. Hinata akan benar-benar dalam masalah besar.
"Ini salahku. Aku terlalu memanjakannya, sungguh aku seorang ayah yang buruk." Hiashi memijit pangkal hidungnya. Ia tak pernah melihat istrinya semurka itu dan juga ia tak pernah merasa sefrustasi ini. Hinata sungguh sudah sangat keterlaluan dan mereka sungguh akan mendapat masalah jika penjabat-penjabat itu berencana untuk menentangnya. Ia merasa seperti gagal menjadi seorang ayah.
Tiba-tiba Naruto merasa iba. Pasti berat rasanya memiliki anak kurang ajar seperti itu.
"Hiashi-san tak bersalah. Ini salah Hinata karena tak tahu diri. Harusnya dia mengerti pada sayangnya kalian padanya. Harusnya dia bersikap baik tapi yang dia lakukan malah sebaliknya." Naruto mencoba membujuk. Jam sudah menunjuk pukul 23.46 tapi Naruto tak enak jika dirinya harus pamit pulang di tengah-tengah pembicaraan ini.
"Mungkin aku harus mengirimnya ke asrama putri, aku ingin dia belajar sopan-santun dan baiknya bersikap di sana tapi aku takut dengan sikapnya itu. Dia bisa saja mengacau di sana. Bagaimana jika orang-orang akan murka dan dia mendapat masalah? Sungguh aku tak tenang." Hiashi kehabisan akal, apa yang harus ia lakukan pada anaknya itu. Semua ide di otaknya terasa buruk jika ia menimbangnya.
Naruto diambang kebingungan. Bukan niat ikut campur tapi sungguh ia merasa iba. Ia sungguh ingin membantu menghilangkan wajah yang terlihat sangat frustasi itu.
"Sebenarnya, jika anda tak keberatan saya bisa membantu anda memantau Hinata. Yah, kami tinggal di apartement yang sama dan hanya beda satu tingkat. Saya bisa menjaganya untuk anda, memang tak selalu tapi setidaknya saya bisa mengawasinya sesekali." Naruto menawarkan bantuan, Hiashi yang semula memejamkan mata, menoleh.
"Apakah kau bersungguh-sungguh?" tanya Hiashi memastikan. Baik sekali lelaki ini menawarkan bantuan untuk menjaga anaknya.
"Yah, saya rasa tak masalah tapi karena saya harus bersekolah saya takkan punya waktu untuk menjaganya terus." Naruto ragu tapi niat membantu mengalahkan rasa ragu.
Hiashi berpikir sejanak sambil mengamati Naruto. Dia terlihat seperti anak SMA, apa jangan-jangan umurnya sama seperti Hinata?
"Jika kau sungguh ingin menjaga Hinata. Aku akan membayarmu 50jt perbulan, aku akan memasukkanmu ke sekolah terelit di Jepang dan memberimu tempat tinggal di kediaman Hyuuga ini. Jadi, kau takkan sulit mengawasinya." tawar Hiashi.
Hiashi-san, Naruto hanya ingin membantu bukan mencari kerja.
Naruto tersenyum tipis. "Saya hanya ingin membantu dan tak mengharapkan apapun." ucapnya jujur, cukup membuat Hiashi tak percaya ada manusia yang bisa menolak tawarannya semudah itu.
"Tapi setidaknya biarkan aku membiayaimu bersekolah di sekolah eliteku. SMA Konoha, tempat Hinata bersekolah." tawar Hiashi.
Uhm, apa harus Naruto katakan di sanalah ia akan bersekolah?
"Sebenarnya, di sanalah saya akan bersekolah..."
Hiashi tak menjawab.
Kebetulan apa ini?
.
.
.
.
.
.
Hari kembali berganti.
Senin
07.12
SMA Kohona elite ini mulai di penuhi manusia-manusia berseragam.
Kelas 11
tepatnya 11-A sepertinya tengah mengalami sedikit kekacauan.
"Bajingan sialan! Moodku sedang sangat tak baik, berani sekali kau!" mata bulan itu menyala karena marah. Akan ia patahkan leher lelaki itu kalau saja beberapa teman sekelas ini tak menangkap kedua tangannya.
"Hinata tolong! Sudahlah. Dia tak sengaja!" salah satu yang menangkap Hinata mencoba menenangkan.
Hinata terlihat berbeda hari ini. Dia terlihat sangat marah, lebih dari biasanya dan rasanya ia sungguh-sungguh akan membunuh orang itu kalau saja mereka tak menangkapnya. Kau bisa lihat itu dari matanya. Dia. sungguh. akan. membunuh. teman. mereka. itu!
"Lepaskan sialan! Aku bilang lepas!" Hinata memberontak. Ia sudah sangat kesal karena lelaki pirang itu hingga ia tak bisa tidur nyenyak dan pagi ini, baru saja ia memasuki kelas, lelaki itu malah menabraknya hingga menumpahkan air ke seragam putih yang ia pakai!
"Si bocah Hyuuga mengamuk lagi. Hore!" suara mengejek, berhasil mengheningkan keributan membuat semua mata tertuju padanya.
"Kau..."
.
.
.
.
"Hah~ Kuharap ini bukan ide yang buruk." Dia yang menghela nafas, masuk ke daerah sekolahan SMA Konoha. Bukan niat dirinya berpikir untuk menarik kembali tawarannya tapi kembali mengingat sikap gadis bermarga Hyuuga itu membuatnya ragu.
Dia yang adalah Naruto berjalan masuk ke ruangan yang bertulisan kantor kepala sekolah.
"Cukup jangan sakiti dia. Itu saja yang perlu kau perhatikan saat menjaganya."
Tok
Tok
Tok
"Permisi..."
"Silahkan masuk."
.
.
.
.
"Halo Hime..." senyum pepsodent ia pamerkan, tangannya terangkat menyapa sebelum menyapu rambut peraknya ke belakang.
"Toneri!" gadis yang di panggil Hime yang adalah Hinata tak lagi mengamuk bahkan amarah seketika lenyap membuat orang-orang yang menangkap, melepasnya.
Mereka menjauh perlahan berjaga-jaga agar tak mengusik sang singa mengamuk lagi.
"TONERIII!!" Hinata berlari menuju depan kelas tempat lelaki yang ia panggil Toneri berada.
Kedua tangan Toneri terulur, berniat memeluk tapi
BUG!
"Jackpot!" kali ini amarah Hinata sungguh reda. Tinjunya mendarat sempurna ke pipi putih itu hingga membuatnya meraung kesakitan sambil memegangi pipinya yang tertinju itu.
"Huft~" Hinata tersenyum setelah menghela nafasnya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Hinata setelah Toneri menatapnya. Dia memijit pipinya yang berdenyut sambil menahan rasa sakitnya.
.
.
.
Naruto pov
Aku keluar dari kantor guru dan berjalan menuju kelas ku di lantai 4.
Kelas 11-A
Mataku melirik di setiap atas pintu kelas tempat tulisan angka tercetak.
11-C
11-B
dan 11-A
Langsung saja kubuka pintu yang tertutup itu tapi betapa syok diriku saat aku melihat seorang gadis berlari dan melayangkan tinjuan sepenuh tenaga, senang lahir dan batin ke pipi lelaki di depanku.
BUG!
Kami-sama
Naruto takkan bertanya bagaimana rasanya itu karena Naruto bahkan merasakan sakitnya hanya dengan melihat. air mata di pelupuk lelaki itu menjadi bukti, tinju itu bukan tinju main-main.
"Jackpot!"
Naruto pov end.
.
.
.
Naruto membeku.
Mereka tak terlihat sedang berkelahi, kenapa gadis itu meninjunya?
Candaan? Tidakkah itu sangat berlebihan untuk sebuah candaan?
Dan tunggu.
Bukankah gadis itu adalah Hyuuga Hinata, gadis yang dia temui sabtu kemarin?
"Yaampun Hime. Kau sungguh-sungguh ingin membunuhku?" Toneri mengacak rambut Hinata. Jangan tanya! Pipinya masih mati rasa bahkan ia merasakan pusing, Tinju mungil itu mendarat dengan sangat sempurna.
"Hehe bukan salahku memang wajahmu saja yang minta kena tinju." jawab Hinata sama sekali tak merasa bersalah. Catat dan garis bawahi. Sama sekali tidak merasa bersalah!
"Yah baiklah baiklah. Memang wajahku yang minta kena tinju." Toneri mengalah. Berteman dengan Hyuuga tunggal ini? Percayalah kau harus selalu siap kena amukannya kapanpun, dimanapun bahkan dia takkan segan-segan menghajarmu hingga kau sekarat. Dua tahun mereka berteman, Toneri merasa sudah kebal akan sikap liar Hinata bak tak punya akal ini. Hahaha kasarkah? maafkan tapi itulah faktanya.
Tapi di antara semua sikap liarnya, dia sangat baik uhm entahlah sepertinya tidak. Hmm Toneri bingung apa yang harus ia puji dari Hinata? Uhmm rasanya tak ada yang baik tapi tetap saja ada beberapa hal yang Toneri suka dari Hinata. Dia manja, polos seperti anak kecil dan menurut Toneri itu sangat lucu dan sangat manis.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi makan." Ajak Toneri mengambil tangan Hinata tapi langkahnya terhenti saat ia menatap seorang lelaki yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu.
"Apakah kau murid baru? Aku tak pernah melihatmu?" Tanya Toneri penasaran, sontak membuat Hinata menoleh ke arah yang dia lihat.
"KAU?!" Matanya membulat sempurna. Mengapa lelaki ini bisa ada di sini?!
Naruto menggeleng.
Ia baru saja tersadar dari acara membekunya. Gila, pasti pipi itu terasa sangat sakit. Ia melihat sedikit bengkak di pipi putih itu.
"Hah? Ah i-iya aku murid baru di sini." jawab Naruto cepat.
"KAU MURID BARU DI SINI?!" pekik Hinata syok.
"Iya, aku murid baru di sini." Naruto mengulangi jawabannya sebelum menatap Hinata yang masih memamerkan raut wajah kaget dan kini tak suka.
"Hinata, bisakah kita bicara sebentar di luar?" Naruto mengubah topik pembicaraan. Ia sudah berjanji pada Hiashi-san untuk mengawasi Hinata jadi ia harus menegur Hinata atas apa yang ia lihat barusan.
"Hinata, apa kau mengenalnya?" Toneri bertanya. Respon kaget sekaligus tak suka Hinata ini membuatnya penasaran.
"Aku-
-AKU MANA MUNGKIN TAK KENAL DIA?!"
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
chap dua selesai.
hmm author selesaikan secepat mungkin karena cuma ingin bilang kangen sama reader '-
oh reader yang pernah mampir ke fic sebelumnya. hm masih adakah? '-
seketika kangen dengan para reviewrs dan reader '-
sedikit curhat ya
author emang udh lama bangat ga update bahkan ga tanggung jawab sama fic yang blm selesai. entah malas, habis akal atau alasan lainnya. author berusaha selesaikan ficnya :( tapi ga semudah itu. jujur aja takut alurnya zonk ga nyambung dll.
entah pesimis atau apa ya kadang ragu aja sama cerita yg dibuat rasanya hancur kali. kadang pun heran kenapa mau buat cerita wkwkwkwk
bukannya melarang dikritik tapi author -jujur-cukup-takut-sama komentar buruk. sekali dapat komentar buruk itu rasanya ngedown jadi kalau misal ada yang mau komentar pedas. plzz jangan terlalu pedas :(
dan author ada baca ulang review dibeberapa cerita dlu. kangen gitu sama komentar campur aduknya. kangen sama yg baca dan selalu minta update kilat hehe secara kan author update sehari sekali wkwkwkw..
sampai ketemu lagi
bye bye
