::aNotHer::
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning(s): Alternate Universe (AU), a lil bit gore, lime, M for safe, bahasa sampah kadang suka nyelip, tolong maklumi saja (?)
A/N: Maaf ya, kami terlalu lama update-nya. Selamat membaca!
.
.
.
CHAPTER TWO
"Long Time No See"
.
.
.
Dinding putih bercorak kelopak sakura menjadi saksi saat pemilik kamar berjalan ke kanan dan ke kiri sejak tiga menit lalu. Dengusan napas pelan keluar. Udara berlomba mencapai permukaan langit, gadis merah muda ini kemudian menggenggam tangannya erat. Maniknya bergerak gelisah. Ekor emerald-nya menaruh seluruh atensi pada buku tulis bersampul hijau yang tergeletak di meja belajarnya.
Sedetik kemudian langkahnya perlahan tapi pasti mendekati buku tersebut. Setetes keringat mengalir dari dahinya menuju pipi. Dengan tangan gemetar ia membuka lembar demi lembar, emerald-nya terpaku pada sebaris kalimat yang kemarin ia tulis.
Apa yang kaulakukan terhadap Sasuke-kun di perpustakaan?
Emerald-nya bergulir menjelajahi halaman selanjutnya. Maniknya membesar tatkala melihat dua baris kalimat yang terdapat pada dua halaman setelah halaman yang ia tulisi kemarin. Tulisan acak-acakan yang ditulis dengan tinta warna merah.
Hanya sedikit memberinya pelajaran.
Oh, ya. Satu lagi. Sepertinya pria ayam itu menyukaimu. Harus kuapakan ya? Kau tidak lupa kan pada pria terakhir yang mendekatimu?
Mata Sakura membulat, lutut Sakura lemas. Ia merosot tak kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Tidak.. aku tidak mau.. kenapa kau kembali? KENAPA?!"
Ia segera merobek halaman itu, menggumpalkannya menjadi bola dan melemparkannya ke tong sampah di ujung ruangan.
"Kumohon, siapa pun tolong aku..."
Sinar bulan yang menyusup melalui jendela menjadi penonton atas pelampiasan emosi Sakura malam itu.
Menangis, meraung, melepaskan segala emosi yang berkecamuk. Suaranya menggema memenuhi kamarnya.
サスサク
Hari telah berganti, tetapi pikiran tokoh utama kita nyatanya masih sama seperti kemarin. Otaknya dipaksa berkerja keras oleh sang pemilik. Rasa bingung dan entah apa masih menggema di dalam kepalanya. Absurd. Tak berbentuk serta terarah. Mengambang seperti minyak dalam air.
Pemuda ini bahkan membenci rasa candu yang mulai ia ingin kecap lagi. Rasa manis dan hangat. Oh, jangan lupakan bagaimana lembutnya permukaan bibir itu. Ck. Benar-benar membuatnya gila.
Rasa ini, bukan hanya karena ciuman kemarin adalah ciuman pertama sang Uchiha kan? Pastinya bukan. Ciuman bukan hal baru baginya. Bahkan dirinya pun lupa kapan ciuman pertamanya terjadi. Kalau disebutkan, akan terlalu banyak nama yang terucap—dan banyak lagi nama perempuan yang ia lupakan.
Entahlah, jika memang benar, kenapa bayang-bayang itu rasanya begitu nyata? Jika bukan, lalu mengapa Sasuke masih memikirkannya?
Apakah karena ia melakukannya dengan Sakura? Tidak, tidak boleh begitu. Semua perempuan itu sama saja.
Onyx-nya melebar tatkala mendapatkan ide yang mungkin bisa segera mengenyahkan rasa yang amat menganggu ini. Sedetik kemudian pemuda bersurai raven ini berdiri dan keluar kelas dengan segera tanpa memedulikan teriakan maha dahsyat Naruto.
"Aku harus mengetes seseorang... Siapa saja asal jangan cewek murahan itu,"
サスサク
Sasuke berjalan terburu-buru dan menabrak seorang gadis di depan perpustakaan. Gadis berambut pirang sebahu yang ia tabrak tampak terkejut saat yang dilihatnya adalah seorang Uchiha Sasuke.
"Apa kau memakai pemoles bibir?" tanya Sasuke kasar.
Gadis itu menggeleng takut.
"Pinjam bibirmu,"
Mendapati jawaban yang ia inginkan tentu tak membuat ia menyia-nyiakan hal ini, dengan cepat Sasuke menempelkan bibir mereka berdua. Napas gadis yang menjadi korban ciumannya terhenti sesaat. Sasuke tak peduli. Sungguh. Ia hanya ingin mencoba mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang masih bersliweran di kepalanya. Batinnya berkecamuk.
"Gadis ini... Biasa saja. Tapi kenapa si pink itu—Argh sial—"
Teriakan demi teriakan mengusik pendengaran. Pemuda raven itu mendongak dan mendapati mereka berdua sudah di kelilingi gerombolan siswi yang murka serta memasang wajah ingin menangis menyaksikan kissing scene live ini.
Sasuke langsung melepaskan bibirnya begitu melihat warna merah muda berada di antara gerombolan itu. Tak butuh waktu lama untuk kemudian merah muda itu menghilang menjauhi kerumunan.
Dan untuk kedua kalinya, Sasuke sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah ia lakukan. Isi kepalanya mendadak terasa kosong.
サスサク
"Well, saat ini kau tengah menjadi pusat perhatian, Bung! Namamu ada di mading dengan font paling besar!"
Sasuke sungguh tak habis pikir bagaimana seorang gadis merah muda bisa mengacaukan pikirannya dalam sekejap. Dalam hati ia merutuki perbuatannya tadi pagi. Sejak insiden di perpustakaan otak Sang Jenius Uchiha mulai kusut.
"Apa yang kaubicarakan?" desis Sasuke tak suka.
Tawa renyah Naruto lontarkan, "Ya ampun, Sasuke. Kau baru saja mencium ketua OSIS kita, Shion. Bagaimana rasanya? Ah, kalau saja aku tak punya Hinata, aku juga ingin mencicipi bibir Shion."
Dahi Sasuke berkerut. Nama asing baru saja masuk ke indera pendengarannya. Siapa pula itu Shion?
Sedetik kemudian mata onyx pemuda raven ini menerawang. Ia sudah mendapat jawaban atas pertanyaan konyol yang ia pikirkan tadi pagi. Ia sekarang paham mengapa sekelebat bayangan insiden ciumannya dengan Sakura kadang terputar di otak—yang ia yakini sekarang mulai korslet.
"Karena bibir gadis pink itu bagai candu. Karena ia melakukannya dengan Sakura. Mengapa bibir gadis merah muda itu manis? Apa yang ia makan sebelumnya? Mengapa bisa hangat? Mengapa―ck. Kemana gadis itu? Seharian aku tak melihatnya,"
"Ayo kita makan di warung Ichiraku, Teme. Eh, oi, kau mau ke mana, Teme?!"
Naruto hanya bisa misuh-misuh melihat sahabatnya pergi meninggalkannya sendirian di dalam kelas.
"Benar-benar! Kuluruskan rambut model pantat ayamnya baru tahu rasa dia!"
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Ia mengambil PSP nya dari dalam tas lanjut memainkan game, alisnya kirinya naik dan bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Sepertinya ini akan menjadi sangat-sangat menarik,"
Sebuah tangan menyentuh bahu Naruto lembut.
"Naruto-kun,"
"E-eh? Hinata? Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak kau membicarakan Shion. Aku tahu apa yang kaulakukan dengan mading itu Naruto-kun. Dan itu... Itu tidak baik,"
Naruto langsung tergagap pias saat pacarnya mengetahui bahwa dialah yang memasang foto Sasuke dan Shion berciuman di depan mading.
Sasuke menguap sepanjang koridor. Ia mengacak surai ravennya hingga semakin berantakan. Namun, itu tak membuat pesonanya luntur. Seluruh siswi yang tengah berjalan di koridor selalu mencari kesempatan mencuri pandang ke arahnya.
"Ck. Memuakkan."
Saat ia ingin berbelok di koridor, atensinya beralih pada segerombolan siswa yang tengah memperhatikan mading.
Sebetulnya itu bukan hal aneh mengingat mading tempat bagi siswa menaruh informasi atau hal menarik untuk dibaca. Hal aneh yang terjadi adalah seorang Uchiha Sasuke berjalan menuju segerombolan siswa itu. Bukan, bukan untuk membaca mading, hell, persetan dengan itu, memang penting? Yang membuat kakinya berjalan menuju mading karena warna merah muda juga berada di antara gerombolan itu.
Ya, Sakura.
Ia mengambil tempat tepat di samping gadis itu. Tiga detik pemuda itu tunggu tak ada reaksi.
"Ia tidak sadar aku di sini? Ck."
Sasuke tak suka kenyataan bahwa Sakura tak menyadari kehadirannya karena seluruh atensi gadis itu tertuju ke mading. Dengan decakan pelan akhirnya pemuda itu juga menaruh atensi pada mading di depannya—tentunya dengan beberapa siswa berada di depan menutupi pandangannya.
Onyx-nya melebar ketika membaca satu kalimat dengan font paling besar dan memakai huruf kapital.
PANGERAN KITA, UCHIHA SASUKE SASUKE, MENCIUM KETUA OSIS DI KORIDOR! APAKAH MEREKA SEPASANG KEKASIH?!
Secepat kilat pemuda raven itu maju ke paling depan, onyx-nya berkilat jijik. Ia berdiri di depan-membelakangi mading dan menghadap segerombolan siswa, ia membuka suara,
"Siapa yang membuat berita murahan ini?"
Hening. Tak ada jawaban. Hanya ada bisik-bisik yang terdengar.
Sasuke berdecih cukup keras. Maniknya menatap emerald dengan intens sebelum akhirnya ia bersuara lagi,
"Aku bertanya, apa kalian tidak punya mulut untuk menjawab?!"
PRANG!
Pecahnya kaca mading membuat beberapa siswi dalam gerombolan itu menjerit, termasuk Sakura. Ia terkejut dengan tindakan Sasuke. Perban yang membalut lukanya tempo lalu kembali mengeluarkan darah segar.
Tangan kanannya yang berdarah merobek kertas yang menjadi pusat atensi seluruh siswa beberapa saat lalu. Dengan emosi yang jelas terpancar ia merobek lalu membuangnya ke lantai.
Setelah selesai dengan pekerjaannya pemuda raven itu langsung menarik tangan gadis merah muda menjauhi kerumunan.
"Sasuke-kun kita mau ke mana? Kelas hampir dimulai."
Pemuda itu hanya diam. Lagi-lagi ia bertindak tanpa berpikir dahulu. Gila. Buat apa ia memecahkan kaca-lagi-dan merobek kertas mading? Bahkan ia menarik Sakura dan pergi membawanya entah ke mana.
"Ah, ini gila!"
Emerald Sakura melirik darah segar yang mengalir dari buku-buku jari Sasuke. Agak takut ia berhenti. Sasuke langsung menoleh ke belakang dan menatapnya penuh.
"Umm.. tanganmu terluka. Sebaiknya kita pergi ke UKS." gugup Sakura.
サスサク
"Kenapa kau hobi sekali melukai dirimu sendiri?"
Dengan telaten Sakura membersihkan darah tangan pemuda di depannya menggunakan kapas membuat sang pemilik tangan meringis kecil.
Keheningan menyelimuti mereka berdua di ruang UKS. Pelajaran pertama sudah dimulai lima menit lalu. Sasuke sama sekali tak peduli.
Perban putih itu Sakura lilitkan dengan perlahan. Ia gugup sekaligus senang. Baru pertama kali ini ia bisa menyentuh tangan pujaan hatinya, tanpa perlawanan dari sang empunya. Ah, Sakura berharap waktu dapat berhenti sekarang.
"Soal gosip murahan di mading tadi..."
Maniknya berpindah atensi dari tangan menuju onyx pemuda bersurai raven di depannya.
Sasuke menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan ucapannya, "—jangan dipikirkan. Itu tidak benar."
Rona merah muda menjalar dengan cepat di wajah Sakura, "A-ah, aku tidak memikirkannya sama sekali..."
Suasana kembali hening. Emerald dan onyx saling berpandangan untuk beberapa saat. Tangan kanan Sasuke yang masih berada dalam genggaman Sakura menariknya agar gadis itu lebih condong ke depan.
Bibir mereka kembali bersentuhan. Posisi Sasuke yang duduk di kasur dan Sakura yang agak membungkuk membuat Sasuke masih bisa mengeksplor seluruh permukaan bibir Sakura.
Secara perlahan Sasuke menuntun Sakura agar duduk di pangkuannya tanpa melepaskan pangutan mereka.
Wajah Sakura merona hebat. Ia kaget sekaligus bingung. Mengapa pujaan hatinya menciuminya—lagi?
Ponsel gadis merah muda itu mengeluarkan bunyi lumayan keras, membuat Sasuke melepaskan ciuman mereka.
Tangannya yang gemetar mencari ponselnya yang masih berbunyi nyaring. Simbol surat menandakan bahwa ada seseorang yang mengiriminya pesan.
Dalam posisi yang nyaris tak ada jarak membuat Sasuke dapat melihat dengan jelas layar ponsel Sakura. Onyx-nya melebar ketika melihat wallpaper gadis itu ketika tangan mungil Sakura mengusap layar membuka kunci.
Baru Sakura ingin menyentuh simbol surat untuk mengetahui siapa pengirimnya, ponselnya sudah berpindah tangan dengan cepat.
"Siapa dia?" tanya Sasuke penuh penekanan.
Bagai maling yang tengah ketahuan mencuri, Sakura takut dan gugup bukan main. Pandangan Sasuke menuntut penjelasan.
"I―itu..."
"Jawab dengan benar, Haruno."
Sakura bingung harus menjawab apa. Jantungnya berdetak tak menentu. Ia merutuk kebodohannya karena tak mengganti wallpaper-nya seperti sedia kala―dengan foto Sasuke.
"Sasuke-kun, kembalikan.."
Tak mendapat jawaban membuat Sasuke geram. Ia langsung membanting gadis di hadapannya ke kasur.
"Sasuke-kun!"
Sasuke menatap emerald di bawahnya penuh intimidasi, "Jawab pertanyaanku, Sakura. Siapa lelaki ini?!"
Sakura gelisah, ia juga takut. Posisinya yang berada di bawah kukungan Sasuke membuatnya tak bisa kabur.
Cengkraman di lengannya mengeras, "Sasuke-kun, sakit!"
"Jawab aku, Sakura!"
"To―Toneri.. Sasuke-kun lepaskan aku," setetes air mata menetes dari pelupuk matanya.
"BRENGSEK!"
"Sasuke-kun! Jangan! Sasuke! SASUKE—hmpph!"
PLAK.
Sakura menampar pipi kanan Sasuke lumayan keras. Sasuke langsung tersentak dari kegiatannya. Ia seperti tersadarkan. Baru saja ia mencium Sakura lagi—dengan paksa.
"M-maaf, Sasuke-kun," kata Sakura pelan. Mereka berdua terdiam. Tak lama kemudian, perlahan tapi pasti, Sasuke terkekeh,
"Sepertinya aku sudah gila. Tch, kenapa aku tergila-gila padamu sih?"
Sakura merasa telinganya gagal berfungsi, apa yang baru saja Sasuke katakan?
"E—eh?"
"Sepertinya aku suka pada—"
"Aku permisi,"
Sakura segera mengancingkan seragamnya yang tidak sengaja terlepas dan segera berlari keluar UKS. Sakura tidak mempedulikan apa pun. Ia tiba di kelasnya, memasukkan semua buku dan tempat pensilnya ke dalam tas. Ia juga tak mempedulikan pertanyaan Ino.
"Gawat, gawat, Sasuke hampir bilang dia menyukaiku, aku tahu harusnya aku senang tapi kenapa aku takut seperti ini? Kalau dia tahu... dia pasti akan mengicar Sasuke. Aku harus mencegahnya melakukan sesuatu yang buruk."
Beberapa temannya melihatnya dengan heran. Ini belum jam pulang, mengapa ia bertingkah seolah ingin bergegas pulang?
"Sakura, apa yang terjadi?"
"A-aku harus... pergi, ada sesuatu yang penting tiba-tiba terjadi, a-aku pergi dulu ya Ino," cengir Sakura pada sahabatnya. Ino merasa ada yang tidak beres dengan senyuman lebar Sakura, seperti ada hal yang disembunyikannya.
Sakura memeluk Ino singkat dan berbisik, "Mata ne,"
Ino terkesiap. "Kau sedang demam, ya?"
Pertanyaan Ino tak Sakura gubris dan Sakura langsung pergi begitu saja.
サスサク
Sasuke kembali juga ke kelas dan melirik ke tempat duduk Sakura yang kosong, tas-nya pun tidak ada.
"Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan, eh?"
Sasuke terdiam tak menanggapi pertanyaan Naruto. Bisik-bisik di kelas pun tak terhindarkan.
"Apa kau jadi menyukainya?"
Sasuke mengambil headphone-nya dan menyalakan musiknya dengan keras.
"Asal kau tahu saja, aku lebih mengenal Sakura daripadamu. Dan, bagaimana caranya aku memberitahumu ya—" Naruto berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya.
Sasuke meliriknya, "Memberitahuku apa?"
Naruto nyengir lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi, matanya saat tersenyum lebar seperti itu makin membuatnya terlihat seperti rubah.
"Memberitahumu kalau akulah yang pantas baginya, Teme. Aku mau pulang,"
Sasuke terdiam.
"Apa aku salah dengar?"
サスサク
Di tempat pemberhentian bus di dekat sekolah, Sakura menunggu bus yang akan membawanya pulang.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan pelajaran atau apapun. Ia hanya ingin menjauh dari Sasuke sebelum...
"Yosh!"
Naruto menepuk bahu Sakura, menghentikan gadis itu dari lamunannya.
Sakura mengerjapkan matanya. Kaget melihat Naruto juga bolos. Ia tak menyangka kalau Naruto akan menyusulnya.
"Naruto?"
"Aku akan mengantarkanmu pulang. Rumah kita kan bersebelahan,"
"Kau bolos juga?"
"Yep, aku bosan sih. Eh ada sesuatu di rambutmu," Naruto mengusap kepala Sakura dan menjatuhkan daun momiji yang sudah kering dari sana.
"Kepalamu jadi terlihat seperti jerami, sudah berapa lama kau berdiri di sini, eh?"
"Jauhkan tanganmu dari kepalaku, Sampah."
Naruto menahan tangannya di udara, berhenti mengusap-usap kepala Sakura. Jeda cukup lama sampai Naruto terkekeh lagi.
"Apa yang kau tertawakan? Mau mati kau?"
"Hisashiburi... Lama tak jumpa. Apa kabar? Luka darimu membekas loh di punggungku," kata Naruto, nada bicaranya ramah namun senyuman yang tadi terpampang di wajah rubahnya kini lenyap tak bersisa. Yang tersisa di raut muka Naruto hanyalah rasa waspada.
"Tch," Sakura meludah ke tanah. Ia melemparkan tasnya ke tanah. Mengepalkan kedua tangannya, menggemeretakkan jarinya dan siap meninju dengan kuda-kuda yang mantap.
Naruto juga melakukan hal yang sama. Ia mengendurkan ikatan yang dasi seragamnya, dan bergumam, "Etto, sudah lama tidak sparring denganmu, apakah harus sekarang juga di sini?"
BUGH—!
Sakura meninju perut Naruto dengan keras.
DUAGH.
Menendang tulang kering Naruto sampai pemuda itu jatuh dan terdorong mundur.
"Tumben kau tidak menyerang wajahku? Kenapa?"
BUAGH—!
Dengan satu elakan cepat, Sakura menangkis pukulan Naruto yang mengarah ke wajahnya. Sakura membalikkan serangan Naruto dengan berhasil meninju bahu Naruto dengan telak.
"Hhh... Aku cuma agak mengalah padamu, kau kan perempuan, tch," Naruto meludah ke tanah. Ia bangkit lagi, mengusap bahu kirinya dengan tangan kanan dan berjalan ke samping Sakura.
"Jangan banyak cakap, kau tahu aku ini lelaki, dasar sampah,"
Naruto tersenyum dipaksakan, "Yeah, kau benar Asuka. Kau lelaki. Oke, kalau begitu—"
sorot mata Naruto berubah menjadi serius.
"—kalau begitu aku tidak akan segan-segan."
.
.
.
To be continued.
A/N Kadal: Sebenernya chapter two ini (bahkan chapter sebelumnya) lebih banyak dikerjakan oleh Kelinci, gue cuma ngedit EyD, mempercantik, dan memperindah bahasanya aja sekitar 40%. See? Jadi kalo kalian lihat hal-hal berbau mesum, sesungguhnya itu bukan dari Kadal melainkan dari Kelinci. Well, alter egonya Sakura itu laki-laki, namanya Asuka. Baik-baik ya sama Asuka.
A/N Kelinci: ..plis maafin gue. Kalo kalian baca ini dan editannya super aneh dengan double enter dan sebagainya, itu salah gue. Fix banget. Gue ngetik di hape dan dilanjut sama Kadal lewat laptop, jadinya acak kadul ;_; dan maaf juga karena apdet yang amat sangat ngaret mwehehehehe. Aduh, sumpah gue mau banyak-banyak minta map nih u,u tadinya mau apdet sebelum tanggal 9 berakhir, tapi apa daya ague belom kelar edit. Jadi yah makanya apdetnya dini hari kek ginbi mwahahaa! #abaikan. Betewe, yang bisa balses ripiu kali ini Cuma gue u,u si Kadal lagi nyari batang puun buat ditebang. Biasalah buat sesajen. Okelah, biarkan Kelinci yang unyuh ini bales ripiu duluuu~~
Balesan:
Guest: haloo~ ngeliat review-mu aku seneng XD analisamu bagus, opinimu kami terima kok :3 dan di sini, karena kami saying Sakura, kita ga akan ngebuat Sakura amat sangat terhina kok XD tenang saja, Dear. Sakura ga bakal begok-begok amat kok :3
Winter cherry: halooo! Terima kasih sudah bilang ini menarik :')
ToruPerri: semoga chap ini ngejawab pertanyaanmu ya XD
Nami: halo, Nami! XD iya ini sudah lanjut ^^~
Uchiha cerry: aduh, maaf ya, Dear karena ga bisa apdet cepet ;_;
Once again, kami sangat amat meminta maaf karena ga apdet-apdet TT_TT terima kasih bagi readers, followers, dan yang sudah mem-fav juga! Kami sayang kalian! :*
p.s: bagi yang login, cek PM ya ^^ dan maaf banget kalo ada yang belum kebales. Saya ngebales dengan sinyal bapuk TT_TT
