Title : The Runaway (Chapter 2)

Disclaimer : Fandomnya punya Hidekazu Himaruya, zombienya punya saya 8D

Summary : Ketika manusia terancam punah oleh serangan para zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?

Warning(s) : Miss Typo, dan ke-abalan


Ternyata ruang dapur

Tidak ada tanda-tanda zombie, mungkin

Setidaknya tidak ada sesuatu yang mencurigakan bergerak disini

Keduanya pun memasuki ruangan tersebut dengan hati hati

Ruangannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil

Banyak debu dan sampah berserakan dimana-mana menandakan bahwa ruangan dan rumah ini sudah lama kosong

Hanya saja, disini terlihat banyak sekali bercak darah, membuat kedua remaja itu menjadi sedikit ketakutan

"Ukh! Bau sekali…" Alfred menutup hidungnya ketika ia mencium bau menyengat yang sangat tidak enak

Arthur mencari-cari asal bau itu, ketika ia melihat di pojok ruangan dekat meja makan, matanya terbelalak

"….Karena itu…" ia menunjuk pada sebuah mayat yang sudah mulai membusuk

"M-mayat !" mata Alfred ikut terbelalak, ini pertama kalinya ia melihat mayat yang membusuk dari dekat, ia mulai merinding ketakutan

"S-setidaknya bukan zombie.." Arthur menenangkan dirinya dan Alfred

"Sudahlah.. dia sudah mati, tidak akan hidup lagi!" lanjutnya sambil berjalan menuju lemari makanan

Alfred mengangguk pelan dan berjalan ketakutan ke arah sebuah kulkas

Mereka berdua pun sibuk mencari makanan ditempat masing-masing

Tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengan mayat itu

Sementara itu, tidak jauh dari bangunan dimana Arthur dan Alfred mengumpat

"Fiihh… Fiiihh… Kurasa.. dunia ini sudah tidak bisa ditolong lagi… Aku belum menemukan orang yang bisa membaca sihir hingga sekarang… Merlin.. Aku minta maaf…" kata seekor kelinci hijau yang mempunyai sayap sembari terbang kesana-kemari mencari seseorang

Kembali ke Alfred dan Arthur

Alfred merasa ada yang aneh

Ada sesuatu bergerak dibelakangnya

Ia pun menoleh kebelakang dan matanya kembali terbelalak

Kali ini lebih besar

Mayat itu bergerak

"A-A-A-Arthur…?"

"….Apa?"

"A-a-apa kau y-yakin… m-mayat itu sudah mati?"

"Dasar bodoh! Tentu saja sudah! Namanya juga ma—"

"Arthur! Dia bergerak!"

Arthur kaget dan segera melihat ke arah mayat itu, dan matanya kembali terbelalak

Alfred benar

Sekarang mayat itu sudah dalam posisi berdiri

Kepalanya masih menunduk

Dan perlahan ia mengangkat kepalanya

Menunjukan wajahnya yang sudah hancur

Kedua remaja itu pun bergidik

Mereka semakin ketakutan ketika mayat mulai itu berjalan ke arah mereka

"Z-Z-ZOMBIEE !" teriak Alfred

Tidak ingin dimakan dengan sangat mudah, Arthur membuka sebuah loker di lemari makanan yang berisi 4 pisau dapur

Dengan segera ia mengambil satu dan melemparkannya ke arah zombie tersebut

Dan pisau itu menancap di kepalanya, namun ia masih bergerak

"Sialan! Belum mati juga?"

"Arthur.. d-dia itu z-zombie.. mana bisa mati begitu s-saja.."

"Setidaknya bantu aku, bodoh!"

Alfred mengangguk pelan dan mengambil 2 pisau, lalu melemparkannya ke arah mahluk pemakan manusia itu, diikuti lemparan dari Arthur

Pisau pertama menancap di pundak

Pisau kedua menancap tepat diantara dua bagian dada

Pisau lemparan Arthur menancap di wajah (dan membuat Alfred berteriak kecil)

Tapi zombie itu masih berjalan menuju mereka

"Arthur! A-apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Aku…. Hanya punya ini…"

Arthur mengambil sesuatu dari saku celananya

"Mainan sihir?" Alfred tidak percaya apa yang Arthur ambil

Sebuah tongkat sihir yang mempunyai bintang diujungnya

"Ini bukan mainan! Ini tongkat sihir yang memang bisa aku gunakan! Tapi.. aku tidak tau kalau untuk—"

"KALAU BEGITU CEPAT GUNAKAN !" Alfred berteriak, ia semakin ketakutan ketika zombie itu sudah dekat

"Dasar !" dengan segera, Arthur mengarahkan tongkatnya ke arah zombie itu

"Petrava !" ia memejamkan matanya dan

Tidak ada apa-apa

"Arthur !"

"Sialaan !" Arthur kembali memejamkan matanya dan berteriak

"PETRAVAA !"

Diluar bangunan

"Fiih..? Suara apa itu? Aku dengar seperti ada yang mengatakan 'Petrava'. Asalnya dari arah sana…" mendengar suara tak jauh darinya, kelinci hijau yang mempunyai sayap itu dengan segera menghampiri asal suara tersebut

Didalam bangunan

Alfred pun juga memejamkan matanya, takut apa yang akan terjadi selanjutnya

Gigitan

Keluarnya darah

Rasa sakit

Mati

Tapi

Tidak ada apa-apa

Tidak ada suara

Tidak ada gigitan

Tidak ada rasa sakit

Tidak ada darah yang keluar

Hanya ada detak jantung

Detak jantung mereka

Setelah cukup lama memejamkan mata dan tidak merasakan apa-apa

Akhirnya mereka berdua membuka mata mereka dengan pelan-pelan

Dan mereka terbelalak kembali

Zombie nya hilang

Yang ditinggalkannya hanyalah pisau-pisau yang menancap di tubuhnya tadi

Dan bercak darah yang besar

"…D-dimana zombienya?" kata Alfred bingung dan takut, tangannya memegang bahu Arthur dari belakang

"…entahlah…?"

"A-Arthur.. kurasa sihirmu tadi telah melenyapkannya…"

"B-benarkah? M-maksud ku, tentu saja ! Sudah ku bilangkan sihir ku berguna? Ahahahhahahahahhaa !"

"Ngg… terserah kau sajalah…"

"Fiihh! Akhirnya ketemu !"

Alfred dan Arthur kaget ketika ia mendengar sebuah suara dari arah jendela

Kelinci hijau…. bersayap?

"E-eh…? S-siapa kau?" tanya Arthur. Belum pernah ia melihat hewan seaneh dan selucu ini

"Fiihhh.. namaku Mix!"

"Mix ?"

"Iya.. selama ini aku sedang mencari-cari orang yang bisa membaca sihir seperti mu!" kata kelinci hijau tersebut yang bernama Mix sambil terbang menghampiri Arthur

"S-seperti ku?"

"Seperti dia?" Alfred bertanya kurang percaya sambil menunjuk Arthur dari belakang

"Iya.. aku tadi tidak sengaja mendengar teriakan 'Petrava' mu, dan ketika ku lihat, kau telah memusnahkan zombie yang ada didepan mu itu dengan sihir mu"

"Eh? Musnah? Maksudmu musnah.. zombienya kemana?"

"Alfred bodoh…. Tentu saja zombie nya mati ! Tapi.. dimana mayatnya?"

Mix hanya bisa sedikit sweatdrop

"Itulah hebatnya Petrava, ia memusnahkan musuhnya sekaligus mayatnya,"

"J-Jadi.. zombie itu… sudah menjadi darah itu? Maksudku.. zombie nya hancur?"

"Begitulah.."

"Hebat.. m-maksudku, tentu saja! Aku memang hebat ! Ahahahahhahahahaa! Iya kan, Al?"

"Dasar.. terserah kau sajalah.."

~To Be Continued~


Hmmmm... kok jadi agak aneh ya? TTATT
btw.. disini Flying Mint Bunny nya saya kasih nama Mix, soalnya kalo Minty kurang srek gimanaa gitu *PLAK*
Terus.. sihir Petrava itu.. asal buat doang, nggak ngambil dari Heri Poter (?) x'D
Silakan kritik sepuasnya~ saya gabakal marah, kecuali kalo terlalu menusuk ya.. (?)