Author : Katou Chiharu/Anisaaa

Rate : T-M

Genre : Yaoi, a little romance, Angst

Warned : This is BoyxBoy fic, typos, cerita pasaran!-_-", alur kecepetan, cerita abal+gaje, feel nggak dapet!, DON'T LIKE DON'T READ!

ini tadinya cuma oneshoot, tapi entah kenapa kok terpikir dijadiin chapter-_- mungkin 2 chapter lanjutan aja cukup kali yaaa. Masih baru sih, jadi setiap nulis harus dibaca lebih dari 5 kali dulu sampe bener-bener yakin 'layak' baru di post. Maaf lama hihi. Eh iya kemarin kan Minho's side, sekarang gentian yaa Taemin's side.

Reality : Lee Taemin

7 years ago

Banyak dari mereka yang bilang cinta itu manis. Semanis kembang gulalah, semanis lollipop warna-warnilah, bahkan tidak sedikit yang bilang cinta itu selembut marshmallow. Tetapi entah mengapa, untuku cinta itu terlalu… tragis.

Ketika yang lain bisa merayakan ulang tahun ke17nya dengan seseorang disisinya, maka aku harus bersyukur dengan adanya setangkup roti keju sebagai teman malam 17 tahunku. Orang tuaku pergi entah kemana, terakhir aku mendengar suara mereka di lantai bawah sore tadi lalu 5 menit kemudian suara mereka hilang tertelan oleh derum mobil yang kian menjauh dari rumah. Satu anggota keluargaku yang lain, Lee Jinki kakak kandungku juga pergi entah kemana. Dia terlalu sibuk dengan hidup seriusnya dan kekasihnya yang kelewat cerewet itu.

Keluargaku memang tidak mengenal tradisi ulang tahun, terlebih orangtuaku yang sepertinya terlalu buta akan hal itu. Lalu kakaku… ah laki-laki itu harusnya rehat dari hidupnya yang menurut pandanganku terlalu rumit dan terlalu serius. Jujur, aku jarang sekali berbicara dengannya. Terlalu takut mungkin, apalagi ketika terbayang tatapan menusuknya yang terasa begitu mengintimidasi ahhh aku mulai bergidik ngeri.

"Lee Taemin…"

Aku bilang juga apa, hanya dengan membayangkan aura mencekamnya kini aku mulai berhalusinasi tentang suaranya. Terdengar sangat pelan, datar, namun sangat menusuk sama seperti tatapannya. Tapi aku heran mengapa tatapannya berubah menjadi lembut setiap ada―

"Taemin…"

―Key Hyung.

Aku tercekat. Takut-takut menoleh kea rah pintu kamar yang entah sejak kapan sudah terbuka lebar dan disana, di ambang pintu bercat putih gading itu, hyungku Lee Jinki berdiri dan menatapku tajam. Aku hanya bisa mengulas senyum bodoh.

"Wa-wae g-geurae?" tanyaku agak terbata-bata

"Seseorang di bawah mencarimu" jawabnya singkat lalu pergi begitu saja.

Ahhh aku hanya bisa menghela napas lega. Aku pikir aku melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Setelah merasa cukup tentang, kakiku melangkah menuju seseorang yang katanya ingin menemuiku. Apakah dia ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku?

"Ah, Lee Taemin-ssi?" tanya orang itu ketika dia melihatku yang melangkah ke arahnya.

Aku mengangguk kecil seraya tersenyum tipis padanya. Lalu tiba-tiba dia berdiri dan menyerahkan sesuatu berwarna hitam yang kelihatannya seperti tas kepadaku. Aku mengerenyitkan dahi, bingung.

"Tasmu tertinggal ketika mengantarkan anjing yang tertabrak mobil ke rumah sakit 2 minggu yang lalu. Lalu aku melihat kartu namamu di dalamnya dan mengembalikannya padamu" tuturnya

"Ah, Gamsahamnida" balasku lalu mengusap bagian tasku yang terkena noda darah anjing yang kuselamatkan 2 minggu lalu.

"Kau memang suka menolong ya?" tanyanya sedikit ragu. Mungkin namja tinggi di depanku ini takut jika pertanyaannya menyinggungku.

"Ne… sangat suka" jawabku ceria. "Ah, kita belum berkenalan. Taemin… Lee Taemin" ucapku sambil menyodorkan tangan kanaku ke arahnya. Namun tatapannya seperti tidak fokus dan jabatan tanganku tidak juga disambut olehnya. Sepertinya ia tidak menyu―

Greb

"Naneun Choi Minho imnida. Minho" balasnya setelah menyambut jabat tanganku secara tiba-tiba. Mungkin ia tidak sadar jika genggaman tangannya pada tanganku terlalu erat sehingga aku sedikit meringis sakit.

"Ah, joesonghamnida" dia terburu-buru melepaskan genggamannya ketika menyadari perubahan raut wajahku. Dia terlihat panik sekali. Aaah kyeopta…

"Gwaenchanayo. Kau.. sepertinya mahasiswa?"

"Ne, baru semester awal" suaranya terdengar sangat pelan. Ia terlihat salah tingkah dengan tangan yang terus memegang bagian tengkuk.

"Waah, itu artinya aku harus memanggilmu 'Hyung'."

Dia hanya tersenyum simpul lalu memandangku dengan tatapan yang sangat lembut. Aku baru sadar jika ia memiliki mata yang besar mirip kodok peliharaanku yang dibuang Umma ketika aku balita. Selain itu, tatapannya juga teduh sekali. Jauh berbeda dari tatapan hyungku. Minho Hyung… bangapta.

"Hyung…" Aku memanggil namja dengan mata besar yang sepertinya sedang bosan dengan benda di hadapannya, lukisan. Aku tahu, itu pasti Minho Hyung.

"Hyung…." Kali ini suaraku menjadi lebih tinggi. Aku bergerak cepat dan berdiri di sampingnya. Benar saja ia menoleh, lengkap dengan raut wajahnya yang sepertinya sangat terkejut.

"Senang bisa bertemu lagi denganmu" ucapku lalu berusaha tersenyum seimut mungkin.

Namja tampan itu tidak membalasku. Ia hanya tersenyum canggung dan menggaruk-garuk hidungnya, apa Minho Hyung sedang alergi?

"Kau suka lukisan juga?" kali ini aku memulai percakapan karena sedari tadi Minho Hyung hanya bisa diam terpaku memandangiku. Aku khawatir, apakah ada sesuatu yang menempel di wajahku. Apa ada jerawat di keningku? Mungkin setelah ini aku harus sesegera mungkin menghubungi Key Hyung untuk mengajaknya perawatan kulit bersama. Namjachingu hyungku yang cerewet itu memang maniak salon, jadi setiap aku ikut perawatan dengannya Hyungku yang selalu jadi Ahjjusi-dompet-tebal. Aah lumayan, gratissss

Ia menggeleng. "Hanya menemani Hyungku" balasnya. Selalu seperti ini, ia selalu irit bicara. Aku belum pernah mendengarnya bicara separagraf penuh. Seringnya hanya beberapa kata, tidak lebih dari 14.

"Begitu yaa. Berarti kita senasib, aku juga hanya menemani Hyungku. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama namjachingunya daripada aku. Tetapi sekali menghabiskan waktu bersamaku dia malah mengajakku ke tempat-tempat bodoh seperti ini" cicitku.

Minho Hyung tertawa pelan, lalu mengacak surai lembutku. "Tetapi setidaknya Hyungmu mau meluangkan waktu untukmu"

Dan setelah itu, obrolan kami berlanjut sangaaaaaat panjang. Meskipun didominasi aku yang mengeluh tentang Hyungku yang terlihat menyeramkan dan selalu sibuk dengan hidupnya, pekerjaannya atau kekasihnya. Namja di depanku kadang tertawa hingga deretan giginya yang begitu rapi terlihat. Aah, mengapa aku baru sadar kalau Minho Hyung begitu menawan?

Saking asyiknya, aku tidak tahu kemana perginya Hyungku yang beberapa menit lalu berdiri kaku di depan sebuah lukisan. Namja satu itu benar-benar mirip setan, datang dan pergi seenaknya. Apa dia juga berlaku sama di depan kekasihnya? Huh, aku harus pulang sendiri? Lagi?

Puk

"Gwaenchana?" Minho Hyung menepuk pelan bahuku dan membuatku sadar dari rasa panik yang tiba-tiba menyerangku. Aku menatapnya dengan tampang minta dikasihani, berharap cemas agar ia peka lalu mengantarku sampai rumah.

"Ditinggal Hyungmu lagi?" tanyanya tepat sasaran. Aku mengangguk, masih dengan tatapan seperti anak anjing yang dibuang di saluran pembuangan.

"Ayo pulang…" ucapnya pelan seraya menarik tanganku.

"Hyungmu, eotteokhae?"

"Dia pasti pulang dengan temannya. Geokjeongma…"

Tubuh dengan tinggi di atas rata-rata, mata besar teduh, dan selalu seenaknya, hampir mirip dengan Jinki Hyung. Tetapi sifat 'seenaknya' akan muncul di saat-saat yang tepat, seperti saat ini. Tanpa persetujuanku ia menarik tanganku begitu saja keluar dari galeri. Dan tanpa sadar aku sudah duduk di belakangnya lengkap dengan helm. Selalu seperti ini… tapi aku senang, setidaknya di dunia ini ada satu orang yang bisa mengerti perasaanku.

3 years ago

Mungkin aku terlalu banyak memujinya. Terlalu fokus dengan sifat-sifat mulianya. Terlalu luluh dengan perlakuannya. Aku dan Minho Hyung, kami berdua berteman baik untuk waktu yang lama. Aku pikir setelah hampir 4 tahun mengenalnya, aku sudah mengetahui sebagian besar tentagnya. Namun aku lupa dengan sebagian lain yang belum kuketahui. Sebagian lain yang selama ini tidak pernah sekalipun terbesit di kepalaku untuk menanyakan padanya secara langsung.

Ia tampan, baik hati, dan lembut. Belum lagi denga aura layaknya Putera Mahkota, Minho Hyung pasti punya segudang penggemar. Laci mejanya pasti penuh dengan kertas berisi kata-kata cinta yang terkadang di atasnya tergeletak bunga mawar merah yang tak berdaya. Tasnya juga pasti selalu penuh dengan bungkusan coklat dari berbagai merek. Mulai dari yang harganya paling tidak terjangkau, sampai yang harganya standar. Selama bertahun-tahun lamanya, aku lupa akan hal ini. Terlalu hanyut dalam perlakuan manisnya.

Hingga akhirnya aku berdiri terpaku, tak bergeming menatap sepasang namja dan yeoja yang dari belakang terlihat sedang berciuman di depan pintu rumah Minho Hyung. Aku tidak bisa mengenali siapa yeoja itu meskipun aku dapat melihat gesturnya secara jelas dari belakang. Tetapi yang aku tau secara pasti, Minho Hyung menikmati ciuman itu. Ciuman dengan seorang yeoja yang bahkan sama sekali aku tidak pernah mendengar namanya disebut Minho Hyung ketika bersamaku.

Wajahku terasa panas, belum lagi dengan kedua mataku yang terasa penuh dengan air mata. Aah mengapa sesakit ini? Bukankah kami hanya berteman. Jika murni berteman, tidak akan sesakit ini kan?