Naruto mengerjapkan matanya. Dirinya mengulas senyum. Kejadian itu hanya mimpi. Buktinya dia ada dikamarnya yang dicat putih. Dirinya ada diranjang, seperti biasanya. Ada Sasuke yang sekarang tertidur di sofa. Naruto menghela Nafasnya lega. Gadis itu kembali membaringkan dirinya di kasur.
"Eh? Sasuke?" Naruto terlonjak kaget. Gadis itu seketika membuka matanya dan membuat dirinya terduduk.
"Aww." lirih Naruto saat merasa kepalanya berdenyut Sakit.
"Kau sudah sadar Naruto?" terdengar suara bass dari arah kanannya. "Sas, bangun sekarang dan bersihkan dirimu."
"Paman Obito? Kenapa paman disini?" tanya Naruto heran.
Obito memandang Naruto heran. Kegiatannya untuk menarik-narik surai raven Sasuke agar terbangun pun terhenti. Laki-laki itu menghampiri Naruto. Mengacak surai pirangnya pelan.
"Karena aku khawatir dengan keadaanmu, baka." ujarnya lalu menyentil dahi Naruto. "Hei Sas, cepat bangun dan bersihkan dirimu. Aku akan memanggil dokter. Kau tidak ingin bukan berwajah kucel didepan dokter cantik itu?" goda Obito yang langsung mendapat dengusan kesal dari Sasuke.
Obito terkekeh geli. Tangannya segera memencet tombol hijau yang ada di dinding rumah sakit untuk memanggil dokter.
"Kau jangan banyak bergerak Naruto. Dasar hiperaktif." kesal Obito yang melihat Naruto sepertinya ingin turun dari ranjangnya. "Aku langsung terbang dari Turki ketika Sasuke memberitahuku kalau kau masuk rumah sakit." tambahnya lalu duduk di kursi sebelah kanan Naruto.
"Jadi, kejadian kemarin benar terjadi?" tanya Naruto lirih.
"Ledakan di mall? Itu sudah kemarin lusa. Kau bahkan tak sadarkan diri seharian penuh." kata Obito.
Bayang-bayang kejadian, darah, potongan tubuh kembali menghantui fikiran Naruto. Seperti sebuah film yang terus berputar di fikirannya.
"Ada apa?" tanya Obito ketika melihat tingkah aneh Naruto.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Paman, bisa aku pulang sekarang?" tanyanya. "Aku ingin dirumah saja."
"Akan kutanyakan nanti ke dokter. Semua tergantung dengan kondisimu. Dan sekarang makan sarapanmu." titahnya mutlak. "Tidak ada ramen selama dirimu masih belum sembuh total." ujarnya tegas saat melihat Naruto seperti akan bertanya tentang ramen.
.
.
.
.
EE
Disclaimer : Naruto punya MK
Story by Pena Bulu
Pair : SasuFemNaru
Rated : M ( Not for lemon )
Warning : FemNaru. Typo bertebaran, EYD hancur, OOC, membingungkan, FLASHBACK TIBA-TIBA TANPA PERINGATAN dan berbagai kekurangan yang tidak disebutkan. So hati-hati saja.
Don't Like Don't Read
Naruto berjalan masih mengenakan seragam sekolahnya. Gadis itu memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Banyak orang berlalu lalang tengah sibuk dengan berkasnya masing-masing.
"Naruto?"
Seorang gadis berambut merah bername tag Uzumaki Karin itu pun segera menghampiri Naruto sesuai dengan janji mereka untuk bertemu.
"Karin." ujar Naruto lirih.
Gadis bersurai merah itu segera memeluk sepupunya. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya setelah melepas pelukan mereka.
Naruto tersenyum tipis. "Tidak cukup baik."
Karin menaikkan sebelah alisnya heran. Tidak biasanya gadis ini berwajah muram didepannya.
"Bagaimana kalau mengobrol diruanganku saja?" tawarnya yang ditanggapi dengan anggukan Naruto.
==PenaBulu==
"Maaf ya berantakan." kata Karin.
Gadis berambut merah itu mendudukan dirinya di meja kerjanya yang berbentuk L. Salah satu sisinya terdapat sebuah komputer dengan layar monitor yang super besar sedang menampilkan gambar salah satu bintang pusat tata surya kita.
"Aku sedang sibuk dengan penelitianku untuk matahari. Aku belum sempat membereskannya."
"Apa kau benar-benar menyukai pekerjaan ini?" tanya Naruto. Kakinya melangkah membawanya berkeliling ruang kerja Karin.
"Gomen, seharusnya kita bisa tinggal bersama, tapi karena aku masuk sekolah penerbangan, jadi aku harus tinggal di asrama. Sekarang pun menjadi astronot merupakan pekerjaan super sibuk." sesal gadis berkacamata itu.
"Bukan itu maksudku," kata Naruto tajam. "Dulu, tou-san pernah berkata, impiannya adalah pergi keluar angkasa, dia hampir sama sepertimu. Tapi kebakaran itu menyudahi impiannya."
Naruto mendudukkan dirinya disebuah kursi didepan Karin. "Apa kau mau melanjutkan mimpi ayahku?" tanya Naruto serius. "Aku ingin menjadi seorang jurnalis seperti kaa-san."
Karin tersenyum. "Tentu saja. Tahun depan, aku akan melakukan penelitian ke mars selama kurang lebih 3 tahun." ujarnya berbinar-binar. "Aku sudah memenuhi semua syaratnya termasuk waktu terbang. Doakan aku Naruto!"
"Pasti."
Naruto dan Karin menolehkan kepalanya kearah pintu secara bersamaan. Terlihat seorang gadis berambut pirang pucat berdiri disana.
"Karin-san, aku akan menyerahkan laporan penelitian kita." ucap gadis itu diiringi senyuman yang diarahkan ke Naruto.
"Bagaimana hasilnya, Ino?"
"Negatif. Penelitian tim kita hasilnya negatif. Aku sudah bertanya dengan tim lain, dan mereka mempunyai hasil yang sama dengan kita. Jadi semua aman tak perlu diumumkan."
"Baiklah terimakasih."
Gadis berambut pirang pucat itu membungkukkan badannya lalu segera keluar.
"Jadi, Naruto. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Karin kembali fokus ke Naruto.
"Ini. Aku mendapatkan ini saat aku berumur 6 tahun." Naruto menyerahkan kertas berisi angka-angka itu.
"Lalu?" tanya Karin heran.
"Coba saja cari diinternet tentang tanggal 11 bulan 9 tahun 2001. Jumlah korban jiwa 2996."
Karin segera mengetikkan sesuai apa yang diperintahkan Naruto.
"Mungkin hanya kebetulan."
"Tidak, cobalah yang lain. Dan semua ini mengarah pada bencana-bencana yang menewaskan banyak korban jiwa." sanggah Naruto. "24 Maret 1999, di terowongan Mont Blanch sepanjang 7 mil terbakar selama 53 jam karena truk tepung. Tewas 39 orang."
"Yah, kebetulan." Karin mengangkat kedua bahunya.
"Apa kau berfikir di dunia ini kejadian demi kejadian hanya terjadi karena kebetulan?" tanya Naruto datar. "22 April 1992, Guadalajara, Mexico. Gas meledak, kebakaran selama 4 jam, korban tewas 206." ujar Naruto sembari jarinya menunjuk sederetan angka 220492206.
"Masih ada," lirihnya. "27 Maret 1977, dua jumbo jet Boeing 747-121 dan boeing 747-206B pukul 17:06 bertabrakan di Bandara Los Kodeos, Tenerife, Kepulauan Canary. Korban tewas 583 orang."
Karin menghela nafas. "Aku tahu berita kecelakaan yang ini. Didunia penerbangan, kecelakaan ini masih menjadi kecelakaan paling buruk dalam sejarah."
"17 Januari 1995, di Kobe. Gempa bumi, menewaskan 1000 orang." Naruto mengeluarkan tumpukan kertas berisi artikel bencana dan kecelakaan yang dia sebutkan. "Dan ini, 29 juli 1967, Kapal induk USS menuju Vietnam meledak. 135 orang tewas."
"Ah, satu lagi yang. Tsunami paling parah yang pernah ada. 26 Desember 2004, Aceh, Indonesia. Menewaskan 257.000 orang."
Karin membelalakan matanya, mulutnya pun sedikit terbuka. Semuanya yang disebutkan oleh Naruto telah tertulis.
"Apa sekarangkau penganut numerology?" tanya Karin lagi.
"Tentu saja tidak, tapi akan kutinggalkan kertas ini. Kuharap kau bisa membantuku, Karin. Masih ada beberapa tanggal yang belum terjadi." Naruto membungkukkan badannya. "Aku harus segera pulang. Sampai jumpa, Jaga dirimu."
Karin memandang kepergian Naruto dengan penuh tanda tanya. Masih ada beberapa bencana yang belum terjadi. Mata ruby itu memandang bergantian kertas artikel dan deretan tanggal itu.
Bagaimana mungkin?
.
.
"Naruto?" panggil Sasuke.
Hening.
Sasuke segera mengetuk pintu kamar Naruto.
Hening. Masih belum ada sahutan dari dalam.
Sasuke memutar knop pintu kamar Naruto yang tidak terkunci. Onyxnya mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan hingga mata itu menangkap sosok yang dicarinya sedang duduk di depan meja belajarnya.
Sasuke segera menghampirinya. Berdiri disebelah kiri Naruto memperhatikan apa yang Naruto kerjakan. Matanya menyipit heran karena Naruto bahkan tak menyadari dirinya ada disana.
Sasuke meraih sebuah kertas disakunya. Kertas yang tadinya akan dikembalikannya pada Naruto. Tulisan dikertas ini, sama seperti yang sedang Naruto tulis.
"Naruto?" panggil Sasuke lagi.
Hening, tak ada sahutan. Naruto masih terus menulis.
Sasuke segera menarik kertas dan pensil Naruto untuk menghentikan gadis ini. Tapi gagal, gadis ini malah akan menulis dengan kukunya dimeja sebelum kedua tangannya dicengkeram erat oleh Sasuke.
Onyx dan safir bertemu. Iris onyx yang menatap tajam tapi penuh dengan kekhawatiran. Sedangkan sang safir dengan sorot bingungnya.
"Apa aku yang melakukannya?" tanya Naruto lirih. Iris safirnya berkaca-kaca. "Kau pasti akan menganggapku lebih gila setelah ini." tambahnya. Gadis itu menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung kearah Sasuke.
Naruto menggelengkan kepalanya. Kedua tangan yang berada dicengkeraman Sasuke bergetar. "Sas? Bisa kau hentikan semua ini? Suruh mereka berhenti membisikkan sesuatu ditelingaku. Suruh mereka berhenti." lirih Naruto. Safirnya menatap kearah mata tajam Sasuke dengan pandangan sayu. Liquid bening pun sudah ikut turun membasahi pipi Naruto.
"Naruto?" Sasuke bahkan tak tahu harus berkata apa sekarang. Untuk mengucap satu nama itu saja rasanya tenggorokannya seperti tercekat.
"Aku takut. Suruh mereka berhenti, kumohon." lirih Naruto lagi.
Tak tahu harus berbuat apa lagi, Sasuke menjatuhkan dirinya hingga bertumpu pada lututnya. Rasanya kedua kakinya terasa lemas untuk menopang badannya. Dan dirinya pun tak tahu mengapa.
Dan sekali lagi, Sasuke terpaku menatap iris sewarna safir didepannya. Mata itu, terasa bagai magnet yang membuatnya tak berkutik. Iris mata yang jernih seolah seperti embun yang menetes dari dahan dan jatuh kedalam danau mengusik ketenangan air danau dengan riak airnya. Iris yang begitu indah dan seolah menghipnotis untuk terus memandangnya.
Tiba-tiba fikiran pemuda itu bercabang kemana-mana. Kejadian demi kejadian yang Naruto ucapkan berputar cepat. Sasuke kemudian mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sedikit pening. Tangannya segera merengkuh pundak Naruto dan membawa gadis itu kepelukannya, erat. Sangat erat, seolah pemuda itu takut jika teman kecilnya ini akan pergi dari hadapannya.
Naruto membenamkan wajahnya ke dada Sasuke membiarkan air matanya membasahi baju pemuda itu. Tangannya menutupi kedua telinganya berusaha menghentikan suara-suara yang terus mengusik pendengarannya. Sedangkan pemuda itu sendiri memejamkan matanya erat. Ada perasaan aneh yang kembali dirasakannya ketika mendengar isakan lirih Naruto. Perasaan apa ini?
Siapa yang tahu apa yang Sasuke rasakan?
.
.
.
Naruto memperhatikan Sasuke yang tengah mengutak-atik komputernya sekaligus mengamati angka-angka yang sudah dilingkarinya dipapan tulis.
Apa Sasuke sudah mengerti akan rahasia yang dimilikinya? Rahasia bencana-bencana yang terjadi. Ah rasanya tidak tepat jika disebut rahasia, bahkan Naruto berulang kali menunjukkan pada Sasuke. Atau Sasuke ikut gila bersamanya? Mungkinkah penyakit tidak waras itu menular?
Aku tidak gila, tapi kali ini aku akan benar-benar gila. Batin Naruto dalam hati.
Bagaimana dia tidak akan gila jika sedari tadi yang difikirannya hanya adegan berpelukan dengan Sasuke yang malah membuat pipinya bersemu merah? Padahal sebelumnya hubungan mereka benar-benar buruk.
"Naruto?"
Tubuh Naruto menegang, semua kegiatan konyolnya mulai dari berguling-guling di tempat tidur, menggelengkan kepalanya, menendang-nendang selimut pun terhenti.
"Kau...kenapa?" tanya Sasuke heran. Oh atau malah pemuda itu berfikir taraf tak waras Naruto ada pada tahap akut?
"Huh?" Naruto mengerjapkan matanya. "Eh, aku...hanya bosan." jawabnya bohong.
Sasuke menautkan alisnya. "Hn." singkat, padat, dan tak jelas, ciri jawaban laki-laki Uchiha.
Pemuda bersurai raven itu membawa dua buah kertas dan mendudukkan dirinya diatas kasur milik Naruto yang langsung berhadapan dengan gadis bersurai pirang panjang itu.
"Setelah ku amati, ada perbedaan ditanggal terakhir dari kedua kertas ini." ujar Sasuke yang mengamati kedua tanggal yang tertulis dikedua kertas tersebut.
Naruto dengan fokus ikut mengamati, yeah mengamati wajah tampan sang Uchiha.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke. Wajahnya mendongak menatap Naruto.
Iris safir itu melebar, dan dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya.
Tangan berkulit tan itu menarik kedua kertas itu, mengangkatnya sebatas muka dan bertingkah seolah sedang mengamati, padahal yang dilakukannya sebenarnya hanyalah menutupi rona merah diwajahnya.
Pemuda itu mengernyit heran, lalu tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Coba kau lihat, disini tertulis 190 sedangkan kertas yang baru saja kau tulis bertuliskan 191014 tanpa diikuti jumlah korban." ujar Sasuke menjelaskan ulang kalimatnya tadi. "Kejadian terakhir terjadi 3 bulan lagi."
"Kau mengingatkan ku pada nenekku," lirih Sasuke. Pemuda itu membaringkan dirinya diranjang Naruto. Sebelah tangannya menutupi matanya. "Dan tanggal dibencana terakhir semakin mengingatkanku padanya,"
"Aku suka sekali bermain dirumahnya. Tapi, semua orang menganggapnya gila karena selalu membicarakan tentang bencana dan kematian, sama sepertimu. Aku tidak tahu kenapa ada orang yang mengetahui rahasia kematian," cerita Sasuke. "Nenekku selalu suka menatap matahari, berdiam diri dan dia akan menangis tiap kali berkata tentang kematianku." tambahnya.
"Kematianmu?" ulang Naruto.
"Ya, nenekku selalu berkata 19 Oktober 2014 adalah hari kematianku." jawabnya.
"Uchiha Naori." lirih Naruto. "Apa dia nenekmu? Aku mendapatkan tulisan ini darinya."
Sasuke membuka matanya. Pandangannya sedikit kabur. "Dia memang nenekku. Aku benar-benar keturunan lurus darinya. Kenapa malah kau yang mewarisi keanehannya?" tanya Sasuke datar. "Kapan bencana terdekat akan terjadi?"
"3 Agustus," jawab Naruto cepat. "Selanjutnya 20 Agustus, 24 September, dan terakhir 19 Oktober." tambahnya.
"Bagaimana kalau kita biarkan semua terjadi apa adanya Naruto?"
"Apa maksudmu?"
Sasuke mendudukkan dirinya dan menghela nafas. "Lupakan tentang kertas-kertas itu. Jangan berusaha menghentikan kejadian ini lagi."
"Tapi..." Naruto menghela nafasnya ketika melihat tatapan serius Sasuke. "Aku tidak janji." jawabnya sambil mengalihkan pandangannya.
.
.
.
.
Hari-hari berlalu, hubungan Sasuke dengan Naruto tak lagi buruk seperti dulu lagi. Naruto pun sedikit demi sedikit sudah bisa menerima Tenten yang terus ada disekelilingnya, berusaha menjadi temannya, walaupun tidak sepenuhnya.
"Hey lihat, ternyata si Namikaze itu manis juga ya kalau tersenyum." ujar pemuda bertato segitiga dipipinya. "Bukankah begitu, Sas?"
"Hoho, oke oke, Namikaze hanya milik Uchiha seorang." ujar Kiba cepat ketika melihat tatapan tajam Sasuke mengarah padanya. Tapi berkata kalimat ini pun tak menyelamatkan dirinya, pasalnya Sasuke malah semakin menatap Kiba tajam.
"Tapi Sas, jika kau tidak berniat menjadikannya kekasihmu, biarkan dia jadi kekasihku." canda Kiba yang langsung mendapat 4 deathglare dari Sasuke, Neji, Gaara dan Shikamaru yang baru saja bangun tidur.
"Bukankah gosipnya dia itu tidak waras? Kau serius ingin menjadikannya kekasih?" tanya Neji.
"Jangan bicara yang tidak-tidak Hyuuga. Kalau dia tidak waras, dia tidak akan ada di sini." sinis Sasuke lalu pergi meninggalkan mereka.
"Bukankah dulu Sasuke membenci gadis itu?" heran Kiba. "Kenapa sekarang dia malah membelanya?"
"Mungkin sekarang dia menyukainya." kata Shikamaru yang langsung mendapat tatapan heran dari ketiganya.
Yeah siapa yang tahu isi hati manusia? Isi hati manusia mempunyai ratusan jawaban yang tak bisa kau duga.
==PenaBulu==
Naruto berjalan dikoridor sekolah yang cukup sepi. Dirinya butuh ketenangan, gadis itu masih belum bisa menerima kehadiran Tenten sepenuhnya, juga belum bisa menerima perubahan sikap Sasuke walaupun Naruto sangat bersyukur. Tapi ini semua, terasa sangat aneh.
Gadis itu sudah terbiasa sendiri, sudah terbiasa dengan ucapan tajam Sasuke. Tapi sekarang, semua menghilang, rasanya malah ada suatu yang janggal.
Naruto mendudukkan diri disebuah bangku yang ada diatap sekolah, menundukkan kepalanya menatap keujung sepatunya.
"Kenapa dunia ini sulit sekali ditebak?" gumam Naruto.
"Karena dunia ini bukan milikmu seorang." terdengar suara baritone dari arah sampingnya.
Mata Naruto sedikit melebar mendapati Sasuke sudah mendudukkan dirinya tepat disampingnya.
"Jangan pirkan tentang kertas-kertas itu lagi, dobe." ujar pemuda itu dengan wajah datar dan mata terpejam menyembunyikan mata hitam tajam miliknya.
Naruto menghela nafasnya. Memangnya kau tahu apa yang kufikirkan? Batin Naruto.
"Sas – Sasuke?" panggil Naruto terbata. Pipinya bersemu merah, matanya kembali melebar. Uchiha Sasuke memang sulit ditebak.
Sementara Naruto tengah mencoba menetralkan keterkejutannya, dan berusaha untuk tidak tersipu, Sasuke dengan enaknya terlelap dibahu kiri gadis pirang itu.
==PenaBulu==
Naruto membanting mouse komputernya. Dengan cekatan dia memeriksa kertas bencana itu lagi. Sudah cukup 2 bencana di bulan agustus dia berdiam diri. Yang ini dia harus pergi. Masa bodoh dengan Sasuke. Pemuda itu menjadi urusan belakangan.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke datar saat melihat Naruto sedang terburu-buru. "Kau tidak boleh pergi, Naruto."
"Jangan menghalangiku, aku sudah cukup untuk diam. Kumohon sekali ini biarkan aku pergi."
"Tidak!"
"Iya!"
"Kubilang tidak ya tidak!"
"Tapi aku hanya menerima jawaban iya!"
Sasuke menghela nafas, ternyata Naruto bisa sekeras kepala ini. "Baiklah, tunggu sebentar, aku ikut."
"Kau bercanda?"
"Hn."
.
.
.
Sasuke berjalan angkuh dengan dagu terangkat dengan tangan yang ditarik oleh Naruto.
"Hey, apa kau tahu kecelakaan macam apa yang akan terjadi?" bisik Sasuke pelan.
"Tidak."
"Dasar dobe, bagaimana kau bisa menghentikan kecelakaan ini?"
"Yak teme, kecilkan suaramu." protes Naruto. Gadis itu tak ingin memancing perhatian orang-orang distasiun ini.
Naruto dan Sasuke bersandar pada sebuah dinding, gadis itu masih memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi.
"Di stasiun kereta, kemungkinan apa yang akan terjadi?" lirih Naruto.
Sasuke melirik sekilas. Onyxnya menyisir stasiun itu kalau-kalau ada yang mencurigakan.
"Gempa bumi mungkin terjadi," balas Sasuke datar. "Mati listrik bisa terjadi, keterlambatan kereta juga bisa terjadi."
"Yeah itu tidak lucu Uchiha. Seandainya itu, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan?"
"Tidak ada. Kau tidak bisa melawan kehendak alam, Naruto."
Gadis itu menghela nafas berat. Sekali lagi, semua diluar kendalinya.
Hening.
Stasiun ini terasa hening, tapi disertai dengan aura yang mencekam membuatnya tak nyaman.
Secara bersamaan, Sasuke dan Naruto mendongak ketika mendengar jeritan melengking dan melihat orang-orang didepannya berlarian. Kedua remaja itu mulai merasakan getaran dilantai yang dipijaknya. Telinganya dihadiahi musik tangisan, jeritan, dan bunyi desingan gesekan suatu benda. Nyaring dan memekakkan telinga.
Tanpa berfikir panjang, Naruto berlari kedepan kearah kerumunan terjadi.
"Hey, Naruto!"
Gadis itupun tak mengindahkan teriakan Sasuke dibelakangnya.
"Oh tidak." gumam Naruto lirih.
Ada sebuah gerbong kereta dari kejauhan terguling dan melaju kearah stasiun mereka. Juga terdapat percikan api akibat gesekan gerbong dengan rel kereta. Suaranya pun juga semakin nyaring mengingat gerbong itu melaju kearah stasiun semakin dekat.
Naruto segera membantu orang-orang yang akan keluar dari kereta menyelamatkan diri. Walaupun usahanya sia-sia karena yang ada tubuhnya malah terdorong kesana-kemari. Ketika terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan, seseorang dengan tak sadar pasti akan menyelamatkan dirinya sendiri, bukan?
Kalau boleh dikata, Naruto pun ikut panik sebenarnya. Bagaimana jika dirinya yang terlindas gerbong itu? Bahkan sekarang gerbong kereta itu sudah memasuki stasiun sayap timur, menabrak beberapa dinding menyebabkan bunyi debuman keras juga jeritan ketakutan. Bahkan gerbong yang terguling itupun sempat menabrak gerbong paling belakang kereta yang akan segera berangkat ini. Kereta saja rusak parah, bagaimana dengan tubuhnya jika terhantam kereta itu?
Tangan Naruto gemetar menyaksikan orang-orang terlindas gerbong menciptakan cipratan-cipratan cairan berwarna merah pekat yang kental dan berbau anyir. Tak tertinggal juga terlemparnya beberapa bagian tubuh entah milik siapa.
Tubuh Naruto terdorong kedepan masuk kedalam gerbong kereta yang sempat akan berangkat sebelum gerbong dari arah lainnya terguling.
Mata beriris safir itu terpejam rapat, jika dia berakhir disini, jika ini memang takdirnya, setidaknya dia sudah berusaha menyelamatkan orang lain. Jika dia termasuk korban, makan gadis pirang itu akan menerimanya.
Gadis bersurai pirang kini membuka matanya setelah goncangan dalam kereta ini berhenti juga jeritan dan bunyi debuman itu berhenti.
"Sasuke?" lirih Naruto saat mendapati Sasuke tengah memeluknya.
Naruto menolehkan pandangannya kearah kiri, ada seorang ibu muda dengan bayi digendongannya. Sasuke menyelamatkan mereka.
"Bodoh, bagaimana jika kau ikut terluka?" bentak Sasuke. Onyx pemuda itu sudah menatapnya tajam.
Sasuke melepaskan pelukan mereka lalu memapah seorang ibu muda yang masih nampak shock untuk segera keluar dari kereta.
Tubuh Naruto bergetar hebat. Rasanya lututnya kembali lemas. Pemandangan ini, mengingatkannya pada kejadian lalu, darah, bau anyir, debu, tangisan, potongan tubuh, atau malah terdapat tubuh yang sudah hancur.
Naruto mencengkram jaket belakang Sasuke erat. Ketakutan ini muncul lagi.
Tangan Naruto bergetar ketika Sasuke menolong seorang pria paruh baya yang sudah terluka cukup parah dibagian kepala. Wajahnya pun sudah berlumuran darah hingga bagian leher juga bajunya. Atau ketika Sasuke tengah menolong seorang gadis yang kini pipi bagian kanannya sudah tak berdaging. Deretan giginya yang kecil bahkan terlihat. Atau saat Sasuke menggendong seorang wanita yang sudah terluka parah dibagian punggung juga kaki. Dengan cekatan, Sasuke membawanya keambulan.
Naruto memandang Sasuke yang terus bolak balik membantu korban yang terluka. Rasanya badannya kembali kaku. Telinganya berdengung, sedikit demi sedikit bisikan-bisikan ini kembali. Telinganya bahkan mendengar panggilan namanya dari setiap sudut stasiun membuat kepalanya mulai terasa pening, perutnya terasa diaduk-aduk, sekelilingnya terasa berputar-putar.
'Naruto.'
Gadis itu menolehkan pandangannya kearah kanan.
'Naruto.'
Kembali bisikan itu terdengar. Naruto dengan cepat menolehkan kepalanya kearah kiri.
Telapak kakinya berputar sedikit membuatnya menghadap kearah belakang.
'Naruto.'
Kedua kakinya terasa lemas begitu saja. Dengan susah payah, Naruto menggerakkan kaki kanannya untuk melangkah kebelakang.
Semuanya terasa berputar dengan cepat.
Iris safir itu sayu, pandangannya kian memburam. Dirinya seolah tertarik menuju dimensi lain yang gelap dan berputar cepat juga dapat dirasakan. Dalam keadaan seperti ini, gadis itu melihat orang-orang berlarian dijalan, melihat sebuah pemandangan mirip aurora berwarna jingga dilangit konoha. Entah ini hanya fikirannya atau memang terjadi diluar sana. Yang pasti Naruto sekarang merasa sekelilingnya gelap dan berputar lebih cepat dari sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Suara baritone tepat dibelakang Naruto sukses membuat gadis itu tersentak kaget dan kembali pada kesadarannya.
Gadis itu kini bersandar pada dada bidang Sasuke, tangan pemuda itu melingkar dipinggang Naruto menahan agar gadis itu tidak jatuh.
Naruto menggeleng lemah, wajahnya sekarang ini benar-benar pucat.
"Kau yakin?" tanya Sasuke lagi yang hanya dibalas dengan anggukan Naruto.
Sasuke membantu Naruto berjalan keluar stasiun. Ambulan bahkan sudah berjajar rapi dengan orang-orang pemburu berita yang kian mendesak untuk masuk.
.
.
.
Naruto terduduk menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon besar di sebuah taman yang lumayan sepi. Matanya memandang kearah pemuda bersurai raven yang berdiri dipinggir danau memandang kearah langit barat yang sudah berwarna kemerahan bercampur orange. Rambut sampingnya yang memanjang kini tertiup angin sepoi menampilkan wajah tampannya.
Iris safir itu menatap intens pemuda itu. Ada rasa penasaran yang menyeruak dari dirinya ketika diperlihatkan pemandangan yang tak biasa. Mata sehitam batu onyx yang biasanya menyorot tajam kini menatap sendu kearah matahari.
"Sas?" panggil Naruto lirih.
Pemuda itu menolehkan kepalanya sedikit lalu menghela nafas ketika melihat lambaian tangan Naruto yang mengisyaratkan dirinya untuk mendekat kearah Naruto.
"Ada apa?" tanyanya setelah berjongkok didepan Naruto.
"Aku," Naruto menarik nafasnya. "Sudah menemukan jumlah korban bencana selanjutnya." tambahnya.
Rahang Sasuke mengeras, Naruto bisa melihat itu. "Berapa orang?"
"33 orang." ujarnya lalu menyerahkan selembar kertas. "Semalam secara tidak sadar lagi, aku menyelesaikannya."
Sasuke menatap tanggal bencana terakhir. Rahangnya semakin mengeras, matanya berkilat tajam. Benarkah tanggal itu akan menjadi tanggal kematiannya?
"Jumlah korbannya tertulis dengan dua huruf E yang terbalik." kata Naruto. Gadis itu menunjuka tanggal bencana terakhir terjadi. "Atau malah itu inisial nama orang?"
"Jika ini insial, seharusnya US, orang itu bilang, ini tanggal kematianku." balas Sasuke datar. "Lupakan tentang ini." ujarnya lalu melempar kertas itu kesembarang arah.
"Kau tidak akan mati disitu, aku akan membantu menghentikannya. Aku tidak ingin itu benar-benar terjadi."
"KAU KIRA AKU MENGINGINKANNYA?" bentak Sasuke yang langsung membuat Naruto terdiam.
Sasuke membenamkan wajahnya diatas lututnya terlihat sangat tertekan.
"Kau kira aku ingin mati saat itu? Kau fikir menghentikan semua itu mudah? Pernahkah kau berfikir seperti apa takdir kematianmu setelah melihat kejadian-kejadian ini?" lirih Sasuke.
"Huh?" lirih Naruto. Dengan taku-takut, Naruto menyentuh pundak Sasuke. "Aku minta maaf, aku tidak pernah memi–"
Ucapan Naruto terpotong begitu saja ketika dengan cepat Sasuke merengkuhnya masuk kedalam dekapan erat sang bungsu Uchiha.
"Aku tidak ingin mati di kejadian terakhir. Ada sesuatu yang masih harus kupastikan, jadi aku tidak akan mati disana." bisik Sasuke meyakinkan Naruto. Bahkan tak ada nada keraguan di ucapan Sasuke.
"Kalau begitu aku akan membantumu." balas Naruto lalu melepaskan pelukan Sasuke. Gadis itu melempar senyum manisnya lalu mendudukkan dirinya disamping Naruto.
Naruto mengalihkan pandangannya kearah samping ketika dirinya merasa ditatap intens oleh Sasuke. Tatapan itu yang kini membuat pipi Naruto bersemu merah untuk kesekian kali. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat, membuatnya merasakan rasa bahagia yang membuncah dari dalam dirinya. Perasaan apa ini? Kenapa begitu membingungkan dan membuatnya selalu merasa bahagia dan terbang tinggi seolah lebih tinggi dari awan. Seperti terbang keluar dari atmosfir menuju langit sejauh 50 mil. Kenapa ada rasa yang seperti ini?
Apa sekarang aku benar-benar pada status tidak waras? batin Naruto dalam hati.
.
.
.
.
.
TBC
Gimana? Makin aneh ya? Lol yeah tapi beginilah adanya chapter 2 xD Pendek ya? Heung semoga next chapter bisa lebih panjang xD Kritik dan Saran ditunggu. Terimakasih yang sudah review, fav, dan follow. Banyak yg tanya mirip sama film, di chapter 1 kmrn saya sudah mengatakan memang dibikin mirip. Tapi karena bencana di Film tidak disebutkan dengan jelas maka itu bencana yang aku cari sendiri, bukan bohongan, tapi itu nyata. Sampai jumpa next chapter :)
Thanks to : Inmagination | Namikaze Eiji :3 | Secret | Sam Hatake ajja | Hime | akarui kurai shiko deli-chan | Fap-kun yang hampir taubat :3 | Kim Seo Ji | hanazawa kay | Luviz Hayate | Hyull | Darkshadow | Akane Uzumaki Faris | Aiko Michishige | Annisa ajja 39 |Sivanya Anggarada.
Salam
Pena
