Min Yoongi: 32 Tahun

Kim Namjoon: 27 tahun

Jung Hoseok: 25 tahun

Kim Seokjin: 22 tahun

Kim Taehyung: 20 Tahun

Park Jimin: 18 tahun

Jeon Jungkook: 17 tahun


HIDDEN

Cast: Jin, Taehyung, Namjoon, BTS

Pairings: Taejin, Namjin, Yoonmin, vkook

Rate: T+

Warnings: Typo, yaoi

.

.

.

.

Chapter 1

Orti-Ezt merupakan sebuah negeri indah yang luas di Bumi belahan Timur. Matahari pagi menyinari negeri subur itu dengan sinar yang cerah. Menampakan rumput hijau dan hutan hutan lebat Orti-Ezt yang asri. Salah satu keunggulan negeri ini adalah hasil sumber daya alamnya yang luar biasa.

Jika malam hari, bulan tampak sangat terang dengan taburan bintang bahkan fenomena aurora yang cantik. Istana Orti-Ezt tampak sangat memukau dimalam hari dengan latar belakang pemandangan langit malam yang mempesona.

Indah

Namun tak seindah sang Raja saat ini. Kim Seokjin.

Kau akan menjadi penerus kerajaan, Kim Seokjin. Itu adalah takdirmu.

Seokjin masih ingat betul bagaimana ayahnya mengatakan hal tersebut pada Seokjin beberapa tahun lalu. Ia bahkan masih hafal intonasi yang melantun dari sang Raja saat mengucapkan kalimat itu. suara yang berat, tenang dan tegas. Sebuah jawaban dari banyaknya pertanyaan di benak Seokjin selama bertahun tahun.

Ia tak pernah tau mengapa hanya dirinya yang diwajibkan untuk duduk berjam jam di depan kitab besar. Menghafal segala aturan kerajaan dan politik negaranya. Ditambah setiap sore hari Seokjin akan melanjutkan kegiatannya dengan latihan berkuda, memanah, berburu, teknik pedang dan lainnya. Sementara adiknya Jungkook yang masih berumur 10 tahun akan berdiri memandangi sang kakak dengan tatapan penasaran.

Seokjin, yang saat itu berusia 15 tahun, merasa hidupnya berbeda dengan Jungkook. Adiknya bisa melakukan apapun yang ia mau. Jungkook tak harus disibukan dengan kegiatan belajar yang sangat menjenuhkan. Jungkook hanya akan sibuk bermain ayunan yang menjuntai dari sebuh pohon besar di halaman belakang. Saat itu, Seokjin mengira itu semua semata mata hanya karena Jungkook masih sangat kecil. Jika nanti ia remaja, Seokjin yakin Jungkook juga akan mendapatkan pelatihan yang sama.

Namun Seokjin salah. Setelah ia diangkat menjadi Raja, Jungkook tetap terlihat begitu bebas. Memang, pangeran itu masih melaksanakan tugasnya untuk kegiatan berburu, strategi perang dan beberapa kelas yang dulu dipelajari Seokjin. Tapi tetap saja, Jungkook bagaikan seekor burung yang bisa terbang kemanapun yang ia mau.

Sementara Seokjin? Sangat berbeda jauh.

Seokjin tau, hidupnya merupakan sebuah kepastian yang absolut. Setiap detik dalam umurnya adalah keteraturan dan norma tegas yang sudah mendarah daging. Ia sudah disiapkan dan ditetapkan sebagai penerus kerajaan Orti-Ezt yang agung. Sebuah jalan hidup lurus tanpa tikungan satu pun. Yang tentu saja, tak akan mungkin memberikannya kesempatan untuk terbang kesana kemari seperti Jungkook.

Dan Seokjin tahu benar soal itu.

Seokjin tak pernah mengeluh dengan hidupnya. Memiliki orang tua yang memberikan kasih sayang berlimpah, hidup dikeluarga kerajaan, serta seorang adik yang menggemaskan-meskipun jarang sekali Seokjin bisa menghabiskan waktu dengan nya-di cintai oleh masyarakatnya dan memiliki pelayan yang patuh. Semuanya terlihat sempurna.

Tapi tak bisa Seokjin pungkiri, hatinya merasa kurang. Ada sebuah kepingan hilang yang membuat segala hal yang ia miliki tak seindah kelihatannya. Membuat Raja muda itu kebingungan. Dan jika kau bertanya, apa yang Seokjin butuhkan?

Ia sendiri pun tidak tau.

Sampai akhirnya seorang pria asing, datang dan melengkapi lubang dihatinya. Sebuah kepingan yang selama ini ia nantikan.

.

.

.

.

.

Seorang Kim Taehyung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

5 bulan kemudian

Pagi itu sangat cerah di Orti-Ezt. Jungkook sedang berjalan menuju Halgaar, bangunan utama Istana Orti-ezt, dimana pusat pemerintahan dan tempat Raja berada. Ia sedang mencari Jimin dan Taehyung sebenarnya. Jungkook sedikit bosan dan ingin bersenang senang.

Saat Pangeran Orti-Ezt itu sibuk berjalan, tiba tiba matanya menatap sesosok pria yang tak asing. pria ber atribut lengkap yang sangat ia kenali

Buru buru Jungkook berlari menghampiri pria itu, mencoba mensejajarkan langkahnya. "bagaimana?!" tanya Jungkook tiba tiba bahkan tanpa mengucapkan salam lebih dulu. Pria itu, Hoseok, menatap pangeran disampingnya dengan alis bertautan.

"bagaimana apa nya?"

"ayolah kau tau maksudku."

Hoseok terkekeh. Ia menghentikan langkahnya, membuat yang paling muda juga ikut ikutan berhenti.

"mohon maaf, tapi tidak ada hal yang bisa kusampaikan padamu Pangeran." Kata Hoseok. Jungkook yang mendengar itu bersiap protes namun si panglima perang mendahuluinya.

"sampai jumpa lagi Jungkook" kata Hoseok sambil menepuk bahu Jungkook singkat dan segera menuju Halgaar dengan langkah sedikit terburu.

.

.

.

Pengawal yang menjaga di depan pintu segera membukakan pintu dan mempersilahkan Hoseok masuk ke aula itu. aula dimana Raja duduk disinggasananya.

Hosoek bisa melihat dengan jelas singgasana Raja yang megah dengan penjagaan dikanan kiri. Seorang pria bersurai hitam legam dengan sebuah mahkota terpasang sempuna dikepalanya sedang duduk diatas singgasana. Ia memandang lurus ke sebuah jendela besar di sisi kanan aula. Sibuk memandangi pemandangan diluar dengan tatapan seribu arti.

Ditemani sang penasihat yang berdiri tak jauh dari singgasana Raja.

Baru saja Hoseok masuk ke aula, ia sudah bisa merasakan aura Rajanya yang begitu kuat. Aura tegas yang menenangkan. Sesosok pemimpin dan juga pendamping. Katakan saja, Seokjin memiliki aura seorang Raja dan Ratu secara bersamaan.

Saat mendengar langkah Hoseok yang sudah mulai mendekat, Seokjin mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia menatap Hoseok yang sekarang sudah berlutut di depannya.

"Jung Hoseok, menghadap baginda Raja."

"berdirilah."

"bagaimana keadaan disana Hoseok?" tanya Sang Raja saat Hoseok sudah berdiri, meskipun kepalanya masih tertunduk hormat.

"aku baru mendapat kabar, belum ada penyerangan disana, namun tentara kita masih bersiap untuk kemungkinan apapun."

"syukurlah kalau begitu."

"Hoseok, kau bisa pergi sekarang. Katakan pada pasukan mu untuk terus berhati hati. Dan jangan menyerang lebih dulu."

"Laksanakan, Yang Mulia." Dan Hoseok pun membungkuk singkat lalu pamit pergi dari ruangan itu.

"tinggalkan aku dan Namjoon berdua." Titah Seokjin tegas pada seluruh pesuruh yang ada diruangan.

"tidak kah kau merasa ini aneh Namjoon-ah? Tiba tiba saja pasukan Erlox berencana menyerang. Apakah menurutmu ini karena hasutan?" tanya Seokjin dengan raut sedikit panik saat mereka sudah berdua diruangan itu.

"Baginda Ra-"

"berhenti memanggilku seperti itu." tandas Seokjin cepat lebih terdengar seperti rengekan. Namjoon tersenyum.

"Seokjin-ah." Lanjutnya lagi. Namjoon dan Seokjin sudah sangat dekat dari kecil. Keluarga Namjoon sudah mengabdi pada keluarga Istana dari dulu. Sebab itu, ia menganggap Namjoon sudah seperti kakanya sendiri.

"kurasa ini bukan karena hasutan. Negeri Erlox merupakan sebuah negeri yang kuat. Melihat perkembangan Orti-Ezt sekarang, aku yakin, Erlox hanya ingin mempertahankan kedudukan dominannya di bumi timur. Mengingat, kita adalah saingan terberatnya sekarang."

"tapi Erlox dan Orti-Ezt menjalin hubungan yang baik dari dulu."

"berbeda raja, berbeda juga pemerintahannya, Seokjin. Masyarakat Erlox takut jika suatu saat Orti-ezt semakin besar dan mulai menjajah mereka. mengingat letak geografis Orti-ezt dan Erlox berdekatan, mereka yakin jika Orti-ezt merencanakan jajahan, Erlox pasti negeri pertama yang diserang"

Seokjin menghembuskan nafasnya kasar. "aku tak percaya mereka berfikir sekolot itu."

"tenang lah Seokjin-ah, kau memiliki pasukan yang kuat dan pelayan yang patuh. Semua akan baik baik saja" kata Namjoon mencoba menenangkan Seokjin sambil tersenyum, menunjukan dimple nya yang khas.

.

.

.

.

.

.

.

Min Yoongi, ahli hukum Kerajaan yang menjadi kepala penegak aturan di kerajaan Orti-ezt merupakan orang paling tertutup. Yoongi jarang membuka suara. Ia hanya akan berbicara jika diperlukan, Karena menurutnya, apa yang kau ucapkan mencerminkan dirimu. Yoongi bukan tipikal orang yang senang berkoar koar meskipun ia memiliki wewenang untuk mengkomentari segara hal mengenai Kerajaan.

Yoongi hanya akan memberikan kata kata nya yang tegas, jelas dan nyaris kejam, jika memang situasi diharuskan dan Raja meminta. Menurutnya, hukum dan aturan adalah tindakan. Orang lebih baik bertindak dan membuktikan ketimbang membuang nafasnya untuk berceloteh.

Yoongi tidak begitu suka orang yang cerewet dan berisik, contohnya seperti seorang pria yang ia temui sedang bersembunyi dibalik patung di depannya ini. Di dekat lorong penghubung Halgaar dan Prinx tower, menara tempat para pangeran.

"Tuan muda Jimin? Apa yang anda lakukan disini?" tegur Yoongi dengan dahi berkerut. Sementara si lawan bicara yang sedang mengintip dibalik patung sedikit tersentak begitu ada suara yang menginterupsi kegiatannya.

Ia menoleh dengan gusar, namun rautnya tiba tiba menjadi sumringah begitu melihat siapa lelaki yang ada dihadapannya sekarang

"ah. Paman Min!" sahut Jimin. ternyata, suara yang keluar lebih kencang dari yang ia kira. Yoongi bahkan sempat berjengit karena mendengar suara nyaring itu yang sedikit mengganggu indra pendengarannya. Buru buru Jimin mengatupkan mulutnya lagi dan kembali mengedarkan pandangan. Takut takut suaranya terdengar.

Setelah memastikan tidak ada siapa siapa disana, Jimin kembali menatap Yoongi yang masih memperhatikan Jimin dengan ekspresi yang tidak berubah.

"aku sedang bersembunyi dari Jungkook. Kau sendiri sedang apa?" katanya setengah berbisik sambil tersenyum. Yoongi kembali mengerutkan dahinya. Antara tidak mengerti apa yang si cerewet ini bilang, atau kalimat terakhir 'Kau sendiri sedang apa' yang terdengar tidak etis diucapkan untuk seorang bangsawan 18 tahun kepada pesuruh Kerajaan yang berusia nyaris 2 kali lipat dari umurnya.

"dari Pangeran Jungkook?" ulang Yoongi. Jimin hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya itu. ia tampak speerti seorang bocah yang sedang asik bermain petak umpet. Dan memang sepertinya mereka sedang bermain permainan anak kecil itu.

Sungguh Yoongi tak paham dengan pikiran anak keluarga Park ini.

Keheningan sempat menyelimuti mereka beberapa detik sampai akhirnya sebuah teriakan mengagetkan mereka. Jimin bahkan sempat terlonjak,

"YAK! KAU DISANA RUPANYA!"

ia menoleh cepat cepat dan mendapati Jungkook sedang berlari dengan kecepatan penuh kearahnya. Sadar dengan serangan yang semakin mendekat Jimin buru buru memutuskan untuk pergi dari sana

"sampai bertemu lagi, Yoongi-hyung." Katanya lalu segera melesat pergi.

"JANGAN LARI!" seru Jungkook sambil terus mengejar Jimin, melewati Yoongi tanpa menoleh sedikitpun. Yoongi hanya bisa geleng geleng kepala melihat kejadian itu, dan tentu saja Membungkuk hormat saat pangeran Jungkook melewatinya begitu saja.

Yoongi sempat tertegun sebentar saat kalimat Jimin terakhir berdengung di benaknya.

Sampai bertemu lagi, Yoongi-hyung.

.

.

.

.

Jangan salahkan Jungkook dan Jimin yang malah sibuk kejar kejaran di lingkungan istana. Pertama, memang mereka berdua terkadang bertingkah seperti anak kecil, kedua mereka kurang kerjaan dan yang ketiga, tadi Jimin dengan sengaja menyambit Jungkook dengan sebuah kerikil tepat di keningnya.

Dan itu cukup sakit.

Sedang sibuk sibuknya mengejar Jimin untuk membalas dendamnya, tiba tiba mereka menabrak seseorang di ujung lorong. Keduanya sempat terengah, mengatur nafas mereka dan memandang lebih jelas siapa yang baru saja mereka tabrak.

"sungguh aku tak percaya kalian sudah berumur 17 dan 18 tahun." Kata Hoseok dengan nada sarkastik sambil berkacak pinggang

"Paman Jung!" Seru Jimin yang anehnya malah tampak tak bersalah sama sekali.

"hai paman, baru selesai bertemu dengan Seokjin-hyung?"

"ya Jungkook. Aku sudah selesai bertemu dengannya."

"baiklah, tidak ada alasan lagi. Sekarang ayo ceritakan bagaimana penyerangan di benteng Kal-ezt. Aku tak sabar mendengarnya." Tanya Jungkook antusias. Kal-ezt adalah dinding terluar Orti-ezt. Perbatasan antara negeri mereka dengan negeri tetangga, Erlox. Kabar berhembus bahwa pasukan Erlox akan menyerang mereka. maka dari itu, Hoseok sebagai panglima perang segera pergi kesana, mengingat Erlox merupakan negeri yang kuat, bisa dipastikan akan menjadi bencana jika mereka benar benar menyerang.

"iya paman. Ku dengar disana sangat ricuh." Tambah Jimin sok tau. darimana ia bisa mengambil kesimpulan itu sementara dia tidak pernah keluar Istana Orti-Ezt. Paling paling hanya sampai ke benteng kedua dari dalam. Oh iya, Orti-Ezt punya 7 Benteng pertahanan, jika kalian ingin tau.

"maafkan aku yang mulia pangeran Jungkook, yang terhormat tuan muda Jimin. Tapi disana tidak ada apa apa, atau kejadian apapun." Kata Hoseok dengan penekanan di bagian 'Pangeran' dan 'Tuan Muda' mengingatkan dirinya agar tidak kehilangan emosi saat menghadapi kedua remaja yang sok tahu itu.

"ah sayang sekali! aku tak sabar ikut pasukanmu" Hoseok mengangkat sebelah alisnya.

"apa aku baru saja mendengar kau menginginkan negerimu sendiri berperang, Pangeran?" Jungkook membulatkan matanya.

"ah bukan begitu!" tandasnya cepat cepat. Bagaimana bisa seorang pangeran menginginkan negerinya diserang?

Melihat ekspresi Jungkook, Jimin malah tersenyum meledek. "begitukah?" katanya ikut ikutan. Jungkook melempar pandangan malas pada saudaranya itu lalu kembali menatap Hoseok yang masih memandangnya dengan tatapan selidik yang meledek.

"aku hanya ingin turun langsung Paman. Buat apa aku belajar strategi perang jika tidak melakukan praktiknya?" kata Jungkook bersungguh sungguh. Ia tidak pernah suka pembelajaran mengenai politik, sejarah atau hal hal seperti itu. meskipun tak seberat Seokjin-karena ia bukan Raja-tapi tetap saja membaca bergulung gulung perkamen membuat kepalanya sakit.

yang ia suka hanya saat dimana kelas strategi perang, memanah, atau apapun yang berhubungan dengan kegiatan fisik.

Hoseok tertawa pelan lalu tersenyum.

"kalau begitu, teruslah belajar sampai upacara pendewasaan dirimu." Jungkook baru 17 tahun, dan di Orti-Ezt seseorang dikatakan dewasa jika mereka sudah menginjak umur 18 tahun. Yang artinya, jika umurmu masih dibawah itu, jangan harap kau boleh menembus benteng terakhir apalagi ikut berperang.

Jungkook mendengus sebal saat mendengar hal itu, sementara Jimin malah tertawa meledek.

"dan anda tuan Jimin," Hoseok berpaling pada Jimin, menghentikan tawanya saat itu juga. "sebaiknya kau perdalami kembali teknik memanahmu, kau sudah 18 tahun dan kemampuanmu lebih payah dari Jungkook" mendengar sindiran dari Hoseok, sekarang gantian Jungkook yang tertawa dan Jimin yang mendengus sebal.

"baiklah tuan tuan sekalian, aku permisi." Kata Hoseok lalu meninggalkan pangeran dan anak keluarga bangsawan itu. Hoseok bukan orang yang menyebalkan. Tidak. Pribadinya menyenangkan meskipun ia adalah Panglima perang (dengan usia yang sangat muda). kejam di medan perang tidak menjadikan pribadi Hoseok kejam juga. Hoseok sudah dekat dengan keluarga kerajaan, seperti juga Namjoon dan Yoongi. Ia hanya senang meledek kedua remaja itu. Jungkook dan Jimin sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Meskipun ia kadang sedikit sebal juga jika dipanggil 'paman' ketimbang 'hyung'.

.

.

.

.

.

.

Gagal mendapat informasi yang mereka inginkan, Jimin dan Jungkook akhirnya memutuskan untuk pergi ke halaman belakang istana tempat dimana mereka biasa latihan memanah. Sedang sibuk sibuknya berdiskusi entah apa, tau tau sesuatu yang jatuh mengenai kepala Jimin saat keduanya sedang berjalan di bawah pohon pohon yang rindang.

"appo!" Kata Jimin mengaduh sambil mengelus kepalanya, Jungkook yang melihat itu awalnya kaget, tapi ia tertawa juga. memang, karma itu berlaku. Jimin memungut sesuatu yang tadi mengenai kepalanya, sebuah apel yang sudah dimakan, menyisakan segaris tangkai dengan beberapa daging buah yang masih tersisa.

Jimin mengernyitkan dahinya, pria itu pun mengadah kan kepalanya, diikuti oleh Jungkook.

Dan disebuah dahan pohon, terlihat seorang laki laki bersurai pirang yang sedang sibuk mengunyah apelnya.

"Taehyung hyung? Sedang apa kau disana?" tanya Jungkook sedikit terkekeh.

"makan" sahut Taehyung polos sambil tetap mengunyah. Pria itu tidak memakai baju kerajaan, melainkan sebuah pakaian santai seperti celana kebesaran, berwarna merah dan robe berwarna biru tua.

Ia bahkan tampak sangat santai, mengayunkan kakinya yang menggantung

"turunlah." Pinta sang Pangeran setelah tawanya reda. Taehyung langsung melompat begitu saja dari atas dahan, dan mendarat sempurna ditengah Jimin dan Jungkook

"kau bahkan tak memakai alas kaki." Kata Jimin tak percaya saat melihat kaki telanjang Taehyung yang menginjak rerumputan hijau halaman. Tapi tampaknya Taehyung tak perduli, ia tak merespon apa apa. Taehyung malah melanjutkan memakan apel ditangannya yang belum habis.

"Taehyung-hyung, ayo latihan memanah bersamaku?" kata Jungkook antusias. Lebih terdengar seperti memerintah. Taehyung menggeleng.

"tidak, aku ada janji belajar dengan tuan Min." jawab Taehyung begitu ia selesai menelan kunyahan di mulutnya. Mendengar itu, sekarang gantian Jimin yang terlihat antusias.

"aku ikut ya?"

"tidak bisa Hyunggg! Kau harus menemaniku belajar panahan. Ingat, paman Jung juga menyuruhmu tadi." Sanggah Jungkook cepat cepat.

Jimin berdecak sebal. Ia tidak bisa melalaikan permintaan Hoseok, salah salah, nanti ia yang dipanah oleh si panglima itu.

"jika aku sudah selesai belajar, aku akan menyusul." Kata Taehyung menengahi.

"benarkah?"

"iya Jungkook, tapi aku bisa sangat lama. Jadi kalian mau menunggu atau tidak?"

"ah-"

"tentu saja." Baru saja Jimin mau membuka suara, Jungkook sudah kembali memotongnya. Ia tidak suka menunggu. Tuan muda Park itu benci hal hal yang berhubungan dengan menunggu. Ia cenderung orang yang tidak sabaran sebenarnya.

Taehyung mengangguk, ia melempar apel yang sudah selesai ia makan ke belakangnya dengan asal, tak perduli apa apel itu mengenai orang (lagi) atau tidak.

"baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa" kata Taehyung sambil jalan. Jungkook hanya memandang punggung Taehyung sambil tersenyum. Ia selalu menyukai sifat saudara angkatnya itu. Taehyung sangat unik, dan Jungkook semakin penasaran padanya.

"Hyung!" panggil Jungkook, Taehyung yang sudah berjalan beberapa langkah, berhenti dan menoleh pada Jungkook

"ya?"

"kau salah arah… perpustakaan ada di lorong sebelah situ" kata Jungkook sambil menunjuk arah yang berlawanan dari tempat Taehyung berdiri.

"begitu ya?" Jungkook mengangguk, mencoba menahan senyum gelinya saat melihat wajah Taehyung yang polos dan kebingungan. Taehyung melihat ke arah lorong yang Jungkook tunjuk lalu kembali ke arah yang tadi ia ingin tuju secara bergantian beberapa kali.

"oh iya, aku lupa." Katanya santai. dan pria yang bergelar 'Tuan Muda Yang Terhormat, Kim Taehyung' itupun mengubah haluan nya ke arah yang Jungkook tuju.

Dengan bertelanjang kaki tentu saja.

.

.

.

.

.

"kau datang lebih dulu?" Tanya Yoongi yang baru masuk ke sebuah sudut perpustakaan dimana mereka biasanya belajar. Yoongi mendapati Taehyung sedang duduk dikursinya dengan banyak buku diatas meja. Sinar matahari yang masuk dari jendela persis disamping pria itu, membuat Taehyung tampak sangat bersinar dengan kulit putih, mata biru dan rambut blondenya.

"iya. Aku ingin cepat cepat menyelesaikan materiku." Sahut Taehyung santai tanpa melepaskan bacaan dari buku yang ia pegang. Baru 5 bulan Taehyung tinggal di Istana Orti-Ezt dan diangkat sebagai anggota keluarga Kerajaan tentu Ia harus memahami segala seluk beluk tentang keluarga barunya itu.

Yoongi mendudukan dirinya di depan Taehyung. Anak didiknya itu pun menghentikan bacaannya. Siap memulai pelajaran hari ini.

"baiklah, hari ini, aku akan mengajarkanmu aturan hubungan di kerajaan. Kau sudah membaca buku yang kuberi kemarin?" Taehyung mengangguk.

"aku akan menjelaskan mengenai hal itu. aturan adanya hubungan dikeluarga Kerajaan dibuat dari Raja Orti-ezt generasi pertama. Hal itu di patuhi turun temurun. Keluarga kerajaan tidak pernah mempermasalahkan gender, asalkan mereka harus memiliki darah bangsawan."

"kenapa begitu?"

"karena perkawinan antara rakyat jelata dan berdarah biru dianggap sebuah dosa. Hal yang menjijikan. semua harus memiliki kedudukan kasta yang sama."

"lalu, bagaimana dengan kedudukan tahta mereka? kau tau kan sesama pria tidak bisa memiliki anak."

"sabar tuan muda Taehyung." Sindir Yoongi dengan tatapan datar. Bisakah pemuda ini menunggu dirinya selesai menjelaskan, lalu mulai bertanya disaat ia dipersilahkan? Harus berapa kali Yoongi mengingatkan Taehyung soal itu.

Sementara pria di depannya hanya nyengir.

Yoongi menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan.

"peraturan tersebut hanya diperbolehkan jika seorang Raja memiliki penerus lain. Maksudnya Raja memiliki putra lebih dari satu. Contohnya, jika seorang Raja memiliki 2 orang anak laki laki, hal tersebut bukan menjadi masalah. Jika anak bungsu yang menikah dengan seorang pria, itu tidak apa apa. Tapi jika anak sulung yang menikah dengan seorang pria, tahta akan diturunkan ke anak kedua. Karena seperti yang kita tau, anak yang diangkat menjadi penerus Kerajaan adalah anak tertua."

"jadi jika Seokjin hyung menikah dengan lelaki, Jungkook akan menjadi raja?" Yoongi mengangguk.

"ya.. seperti itu."

"bagaimana jika… Seokjin-hyung yang menikah dengan ku? Apa aku bisa?" Tanya Taehyung dengan intonasi berbeda dan tatapan serius. Suaranya yang berat terdengar berbeda dari biasanya. Yoongi sempat kaget mendengar pertanyaan Taehyung barusan-yang ia anggap kurang etis- dan atmosfer yang entah kenapa sedikit berubah.

"hanya umpama Paman Min." lanjut Taehyung sambil tersenyum seperti biasa saat ia melihat ekspresi Yoongi yang terlihat tak suka. Dan suasana kembali normal.

"jika baginda Raja menikah denganmu itu bisa saja, dan takhta akan diturunkan pada Pangeran Jungkook. Mengingat kau sekarang sudah dangkat sebagai anggota kerajaan. Yang berarti adalah bangsawan." Yoongi sengaja menekankan intonasinya saat menyebut Baginda Raja, ingin membuat Taehyung mengingat Seokjin adalah Raja mereka. Bukan hal yang sopan menggunakan Raja sebagai sebuah perumpamaan.

"baiklah. Kau mengerti?"

"ne."

"sekarang kita akan mempelajari sejarah generasi ketiga kerajaan Orti-Ezt." Yoongi mulai melanjutkan kembali penjelasannya dengan sebuah buku tebal yang terbuka diatas meja. Taehyung mendengarkan dengan seksama. Yoongi tak tau saja, bahwa sebenarnya pikiran Taehyung saat itu sedang terbang keman mana.

Sebuah rencana yang sudah tersusun rapih, bahkan jauh sebelum Taehyung menginjakan kakinya di Orti-Ezt.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook dan Jimin sedang sibuk dengan busur dan anak panah serta target di depan mereka. keduanya sedang fokus melepaskan anak panah, mengincar target yang berdiri cukup jauh di depan. Disekeliling mereka, tampak para pengawal yang sedang berjaga dan sebuah ahli panah yang ditunjuk Hoseok untuk mengajarkan kedua remaja itu.

Jungkook sempat mengeluh beberapa kali karena Taehyung sangat lama dan tak kunjung datang. Baru saja pangeran itu ingin mengakhiri latihannya dan berniat menyusul Taehyung di perpustakaan, Jimin menangkap sesosok pria dengan atribut kerajaan putih putih, ciri khas orang orang bagian Hukum kerajaan. Berwarna putih karena sesuai dengan pandangan kerajaan bahwa warna itu melambangkan suci dan netral. Seorang hakim dan pendiri hukum tidak boleh memihak dan tak pandang bulu dalam menanggapi masalah.

Namun, kerah baju dengan warna beda dari anggota hukum kerajaan yang lain, terlihat di pakaian pria itu. menunjukan bahwa kedudukannya yang paling tinggi.

Sadar dengan siapa pria yang sedang berjalan dikejauhan tersebut, mata Jimin membulat senang.

"ah, itu Paman Min!" serunya lalu segera berlari menghampiri Yoongi, meninggalkan Jungkook yang hanya memperhatikan dari belakang.

"Yoongi hyung. Selamat siang!" sapa jimin ramah dengan senyuman yang membuat mata nya menyipit.

manis

"selamat siang Tuang Muda." Sahut Yoongi dengan ekspresi datarnya sambil membungkukan badannya.

"dimana Taehyung hyung? Apa kegiatan belajar kalian sudah selesai?"

"sudah. Tuan Muda Taehyung masih diperpustakaan."

"begitukah?"

"benar Tuan Muda."

"oh iya, omong omong, kapan jadwal kelasku bersamamu?" Yoongi mengerutkan dahinya tidak mengerti.

"maaf tuan muda Jimin, kurasa itu tidak perlu. Bukankah, kau sudah menguasai aturan kerajaan tahun lalu."

"aku lupa beberapa diantaranya." Kata Jimin dengan nada dan tatapan serius. Yoongi sepertinya mengerti apa mau Jimin, namun ia tak pernah berani membayangkan hal itu. bahkan dalam mimpi nya sekalipun. Diusirnya bayangan itu jauh jauh sampai akhirnya sebuah suara menginterupsi keheningan mereka yang canggung.

"yak, Jimin Hyung. Kenapa lama sekali?! dimana Taehyung-hyung?!" seru Jungkook yang sudah tak sabar. Pangeran itu sedang menghampiri mereka sekarang.

"Maaf Tuan Muda, ada yang harus saya kerjakan. Kalau begitu, Saya permisi." Kata Yoongi pamit lalu segera melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Jimin yang sebenarnya masih memandang lekat lekat punggung pria itu.

.

.

.

.

.

.

Makan siang bersama saat itu terasa sedikit berbeda. Jungkook yang biasanya sedikit cerewet sekarang malah tampak diam. Ia hanya memain mainkan makanan diatas piring emasnya, sementara Seokjin sedang mendengarkan cerita Jimin dan Taehyung secara bergantian. Seperti biasa, kakanya itu tampak ramah dan hangat saat menanggapi cerita cerita tak jelas keduanya.

Seokjin di meja makan tak seperti di singgasana, ia menonjolkan sisi hangat nya yang cenderung feminim. Mengeluarkan aura keibuan seorang Ratu yang lembut namun tegas.

Sebuah guncangan pelan dibahu Jungkook menyadarkan pria itu dari lamunannya. Ia menatap setiap pasang mata di meja makan itu yang sedang memandangnya bingung.

"Jungkook-ah kau tidak apa apa?" tanya Seokjin khawatir. Jungkook menatap kakanya. Ia diam beberapa detik untuk meredakan rasa tak nyaman didadanya.

"aku tak apa apa." Jawab Jungkook dengan nada dingin yang tidak biasa. Seokjin merasa tak puas dengan jawaban adiknya itu, ia masih memperhatikan Jungkook yang sekarang pura pura berminat dengan makanan dipiringnya.

"aku memanggilmu dari tadi, tapi kau tidak dengar. Kau melamun. Apa ada masalah?" Jungkook menoleh lagi pada Seokjin, lidahnya gatal sekali ingin menanyakan sesuatu tapi ia urungkan.

"aku sudah bilang tak apa apa."

"aku sudah selesai dengan makananku. Meminta izin untuk meninggalkan ruangan, yang mulia." Lanjut Jungkook sambil bangkit dari duduknya dan membungkukan badannya sedikit, Tetap diposisi itu sampai Seokjin memberikan izin.

Seokjin menatap Jungkook dengan pandangan semakin heran. Begitu juga Jimin dan Taehyung. Sebenarnya Seokjin tak mau Jungkook meninggalkan meja makan, namun tampaknya pangeran itu sedang butuh waktu sendiri.

"baiklah.. kau kuizinkan." Kata Seokjin. Setelah sang Raja memberi Izin, Jungkook langsung membalikkan badannya, pergi meninggalkan ruangan bahkan tanpa melirik Jimin atau Taehyung.

Jimin menatap Taehyung kebingungan, sementara pria bermata biru itu hanya mengedikkan bahunya tak mengerti.

Tak biasanya Jungkook seperti itu.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook berjalan dengan langkah besar besar. Ia tidak sedang tergesa gesa, dan tidak juga sedang dikejar oleh seseorang. Ia hanya sedang merasa tak nyaman. Merasa kesal dan panas yang menjalar di dadanya.

Flashback

Setelah mendengar Taehyung masih berada di perpustakaan, Jungkook berniat untuk menghampiri Taehyung dan menyeret pria itu untuk segera berlatih panahan bersamanya. Baru saja Jungkook masuk ke sebuah perpustakaan, tiba tiba suara orang sedang bercakap cakap terdengar ditelinganya.

Jungkook memelankan langkahnya, mencoba mencuri dengar obrolan dari dua suara yang tampak familiar itu. senyum Jungkook memudar saat ia mendapati Taehyung sedang berbicara dengan kakaknya, Seokjin.

Ia merapatkan tubuhnya di balik sebuah rak buku yang tinggi, tak ingin kedatangannya diketahui oleh dua pria itu.

Seokjin sedang duduk berhadapan dengan Taehyung, ia tidak bisa melihat wajah Seokjin karena pria itu memunggunginya. Sementara Taehyung terlihat jelas sedang tersenyum manis kearah kakanya itu. senyum yang Jungkook tak pernah lihat sebelumnya.

"…. Semua akan baik baik saja Hyung." Suara Taehyung sayup sayup terdengar dari sana.

"ya.. aku harap juga begitu." Sahut Seokjin yang terdengar sedikit lelah. Mungkin kakanya sedang dipusingkan dengan banyak masalah? Bukankah memang setiap Raja selalu menghadapi hal itu.

Tapi bukan itu yang membuat Jungkook membelalakan mata dan merasakan dadanya berdesir panas. Melainkan saat Taehyung bangkit lalu berdiri di belakang Seokjin. Memijit kepala Seokjin dengan lembut.

"tenang lah. Kau Butuh tenang." Kata Taehyung dengan suara berat khasnya itu. suara yang Jungkook suka. Seokjin hanya diam, menikmati pijatan Taehyung di pelipisnya.

"terimakasih Taehyung, kau selalu bisa menenangkanku." Kata Seokjin tulus begitu pijatan itu berakhir. Taehyung menyenderkan punggungya di meja, ia melipat tangannya. Pandangan pria itu mengarah ke Seokjin yang ada di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Tak dihalangi oleh meja atau apapun.

Dan saat Taehyung mengangkat tangannya, lalu mengusap wajah Seokjin dengan senyum menawan sambil berkata "tak perlu berterima kasih", saat itulah Jungkook memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan.

Entah apa yang terjadi pada Jungkook. Ia hanya tak suka. Sangat tidak suka melihat interaksi keduanya yang terlihat terlalu intim.

Ia tidak marah pada Taehyung, tapi bukankah tidak sopan memperlakukan Raja seperti itu? demi Tuhan Jungkook adalah pangeran, adik kandung dari Seokjin dan ia tidak akan berani mengusap wajah kakanya seperti itu disaat Seokjin sudah diangkat menjadi Raja seperti ini.

Lalu, apa yang ada dipikiran kakanya itu? mengapa Seorang Raja bisa berdua duaan di perpustakaan sepi? Tanpa pengawal, tanpa pesuruh atau bahkan Namjoon, yang biasanya selalu berdiri disamping Seokjin.

Entah Jungkook kesal dengan segala aturan norma kesopanan yang mereka langgar atau… ia hanya cemburu?

Cemburu melihat Taehyung yang terlihat terlalu dekat dengan kakanya? Cemburu karena kaka kandungnya bahkan lebih dekat pada orang yang baru diangkat sebagai keluarga saat 5 bulan lalu, ketimbang dirinya, yang berstatus adik kandung selama 17 tahun.

Jungkook tidak tau pasti, ia hanya kesal. Dan sebentar lagi makan siang, dimana Jungkook harus bertemu Seokjin dan Taehyung dimeja yang sama.

Untuk pertama kalinya, Jungkook ingin menghindar dari Taehyung dulu.

Flashback end.

Pangeran muda itu kembali ke Prinx Tower, menara tempat para pangeran dan keluarga bangsawan kerajaan tinggal. Ia diam dikamarnya, memandang hamparan pemandangan dari jendelanya. Kamar Jungkook berada di lantai paling atas, yang membuatnya bisa melihat kota, hutan hutan dan pegunungan Orti-Ezt yang indah. Ia bahkan juga bisa melihat Kal-ezt dikejauhan yang tampak seperti garis tipis.

Cukup lama Jungkook berdiam dikamar sampai akhirnya pangeran itu memutuskan untuk pergi. Bukan jubah kerajaan, melainkan jubah gelap yang menjuntai sampai mata kaki, yang ia ambil.

Jungkook segera menuju ke kandang kuda, ia memakai jubah itu, menutup kepalanya dengan tudung, lalu segera melompat naik ke kuda kebanggannya, Knox.

Dengan sigap sebelum Yoongi atau anak buahnya mendapati Jungkook melanggar aturan soal berkuda sendirian, Jungkook segera memacu kudanya.

Ia tak perduli jika langit saat it sudah petang dan hampir gelap. Ia hanya ingin pergi. Menuju hutan di dekat kerajaan. Mencoba mengusir rasa gusar yang masih bersemayam dihatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jimin dan taehyung mencari Jungkook kemanapun, namun si bungsu tidak bisa ditemukan. Beberapa pengawal dan penjaga tak melihat keberadaan pangeran, sampai akhirnya Jimin dan Taehyung memutuskan untuk pergi ke kandang kuda.

Dan dugaan mereka benar saat melihat, Knox, kuda Jungkook tidak ada.

"aishhh. Kemana anak itu?! ini sudah menjelang malam dia malah pergi!" kata Jimin kesal. Seokjin akan mencerocosi nya dengan pertanyaan pertanyaan kalau Raja itu sampai tau Jungkook 'kabur'

Karena selama ini, tak hanya sebagai teman dan suadara, Jimin juga dipercaya sebagai penjaga Jungkook. Mengingat anak itu tidak mau memiliki kepala pengawal yang disiapkan dari kerajaan.

"tenanglah, sepertinya aku tau dia kemana." Kata Taehyung yakin.

"kemana? lalu bagaimana sekarang?"

"aku akan menyusulnya" kata Taehyung santai, pria itu-yang sekarang sudah memakai alas kaki-segera mengambil seekor kuda yang terikat tak jauh di sampingnya.

Kuda itu meringkik, menolak. Sementara Taehyung bersusah payah untuk mengendalikan binatang itu agar ia bisa menungganginya.

"uhmm.. Taehyung-hyung?" panggil Jimin. Taehyung hanya menyaut dengan gumaman, masih terus mencoba menyuruh kuda itu diam.

"kurasa kau pakai kuda yang lain. Kuda ini…. sedang hamil besar. Kau ingat kan?" Pergerakan Tangan Taehyung berhenti. Ia menoleh kearah Jimin dengan raut khasnya.

"hamil?"

Jimin mengangguk. Saat Taehyung menurunkan pandangannya dan melihat perut kuda itu yang terlihat membesar tak wajar.

"ah iya benar juga. sebaiknya aku pakai kuda ku saja." Kata Taehyung lalu menuju kandang kuda lain dimana kudanya berada. Jimin hanya tersenyum geli melihat tingkah Taehyung barusan.

Semoga saja Taehyung membawa Jungkook pulang sebelum pengawal-atau lebih parahnya-Yoongi ataupun anggota penegak aturan kerajaan menyadari kepergian Jungkook.

Jimin memutuskan segera meninggalkan kandang itu dan pergi kesebuah tempat. ia ingin bertemu seseorang sekarang

.

.

.

Yoongi sedang sibuk membaca perkamen di ruangannya. Meja pria itu tampak penuh dengan gulunga gulungan kertas laporan dari hakim hakim soal permasalahan sengketa atau kasus di seluruh negeri. Yoongi juga menjabat sebagai kepala hukum Negara, maka dari itu ia tak hanya ditugaskan untuk masalah internal kerajaan, melainkan juga di negerinya. Membantu Seokjin mengambil keputusan hukum jika sang Raja kesulitan.

Sedang sibuk sibuknya membaca, suara pintu terbuka menggangu kegiatan Yoongi. Pintu itu bahkan tidak diketuk dulu. Sungguh, sebuah pelanggaran norma kesopanan. Yoongi hampir saja menegur keras orang itu sampai akhirnya ia mendongak dan menatap pria dengan surai brunette sedang berdiri memandangnya.

"kau sedang sibuk, Hyung?" tanya Jimin santai, bahkan tanpa menyapa terlebih dulu. Yoongi sempat mengerjap beberapa kali. Kaget dengan kunjungan mendadak ini

"Tuan muda?" katanya sambil bersiap berdiri, dan membungkuk. Belum sempat Yoongi membungkukan badannya, Jimin sudah menginterupsi lebih dulu.

"Berhenti memanggilku tuan muda, Yoongi." Kata Jimin serius dengan mata yang mulai berkaca kaca.

Membuat Yoongi membatu ditempat dengan rasa bersalah yang mulai memenuhi dadanya

.

.

.

.

TBC


Waaa apa ini.

Kalau kalian nanya Taejin seme sama uke nya yang mana… menurut kalian gimana? Sebenernya cerita ini bisa dua duanya sih. Tapi karena aku terinspirasi dari album wings, khususnya BST MV dan Wingstour Trailer, jadi aku pilih Jin sebagai Uke.

Tapi kalau kalian mau kasih masukan, bolehbanget kok. Atau ada yang kurang jelas dan bingung, tanya aja, nanti bisa aku lebih jelasin di next chap. Btw kenapa Jin manggil Namjoon gapake Hyung, padahal dia anggep Namjoon kaya kakaknya? Karena….. Seokjin Raja. Raja bebas mau manggil apa. hehehehe

Dan kayanya rate nya mungkin bakal naik sewaktu waktu. LOL. Soalnya ini menceritakan gairah, cemburu, emosi, gitu gitu deh… tar juga tau. hohoho.

Terima kasih udah baca. Reviewnya jusseyooo