.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Family/Friendship/Hurt-comfort/Angst
Warning : T rate/Typo(s)
No Pair
.
Chapter 1
W I S H
.
Konoha City Hospital
Di dalam sebuah ruangan bernomor 205, terbaring seorang gadis bersurai merah jambu dengan mata yang masih terpejam sejak satu jam yang lalu. Kedua kelopak matanya yang menutup tampak mengerjap sedikit, dan sesaat kemudian iris seindah batu emerald itu terbuka. Kedua matanya tampak mencari-cari dan mengamati sekelilingnya.
"Apa aku ada di rumah sakit?" gumamnya pelan saat menyadari tempatnya berada sekarang, ditambah bau obat-obatan yang langsung menusuk aroma penciumannya.
"Gawat! Bagaimana dengan audisinya!" gadis itu berteriak agak kencang saat mengingat kalau seharusnya saat ini dia sudah mendaftarkan diri untuk ikut audisi menyanyi. "Aku harus pergi ke sana dan mendaftar sebelum terlambat!" tanpa memedulikan kondisi tubuhnya, gadis itu segera turun dari tempat tidur.
"Anda mau pergi kemana, Nona Sakura?" seorang perawat berambut hitam pendek masuk ke dalam ruangan dan melihat Sakura yang sudah turun dari tempat tidurnya.
"Aku mau pergi audisi karena, ini adalah hari terakhir!" jawab Sakura dengan tergesa.
"Maaf sekali, tapi aku tidak bisa mengijinkanmu keluar dari dalam kamar." Perawat itu dengan cepat menutup pintu ruangan, mencegah agar Sakura yang notabene merupakan pasien rumah sakit itu tidak keluar.
"Ah, apa? Tapi kenapa?" Gadis beraroma cherry itu mengerucutkan bibirnya ke arah sang perawat.
"Aku sudah berjanji pada Sasori untuk tidak membiarkanmu pergi kemana-mana," balas sang perawat sambil tersenyum tipis saat mengingat betapa khawatirnya pemuda itu terhadap Sakura.
"Sasori..."Gadis itu hanya bisa menghela napas begitu mengingat pemuda berambut merah itu. Dia tak bisa menyalahkan sikapnya yang jadi begitu protective terhadap dirinya. Tapi, kalau begitu bagaimana dengan impiannya?
"Lalu, di mana dia sekarang?" tanyanya heran. Ke mana perginya pemuda itu sekarang?
"Oh, Sasori bilang, dia ingin pergi sebentar. Tapi dia akan segera kembali nanti," jawab sang perawat menyampaikan pesan Sasori pada Sakura. "Sekarang lebih baik kau kembali ke tempat tidur." Kemudian ia meminta Sakura untuk kembali berbaring.
Brakh!
Belum sempat si gadis pink naik kembali ke atas tempat tidurnya, mendadak pintu yang sudah ditutup rapat itu dibuka dengan agak kasar. Muncul dua sosok yang sangat dikenal Sakura masuk ke dalam dengan wajah cemas dan langkah tergesa.
"Sakura, kau tidak apa-apa 'kan?" wanita bermata merah itu menyambar tubuh Sakura dan langsung memeluknya dengan sangat erat, seolah takut gadis yang ada di depannya akan menghilang kalau sampai pelukannya ia lepas.
"Tenang saja. Aku tidak apa-apa, kok!" balas Sakura sambil membelai punggung sang wanita penuh dengan kasih sayang.
"Kami buru-buru menuju kemari saat mendapat kabar dari Sasori kalau kau pingsan." Seorang pria yang khas dengan brewok hitam tebalnya kini ikut mendekati Sakura. "Tolong, jangan membuat kami cemas seperti ini lagi, Sakura," ucap pria itu dengan nada getir.
"Terima kasih, dan maaf, aku merepotkan. Hanya gara-gara aku kalian jadi meninggalkan pekerjaan kalian. Aku benar-benar minta maaf..." Sakura melepaskan pelukannya. Gadis itu tertunduk dengan rasa penyesalan. Kenapa hidupnya harus selalu merepotkan orang-orang di sekitarnya saja. Hatinya sedih mengingat dia hanya bisa membuat masalah.
"Sakura, kau ini bicara apa?" wanita itu membelai lembut surai merah muda putri angkatnya itu dengan penuh kasih sayang. "Jangan katakan seperti itu, Sakura. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Kami sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri, jadi jangan bicara begitu lagi ya, sayang." Tubuh Sakura kembali direngkuh ke dalam pelukan yang hangat.
Akhirnya ketiga orang itu larut dalam suasana yang penuh kasih di hari yang bersalju itu. Memberikan kehangatan tersendiri bagi orang-orang yang menyaksikan suasana penuh dengan rasa kekeluargaan ini. Meskipun pasangan suami-istri itu bukanlah orang tua kandung Sakura tapi keduanya sangat menyayangi gadis itu. Sang perawat diam-diam mengundurkan diri dari dalam ruangan itu, tak ingin mengganggu kebersamaan ketiganya.
Asuma dan Kurenai adalah sahabat dari orang tua Sakura. Sesaat ketika orang tua Sakura meninggal akibat kecelakaan mobil 6 tahun lalu mereka segera mengadopsinya dan merubah nama keluarga Sakura dari Haruno, menjadi Sarutobi. Pasangan yang sudah menikah selama lima tahun itu memang belum memiliki anak, makanya mereka memutuskan untuk mengambil Sakura.
"Astaga, sepertinya kami terlalu lama di sini," ucap Kurenai saat tersadar kalau hari hampir menjelang siang.
"Kau benar! Bukankah kita hanya ijin pada Ayah—ah, maksudku pada Tuan Sarutobi hanya pergi 2 jam?" Asuma, pria berjenggot tebal itu langsung menepuk keningnya.
"Kalian kembali saja, aku sudah tidak apa-apa, kok," ujar sakura seraya tersenyum kepada orang tua angkatnya itu.
"Benar tidak apa-apa?" Kurenai tampaknya sangat berat hati untuk meninggalkan gadis kecilnya sendirian di rumah sakit. lalu, di mana Sasori? Bukankah pemuda itu selalu berada di dekat Sakura? Tapi sejak tadi batang hidungnya pun tak terlihat.
"Iya! Aku baik-baik saja!" Sakura mengangguk ceria.
"Baiklah kalau begitu Sakura..." Kurenai tampak menghela napas sesaat, memandang lembut ke arah gadis merah muda itu. "Kami pergi dulu," ujar Kurenai sambil bangkit dari posisi duduknya di sebelah Sakura, "kau jangan lupa istirahat dan tidak ada yang namanya kabur-kaburan lagi," sambungnya kemudian memperingati gadis itu untuk tidak berbuat yang aneh-aneh.
"Iya, aku janji." Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi pesan Kurenai. Dia tahu kalau Kurenai dan Asuma hanya mencemaskan dirinya, hal itu karena mereka begitu sayang pada dirinya.
Kurenai dan Asuma mengecup kening Sakura secara bergantian dengan lembut. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sakura hanya bisa memandangi keduanya dari arah belakang dengan senyuman tipis.
.
.
.
Siang akhirnya menjelang dan waktu sudah menunjukkan pukul 1:00 siang, tepat dua jam setelah kepergian Kurenai dan Asuma. Sakura hanya bisa menatap ke arah luar jendela, memandangi butiran-butiran salju yang berguguran turun ke bumi menyelimuti seisi kota dengan warna putih. Gadis itu kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya. Gugurnya salju-salju itu sama seperti impiannya yang telah jatuh.
Sakura memegangi dada kirinya yang terasa ngilu. Mengingat impiannya telah berakhir membuatnya merasa sangat sakit. Rasanya dia ingin sekali menangis dan menyalahkan takdir, tapi semua itu percuma 'kan? Mau menangis dan berteriak marah pun juga tidak akan berguna. Impiannya sudah pupus.
"Padahal, ini adalah kesempatan terakhirku...," gumam gadis itu kepada dirinya sendiri dengan lirih.
Sakura menundukkan wajahnya yang sedang menghadap ke arah jendela dengan rasa sesal yang teramat dalam. Dia sudah kalah sebelum berjuang dan itu sangat menyakitkan. Cairan bening mulai menggenangi kedua manik emerald-nya.
"Sakura!" namun, sebelum liquid bening itu tumpah, Sakura sudah terlebih dahulu dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan kamarnya.
"Sasori?" Sakura berseru kaget. Darimana saja pemuda itu? Kenapa dia baru kembali siang begini disaat dia sedang membutuhkan seseorang untuk mencurahkan isi hatinya yang sedang terpukul karena gagal meraih impian.
"Kau darimana saja? Apa kau tidak tahu aku mencarimu dari tadi?" Sakura mengerucutkan bibirnya pada Sasori dengan tingkahnya yang manja.
Pemuda itu berjalan mendekati Sakura dan setelah berdiri tepat di sebelah gadis itu, dia mengacak lembut surai merah muda milik sang gadis sambil tersenyum penuh perhatian.
"Maaf ya, Sakura. Tadi ada sesuatu yang harus aku kerjakan dulu," ucapnya setengah tertawa pelan saat mendapati gadis itu begitu manja terhadap dirinya. "Sekarang bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik?" tanyanya untuk memastikan keadaan sang gadis benar-benar sudah tidak apa-apa.
"Aku sudah merasa baikan..., hanya saja..." tiba-tiba gadis itu terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Sasori. "Aku merasa sakit karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa meraih impianku," ucapnya dengan nada getir. Sakura mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia tak ingin membuat Sasori mencemaskannya lagi. Sudah cukup dirinya membuat pemuda itu selalu kerepotan.
"Siapa bilang?" balas Sasori dengan enteng.
Sakura kembali mengalihkan tatapannya ke arah Sasori, memandangnya dengan lekat. Apa maksud ucapan pemuda itu? Bukankah impiannya memang sudah sirna? Lalu, kenapa dia bicara seperti itu? Seolah-olah masih ada seribu cara yang terpampang di depannya, sementara pintu impian yang dia harapkan baru saja dikuburnya dalam-dalam.
"Ini." Tanpa banyak bicara Sasori menyerahkan sebuah tiket yang tertera nomor 397 pada bagian depannya kepada Sakura.
"I-ini 'kan..." Sakura kehilangan kata-kata saat melihat tiket berwarna golden itu di tangannya. "Aku benar-benar tidak percaya..., maksudku, bagaimana bisa...?" Sakura merasa kalau dirinya sedang bermimpi, yah bermimpi karena, sekarang di tangannya sudah ada sebuah tiket emas atas nama dirinya yang menyatakan kalau dia lolos audisi. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Bukankah dia pingsan sebelum sampai ke tempat audisi?
Sepasang manik emerald itu kini menatap wajah Sasori dengan tanda-tanya besar. Sorot matanya menyiratkan rasa keingintahuan dan menuntut sebuah penjelasan mengenai tiket yang berada pada tangannya saat ini.
"Kau tidak perlu banyak berpikir sekarang," jawab Sasori seolah mengerti sorot pandang yang dilayangkan ke arahnya, "hal yang harus kau pikirkan adalah, lagu apa yang akan kau nyanyikan untuk Senin besok," lanjutnya dengan mimik muka serius.
"Senin besok?" kedua emerald itu sukses membulat sempurna. "Itu berarti tiga hari lagi? Astaga, apa yang harus aku lakukan?" Sakura panik. Dia tak menyangka kalau hari audisi selanjutnya harus secepat itu, padahal kondisinya belum benar-benar pulih. Entah kenapa dia jadi merasa tak yakin.
"Hey, tenanglah, jangan panik!" Sasori menyentil pelan kening gadis itu. "Kau harus dan pasti bisa karena, ini adalah impianmu sejak kecil, bukan?" sambungnya, memberikan dukungan serta keyakinan kalau gadis itu pasti mampu.
Sakura tersenyum sesaat. Apa yang dikatakan Sasori memang benar. Menyanyi adalah cita-cita sejak awal dan impiannya untuk bisa berduet dengan Sasuke di atas panggung adalah keinginan terbesarnya. Dia tak boleh ragu apalagi gentar dalam menghadapi situasi ini yang belum ada apa-apanya.
"Terima kasih, Sasori. Kau benar, ini adalah impianku agar aku bisa bertemu dengan Sasuke. Aku akan berjuang!" Sakura mengangguk setuju. Dia harus berjuang untuk mendapatkan semua impiannya itu.
"Nah, begitu jauh lebih baik. Semangat terus!" Sasori tersenyum puas saat melihat pancaran keraguan pada wajah Sakura menghilang.
"Aku sudah menyiapkan segala perlengkapan termasuk pakaian yang akan kau butuhkan nanti di sana."
Sekarang Sakura mengerti kenapa tadi pemuda itu menghilang. Ternyata dia sengaja melakukan persiapan untuk bekal dirinya nanti di sana. Kemudian pemuda itu mendekatkan dirinya kepada Sakura, dan berkata, "Senin adalah keputusanmu untuk tetap mengejar impianmu atau melepasnya. Satu hal yang ingin aku ingatkan padamu. Kalau ternyata kau merasa tak sanggup, jangan diteruskan. Aku tak ingin kau memaksakan diri dan malah jatuh sakit."
"Terima kasih, Sasori!" tanpa bisa ditahan Sakura menghambur memeluk pemuda itu dengan erat, "terima kasih untuk semuanya," ucapnya dengan perasaan bahagia.
...
Sementara itu, jauh di tempat yang sangat berbeda 180 derajat dari tempat Sakura, terlihat ada dua orang pemuda sedang membicarakan sesuatu dengan cukup serius.
"Aku tidak berminat untuk menjadi juri pada kontes itu," ungkap seorang pemuda berwajah stoic dengan nada meremehkan. Baginya ajang seperti itu hanyalah ajang buat pamer kostum dan kekayaan, bukan bakat menyanyi yang sesungguhnya.
"Oh, ayolah Sasuke! Jangan bicara sadis seperti itu! Setidaknya bantulah aku, Kakakmu ini agar tidak kehilangan muka di depan juri lain nantinya!" pemuda yang berdiri di sebelahnya memohon dengan setengah merajuk persis anak kecil.
"Siapa suruh kau membuat keputusan tanpa persetujuanku terlebih dahulu!" dengus pemuda yang bernama Sasuke itu sambil menekan tombol lift, bersiap untuk pergi.
"Mau bagaimana lagi? Aku keceplosan pada mereka!" sang kakak yang tersudut hanya bisa menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Baiklah, aku akan membantumu." Akhirnya Sasuke memutuskan untuk membantu membuat sang kakak yang bernama Itachi itu tersenyum lebar, "Tapi dengan satu syarat," ucapnya kemudian dan sukses membuat senyuman pada wajah Itachi pudar seketika.
"Syarat apa?" tanya Itachi dengan perasaan tidak enak.
"Aku ingin keputusan final ada padaku, dan siapa pun tidak berhak untuk mengganggu gugat ketetapanku, bagaimana?"
Itachi berpikir sejenak saat mendengar persyaratan yang diajukan oleh Sasuke. Sebenarnya permintaan itu bukanlah hal yang sulit hanya saja dia tahu benar bagaimana watak Sasuke dalam mengambil keputusan. Dia tipe orang perfeksionis, sadis dan sarkastik. Itachi khawatir kalau ajang pencarian bakat nanti malah terkesan seperti medan perang dengan segala keputusan Sasuke yang biasanya selalu memancing emosi orang lain.
"Itachi, kenapa kau diam?" Sasuke mendengus saat melihat sang kakak terlalu lama berpikir.
Ting!
Pintu lift terbuka dan Sasuke masuk ke dalamnya dengan santai.
"Cepatlah Itachi, sebelum pintu lift ini tertutup."
"Haaah..., iya, baiklah! Aku setuju dengan persyaratanmu itu!" Itachi mengela napas pasrah.
"Deal," balas sang adik yang sempat menyeringai sesaat sebelum pintu lift itu tertutup.
"Apa pun yang terjadi, maka terjadilah. Aku harap para peserta nantinya akan kuat menahan cobaan dari Sasuke," gumam Itachi sambil berdoa dalam hati, semoga kali ini keputusannya tidak memberikan dampak yang buruk. Semoga Sasuke tidak menjadi raja iblis saat memberikan komentar nanti.
TBC
A/N : Bagi yang mau kasih saran lagu untuk Sakura silahkan dishare.
