Konbanwa, minna...

Saya kembali membawa fic buatan saya yang berjudul ''The Great Baby Sitter''. Ada yang nunggu?

Readers: kita nunggu Ichi di siksa...

Woowwww... saya juga #plakkkkk#

Ara, disini Rinko mau minta maaf atas kesalahan rate. Harusnya rate T Cuma Rinko kasi rate K+. Hontou ni gomennasai minna-sama. Soushite, watashi wa hontou ni arigatou gozaimasu untuk yang ngasi tau. Hontou ni arigatou..

Sesi curcol sedikit yaaaaaaaa...

Rinko mau ngomong disini, Rinko orangnya sangat gampang emosi. Istilahnya tempramen tinggi. Sekalinya udah ngamuk-ngamuk, kata-kata yang gak pantes pasti keluar. Apalagi kalo udah jengkel, sumpah yang jelek pasti keluar. Dan entah kenapa, Tuhan ngabulin itu. Raiko yang udah pernah ngalamin itu. Dia keilangan barang berharganya malah. (Hontou ni gomennasai Raiko-nii) Jadi, Rinko minta tolong untuk jangan bikin saya emosi. Saya gak mau minna-sama kenapa-napa. Maaf kalo gak enakin fic ini. Saya Cuma berpesan aja.

Ichigo: kayak ustadzah aja lu. Ceramah segala.

Rinko: Urusai. Kembali ke alam ente sana. Ganggu.

Ichigo: nasib, nasib kalo gue mesti disiksa lagi di ni fic. Hadehhhh...

Hora, sesi bales review bakalan ada di sesi akhir. Jadi sabar ya Minna-sama. Okehhhh.. tanpa perlu berbasa-basi lagi saya persembahkan untuk minna sekalian, chapter 2 dari fic saya yang berjudul...

The Great Babysitter

Chapter 2

By: Rinko Kurochiki-sama (khukhukhu) #digebukin warga Karakura#

Disclaimer: Masya Allah, masa iya saya mesti ngomong lagi. BLEACH punya bapak angkat saya TITE KUBO. Setuju?

#Dikeroyokin warga Hueco Mundo#

Warning: Typo melayang kayak makhluk astral, gaje-ness, OOC udah pasti, pokok e Don't Like Don't Read. Perlukah saya menggaris bawahi kata itu? Perlu? Okeeee... nanti saya kasi...

.

.

#RinRai_KurosakiKuchiki#

.

.

Kurosaki mension, 07.00 AM

Matahari tersenyum indah di pagi yang cerah ini. Menyambut hari yang menyenangkan untuk ayah dan anak ini. Sekarang ini mereka tampak duduk santai di pinggir kolam renang, seraya menikmati suara burung yang berkicau merdu. Eittsss... walaupun kelihatannya suasana disekitar sangat begitu klasik dan luar biasa menggambarkan hari yang indah, tapi kenyataannya tidak begitu untuk Kurosaki Ichigo. Ingatkah kalian pada malam yang mampu membuat pria tampan ini kelihatan tidak elegan lagi? Yup... ia menangis memanggil sang istri tercinta dikarenakan putranya tidak ingin kembali tidur sampai jam menunjukkan pukul 3 pagi. Tentu saja tidak baik jika membiarkan putranya bermain sendiri bukan?

Tidak hanya itu saja penderitaan yang harus dialami pria berambut orange ini, saat jam menunjukkan pukul 6 pagi -dan itu saat Kurosaki Ichigo begitu menikmati tidur nyenyaknya-, sang istri tercinta sudah meneleponnya tentang berkas yang tertinggal di laci meja kantor milik suami orangenya ini. Sang istri menyuruhnya untuk mengirimkan lewat fax pula. Maka dengan inisiatif yang bagus, ia menyuruh Renji mengirimkan berkas itu secepatnya. Pintar sekali CEO muda ini. Bukankah dengan begitu ia bisa menikmati tidur nyenyaknya? Wowowo... kenyataannya tidak begitu. Jagoan kecilnya kembali terbangun dan mengajaknya untuk bangun juga. Hari yang indah bukan untuk Kurosaki Ichigo.

Ichigo menghela nafas panjang. Memikirkan nasibnya yang sekarang pastinya.

''Hahhh... bertambah 1 hari lagi untukku menjaga Raiko. Kapan ini harus berakhir?'' Ucap Ichigo pasrah pada dirinya sendiri. Meratapi apa yang harus ia lakukan mungkin.

''Oh iya, bukankah tinggal besok aku menjaga Raiko. Setelah itu, aku akan menikmati malam yang indah bersama bidadari surgaku. Itu benar Ichigo. Berjuang untuk hari ini. Yoshhh!''

Ichigo tampak mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, senang memikirkan pikiran indahnya. Oke.. ini sudah cukup tidak waras. Bagaimana tidak, Ichigo melakukan itu tanpa berpikir bahwa dirinya akan membuat malu dan ilfell imagenya.

Para pelayan dan petugas kebun yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka, bersweatdrop ria melihat kelakuan tuan besar mereka.

Belum lagi bayi kecil yang ada dipangkuannya. Ia menatap ayahnya bingung dengan tatapan lucunya. Seakan-akan bayi itu bertanya dalam hatinya 'Apa yang dilakukan Tou-san?'

Ironis memang jika melihat tingkah aneh pria berwajah tampan seperti Ichigo ini. Yaa.. setidaknya ia tidak melakukan didepan umum. Ya, itu benar.

''A.. ano Kurosaki-sama.'' Seorang pelayan berperawakan tinggi menghampirinya. Sepertinya pelayan ini takut sekali bertemu Ichigo. Pasti karena tingkah Ichigo tadi.

''Ada apa?''

''Byakuya-sama datang ingin menemui anda.''

''Byakuya?'' Ada apa pria ber-title kan bangsawan tampan itu datang kemari?

''Benar, Kurosaki-sama. Sekarang beliau ada diruang keluarga menunggu anda.'' Ujar pelayan itu dengan membungkukkan badannya.

''Baiklah aku akan kesana.''

Sambil menggendong jagoan kecilnya, Ichigo menemui kakak iparnya itu. Sambil berjalan, Ichigo sibuk dengan pemikirannya. Untuk apa juga Byakuya datang dipagi ini. Biasanya dia akan datang karena ada urusan yang benar-benar membutuhkan bantuannya. Kali ini, bantuan apa yang diminta oleh bangsawan Kuchiki itu?

''Raiko-chan!''

Seorang gadis kecil berusia 6 tahun berlari menghampiri Ichigo dan putra kecinya. Ichigo tersenyum menyapa gadis manis itu.

''Hay, Kyoko-chan. Bagaimana kabarmu hari ini?''

''Baik, paman.'' Jawab gadis bermata abu-abu itu seraya tersenyum manis. Byakuya yang melihat keponakan laki-lakinya, menghampirinya dan menggendong dengan hati-hati.

Byakuya terlihat bersenda gurau dengan bayi 9 bulan itu. Raiko pun juga tampak senang di dgendong oleh Jii-samanya. Byakuya memang menginginkan anak laki-laki. Tetapi walaupun karena Kami-sama memberikan anak perempuan, Byakuya tetap bersyukur karena dikaruniai anak.

Raiko adalah keponakan yang paling disayangi oleh Byakuya maupun cucu dan cicit yang dibanggakan oleh tetua Kurosaki maupun Kuchiki.. Maklum, keponakan yang dilahirkan oleh adik tercinta Byakuya ini, sudah menjadi dambaan keluarga Kuchiki maupun Kurosaki sejak 10 tahun menunggu. Karena jenis kelaminnya laki-laki, jadi cocok sebagai penerus di kedepannya. Raiko mungkin adalah calon penerus terkuat di kedua keluarga ini nantinya.

Ichigo menatap wajah Byakuya yang terlihat bahagia bersenda gurau bersama putranya dan putri Byakuya. Apa mungkin Byakuya kemari untuk bermain bersama Raiko? Mustahil sekali. Dia tidak akan kemari untuk hanya sekedar bermain dengan putra semata wayangnya, jika tidak ada Rukia disini. Jadi.. kenapa tidak coba ia tanya saja. .

''Ada apa kau menemuiku, Byakuya? Kau tidak datang kemari hanya untuk bermain bersama putraku kan?" Ungkap Ichigo yang terdengar sedikit menyindir itu.

Byakuya menghela nafas panjang. Kenapa susah sekali meminta Ichigountuk memanggilnya dengan kakak ipar?

''Masih saja tidak sopan padaku. Aku butuh bantuanmu." Ungkap Byakuya masih dengan tatapan datarnya. Mendengar itu, Ichigo tersenyum nengejek pada kakak iparnya ini.

"Heee... sejak kapan kau datang ke kediamanku ini kalau bukan untuk meminta bantuanku. Paling jika tidak bertemu adik kesayanganmu hanya untuk sekedar melihat keadaannya, kau tidak mau datang kesini.'' Ichigo masih setia tersenyum mengejek pada pria berwajah tampan itu.

Kebiasaan Ichigo jika bertemu dengan rivalnya. Mencoba tersenyum mengejek demi membuat sang lawan kesal setengah mati. Tapi nyatanya itu ampuh, lihat saja wajah Byakuya sekarang. Kelihatannya wajahnya sudah memendam amarah.

"Maaf saja jika itu benar. Aku tidak betah jika harus melihat wajahmu. Wajah yang sudah berani membawa lari Rukia menikah, mana mungkin aku tidak jengkel padamu." Ungkap Byakuya jujur dengan perempat kecil yang muncul di dahinya.

Adik iparnya ini memang selalu membuatnya jengkel. Setelah berani membawa adik tercintanya kawin lari, ia juga merayu ayahnya, Sojun Kuchiki –yang notabenenya telah menganggap Rukia anaknya sendiri- untuk merestui pernikahan itu. Sebagai suami dari Hisana –kakak kandung Rukia-, Byakuya tentu saja menolak itu. Tapi dengan meluncurnya restu dari Sojun Kuchiki, otomatis membuat Byakuya diam seribu bahasa. Sejak saat itu, Byakuya menganggap Ichigo adalah rivalnya.

"Oke baiklah. Lalu bantuan apa yang kau minta? Aku tidak bisa memberikan lebih jika kau memintaku meminjamkan Renji untuk kepentingan bisnismu. Kau tahu kan jika sulit sekali mencari manusia seperti Renji.'' Ucap Ichigo santai.

Memang dasar Kurosaki Ichigo. Ia berhasil membuat Byakuya semakin jengkel padanya. Mata kelabu milik Byakuya, sekarang sudah menatap tajam pada dirinya. Byakuya mencoba menarik nafas sedalam-dalamnya demi menetralkan emosi yang hampir meledak ini. Kembali ditatapnya wajah adik iparnya itu dengan datar.

"Tenang saja. Bukan itu yang aku minta. Kau tidak usah khawatir.''

''Lalu apa?"

''Aku ingin kau menjaga putriku untuk hari ini. Aku akan mengadakan rapat penting dengan anggota direksi membahas kontrak dengan perusahaan asing. Dan aku tidak bisa membawa Kyoko sekarang."

Ichigo mengerutkan keningnya heran. Apa dia tidak salah dengar? Mengasuh anak? Apa ada yang bisa menyadarkannya sekarang?

"Wowowo... hey tuan Kuchiki, kau tahu kan jika aku juga diharuskan menjaga putraku sendiri oleh adik tercintamu. Jadi mana bisa aku menjaga dua anak sekaligus. Tidak. Aku menolak." Ungkap Ichigo sambil mengarahkan kepalanya ke arah lain.

"Hanya untuk hari ini saja. Aku tidak akan memintamu lagi. Rapatku akan dimulai 1 jam lagi. Jadi, bantulah aku." Ucap Byakuya dengan nada yang –agak- memelas itu.

Sebenarnya ini bukan gayanya untuk bersikap seperti ini. Hanya saja, sepertinya ia harus meng-ooc kan dirinya ini demi mendapat kesepakatan dengan adik iparnya ini.

''Memang dimana Hisana-nee? Apa dia juga ikut acara amal itu?"

''Hisana sedang menjaga kakekku yang sedang sakit di Seiretei sejak seminggu yang lalu. Dia menyuruhku untuk manjaga Kyoko selama dia pergi."

"Lalu? Apa urusannya denganku? Bukankah kau yang disuruh menjaga putrimu sendiri. Kenapa harus aku?" Ichigo menjawab sekenanya.

Terang saja begitu. Menjaga Raiko saja sudah repot. Inilagi menjaga 1 anak lagi. Memangnya rumahnya ini tempat penitipan anak apa?

Byakuya mulai mendidih sekarang. Dia kan memintanya dengan sedikit memelas. Kenapa dia menjawabnya dengan sewot.

''Jadi kau tidak mau?" Byakuya memejamkan matanya mencoba meredam amarahnya yang akan meledak.

''Tidak. Maaf saja ya."

Oke sepertinya tidak ada cara lain selain itu. Byakuya mungkin harus memakai cara terakhir. Diambilnya ponsel miliknya dari saku. Ichigo bingung menatap kakak iparnya ini. Apa yang ingin dilakukan oleh bangsawan keras kepala ini? Ichigo tersenyum iblis sekarang. Mungkin dia akan menghubungi manajernya dan mengatakan bahwa rapat dibatalkan. Salah satu cara yang bagus untuk membuat bangsawan terhormat ini malu di depan dewan direksi. Licik sekali tuan Kurosaki ini.

''Rukia. Ini aku Byakuya."

Ichigo membelalakan matanya mendengar nama sang istri disebut. Kenapa Byakuya menelepon Rukia?

'Ah Nii-sama, bagaimana kabar Nii-sama? Tumben sekali Nii-sama menghubungiku.'

''Kabarku baik-baik saja. Aku ingin mengatakan sesuatu. Apa kau sibuk?"

'Tidak. Apa itu?'

Byakuya tersenyum iblis menatap adik iparnya ini. Waktunya pembalasan.

''Sebenarnya aku ingin meminta tolong pada Kurosaki untuk menjaga Kyoko. Kakakmu Hisana sedang menjaga kakek dan aku harus menghadiri rapat penting." Ungkap Byakuya seraya tersenyum pada Ichigo.

Melihat senyum licik yang disunggingkan Byakuya, membuat Ichigo menatap horror kakak iparnya itu. Astaga... kenapa nyali dari kakak iparnya ini begitu besar?

'Oh begitu. Apa Ichigo menolak permintaan Nii-sama?'

"Ya begitulah."

'Bisa berikan ponsel ini pada Ichigo? Aku yang akan mengurus ini untuk Nii-sama.'

"Baiklah."

Byakuya memberikan ponsel ini pada adik ipar orangenya. Ichigo benar-benar skakmaat sekarang. Byakuya pasti gila melakukan ini.

'Dasar bangsawan gila. Awas kau.' Batin Ichigo memaki kakak iparnya ini. Sementara yang bersangkutan tersenyum-senyum melihat ekspresi horror adiknya ini.

"Hay sayang."

'Ichi, benarkah kau menolak permintaan Nii-sama untuk menjaga Kyoko hari ini? Kenapa begitu?'

"Be.. begini sayang, kau tahu kan jika menjaga Raiko saja sudah mampu membuatku menarik rambutku sendiri karena frustasi. Apa kau tega membuatku menarik rambutku lagi karena harus menjaga satu anak lagi?"

'Tapi kan ini hanya satu hari. Tidak sulit kan? Sayang, kau masih mau menerima hadiah dariku kan?'

"Ten.. tentu saja aku mau."

'Kalau begitu jaga Kyoko untukku dan untuk hadiahmu. Kau mau kan, sayang?'

Ichigo menepuk keningnya. Astaga! Dosa apa yang dilakukan dirinya sehingga ia harus mendapatkan hal ini?

"Ba.. baiklah. Tapi kau janji kan jika akan memberikan hadiah itu."

'Tentu saja. Aku akan memberikan yang kau mau nanti. Tapi, jadilah ayah dan paman yang baik. Mengerti kan, sayang?'

"Baiklah. Demi dirimu aku melakukannya."

'Ara, itu baru suami tercintaku. Aku sangat mencintaimu, sayang.'

"Aku juga. Cepatlah kembali."

'Ehem... sampai nanti.'

"Ya."

Hembusan nafas panjang kembali keluar dari mulut Ichigo. Rasanya seperti berada di neraka sekarang ini. Sambil menyerahkan Raiko, Byakuya tersenyum mengejek pada adik berambut orange nya ini.

''Jika kau mengatakan itu dari tadi, aku tidak akan melakukan hal sejauh itu, Kurosaki."

"Dasar bangsawan tidak waras. Seenaknya memanfaatkan kelemahanku demi keuntunganmu"

Byakuya tersenyum menanggapi perkataan adik iparnya. Senang sekali melihat adik iparnya yang ketakutan jika tidak mendapat kasih sayang dari adik tercintanya.. Byakuya mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecilnya yang berada di dekatnya. Senyum lembut terukir dari ayah berusia 27 tahun ini.

''Kyoko-chan, ayah harap Kyoko-chan bisa menjadi gadis yang baik selama bersama dengan paman Ichigo. Mengerti kan?"

" Baik, ayah."

"Anak pintar. Ayah akan menjemput bersama dengan ibu nanti malam."

"Ung."

Byakuya kembali berdiri. Dilihatnya Ichigo yang masih mengerucutkan bibirnya kesal itu.

"Tolong kau jagaputriku. Aku akan kembali nanti malam bersama Hisana. Kau paham kan?"

"Iya, iya aku tahu kok. Cerewet."

Byakuya segera bergegas menuju kantornya diantar oleh supir pribadinya. Sepertinya dia cukup –atau bahkan sangat- bahagia karena telah membuat Ichigo takluk dengan siasatnya. Sudah bukan rahasia lagi kan jika ayah muda itu takut dengan istrinya? Byakuya juga sering mendengar dari Renji jika Ichigo sering mendapat hukuman menanam bunga kesayangan adik tercintanya. Dan itu tidak tanggung-tanggung. Salahnya sendiri jika harus membuat masalah dengan Rukia.

.

.

#RinRai_KurosakiKuchiki#

.

.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Ichigo mencoba bertanya pada keponakan kecilnya ini. Jujur saja ia bosan jika harus terus tinggal di rumah menjaga dua anak ini.

"Aku ingin pergi ke kebun binatang, paman." Ucap gadis bermata kelabu itu.

Ichigo terdiam seraya berpikir. Kebun binatang? Sepertinya itu ide yang bagus. Bukankah ia hanya harus mengawasi gadis kecil ini?

''Yosh! Ayo kita pergi kesana."

Kyoko berteriak senang karena akan diajak ke kebun binatang. Sudah lama sekali ia ingin ke kebun binatang. Tapi karena ayahnya sibuk, jadi ia tidak bisa mengajakanya ke kebun binatang.

Ichigo meminta tolong pengasuh Raiko untuk mempersiapkan perlengkapan Raiko dan Kyoko. Ini akan menjadi acara yang menyenangkan untuk anak-anak ini.

.

.

.

Setelah semua beres, semua barang dimasukkan kedalam mobil. Dengan menggunakan mobil semi sport putihnya, Ichigo bersiap untuk perjalanannya ke kebun binatang yang lumayan jauh dari sini. Biarpun ini menjadi perjalanan keluarga, tapi Ichigo tidak mau kehilangan gayanya sebagai kolektor mobil sport keluaran baru. Maklumlah, dirinya kan masih muda. Jadi wajar saja jika dirinya pergi kemanapun, mobil sport kesayangannya harus selalu ada bersamanya.

Setelah Kyoko dan jagoannya sudah duduk manis didalam mobil, Ichigo juga siap untuk berangkat. Para pelayan terlihat membungkuk hormat mengantar tuan besarnya.

''Hati-hati dijalan, Kurosaki-sama. Semoga perjalanan anda menyenangkan."

"Arigatou, Shizuku. Jika Renji atau Rukia menghubingiku, katakan jika aku pergi bersama anak-anak.."

"Baik, Kurosaki-sama. Selamat jalan dan semoga hari anda menyenangkan, Kurosaki-sama."

Ichigo mengangguk dan menepuk pelan pundak Shizuku. Segera ia melajukan mobilnya menuju tempat yang diminta oleh keponakan kecilnya ini.

.

.

#RinRai_KurosakiKuchiki#

.

.

Perjalanan akhirnya berakhir di kebun binatang Doumori. Kebun binatang yang terletak di barat kota Tokyo itu begitu ramai di hari sabtu ini. Maklum saja, ini kan hari libur musim panas. Jadi banyak yang ingin menghabiskan waktu liburnya di kebun bnatang ini.

"Oke kita sudah sampai. Kyoko-chan, nanti jangan jauh-jauh dari paman ya."

"Baik paman."

Dengan Raiko yang ia gendong di depan dan membawa tas ransel, Ichigo berjalan memasuki kebun binatang itu menggandeng tangan keponakannya. Ini pertama kalinya Ichigo mengajak jagoan kecilnya ke kebun binatang. Sepertinya Raiko tampak begitu senang.

"Paman, aku mau melihat gajah."

"Baiklah. Ayo."

Keluarga kecil itu berjalan menuju ke kandang gajah. Sepanjang perjalanan, tampak jagoan kecilnya yang terus tertawa lucu atau tersenyum melihat binatang yang ada disini. Melihat itu Ichigo tersenyum lembut. Rasanya damai sekali melihat senyum bahagia terukir dari wajah putranya ini.

''Paman lihat! Anak gajah itu lucu."

"Wah iya benar. Lihat Raiko, itu namanya gajah. Kau suka?"

Raiko terlonjak girang digendongan Ichigo melihat gajah kecil yang sedang bersama ibunya. Ichigo terkekeh melihat tingkah lucu bayi mungilnya ini.

"Paman, ayo kita coba lihat yang disana."

"Baiklah."

Mereka beranjak menuju ke tempat lain. Ada begitu banyak hewaan langka disini. Dan kedua anak ini begitu senang sekali melihatnya.

''Hoy Mikan!''

Telinga Ichigo menangkap suara dari orang yang sepertinya ia kenal. Dan apa-apaan itu Mikan? Ichigo menolehkan kepalanya ke belakang demi melihat manusia mana yang berani memanggilnya dengan nama itu. Apa dia tidak tahu jika dirinya adalah tuan besar terhormat dari keluarga Kurosaki?

"Ternyata benar ini kau. Sedang apa kau disini?"

Ichigo membelalakan matanya saat dilihatnya sahabat masa SMA nya dulu, Grimmjow Jeagerjaques.

"G.. Grimmjow? Ke.. kenapa kau disini?"

"Hey.. kenapa kau jadi berbalik menanyaiku, kepala mikan?"

Perempatan kecil di dahi Ichigo mulai muncul sekarang.

"Sekali lagi jika kau berani memanggilku itu, akan ku botaki rambut birumu itu."

"Hahahaha... maaf, maaf."

Pertemuan yang menjengkelkan sekali dengan sahabat birunya ini. Setiap kali mereka bertemu, pasti akan selalu seperti ini. Yang berani mengatakan itu hanyalah Grimmjow seorang. Siapa lagi jika bukan dia.

Grimmjow tersenyum mengejek memandangi sahabatnya ini. Bagaimana tidak? Dengan menggendong anaknya sendiri dan belum lagi menggandeng seorang gadis kecil, ia keliahatan seperti seorang pengasuh bayi yang luar biasa cekatan.

"Kenapa kau tersenyum jelek seperti itu? Apa ada yang lucu, Kitty?"

"Jika aku mengatakan kalau miris sekali melihatmu seperti ini, bagaimana?"

Grimmjow tertawa terbahak-bahak sekarang. Pria elit seperti Ichigo, terlihat menggendong anaknya sendiri? Astaga... kejadian langka sekali.

Ichigo mulai jengkel sekarang. Apanya yang lucu?

"Lalu kau kesini sedang apa, hah? Apa masa kecilmu kurang bahagia dan sekarang kau datang kemari?"

"Hey, hey, kau pikir aku seperti dirimu? Aku datang kemari untuk.."

"Hey, Grimmjow!"

Grimmjow dan Ichigo membalikkan badan ketika ada seseorang yang memanggil. Tampak 2 orang pria yang tengah menghampiri mereka. Jika dilihat, mereka masing-masing menggendong seorang bayi. Bukan hanya bayi sih, tapi ada seorang anak lagi berusia 2 tahun yang tengah digandeng oleh pria berkaca mata.

"Astaga! Kenapa kalian berdua juga ada disini?" teriak Ichigo melihat kedua laki-laki itu.

"Yo. Hisashiburi, Ichigo." Balas seorang laki-laki berambut merah.

"Sepertinya kau sehat-sehat saja, Kurosaki." Ujar seorang pria berkacamata seraya membenahi kacamatanya.

Ichigo bersweatdrop ria melihat kehadiran dua orang sahabatnya lagi. Ishida Uryyu dan Ashido Kano tampak sehat-sehat saja sepertinya. Ashido Kano dengan style khasnya yaitu kacamata untuk bergaya yang bertengger di matanya dan baju tanpa lengan berwarna biru dengan celana sport beewarna hitamnya. Sedangkan Ishida juga tetap dengan style lamanya. Baju putih lengan pendek dengan celana panjang hitam. Untuk Grimmjow hampir sama dengan style milik Ashido. Hanya saja baju tanpa lengan berwarna coklatnya dipadukan dengan jaket berwarna putih ala anak muda jaman sekarang dan celana sport berwarna abu-abu. Begitulah style ke 3 orang pria tampan itu.

Dengan menggandeng anak dari Grimmjow, Ishida berjalan menuju Grimmjow dan memukul kepala laki-laki berambut biru itu dengan kencang.

"Kau gila atau tidak waras, hah. Seenaknya saja meninggalkan putramu yang sedang menangis sendirian di depan kandang harimau. Ayah macam apa kau."

"Hey! Sakit tahu! Aku kan tadi pergi ke toilet sebentar. Tanpa kusangka aku menemui Mikan disini." Balas Grimmjow bersungut-sungut seraya menggendong putranya yang masih terisak kecil.

Ichigo menggeram pelan lagi. Lagi-lagi sahabat anehnya ini memanggilnya Mikan.

"Oke, bagaimana jika kita mencari tempat untuk bersantai. Kau tahu kan jika bayi tidak boleh terpapar matahari secara langusng." Ujar Ashido yang mencoba menghalangi cahaya matahari dari bayi kecilnya.

"Ide bagus. Ayo.'

Keempat pria itu berjalan menuju tempat yang dapat digunakan untuk bersantai. Ichigo yang berjalan dibelakang mereka, menepuk keningnya pelan. Heran dengan nasibnya yang begitu buruk.

'Kenapa aku harus bertemu mereka disini sih. Astaga.'

.

.

#RinRai_KurosakiKuchiki#

.

.

Restaurant untuk keluarga di kebun binatang itu menjadi tempat singgah mereka untuk bersantai sekaligus ber-reuni. Kenapa dikatakan reuni? Karena setelah mereka lulus SMA, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Uryuu Ishida misalkan, ia sibuk menjadi kepala rumah sakit sekaligus calon pewaris rumah sakit milik ayahnya itu di Tokyo. Saat dirinya berumur 21 tahun, ia menikah dengan salah satu teman sekelasnya, Inoue Orihime. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Himeka Ishida. Sekarang ini, Orihime tengah mendalami profesi sebagai duta besar di salah satu Kedutaan besar Tokyo..

Grimmjow Jeageurjaques, pria berambut biru yang terkenal sebagai model terkenal di majalah asing di Amerika ini, sekarang juga masih menjadi model terkenal . Sejak umur 14 tahun, pria berambut biru ini telah menjadi model di majalah terkenal. Saat SMA, ia begitu dikagumi banyak gadis. Bagaimana tidak? Selain Grimmjow yang seorang model terkenal, ia juga putra dari seorang konglomerat terkenal di Amerika. Dan wanita yang mampu bersanding dengan dirinya adalah Nelliel Tu Odershvank. Nell adalah seorang model terkenal juga di Paris. Nell juga teman sekelas Grimmjow. Walaupun ia orang Eropa, ia mengatakan bahwa dirinya ingin sekali bersama Grimmjow. Ia rela belajar bahasa Jepang demi kekasih hatinya itu. Saat pertama kali mereka bertemu, keduannya pernah menjadi model di salah satu majalah.

Selanjutnya Ashido Kano. Bangsawan dari keluarga Kano ini adalah seorang pembalap F1 internasional. Namanya begitu dikenal saat dirinya memenangkan lomba Grandprix di Eropa. Ia juga menggeluti dunia balap sejak usianya menginjak 12 tahun. Walaupun dirinya adalah seorang pembalap, tetapi tidak membuat dirinya lupa akan tugasnya sebagai penerus perusahaan ayahnya kelak. Sekarang ini, ia telah menjadi seorang suami dari aktris terkenal Riruka Dokugamine. Riruka juga dulu adalah teman sekelasnya.

Ehm apa perlu juga untuk menceritakan Ichigo Kurosaki.

Ichigo: PERLU! PAKE BNGT MALAH.

#BERISIK! Oke saya ceritakan.#

Yang terakhir, seorang pria berambut orange bernama Kurosaki Ichigo. Pria ber-Title kan pangeran bermata hazel ini adalah putra sulung dari seorang milyader terkenal Kurosaki Isshin. Bukan hanya itu saja, kabarnya dirinya juga adalah seorang bangsawan. Memang, Kabar itu masih simpang siur. Tapi walaupun begitu, pesona darinya mampu membuat setiap gadis menjerit ingin memilikinya. Oh.. tapi itu tidak mungkin, karena yang berhasil memikat hatinya adalah seorang gadis bangsawan bernama Kuchiki Rukia. Kuchiki Rukia dulunya adalah seorang atlet kendo yang mampu menyabet medali emas di kancah internasiaonal. Tidak gampang memang menaklukkan gadis tangguh seperti Rukia, tapi toh nyatanya Ichigo berhasil.

Itulah tadi sepenggal kisah dari keempat pria eksotis itu. Saat SMA hingga sekarang, mereka dijuluki The Golden Knight

Oke kita kembali ke para pria tadi. Grimmjow mengawasi putranya yang berusia 2 tahun –Louis-, bermain bersama Kyoko di arena bermain anak. Setelah dirasanya itu aman-aman saja, ia kembali ke tempat kawan-kawannya berada di bangku dekat arena bermain itu.

Ishida terlihat sedang bergurau dengan putrinya yang berusia 5 bulan. Sedangkan Ichigo tampak sibuk memberikan susu untuk putranya yang tengah sedikit rewel itu. Berbanding terbalik dengan dua orang itu, Ashido Kano tengah santai menikmati minuman kaleng yang tadi dibelinya sambil menggendong putrinya yang masih berusia kurang dari 2 bulan. bayi umur segitu, pastilah yang dilakukannya hanya tidur saja.

Melihat sahabat-sahabatnya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, Grimmjow menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dasar para ayah yang sibuk."

"MEMANG KAU SENDIRI BUKAN AYAH." Teriak Ishida dan Ichigo jengkel secara bersamaan. Bagaimana tidak? Dia kan juga seorang ayah. Seenaknya saja mengatakan itu.

" Hey Ashido, boleh aku bertanya padamu? Kenapa kau membawa bayi umur 2 bulan ke kebun binatang seperti ini? Bayi umur 2 bulan kan dari pagi hingga sore hanya tidur." Ujar Ichigo heran.

Lucu sekali sahabat berambut merahnya ini. Mengajak bayi diumurnya yang kurang dari 2 bulan itu ke kebun binatang.

Ashido mengendikkan bahunya cuek.

"Tanyakan pada Grimmjow. Dia yang memaksaku untuk pergi kesini."

Ichigo memandang sahabat birunya dengan mulut menganga. Oh yes lagi-lagi Grimmjow. Mana ada orang yang berbuat sedemikian anehnya. Mengajak untuk memakai pakaian ala maid pun pernah mereka lakukan karena festival sekolah. Itu membuatnya di tertawai oleh para maid-maidnya di rumahnya setelah pulang dari festival.

Sang pelaku utama, Grimmjow tersenyum lebar.

"Habis... bukankah lebih baik kita pergi keluar mengajak anak bermain. Kan bagus."

"Hahhhh.. sudah kuduga kalau kau yang mengajak, Kitty. Kau memang tidak beres."

"Apa maksudmu, Mikan? Kau bilang aku tidak beres? Kau juga. Kudengar kabarnya kau mempunyai gadis simpanan bersama Renji."

Perempatan kecil di dahi Ichigo muncul sekarang. Wah... darimana juga si Kitty ini mendapatkan kabar itu? Pastilah dia menyuruh seseorang untuk mengobrak-abrik kehidupan pribadinya. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus membalasnya. Ahhh... Ichigo ingat dengan kejadian yang dulu melanda sahabat birunya ini. Gara-gara kejadian itu, Nell mengamuk dengan menyeret Grimmjow sambil menarik telinganya keluar kelas. Senyum mengejek tersungging dari bibir Ichigo.

"Hohoho.. benarkah itu? Ahh aku masih ingat saat Nozomi menciummu di lorong sekolah. Saat itu, Nell mengamuk luar biasa kan? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa Tia Harribel pernah mnciummu juga? Apa nanti Nell akan menarik kupingmu lagi? Hihihi..." Ujar Ichigo memanas-manasi sahabatnya itu.

Sudah bukan rahasia lagi tentang ke playboy-an Grimmjow. Banyak gadis yang mengejar-ngejar pria bertubuh proporsional ini. Dan setiap perbuatan yang dilakukan Grimmjow, pasti tidak jauh dari bumbu romansa. Yang paling menghebohkan adalah berita dirinya telah menghamili Nell diluar nikah. Saat para wartawan ingin meminta agar Grimmjow mengklarifikasikan berita itu, Grimmjow membenarkan hal itu. Setelah kabar itu, mereka menikah diam-diam di Spanyol. Dan itu juga hanya dihadiri oleh sahabat-sahabatnya dan keluarga pastinya.

Grimmjow menggeram pelan. Sepertinya ia perlu membalas Mikan satu ini.

"Heee... oh ya? Bagaimana jika ku katakan kalau, dulu saat kita mengadakan pesta Halloween, kau mencium mesra Senna? Apa nanti Rukia menyuruhmu untuk berkebun lagi?"

Ichigo menggebrak mejanya. Emosi mulai keluar sekarang.

"Oh jadi kau mulai berani?"

"Apa maumu hah, M-i-k-a-n?" Ejek Grimmjow sambil menjulurkan lidahnya.

"Berani kau memanggilku itu, tidak ada hari esok untukmu."

Ashido menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabat-sahabatnya. Sedangkan Ishida mulai jengah melihat pertengkaran kedua orang ini yang selalu terjadi saat SMA dulu. Jika ia sudah mengamuk, jangan salahkan pisau melayang dihadapan mereka.

"Oh ya? Coba saja." Tambah Grimmjow semakin memanasi.

"KEMARI KAU, KITTY!"

"HEY KALIAN BERDUA, BISA DIAM TIDAK!"

Oekkkk.. oekkkkk...

Kedua pria berbeda rambut itu, sekarang diam seribu bahasa ketika Ishida berteriak sedemikian keras. Sekarang bukan Ichigo dan Grimmjow yang beradu suara, tapi bayi Ishida, Ichigo, dan Ashido menangis keras karena ketakutan mereka pada suara teriakan Ishida.

Ashido menatap tajam sahabat berkacamatanya itu.

"Hey Ishida, kau membuat Ayumiku menangis. Kau ini." Ujar Ashido Kano bersungut-sungut sambil mendiamkan bayinya.

"Kau keterlaluan, Ishida. Raiko paling susah untuk di diamkan. Dasar tukang marah." Ichigo ikut mengomentari sahabat berkacamatanya itu.

"Itu benar. Lihat, putrimu Himeka juga ikut menangis kan?" Grimmjow menambahi sambil mengangguk-angguk setuju.

Merasa dipojokkan, Ishida menggeram pelan.

"Salah siapa jika aku harus berteriak. Dasar kalian preman berandalan."

Ketiga pria berbeda rambut itu menatap Ishida sweatdrop. Dia kan juga masuk di anggota mereka. Kenapa harus mengatai dirinya sendiri?

.

.

.

"Sebenarnya, kenapa kalian semua bisa ada disini? Dimana istri-istri kalian?" Ungkap Ichigo yang sekarang sudah berhasil menenagkan putranya yang sekarang tengah asyik memegang mainan Thomasnya. Grimmjow menyenderkan tubuhnya pelan.

"Nell sedang pergi ke Korea. Katanya ada pemotretan untuk baju musim panas disana."

"Lalu kau, Ashido?"

"Riruka juga katanya pergi ke Korea untuk sebuah acara penghargaan."

"Kenapa semuanya ke Korea? Jangan bilang jika Orihime juga.."

"Ya. Dia ke Korea untuk kerja sama dengan pihak kedubes Korea. Jadi dia menyuruhku untuk menjaga Himeka."

Ichigo menepuk keningnya pelan. Jika benar ini firasatnya, berarti mereka tengah menjadi bahan ujian. Dan jangan bilang juga jika ini ulah istrinya.

Melihat Ichigo yang setengah pasrah, ketiga pria itu menatap heran laki-laki berambut orange itu.

"Kenapa kau terlihat begitu terpukul? Apa Rukia pergi dari rumah dan meminta cerai?"

Karena omongan itu, akhirnya Ichigo bisa menghadiahi sebuah benjolan yang bertengger manis di kepala Grimmjow.

"Dasar bodoh, bukan itu. Rukia juga ke Korea untuk acara amal. Kalian sadar tidak jika mereka sudah merencanakan ini?"

Ashido dan kedua orang sahabatnya saling bertatapan satu sama lain. Benarkah yang mereka dengar?

"Kau bilang Rukia pergi ke Korea? Lalu kapan dia pulang?" tanya Ashido yang mulai penasaran itu.

"Besok. Apa... kalian juga begitu?"

Semuanya mengangguk setuju menanggapi pertanyaan Ichigo yang begitu kontras itu. Ishida melepas kacamatanya lelah mengetahui itu. Grimmjow lemas mendengar itu. Sedangkan, Ashido menepuk keningnya pelan. Betapa beratnya ketika 4 orang ayah muda ini diminta untuk mengurusi anak mereka masing-masing.

Bagaimana tidak? Sebenarnya mereka memiliki jadwal untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Tapi, sang istri asyik ber-reuni di negara lain.

"Ara.. ternyata benar kalian. Ohisashiburi."

Keempat orang itu menengadah ke arah orang yang menyapa mereka. Seketika mata mereka membelalak lebar, melihat kehadiran dua orang pria berbeda rambut itu.

"A.. astaga.. Gin? Kaien? Sedang apa kalian disini?" Ujar keempat pria itu secara bersamaan. Melihat raut 4 pria yang terlihat kaget itu, Kaien tersenyum menanggapi junior-juniornya

"The Golden Knight. Masih sama ya. Tidak berubah"

.

.

#RinRai_KurosakiKuchiki#

.

.

Kaien menyeruput Ice coffee yang tadi ia pesan 1 menit yang lalu. Sambil melihat putrinya –Hazuki- yang tengah bermain bersama Louis dan Kyoko, ia duduk bersama para juniornya dan sahabat karibnya.

"Ne, coba katakan pada kami. Jangan bilang kalian kemari karena ulah istri kalian juga? kami telah menjadi korbannya." Ujar Ichigo menatap kedua senpainya ini.

Gin terkikik geli mendengar itu.

"Ara, jadi kalian memang tidak tahu ya jika istri-istri kalian berkomplot untuk hal ini?"

"Maksudmu?" Ishida memotong pembicaraan itu. Jujur ia sedikit bingung dengan perkataan Gin.

"Sebenarnya ini semua adalah rencana dari Matsumoto. Dia yang memberikan ide agar kalian mengasuh bayi kalian masing-masing. Dia bilang, istri-istri kalian iri padaku karena bisa mengurus anaknya dengan baik."

Keempat pria itu mengerutukkan gigi mereka geram.

'Ternyata ulah Rangiku. Dasar tukang pamer.' Batin mereka berempat serempak.

"Tapi, ternyata kalian berhasil kan? Kalian telah menjadi ayah yang baik jika kulihat." Ujar Kaien tersenyum melihat cekatannya ayah baru dihadapannya.

'Baik apanya? Stress jauh lebih tepatnya.' Batin mereka lagi.

Keheningan melanda mereka. Mereka sibuk dengan anak mereka masing-masing. Raiko sudah tertidur sekarang. Setelah tadi bosan memainkan mainannya dan merengek kecil, Ichigo memberikan susu formula pada bayi mungilnya. Dan ia pun tidur.

Ichigo memandangi Kaien. Bukankah kakak sepupunya ini ada di Seiretei? Kenapa ada disini?

"Hey Kaien, bukankah kau seharusnya ada di Seiretei? Kenapa kau ada di Tokyo?"

"Apa kau tidak tahu Ichigo? Paman Isshin menyuruhku datang ke Tokyo. Ada sesuatu yang akan ia katakan padaku katanya." Ujar Kaien seraya membelai rambut keponakannya yang tengah tertidur dipangkuan Ichigo.

"Oyaji? Berita apa itu?"

Kaien menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Aku juga tidak tahu."

Ichigo berpikir sejenak. Apa yang akan dilakukan Oyajinya? Yang pasti sesuatu yang tidak bereslah yang akan dilakukan Oyajinya.

"Paman Ichigo?"

Ichigo menolehkan kepalanya kearah suara itu. Kyoko, keponakan kecilnya berjalan pelan menggandeng putra Grimmjow. Sepertinya senang sekali mereka berdua.

"Bagaimana permainannya? Menyenangkan tidak?" Ichigo membelai sayang kepala Kyoko. Walaupun ia putri Byakuya, tapi tidak membuat dirinya membenci gadis cantik ini.

"Aku senang sekali paman. Kapan-apan bisakah kita kemari lagi?" Ujar Gadis itu terlonjak girang.

Ichigo terkekeh pelan. Dibelainya rambut hitam panjang itu dengan sayang.

"Tentu saja. Kita pergi saat liburan bersama bibi Rukia dan Raiko."

"Yeeyyyy... Arigatou, paman."

"Bukankah ini putri Kuchiki Byakuya? Kenapa ada bersamamu?" kaien tersenyum lembut menatap gadis kecil i depannya.

"Byakuya sedang ada urusan. Ia memintaku untuk menjaganya hari ini." Ungkap Ichigo seraya menyodorkan jus pada Kyoko.

"Tentu saja dengan terror dari sang istri. Benarkan Mikan?"

Ichigo memukul kepala Grimmjow hingga benjolan besar bertengger di kepalanya. Ishida dan yang lainnya tertawa melihat itu.

Jam menunjukan pukul 4 PM. Waktunya bagi para ayah-ayah ini utntuk kembali ke rumah reka masing-masing. Mereka sudah berada di parkiran mobil. Ichigo berpisah dengan sahabat-sahabatnya di pintu selatan. Karena mereka memarkirkan mobil di barat dan timur.

"Nah minna, aku pulang dulu. Kapan-kapan kita harus berkumpul lagi." Ujar Ichigo yang menggendong putranya dan menggandeng keponakannya itu.

"Itu pasti. Kau tinggal hubungi kami saja jika ingin berkumpul." Ungkap Ishida pada sahabatberambut orangenya itu.

"Baiklah. Oh ya Kaien, hubingi aku jika kau inginke rumahku. Aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu."

"Pasti."

"Baiklah. Sampai nanti semua."

Ichigo melambaikan tangannya sebagai perpisahan. Begitu juga dengan Kyoko yang melambaikan tangannya untuk Louis. putraGrimmjow itu adalah teman baru untuk Kyoko. Jadi, mungkin nanti jika Kyoko bertemu dengan ayah dan ibunya, ia akan menceritakan hal itu kepada mereka.

Setelah selesai mengatur posisi duduk putranya dan keponakannya, Ichigo menyalakan mobil dan berjalan menuju kediamannya. Terlihat sekali jika Kyoko tertidur karena lelah bermain di kebun binatang bersama Louis. Wajahnya begitu damai sekali. Senyum lembut terukir dari wajah Ichigo.

"Senang sekali melihat mereka senang. Mungkin aku bisa berjalan-jalan lagi lain waktu bersama dengan mereka saja. Ide bagus."

Kurosaki Mansion 6 PM

Ichigo sampai di kediamannya. Para maid membungkuk hormat menyambut pulangnya tuan besar mereka. Homura menghampiri mobil tuan mudanya untuk membantu mengeluarkan barang-barang yang dibawa tuannya itu.

"Homura, biar aku yang menggendong Kyoko. Kau dan Sayaka-san segera bawa Raiko ke kamarnya."

"Baik, Kurosaki-sama."

Homura menggendong tuan muda kecilnya yang masih tertidur ke dalam kamar dengan diikuti babysiter Raiko. Sedangkan Ichigo, dengan perlahan ia menggendong keponakan kecilnya yang masih tertidur pulas. Kyoko agak sedikit bergerak ketika Ichigo mengangkatnya. Tapi, kembali tidur saat dibelainya pelan rambut hiam Kyoko. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam memasuki halaman rumahnya. Sepertinya itu mobil milik Byakuya.

Dan ternyata benar. Setelah mobil berhenti tepat di belakang mobil Ichigo, bangsawan Kuchiki itu turun bersama dengan istrinya, Hisana. Melihat adik iparnya, Hisana tersenyum lembut.

"Apa kabar Ichigo-kun? Maaf ya merepotkanmu karena harus menjaga Kyoko." Ungkap Hisana kepada adik iparnya ini.

"Tidak apa-apa, Hisana-nee. Raiko juga senang bisa bermain dengan Kyoko." Ujar Ichigo tersenyum simpul pada wanita bermarga Kuchiki itu.

"Benarkah? Oh ya, dimana Raiko-chan? Apa dia tidur?"

"Iya. Apa Hisana-nee mau melihatnya? Kita juga bisa makan malam bersama."

"Ah tidak usah, Ichigo-kun. Aku dan kakak iparmu harus lekas kembali. Ayah mertuamu menyuruh kami untuk cepat pulang. Benarkan, sayang?" Hisana menggoyangkan sedikit baju kemeja milik suaminya yang tengah menatap datar adik iparnya.

"Ya."

'Dasar pelit kata-kata.' Batin Ichigo menatapi Byakuya dengan jengkel. Adu perang saling tatap-menatap yang seru antara dua orang ini.

"Baiklah kami permisi dulu, Ichigo-kun. Sayang, tolong kau gendong Kyoko ya."

"Baiklah."

Ichigo memindah-alihkan gendongannya kepada Byakuya. Tidak ada satupun kata-kata yang terlontar dari kakak iparnya ini. Dasar bangsawan pelit.

"Sampai nanti, Ichigo-kun. Terima kasih untuk hari ini."

"Hati-hati dijalan Hisana-nee."

Mobil hitam itu melaju meninggalkan mansionnya. Senyum lega bertengger di wajah Ichigo.

"Yoshhh! Akhirnya bebas juga. Aku akan bersantai dengan berendam air panas. Yoshhhh!"

Akhirnya ada malam yang indah untuk Ichigo bersantai. Mungkin ia harus menikmatinya dengan minum anggur merah kelas 1. Oke itu bagus...

Semoga Raiko malam ini tidak membuatnya harus terjaga sepanjang malam. Semuanya bilang...

AMINNNNN...

Te Be Ce

KurochikiRinko_Room

Huwaaaaa... kepanjangan gak minna? Kalo iya, hontou ni gomenasai ya.. keasyikan ngetik soalnya. Jadi gak kerasa udah 5000 word. Astaghfirullahhhhh...

Oke... ada yang seneng karena Ichi disiksa? Saya sebenernya gak tega lho. Cuma tuntutan naskahnya yang kayak gni. Yaaaa.. saya Cuma bisa pasrah aja. Bener gak Ichi?

Ichigo: apa mau lu kate aje dah. Aye kagak peduli.

Ngambek aje lu kerjaannye. Urusin thu kambing gue. Belum lu kasi makan berapa taun thu.

Okeee.. waktunya bales review yang log in atau gak. Sumpah.. gomen bngt yak saya gak buka lewat akun. Abis saya sibuk buat planning saya yang tertunda sama tugas kuliah. Jadi... maklumlah...

Airien-chan: ini udah update. Makasih buat review sama supportnya. Tunggu chapter selanjutnya yaaaa

Rey ai3rien-chan: hahaha.. emang kasian ni manusia satu. Kena apes mulu di fic saya. Ni udah update. Thanks buat reviewnya. Tunggu kelanjutannya ya... ^^

Guest: Oh ya? Makasih ya buat sarannya. Bisa baca kata-kata saya yang paling atas sama yang ada dibawah. Kalo udah, makasih perhatiannya. ^^

Tuan Krabs-san: gomen buat rate nya ya. Saya terlalu terpancing sama genrenya sih. Hehehe.. arigatou gozaimasu buat reviewnya. Ini saya sudah update khusus bngt buat Tuan Krabs-san.. hehehe

Jessi-chan: iya dek. Tanpa sadar aq bikin umurnya 21. Padahal aslinya mau aq bikin 23. Tapi gak juga Grimmjowyang udah punya anak umur 2 tahun. #plakkk# makasih buat reviewnya ya dek. Ni dah ku update.

Darries-chan: Raiko disini emang imut. Cuma jangan bayangin Raiko yang partner saya lho ya. Gak imut sama sekali. Muntah ntar ngeliatnya. Khukhukhu (untung gak ada Raiko disini) ni udah update. Makasih ya buat reviewnya. Tunggu kelanjutannya.

Rini desu-chan: Terima kasih.. ^^ padahal saya kira ni fic Cuma penyiksaan Ichi doank lho. Ni udah saya update lagi. Ada kejutannya pula. Makasih buat reviewnya yaaaa...

15 Hendrik Widyawati: yuhuuuu.. mbak Widya... (ditimpuk sandal) iya mbak.. aq lupa buat ngasih rate T. Terpacu sama genrenya soalnya. Makasih buat reviewnya. Ni udah di update.. ^^

Bleachaholic Yuuka-chan: Ara.. maaf ya kalo masih ada Typo.. suka gentayangan soalnya.. hehehe.. makasih buat reviewnya. Ni udah update lhoooo...

Namikaze Sholkhan: Arigatou buat reviewnya.. ini udah update lagi. Tunggu kelanjutannya ya...

Azura Kuchiki-chan: begitulah Ichigo... selalu saya siksa disetiap fic saya (ditimpuk galon sama Ichigo) ni udah update lhooo.. thanks buat reviewnya ya.. tunggu kelanjutannya...

Arigatou buat minna-sama. Kritik dan saran saya tampung. Kalo untuk kata-kata yang nyakitin mata saya, kata-kata saya yang paling atas mohon dicamkan. Kalo mau tahu siapa korbannya, tanya aja sama temen fb atau twitter saya. Mereka gak main-main lho kena sumpah saya. Kehilangan apapun itu resiko mereka. (ini berlaku untuk fic yang lain juga. bukan hanya fic milik saya ^^)

Ichigo: hushh.. ngedumel mulu'. Kasian mata minna-sama ntar. Pedes bener liat kata-kata lu.

Me: iya, iya mas ganteng. Ntar lama-lama beta pake bahasa jawa ni...

Ichigo: udah deh minna-sama. Mending out sebelum Rinko sedengnya kumat. Nyinden ntar dia. Arigatou minna...

See you next chapter...

KurochikiRinko_Out