Aniway, kenapa aku hype banget ama cerita yang ini ya?
Ehe abaikan. Selamat membaca saja
Enjoy!
Ternyata, membopong seseorang tak segampang adegan dalam drama TV, walau kecil tapi lelaki berambut permen kapas di gendongannya tak mau diam jelas-jelas tak berdaya, manis sih tapi banyak gaya.
Jimin menemukan apartment Suga di lantai 5, untung saja lift tak jauh dari pintu rumah si mabuk. Jimin menekan kombinasi sandi susah payah, terima kasih pada Suga yang tak berhenti mengganggu. Untung saja RM sudah memberi informasi lengkap pada lelaki Park.
"Yi Joung, jalang itu tak bisa memuaskanmu kan? Hik.. Sudah ku duga hikk.. Kau.."
"oh diamlah" Jimin mulai lelah mendengar ocehan Rapper ini, tanpa sungkan menjatuhkan tubuh kecil itu di atas ranjang, lenguhan singkat keluar dari bibir manis lelaki itu, Jimin hiraukan.
"demi Tuhan, kenapa aku selalu mendapat sial hari ini?" rambut yang semula tertata rapi kini sudah di acak oleh jari-jari kekarnya.
"hey Suga-ssi. Aku sudah melakukan tugasku, ini kunci mobilmu" semua barang Suga di letakan pada meja samping ranjang lelaki yang masih mengingau vulgar di atas ranjang, Jimin menghela nafas.
"sial, aku harus naik taksi kalau begini. Suga-ssi aku pamit, jangan lupa mengganti passwordmu besok".
Jimin tak mau lagi berurusan dengan orang mabuk itu, Ia harus bergegas pulang.
"brengsek! Kau mau kemana hik... Kembali kau! tidak, jangan pergi dengan jalang itu hik"
Brug!
"aduh! Yak apa yang kau lakukan!?"
Jimin tak awas saat tubuhnya di tubruk dari belakang, tentu saja itu Suga yang menerjang hingga mereka berdua jatuh bertindihan di antara pintu kamar, kening Jimin terantuk lantai dan itu luar biasa nyeri.
"gotcha! Kau tak akan ku lepaskan lagi, heh! Mulai sekarang akan ku ikat kau hahaha". Jimin membolakan mata saat kedua tangannya sudah di kunci di belakang tubuhnya, lelaki Park bergerak cepat untuk berbalik. Tangannya Ia jauhkan dari genggaman Suga.
"kau gila? Apa yang kau lakukan heh? Aku bukan pacarmu! Sadarlah!" Jimin tak punya pilihan selain membentak galak, lelaki mabuk yang menindih perut berbentuknya itu harus di sadarkan
Plak!
"yak!" Jimin memegang pipinya yang panas berdenyut, lelaki mabuk itu menamparnya tepat di pipi dan Jimin hampir membalas jika tak melihat linangan air mata jatuh di kemeja putih miliknya.
"hikss.. Kau jahat.. Hiks... Kenapa kau bisa sejahat ini?.. Aku sangat mencintaimu tapi kenapa? Kenapa kau tak bisa hanya melihatku saja brengsek!" kepalan tangan itu jatuh menghantam dada bidang lelaki yang masih menempel di lantai, Jimin tentu merasa sakit namun kesakitan di wajah basah itu lebih parah. Jimin bungkam karena isakan Suga mengisi kesunyian kamar.
"harus berapa banyak yang ku korbankan untukmu? Aku melepaskan mimpiku menjadi idol untukmu... Appa membenciku karena memilih mengejarmu... Katakan.. Hikss.. Apa aku harus mati juga agar kau berhenti mempermainkanku?" sorot mata terluka itu memaku Jimin, Suga meraung dalam tangis meluapkan segala amarah dan kesakitan yang sudah menghimpit dadanya, pukulannya pada Jimin melemah seiring tubuh itu jatuh menimpa lelaki Park, Yoongi masih terisak di dada Jimin.
"kenapa? Kenapa mencintamu sesakit ini? Hik". Jimin sebagai orang asing tak bisa berkata apa-apa, Ia baru bertemu Suga dalam keadaan mabuk pula dan sekarang mendengar curhatan cintanya yang malang, Jimin harus apa? Bahkan Ia belum pernah pacaran setelah lulus sekolah, dulu memang Ia punya banyak pacar tapi hanya sekedar pacar-pacaran yang lebih banyak main tanpa ada sakit hati dan air mata. Jimin geming di tempat, inginnya menenangkan Suga tapi dengan cara apa?.
Ragu tangannya Ia bawa ke punggung Suga, menepuk lembut punggung sempit itu walau Jimin tak yakin dengan apa yang Ia lakukan.
"sstt... Mianhae". Suga geming, namun isakanannya masih tersisa banyak, Jimin menelan ludah karena mulai merasa tak nyaman dengan posisi mereka.
"a-aku tak akan pergi, mianhae" sebisa mungkin Jimin membuat suaranya bisa menenangkan lelaki patah hati, tanganya merambat hingga ke rambut permen kapas itu yang ternyata sangat lembut, samar Jimin menangkap aroma manis dari sana. Baru Ia sadari aroma manis dari tubuh Suga yang bercampur dengan bau alkohol ternyata bisa menjadi perpaduan yang menarik. Lelaki ini penuh kejutan.
Benar-benar penuh kejutan kala tubuh kecil itu tersentak bangun, Jimin tentu kaget mana kala wajah penuh air mata itu menatapnya lurus, Suga menekuk wajah sebal dengan bibirnya yang maju banyak, sorot matanya menyipit garang yang Jimin akui, itu tak mengintimidasi sama sekali.
"a-apa lagi sekarang?" Jimin mulai gugup kala Suga menghapus air matanya, dan tiba-tiba tersenyum lebar hingga menampilkan gusi merah jambu miliknya. Jimin terpesona sekaligus ngeri melihat perubahan ekstrim itu.
"ya-yak! Apa yang kau lakukan!? Jangan tiba-tiba melepas bajumu!" Jimin kelabakan saat kaos Vneck putih milik Suga sudah terlepas oleh lelaki manis itu. Jimin menyentak bangun hingga kening mereka terbentur.
"a-aww! Kenapa? Bukankah kita sudah berbaikan? Ini saatnya kita bercinta kan?" lelaki manis itu menggerutu imut dengan kening yang memerah.
"m-mwo? Bercinta katamu? Apa kau gila!? Tidak!" Jimin panik saat dengan gampangnya Suga memutuskan untuk swadikap swidipap wik wik wik ah ah dengannya.
"ah wae!? Kenapa kau menolak? Biasanya kau yang lebih dulu menelanjangiku lalu menyusu! Kenapa? Kau tak mau menyusu padaku lagi?" wajah manis itu membentak garang, mata sipitnya melotot galak.
"mwo!? Apa kau lebih suka menghisap dada para jalang di luar sana di banding milikku? Yak! Kau laki-laki jahat!". Jimin hampir pingsan di tempat menerima serangan si lelaki manis.
"ba-bagaiman bisa kau mengatakan semua kalimat vulgar itu dengan lancar? Wa-walau kita sering itu, tapi mana boleh kau" Jimin tak bisa melanjutkan kata-katanya, isi kepala ganteng miliknya sudah kusut tak bisa lagi berargumen karena demi Tuhan! tubuh seputih pualam itu sangat menggoda, terutama dua titik merah muda dengan nipple yang mencuat seolah mengundang untuk di jamah. Jimin sedang merasakan berdiri di antara godaan dan kewarasan.
Dia bukan lelaki brengsek yang bisa seenaknya mengambil kesempatan dalam kesempitan, Ia lelaki Korea yang bermoral tinggi sekalipun sekolahnya tak tinggi. Lelaki Itu memejamkan mata ketika netra karamel milik lelaki manis itu menatapnya sendu mengundang.
"aku tau dadaku tak semontok para jalang itu, aku bukan wanita tapi, setiap kali kita bercinta kau lebih suka berlama-lama bermain di sini, lihat bahkan putingku membesar karena ulahmu!" cara Suga menyampaikan protesnya hampir membuat Jimin goyah lagi, bibir itu tak bisa untuk biasa saja? Kenapa harus mempout? Warna dan bentuknya yang menggugah tak kuasa Jimin tolak.
Lelaki Park mengehela nafas paling panjang sebisa diri.
"Suga, maksudku-"
"Suga? Biasanya kau memanggilku Ddungie, kenapa berubah" lelaki setengah telanjang yang masih betah di pangkuan itu meneleng imut, bulu matanya berkedip cantik.
"ma-maksudku, Ddungie-ssi" Suga semakin cemberut, tak suka cara Jimin menyebut namanya.
"Ddungie-ah" lelaki mabuk itu tersenyum sangat manis, lenganya sudah melingkar di bahu kekar Jimin, mengelus disana dengan ekspresi menikmati.
"kau habis ngegym? Bahumu semakin kekar dan kuat, ah aku ingin melihatnya. Buka bajumu". Jimin membola saat jemari panjang itu mempreteli kancing kancing kemejanya.
"ya-yak! Kau mau apa? Hentikan! Yak!" semakin di cegah, Suga semakin semangat melepas kancing kemeja milik Jimin, jari-jari itu sangat lincah sulit di cegah hingga kancing terakhir hampir terlepas jika Jimin tak cepat-cepat menggenggam tangan pucat itu.
"hentikan"
Jimin tak membentak, tapi pergerakan Suga berhenti, tubuhnya merinding mendengar suara rendah lelaki yang Ia tindih, auranya tiba-tiba mengintimidasi membuat Suga takut-takut menaikan pandangan menatap ke arah dua netra kelam Jimin, seketika udara menjadi berat bagi Suga untuk bernafas.
"hentikan, aku tak mau kau menyesal nantinya". Kedua tangan itu menjauh, jatuh di sisi tubuh setengah telanjang mereka berdua. Jimin menghela nafas karena sudah memaksa Suga untuk tunduk padanya.
Lelaki manis itu bungkam, bibirnya terkulum meninggalkan getaran, Jimin tahu lelaki itu sedang menahan tangis.
"kau menolakku?" benar, suara itu bergetar
"kau kembali untuk menolakku? Katakan" air mata itu jatuh lagi, Jimin semakin pusing. Sampai kapan drama ini berakhir?
Tak ada pilihan lain, lengan kekar menyelinap di bawah paha Suga, sekali lagi Jimin harus membopong lelaki mabuk itu untuk di rebahkan di atas ranjang. Benar saja, Suga menarik bibir untuk tersenyum. Senang akhirnya kekasihnya tak jadi pergi.
Jimin berdiri lama di tepi ranjang, matanya turun menatap lelaki manis setengah telanjang yang membalas tatapan dengan senyum. Kedua lengan putih itu terulur ke arah Jimin.
"kemarilah, aku merindukanmu my Yiyi, Ddungie rindu Yiyi"
Begitu katanya mengucap rindu dengan ekspresi paling menggemaskan yang Ia punya.
"kau mau ku setubuhi Suga-ssi?" kepala Suga menggeleng heboh
"jangan panggil aku Suga! Aku Ddungie"
"dan aku bukan Yiyi" Jimin mengerang frustasi, kemeja yang hampir terlepas Ia tarik berlawanan arah hingga kancing yang malang itu terlepas ribut dari kain, Jimin merobek satu-satunya kemeja yang Ia punya demi menyadarkan lelaki mabuk di atas ranjang itu.
"ah tunggu!" Suga menyentak bangun, buru-buru melepas skiny jeans miliknya menyisahkan satu pantie berwarna merah yang membungkus pantat bulatnya. Lelaki itu duduk bersimpuh menghadap Jimin yang dua matanya hampir melompat keluar menyaksikan betapa agresif lelaki mabuk itu.
"Ddungie mau menyapa belalai Yiyi, bolehkan" apa pula sikap malu-malu itu? Membuat gula darah melonjak naik, Jimin merasakan darahnya berdesir ribut dan berkumpul di pusat panasnya.
Suga menyeringai saat melihat gundukan di selangkangan Jimin tercetak jelas, lengan putihnya terulur
Hap!
Menangkap ular tumpul yang masih berdiam di dalam sarang. Bagai mendapat mangsa, wajah Suga berbinar cerah. Jimin menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangan. Bahaya, Ia sudah condong ke jurang kenikmatan, Suga hanya perlu meniup dan Jimin akan jatuh di pelukannya.
"Yiyi, apa boleh di buka?" wajah yang di hiasi rona merah menengadah meminta izin dengan cara paling setan yang pernah Jimin lihat, lelaki mana yang bisa menolak saat nafsu sudah menguasai? Jimin memang belum pernah berhubungan intim dengan lelaki maupun perempuan sebelumnya tapi Ia sesekali akan masturbasi sambil menonton film erotis dan bayangan bibir mungil itu menghisap kesejatiannya sudah menari-nari di pelupuk mata.
"Yiyi, what your colour?" hidung bangir itu sudah menempel, menggesek-gesek penuh penantian.
"Ddungie"
"yes Yiyi" sorot mata kucing itu menatap memohon
"call me Daddy Jim and I'll give you mine" suara Jimin semakin berat menahan hasrat.
"eung, why?"
"do it or never, baby" Jimin memang sudah di tepi Jurang, namun menggagahi lelaki manis yang masih mengira dirinya adalah sang kekasih tentu akan menghilangkan mood, Suga menatap gundukan itu penuh harap, salivanya sudah terproduksi banyak karena menantikan batang panas itu melecehkan mulut kecilnya.
Damn! Walau brengsek, nyatanya milik kekasihnya mempunyai ukuran yang bisa membuatnya meminta lebih. Kepala permen kapas mengangguk dengan suara 'eung' yang imut.
"dhaddy, I want yours, phwease". Setan bersorak gembira kala salah satu buruan jatuh ke kubangan kenikmatan berujung dosa. Jimin gelap mata ketika Geligi mungil lelaki di bawahnya menarik turun restleting celana kain milik Jimin, mata kecil itu semakin berbinar bagai lampu neon mendapatkan buruannya sudah keras meninggalkan bercak basah di dalaman hitam Jimin.
"ehe... Basah punyamu" Jimin di buat heran saat lelaki manis itu terkekeh sembari menggesek hidungnya di sana, nafas Jimin semakin berat karena Suga sepertinya mau main-main dulu dengan miliknya.
"daddy, aku buka ya" bibirnya saja minta izin tapi kedua tangan itu sudah cepat menarik turun celana Jimin
"o-omo! Daddy you are gettin' so Big! O-omo... Mmmhh"
"ughh! Fuck". Jimin tak pernah mengantisipasi serangan itu, tau-tau Suga melebarkan mulut kecilnya dan melahap batang miliknya walau lelaki manis itu harus berusaha keras karena Damn! Milik Jimin hanya bisa Ia masukan setengah, butuh usaha ekstra melonggarkan kerongkongan untuk memasukan sosis gemuk itu.
"ssshh... Shit!" kedua kaki kekar itu hampir goyah merasakan miliknya masuk terlalu dalam seolah Suga menelan miliknya, setan memang lelaki manis ini! Kenapa sangat lihai menggunakan mulut kecilnya!?.
Suara kecipak basah dan lenguhan tertahan dari lelaki manis yang sedang mengoral milik Jimin menjadi alunan pengisi suara di tengah malam, Jimin tak pernah membayangkan akan datang dimana hari Ia menghianati janjinya untuk menolak one night stand. Persetan dengan semua itu karena Jimin yang sekarang bukan Jimin yang kemarin. Dibawah sana ada yang suka hati memanjakan Juniornya yang masih perjaka, jadi yah... Hidup hanya sekali.
"umhh..." kuluman itu terlepas menyisahkan benang saliva yang jatuh membasahi dada putih miliknya, kedua tangan saling berlomba memompa milik Jimin yang semakin keras berurat, bibir Suga basah bercampur lelehan precum yang menetes dari ujung penis gemuk itu.
"sshh.. Daddyhh.. I love it". Bibir merekah itu sekali lagi melahap, Jimin kembali di hantam kenikmatan yang merambati tulang punggung, kepala hitamnya terlempar kebelakang, kedua tangan erat mencengkram rambut permen kapas yang sedang menikmati miliknya.
"owh baby... Lebih cepat.. Fuck" Jimin sudah di ujung, pinggulnya ikut maju-mundur. Melecehkan mulut si manis yang terbuka lebar, kedua netra berkabut itu terpaku padanya, Suga tersedak karena Jimin mulai kasar pada mulutnya. Tapi Suga menyukai itu, sensasi tersedak hingga sulit bernafas adalah sebagian kenikmatan yang Ia dapatkan saat mengisap penis. Dia menyukainya.
"Fuck!" Jimin terlalu dalam, tubuhnya bergetar nikmat kala semua sarinya Ia tembakan terlalu dalam di mulut kecil lelaki manis, Jimin dapat melihat ribuan bintang di balik kelopak matanya yang terpejam kuat, ini adalah pelepasan luar biasa nikmat yang pernah Ia rasakan.
"mmghh! Ughh.. Uhukkk..." terlalu banyak, Cairan itu terlalu banyak dan kental, Suga menelan semuanya susah payah, air mata membasahi wajahnya yang semerah persik, Jimin menarik diri dan Suga bernafas lega dengan sisa batuk yang ada.
"a-apa kau baik saja? Maaf aku tak bisa menguasai diri, itu". Yoongi mengangkat wajah, lelehan sperma di dagu Ia seka dengan punggung tangan, wajahnya masih menyisahkan binar kepuasan. Lelaki manis itu memutar tubuhnya, menekuk kedua kaki dan memperlihatkan pantat sebulat peach di depan mata Jimin.
"dadhh... Ddungiehh want yours in here too". Pantat bulat itu sengaja di goyang-goyang, dada putih miliknya sudah menempel di ranjang dengan kepala yang menoleh kearah Jimin. Pantat itu semakin terangkat di udara kala Jimin belum memberi respon.
"hikss.. Daddy please.. I want Youu" kali ini Suga merengek, Ia mau sosis itu memanjakan lubangnya yang berkedut lapar. Jimin mengusap wajahnya karena penis miliknya bereaksi lebih cepat dari perkiraan. Miliknya seolah tahu apa yang harus di lakukan. Belum lagi Suga melebarkan pipi pantatnya hingga lubang merah muda itu berkedut mengundang.
"aku bisa gila" Jimin mendesah frustasi, lututnya sudah tertekuk di tepi ranjang, telapak mengelus bulatan pantat semulus bayi itu membuat Suga melenguh manja.
"dadh... Umphh!"
Wajah Suga berubah pucat, kedua tangan di depan mulut.
"kenapa? Apa lagi sekarang?" Jimin menatap antisipasi, sepertinya Ia tahu apa yang akan terjadi. Tapi terlambat.
"blegghhh".
"Yak!". Jimin melolong frustasi karena adegan yang sudah Ia tunggu berhenti di tengah jalan.
Jimin ingin pinsan, kalau bisa sampai bulan depan. Sekarang pukul 4 pagi dan Ia sudah menghabiskan semua tenaganya mengurus lelaki mabuk itu.
Adegan erotis berujung musibah. yeah, Suga muntah di atas ranjang dalam jumlah banyak. Jimin kalang kabut membopong tubuh telanjang itu ke kamar mandi, Suga melanjutkan acara muntahnya bukan di kloset tapi di lantai kamar mandi membuat Jimin hampir berteriak frustasi. Dirinya hampir gila dengan keadaan penis setengah tegang dan harus mengurus si mabuk yang tak berhenti muntah.
Jimin menggulung seprei kotor setelah memakai boksernya. Tubuh atletisnya sibuk mengurus kekacauan hanya berbalut bokser hitam. Kalau Suga dalam keadaan sadar apa yang akan lelaki manis itu katakan? Jimin menggelengkan kepala, sudah cukup berpikir. Setelah ini Ia harus pulang.
Lelaki setengah tan itu mengganti seprei Suga dengan yang baru, memandikan lelaki manis itu yang tertidur di kamar mandi setelah selesai muntah, memakaikan piyama hangat dan kaos kaki kemudian membersihkan lantai kamar mandi.
Jimin bernafas lega setelah menyelimuti tubuh ringkih itu.
"tidurlah, dan aku harap kau melupakan semua apa yang terjadi tadi" setelahnya Jimin mengenakan kembali pakaiannya walau kemeja yang Ia punya sudah tak berkancing lengkap. Saat kakinya hampir menginjak keluar kamar, lelaki itu berbalik menatap lama pada Suga yang sudah pulas.
"maafkan aku Suga-ssi, ku harap kita tak bertemu lagi" Jimin membungkuk dalam-dalam, Ia akui apa yang terjadi diantara dirinya dan Suga hanya episode singkat yang gila, Jimin mungkin akan mengingat semua yang terjadi di antara mereka namun berharap Suga melupakan karena semua ini tak sepantasnya terjadi.
Untuk itu sebelum pulang, Jimin menyempatkan membuat sup penghilang mabuk untuk lelaki manis itu sebagai bentuk permohonan maaf dan benar-benar meninggalkan apartment Suga.
Jimin mungkin hanya OB di kantor Bighit, tugasnya adalah memastikan setiap lantai dan kaca di gedung itu bersih mengkilat bekerja sama dengan kawan lainnya, semua itu Ia lakukan dengan penuh tanggung jawab jadi jangan heran walau jam kerjanya sudah usai, Ia masih harus memastikan toilet di lantai dua sudah bersih apa belum.
Lelaki berseragam biru itu menggosok lantai dengan pikiran terbang melayang.
Dua bulan lalu, Jimin melalui satu malam paling gila dalam hidupnya yang biasa-biasa saja. Hampir meniduri Rapper manis milik perusahannya sendiri, setiap kali adegan itu berputar di kepalanya, entah mengapa Juniornya ikut merespon seolah memberi sinyal bahwa Suga tak bisa begitu saja hilang dari ingatan.
Lelaki Park terkekeh sendiri, Ia memang belum melupakan Suga dan tubuh seksinya, tapi lelaki manis itu jelas tak ingat apapun yang pernah terjadi di antara mereka.
Satu waktu, sekitar dua minggu setelah kejadian itu, Jimin pernah bertemu lelaki itu, Suga menyuruhnya membeli kopi di kedai seberang gedung Bighit, lelaki itu sangat berbeda saat tidak mabuk. Ekspresinya datar seolah malas hidup. Tak ada senyum dan rambutnya sudah berubah pirang. Terus terang Jimin terpesona dan jantungnya berdegup kencang mana kala suara berat itu menyapa dari arah pintu studio yang terbuka setengah.
"chogiyo, bisa tolong aku sebentar" Jantung Jimin hampir melompat keluar karena sapaan itu, Jimin salah tingkah di hampiri Suga yang hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaos hitam ukuran super besar. He is Hot!
"bisa belikan aku Kopi?" lembaran won di serahkan, Jimin tak berani menatap langsung pada wajah manis itu, karena Ia tak tau apa yang akan Ia lakukan.
"n-nde, pakai gula atau cream"
"americano tanpa gula. Emm.. belilah sesuatu untukmu juga. Terima kasih" setelah menyerahkan uang, Suga kembali ke studionya tanpa melirik sama sekali, Jimin tanpa sadar menghela nafas kecewa karena sepertinya Suga tak mengenali dirinya. Tak apa, Jimin memang tak berharap banyak, Ia sadar bahwa Suga tak pantas mendapatkan lelaki seperti dirinya. Suga berhak mendapatkan seseorang yang bisa membahagikan dirinya terutama tidak miskin seperti Jimin.
Ya, lelaki miskin sepertinya harus tahu diri, tak boleh memimpikan dapat mendampingi seorang kelas atas seperti Suga. Ia menyelesaikan acara menggosok lantai kamar mandi setelah memastikan sudah benar-benar bersih.
"hah.. Lelahnya, lapar pula" Jimin mendorong peralatan bersih-bersih miliknya ke gudang, Ia kembali ke ruang karyawan untuk mengganti seragam dan bersiap pulang.
"kau sudah selesai?" itu Taehyung yang tengah bermain game di ponselnya sembari menunggu Jimin menyelesaikan tugas terakhir.
"aku pikir kau pulang, ternyata kau setia kawan juga eoh"
"apa-apaan kau ini, tentu saja aku setia. Kawan sedarah berjuang bersama sampai akhir!" Taehyung menyeru slogan yang Ia dapat dari internet.
"ya.. Ya.. Kawan sedarah yang membiarkan sahabatnya bekerja sendiri dan kau asik main game disini. Terima kasih"
"ehehe... Yang penting aku tak meninggalkanmu. Kajja". Jimin selesai mengganti baju saat Taehyung merangkul pundaknya, Jimin berteriak protes karena di seret tanpa ampun.
"ngomong-ngomong sudah lama kita tak minum?" Taehyung menaikan alis kompromi
"kau tak bisa minum, jangan menyusahkanku kalau kau mabuk"
"eeyy... Kita minum arak beras bagaimana?" Jimin mengehela nafas karena Taehyung tak akan berhenti memaksanya.
"arraseo, hanya sebotol dan kita pulang"
"yes! Kau memang sahabat sejatiku". Lagi-lagi Taehyung menyeretnya tanpa ampun mentang-mentang lelaki itu lebih tinggi.
"ck, bahuku bisa patah bodoh!"
"ahaha.. Mian, siapa suruh kau pendek"
"apa katamu? Kurang ajar kau pitak!" Taehyung tak bisa mengelak dari tendangan kuat di pantatnya, kedua pemuda tampan itu kembali ribut dengan pertengkaran yang kekanakan.
"aw aw! Mianhae!"
"kau yang bayar maka akan ku maafkan"
Tangan Taehyung masih terkunci di belakang punggung, Jimin serius akan mematahkan lengan lelaki tinggi itu.
"iya aku yang bayar! Lepaskan! Tanganku sakit bodoh!"
"apa!? Bodoh?" Jimin mengencangkan kunciannya hingga Taehyung kembali berteriak.
Dua lelaki yang masih saling piting di depan gedung Bighit itu tanpa sadar tengah di perhatikan dari lantai 3 sebuah studio yang lampunya masih menyala. Seorang lelaki pirang mengawasi dengan mata kucingnya. Lebih tepatnya pada lelaki berambut hitam yang sedang terbahak karena berhasil menyiksa kawannya itu.
"Park Jimin".
TBC
Ehehe... Aku keasikan nulis cerita ini ampe gak nyadar udah panjang sampai 2 part dan belum tamat xD
Maaf jika ada typo bertebaran dan EYD yang tak rapi
Dan Maafkan ideku yang sedang mengalir deras untuk cerita ini
Bagaimana? Haruskah saya melanjutkan work ini berbarengan dengan seri lain?
Voment Juseeyoonggg
