Shikamaru memarkirkan mobil porschenya dipekarangan rumah yang luas. Ia diam sejenak tanpa berniat keluar. Hatinya masih dirundungi rasa khawatir saat melihat reaksi kekasihnya sore tadi. Terlebih mengingat Sakura yang menolak diantar. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada wanita itu. Apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia merasa menjadi pria paling kejam didunia. Perbuatannya yang keji telah menghancurkan banyak kehidupan. Terutama kehidupan Sakura.

Ponsel yang ditaruh di dashboard mobil bergetar. Nama ibu terlihat dilayar sana. Shikamaru menggerakkan telunjuknya untuk menggeser tombol hijau.

"Kau tidak berniat kabur dan menemui wanita itu kan sayang."

Suara seseorang disana terhubung. Shikamaru menoleh dan menatapnya sinis dari balik kaca mobil. Tanpa menjawab, ia pun langsung mematikan sambungan tersebut. Melangkah keluar setelah menaruh ponsel kedalam saku jas.

Sambil mengancingkan jas crem yang dikenakan, Shikamaru melangkah mengikuti ibu dan ayahnya. Ternyata rumah itu memang begitu mewah, tidak hanya tampak dari luarnya saja. Shikamaru pun sampai tercengang melihat dalamnya. Beberapa lukisan tertempel apik memenuhi lorong yang dikini dilewatinya. Segitu kayanya kah wanita itu.

Shikamaru kembali mengendalikan diri saat wanita yang biasa dipanggil ibu itu menarik lengannya. Didepannya kini terkumpul beberapa orang menyambutnya. Ada wanita itu diantaranya. Sang ibu menyuruhnya untuk memberi hormat.

"Kau terlihat begitu tampan." Ucap wanita paruh baya yang Shikamaru kenal sebagai ibu dari wanita itu. Mereka menyuruh keluarganya untuk memasuki lebih dalam rumah ini. Shikamaru pikir, ia sudah sampai, ternyata ia harus berjalan lagi menuju tempat yang sudah disediakan.

Ruangan yang dimasukinya ini cukup luas. Bangku-bangku tertata rapih mengitari dua meja. Mungkin ini ruang keluarga, pikir Shikamaru. Beberapa orang yang Shikamaru rasa adalah pengurus rumah ini membungkuk saat mereka berjalan melewatinya. Ia sempat melihat seorang nenek ikut membungkuk. Apa itu juga pengurus rumah megah ini?

Sang tuan rumah tersenyum menyambut mereka. Ayahnya berjabat tangan pada kepala rumah disini. Ia hanya memberi hormat bersama sang ibu.

Mereka dipersilahkan duduk. Keluarga ini begitu ramah. Shikamaru pikir semua keluarga kaya seperti ini akan terlihat sombong, namun nyatanya tidak. Ia dan keluarganya telah diterima dengan tangan terbuka, melupakan perbuatannya pada anak perempuan mereka.

Sang ayah memulai percakapan dengan kepala rumah. Niat datang kesini memang sudah direncanakan oleh kedua pihak sebelum ini, sehingga hanya obrolan ringan untuk menuntun percakapan kearah puncaknya.

Shikamaru begitu risih duduk ditempatnya. Sepasang mata sedari tadi tengah memperhatikannya. Sepertinya salah satu adik dari wanita itu sangat tidak suka dengannya. Terlihat sekali dari caranya menatap. Tapi itu menurutnya wajar, mengingat apa yang telah dilakukannya terhadap kakaknya.

"Kau memang tidak salah memilih wanita Shika." Bisik sang ibu yang duduk disebelahnya.

.

..Like Crazy..

.

Tempat itu begitu bising. Musik disko terus bergema, lampu-lampu berkedip mengikuti iramanya. Bau alkohol tercium dimana-mana. Terdapat banyak wanita disana. Bernari, merokok, bahkan ada yang sedang menggoda pria. Sasuke melangkahkan kakinya menuju meja bar disana. Suasana seperti ini sudah biasa baginya. Ia Duduk diatas kursi yang tersedia.

Pria berambut jabrik menghampirinya. Memberikan sebotol wine seperti biasa. Botol tersebut langsung diminum setelah pria jabrik itu membuka dengan alat pembuka tutup. Menghabiskan setengah dari isinya. Ia menghela napas panjang.

"Hei.. Hei.. Hei.. Sepertinya kau sedang banyak pikiran." Pria jabrik yang dikenal bernama Naruto itu menopang dagu menatap Sasuke dari balik meja bar. Sebelah tangannya menuang wine kedalam gelas kecil lalu meminumnya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan sahabatnya satu ini. "Apa masalahmu, kawan."

Sasuke menghela napas. Ia melirik pria berambut kuning dihadapannya. "Apa yang kau rasakan saat ibumu berusaha menjodohkanmu dengan seorang wanita tanpa henti?" Ia meneggak lagi winenya.

Naruto memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dijodohkan. Kasih sayang orang tua pun, ia tidak pernah mendapatkannya. Maka dari itu ia hanya tertawa saat mendengar penuturan Sasuke. Tangannya menepuk pundak pria itu. "Sayangnya aku tidak pernah merasakan hal itu." Naruto menenggak hingga tandas wine digelas kecilnya. "Jadi ibumu menjodohkanmu lagi?" Ia kembali tertawa saat Sasuke memutar bola mata bosan.

"Sepertinya kali ini dia serius."

"Yasudah turuti saja keinginan ibumu itu." Naruto menjeda. "Sekali-sekali Sas.." Ucapan Naruto membuat Sasuke menoleh kearahnya tiba-tiba. Ada tatapan tidak suka didalam bola mata hitam itu. Naruto bergidik ngeri melihatnya.

"Kau sangat tau bagaimana diriku, Naruto."

"Oke.. Oke.." beberapa kali Naruto mengangguk. Ia lantas memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Sasuke yang kini tengah menenggak habis winenya. "Kalau begitu, apa kau lihat wanita pirang disana?"

Arah pandang Sasuke mengikuti telunjuk Naruto. Botol yang sudah kosong ditaruhnya diatas meja. Disana ia bisa melihat ada seorang wanita berpakaian sexy tengah mengobrol dengan beberapa pria setengah mabuk.

"Kusarankan kau lupakan saja masalahmu malam ini." Naruto berucap sembari mengetuk meja dengan telunjuknya. Pria itu kemudian kembali menunjuk wanita disana. "Apa kau tertarik dengannya?"

.

..Like Crazy..

.

Sakura tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Semua terasa begitu sulit untuk dicerna oleh akal sehatnya. Hatinya begitu kecewa mengetahui Kebohongan dan pengkhianatan. Ia telah hancur, ia tidak kuat untuk tetap berdiri. Tiang dihidupnya kini berganti menopang hidup yang lain.

"Dia hamil. Aku harus menikahinya. Aku akan bertunangan dengannya malam ini."

Ia menjerit. Mengeluarkan sesak yang menyiksa dada. Hanya hembusan angin malam dan deburan ombak yang menemaninya saat ini. Ia sendiri. Ia kini benar-benar sendiri. Kekasih yang menjadi satu-satunya kekuatan untuknya telah pergi. Menyisakan kepedihan dan kesakitan yang kian menyiksa batin.

"Ibu.." lirihnya. Ia menangis meratapi takdir. Kehidupan yang ia impikan selama ini telah hancur. Impian untuk membangun rumah tangga bersama orang yang dicintainya ternyata hanyalah sebatas angan belaka. Pria itu telah menghancurkan segalanya.

Mata hijau itu kini meredup menatap langit. Tidak ada lagi cahaya didalam tatapannya. Kegelapan telah membawa cahaya dikehidupannya. Ia bangkit dari duduknya diatas pasir. Berjalan gontai menyusuri pesisir pantai. Tempat ini begitu sepi. Tidak ada orang satu pun kecuali dirinya.

Air mata kembali menetes melewati pipi. Tidak ada isakan. Sakura terlalu lelah dengan keadaan. Hatinya berdenyut mengingat kembali moment siang tadi. Sejak kapan? Sejak Kapan Shikamaru berhubungan dengan wanita itu?

"Itu hanya kecelakaan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh, aku hanya mencintaimu, Sakura."

Bodoh, ia begitu bodoh sampai bisa dibohongi. Kecelakaan apanya? Cinta? Apa artinya cinta tanpa kesetiaan dan kejujuran? Ia pikir, selama ini Shikamaru setia padanya. Mengingat mereka tidak pernah mengalami masalah selama mereka menjalin hubungan. Namun nyatanya, tidak. Pria itu malah bermain belakang. Dan sekarang, ialah yang harus menanggung akibatnya.

Ombak berdentum keras. Sakura menghentikan langkah dibuatnya. Ia menoleh menatap pantai lepas disana. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, sampai-sampai selang beberapa detik kemudian kakinya perlahan melangkah. Terus berjalan hingga ombak kecil menabrak mata kakinya. Telinganya berdengung mendengar suara. Ia bisa melihat seseorang berdiri disana. Seseorang yang sangat dirindukannya. Ia terus berjalan melawan ombak, sesekali berteriak memanggil ibu dengan air mata yang terus mengalir dipipi. Namun sosok orang itu tidak bersuara. Hingga tiba-tiba angin berhembus menerbangkannya.

Sakura terkejut, ia seakan tersadar dari lamunan gelap. Matanya menatap takut sekeliling. Pantai kini telah menenggelamkan separuh tubuhnya. Ia panik. Apa yang dilakukannya saat ini. Mengapa ia seperti ini. Meskipun ia putus asa, menenggelamkan diri adalah hal yang paling bodoh.

Dengan sekuat tenaga, ia berbalik. Berjalan menuju pesisir pantai. Tubuhnya sedikit oleng akibat tekanan air yang besar. Ia terjatuh ke atas pasir setelah sampai pada daratan. Napasnya memburu. Pasti ia sudah gila hingga bisa berpikiran untuk menenggelamkan diri.

.

..Like Crazy..

.

Wanita blonde itu menyibakkan gordeyn kamar yang tertutup. Membuat sinar mentari menerobos melewati jendela besar dihadapannya. Langkah ringan membawanya pada pria yang masih tertidur pulas. Bunyi kasur berdecit terdengar saat ia duduk disamping pria tersebut. Sebelah tangannya mengelus lembut rambut hitam pria yang semalaman ini bersamanya. Mengecup singkat bibir pria itu.

Suara erangan terdengar disusul kelopak mata yang terbuka perlahan. Pria itu menyipit, menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk ke dalam retina. Ia melihat siluet wanita dihadapannya. Sedikit bergumam menanggapi sapaan wanita itu sebelum matanya kembali dipejamkan.

"Kau membangunkanku. Tidurlah kembali." Titah Sasuke dengan suara serak sambil menarik lengan wanita itu untuk kembali berbaring disampingnya. Namun wanita itu menolak.

"Ini sudah pagi. Aku harus segera pergi."

Dengan sangat terpaksa Sasuke kembali membuka matanya malas. Ia menatap wanita itu dan berdecak. "Tinggallah sebentar lagi. Apa kau tidak mengantuk?" ucapnya sedikit geram. Ia baru tertidur jam empat pagi tadi setelah bercinta berjam-jam. Dan Sasuke sangat tidak suka jika waktu tidurnya diganggu seperti ini.

"Aku sudah terbiasa."

Sasuke mengacak rambutnya. Ia lantas bangkit dari tidurnya. Berjalan menuju sofa disudut ruangan itu. Badannya yang tidak mengenakan sehelai benang terekspos bebas.

"Terima kasih atas malam ini, sayang." Ucap wanita itu saat Sasuke menyodorkan beberapa lembar uang yang baru saja diambilnya. Sebelah tangannya menangkup lembut wajah Sasuke sebelum beranjak keluar dari apartment tersebut.

Sasuke memutar bola mata bosan. Ia kembali berjalan dan menelusup kedalam selimut putih diatas kasur. Waktu menunjukkan pukul sembilan saat mata hitamnya melirik sekilas jam digital diatas nakas. Ia pun kembali terlelap dengan posisi tengkurap.

.

..Like Crazy..

.

Musik bit terus berbunyi saat Sasuke melajukan mobilnya membelah jalanan Konoha yang semakin ramai. Ia berniat ingin makan siang diluar karena bosan dengan makanan hotel yang hanya itu itu saja. Sebenarnya sih bukan makan siang, mengingat sedari pagi ia belum memasukkan apapun kedalam lambungnya. Sebab karena ia tertidur untuk menghilangkan kantuk, jadi sarapan dan makan siangnya tertunda hingga dini hari. Meskipun ia jarang sekali makan diluar, namun ia tau kalau didekat sini ada sebuah restaurant. Sehingga ia tidak harus menyetir jauh dengan keadaan perut yang kosong.

Mobilnya terparkir rapih bersama jajaran mobil lainnya dipelataran parkir. Musik dimatikan sebelum kakinya melangkah keluar. Seorang pelayan menyambutnya ketika ia memasuki restaurant tersebut. Dengan diantar olehnya, Sasuke berjalan menuju tempat kosong yang tersedia. Pelayan itu pamit undur diri dan kembali pada tempatnya tadi untuk menyambut atau sekedar berucap terima kasih pada pelanggan. Selang dua detik pelayan yang lain datang membawa buku menu serta catatan kecil.

Sasuke menyebutkan beberapa makanan yang dirasanya enak. Setelah memastikan tidak ada lagi yang dipesannya, pelayan itu pergi membawa kembali buku menu yang tadi diperlihatkan kepadanya. Ponsel disaku jeans bergetar, Sasuke berdecak melihat nama yang terpampang dilayar tersebut. Jempolnya menggeser tombol merah yang tersedia.

Ia mengamati seluruh restaurant ini. Mulai dari interiornya, tema yang digunakannya, serta hiasan-hiasannya tertata rapih. Sasuke mengagumi keindahan yang tercipta ini, juga kenyamanan pelayanan yang dirasakannya. Mungkin ia sesekali harus makan disini lagi jika ada waktu.

Ponsel yang ditaruh diatas meja kembali bergetar. Kali ini bukan sebuah panggilan namun sebuah pesan dan dari orang yang sama yang menelponnya tadi. Sasuke membukanya.

Kau dimana sekarang? Apa kau lupa kalau nanti malam adalah peringatan hari ke-100 kematian kakakmu. Pulanglah malam ini jika kau masih menghormatinya.

Sasuke berdecak kesal membacanya. Ia lalu menaruh kasar ponselnya keatas meja. Ia tidak suka jika ibunya berkata seperti itu, seperti hari ke-30 kematian kakaknya kemarin. Seakan-akan ia adalah adik yang jahat karena telah melupakan hari penting bagi almarhum kakaknya. Tidak usah diperingatkan pun, ia ingat. Karena baginya sang kakak adalah segalanya.

Makanan datang satu menit kemudian. Entah pengelihatannya yang salah atau memang benar, sepertinya tangan pelayan itu sedikit bergetar saat menaruh makanannya keatas meja. Tangan pelayan itu juga bergetar ketika menaruh minumannya, dan hal itu menyebabkan jus tumpah kepermukaan bajunya. Sasuke berdecak kesal. Satu hal yang sangat ia tidak sukai, yaitu memakai pakaian bernoda.

"Kenapa kau menumpahkannya?" Ucapnya geram. Sasuke mendengar pelayan itu meminta maaf berulang kali. Untung saja mejanya jauh dari meja yang lain. Sehingga orang-orang tidak memperhatikannya.

"Maaf. Biar saya bantu bersihkan." Pelayan itu mengambil tissue yang tersedia diatas meja. Membantunya mengelap baju putih yang kini ternoda jus tomat. Dan ya, Sasuke baru ingat kalau ini baju kesukaannya.

"Ada apa, Sakura?" Tanya seseorang yang Sasuke rasa itu adalah pelayan yang tadi mengantarnya ke meja. Pelayan itu sedikit terkejut. Sasuke hanya menampakkan muka masamnya.

.

..Like Crazy..

.

"Hei.. Ada apa sebenarnya dengan dirimu." Karin bertanya penasaran. Kini mereka berada diruang ganti setelah insiden jus tumpah. Untung saja pelanggan itu tidak sampai marah, meskipun kata tidak suka terus saja keluar dari mulutnya. "Sejak tadi pagi kau tidak banyak omong. Kau juga selalu melamun."

Sakura juga tidak tau mengapa dirinya menjadi seperti ini. Ucapan Shikamaru kemarin masih saja terngiang di telinganya. Hal itu membuatnya menjadi tidak fokus dalam melakukan pekerjaan apapun. Terlebih, hari ini adalah hari jadi mereka.

"Kau mendengarkanku kan, Sakura." Sakura tetap terdiam. Ia menunduk dalam sambil memainkan ujung kaos restaurant. "Apa ada sesuatu yang terjadi antara kau.. dan.. Bos?" Karin bertanya ragu. Ia tidak sampai hati melihat Sakura yang tiba-tiba saja menatapnya dengan tatapan menyedihkan.

"Jadi memang benar?" Ucapnya terkejut. Karin berjongkok dihadapan wanita berambut pink itu.

"Kau... Tau?" Sakura berkata lirih. Entah mengapa gosip tersebar begitu cepat dalam kurun waktu beberapa jam direstaurant ini. "Kau sudah tau.." lanjutnya, masih dengan wajah tertunduk.

"Anak-anak membicarakan itu digrup tadi malam. Ku pikir kau juga membacanya." Karin terduduk dilantai dekat Sakura. Ia menyender pada kursi kayu panjang yang kini diduduki Sakura. "Apa bos sejahat itu?"

"Yah.." Sakura menghela napas. "Dia sangat jahat. Karin." Kepalanya disenderkan pada loker cokelat dibelakangnya. Ia menghela napas lagi.

"Aku bahkan diputuskan." Sakura terpejam. "Selama ini dia membohongiku." Air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya mengalir melewati celah kelopak mata yang tertutup. Bibirnya digigit, sebisa mungkin Sakura menahan agar tak ada isakan yang keluar.

Karin bangun dari duduknya dilantai dan berpindah pada bangku yang juga diduduki Sakura. Tangannya mengusap air mata wanita itu yang terjatuh. Ia bisa merasakannya. Sakura pasti sangat tersakiti dengan kenyataan itu. "Jangan buang air matamu sia-sia untuk orang seperti itu, sayang. Tunjukkan padanya bahwa kau itu kuat. Aku yakin kau bisa. Karena aku tau kau wanita hebat."

Sakura menunduk menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa menahannya lagi. Terlalu sakit. Biar saja. Ia ingin menangis untuk saat ini. "Biarkan aku menangis untuk kali ini Karin. Aku sungguh tidak kuat menahannya." Sakura memeluk Karin erat. Wanita berambut merah itu menyambutnya dengan senang hati.

"Menangislah. Pundakku siap menampung air matamu." Sakura sedikit tertawa dibuatnya. Ia memukul pelan punggung wanita itu. Setidaknya masih ada karin yang peduli dan sayang padanya.

.

.

.

to be continue


Terima kasih untuk yang sudah membaca..

Sign,

mywhitepigeon.

07.08.16