I am a bad girl
Occ, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 2/11
It's HunHan World.
~We Meet Again~
Hari ini Luhan dilanda rasa bosan yang sangat teramat, biasanya dulu, jam – jam seperti ini dia habiskan untu diam di café dan mengerjai pemilik café dengan ulahnya dan membuat pria itu mencaci mak dirinya. Tapi sayang karna kejadian waktu itu sekarang dia tidak bisa lagi pergi ke café tempat dulu dia bekerja. Dia memutuskan untuk keluar dari apartemennya untuk membeli minuman beralkohol favoritenya. Dia keluar dengan hanya menggunakan sebuah kemeja kebesaran dengan sebuah hot pants yang sangat pendek. Dia memang sudah biasa keluar dengan pakaian yang seperti itu.
Luhan berjalan disepanjang jalan London yang sejuk ini. Dia terus melangkahkan kakinya dengan santai dan tanpa memperdulikan beberapa orang yang menatapnya.
Tiba – tiba saja ada seseorang yang menabrak dirinya dari depan membuat dia tersungkur kebelakang. Luhan mengumpat saat pantatnya mendarat mulus ditanah.
"I'm sorry. I didn't mean…"
"Can you watch when you walked?" Sela Luhan sambil mendongak keatas menatap orang yang menabraknya.
"I'm sorry. Are you okay?" Tanya sang pria sambil mengulurkan tangannya tapi sayang Luhan menepis tangan itu dan berdiri sendiri. Untuk sesaat Luhan terpaku menatap pria yang ada dihadapannya. Membuatnya mengingat…
"Are you okay?" tanya sang pria sambil memegang pundak Luhan. Dia terlihat panik karna Luhan tak kunjung menjawab pertanyaannya. Luhan yang baru sadar langsung menepis tangan itu dengan kasar.
"Don't touch me." Desis Luhan. Sambil menundukan wajahnya mencoba untuk tidak menatap pria yang ada dihadapannya.
Sehun. Pria yang menabrak Luhan adalah Sehun. Dia menatap kearah Luhan dengan mengerutkan keningnnya. Luhan mencoba menyembunyikan wajah darinya.
"I have to go." Ucap Luhan sambil berlalu meninggalkan Sehun yang masih termengu. Sebelum Luhan bisa berlalu, Sehun terlebih dulu memegang tangannya.
"Wait. Do I know you?" Tanya Sehun sambil berusaha menatap wajah Luhan yang disembunyikan dibalik rambut panjangnya.
"Of course not. We don't even meet before." Jawab Luhan sambil mencoba menghindarkan wajahnya. Sehun masih penasaran untuk sesaat wanita ini memang terlihat seperti orang yang sangat familiar.
Sehun meraih dagu wanita itu dan menariknya pelan agar dia bisa menatapnya dengan jelas. Dan saat itu barulah dia sadar siapa wanita itu. Dia Luhan. Dia Lulu teman lamanya, orang yang selama ini Sehun cari – cari.
"L-lulu..?" Tanya Sehun. Entah kenapa lidahnya menjadi sedikit kelu saat dia mengucapkan hal itu.
Luhan mendengus pelan dan melepaskan tangan Sehun dari dagunya dengan kasar.
"I'm sorry I'm not Lulu or Luhan. You get wrong person."Ucap Luhan sambil mencoba berjalan melalui Sehun. Dia merutuki dirinya karna bisa bertemu dengan Sehun.
"Tidak. Aku tidak mungkin salah orang. Aku tau kau Luhan. Aku sangat mengenalmu, aku yakin kau itu Luhan." Ucap Sehun sambil mencengkram kedua tangan Luhan.
Luhan menyingkirkan kedua tangan Sehun itu dengan kasar. Dia menatap Sehun dengan air mata yang dicoba ditahannya. Luhan menghembuskan nafas panjang dan memasang wajah datarnya.
"I'm not Luhan like was. I am a bad girl now." Ucap Luhan dengan dinginnya tepat dimuka Sehun membuat namja itu membeku. Luhan mendengus pelan dan melepaskan tangan Sehun dari bahunya. Luhan berjalan melewati Sehun. Setitik air mata jatuh di pipinya. Luhan dengan cepat menyerka air mata itu dengan cepat. Luhan berjalan dengan cepat, berharap Sehun tidak mencoba mengikutinya.
Tapi sayangnya Sehun kembali menangkap tangannya dan memutar balik tubuh Luhan. Sehun menatap dalam ke mata Luhan yang masih terlihat berkaca – kaca.
"Let! Me! Go!" Ucap Luhan sambil menyentakan tangannya.
"aku tidak akan melepaskanmu sampai kau bercerita tentang semua yang sudah terjadi padamu." Ujar Sehun datar. Luhan tersenyum sinis dan menatap Sehun dengan tatapan meremehkan.
"Apa urusanmu? Kau bukan orang yang penting dalam hidupku. Bahkan kedua orang tuaku saja sama sekali tak perduli padaku." Ujar Luhan. Sehun tersentak. Sejak kapan Luhan berbicara kasar sepeti ini? Sejak kapan tatapanya berubah? Dan Sehun baru sadar satu hal. Pakaian yang digunakan Luhan sangatlah minim. Jauh berbeda dengan Luhan yang dulu dia kenal?
"Kenapa? Terkejut denganku? Sudah aku bilang aku bukan Lulu sahabat lamamu." Ucap Luhan sambil menyentakan tangannya dengan keras membuat genggaman Sehun lepas. Luhan kembali melemparkan senyuman sinisnya dan berlalu meninggalkan Sehun yang masih membeku menatapnya.
Luhan berjalan dengan cepat, tak lama lagi dia sampai di tempat tujuannya. Luhan terus berjalan tanpa ingin lagi memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dia hanya akan menganggap hal barusan itu seperti daun kering yang tertiup angin.
Saat sampai Luhan langsung masuk kedalam, dia mencari salah satu Vodka favoritenya. Tak lama kemudian dia menangkap sebuah botol yang cukup tinggi, bertuliskan Vodka Smirnoff. Itu adalah salah satu Vodka favoritenya. Dengan cepat Luhan mengambil dua botol itu dan membawanya ke kasir.
Saat Luhan akan membayarnya seseorang menarik Vodka itu dari tangannya, membuat Luhan sedikit geram.
"What the he…" Perkataan Luhan terhenti saat dia mendongak kesamping dan menemukan Sehun berada disana.
"Stop following me!" Ucap Luhan sedikit berteriak. Luhan merebut Vodka itu dari tangan Sehun. Tapi sayang tidak semudah itu Sehun memberikannya.
"What do you want?" Tuntut Luhan sambi berdecak pinggang.
"Kembalilah ke Seoul." Ucap Sehun sambil kembali menaruh Vodka itu. Luhan berdecih pelan.
"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal. London sudah menjadi tempatku untuk kembali." Tolah Luhan mentah – mentah. Dia kembali mengambil Vodka yang tadi ditaruh kembali oleh Sehun, tapi sayangnya tangan Sehun lebih dulu mencegahnya.
"What?" Tuntut Luhan menatap Sehun geram.
"Berhenti meminum Vodka. Ini tidak baik untukmu. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu Lu?" Luhan menutup telinganya saat Sehun berata 'Lu'
"Apa pedulimu? Dan bukannya sudah aku katakan, kalau aku bukan Luhan yang dulu kau kenal. Luhan yang kau kenal sudah mati. Mungkin dia sudah berada dineraka." Sergah Luhan membuat beberapa orang menatap mereka. "…One more thing. Don't ever you call me Lu!" Luhan mengatakan hal itu sambil menunjuk tepat di wajah Sehun kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu.
~I am a bad girl~
Luhan sudah kembali kedalam apartemennya. Dia berjalan kesana kemari tak jelas. Beberapa kali dia membanting benda yang ada disekitarnya karna kejadian yang baru saja terjadi. Luhan sangat marah, dia merutuki nasibnya yang bisa bertemu dengan Sehun. Luhan terus mengumpat dan membanting barang – barang sampai akhirnya dia diam, berjalan mundur dan akhirnya membentur tembok. Luhan merosot dan bersipuh dilantai. Air mata tiba – tiba saja keluar membuat sebuah sungai dipipinya. Sebuah isakan keluar dari bibirnya. Tangisannya pun pecah. Luhan memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Dia benci karna dia harus kembali bertemu dengan Sehun. Bertemu dengan sahabatnya, dia takut. Takut untuk kembali mengingat masa lalunya yang buruk, takut untuk kembali terjebak dalam lubang yang sama, takut merasa hal yang sama untuk kedua kalinya, takut melihat kedua orang tuanya yang berpisah, karna itu hanya akan membuat Luhan semakin rapuh dan rapuh.
Memang jika ditilik dari luar, Luhan terlihat seperti 'bad girl' yang sangat nakal tapi jauh jauh jauh didalam dirinya, dia hanya seorang wanita lemah yang mudah rapuh. 'bad girl' hanya sebuah topeng yang dia gunakan untuk bersandiwara dan menutupi kerapuhannya.
Ponsel Luhan berdering. Dia merutuki siapapun yang berani menelphonenya disaat yang seperti ini. Luhan meraih dengan kasar ponsel dan melihat siapa yang berani menelphonenya. Disana tertulis Boss. Luhan memutarkan bola matanya dan melempar ponsel itu kelantai membuatnya langsung bergenti berdering. Luhan kembali memeluk lututnya dan menatap kosong jauh kedepan sana. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dan mencoba melupakan apa yang barusan terjadi.
~I am a bad girl~
Luhan sedang duduk diatas sofa panjang dengan kedua kaki yang dinaikan keatas. Dia masih termengung, saat seseorang menekan tombol belnya. Luhan kembali memaki dan merutuki siapapun yang datang. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu. Luhan membuka pintu apartemennya dan mendongak, melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah boss nya. Luhan membuka lebar pintunya dan membiarkan sang boss masuk. Pria itu terlihat sangat kaget saat melihat betapa berantakannya apartemen Luhan.
"What happened?" Tanya sang boss. Luhan bungkan dan tak ada niatan untuk menjawab. Dia duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya.
"Ada apa ini? kenapa dengan semua barang ini?" Tanya sang boss lagi, karna Luhan tak kunjung menjawab.
"There's nothing happen. I just…." Luhan menghembuskan nafas panjang "… forget it." Lanjutnya.
"You don't wanna tell me? wait… are you crying?" Tanya sang boss karna dia melihat bekas air mata dipipi Luhan. Sang wanita langsung menyerkan air mata itu dan menatap sang boss dengan wajah datarnya. "I'm not crying. Why you here?" Tanya Luhan mengalihkan perhatian sang boss.
"Ah… aku hanya ingin menyanyakan soal tawaranku kemarin."
"Tawaran yang mana?" tanya Luhan terlihat tidak terlalu perduli.
"Bekerja di bar dari sore hari, jika kau menerima tawaran itu, aku akan membayarmu 2 kali lipat." Luhan tersenyum sinis, tanpa menatap boss nya.
"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak terlalu membutuhkan uang, aku hanya ingin kebebasan dan bersenang – senang." Sela Luhan. Sang boss menghela nafas panjang. Sulit memang jika dalam urusan meluluhkan hati Luhan.
"Setidaknya aku sudah berusaha membujukmu." Ucap sang boss sambil bangkit dari kursinya. Luhan hanya mengangguk pelan.
"nanti malam aku tidak bisa menjemputmu, karna di bar akan sangat banyak pengunjung. kau datanglah sendiri, aku akan menyiapkan taksi untukmu." Ucap sang boss.
"Bisakah kau menyuruh seseorang untuk membersihkan tempat ini?" Tanya Luhan. Sang boss menghela nafas panjang.
"Kenapa kau mengacak semua barang ada disini jika nantinya harus dibereskan lagi?"
"Sudah, bisa atau tidak?" Sela Luhan.
"Baiklah tapi hari ini kau harus melayani pengunjung dengan baik dan satu hal lagi, kau harus mengurus matamu yang terlihat sembab itu, aku tidak mau pengunjungku melihat matamu yang seperti itu." Luhan bangkit dari kuris dan langsung berlari untuk bercermin. Ternyata benar, matanya sembab. Damn it! Maki Luhan. Dia berbalik dan menatap sang boss.
"It's oke. I can handle it. Just don't worry about this damn thing." Ucap Luhan dengan kasar sambil menunjuk matanya. Sang boss mengangkat bahunya pelan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen Luhan sebelum dia pergi.
Luhan menghembuskan nafas lega saat boss nya pergi. Dia kembali menghempaskan dirinya diatas sofa. Luhan memijat pelan pelipisnya. Kepalanya berdenyut pelan.
"kenapa kau harus kembali datang kedalam kehidupanku?" Gumam Luhan pelan. Tiba – tiba saja kenangannya bersama Sehun kembali terlintas didalam benaknya. Kenangan yang sudah dia coba untuk lupakan selama beberapa tahun dia tinggal di London.
~I am a bad girl~
Hari sudah mulai gelap, malam menjelang menyajikan sebuah kesunyian diapartemen Luhan. Sang wanita sudah siap untuk pergi ke bar seperti biasa. Dia keluar dan tak sengaja berpapasan dengan tetangganya. Mereka tengah berbisik – bisik tentang Luhan yang sering keluar malam dan pulang pagi. Luhan tiba – tiba saja membalikan badannya dan menatap beberapa tetangganya yang terkejut dengan gerakan Luhan barusan.
"are you guys talking about me? do you suspect me that I'm bitch?" Tanya Luhan sambil melipat tangannya didada.
"how if I say that I'm bitch? Will you stop talking about me? wil you?" Semua tetangganya diam, bungkam tak ada yang menjawab, mereka hanya melayangkan pandangan sinisnya. Luhan memutar bola matanya dan menggeleng pelan. Jujur saja dia sudah muak dengan para tetangganya yang hobby membicarakan dirinya. Luhan memang tidak perduli dengan berita dan gosip buruk tentang dirinya. Dia hanya terganggu dengan suara tetangganya yang sangat berisik saat membicarakan hal tetantang dirinya.
Luhan melanggang, keluar dari apartemen dan langsung memasuki taksi yang tadi sudah dipesankan oleh boss nya. Luhan menatap keluar kota London pada malam hari. Sudah lama sekali dia tidak melakukan hal itu, berdiam diri dan menatap idahnya kota London.
Tak lama kemudian Luhan sudah sampai dibar. Seperti biasa dia diberi kostum yang berbeda untuk menari diatas panggung. Dan sekarang dia memakai kostum cat woman. Luhan menatap puas dirinya dan menyunggingkan seringaian khasnya. Dia puas menatap dirinya sendiri. Salah seorang memanggil Luhan untuk segera menaiki panggung.
~I am a bad girl~
"Good as always." Puji sang boss. Luhan hanya tersenyum singkat membalas perkataan dari boss nya.
"Jadi sekarang aku harus masuk ke ruangan berapa?" Tanya Luhan. Sang boss memasang senyuman yang tak bias amembuat Luhan mengerutkan keningnya.
"169." Jawab sang boss singkat membuat Luhan semakin mengerutkan keningnya.
"Only one?" sang boss tertawa tiba – tiba membuat Luhan kaget setengah mati.
"Dia ingin kau menemaninya sampai pagi. Kau tau? Dia memberikan berlipat – lipat bayaran hany agar kau menemaninya sampai pagi." Ucap sang boss seteleh puas tertawa.
"Tunggu, anda sudah memberi tau dia persyaratannya bukan?" Tanya Luhan disambut dengan anggukan sang boss.
"Tentu, dia tau semua persyaratannya dan dia sama sekali tidak keberatan. Dia hanya berkata. 'aku hanya ingin dia menemaniku itu saja.' Dan kemudian dia memberikan bayaran berlipat – lipat dari tarif biasa. Hemm… anak muda yang kaya." Ucap Sang boss.
"Benarkah? Siapa dia sebenarnya?" tanya Luhan yang penasaran.
"Entahlah, aku sendiri tidak tau, yang jelas dia bukan dari kalangan pembisnis, karna aku sama sekali tidak mengenalnya." Jawab sang boss. Dia menatap Luhan yang tidak memakai bajunya dengan benar.
"Benarkan bajumu. Aku mau kau terlihat rapi saat nanti masuk." Ucap sang boss membuat Luhan menatap tubuhnya sendiri.
"Yeah… whatever." Luhan membenarkan bajunya didepan cermin dan sedikit berdandan. Setelah siap dia masuk ke ruangan yang bertuliskan 169. Luhan mengetuk pintunya pelan dan tak lama kemudian terdengar suara seseorang menyuruhnya masuk. Luhanpun membuka pintunya dan menatap siapa sebenarnya pria yang telah membayarnya mahal itu.
Luhan membelalakan mata saat dia mendapati pria yang ada didalam sana adalah Sehun.
What the fuck? Maki Luhan.
Dia berniat keluar dan menutup pintunya tapi Sehun mengatakan sesuatu.
"Aku sudah membayarmu dan jika kau tidak masuk dan menemaniku kau harus membayarnya dua kali lipat dari apa yang sudah aku berikan padamu." Luhan meneguk salivanya. Benar, dia tidak boleh membuat boss dan dirinya rugi. Luhan berdecak sebal dan masuk. Dia menutup pintunya sedikit kasar dan berjalan beberapa langkah membuat sebuah jarak antara dia dan Sehun.
"Kenapa kau diam disana? Duduk." Luhan menatap sofa yang ada disana dan duduk disamping Sehun. Luhan menatap tidak suka pada Sehun yang hanya memasang wajah datarnya.
"do you want to say something to me?" Tanya Sehun saat melihat wajah Luhan yang memerah marah.
"Apa yang kau lakukan disini? Aku tau ini bukan tempatmu." Sehun tersenyum tipis mendengar pertanyaan Luhan.
"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu." Sehun menatap tajam ke mata Luhan. "Apa yang kau lakukan disini? Ini bukan tempat baik untuk wanita sepertimu." Luhan mendengus pelan.
"Berhenti menganggapku Luhan yang dulu kau kenal. Sudah aku katakan beberapa kali padamu kalau aku sudah berubah. Now I am a bad girl. Don't you hear it?"
"Tapi kenapa? Kenapa harus berubah? Aku merindukanmu yang dulu…"
"Tapi aku tidak. Aku sama sekali tidak merindukannya, aku muak dengan dirinya yang dulu yang hanya bisa menangis dan menangis. Cih…" Luhan berdecih mengingat masa lalunya sendiri.
"Dulu atau sekarang sama saja jika alasanmu seperti itu, kau masih selalu menangis sambil memeluk lutut dan bersadar ditembok, seperti kebiasaan lamamu." Ujar Sehun membuat Luhan membelalakan matanya.
"Aku sama sekali tidak menangis." Ucap Luhan. Dia yakin kalau mata lembabnya sudah tidak terlihat lagi, kenapa Sehun mengatakan kalau dia menangis.
"Kau tidak bisa membodohiku Luhan, aku melihat matamu yang sembab, mungkin orang lain tidak akan sadar kalau matamu sembab tapi lain halnya dengan diriku… sebagaimanapun kau mencoba menyembunyikannya itu sia – sia, karna aku akan bisa melihatnya…" Sehun menatap Luhan dengan tajam. "… karna aku sangat mengenalmu."
.
.
.
~To Be Continued~
