Langsung aje tanpa basa-basi XDv.

Here we go, minna..

~Shizuo POV~

.

.

"Pergi kemana kau? Kenapa selama ini." Tak sadar bibirku bergumam mengucapkan kalimat tadi. Inikah namanya rindu? Setelah lulus dari Raira kami jarang bertemu dan masih saling membenci. Tapi aku kaget saat setelah kejadian "Kanra" itu dia mengakuinya, dia menyukai senyumku saat melihatnya jadi Kanra. Dan dia mengakui satu hal lagi, dia sangat suka kalau aku mengejarnya dan meneriakinya.

"Kau tahu? Aku suka dikejar-kejar olehmu, bermain denganmu, dan diteriaki olehmu. Semuanya terasa hidup, dan dunia tidak membosankan lagi saat kau muncul. Jangan berhenti seperti itu, dan jangan terlalu dalam menggilai 'Kanra'. Karena itu bukanlah aku. Itu hanyalah penyamaranku saat di club."

Setiap perjalanan pulang, suaranya terus terngiang. Otakku sudah tinggal separuh dimakan bayangan Izaya dan suaranya. Serindu inikah aku sampai-sampai suara dan bayangnya ada di depan mataku?

"Sejujurnya. Aku ingin kau senyum dihadapanku tanpa aku harus jadi Kanra. Tapi, itu tidak mungkin, ya?"

Senyum sedihnya saat mengucapkan kalimat itu, membuatku tertegun. Kalimat itu terucap dengan lancarnya saat dia ada diapartemenku. Itu sudah lama terjadi. Tapi, aku tetap saja tidak bisa tersenyum saat dia muncul. Entahlah, mungkin wajahnya itu mengesalkan sampai-sampai mood-ku untuk senyum tidak ada. Atau aku memang jarang tersenyum tulus untuknya sebenarnya, ya, sebenarnya.

Kubaringkan badanku diatas tempat tidur tanpa menyingkirkan apapun yang kupakai, kecuali sepatuku kulepas saat masuk tadi. Kutatap langit-langit kamar, rasanya hari terasa kosong. Kututup mataku, berharap aku bisa tidur seketika.

"Shizu-chan!" kukepalkan erat tanganku dan mengejarnya. Tapi dia menjauh, dan bayangan punggungnya lambat laun menghilang. Aku hanya bisa menghela nafas, gambaran tadi dipelupuk mata kini lebih menyeramkan ketimbang mimpi. Sekali lagi aku berharap bisa tidur detik ini juga.

Tahun demi tahun bergelincir. Sudah dua kali semua orang merayakan tahun baru. Dan sekarang aku memang mulai terbiasa tanpa si Kutu lagi, mungkin? Tapi tetap saja bayangnya ada. Mau sampai kapan otakku memikirkannya?

.

.

-Shizuo POV ~end~-


~Izaya POV~

.

.

Dua tahun berlalu begitu cepat, ya. Tidak terasa aku meninggalkan Jepang selama dua tahun. Semua ini ada alasannya kenapa aku berada diluar Jepang. Ayahku sendiri yang mengirimku kemari, tapi tujuannya tidak jelas. Dan aku belum boleh pulang dan tidak bisa pulang. Disini aku dijaga ketat, oleh kedua adikku. Anak kembar yang selalu saja menyusahkanku. Katanya aku disini sebenarnya untuk menjaga mereka berdua, kenyataannya sungguh berbalik keadaan.

Mereka mengurungku didalam apartemen saat mereka pergi seenaknya. Saat pulang akupun tidak boleh pergi kecuali didampingi mereka. Ini seperti penjara kecil yang diselimuti kedok tali persaudaraan. Aku tidak berkutik. Karena kalau aku tidak menuruti mereka, Shizu-chan dan aku dalam masalah. Ya, mereka sebenarnya tahu persis selama ini yang kami 'lakukan'. Kalau aku berontak mereka akan memberitahu ayah.

Dan kalau ayah tahu, tamat riwayatku dan Shizu-chan. Maka dari itu aku bersabar menuruti apa mau Mairu dan Kururi. Mereka memang adikku, memata-matai kakaknya tanpa ragu. Untung saja permintaan mereka tidak macam-macam. Masih pada batas wajar.

"Iza-nii, apa kau tidak rindu pada Shizuo-san?"

Pertanyaan yang bodoh dan tidak perlu kujawab. Untuk apa aku rindu padanya? Belum tentu dia rindu padaku. Dia selalu membenciku, dan dia hanya bersikap lembut saat aku jadi Kanra. Dia mengabulkan apapun saat aku atau suaraku jadi Kanra. Dia pikir tidak capek apa seperti itu? Baka.

"Iza-nii! Kau boleh pulang~!" mereka berdua membawakan koperku dan tiket pesawat. "Huh?" aku heran dan setengah tidak percaya.

"Iya, ibu sudah datang. Kami yang memintanya kemari menggantikan Iza-nii yang menjaga kami," Mairu tersenyum manis. Aku hanya bisa berkedip tak percaya. "Apa hukuman untukku sudah selesai?"

"Hmm, kurasa kami sudah cukup menghukum Iza-nii. Perjanjian tetap dilaksanakan, ya? Yuuhei milik kami, dan kami boleh mendekatinya!" klaim mereka.

Intinya aku disini hanya dipisahkan dengan Shizu-chan untuk sementara atau lebih tepatnya dihukum, aku ditipu mereka. Mereka memang adikku. Terlebih aku harus menyetujui mereka boleh dekat dengan Yuuhei alias Kasuka adiknya Shizu-chan. Mereka awalnya marah karena aku bebas menyentuh Shizu-chan, tapi mereka tidak boleh mendekati Yuuhei karena aku yang melarangnya. Mereka memang licik, dan balas dendam mereka terlaksana. Sial, mereka memang adikku.

-few days later-

Sudah dua hari semenjak aku pulang dai Rusia ke Jepang. Aku rindu apartemenku ini, berguling diatas tempat tidur, juga memeluk gulingnya yang empuk. Selama dua hari ini juga aku malas-malasan. Dan sekarang aku terlelap lagi dalam tidurku yang nyenyak.

"IIIZAAAYAAA-KUUUN!"

"Hei, Kutu!"

"Bangun kau! Dasar flea!"

"..." aku terdiam terduduk diatas tempat tidurku setelah bangun dari mimpiku. Mimpiku tentang Shizu-chan. Entah sudah yang keberapa kalinya. Terbangun saat hari hampir menginjak tengah malam seperti ini saat, memimpikan Shizu-chan. Dengan perlahan aku turun dari tempatku duduk dan mengambil jaket berbuluku. Bersiap pergi keluar.


Saat turun dari bis. Angin malam yang dingin memelukku, membelai lembut wajah dan menggoyangkan bulu-bulu dijaketku. Seperti disambut dengan hangat oleh angin malam yang dingin di Ikebukuro ini. Tidak ada perubahan yang drastis dari kota ini setelah dua tahun berlalu. Apa karena toko-toko yang mulai menutup pintunya jadi aku tidak menyadarinya?

Aku berkeliling sebentar, melewati taman disaat aku jadi Kanra kedua kalinya didepan Shizu-chan. Lalu melewati gedung sekolahku dulu, Raira. Semakin jauh aku melangkah, angin semakin dingin. Mungkin karena ini sudah diatas jam 12 malam. Aku masih saja berjalan santai, tanpa arah. Kemana kakiku membawaku, aku tidak keberatan.

Tapi, kenapa kakiku melangkah ke apartemen Shizu-chan? Aku tahu itu pertanyaan yang bodoh. Kulihat apartemennya gelap, dan jendela tertutup rapat, juga pintunya. Aku rasa dia sedang terlelap bersama celana olahraga dan kaos putihnya. Bermenit-menit berlalu, aku hanya diam memandang apartemennya, membiarkan diriku dipeluk gelap dan dingin malam.

.

.

~Izaya POV-end-~


~Shizuo POV~

.

.

Tidak bisa tidur, rasanya hari ini begitu gelisah. Padahal diluar sana dingin, tapi mengapa aku merasa panas? Padahal sakit saja tidak, apa lagi demam. Akupun memutuskan untuk pergi keluar sebentar saat waktu menunjukan dibawah jam 12 malam. Dan benar saja angin diluar begitu dingin menyambutku, namun hawanya tetap saja gelisah. Aku tidak mengerti. Kulangkahkan kaki menuju mini market terdekat, hanya untuk membeli rokok dan beberapa bir saja.

Saat perjalanan pulang, aku mencium bau yang sangat kukenal, dan tidak asing lagi. Kupercepat langkahku agar sampai di apartemen, baunya semakin kental saat semakin dekat. Dikejauhan terlihat siluet seseorang, tak terlihat wajahnya dan sosoknya terlalu jelas karena disini minim cahaya. Saat jarak kami sekitar 20 meter, mataku semakin membesar. Siluet itu begitu familiar dimataku.

"Kau.." bibirku ingin mengucapkan nama seseorang namun ragu. Kudekatkan lagi jarak kami, sekarang jarak kami hanya sekitar 2 meter. Cahaya bulan kini sudah muncul dari balik awan. Pemilik bayangan tadi sekarang tergambar jelas siapa dia. Mata merahnya yang berkilat-kilat menawan, rambut hitam kelamnya yang goyang tertiup angin. Dia tersenyum seperti dulu, senyum sinisnya.

"Hisashiburi, Shizu-chan. Kebetulan aku sedang jalan-jalan dan lewat sini," Aku tidak tahu kalimat mana yang mengandung kebohongan. Sekali lagi aku melangkah mendekatinya, aroma tubuhnya benar-benar tercium. Terasa manis seperti coklat, atau vanilla?

"I...Iza..ya," entah kenapa aku jadi gagap. Lidahku kelu, dia seperti hantu yang hilang mendadak, dan muncul mendadak seperti ini. Jalan pikirannya memang sulit ditebak. "Kenapa kau gagap? Apa karena kau kangen padaku? Atau jangan-jangan kau—"

"Kemana saja kau selama ini!?" aku sedikit membentaknya karena gemas. Gemas karena dia selalu bersikap seenaknya. Air mukanya terlihat kaget mendengar bentakkanku. "E-eh? Ternyata benar kau kangen padaku," kudengar kekehan kecilnya.

"Aku pergi karena ada urusan saja, kok." Jawab dia sekenanya, lalu membalikan badannya dan berjalan meninggalkanku perlahan. "Bye~, aku mau pulang."

"Bis malam sudah ga ada kalau jam segini, tidak mungkin kau tidak tahu hal sepele seperti itu." Ujarku sambil meraih tangannya. "Jalan kaki bagiku tidak masalah. Lagi pula Shinjuku tidak sejauh itu menurutku,"

"Malam ini dingin, dan mungkin berbahaya—"

"Berbahaya? Aku bukan Kanra, Shizu-chan." kudengar dengusan kesalnya dengan jelas. "Katakan saja yang sejujurnya, kau rindu padaku dan kau ingin aku menginap di apartemenmu, begitu 'kan?" lanjutnya.

"..." aku tak bisa mengelak, kalimat tadi sepenuhnya benar. "Masuklah, kita bicara didalam. Disini dingin," hanya itu seuntai perintah dariku sambil menarik lengannya lalu masuk kedalam apartemen. Kutaruh beberapa kaleng bir yang baru saja kubeli di mini market tadi di atas meja rendah.

"Duduklah, tapi aku tidak punya camilan." Jelasku dengan jujur.

"Aku tidak lapar, kok." Dia mengangkat bahunya lalu duduk diseberangku. Hening sesaat, aku mengambil sekaleng bir dan kubuka untuk Izaya. Lalu kusuruh dia untuk meminumnya walau awalnya dia menolak.

"Tadi kau bilang urusan, ya? Sampai dua tahun?" kuhembuskan asap rokok dari mulutku. Dan meminum bir dari kaleng yang baru saja kubuka. "Ya, sebenarnya itu ulah adikku. Mereka menyuruh ayah untuk mengirimku keluar Jepang. Awalnya aku disuruh menemani mereka, ternyata aku ditipu,"

"E-eh!? Maksudmu?"

"Mairu dan Kururi tahu semuanya. Dia tahu hubungan kita, dia memata-matai kita." Aku hampir tersedak asap rokok saat mendengarnya. "Intinya, aku dihukum oleh mereka karena aku bersikap tidak adil. Kalau aku tidak menurut pada mereka, mereka akan memberitahukan ayah tentang hubungan kita. Dan kita akan tamat," jelasnya panjang lebar.

"T-tunggu, tidak adil? Bukannya kau sayang pada adik kembarmu?"

Dia mengangguk pelan dan mulai berbicara lagi. "Mereka kesal denganku yang seenaknya bisa menyentuhmu, tapi mereka tidak kuijinkan menyentuh adikmu. Jadi, mereka memintaku untuk membuat kesepakatan. Adikku boleh menyentuh adikmu, sebagai gantinya adikku akan tutup mulut tentang hubungan kita."

"Ap-Apa!?" teriakku sambil menggebrak meja. "Tidak! Tidak ada yang boleh menyentuh adikku!"

"Ha? Tapi, aku sudah setuju. Lagi pula mereka pasti akan menutup mulutnya rapat-rapat." Dia meminum birnya yang hampir habis itu.

"Tidak! Aku tetap tidak setuju! Sekalipun kesepakatan itu menyangkut masalah kita berdua. Aku tidak takut dengan ayahmu. Dan tidak ada yang boleh dekat dengan adikku, walaupun itu adikmu!" emosiku meluap seperti air mendidih kalau menyangkut tentang adikku Kasuka. Terserah mau dibilang incest atau me-monopoli atau semacamnya. Dia adikku satu-satunya yang sangat kusayang lebih dari siapapun.

Hening terjadi lagi, aku masih dalam posisi tangan menggebrak meja tadi. Izaya hanya diam memandangku penuh arti. Mulutnya tertutup rapat namun ingin mengucapkan sesuatu. Air mukanya tidak dapat kubaca, apa dia marah, sedih atau malah senang?

"..."

.

.

-Shizuo POV ~end~-

.

.

'Apa dia bilang? Dia tidak takut dengan ayahku? Tch. Dia tetap saja bodoh. Tidak berubah, dia tidak mengerti apapun, termasuk yang kurasakan.'

'Kau tahu? Aku tersiksa, kalau aku ketahuan pernah menjadi 'perempuan' dan 'bercinta' dengan sesama jenis semacam kau. Hidup bebasku berakhir. Aku tidak bisa melihat semua ekspresimu itu, Shizu-chan. Semua ekspresi wajahmu, termasuk senyumanmu yang paling kunanti. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi,'

Izaya hanya bisa membatin sendiri. Tidak berkata apa-apa setelah Shizuo tidak sudi menyetujui kesepakatan adik kembar Izaya. Hatinya diliputi kekesalan dan amarah, sebenarnya ia ingin mengamuk.

"..."

"Izaya-kun?" Shizuo sadar ada yang aneh dari raut muka Izaya. "Sebenarnya, aku tidak keberatan kalau kau tetap tidak setuju. Tapi kau itu…. Egois juga ternyata. Sudahlah, aku mau pulang." Ucapan yang mengena dari Izaya. Dalam satu gerakan Izaya berdiri dan langsung jalan menuju pintu depan. "E-eh? Tunggu!"

Izaya tidak menengok, sekalipun tangan kuat Shizuo telah menangkapnya dan menghentikan gerakkannya. "Kau ... Marah?" pertanyaan yang bisa dibilang bodoh meluncur dari bibir Shizuo. Izaya hanya menghela nafas dan menyenderkan badannya yang ramping sambil menatap Shizuo.

"Kau tetap saja bodoh dan tidak berpikir dewasa. Aku muak, semua jadi tidak menarik lagi."

"Huh?" Shizuo kebingungan, dia mencoba mencerna kalimat Izaya. "Kau tidak akan pernah tahu apa yang kutakutkan, Shizu-chan. Tidak akan pernah tahu, karena kau begitu bodoh dan belum dewasa." Izaya tersenyum mengejek dan sedikit mendengus kesal.

"APA KAU BILANG!? BELUM DEWASA!?" Shizuo mengepalkan tangannya dan memukul dinding di belakang Izaya sampai retak. "Tsk. Aku memang egois! Dan kalau kau marah ataupun cemburu karena aku begitu protektif terhadap Kasuka, itu hakku sebagai kakakknya!"

"Lagi pula aku belum selesai bicara tadi! Memang benar tidak ada yang boleh dekat atau menyentuh adikku! Begitu pula kau! Tidak ada yang boleh menyiksamu selain aku!" Shizuo melanjutkan dengan mengklaim Izaya.

Mata Izaya terbuka lebar, seakan tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Mata merahnya menatap lekat milik Shizuo. "Apa.. kau bilang?"

"Tidak ada yang boleh menyiksamu, menyentuhmu apa lagi macam-macam denganmu selain aku. Kau milikku, Kutu!" ujar Shizuo seraya memeluk tubuh Izaya. "Aku 'membenci' segala tentangmu, suaramu, baumu, sikapmu. Sampai-sampai aku ingin 'membunuhmu', 'membunuhmu' lebih dari apapun."

"T-tidak romantis sama sekali, heh." Izaya membuang pandangannya. "Sungguh? Lalu kenapa wajahmu merah?" goda Shizuo. Izaya tidak menjawab, hanya bisa membalas pelukkan Shizuo.

"Oi, flea. Kali ini aku beri pengecualian terhadap Mairu dan Kururi. Mereka boleh menyentuh adikku."

"Eh? Kau berubah pikiran secepat itu? Tumben, tidak biasanya kau bisa berpikir cepat," celetuk Izaya. Shizuo mendengus kesal mendengarnya. "Kau mengejekku, hah? Kuso. Setidaknya katakanlah terima kasih! Aku berubah pikiran karena … kau pasti takut tidak bisa melihatku lagi, 'kan?" tebak Shizuo.

Izaya sekali lagi diam seribu kata. Ia hanya menunduk dan menyenderkan kepalanya didada Shizuo. "Kau dengar aku, 'kan?" Shizuo melepas pelukannya dan menatap mata merah milik Izaya setelah mengangkat dagunya.

"Aku dengar, kok. Aku hanya lelah," Shizuo menghela nafas begitu mendengar kalimat yang keluar dari bibir Izaya, lalu mengandengnya masuk kedalam kamar. "Ganti bajumu dan istirahatlah. Kalau tidak salah, dulu ada bajumu yang sempat tertinggal," tukas Shizuo sambil mengurak-urak isi lemari pakaiannya.

"Kau tidur dimana? Dan aku tidur dimana?" Tanya Izaya yang duduk ditepi tempat tidur Shizuo, menunggu Shizuo memberinya baju ganti. "Tentu saja disini, di kasurku. Tidur berdua denganmu."

Wajah polos Shizuo tergambar jelas saat dirinya tengah memberi baju ganti kepada Izaya. Membuat Izaya merasakan panas diwajahnya. Dengan cepat Izaya menerima celana pendek hitam dan sweater abu-abu dari tangan Shizuo.

"B-begitu. Aku ingin ganti baju," Izaya pergi kekamar mandi seketika. Sambil menunggu Izaya selesai mengganti bajunya, Shizuo juga mengganti bajunya menjadi celana olah raga dan kaos putih.


"Kau tidur saja sana. Ga usah menungguku. Aku masih sibuk dengan email-email dari client-ku."

"Hmm, aku ga ngantuk, kok." Shizuo berguling ketepi kasur, mendekati Izaya yang duduk dibawah bersandar pada tempat tidur sambil sibuk mengetik sesuatu di hand phone -nya. "Bukankah kau yang lelah? Ayolah, naik keatas tempat tidur sekarang juga!" perintah Shizuo sambil menarik-narik tudung sweater Izaya.

"Sebentar, ini ga lama—Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Aku bukanlah anak kecil yang tidurnya harus disuruh-suruh,"


.

.

~Shizuo POV~

.

.

"Sebentar, ini ga lama—Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Aku bukanlah anak kecil yang tidurnya harus disuruh-suruh,"

Wajahnya keheranan, begitu pula suaranya. "Kalau kau tidur terlalu larut, kesehatanmu akan terganggu," aku beralasan, memang bukan itu yang ingin kukatakan. Dan memang aku tidak sabar, tidak sabar ingin memeluknya dalam tidurku. Merasakan kehangatannya seperti dulu. Ya, aku akui aku rindu tidur dengannya. Atau, aku rindu 'tidur' dengannya? Seulas senyum licikku muncul beberapa detik.

"Aku tahu itu, dan aku terbiasa akan hal itu," kuacak-acak rambut hitam kelamnya. "Pantas saja kau kurus, dan terlihat rapuh," celetukku sambil terkekeh pelan.

"Terima kasih atas 'pujian'-mu, Shizu-chan." Dia menepis tanganku, dan kembali berkutat dengan hand phone-nya. "Karena itu-lah aku ingin meng-klaim-mu. Kau milikku," Kedua tanganku melingkar mendekap pangkal lehernya, lalu membisikan kata yang benar-benar jujur dari hatiku.

"Sekarang aku tidak keberatan kalau kau mau jadi Kanra atau Izaya. Yang mana saja, sama saja. Selama kau ada didalamnya. Aku 'membenci'-mu. Sama seperti aku 'membenci' kekerasan,"

"Apa itu puisi? Hahaha!" dia tertawa lepas sambil menengok kearahku yang berbaring diatas kasur dibelakangnya, wajahnya sungguh membuatku kesal, sekaligus ingin menciumnya sampai tertidur. "Aku serius, Izaya. Aku tidak pernah bermain-main, tidak sepertimu." Aku berguling menghadap langit-langit dengan memasang ekspresi bete.

Aku juga tidak mengerti rasa ini, rasa yang tumbuh terlalu pesat setelah semua yang terjadi. Maksudku, setelah aku sadari selama ini dia juga bagian dari hidupku. Dia juga memberi warna dalam hidupku, walau dulu aku benar-benar membencinya.

"Aku suka dikejar-kejar olehmu, bermain denganmu, dan diteriaki olehmu. Semuanya terasa hidup, dan dunia tidak membosankan lagi saat kau muncul. Jangan berhenti seperti itu, dan jangan terlalu dalam menggilai 'Kanra'."

Kata-katamu waktu itu, sekarang aku ingin buktikan. Aku akan berusaha semampuku. Rasa ini rumit, begitu rumitnya sampai aku tak sadar Izaya kini mendudukki-ku. Ya, mendudukki-ku tepat diatas pinggulku. "Apa maksudmu 'tidak sepertiku'? Kau mau bilang aku ini suka main-main, begitu?"

"Hmmm.. Mungkin?" kulihat tangannya menyentuh pipiku. "Mungkin? Jadi kau tidak bisa membedakan kata-kataku yang serius dan yang tidak?" pertanyaan darinya kujawab dengan menggelengkan kepalaku. "Karena kau terlalu suka bermain, makanya aku kesulitan untuk membedakannya."

"Payah! Ahahaha, Monster-ku memang payah,"

"Ya, aku akui aku ini payah dalam membedakan kata-katamu yang serius dan tidak serius." Kupalingkan wajahku, menatap pintu kamarku yang tertutup rapat. "Setidaknya tatap mataku, bacalah tatapan mataku. Kau pasti bisa membedakannya, Shizu-chan."

Daguku ia tarik, kami saling pandang. "Iya-iya. Tatapanmu memang berbeda saat mengucapkan sesuatu dengan sungguh-sungguh," aku mangakuinya. Dia tersenyum licik, itu-lah yang aku benci sebenarnya. Ia tak mudah ditebak, namun itu juga daya tariknya.

"Aku tahu, Shizu-chan. Kau bingung dengan perasaanmu sendiri, 'kan? Aku juga." Lalu dia mengecup bibirku dengan lembut. "Kau kangen padaku?" bibirnya mengucapkan kalimat tanya barusan, wajahnya masih didepanku, dengan jarak yang sangat dekat.

"….. Tentu saja, bodoh!" aku memeluknya sekali lagi, aku tidak tahan lagi. Salah satu tanganku meraih rambut hitamnya, memegang lembut kepalanya lalu kudorong kepalanya sampai bibirnya menempel pada bibirku sekali lagi. Bibirnya terasa manis, lembut, juga empuk seempuk lidahnya saat kugigit hingga berdarah sedikit. Ini yang paling kusuka.

"Nnngh!" erangannya terdengar saat aku memainkan bibirnya lebih ganas. "S-Shizu-chan," Izaya menjauhkan kepalanya, ciuman kami berhenti. Bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Hmph.. Kau tidak sabaran seperti biasanya. Aku 'merasakannya', lho." Dengan sengaja si Kutu itu menggoyangkan pinggulnya yang masih menindihku. Tentu saja 'terasa', terlebih ia 'menggesekkannya' lebih cepat. "Uh, katakan juga. Apa kau merindukanku?"

Dia hanya terkekeh pelan, lalu merangkak menjauh. Kuamati gerak-geriknya, dia melucuti celana olah raga yang kukenakan. Tak lupa ia juga melucuti dalaman yang kupakai. "H-hei, Lihat sekarang yang tidak sabaran itu siapa, hah?" ucapku sambil duduk diatas kasur, lalu menarik Izaya mendekat.

"Anggap saja itu jawabanku," mata merahnya berkilat-kilat indah. Kurangkul pinggulnya dan kutarik turun celana yang ia kenakan, termasuk dalamannya. Dan sekali lagi kutarik ia keatas kasur—bukan, kutarik dia keatas pangkuanku.

"Shizu-chan, 'siksa'-lah aku. Lakukan semaumu seperti dulu,"

.

.

-Shizuo POV ~end~-

.

.


"IIZAAAYAAA-KUUN!" teriakan ciri khas dari seorang Heiwajima Shizuo terdengar dari ujung jalan, mengejar seseorang berambut raven dan bermata merah yang indah. Pemandangan ini cukup sering terjadi di Ikebukuro. Selalu saja ada rambu lalu lintas ataupun vending machine yang melayang.

"Oi, flea! Jangan lari terus!" Shizuo berteriak sambil melempar tiang besi. "Hahahaha, siapapun pasti akan lari menjauh kalau kau terus melempar-lempar benda berbahaya,"

Shizuo mempercepat larinya, meraih lengan kurus Izaya, dan 'mengepungnya' dengan tangannya yang kuat. "Dasar Kutu lincah," Shizuo terengah-engah. Dalam satu kedipan, Shizuo memeluk Izaya dan berbisik.

"Sore ini, setelah aku selesai kerja. Kau mau menungguku? Aku ingin kita tidur bersama lagi seperti sebulan yang lalu,"

"…! … Tidak," jawab Izaya, disusul hela nafasShizuo. "Haah. Kau ini. Tunggulah didepan gedung sekolah Raira, petang nanti,"

"Tidak mau, aku sibuk." Shizuo menatap rambut raven itu dengan tatapan marah dan gemas. "Pokoknya tunggu disana!" sebuah momen yang awkward terjadi. Shizuo mencium Izaya tanpa ragu, tepat dibibirnya. Tapi, beruntung mereka sedang berada di gang kecil nan sepi walau beberapa orang melihat mereka berciuman. Dalam beberapa detik kemudian, Shizuo melepas ciumannya lalu pergi seenaknya.

"Baka, padahal baru saja kemarin dia 'menumpang tidur' di apartemenku. Dasar monster libido." gerutu Izaya. Dan sorenya, Izaya terpaksa menurut menunggu Shizuo di tempat yang ia janjikan. Langit tidak begitu cerah sore itu, lebih tepatnya sedikit mendung. Mendukung firasat tidak enak yang dirasakan Izaya.

Tiba-tiba saja ada mobil berwarna merah darah, dengan gagah berhenti didepan Izaya. Izaya melihat nomor polisi yang terpasang didepan mobil merah darah itu. Wajahnya mengisyaratkan terkejut dan sedikit takut. Saat itu juga tiba-tiba hand phone Izaya berdering.

"Hallo?"

"Hallo~ Apa ini restoran cepat saji?" suara yang sangat Izaya kenal terdengar dari hand phone-nya. "Ahaha, aku cuma bercanda. Naiklah kedalam mobil, Izaya. Kau tidak lupa mobil ini, 'kan?"

"….. A-ayah? Kenapa.. Kau ada dikota ini?"

"Ayah hanya jalan-jalan, bosan dengan pekerjaan. Kebetulan saja mampir kesini, dan melihatmu. Ayo naik~!" walau nada suaranya ceria, Izaya tahu itu hanyalah kedok. Orang dewasa selalu begitu.


.

.

~Izaya POV~

.

.

Perasaanku tidak enak, langit begitu muram. Dan yang benar saja, mobil merah darah itu, plat nomor mobil itu. Mobil itu berhenti didepanku, seketika itu hp-ku berdering. Terjawab sudah firasat tidak enak-ku.

"Ayah hanya jalan-jalan, bosan dengan pekerjaan. Kebetulan saja mampir kesini, dan melihatmu. Ayo naik~!" dia bohong besar, aku tahu itu. Kutatap gedung dibelakangku, gedung sekolah Raira. Diatas sana ada seseorang, serba hitam.

"…. Uso. Apa tujuanmu?" ucapku ketus seraya melirik mobil merah darah itu. "Hahahaha, kau memang anakku yang cerdas. Kau lihat, 'kan? Dia bawa senjata. Yah, kau pasti tahu itu siapa,"

"Untuk apa kau sewa sniper, hah!? Apa tujuanmu!?" teriakku. "Masuklah. Kau akan tahu, Izaya~ Jika kau tidak mau menurut, aku akan memberinya perintah untuk menembak kepala orang yang kau tunggu,"

"Ap-Kenapa!? Ini bukan urusanmu!? Bukankah aku sudah bebas!?" dari awal, saat aku kecil hubungan dengan ayahku memang kurang baik. Walaupun begitu, dia memang ayahku. Dia juga manusia, manusia yang kucintai. Tapi, dia cukup mengerikan untuk menjadi manusia.

"Sudahlah jangan teriak-teriak seperti binatang liar begitu. Ayahmu ini belum setua dan setuli yang kau kira. Masuk, atau kusuruh dia menembak 'kepala kuning' yang kau tunggu."

Kalimat barusan membuatku menahan napasku sejenak, menelan ludah sejenak, dan keringat dinginku mengucur perlahan. Apa dia tahu? Darimana dia tahu hubungan kami? Apa Mairu dan Kururi melanggar janjinya? Setumpuk pertanyaan tak terjawab ada dibenakku.

Kututup telepon genggamku, lalu aku hanya bisa berjalan dengan ragu-ragu mendekati mobil itu. Pintu mobil terbuka, kulihat ayah duduk dibelakang supir. Terpaksa aku masuk kedalam mobil dan dibawa kesuatu tempat, meninggalkan Shizu-chan. Seiring perjalanan, aura terasa berat, aku gugup sekali untuk pertama kalinya.

"Bagaimana… Kau tahu soal Shizu-chan?" aku mulai percakapan kaku ini. "Shizu-chan? Kau memanggilnya begitu? Manisnya.. Hahaha," aku tahu dia hanya berbasa-basi.

"Mairu dan Kururi memberitahumu?" tanyaku sekali lagi dengan baik-baik. "Tidak, tapi aku sendiri yang menyelidikinya. Sejak Mairu dan Kururi ada di Rusia, aku disuruh mereka untuk mengirimmu kesana. Mereka tidak memberitahuku, hanya saja mereka terobsesi dengan Yuuhei—maksudku Heiwajima Kasuka. Apa aku salah?"

"… Jadi, kau juga memata-matai Heiwajima—"

"Memata-matai? Aku bukan stalker, nak. Aku hanya menyelidiki siapa sebenarnya Yuuhei, dan ternyata kakaknya lebih menarik dari adiknya sendiri." Kutatap heran ayahku sendiri. Tidak mungkin dia suka Shizu-chan, tentu saja tidak.

"Dia cukup menarik untuk diselidiki lebih jauh, bukan hanya karena dia sangat kuat. Tapi, tidak disangka dia itu 'dekat' denganmu," mendengar ayahku terkekeh pelan, aku merinding. Firasatku semakin buruk.

"Ternyata kau secantik ibumu saat jadi 'Kanra', ya?" aku seperti terkena serangan jantung. Aku tidak tahu harus bilang apa, aku membisu. "Ayah tidak menyangka, penerus ayah yang meminta dirinya dibebaskan layaknya anak anjing yang minta dilepas kalung lehernya agar dia bisa lari mengejar kucing kecil yang berlari itu menjadi seperti ini."

Serentetan kata-kata tadi membuat keringat dingin makin mengucur deras, AC mobil pun tidak mempan untuk mendinginkanku. Ingin rasanya aku membuka pintu mobil ini dan melompat keluar, tapi terlambat karena sejak awal aku masuk, pintunya terkunci.

Saat mobil berhenti, aku melihat keluar jendela. Tempat yang membuatku bernostalgia, rumah orang tuaku. Sekali lagi, tidak hanya keringat dingin, aku merasa wajahku mungkin pucat. Sudah lama aku tidak setakut ini, sudah lama sekali.

"Okaeri, Izaya.." ayah tersenyum sambil membukakan pintu mobil untukku setelah ia turun duluan dari mobilnya ini. Dalam diam, aku turunkan kakiku dengan ragu. Jujur saja aku ingin lari dari sini, tapi gerbang telah tertutup rapat. Dan didekat gerbang maupun ayah ada pengawal. Mungkin aku akan kembali kedalam neraka.

Saat memasuki rumah yang bisa dibilang cukup besar ini, aku teringat waktu kecil. Berlari-lari kedalam rumah setelah pulang sekolah dan memeluk ibuku. Ya, aku termasuk anak manja dulu, atau dimanja? Sama saja bagiku. Tapi itu dulu, dulu. Ayah langsung membawaku keruang belajar pribadinya, dan menunjukan satu ruangan yang baru aku tahu.

"A-Apa-apaan ini!?" tentu aku terkejut. Ruangan itu dipenuhi monitor, berkas, maupun foto-foto. Ya, ini ruangan untuk meng-stalker Shizu-chan dan adiknya. Terbukti disana banyak foto Shizu-chan dan Kasuka, juga monitor yang menunjukan kamar Shizu-chan dan apartemenku juga apartemen yang ditempati adikku. Tunggu, kamar Shizu-chan dan dua apartemen itu? Itu berarti.

"S-sejak kapan kamera pengintai ini terpasang?!" ya, aku semakin panik. "Hmmm, kira-kira sejak dua tahun yang lalu saat kau tidak ada. Memang aku tidak mengabadikanmu sewaktu menjadi 'Kanra' dalam bentuk video. Tapi dalam bentuk foto~! Ahahaha!"

Ayah melemparkan setumpuk foto dengan kasar kearahku. Kulirik foto-foto yang terjatuh, dan memang benar itu aku saat jadi 'Kanra' ditaman. "Ayah awalnya hanya menyelidiki Kasuka, untuk adik-adikmu. Tapi seperti yang kubilang tadi, ternyata kakaknya lebih menarik,"

Aku hanya diam. Sempat aku berpikir, mungkin inilah akhir dari kebebasanku. Dan jujur, sempat aku menyalahkan adikku yang begitu terobsesi dengan Kasuka. Tapi, semua ini hanya kebetulan, atau takdir? Persetan dengan takdir, aku hanya percaya kebetulan semata. Aku tak percaya pada Kami-sama. Aku yakin, sangat yakin ini hanya kebetulan semata.

"Yah, ayah hanya bisa minta maaf kalau 'kehidupan pribadimu yang bebas' itu ayah sediliki secara tidak sengaja. Kau tahu kenapa ayah membiarkanmu berhubungan dengannya untuk sementara waktu?" kujawab dengan menggelengkan kepala, sudah kubilang dia itu menyeramkan.

"Aku menunggu sampai kau sadar, kukira kau hanya main-main dengannya seperti yang biasa kau lakukan. Ternyata terus berlanjut, kesabaranku habis saat melihat ini," ayah menunjukan fotoku yang sedang berciuman di gang sepi tadi siang. "N-Nani!?" mataku melebar, dia tidak setengah-setengah dalam menyuruh anak buahnya memata-matai kami ternyata.

"Ya, semua 'pegawai khusus' disini sengaja aku pulangkan untuk hari ini saja, agar tidak bertemu denganmu. Kalau mereka tidak kupulangkan, kau pasti dengan mudah mengincar mereka suatu saat."

Apa yang ia katakan barusan benar. Tapi dalang atau pemimpinnya juga aku incar, yaitu ayahku sendiri. "Kalian sudah melangkah terlalu jauh, kalau sampai ada yang tahu anak dari keluarga Orihara maupun Heiwajima seperti ini, aku yakin kalian akan berakhir. Apa kau tidak berpikir, Izaya?"

Aku tak mau menjawabnya. "Pikirkan! Nama baik dua keluarga ini akan tercoreng. Dan sekarang kau pilih. Tukarkan kebebasanmu dengan menuruti kata ayah, atau tetap berontak bebas seperti beruang kelaparan, namun dengan menukarkan nyawa Shizuo?"

Seketika itu pula kepalaku terasa pusing. Aku bimbang memilih yang mana. Aku ingin bebas, tidak mau disini lagi. Tapi kalau aku bebas, tidak ada Shizu-chan apa artinya? Walau manusia mainanku, tapi monster itulah yang membuatku semakin merasakan hidup. Sekalipun aku 'membencinya'.

"Cepat, katanya Shizuo sudah ada didepan gedung sekolah Raira sedari tadi. Dan sniper tadi masih ada disana, lho~" Ayah mengeluarkan hand phone-nya. Menelepon sniper suruhannya. "A-aku…" lidahku kelu.

"Hallo? Ah, iya. Kau siap menembak 'rambut pirang' itu?"

"Aku pilih menuruti ayah!" jawabku dalam satu tarikan nafasyang dalam, aku mungkin akan menyesalinya. Pasti. Kulihat ayah tersenyum licik, dia memang ayahku.

"Hmph, turunkan senjatamu. Tidak usah membunuhnya," lalu kulihat dia menutup teleponnya. Tatapan mata ayahku seperti penuh kemenangan. "Pilihan yang bijak," kuberanikan bicara sekali lagi. "Dengan satu syarat, ayah." Dia tertawa pelan. "Aku mendengarkan,"

"Jangan selidiki dia lagi, sudah cukup. Lepas semua kamera pengintai itu," aku menundukkan wajahku. 'Aku akan kembali keneraka,' hatiku berkata. "Baiklah, kuanggap itu permintaan terakhirmu. Dan pergilah kekamar,"

.

-skip-

.

Aku hanya berbaring di kasur kamar lamaku, kamarku sejak kecil. Aku yakin ayah sengaja memasang tralis besi pada jendelan dan ventilasi seluruh rumah ini. Sejak dulu tidak ada, aku yakin dia baru memasangnya. Pastinya agar aku tidak kabur dari sini. Aku berpikir, neraka akan dimulai.

"Cepat, katanya Shizuo sudah ada didepan gedung sekolah Raira sedari tadi" kalimat tadi, teringat begitu jelas. Dan sekarang waktu menunjukkan jam sepuluh malam, apa dia masih menungguku disana? Hanya itu yang bisa kutanyakan walau tak terjawab. Jelas saja tak terjawab, semua hp-ku dan pisau-pisauku disita.

Berjam-jam aku diam, tidak menyentuh makan malam yang diantarkan kekamarku. Aku hanya diam duduk dekat jendela menatap malam yang diam. Andai aku sekuat Shizu-chan, pasti sudah kuhancurkan rumah ini dengan mudah lalu kabur. Tapi aku hanyalah manusia biasa—tidak, aku sendiri ragu apakah aku ini manusia atau bukan.

"Makanlah Tuan, kau bisa sakit." Tutur pelayan yang masuk, aku diam seperti benda mati yang menatap keluar jendela. Ya, aku terbiasa dengan rasa sakti maag yang kambuh karena sering telat makan.

"Pantas saja kau kurus, dan terlihat rapuh," kalimat Shizu-chan yang terngiang tiba-tiba. Sekali lagi jam demi jam berlalu, aku sukses tidak tidur juga tidak makan. Ya, Shizu-chan benar aku mungkin terlalu kurus. Atau mungkin karena aku yang masochist ini, suka menyiksa dirinya sendiri jadi aku merasa aku ini bukan manusia. Entahlah, ini rumit untuk kujelaskan.

Tanpa aba-aba, ayah memasuki kamarku dengan pelayan—maksudku beberapa maid-nya. Mataku menangkap sosok tak asing lagi, Namie Yagiri yang masih berpakaian seperti biasanya. "Kenapa kau ada disini, Namie-san?" tanyaku pelan.

"Ayahmu menyuruhku kemari—"

"Dia disini tentu akan berguna, Izaya. Dia akan jadi sekretarismu di kantor nanti," ayah menjentikkan jarinya, memberi tanda kepada maid-maid itu untuk melayaniku. "Aku sengaja memberimu pelayan yang kawaii dan seksi. Yah, untuk 'menormal-kan-mu' kembali," nadanya penuh penekanan.

'Baka, aku nggak butuh!' umpatku dalam hati. Aku putuskan mengambil pakaian dari salah satu maid. "Aku bisa memakainya sendiri," aku pun berlalu masuk kedalam kamar mandi, mengganti bajuku dengan kemeja putih dan jas hitam. Keluar kamar mandipun, maid yang mengganggu mataku ini –termasuk sosok ayahku– masih berdiri disana.

"Ada yang kurang, Namie-chan~ pakaikan dia dasi," perintah ayahku. Tampang Namie yang terlihat bête itu mendekatiku dan memasangkan dasi. "Jangan salah sangka, aku tidak tertarik denganmu. Aku hanya menyukai adikku," bisiknya.

"Hm, kalian cocok juga kalau menjadi pasangan," celetuk ayahku, membuatku semakin geram namun kutahan. Namie tiba-tiba memakaikanku jam tangan. "Jam tangan ini memiliki GPS. Kau akan selalu terpantau olehku," ayah kembali tertawa.

.

-few months later-

.

Kantor, adalah tempat yang paling memuakkan yang pernah kutemui waktu dulu setelah aku lulus kuliah sampai detik ini. Beruntung waktu itu hanya beberapa saat sebelum aku berontak ingin bebas. Semua yang ia arahkan dan perintahkan disini, aku tidak mengerjakannya. Persis seperti murid yang membenci gurunya, maka ia tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Tapi, semua itu tidak berlangsung lama. Dengan sabar dan terpaksa aku bekerja dibawah pantauan dan suruhan ayah selama berbulan-bulan. Aku tidak kuat sebenarnya, dan sedikit depresi. Kalian pasti tahu penyebabnya, aku ingin menemuinya.

Lagi pula, kondisi badanku mulai memburuk. Padahal aku hanya diam duduk menatap monitor tanpa koneksi internet selama ini. Ayahku sengaja melakukannya agar aku tidak bisa berhubungan dengan Shizu-chan. Dia sungguh-sungguh berniat untuk memisahkanku dengannya.


"Maaf tuan, anda mau kemana?"

"Aku ingin makan diluar," jawabku ketus, dan setelah beberapa langkahku keluar kantor. Aku diikuti dua pengawal. Membuatku risih. Aku sengaja memilih café yang agak jauh dari letak kantor. Selanjutnya aku beralasan pergi ketoilet tanpa diikuti mereka. Kulihat pantulan sosokku di cermin yang berada didepanku. Kulepas jas dan dasi yang kupakai. Aku benci setelan itu, membuatku muak.

"Ano, boleh aku pinjam dasimu?" beruntung seorang pelayan café itu mau meminjamkan dasi kupu-kupunya padaku. 'Dasi… dasi kupu-kupu, ya?' aku diam sejenak, lalu pergi keluar toilet sambil menunduk berjalan menuju ruangan yang bertuliskan "Staff Only". Disitu dengan mudah aku dapatkan gergaji besi, setidaknya benda tajam yang dapat memotong rantai jam yang kupakai ini. Kubuang jam yang mengekangku selama berbulan-bulan, lalu keluar lewat pintu belakang.

Berlari secepat yang kubisa, menjauh dari café tadi. Berlari kearah dimana Shizu-chan berada. Aku berpikir, untuk apa aku menemuinya? Mungkin saja untuk mengucapkan kata perpisahan yang tertunda, atau keluar dari sini dan kabur bersamanya. Sebentar lagi kedua pilihan tadi akan menjadi satu—tidak, hanya ada satu pilihan.

Sedikit lagi, sedikit lagi sampai. Aku hanya bisa berlari, dan berlari. Tidak peduli dengan orang-orang yang menatap heran kearahku. Aku seperti dikejar-kejar hantu. Kulewati restoran sushi, kulewati Simon dan sekali lagi aku tidak peduli kalau dia memanggilku.

'Kenyataannya kau tidak ingin kehilangan Shizuo, 'kan? Kau ini terkena 'Shizuo complex', 'kan?' teringat kalimat Simon saat itu setelah memukulku. Ya, dia benar. Kalimat yang Simon ucapkan itu benar.

"Ah! Shizu-chan!" kulihat sosoknya dikejauhan bersama Tom-san. Tapi sosok yang kutuju terhalang karena dua orang pengawal ada didepanku secara tiba-tiba. Juga dua orang lagi mengepung dibelakangku.

"Maafkan kami, tuan." Aku berusaha berontak, tapi tubuhku sudah mencapai batasnya. Dan dengan mudah aku tumbang hanya dengan sekali pukul dibagian ulu hatiku. "Ukh! Ku…kuso." Mataku berusaha mencari sosok rambut pirang itu, sebelum mataku tertutup. Tapi, kenyataannya sosok itu telah menghilang jauh sebelum aku tidak sadarkan diri.

.

.

~Izaya POV-end-~

.


.

~Shizuo POV~

.

.

"Ah! Shizu-chan!"

Panggilan itu, suara itu. Kutengokkan kepalaku kebelakang, mencari pemilik suara itu. Tapi yang ada hanya orang-orang yang lalu lalang. Tidak ada sosok yang membuatku kesal setiap melihatnya. 'Apa aku berhalusinasi? Aku merasa suara Izaya begitu nyata memanggilku.'

"Ada apa, Shizuo?" Tom-san bertanya. "Tidak, tidak ada apa-apa," aku kembali berjalan. 'Lagi-lagi dia pergi menghilang entah kemana. Tak ada penjelasan darinya. KUSO! Aku akan membunuhnya kalau ketemu!'

Tapi, rasanya ada yang aneh. "Kuso, Kuso, Kuso, Kuso. Korosu, Korosu, Korosu, Korosu, Korosu." Gumamku seperti biasanya. Ingin rasanya memukul si Kutu itu. Kenapa dia selalu membuatku kesal dan ingin 'membunuh'-nya!?

.

.

-Shizuo POV ~end~-

.


.

~Izaya POV~

.

.

"Kau yakin ingin menanamnya?" samar-samar kudengar suara ayah dengan dua orang lainnya. Tapi, salah satunya aku seperti mengenalnya. Perlahan kubuka mataku yang berat, tercium aroma yang membuatku pusing. Aku sadar ini dirumah sakit—lebih tepatnya kamar yang menyerupai kamar di rumah sakit. Aku pernah kemari sebelumnya, bersama Shinra waktu SMP dulu.

"Iya, uang sudah kusiapkan. Tenang saja," suara itu kembali terdengar, apa yang mereka bicarakan-pun aku tidak mengerti. Kulemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Disampingku berdiri tiang infus yang ujungnya menancap dilenganku. Pantas saja semua terasa berat. "Bukan masalah uang. Tapi keadaannya bisa dibilang buruk, saya khawatir kalau ini tidak berhasil, terlebih ini pertama kalinya bagi saya,"

Suara itu, tempat ini. Sudah pasti ini tempat dimana Shinra dan ayahnya merawat atau melakukan praktek. "Tak apa, kalaupun dia merenggang nyawa. Aku tidak akan menyalahkanmu, Shinra-kun." Dugaanku benar. Ayahku dan Shinra membicarakan sesuatu diluar sana. Aku menggeliat, berusaha menggapai jarum infus yang menancap dilenganku.

"Ah, kau sudah sadar, Izaya-kun. Ayahmu yang membawamu kemari," Shinra tersenyum setelah memasuki ruangan ini, dan menghentikan tanganku yang berusaha meraih jarum infus. "Dan tebak, ayahmu memintaku untuk apa?" langkah ayahku terdengar, dia masuk dan bergabung dengan kami.

"Aku lupa memberitahumu, kalau sabuk yang kau kenakan juga terdapat GPS sejak dulu. Jadi mudah bagiku untuk menemukanmu, hehehe. Dan sekarang, kau tidak usah repot untuk melepas semua GPS yang terpasang. Karena aku menyuruh Shinra-kun untuk menanamkannya padamu, didalam tubuhmu. Good luck, Shinra-kun!" dia pergi seenak perutnya.

"Hai', sangkyuu Orihara-san." Kami berdua terdiam, aku tidak berkutik karena infus ini memberatkan semuanya. "Izaya-kun, gomennasai. Aku tidak bisa menolaknya, bukan karena uang. Tapi dia memaksaku untuk melakukannya. Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan ayahmu. Tapi, maafkan aku,"

Shinra membungkuk. Menanam GPS dalam tubuhku? Itu berarti aku tidak bisa kabur, kecuali aku memotong bagian tubuhku yang terdapat GPS, 'kan?. "Tak apa, Shinra-kun. Aku bisa memotong bagian tubuhku…. Kalau aku ingin kabur, ehehe.." ucapku sangat pelan. Shinra menatap iba padaku, dia menggeleng.

"Ayahmu menyuruhku menanamnya dibahumu. Kau yakin bisa memotongnya? Aku rasa tidak. Ayahmu tentu sudah merencanakannya."

"….. damn. Baiklah, kalau begitu. Tanam saja," dengan pertimbangan yang seadanya, aku menerima salah satu hukuman dari ayah, mungkin?

-bersambung-

silahkan di spamm atas kegajeannyaaa T^T