(Normal POV)
Sore yang tenang di Namimori, sekitar pukul empat sore di mana anak-anak sekolah baru selesai melaksanakan kewajibannya sebagai pelajar. Terlihat seorang anak laki-laki berkepala keperakan menuju sebuah tempat makan sambil asyik membaca buku. Meskipun berjalan sambil membaca buku ia tak terlihat kesulitan dan anehnya lagi ia tau bila ada sesuatu yang menghalangi jalannya ia langsung menghindar.
Sampai di sebuah tempat makan, ia melihat sekitarnya untuk mencari tempat duduk yang kosong tapi, Sepertinya aku harus duduk bersama orang itu lagi, batinnya. Akhirnya ia menuju ke meja yang sudah ditempati seorang laki-laki seumurannya berambut cokelat acak-acakan, menurutnya.
"Permisi, apa aku boleh duduk di sini? Sudah tak ada tempat kosong.", tanyanya kepada penempat pertama meja tersebut.
"Ya, tentu saja.", jawab anak laki-laki itu.
"Terima kasih."
Setelah ia duduk seorang pelayan langsung menghampirinya dan mencatat pesanannya. Sambil menunggu pesanan datang ia melanjutkan membaca buku yang sedaritadi dibacanya. Tak jarang manik hijau emeraldnya memandang sosok yang ada di depannya itu. Anak berambut acak-acakan itu sepertinya belum memesan apa-apa, tapi sekarang ia sedang sibuk menulis, mungkin tugas sekolah. Tapi nampaknya ia tidak begitu perduli. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Merasa terganggu ia langsung mengeceknya dan ada satu e-mail masuk.
"Hayato sedang apa kau di sana? Apa kau sudah makan? Jangan lupa belajar yang benar ya. Aku dengar kau ingin ikut olimpiade dua hari lagi kan?" –Bianchi.
Begitulah isi pesannya. Ia tampak tak begitu senang. Ia tak membalasnya dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dasar kakak overprotective, batinnya. Beberapa menit kemudian, pesanannya datang dan ia langsung saja menyantapnya selagi hangat. Tanpa basa-basi, setelah ia memenuhi kebutuhan lambungnya ia segera membayar dan pergi dari tempat itu. Ia melihat orang yang semeja dengannya tadi masih saja mengerjakan tugasnya. Lalu ia segera menuju ke apartmennya.
Ia tinggal sendiri? Ya, sebenarnya ia tinggal di luar Jepang. Tapi entah mengapa setelah memasuki usia remaja, ia ingin tinggal di Jepang sendirian. Sampai di apartmen, ia langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia melakukan kegiatan rutinnya setiap malam, belajar. Baru beberapa menit ia belajar, ponsel di atas meja berdering dan cukup mengganggunya. "Sialan…!", decaknya kesal. Terpaksa ia mengangkat teleponnya.
"Ya? Ada apa lagi?"
"Hayato, kenapa kau tidak membalas e-mailku?", terdengar suara seorang perempuan di seberang sana.
"Aku sedang sibuk! Untuk apa kau menelpon?"
"Sibuk? Kau sibuk belajar? Kalau kau lelah jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tidak pernah lelah dalam hal ini."
"Kau sudah makan?"
"Sudah."
"Mandi?"
"Sudah."
"Dan…"
"Sudahlah kau terlalu banyak bicara, masih banyak yang harus aku pelajari."
"Hayato… kenapa kau jadi berubah begini…?"
"Ah, sudahlah! ck!", ia langsung mematikan ponselnya.
Berubah? Bukankah karna kehadirannya ibunya aku jadi berubah? Dasar bodoh, batinnya. Daripada memikirkan itu lebih baik ia melanjutkan belajarnya. Bukan Hayato namanya kalau ia belajar tidak sampai larut malam. Ia memang anak yang jenius, sehingga belajar bisa menjadi camilannya setiap saat,.
.
.
.
Mentari mulai menampakkan wujudnya. Cahayanya menerobos masuk ke sela-sela tirai jendela kamar Hayato. Ia cukup terganggu dengan itu dan perlahan membuka matanya. Dan ia berpikir, sudah berapa kali ia tidak pernah menggunakan tempat tidurnya untuk tidur. Ia tertidur lagi di meja belajarnya. Ia segera beranjak dan menuju kamar mandi. Setelah bersih-bersih dan mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah ia langsung menuju sekolahnya.
Sebelum menuju sekolah, ia mampir dulu ke minimarket untuk membeli sarapan. Makan malam terlalu cepat membuat ia sangat kelaparan pagi ini. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sambil membaca buku tentunya dan sambil ditemani roti pagi ini.
Sampai di sekolah ia langsung duduk di tempat duduknya yang terletak di belakang. Entah mengapa meskipun duduk di belakang ia tetap bisa menyimak pelajaran dengan baik. Ia melanjutkan kembali kegiatan membacanya. Ia tampak menyendiri. Tentu saja, kalau sedang membaca ia tidak ingin diganggu, kecuali jika ada keperluan penting. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Murid-murid yang lain langsung kembali ke tempat duduk masing-masing.
Ia tampak selalu serius dalam menyimaki pelajaran. Di saat teman-temannya yang duduk di belakang tengah tertidur, ia masih bisa serius mendengarkan penjelasan guru. Tak jarang ia dipanggil untuk mengerjakan soal di depan kelas. Ia cukup dipandang oleh guru-guru di sekolahnya. Ia juga populer di kalangan anak perempuan. Karna menurut perempuan di sekolahnya ia… cool.
Tak terasa bel istirahat berbunyi dan waktunya makan siang. Ia berjalan menuju kantin untuk menyantap makan siang tentunya. Tak lupa ia berjalan sambil membaca buku. Setiap ia melewati anak perempuan, sesekali ia mendengar mereka sedang membicarakan dirinya. Yang pasti bukan membicarakan hal yang negatif.
Sampai di kantin ia langsung memesan makanan. Setelah itu, ia tampak menacari tempat duduk yang kosong namun hasilnya nihil. Ia melihat ada teman satu klubnya duduk di satu meja, sepertinya masih ada satu kursi lagi. Langsung saja ia menuju ke sana.
"Apa kursi ini kosong?", tanyanya.
"Iya. Oh, Gokudera!", ucap temannya.
"Ya, aku Gokudera memangnya kenapa?"
"Kau jarang latihan belakangan ini, ada apa?"
"Aku sedang mempersiapkan sesuatu."
"Mempersiapkan sesuatu? Apa kejutan? Untuk pacarmu ya?"
"Bukan. Ini hadiah untuk ibuku.."
"Oh, begitu."
"Aku janji setelah ini aku akan rajin latihan sepak bola lagi."
"Baiklah. Semoga berhasil!"
Setelah percakapan singkat tadi, Hayato langsung menyantap makan siangnya. Ia cukup menyukai sepak bola dan ia cukup jago dalam bidang ini. Dan hal ini lah yang membuat ia banyak mendapat pujian dari anak perempuan. Ia lebih dekat dengan teman-teman satu klubnya. Selesai menyantap makanannya ia kembali ke kelasnya karna bel masuk juga sudah mengudara.
Ia kembali melakukan kegiatan belajarnya sesekali ia bergumam, ini akan menjadi hadiah terindah untuk ibuku. Mengapa ya ia sangat sayang dengan ibunya? Kalau ia sayang kenapa ia meninggalkannya? Entahlah. Hingga sudah pukul empat sore dan bel pulang berkumandang. Besok.. olimpiadenya akan mulai besok, batinnya sambil merapikan buku-bukunya. Setelah itu ia mulai meninggalkan kelasnya untuk pulang.
Sebelum pulang ke apartmennya seperti biasa ia mampir ke tempat makan yang kunjungi kemarin. Kali ini tempatnya tak terlalu penuh, ia bisa duduk sendirian dengan tenang. Sambil menunggu pesanannya datang ia tampak sedang mengerjakan soal matematika yang cukup sulit. Kelihatannya ia sama sekali tidak mengalami kesulitan. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata kakaknya yang kita tau bernama Bianchi menelponnya. Dengan terpaksanya Hayato mengangkat telepon itu.
"Ada apa?", tanyanya agak kesal.
"Aku hanya ingin tau kau sedang apa. Besok waktunya kan?", ucap kakaknya di seberang sana.
"Ya. Besok. Aku sedang sibuk belajar bisakah kau tidak menggangguku?"
"Ayolah Hayato… jangan begitu pada kakakmu ini.."
"ck!", ia langsung menutup teleponnya lagi.
Besok… aku harus menang,batinnya. Tak lama kemudian pesanannya datang dan ia mulai menyantapnya sambil mengerjakan soal-soal yang berserakan di mejanya. Seperti biasa setelah makan ia membayar dan langsung pulang ke apartmennya.
Sampai di apartmennya, seperti biasa ia langsung mandi dan selanjutnya melanjutkan mengerjakan soal-soal matematika yang tak ada habisnya sebagai bahan latihan untuk besok. Surat izin untuk sekolahnya sudah di kirim dari pihak penyelenggara olimpiade. Ia hanya tinggal fokus untuk besok. Setelah sejam ia belajar, tiba-tiba kakaknya menelpon lagi dan ia mulai emosi dengan ini.
"Ada apa lagi?", Hayato terdengar emosi.
"Kau sudah makan, Hayato?"
"Sudah. Bisakah kau berhenti cemas kelewatan begitu?"
"Entahlah. Karna kau pergi dengan kemauanmu sendiri aku jadi sangat khawatir."
"Ya, memang ini keinginanku."
"Apa kau tidak memikirkan perasaan ayah?"
"Untuk apa aku memikirkannya kalau ia sendiri tak pernah memikirkan aku."
"Hayato.. kenapa setelah kematian ibumu kau jadi bandel begini?"
"Aku tidak membandel. Aku hanya tidak ingin lihat muka ayah saja."
"Ibumu juga akan sedih jika kau seperti ini."
"Sudahlah. kau belum puas setelah menyembunyikan semua itu?"
"Tapi kau sudah mengetahui semuanya, kan?"
"Sudahlah. kau cukup menghancurkan moodku!", Ia langsung menutup teleponnya lagi.
Setelah kematian ibu kandungnya lima tahun yang lalu, ia menjadi tak ingin bicara dengan keluarganya. Baginya keluarganya adalah orang terburuk yang pernah ia temui. Yang benar saja saat ibu kandungnya tiada, ia baru tau bahwa wanita yang selama ini menemaninya, mengajarkannya bermain piano dan mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan sehingga ia jadi sepintar ini adalah ibu kandungnya. Lima tahun kemudian, akhirnya ia kabur dari rumah dan pergi ke Namimori, Jepang. Betapa jeleknya moodnya, sehingga ia menghentikan kegiatan belajarnya sejenak. Dasar laki-laki bodoh! Kakak yang menyebalkan! Kenapa aku harus bersatu dengan keluarga seperti itu?, batinnya.
.
.
.
Esok pagi, ia bangun tepat waktu dan ia sedang bersiap-siap untuk melaksanakan olimpiade matematika. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, ia segera menuju tempat di laksanakannya olimpiade terebut. Tentunya ia harus sarapan dulu, ia pergi ke sebuah restoran cepat saji dan makan dengan secepatnya, ia tak ingin terlambat. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya.
Akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ternyata olimpiadenya diadakan di sebuah gedung yang lumayan terkenal di sana. Ia langsung memasuki gedung tersebut dan langsung mendaftar ulang dirinya. Setelah itu ia dipersilahkan menunggu di ruang peserta. Ia tak ingin buang waktu, sebelum olimpiade dimulai ia sempatkan diri untuk belajar lagi. Ia merasa mantap dengan persiapan kali ini.
Tak butuh waktu lama akhirnya olimpiade segera dimulai. Ia sudah merasa siap. Dalam olimpiade tersebut ia harus menyelesaikan satu soal matematika level anak kuliahan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Setelah aba-aba menjawab soal mengudara, dengan sigap ia langsung menuliskan jawabannya lengkap dengan 'caranya' di sebuah papan tulis yang disediakan. Hingga tiga menit berikutnya ia sudah selesai menjawab soal tersebut. Dan kau tau, jawabannya itu hampir memenuhi satu papan tulis sebesar yang biasanya ada di sekolah itu lho.
Setelah semua peserta menjawab hingga tuntas soal tersebut, pengoreksian dimulai. Dan jawaban Hayato sangat akurat. Peluangnya untuk menang besar sekali. Tapi ia tidak tau apakah ada yang mengerjakan soal lebih cepat darinya atau tidak. Tak butuh waktu lama untuk menunggu pengumuman pemenang, namanya pun mengudara menjadi seorang pemenang. Ia terkejut dan sempat terdiam. Akhirnya ia bisa memberikan hadiah terbaik untuk ibunya.
Setelah semua acara selesai, ia pulang dengan penuh kebahagiaan. Sebelum ia keluar gedung, ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya dan ia sangat mengenalinya. Perempuan berambut pink panjang sedang menunggunya di pintu keluar, itu kakaknya.
"Selamat, Hayato.", ucap kakaknya.
"Sedang apa kau di sini? Sudah ku bilang agar jangan datang kemari.", ia tampak tak senang dengan kehadiran kakaknya.
"Ayolah, Hayato kenapa kau dingin begitu aku kemari untuk melihat kau menang."
"Aku tidak butuh ucapan darimu."
"Bagaimana kalau kau kembali ke Italia sekarang?"
"Sudah ku bilang aku tidak akan kembali."
"Jangan bercanda, Hayato. Apa yang membuatmu betah di sini?"
"Aku sudah muak tinggal bersama ayah, bersamamu, dan bersama ibumu!", ia sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Kau masih salah paham Hayato. Akan aku jelaskan satu hal lagi."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah cukup jelas."
"Kau tau… ayahmu menikahi ibuku karna… ibumu yang memintanya.."
"Apa..?", ia cukup terkejut mendengarnya.
"Ibumu sudah terlalu lama mengidap penyakit dan ia tau bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Akhirnya ia meminta untuk mencari pengganti dirinya."
Hayato hanya terdiam, karna setelah bertahun-tahun ia baru mengetahuinya saat ini.
"Ayahmu masih mencintai ibumu. Ia menulis banyak surat untuk ibumu saat mereka sudah tak lagi tinggal satu atap."
"Kau puas dengan semua ini?"
"Apa?"
"Kalian sudah puas menyembunyikan hal penting seperti itu selama bertahun-tahun?"
"Bukan begitu, Hayato. Kami hanya mencari waktu yang pas saja."
"Pas katamu? Ini terlalu mendadak."
Hayato meninggalkannya dengan penuh kekesalan. Mood jadi berubah lagi. Mengapa di hari yang harusnya ia bahagia, malah dihancurkan dengan fakta yang baru saja ia ketahui tadi. Ia tidak kesal saat mengetahui bahwa ibunya sendiri yang meminta ayahnya untuk menikahi ibu kakak tirinya itu. Tapi yang ia kesali, kenapa ia baru memberitahunya sekarang.
Aku benci kalian semua, batinnya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk kembali ke Italia, hanya sekedar ingin melihat makam ibunya. Di sana ia berdoa dan berbicara tentang pengalamannya tinggal di Jepang, ia harap ibunya mendengarnya. Lalu ia meninggalkan sertifikat kemenangannya saat olimpiade beberapa hari yang lalu di makam ibunya.
"Selamat ulang tahun… Ibu.", ucapnya sambil tersenyum lembut.
Ternyata hari ini hari ulang tahun ibunya, ia bangga bisa memberikan kado terbaik untuk ibunya. Menghabiskan waktu dua hari di Italia dan di hari berikutnya ia kembali ke Namimori dan melakukan kesehariannya seperti biasa.
"Ibu… aku akan menggapai masa depan yang cerah…!"
.
.
.
To be continued.
Fuahhh… Chapter dua update juga!
Yah meskipun yang baca cuman dikit tapi author tidak akan menyerah!
Untuk yang sudah membaca arigatou gozaimasu~
Jangan lupa reviewnya ya pesan dan kesan membaca ff berikut ini
Author usahakan secepatnya update lagi
Oke sampai bertemu di chapter berikutnya!
Jaa~
