Jeonghan sedang mencuci seprai yang kemarin belum sempat ia cuci ketika Joshua sempat datang ke flatnya. Itu sudah tiga hari yang lalu.
Sudah tiga hari pula Seungcheol tidak memberinya kabar sama sekali.
Jeonghan melirik gelang dengan manik-manik kayu di pergelangan tangan kirinya. Hatinya kembali seperti disetrum, nyerinya selalu datang sewaktu-waktu. Setelah menghela nafas keras-keras yang seperti mendengus, Jeonghan meraih gelang itu, sesaat lagi akan melepaskannya.
Tidak. Kenapa ia merasa ini tidak benar?
Membanting tangan kirinya sendiri ke atas penutup mesin cuci. Jeonghan menggeram. Kenapa ia tidak bisa melepaskannya? Padahal ia sudah lepas. Seungcheol tidak lagi mengusiknya sejak pertemuan terakhir mereka.
Selesai mencuci sebenarnya Jeonghan hanya ingin bergelung dalam selimut dan menikmati tidur di akhir pekan—penghujung musim gugur cukup dingin, Jeonghan hanya ingin liburan musim dingin datang lebih cepat agar ia bisa menghindar dari Seungcheol dan juga Jisoo. Jisoo, sebenarnya tidak ada alasan untuk menghindari pemuda yang satu itu, hanya saja Jeonghan merasa sedikit terganggu dengan pernyataan cintanya. Sejak Jisoo mengatakan bahwa pemuda itu menyukainya, Jeonghan merasa ia tidak akan bisa memandang Jisoo dengan cara yang sama lagi.
Sayangnya ponsel Jeonghan berbunyi. Buru-buru meraihnya, dan begitu mengetahui bahwa itu dari Jisoo, Jeonghan tidak bisa menyangkal sedikit rasa kecewa.
"Halo, Jisoo?"
.
.
Red String © darkestlake
Starring: Yoon Jeonghan, Choi Seungcheol, Hong Jisoo, etc
Beware of typo(s), a lot of OOC-ness, AU, segala kekurangan yang ada dalam fic ini karena pembuatnya hanyalah manusia biasa
.
.
PS: ingatlah hari ini tanggal 10 November, SELAMAT HARI PAHLAWAN!
.
.
2/2
.
.
"Kau kenapa sih?" Doyoon mengibaskan tangannya di depan muka Seungcheol ketika pemuda itu menatap ponselnya sambil melamun. Seungcheol tidak menunjukkan sedikitpun keterkejutan, hanya saja bola matanya akhirnya bergerak ke arah Doyoon.
"Tidak ada apa-apa." Seungcheol membuang muka. Doyoon menatapnya datar pada teman masa kecilnya itu. Ia bukannya tidak tahu jika Seungcheol memalingkan muka berarti ia sedang bingung ingin menjawab apa.
"Hari ini dingin sekali, harusnya kita pergi ke tempat tertutup dan hangat. Oh, keberatan menemaniku ke bioskop?!" biarpun caranya salah, Doyoon masih belum mau menyerah untuk mengambil hati Seungcheol. "Mau kan?"
Doyoon adalah teman sejak kecil dan mungkin adalah orang pertama dan satu-satunya yang bisa Seungcheol percayai sampai sekarang, sebelum Jeonghan tiba-tiba muncul di kehidupannya. Menolak permintaannya hanya akan membuat Seungcheol tidak enak hati, biar bagaimanapun, jika terhadap teman Seungcheol sangat setia.
Bangkit tanpa berkata apapun, Seungcheol menunjukkan pintu keluar rumahnya dengan dagu dan Doyoon malah tertawa melihatnya.
"Bicaralah. Kau sejujurnya membuatku takut karena terlalu sedikit bicara sekarang." Kali ini Doyoon memang benar-benar simpati. Seungcheol benar-benar berubah dari tiga hari lalu. Meskipun Seungcheol bicara dengan kasar, tapi Doyoon tahu bahwa pemuda yang sebaya dengannya itu tidak memiliki kekhawatiran ataupun masalah apapun. Sekali lagi, pertemanan sejak kecil menjadi alasan mengapa Doyoon bisa begitu peka.
"Tadi aku sudah bicara." Menyahut seperlunya.
Doyoon sepertinya sudah tidak punya topik pembicaraan lain, jadi dia hanya diam dan mengikuti langkah Seungcheol menuju mobilnya.
Di dalam mobil mereka hanya diam. Doyoon jujur saja tidak berani mengajak Seungcheol bicara. Hatinya selalu mengatakan bahwa sebaiknya ia hanya diam. Seungcheol tidak suka diusik, dan Doyoon sama sekali tidak ingin dirinya menjadi orang yang dicap Seungcheol sebagai pengusik kehidupannya.
Mereka tiba di sebuah bioskop dan Doyoon langsung turun mobil dengan wajah ceria yang seakan tidak lekang oleh waktu dan suasana hati. Seungcheol malas-malasan mengekor Doyoon menuju ke loket pembelian tiket, sepertinya Doyoon sudah menentukan film apa yang akan mereka tonton sejak dari rumah.
"Seungcheol, kau mau masuk duluan atau bagaimana? Aku ingin membeli cemilan dan minuman dulu."
Seungcheol menggeleng, "Biar aku saja yang membeli cemilan. Kau masuklah dan cari tempat duduk kita dahulu."
Doyoon hanya mengangguk, sambil tersenyum meninggalkan Seungcheol untuk masuk lebih dulu ke dalam gedung yang akan jadi tepat mereka menonton. Seungcheol segera menuju ke stan di sekitar bioskop yang sering menjual makanan.
"—terserah padamu saja."
Seungcheol berhenti berjalan untuk sesaat. Ia berharap suara yang barusan ia dengar hanya imajinasinya semata. Seungcheol tahu persis kebiasaan Jeonghan di hari libur, pemuda itu tidak akan mau menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Jeonghan hanya akan di flatnya seharian, mengerjakan tugas atau hanya untuk makan dan tidur.
"—baiklah."
Bukan mimpi.
Sekitar beberapa meter di depannya ada Jeonghan yang berdiri berjejeran dengan Jisoo—memilih film mana yang bagus untuk ditonton. Seungcheol diam-diam emosi dengan keadaan dimana suara Jeonghan masih dapat terdengar jelas diantara hiruk pikuk keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Seungcheol mengalihkan perhatiannya untuk segera membeli cemilan, tapi tetap saja suara Jeonghan terdengar jelas di telinganya.
"—bagaimana kalau film yang ini?"
Sial.
Seungcheol berniat untuk segera pergi dari tempat itu—sial, ia bahkan tidak tahu untuk alasan apa ia harus menghindar seperti ini. Kenapa jadi harus ia yang menghindari Jeonghan? Hal pengecut macam apa?
"Oh, cepat sekali?" Doyoon berkomentar dan membantu Seungcheol memegang minuman sementara pemuda yang satunya berusaha untuk duduk. Seungcheol tidak merespon ucapan Doyoon, hanya duduk dan meminta soda yang barusan ia beli pada Doyoon.
"Kapan filmnya mulai?" tanyanya dengan suara serak setelah sudah menghabiskan setengah kaleng isi soda.
"Sekitar lima menitan lagi mulai." Doyoon menjawab sambil melihat ke jam tangannya.
Seungcheol tanpa sadar gelisah, ia ingin sekali segera pergi dari tempat yang sama dengan Jeonghan. Ia hanya tidak ingin bersitatap dengan pemuda berambut panjang. Apalagi Jeonghan bersama Jisoo.
Seungcheol mendengus. Ya untuk apa pula ia harus memikirkan mereka.
Doyoon yang mendengar dengusannya menoleh, "Kenapa lagi?"
"Tidak apa-apa." —hanya ingin cepat pergi saja dari sini supaya aku tidak bertemu dengan orang itu. Seungcheol membatin.
Film horror psikologi yang dipilih Doyoon ditonton Seungcheol hanya setengah hati. Separuh pikirannya melayang-layang kepada Jeonghan dan Jisoo. Hei, sedang apa mereka berdua disini? Kencan? Astaga, Choi Seungcheol, pikiran terkutuk macam apa yang menghantuimu jika mereka hanya kencan? Lagipula, Jeonghan sudah tidak punya urusan apapun lagi dengannya.
Film selesai lebih cepat dari perkiraan Seungcheol. Doyoon masih menunjukkan wajah terkesan dengan film itu dan mengatakan bahwa film yang mereka tonton sangat luar biasa. Seungcheol hanya bisa mengangguk-angguk saja karena ia sama sekali buta akan jalan cerita.
"Selanjutnya mau kemana?"
"Pulang." Seungcheol bicara dengan cepat dan ingin segera beranjak dari kursi saat Doyoon menahan lengannya. Seungcheol menoleh dan memberikan wajah penasaran.
"Kau berubah begitu banyak, sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu?"
Doyoon bertanya tulus karena sungguh ia tidak mengerti apapun—murni kebingungan—tapi, dia tahu ini bukanlah Seungcheol yang biasa. Sejak kembali dari membeli cemilan, Doyoon bukannya tidak tahu kalau Seungcheol terlihat gelisah. Seharusnya Seungcheol tidak perlu menemaninya jika memang pemuda itu tidak ingin.
"Tidak ada apa-apa, Doyoon. Aku hanya ingat dengan tugas dari dosenku kemarin."
Demi apapun, sejak kapan Seungcheol peduli dengan tugas kuliah?
Doyoon tidak bisa melakukan apapun kecuali berusaha mengerti. Ia hanya menurut dan mengikuti Seeungcheol meninggalkan gedung bioskop—meski kali ini senyumnya yang biasa sedikit memudar.
Doyoon berdiri di depan bangunan bioskop menunggu Seungcheol mengambil mobilnya saat ia melihat Jisoo bersama dengan seseorang. Terlalu tinggi untuk dikatakan sebagai wanita, tapi rambutnya yang panjang sebahu sempat membuat Doyoon kebingungan. Doyoon melambaikan tangan dan memanggil nama Jisoo.
"Jisoo-ya!"
Keduanya menoleh dan Doyoon akhirnya tahu persis bahwa orang yang berjalan beriringan dengan Jisoo adalah seorang lelaki. Jisoo sempat bicara sebentar dengan orang itu sebelum keduanya memutuskan untuk menghampiri Doyoon—sejak Doyoon datang, Jisoo belum sekalipun bertegur sapa dengan teman masa kecilnya itu.
"Yo, wassup?" Jisoo menggenggam tangan Doyoon dan mereka saling menepuk punggung, "Aku sudah mendengar dari Paman kalau kau datang, tapi aku belum sempat berkunjung ke rumah Seungcheol untuk memberi salam."
Doyoon tertawa, "Tidak apa-apa. Aku tahu kalau beberapa hari lalu kau sempat kena flu. Kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
Jeonghan sementara hanya diam memperhatikan keduanya. Pemuda yang terlihat akrab dengan Jisoo cukup tinggi dan proporsi tubuhnya seperti model. Jeonghan melirik ke wajah pemuda itu dan nyatanya wajahnya memang menarik, lagipula orang ini juga terlihat begitu ramah.
Tidak sadar sudah menatap terlalu lama, pandangan Jeonghan dibalas oleh pemuda itu.
"Kau temannya Jisoo kah? Kenalkan, namaku Jang Doyoon." Doyoon dengan ramah mengulurkan tangan—berniat untuk bersalaman.
Jang Doyoon? Sepertinya Jeonghan pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, kapan dan dimana?
Doyoon cepat lelah, sepertinya ini juga pengaruh dari jet-lag. Dia terlalu memaksakan diri.
Jadi ini anak kenalan Ayah Seungcheol? Jeonghan meringis, kenapa ia harus direpotkan dengan berkenalan dengan orang-orang yang berasal dari kalangan high class? Dia bukanlah Geum Jandi yang terlibat dengan F4. Lagipula, dia bukan seorang gadis.
Jeonghan menyambut uluran tangan Doyoon, "Namaku Yoon Jeonghan, senang berkenalan denganmu."
Doyoon tersenyum, "Namamu bagus ya."
"Ah, tidak. Biasa saja." Kenapa ramah sekali, sih?
"Sedang apa kau disini?" Jisoo akhirnya bertanya. Doyoon mengalihkan pandangan pada Jisoo dan tersenyum lagi.
"Aku menunggu Seungcheol. Tadi dia pergi untuk mengambil mobil, tapi sampai sekarang dia belum kembali juga."
Jeonghan membulatkan matanya. Seungcheol ada disini? Seungcheol sedang disini juga?
Jeonghan menarik lengan Jisoo ketika ia menyadari sebuah mobil warna merah mendekat, "Jisoo, bisa kita segera pergi? Aku sudah mulai lapar." Jeonghan membuat alasan yang kira-kira cukup masuk akal untuk menghindari situasi yang bisa membuat ia bertemu dengan Seungcheol. Jisoo awalnya tidak mengerti, tapi saat mengetahui kemana Jeonghan melirik, ia segera paham.
"Baiklah, Doyoon, kami duluan. Aku juga lupa aku belum makan dari pagi. Oh, atau kau ingin bergabung dengan kami?"
Doyoon—sesuai dugaan Jisoo—menolak dengan wajah menyesal. "Aku sebenarnya sangat ingin bergabung, tapi aku sedang menunggu Seungcheol. Kupikir tidak lama lagi dia pasti datang."
Jisoo berbasa-basi sebentar sebelum menggenggam tangan Jeonghan dan pergi begitu mobil Seungcheol berhenti tidak jauh dari tempat berdiri. Jisoo sendiri yakin kalau Seungcheol tahu bahwa orang yang bersamanya adalah Jeonghan.
Mobil yang sempat berhenti bergerak lagi kemudian benar-benar berhenti di depan Doyoon. Seungcheol diam-diam memukul dashboard mobil. Doyoon baru masuk mobil setelah Jisoo dan Jeonghan sudah menghilang dari pandangannya.
"Kenapa lama sekali?" Doyoon bertanya ketika sudah duduk di kursi. Seungcheol mendengus, memutar kemudi untuk keluar dari area gedung.
"Aku lupa menaruh kunci." Alasan.
Doyoon sendiri tidak bisa melakukan apapun selain berusaha mengerti, sekali lagi.
"Seungcheol…" Doyoon memanggil hati-hati, "Apa kau keberatan menemaniku terus seperti ini?"
Seungcheol memutar kemudi untuk keluar dari area bangunan bioskop, "Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Doyoon mendengus—untuk pertama kalinya menunjukkan wajah kecewa, "Kau tidak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kau ada masalah apa? Masalah dengan Ayahmu lagi?"
"Bukan." Seungcheol menyahut singkat. Tidak menunjukkan niat untuk menjelaskan lebih lanjut. Secara tidak sadar membuat Doyoon merasa sakit dengan jawabannya yang terlampau dingin. Bagaimanapun, Doyoon juga punya hati—boleh saja kan kecewa karena ditanggapi begitu dingin oleh orang yang disukai?
"Apa ada orang yang kau sukai sekarang?"
Seungcheol mengerem mendadak—ada seorang anak yang berlari menyeberang jalan mendadak. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari tubuh anak itu. Ibu si anak langsung berlari menghampiri anaknya yang langsung menangis begitu ia sadar beberapa menit sebelumnya nyawanya berada dalam bahaya.
Doyoon kaget setengah mati, menurunkan kaca mobil dan bicara pada ibu anak itu. Doyoon minta maaf, tapi ibu si anak meminta maaf balik karena anaknya yang menyeberang sembarangan. Seungcheol mendengus kasar, konsentrasinya buruk sekali hari ini. Setelah menunggu Doyoon berhenti bicara pada ibu dan anak yang hampir tertabrak, Seungcheol kembali membawa mobilnya melaju.
Selama beberapa menit keduanya tetap diam sampai Doyoon membuka suara kembali.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Seungcheol menghela nafas dengan berat, "Kenapa kau ingin tahu?"
"Berhentilah menghindari pertanyaanku." Doyoon menggunakan nada yang sedikit tajam, "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa selama aku pergi sudah ada yang membuatmu tertarik?"
Tertarik?
Aku tertarik dengan Jeonghan? Seungcheol membatin sengit penuh sinisme. Ya, ia tidak pernah berpikir kalau ia tertarik, apalagi menyukai Jeonghan. Memikirkan pemuda itu hanya membuatnya sakit kepala akhir-akhir ini. Tidak ada gunanya tertarik pada Jeonghan. Sama sekali tidak ada.
"Seungcheol?"
Tapi Seungcheol jauh lebih tidak tertarik pada Doyoon.
"Mungkin." Jawaban itu lolos begitu saja dari bibir Seungcheol. Jawaban yang masih abstrak untuk dijabarkan. Doyoon menggigit bagian dalam bibirnya. Mungkin bisa dijabarkan dalam banyak hal, bisa iya, bisa tidak. Tapi, sekali lagi Doyoon merasa hatinya ditinju hingga terasa begitu kelu. Ia menyentuh lengan Seungcheol.
"Tepikan mobil ini sebentar." Ujarnya.
Seungcheol menurut, menepikan mobilnya di dekat area taman kota yang memperbolehkan kendaraan parkir. Ia baru saja ingin bertanya pada Doyoon kenapa mereka harus menepi saat Doyoon menarik lengannya mendekat.
Bibir mereka bersentuhan, tidak lebih dari sedetik. Seungcheol hanya bisa melihat wajah yang tersenyum dengan bibir yang bergetar.
"Tapi aku mencintaimu…"
Seungcheol membulatkan mata, siluet Jeonghan pada pertemuan terakhir mereka seenaknya menyeruak keluar dari memori. Doyoon melepaskan lengan Seungcheol lalu menundukkan kepala.
"Aku akan turun disini saja, terima kasih sudah menemaniku untuk hari ini."
.
.
Jeonghan berpamitan pada Jisoo di halte bus, selepas dari gedung bioskop Jeonghan ternyata meminta untuk langsung pulang. Jisoo hanya menurut, memikirkan perasaan Jeonghan yang pasti langsung tidak enak. Jisoo bukannya tidak tahu masalah yang terjadi antara Jeonghan dan Seungcheol.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Jisoo.
Jeonghan mengangguk, "Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk hari ini, Jisoo."
Jisoo tersenyum kalem, "Apapun untukmu." Ujarnya lembut, "Aku harap senyumanmu yang tulus itu bisa segera kembali. Aku merindukannya."
Jeonghan mengulum bibir, tapi tidak tersenyum. Ia membungkuk formal pada Jisoo yang membuat Jisoo tertawa, selagi Jeonghan membungkuk, Jisoo mengelus rambutnya.
"Take care of yourself, I still wait for you."
Jisoo berbalik badan dan berjalan menjauh. Jeonghan masih di tempat semula, menyentuh rambutnya yang baru saja disentuh Jisoo.
Sentuhan Jisoo begitu hangat dan lembut. Keberadaan Jisoo benar-benar membuatnya tenang. Sentuhan itu jauh berbeda dengan sentuhan Seungcheol yang dingin dan sedikit kasar, tapi mampu membuatnya merasa aman.
Jeonghan menyukai sesuatu yang lembut, tapi ia terikat dengan yang kasar.
"Apa yang sudah kupikirkan?" bisiknya lirih, memilih untuk segera meninggalkan halte bus dan istirahat di rumah. Jeonghan masih belum melupakan kebiasaannya di saat hari libur, baginya berbaring-makan-tidur masih adalah surga di hari yang tidak dipenuhi jadwal kuliah. Dan omong-omong masalah kuliah, ia baru saja ingat bahwa ia belum membayar iuran untuk bulan ini. Dulunya ia sempat bekerja sambilan sebagai pegawai minimarket 24 jam dan mengambil shift malam. Tapi sejak Seungcheol muncul secara sembarangan di hidupnya, ia tidak diperbolehkan untuk kerja sambilan lagi.
Lalu Jeonghan baru sadar, kenapa selama ini ia begitu mudahnya menuruti apa saja yang dikatakan Seungcheol. Yang benar saja, dia sebodoh apa selama ini? Bahkan sejak awal Seungcheol sudah memonopoli dirinya. Seungcheol melarangnya ini dan itu, tapi Seungcheol bukanlah siapa-siapanya. Selama ini hubungan mereka lebih banyak menguntungkan Seungcheol—dalam masalah perasaan, Jeonghan merasa ia seperti pengemis, bukan pengemis cinta. Hanya saja ia merasa Seungcheol selalu membayarnya untuk apa saja yang ia lakukan.
Yang benar saja. Jeonghan tertawa miris dalam hatinya.
Dia tidak ingin dibayar, hanya ingin dibalas dengan perasaan yang sama—meski rasanya mustahil.
Jeonghan memasuki flatnya, baru saja ia ingin kembali menutup pintu, sisi pegangan pintu yang lain ditahan. Jeonghan terkejut melihat Seungcheol yang ternyata menahan sisi pintu yang lain.
"Mau apa kau kesini lagi?"
Seungcheol masuk ke dalam flat, memindahkan tangan Jeonghan dari pegangan pintu dan mendorong pintu itu dengan kakinya. Ia berjalan maju mendorong Jeonghan hingga punggung pemuda dengan rambut kuncir membentur dinding.
Seungcheol tidak memberikan kesempatan Jeonghan untuk bicara. Ia membenturkan bibirnya di bibir Jeonghan dan memberikan lumatan cepat dan kasar. Jeonghan berusaha menghindar dengan mengalihkan wajahnya ke samping, tapi Seungcheol menahan dagunya dan membuat mereka berhadapan kembali. Bibir Jeonghan digigit dan Jeonghan memukul kuat bahu Seungcheol—minta dilepaskan. Percuma saja, lumatannya makin kasar, menyakitkan.
Jeonghan tidak lagi sabar, tinjunya melayang ke pipi kiri Seungcheol dan itu berhasil membuat Seungcheol mundur. Pemuda itu memekik sakit sambil memegangi pipinya sementara Jeonghan menggosok kasar bibirnya yang berdarah. Ia ingin memukul Seungcheol sekali lagi karena rasa kesal yang begitu hebat, tapi reflek Seungcheol masih terlalu bagus. Kepalan tangan Jeonghan ditangkap dan ia kembali dicium.
Jeonghan menutup matanya kuat-kuat. Meskipun ia tidak membalas ciuman Seungcheol, sendi kakinya mendadak selemas agar-agar. Tangannya berpegangan pada lengan Seungcheol dan lama-kelamaan ia terseret dalam permainan ciuman yang Seungcheol ciptakan. Jeonghan membuka mulutnya tanpa keberatan saat lidah Seungcheol menyelip di belahan bibirnya. Ia menyerah, Jeonghan dicium habis-habisan.
Seungcheol mengaitkan lidah mereka berdua ketika ia menarik bibir sesaat hingga tautan lidah itu terlihat. Jeonghan membuka matanya dan mereka saling bertatapan di sepanjang sisa waktu ciuman panas mereka.
Jeonghan terengah dan menutup matanya saat Seungcheol masih menghadiahi seluruh wajahnya dengan kecupan-kecupan lembut yang cepat. Ia tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Seungcheol hingga tiba-tiba menjadi seperti ini. Bibirnya terasa panas seperti terbakar dan sudut bibir bawahnya sedikit lecet.
Ini tidak benar.
Ini benar.
Ini tidak benar, tidak, ini benar.
—ini benar?
Denialisasi tidak pernah berbuah realisasi. Jeonghan tahu persis hal itu. Ia selalu menolak Seungcheol dengan segala pemikiran di hatinya sejak hari dimana ia tahu Seungcheol tidak akan pernah mengatakan cinta padanya. Tapi, ketika Seungcheol datang padanya ia tahu ia tidak punya kuasa untuk menolak pemuda itu.
"Jangan pernah bersama Jisoo lagi, jangan pernah membuatku segelisah ini lagi." Seungcheol menangkup kedua pipinya dan memaksanya untuk menatap mata pemuda itu, "Kau dengar aku, Yoon Jeonghan?"
Seungcheol menunggu jawaban, tapi yang ia terima hanyalah senyuman milik Jeonghan.
"Memangnya kenapa?"
Seungcheol hanya tidak bisa percaya nada sedingin itu dihasilkan dari pita suara Jeonghan.
"Memangnya kenapa?!" Jeonghan mendorong Seungcheol dengan kuat hingga pemuda itu nyaris oleng ke belakang, "Memangnya kenapa jika aku bersikap baik pada orang yang sudah mengatakan bahwa ia mencintaiku?! Memangnya kenapa?!"
Seungcheol terkejut untuk yang kedua kalinya, "Dia mengatakan dia mencintaimu?"
"Ya." Jeonghan tersenyum, "Lalu apa salahnya jika aku memberinya kesempatan untuk membuatku menghapus keberadaanmu? Sialan Choi Seungcheol, asal kau tahu, sampai sekarang aku masih memelihara perasaan cinta untuk orang yang sama sekali tidak membutuhkannya. Kemudian aku berpikir, aku tidak mau jatuh cinta secara sia-sia dan memilih untuk berusaha memberikannya pada orang yang membutuhkan hal itu. Yang jelas, itu bukanlah dirimu."
Seungcheol bisa merasakan emosi yang meletup-letup dalam tiap sel darahnya. Ia meraih pergelangan tangan kiri Jeonghan yang dilingkari gelang pemberiannya dengan kasar, Seungcheol membuka mulutnya—mengucapkan sesuatu.
"Aku—"
—mencintaimu!
Seungcheol terkejut dengan dirinya sendiri. Kenapa suaranya tidak keluar?
Jeonghan masih menatapnya dengan tatapan menantang, "Kau apa?"
"Aku—"
—xxxxxxxx-mu!
Seungcheol bahkan sudah tidak bisa lagi mengingat apa yang ingin ia katakan.
"Choi Seungcheol!" Jeonghan mulai berontak. Seungcheol panik dengan dirinya sendiri yang tidak menemukan kata apa yang sebelumnya ingin ia katakan. Ia terlalu marah dengan hal itu lalu menarik gelang kayu yang disambung dengan tali benang itu hingga putus dan lepas dari pergelangan tangan Jeonghan. Seungcheol mendapatkan kembali suaranya.
"Aku membencimu!"
Jarum jam dinding di flat Jeonghan mendadak berbunyi cukup keras diantara mereka sekarang.
Jeonghan terdiam dengan mata yang menyipit, menahan hasrat ingin menangis. Ia mengelus pergelangan tangan kirinya yang memerah hebat. Rasanya sakit. Tapi tentu saja tidak sesakit hatinya.
Seungcheol tahu ia sudah mengatakan kalimat yang tertahan, tapi entah kenapa ia merasa ia sama sekali tidak benar. Bahkan kata-kata itu sendiri telah menyakiti hatinya.
Jeonghan mendorong Seungcheol lagi lalu membuka pintu keluar flatnya, ia kembali mendorong Seungcheol yang bahkan tidak melakukan perlawanan apa-apa. Pintu dibanting tertutup kembali dan Jeonghan menguncinya.
Seungcheol berbalik, ingin masuk, tapi juga tidak ingin. Ia nyaris mengetuk pintu itu lagi, entah karena motif apa ia terdorong untuk minta maaf. Tapi, Choi Seungcheol tetaplah Choi Seungcheol, orang yang punya gengsi tingkat setan. Pada akhirnya Seungcheol memilih untuk pergi lagi.
Di dalam flat, Jeonghan berjongkok memunguti manik-manik gelang kayu yang sudah diputus Seungcheol. Jumlahnya tidak lagi lengkap, entah beberapa menggelinding kemana. Jeonghan menggenggam yang dapat ia temukan dengan erat, mendekapnya di dada. Kemudian ia menangis lagi.
Aku membencimu!
Apa Seungcheol kemari dan menciumnya seperti orang gila hanya untuk hal ini? Hanya untuk mengatakan kebencian? Jeonghan tidak lagi bisa bertahan jika terus seperti ini. Perasaannya memang sama sekali tidak dihargai.
Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang sepertinya? Atau memang perasaanku ini tidak sepantasnya ada?
"—Seungcheol…"
—kenapa?
.
.
Ponselnya bergetar berisik. Seungcheol berusaha membuka matanya, tapi kepalanya langsung berdenyut sakit saat retina matanya menangkap cahaya—lagi-lagi efek hangover dari mabuk semalam. Seungcheol membuka sedikit matanya hanya untuk mengetahui dimana letak tombol sentuh untuk mengangkat telepon.
"Halo?"
Seungcheol mendadak langsung duduk karena terkejut, tapi kemudian langsung memegangi kepalanya ketika rasa sakit mendera lagi.
"Doyoon sudah pulang ke Jepang semalam?" nada bertanya lebih seperti denial, "Kenapa dia tidak memberitahuku?"
Rupanya itu adalah ibunya—Nyonya Choi. Seungcheol mendengarkan alasan yang diberikan ibunya dan akhirnya mendengus mengerti. Doyoon berhasil lolos casting film dan mereka akan memulai untuk pengambilan adegan lusa.
Pantas saja kemarin Doyoon mengajaknya keluar lagi, rupanya menghabiskan waktu terakhir. Seungcheol bukannya tidak tahu kalau Doyoon menyukainya, hanya saja ia tidak tahu pertanyaan-pertanyaan menuntut dari Doyoon kemarin adalah untuk menjawab rasa penasaran pemuda itu selama ini.
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku, Bu."
Telepon ditutup, Seungcheol baru sadar kalau semalaman ia tertidur—atau mungkin pingsan karena terlalu mabuk—di belakang pintu apartemennya. Ia merangkak pelan beberapa kali sebelum akhir mencoba berdiri dan berjalan menuju dapur untuk minum.
Biasanya ia mencium aroma roti yang dipanggang Jeonghan untuk membuatnya cepat tersadar.
Tapi, ini di apartemennya. Mana mungkin ada Jeonghan.
Seungcheol masuk ke kamarnya untuk memilih setelan pakaian hari ini. Ia harus berkali-kali mengingat tempat dimana ia meletakkan kemeja dan celana—biasanya Jeonghan yang mencarikan pakaiannya jika ia tidak bisa menemukan. Dan tiba-tiba Seungcheol sadar bahwa ia sendiri lebih mengetahui duduk letak flat Jeonghan dibandingkan apartemennya sendiri.
Melihat bedcover-nya mengingatkan saat terakhir ia muntah di apartemen Jeonghan. Lalu mengingatkannya pada susu, roti bakar, Jeonghan yang selalu memandanginya dengan tatapan sebal di pagi hari, kegiatan apa saja yang pernah mereka lakukan di atas ranjang, gelang.
Seungcheol menggeram, melemparkan gelas yang masih berisi air ke atas tempat tidurnya. Seungcheol berteriak marah, meninju cermin hingga buku-buku jari dan punggung tangannya terasa perih, beberapa pecahan kaca menusuk tangannya. Seungcheol menatap pantulan wajahnya di cermin yang pecah, menatap tajam.
Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan? Apa yang sedang ia cari? Apa yang hilang darinya? Setengah hatinya merasa begitu kurang, seperti kosong. Apa yang ingin dilakukannya?
Seungcheol menarik tangannya kembali, ia menggenggam secuil pecahan kaca dan menggenggamnya semakin erat. Perasaan kesal memenuhi dirinya, meluap-luap hingga ingin marah kepada apa saja, termasuk dirinya sendiri.
Tangan kanannya perih, luar dan dalam. Sejurus kemudian ia membenturkan kepalanya ke meja.
Sadarlah! Sadarlah! Sadarlah!
.
.
"Seungcheol tidak masuk?"
Jisoo mengangguk menanggapi pertanyaan Jeonghan. "Sudah dua hari ia demam, aku tidak tahu apakah hari ini ia akan masuk atau tidak. Bibi sudah kesana untuk merawatnya, tapi dia menolak. Katanya ia bisa mengurus dirinya sendiri."
Jeonghan mencibir dalam hati. Jangankan mengurus diri sendiri, memanggang roti di mesin pemanggang saja Seungcheol tidak bisa. Apalagi saat dalam keadaan sakit. Pemuda itu bisa apa?
"Kau sudah menjenguknya?" Jeonghan bertanya pada Jisoo.
Jisoo tertawa kalem, "Dia tidak mau dijenguk oleh ibunya, apalagi aku."
Jeonghan berdeham, ketahuan ia khawatir pada Seungcheol.
Jisoo menoleh pada Jeonghan, "Oh iya, setelah ini apakah kau bisa menemaniku mencari buku klasik Korea untuk preferensi sastra lokal? Kita cari di perpustakaan kampus saja."
Jeonghan sama sekali tidak keberatan, "Tentu saja. Kau mau mencari buku apa?"
"Apa saja bisa. Yang penting buku sastra klasik lokal. Kau tahu kan, aku masih belum lama pindah kemari." Jisoo menjawab sambil tertawa, "Oke, bisa sekarang?"
"Oke." Jeonghan kembali memakai tas selempangnya. Bangkit dari duduk dan berjalan beriringan dengan Jisoo.
Di sisi lain, Seungcheol ternyata sudah masuk kuliah meskipun telapak tangan kanannya masih dibalut gips. Ia hanya mengikuti jalannya mata kuliah dengan mendengar dan memperhatikan. Begitu jam kuliahnya habis, ia berusaha membuang segala gengsinya untuk menemui Jeonghan. Ia benar-benar ingin meminta maaf, tidak peduli apapun yang akan dilakukan Jeonghan sebagai respon. Ia terima saja. Ia hanya ingin membuang segala rasa bersalahnya.
"Aku melihatnya bersama Jisoo-hyung." Soonyoung menjawab saat Seungcheol bertanya padanya, "Oh, tanganmu kenapa, hyung?" Soonyoung bertanya..
Seungcheol tidak menjawab pertanyaan Soonyoung, "Apa kau melihat kemana mereka pergi?"
Soonyoung menggeleng, "Aku tidak tahu."
Seungcheol meninggalkan Soonyoung. Menggigit bibirnya dengan kesal. Dimana Jeonghan? Kenapa ia harus bersama Jisoo lagi? Dan kenapa Jisoo selalu ada?
"Tapi, kalau ia menyukaiku ya aku tidak bisa menolak."
Tiba-tiba Seungcheol mengingat percakapan terakhirnya dengan Jisoo saat ia menyerahkan buku Shakespeare versi asli di perpustakaan kampus. Saat itu Jeonghan juga ada disana. Memang kemungkinannya kecil, tapi, Seungcheol merasa ia perlu mencoba untuk mencari Jeonghan ke sana.
.
.
"Apa buku ini cocok?"
Jeonghan mengangkat buku kumpulan Hyangga. Jisoo meraih buku yang memiliki ketebalan medium itu setelah mengatakan, "Boleh juga."
Jisoo datang mendekati Jeonghan, namun ia tidak langsung mengambil buku di tangan Jeonghan. Pemuda berambut karamel malah memeluk Jeonghan dengan erat, membuat Jeonghan bingung dan juga kaget.
"Ji-Jisoo?"
"Jeonghan, sudah kukatakan padamu, bagi Seungcheol kau hanyalah sebuah alat."
Jeonghan masih belum berhenti terkejut saat Jisoo kembali mengungkit masalah Seungcheol. "Apa—?"
"Semua perhatiannya, sikapnya yang terkadang manis hanyalah untuk membuatmu bergerak untuknya." Jisoo menyentuh kedua pipi Jeonghan dan mempertemukan dahi mereka berdua, "Jadi kenapa?"
Buku di tangan Jeonghan jatuh begitu saja di lantai perpustakaan. Lagi-lagi Jeonghan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jisoo.
"Jisoo?"
Jisoo memeluk Jeonghan lagi, sama erat dengan yang sebelumnya. Pemuda dengan helai sewarna karamel bicara lagi.
"Jadi kenapa kau masih belum bisa mengalihkan pandanganmu kepadaku?"
.
.
Perpustakaan kampus tidak biasanya sesepi ini. Choi Seungcheol—meskipun bukan penggemar buku seperti Jisoo—tahu persis keadaan universitas yang dikelola Ayahnya sejak dua puluh tahun lalu. Seungcheol berjalan masuk menuju rak buku sastra klasik, karena jika Jisoo, Seungcheol tahu persis apa yang jadi bahan obsesi sepupunya itu sejak tinggal di Amerika.
Seungcheol mendengar suara buku yang terjatuh, ia segera mendekat dan melirik di balik koridor. Matanya melebar, memang ada Jisoo dan Jeonghan disana.
"Jisoo?"
Mereka berpelukan—tidak, Jisoo yang memeluk Jeonghan. Tapi, tetap saja mereka berpelukan. Seungcheol tanpa alasan yang jelas kembali merasa marah.
Bagiku kau hanyalah alat. Jangan pernah menanyakan hal yang sama lagi karena sampai kapanpun jawabanku tidak akan berubah.
Seungcheol mendadak pusing, ingatannya memutar kembali saat-saat dimana ia dengan kejamnya menolak Jeonghan. Ini tidak benar, ia tidak seharusnya ada disini.
Seungcheol diam-diam berbalik. Tangannya mengepal menahan amarah. Yoon Jeonghan bukanlah miliknya lagi. Lagipula, ia yang sudah menyia-nyiakan pemuda itu. Ia tidak memiliki alasan sedikitpun untuk merasa sakit hati.
Jeonghan hanyalah sesorang yang menjadi alat untuk menyenangkannya. Pemuda itu hanyalah alat baginya. Jeonghan bukan siapa-siapanya. Jeonghan tidak berarti. Jeonghan pergi pun ia tidak akan mendapatkan kerugian apa-apa. Jeonghan. Jeonghan. Jeonghan.
Jeonghan.
Kenapa Seungcheol merasa seperti kehilangan sesuatu?
Ia kehilangan Jeonghan.
Tidak. Itu salah.
Jeonghan mencintainya.
Aku mencintainya.
Tidak. Tidak. Tidak. Ini salah.
Seungcheol bersandar di dinding koridor kampus yang sepi. Kepalanya sakit luar biasa. Otaknya seperti baru saja digunakan untuk berpikir keras. Seungcheol merosot, tidak mampu berdiri terlalu lama. Demamnya memang belum sembuh benar, tapi ia tidak menduga demamnya akan kembali naik sekarang.
Hanya Jeonghan yang mencintai aku. Aku tidak mencintainya.
Aku tidak mencintainya.
Aku mencintainya.
Tidak, salah. Ini salah.
Aku mencintainya.
Aku menxxxxxinya.
Aku xxxxxxxxxnya.
Aku xxxxxxxxxnya.
Seungcheol tidak lagi ingat apa yang sedang ia pikirkan.
.
.
"Aku tahu. Aku tahu persis akan hal itu."
Jeonghan bicara lirih, melepaskan pelukan Jisoo, "Aku tahu aku tidak dicintai, hati Seungcheol tidak pernah ada untukku." pemuda dengan rambut dikuncir selangkah menjauhi Jisoo, "Pemikiranku mungkin bodoh. Tapi, aku tidak pernah merasakan kepalsuan dalam setiap sikapnya. Aku tidak pernah merasakan bahwa sentuhannya adalah kebohongan."
Jeonghan mendongakkan kepalanya untuk mencegah air di pelupuk matanya turun, lalu ia menarik nafas. Gagal. Air matanya tetap turun.
"Jika aku boleh jujur, aku lelah. Tapi, tidak peduli seberapapun sakitnya, aku hanya ingin tetap berada disampingnya."
Jisoo menunjukkan wajah terkejutnya, tapi kemudian ia tersenyum memaklumi. Rasa kecewa didalam hatinya tidak bisa ditutupi. Tapi, ia tahu ia tidak bisa memaksa Jeonghan.
"Maafkan aku, Jisoo. Maafkan aku."
Jeonghan membungkuk sekali padanya lalu melangkahkan kakinya dengan cepat untuk keluar dari area perpustakaan. Jisoo masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian Jisoo berjongkok untuk mengambil buku yang sebelumnya dijatuhkan Jeonghan. Jisoo tertawa pelan dan mengusap wajahnya dengan gusar. Ia bergumam lirih.
"Sebenarnya sekuat apa benang merah yang menghubungkan kalian berdua?"
.
.
Jeonghan yang tengah berjalan menuju halaman kampus terkejut begitu melihat ada seseorang yang terduduk di koridor kampus. Ia menyentuh bahu orang itu dan betapa terkejutnya saat tahu bahwa orang itu adalah Seungcheol.
"Seungcheol, kau kenapa?" Jeonghan menyentuhnya dengan hati-hati, dan dengan gerakan lemah dari kepala Seungcheol, Jeonghan tahu bahwa pemuda itu masih sadar.
"Astaga, demammu parah sekali. Apa kau bisa berdiri?" Jeonghan benar benar terlihat panik. Ia ingin memapah Seungcheol, tapi Seungcheol menahan tangannya.
"Maafkan aku..." bisiknya lirih, "Maafkan aku, Yoon Jeonghan..."
Jeonghan menangkup pipi Seungcheol, "Aku memaafkanmu, aku selalu memaafkanmu."
Seungcheol gemetaran, panasnya sudah mulai membuatnya fokus-tak fokus. Ia menyentuh rambut Jeonghan dan membawa Jeonghan mendekat padanya. Jeonghan bisa merasakan panasnya nafas Seungcheol dan itu sejujurnya sedikit membuatnya panik.
"Aku me—"
-aku mencintaimu.
Jeonghan mendekatkan telinganya, "Ya?"
"Aku—"
—aku menxxxxxxmu.
Jeonghan semakin bingung, "Kau mau bicara apa?"
Seungcheol menatap Jeonghan, entah kenapa semakin ia menyadari bahwa ia mencintai Jeonghan, kata cinta itu semakin mengabur. Seungcheol tidak bisa mengingatnya. Seungcheol tidak bisa mengatakannya.
Aku—
"—tidak bisa mengatakannya..."
.
.
-fin
.
.
Special thanks to: my laptop, my cellphone, my playlist (isinya Cuma 4 lagu, one of repetition miku ver, one of repetition rin ver, one of repetition seewoo ver yang sumpah logat koreanya senga bener /?/ ama g-dragon that xx japan ver.), and for;
luhbricant: ini siapa sih? Ayo kita ngomong baik-baik ahaha. Perebutan mama jungan dimenangkan babah sekop btw…
yongjun: dek yongjun aku fansmu nih! /g/ seneng bgt tau kamu review disini wkwk. Thanks for ur review, masih belajar mah saya masalah bahasa dek. Jangan baperrr wkwk, udah dilanjut nih
guest[1]: udah lanjutnih, nado saranghae wkwk
seunghannim: iyep ini udah tamat kok, makasihhhhh. Mama jungan saya aja yang meluk pokoknya /nak
Naega Hoshi: dia kan emang kurang ajar… kurang… abis ini langsung liat aegyo babah ya biar kurang ajarnya ilang /? Ga jatuh cinta ama diriku juga nih? Wkwk
ziyu: iya nih, yang bikin author newbie pula /emot ketawa nangis/ josshu udah ditolaq mama jungan, maafkan saya : (
Dims: mama jungan mah strong. Yep, udah lanjut nihh
95: kalau saya pergolakan batin karena makin kesini ternyata saya malah ngeship jihan….
Calum'sNoona: ternyata sekopnya malah ga bisa bilang cinta, amnesia mulu, saya lupa nyuruh dia banyak-banyak denger lagunya D'Bagind*as biar bisa ngeja cinta dengan baik dan benar. Iya, dd wugel ga masuk nun, maapkeun /emot ketawa nangis/
arejelquin: jangan bilang anak rp svt juga /g/ tapi mama tetep ama babah itu, mas josshu udah buat sy /gg/ iya, soalnya saya ga fokus ke itunya sih…kalau sy bikin eksplisit ama anunya bisa 10k+ itu satu chapter…anuannya doang yang panjang…
GameSML: doyoon ga diakui hiks /nda/ anuin aja babah sekop, saya rela : ) /g
Fanxingege: sekopnya pura-pura ga nyesel dan gengsinya lebih tinggi dari gunung Everest… untung mama masih milih dia /?
Kyuminjoong: saya ga tanggung jawab ya /kasih sandal berduri/ biar tega tapi aslinya… aslinya apa ya…
Guest[2]: azzzzzZZZZ maunya saya itu, tapi lebih ngefeel kalau kisahnya begini /ditaboqz
vjane5048: mama sepertinya tidak akan membiarkannya dibacok…
divi: udah lanjut!
regnogsky: now I wonder how's ur reaction towards this chappie…
LulluBee: maap ya udah bikin mamah menderita disini hiks /authornya maso/
jaehwart: IH JADI BANYAK ANAK RP IH, INI SIAPA NGAKU AMA SAYA /? Jangan baper ya rpnya mama jungan /? Udah lanjut, hpnya jan dilempar lagi…
kim dhan: doyoon mah jadi pihak yang terluka juga, da doyoon mah apa atuh : (
driccha: ff seventeen banyak kok /? Udah lanjut nih ya
Renka788: sayangnya… jihan ga terealisasi /nangis
kkwwzz: ini emejing, saya malah dikasih ucapan elepyu gegara bikin baper /? temenkuu, ayo kita saling memapah dan bercengkerama betapa sakit tapi enaknya kepleset di dunia 13 cowok itu : ))
N: arigatou, kisa-san! Kenapa saya melakukan ini? Aku… aku xxxxxx /ikutan seungcheol/
Shafa Putri: arigatou, gomawo! Ini sad ending bukan? /g
unicornajol: nah, menurutmu sendiri jisoo jahat ga? : ))
guest[3]: UDAH LANJUT BRO! /?
vchim: udah lanjut ya.
Done buat fic ini, saya juga ucapin makasih buat yang fave, follow, ataupun Cuma read doang, makasih banyak! Saya seneng ff debut saya di fandom svt bisa diterima : ))
Tamban, 10 November 2015
darkestlake
