"K A T á R A"

-Chaptered story of AKAKURO-

A fanfiction © Luca-Cronis

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadoshi

Warning : YAOI, Romance, Mitologi Yunani, AU, OOC, Typo, Fluff, smut, drama. (PEDO)

.

.

.

-Ichiro , Nýchta-


Ini adalah kisah yang paling sering diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya. Kadang sebagai dongeng pengantar tidur, ada pula para orang tua yang menggunakan cerita ini untuk menakuti anak-anak yang nakal. Sebuah kisah romansa yang begitu melegenda, antara cinta, kekuasaan, kekejaman, keegoisan dan kutukan. Cerita fiktif belaka atau memang ada terjadinya, tidak ada yang tau kebenaran mutlaknya. Kisah yang membentang dari dunia paling paling bawah hingga singgasana langit. Alam semesta ikut serta sebagai saksi bisu.

Pada zaman dahulu kala, dimana alam semesta tidak hanya dihidupi makhluk bernama Erebos dan istrinya Niks yang merupakan sang penguasa diatas penguasa, ia mengusai langit malam dan kegelapannya. Ia adalah penentu kesakitan, kesengsaraan dan kematian. Para manusia sering menyebutnya penguasa alam bawah (Neraka). Tetapi ketika malam mulai membentang, mereka akan berada di alam atas. Melingkupi seluruh semesta dengan kegelapannya. Singgasana yang tiada batas.

Pasangan penguasa memiliki seorang putra yang akan mewarisi seluruh kekusaan mereka. Anak yang sangat misterius seperti ibunya, sejarah hanya menyebutkan panggilan Sang ibu terhadapnya, Ichiro. Ichiro hidup dengan segala tahta, dengan segala perintah mutlak yang akan selalu dituruti. Kehendaknya adalah kuasa.

Kekuasaan kegelapan dan indahnya malam adalah kekurangan yang tidak akan pernah tercapai oleh negeri Olimpus.

Disisi lain kehidupan semesta, ada sebuah negeri yang disebut Olimpus. Mereka menyebutnya, tanah surga. Tempat tinggal para dewa dan dewi. Zeus adalah penguasanya, dewa dari segala dewa. Digambarkan dengan tombak petir yang menggelegar. Siap menghakimi siapapun yang hendak menolak titahnya. Zeus beristrikan Hera, dewi dari segala dewi. Dari banyaknya anak mereka, diceritakanlah yang paling bungsu diantaranya. Seorang putra yang kecantikkannya membuat Aprodite yang dinobatkan sebagai dewi tercantikpun menjadi iri hati. Dia adalah Nýchta.

Tanah Olimpus yang subur bak membuat sebuah ejekan untuk negeri malam Sang Erebos.

.

.

.

"Ne, Akashi-kun suka sekali sepertinya dengan buku itu."

Heterochome Akashi memindahkan objek penglihatannya pada sosok bak malaikat jatuh yang sudah berdiri disamping tempat yang ia duduki. Matanya menelisir, mencoba menerawang (kalau bisa) penghadang yang bernama pakaian.

"Tentu saja, Tetsuya." Balas Akashi. Iris matanya kini menubruk samudra indah milik Sang guru. Seketika Tetsuya memalingkan wajahnya. Seperti ada perasaan aneh yang mengerubungi guru manis tersebut.

"A-ano, bagaimana kalau aku bacakan buku itu untukmu, Akashi-kun?"Alih-alih menatap mata unik bocah, Tetsuya lebih memilih untuk melihat buku berukuran sedang namun cukup tebal yang tengah berada diatas meja mungil Akashi. Buku dengan hard-cover, tampak usang jika kau ingin tahu.

"Aku bisa membacanya sendiri Tetsuya."

"E-eh? Benarkah?" Tetsuya tampak terkejut. Dia menjadi semakin penasaran dengan bocah lima tahun yang satu ini.

"Ya, Tetsuya." Jawab Akashi. Iris beda warna-nya kembali memperhatikan lekuk tubuh gurunya dengan seksama. Tetsuya merasa risih, bocah itu seakan-akan ingin menelanjanginya.

"N-ne, baiklah. Tapi, bisakah kau memanggilku dengan panggilan 'sensei'. Itu akan lebih sopan, Akashi-kun."

Sejujurnya Tetsuya panik,was-was Akashi akan menelannya bulat-bulat (delusi). Tapi kehendak dari lahir ia buta emosi. Hingga butuh 27 tahun untuk sekedar belajar yang namanya tersenyum. Dia belum mempelajari emosi lain yang seharusnya kini ia rasakan.

Tetsuya terus menunggu apa yang akan dilakukan surai merah dihadapannya. Yang Tetsuya lihat, bocah itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, kemudian menatapnya. Mata heterochome-nya mengerling. Meremehkan tepatnya.

"Hmm?" Gumamnya. Akashi seperti menggantung kata-kata. "Apa yang akan kau lakukan jika aku memanggilmu begitu?" Nada suaranya terdengar jahil. Otak cerdas diluar kapasitas manusia miliknya bekerja cepat. Matanya tak main-main mengamati objek dihadapannya.

'Akan lebih baik jika ia telanjang.' Bisik Akashi tanpa suara.

Menunggu dan menunggu reaksi sang guru.

"Aku akan senang, tentu saja. Aku berharap kau bisa seperti anak-anak lainnya."

Akashi menatap jengah sekarang. Delusi kotor tak pantasnya hilang seketika. Ia tak habis pikir kepolosan Tetsuya tak kunjung berubah. Dasar kuudere akut.

"Hey, jangan samakan aku dengan bocah-bocah yang bahkan belum bisa menghapus ingusnya sendiri. Kau mengerti, Tet-su-ya." Ujar Akashi. Jujur saja ia cukup sakit hati jika diperintah, dalam kamus hidupnya hanya ada dua macam peraturan. Jangan membantahku atau oksigen mu ku rampas. Bocah psycopat.

Tetsuya memasang facepalm nya dengan sempurna, bagaimanapun ia adalah guru sebuah kindgarten. Ia ingin marah-jujur saja. Andai ini penjara, bukan sekolah anak-anak yang masih butuh gendongan 'mama'. Bocah yang baru seminggu disini sudah belagu bagai orang dewasa. Dari ucapan menusuk hatinya, sampai gayanya yang minta disembah. Makhluk apa Akashi Seijuurou itu sebenarnya.

"Akashi-kun, bicaralah lebih sopan." Tetsuya berusaha memaklumi sifat Akashi yang menurutnya sudah keterlaluan ini.

"..."

Tak ada jawaban sama sekali dari si anak aneh. Matanya hilang fokus dari wajah porselen Tetsuya. Ia melirik bukunya sekilas, menutupnya. Menampakkan gambar bumi dengan huruf-huruf aneh bercetak tak beraturan.

SRAKK~

Anak surai merah tampak mendorong mundur kursi mungil bewarna merahnya. Dia berdiri, kemudian berjalan lambat melewati Tetsuya dengan membawa buku yang ia baca sedari tadi. Selangkah kini ia ada dibelakang gurunya. Sudut bibir telah ditarik. Dengan jahil, ia menepuk bongkahan empuk sang guru. Cukup keras. Dan bocah itu sudah menghilang sebelum Tetsuya sempat menoleh kebelakang.

'Anak setan!' Batin Tetsuya marah bukan kepalang.

.

.

.

Diceritakan, Nýchta adalah anak kesayangan Zeus dan Hera. Anak yang sangat ceria dan mudah sekali membuat para dewa-dewa dan dewi-dewi untuk memuja keindahannya. Tapi, disisi lain Nýchta mempunyai banyak musuh yang cemburu akan pesonanya. Berbagai macam ancaman yang nyaris meniadakan eksistensinya pun sudah dilakukan. Namun beruntung, Nýchta selalu lolos dari ketiadaan. Zeus dan Hera pun menjadi sangat overprotektif padanya. Nýchta akan selalu dikawal kemanapun ia pergi. Hingga suatu hari, ketika sang Nýchta tengah berjalan-jalan kedalam hutan dinegerinya, jauh kedalam dan menemukan air terjun yang sangat indah. Ia hanya ditemani seorang dayang perempuan. Nýchta berkeinginan untuk membasahi tubuhnya dengan air terjun tersebut, kemudian mandilah ia disana. Sedangkan sang pelayan menunggu dibawah pohon yang agak jauh dari tempat tersebut.

Ketika sang pemuda cantik rupawan itu tengah asyik merendamkan tubuhnya dibawah guyuran air terjun,ia melihat seekor burung elang berwarna hitam tengah bertengger dibatu dekat ia mandi. Nýchta kemudian mendekati hewan itu, menjinakkannya dan mengajaknya bermain. Sejak hari itu, kegiatan tersebut menjadi rutinitas sehari-hari anak Zeus tersebut. Hingga suatu hari, ketika ia tengah asyik mandi dan bermain dengan elang tersebut, Sang elang menunjukkan wujud aslinya. Elang itu berubah menjadi sesosok lelaki dengan ketampanan yang tak pernah dilihat Nýchta dinegerinya Olimpus. Elang itu adalah jelmaan Ichiro, putra satu-satunya Erebos. Saat itu juga Nýchta menyadari jika ia sudah jatuh hati pada pemuda tampan tersebut.

.

.

.

Luca memandang aneh pemuda manis dihadapannya. Pemuda itu tampak sedang dalam mood yang buruk. Bahkan ia meremas botol Akua yang ada digenggamannya. Ya walaupun botol itu tidak reot sama sekali. Lemah. Pikir Luca.

"Ada apa Kuroko-san? Kau terlihat buruk."

Sebagai atasan yang baik dan juga teman, sudah seharusnya Luca sedikit memberi perhatian lebih pada pemuda yang lebih tua darinya itu.

Tetsuya menghela napasnya. Antara ingin bercerita atau tidak. Kalau ia cerita, apa ia akan dicap sebagai guru yang tidak becus terhadap anak didiknya. Kalau tidak cerita, ia tidak menemukan solusi menjinakkan jelmaan setan kecil itu. Tetsuya menghela nafasnya lagi.

"Cerita saja. Mari duduk disana." Ujar Luca. Gadis mungil itu melangkahkan kakinya menuju tempat duduk kecil yang ada di taman bermain Kiseki no Sedai Kindgarten. Tak ragu Tetsuya mengikutinya.

Duduk berhadapan. Sebelum memulai acara curhat-nya, Tetsuya mengedarkan pandangannya keseluruh taman bermain yang terdapat banyak alat-alat bermain anak. Ayunan, pelosotan, rumah kubus dan lainnya. Sepi. Tak ada lagi yang memekakkan telinga, rewel, menarik-narik bajunya atau bahkan menepuk panta-ah coret yang terakhir.

Taman Kanak-Kanak sudah usai dari 2 jam yang lalu. Alex, Furihata dan yang lainpun sudah pulang. Hanya yang tertinggal, Tetsuya dan Luca.

Tetsuya menarik napasnya perlahan, "Apa kau tau hal lain selain 'anak itu' dari Roma, tentangnya?" Tetsuya memandang ragu Luca.

Alis tipis perempuan itu terangkat sebelah, jidatnya sedikit berkerut. Heran.

"Akashi Seijuurou, maksudmu?" Gadis itu memastikan.

"Ya. Kau tau, dia tidak seperti anak-anak seumurannya. Kurasa dia bukan bocah. Mungkin tidak seharusnya ia bersekolah disini. Ah maksudku tidak bersekolah ditingkatan taman kanak-kanak. Bahkan ia bisa membaca rumit yang aku sendiri tidak mengerti." Keluh Tetsuya masih abadi dengan topeng anti emosinya.

Tetsuya menatap Luca agak ragu. Gadis itu terlihat seperti sedang berpikir.

"Hmm, aku tak tau banyak. Yang datang mendaftarkannya kesekolah ini tak ada. Aku hanya menerima dokumen dirinya, surat pindahan dan kemudian telepon dari orang tuanya. Ayahnya Akashi Masaomi dan ibunya Akashi Shiori menetap Perancis. Besok paginya setelah menerima itu semua, Akashi diantar oleh para bodyguard-nya kesekolah ini." Jelas perempuan itu. Ia sepeti mencoba mengingat-ingat.

"Hahhh sudahlah. Mungkin memang dia kelewat ajaib."

.

.

.

Panah Cupid telah terlontarkan, tepat menembus Sang pemuda cantik dan Sang pewaris tahta kegelapan. Mereka jatuh cinta sampai lupa akan daratan. Kedua makhluk itu tidak sadar jika suatu saat hubungan mereka akan memecah belah alam semesta. Dan hari dimana Erebos dan Zeus mendengar berita yang baginya sangat mengerikan itupun terjadi. Keturunan mereka menjalin ikatan 'gila'. Bagi Erebos, adalah aib yang tak termaafkan jika sampai ada keturunannya menapaki negeri Olimpus, apalagi sampai mencintai keturunan Zeus. Erebos benar-benar murka. Ia pun memberi kutukan pada putranya sendiri, Ichiro dibuang kebumi dan tidak akan pernah bisa bersatu dengan Nýchta dalam ikatan yang lama. Sedang sang ibu, Niks yang mendengar kabar itu merasa sangat terluka. Ia tidak ingin menyalahkan Ichiro, bagaimanapun pemuda itu adalah putra satu-satunya. Ia semakin tidak tega mendengar hukuman yang diberikan Erebos pada putranya. Niks pun memberi keringanan untuk putranya, jika Ichiro mati, ia akan terlahir kembali dan begitulah seterusnya.

Tak beda halnya dengan Zeus, petirnya siap menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya. Kabar putra kesayangannya menjalin hubungan dengan putra Erebos adalah kutukan mengerikan baginya. Ia pun memberi hukuman pada Nýchta dengan melemparkannya kebumi, membuat tubuh indah Nýchta menjadi sangat lemah. Sedang Hera mengasihani putranya itu dengan mengambil emosi yang ada dalam tubuh Nýchta. Sehingga tidak ada yang perlu mengetahui apa yang dirasakan putranya itu.

.

.

.

To be continiu...

.

Gomen untuk cerita yang membingungkan ini T^T

Rasanya juga baru chapter awal-awal. Yah begitulah...
Ini cerita akan banyak flashback-flashback-nya. Alur yang tak menentu dan hal-hal membingungkan lainnya.
Apapun yang kutulis disini, itu akan berhubungan satu sama lainnya.

Dan jujur aja, aku sendiri sudah tidak sabar menguak siapa mereka, hubungan mereka, dan kenapa mereka sekarang. Kyaaaaaa gak sabar ngetik adegan 'nganu-nganu' nya #PLAK.

Dan tak lupa cinta kasih untuk sudah membaca dan me-review :D