-Se Na Oh present-
JUST FRIEND
CHAPTER 2 HERE !
It's KAISOO fanfic
Start with KAISOO
End with KAISOO
NO gs! It's YAOI ! It's YAOI ! and always YAOI !
Jika tidak berkenan dengan gendre cerita saya, silahkan tekan tombol 'back' .
Jika berkenan, silahkan menikmati sambil review juseyo~~~
Don't be silent readers please
Review yang diterima adalah review yang membangun dan tidak bersifat kasar
Saya sangat berterimakasih dengan readers yang sudah mau mereview tulisan saya. Terimakasih untuk reviewnya yang membangun, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan pembaca, saya juga akan berusaha mempublish chapter-chapter selanjutnya secepat mungkin.
Tetap tunggu karya-karya saya yang lain readers, neomu kamsahamnieda ^^
Okay, last from me
Happy reading yorobun ^^
.
.
- JUST FRIEND chap. 2-
.
.
"Seseorang, tolong aku. Pikiranku, tubuhku, hatiku, semuanya terasa begitu sakit. Aku sekarat" – Do Kyungsoo
.
.
Mungkin jika Kyungsoo mau, dia bisa mengikuti audisi aktor di Busan, dan dia akan dengan mudah mendapatkan peran tersebut. Ya, itu pun kalau dia mau, akting pria kecil itu bahkan sudah lebih meningkat dari sebelumnya. Sekarang dia sudah benar-benar bisa memasang wajah keduanya dengan cermat, hingga tak ada celah bagi orang lain untuk melihat wajah aslinya, yang dipenuhi mata sembab dan air mata semalam.
Kyungsoo makan dengan tenang siang itu di kantin, sama seperti hari-hari sekolah sebelumnya, Jongin akan menemaninya, duduk satu meja dengannya, lalu mulai berbincang-bincang ringan sambil tertawa atau meledek satu sama lain. Hanya bedanya siang itu Kyungsoo benar-benar makan dalam tenang, tak ada Jongin yang mengajaknya bicara, walaupun dengan jelas Jongin tengah duduk di hadapannya. Jongin terlalu sibuk, terlalu sibuk dengan orang lain di sampingnya, pacar barunya, seorang gadis cantik bernama Jung Krystal.
"Jongin, kau mau ini?"
Krystal bertanya pada kekasihnya dengan nada manis yang menurut Kyungsoo terlalu dibuat-buat, membuat perutnya mulas ketika mendengarnya. Gadis itu tengah menyodorkan potongan melon kepada Jongin. Dalam hati Kyungsoo tertawa, ternyata pacar baru Jongin itu tak tau apa-apa tentang Jongin.
"Maaf Krystal, aku tak suka melon"
Jongin menjawab lembut, sambil menjauhkan wajahnya dari potongan melon yang mulai mendekat ke arahnya. Kyungsoo menyeringai kecil, dia merasa menang, karena dia lebih tau tentang Jongin dibanding pacar Jongin sendiri.
"Tapi kau harus makan. Mulai sekarang, karena kau sudah menjadi pacarku, kau harus membiasakan dirimu makan buah-buahan Jongin-ah, ini bagus untuk kesehatanmu"
Krystal mungkin masuk dalam golongan gadis penuntut, dia tak menerima penolakan apapun dari Jongin.
"Aku bukannya tidak suka buah Krystal-ah, aku hanya tak suka melon. Itu saja"
Jongin menjawab sambil berpaling kembali ke piring makannya, melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat perdebatannya dengan Krystal.
"Aku tak menerima penolakan, kau harus makan"
Krystal kembali mendekatkan garpunya yang telah dia tusukan pada potongan melon, memaksa Jongin memakannya. Dengan cepat Jongin kembali menoleh, pria berkulit tan itu benar-benar tak tahan dengan buah yang satu itu. Baginya, menghirup aroma melon saja sudah membuat perutnya mual.
"Aku bilang, aku tidak mau makan buah itu!"
Teriakan Jongin itu tidak cukup besar hingga membuat seluruh penghuni kantin menoleh padanya, tapi sudah cukup keras untuk membuat Krystal, Kyungsoo dan beberapa siswa yang duduk di meja samping kiri-kanan mereka tersentak kaget, seraya melempar pandangan aneh kepada Jongin yang barusan menjadi pelaku keterkagetan mereka.
"Jong.."
Kyungsoo memanggil sahabatnya itu, sedang yang dipanggil tidak menoleh, hanya memalingkan wajahnya kearah lain, lalu dengan cepat beranjak dari kursinya.
"Jongin!"
Kyungsoo kembali memanggil Jongin, tapi pemuda itu terus melangkahkan kaki jenjangnya menjauh dari kantin tanpa menghiraukan teriakannya.
"Krystal-ah, seperti aku harus menyusul Jongin. Kau tunggulah disini, ne?"
Kyungsoo mengikuti langkah Jongin, beranjak dari kursinya, kemudian meninggalkan kekasih sahabatnya itu. Tanpa Krystal sadari, sebelum beranjak pergi, Kyungsoo tersenyum padanya dengan penuh kemenangan.
Bukan hal sulit bagi seorang Do Kyungsoo untuk menemukan Jongin, bisa dibilang Kyungsoo itu sudah tau Jongin luar-dalam. Bukan, bukan berarti Kyungsoo pernah menelanjangi Jongin. Yah, walau niat seperti itu juga kadang terlintas di pikiran seorang Do Kyungsoo, namun kadar kemesuman pria kecil itu nampaknya belum mencapai tingkatan dewa.
Ini hanya tentang rentang waktu kebersamaan mereka dalam ruang lingkup 'sahabat' yang sudah cukup lama, membuat Kyungsoo seakan bisa membaca pikiran seorang Kim Jongin, seolah-olah dia memiliki semua jawaban jika pertanyaannya adalah mengenai Jongin. Kyungsoo benar-benar tidak perduli jika Jongin tidak sama sepertinya, tidak sama seperti Kyungsoo yang selalu bisa menenangkan Jongin jika ia sedang bersedih, tidak sama seperti Kyungsoo yang akan selalu membuat lelucon aneh hingga Jongin tertawa, walau bukan karena leluconnya, tapi karena Kyungsoo yang kesal dan akhirnya menggelitiki perut Jongin. Kyungsoo tidak perduli jika Jongin sebenarnya tak bisa menemukannya saat hatinya kalut dan gelisah. Namun Kyungsoo, tetaplah seorang Kyungsoo yang memiliki radarnya untuk menemukan Jongin.
"Ah! Disini kau rupanya"
Kyungsoo tersenyum, melangkah mendekati Jongin yang tengah membasuh wajahnya di westafel kamar mandi khusus siswa. Jongin tak merespon, hanya terus mengusap wajahnya dengan air dengan kasar, usapan pada wajahnya terhenti saat Kyungsoo dengan sengaja menutup keran air westafel.
"Aku sedang bicara padamu Jong"
Kyungsoo berhasil menarik perhatian Jongin padanya, membuat pria yang lebih tinggi darinya itu menatapnya kesal, karena Kyungsoo membuatnya menyudahi acara 'mari mencuci muka' nya.
"Aku tidak dalam mood yang baik Kyung"
Jongin berkata datar sambil terus memandang Kyungsoo. Entah karma atau bukan, sekarang giliran Kyungsoo yang terdiam, walau dalam mata Jongin, Kyungsoo hanya sedang balas menatapnya, tapi sebenarnya tidak.
Beberapa helai rambut Jongin yang hitam bergantung basah dengan tetes-tetes air kecil yang jatuh perlahan, wajah eksotisnya yang belum sepenuhnya kering bekas ia basuh tadi terlihat berkilauan ditimpa cahaya kamar mandi. Dan Kyungsoo terpaksa menelan salivanya kasar, ketika setetes air yang jatuh dari rambut Jongin yang basah kemudian turun menuju dahi Jongin, turun lagi menyusuri hidungnya yang proporsional, hingga terhenti pada celah bibir Jongin yang penuh. Tetes air itu menghilang ketika Jongin menggerakkan wajahnya.
"Kyung? Kau kenapa lagi?" Jongin menautkan kedua alisnya bingung.
"Naega? Kenapa? Memangnya aku kenapa Jong?" Kyungsoo mengerjap-rejapkan matanya cepat, berusaha mengambil kembali kesadarannya yang melayang begitu saja oleh pesona seorang Kim Jongin.
"Kenapa malah bertanya balik padaku?" Jongin bertanya lagi. Baginya, terkadang Kyungsoo itu benar-benar sulit dimengerti.
"Aku benar-benar tak apa, Sungguh" Kyungsoo menjawab cepat
Setelahnya, hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Dengan Jongin yang dengan santainya memainkan rol tisu yang entah ia dapat dari mana sambil bersender pada salah satu pintu bilik kamar mandi dan Kyungso terus berkutat bingung dengan pikirannya, karena dia merasa tak punya topik menarik untuk diangkat sebagai obrolan dengan Jongin.
Jujur, setelah kejadian di kantin beberapa saat lalu, Kyungsoo cukup terkejut. Pasalnya, selama ini, selama ia mengenal Jongin dan pria itu berpacaran dengan orang lain, Kyungsoo tak pernah melihat Jongin jadi sekasar itu. Walau sesungguhnya ia cukup senang dengan reaksi Jongin yang marah pada Krystal.
"Kyung! / Jong!"
Jongin terkekeh, baginya bukan hal biasa lagi ketika ia dan Kyungsoo dalam suasana canggung, jika salah satu dari mereka ingin memulai pembicaraan, yang lainnya seakan mendapat signal juga untuk memulai pembicaraan. Hingga akhirnya mereka berakhir dengan berbicara dalam waktu bersamaan.
"Kenapa tertawa?"
Kyungsoo merasa tidak ada yang lucu. Ya, walaupun sebenarnya dia sangat senang melihat ekspresi tertawa Jongin itu. Baginya, Jongin jadi berkali-kali lipat lebih mempesona.
"Aniya, aku hanya berfikir. Kenapa saat dalam keadaan canggung seperti tadi, kita sering sekali berbicara bersamaan. Ya! Apa kau bisa membaca pikiranku Kyung? Lucu sekali"
"Apanya? Memangnya kau kira aku ini dukun apa?"
Kyungsoo menggembungkan pipinya yang tembam, menambah volume pipi itu, rupanya dia pura-pura marah. Jongin yang melihatnya, langsung mendekati Kyungsoo, tak lagi menghiraukan gulungan tisu toilet yang dia mainkan tadi.
"Aigoo! Kau benar-benar seperti anak Tk Kyung"
Jongin tertawa lagi, tangannya kini terulur menyentuh pipi tembam Kyungsoo, mencubitnya gemas.
"Apa-apaan kau ini! Sakit tau! Seenaknya main cubit-cubit"
Kyungsoo menyingkirkan tangan Jongin kasar. Tapi sungguh, dia hanya pura-pura, dia sebenarnya sangat ingin tangan Jongin tetap di pipinya, mencubit pipi itu gemas sambil membelainya. Namun Kyungsoo sadar, ia tak bisa meminta itu secara terang-terangan kepada Jongin.
"Aigoo.. apa kau marah Kyung?"
Jongin masih dalam mode menjahili Kyungsoo, dengan senyum yang tak lepas dari wajah hitam manisnya. Pria tinggi itu sesekali mengusak rambut sahabatnya itu, kemudian tertawa lagi.
"Hentikan Jong, jam istirahat sudah hampir habis. Kita harus kembali ke kelas"
Kyungsoo mengintrupsi Jongin untuk berhenti menjahilinya, dan tak perlu berkata dua kali, Jongin menjauhkan tangannya dari rambut Kyungsoo, menghentikan kegiatan menjahili sahabat mungilnya.
"Kajja! Kita kembali ke kelas"
Kyungsoo membawa tangan mungilnya menuju pergelangan tangan Jongin, bermaksud membawa sahabatnya itu menuju kelas mereka. Namun ketika Kyungsoo hendak melangkah, dia merasakan genggamannya pada pergelangan tangan Jongin mengendur. Jongin melepas genggamannya.
Kyungsoo berbalik, menatap Jongin bingung.
"Kyung, menurutmu, Apa aku harus minta maaf pada Krystal?"
Jongin bertanya padanya dengan suara lirih, sebuah pertanyaan yang Kyungsoo hindari untuk dia dengar sejak awal. Sebuah pertanyaan yang kembali membuka luka dihatinya, membuat rasa perih di dadanya berdenyut-denyut sakit. Sungguh, Kyungsoo tak ingin menjawab pertanyaan itu, atau seandainya tuhan memberinya keberanian untuk berkata pada Jongin agar sehabatnya itu hanya perlu menggenggam tangannya lagi dan mengikutinya ke kelas mereka tanpa perlu menghiraukan Krystal. Andai saja, andai saja Kyungsoo tak sepengecut sekarang.
"Tentu, kau harus minta maaf padanya Jong"
Yang meluncur keluar dari mulutnya malah berkebalikan dengan hatinya. Setelah mendengar jawaban Kyungsoo, raut wajah Jongin berubah menjadi sumringah.
"Terimakasih Kyung. Aku terlalu kasar padanya tadi, Kau kembalilah ke kelas dulu, aku akan menemui Krystal. Aku akan menyusul"
Jongin menepuk bahu sempit Kyungsoo sebelum pergi, kemudian melempar senyum terimakasihnya kepada sang sahabat, dan Kyungsoo mau tak mau membalas senyum itu. Mata bulatnya mengekori langkah Jongin yang terus menjauh, hingga tubuh tingginya menghilang di belokan koridor.
Kyungsoo bersandar pada tembok, memejamkan matanya erat, tangan mungilnya terulur menyentuh dadanya. Disanalah, ia merasakan detak jantungnya berpacu ketika Jongin berada di dekatnya, ketika sahabatnya itu memperlakukannya dengan manis. Disana jugalah, Kyungsoo merasakan sesak yang teramat sangat hingga ia kesulitan bernapas, ketika Jongin tersenyum untuk orang lain, ketika Jongin bersentuhan dengan orang lain, ketika Jongin meninggalkannya untuk sekian kalinya sendirian. Dengan rasa cemburu yang mulai menggerogoti kegigihannya mempertahankan Jongin.
Di koridor yang sepi itu, bel masuk berbunyi nyaring, dan Kyungsoo tetap tak beranjak dari tempatnya, tetap bersandar pada dinding, dengan air mata yang jatuh bebas ke pipinya.
Dia menangis, karena Jongin, lagi.
Sudah hampir setengah jam berlalu sejak bel pulang berbunyi, dan Kyungsoo belum kembali ke kelas. Menyisakan Jongin yang dengan cemas menunggunya sambil membopong ransel Kyungsoo di punggungnya, di samping ranselnya.
"Mau sampai kapan kita menunggunya Jongin-ah?"
Dan sudah hampir setengah jam juga pacar baru Jongin, Jung Krystal itu menggerutu. Mereka sudah berbaikan, dan sebagai permintaan maaf Jongin pada Krystal, dia berjanji membawa gadis itu pergi ke bioskop, mereka berencana berkencan.
"Lebih baik kau letakan saja tasnya, atau taruh saja di atas lokernya, kita tidak bisa menunggu dia lebih lama, aku benar-benar bosan Jongin-ah"
Krystal mendekati Jongin, merangkul lengan Jongin. Jongin yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja, tapi itu bukan berarti dia menikmatinya.
"Aku tak bisa Krystal-ah, bagaimana kalau tasnya hilang?" Dengan perlahan Jongin menarik lengannya menjauh.
"Sekolah ini punya penjaga dan cctv, siapa yang tahu kalau misalnya temanmu itu sudah kabur dari sekolah? Atau mungkin dia sedang bersenang-senang di game center? Atau pergi ke tempat karaoke? Bisa sajakan seorang Do Kyungsoo yang kau anggap baik itu berubah menjadi anak nakal"
Jongin terdiam, dia tak menyahut lagi perkataan Krystal. Baginya celotehan Krystal mengenai sahabatnya itu sudah terlewat batas.
Dengan kasar, dia meletakkan tas Kyungsoo di bangkunya. Membuat Krystal tersentak kaget.
"Jongin-ah, aku tidak bermaksud berkata seperti itu tentang Kyungsoo, aku hanya..."
"Hanya apa?" Dengan cepat Jongin memotong perkataan Krystal
"Bukankah sudah kubilang padamu, jangan pernah berkata yang tidak-tidak tentang Kyungsoo. Dia itu sahabatku" Jongin berkata dengan penuh penekanan.
"Aku tahu! Aku tahu! Lalu, kau pilih siapa Jongin? Aku pacarmu atau Kyungsoo sahabatmu, hah!"
Krystal berteriak di hadapan Jongin, matanya mulai memerah, ada genangan bening yang siap jatuh dari kelopak matanya.
"Jawab aku!"
Krystal kembali berteriak, tangannya memukul dada Jongin. Jongin hanya diam, dengan cepat menarik kedua pergelangan tangan Krystal, membawa gadis itu mendekat ke tubuhnya.
"Maafkan aku" Jongin bergumam. Samar-samar, dia mendengar isak tangis Krystal
"Jangan menangis lagi, kita pergi sekarang"
Jongin menggenggam tangan Krystal, membawa gadis itu keluar dari kelas.
Tanpa ia ketahi, sepasang mata tengah mengekorinya, memantulkan tatapan kekecewaan yang teramat dalam. Kyungsoo berdiri disana, dia menyaksikan semuanya, dia mendengar semuanya. Tadinya, ketika Jongin membela dirinya, ketika Jongin dengan keras kepala masih tetap ingin menungguinya, Kyungsoo merasa dia masih punya harapan untuk memiliki seorang Kim Jongin. Namun pada akhirnya dia sadar, dia hanya bisa berdiri di batasannya sebagai 'sahabat' bukan cinta Jongin, pada akhirnya Jongin melepas ranselnya lalu menggenggam tangan Krystal.
Kyungsoo mengambil ranselnya, memakainya sembarangan lalu berjalan gontai keluar kelas, menyusuri lorong-lorong kelas yang diterpa kilatan senja berwarna jingga, yang mencuri masuk dari sela-sela ventilasi jendela, membuat Kyungsoo bisa melihat bayangannya tubuhnya yang terpantul di dinding. Kyungsoo tertawa, menertawakan dirinya sendiri ketika melihat bayangan tubuhnya yang terlihat begitu kecil dan lemah untuk ukuran laki-laki.
Sambil terus berjalan, sesekali Kyungsoo menghembuskan napas berat. Jongin lah yang membuatnya membolos setelah istirahat, Jongin lah yang membuatnya menangis di atap sekolah sendirian, Jongin lah penyebab semua penderitaan Kyungsoo. Kadang-kadang, Kyungsoo berpikir untuk menghajar Jongin saja sekalian karena membuatnya menderita begini, tapi sekali lagi, seorang Kyungsoo tak akan pernah bisa melakukan itu, dia tak akan bisa menyakiti Jongin, walaupun sahabatnya itu berulang kali menyakitinya.
Kyungsoo memayungi kedua matanya dengan tangan ketika ia berhasil keluar dari gerbang sekolah. Sinar senja di luar ternyata lebih menyengat, belum lagi matanya yang masih terasa perih sisa menangis di atap tadi. Kyungsoo berjalan pelan sambil agak menunduk, tak ada hal penting yang membuatnya ingin cepat pulang kerumah, jadi dia memutuskan menyusuri jalan dengan berjalan kaki, tidak menunggu bus yang biasanya menjadi kendaraannya pulang kerumah, dia berpikir untuk menunggu bus di halte berikutnya.
Sambil terus berjalan, sesekali pria kecil itu mengeratkan blazer sekolahnya, hawa musim gugur cukup menggigit kulitnya. Kyungsoo sedikit menggerutu, sinar senja yang menyengat matanya bahkan tak terasa hangat sama sekali, hanya bisa menyakiti matanya yang bengkak, sama sekali tak membantu, pikir Kyungsoo.
Beberapa meter di depan, Kyugsoo bisa melihat halte selanjutnya. Tapi, bukannya berjalan lurus menuju halte tersebut, pria kecil itu malah melangkahkan kakinya berbelok ke arah lain. Dia ingin mengunjungi suatu tempat dulu, tempat dimana pertama kali seorang Do Kyungsoo bertemu dengan Kim Jongin.
Kyungsoo tidak merasakan pedih lagi pada matanya, dia sudah menyingkirkan tangannya dari tadi. Berlindung dibawah bayangan pohon ek terasa begitu menyenangkan, sudah lama dia tidak merasakan sensasi senyaman ini. Tangan Kyungsoo bergerak membelai batang pohon dengan ukuran besar itu.
"Hai.. Sudah lama tidak bertemu"
Tidak, Kyungsoo tidak berubah jadi orang gila hanya karena dia berusaha mengajak bicara sebatang pohon. Kyungsoo hanya merindukan momen-momen yang dulu dia nikmati dibawah pohon besar yang sudah dia anggap sebagai pelindung itu.
"Kau merindukanku?"
Kyungsoo bertanya lagi, tangannya bergerak memungut salah satu daun si pohon yang terbang terbawa angin, mengamati setiap garis tulang daunnya yang mengering, terlihat berwarna coklat dengan sedikit gradasi kuning cerah.
Kyungsoo tersenyum, ketika mengingat masa-masa itu seakan baru kemarin ia alami. Mereka masih sangat kecil waktu itu, ketika ia bertemu dengan seorang Kim Jongin secara tak sengaja di sini, karena ia tersesat ketika baru pindah dari Jepang. Jongin lah yang menenangkannya ketika ia menangis ketakutan karena tersesat, Jongin lah yang mencarikan alamat rumahnya dan mengantarkan Kyungsoo dengan selamat ke rumahnya.
Waktu-waktu yang ia lalui bersama Jongin tidak akan pernah terasa cukup, jika Jongin pergi maka Kyungsoo akan segera mendapatkan rindu, jika Jongin berpaling darinya maka Kyungsoo akan mendapatkan cemburu, jika Jongin menemukan cinta selain dirinya maka Kyungsoo merasa nyawanya dicabut paksa oleh tuhan. Dia tidak berdaya tanpa Jongin, dia selalu membutuhkan pria tinggi dengan kulit eksotis itu, Jongin adalah candu baginya.
Tapi sekarang, semua yang Kyungsoo takutkan terjadi. Walaupun dulu Jongin pernah berpacaran dengan orang-orang lain, Kyungsoo tak pernah merasa secemas ini, rasa cemas ketika akhirnya Jongin benar-benar jatuh cinta pada Jung Krystal, Kyungsoo merasa pandangan mata Jongin berbeda saat menatap gadis itu, terasa begitu hangat. Tatapan mata yang tak pernah Kyungsoo dapatkan dari Jongin hingga saat ini.
Mata bulat milik Kyungsoo memandang lurus ke depan. Tak ada yang berubah sejak pertama kali dia datang kesini, semuanya tetap sama. Hanya ada pohon ek besar yang dikelilingi padang rumput dan ilalang, pemandangan yang sangat indah menurut Kyungsoo. Pemandangan yang sangat indah jika saja ada Jongin di sisinya, jika saja Jongin tidak sedang berkencan dengan Krystal, jika saja Kyungsoo lebih berani mengungkapkan perasaannya.
Hati Kyungsoo kembali berdesir, tubuhnya terasa disirami kepedihan, dia tak mau berakhir seperti ini, dia ingin Jongin melihatnya, dia ingin Jongin menganggapnya lebih dari seorang sahabat, dia ingin dicintai, Kyungsoo ingin Jongin mencintainya.
"Aku tak bisa terus begini, kenapa aku begitu pengecut"
Kyungsoo menahan tangisnya. Tidak, tidak, dia tidak boleh gagal lagi, dia harus menemui Jongin sekarang, secepat yang ia bisa, lalu berteriak di depan pemuda itu bahwa dia mencintai seorang Kim Jongin. Sebuah ide gila yang begitu saja terlintas dipikirannya, jadi Kyungsoo memutuskan untuk beranjak meninggalkan pohon ek itu, sambil menghapus jejak air matanya kasar.
"Kyung...Kyungsoo"
Kyungsoo rasa dia sudah benar-benar gila, dia berhalusinasi lagi mendengar suara Jongin, suara yang sangat ingin dia dengar sekaligus sangat ia hindari, suara yang begitu mendamaikan sekaligus menyiksanya.
"Aku pasti sudah gila"
Kyungsoo bergumam pada dirinya sendiri, sambil terkekeh pelan.
"Tidak, kau tidak gila Kyung"
Tubuh Kyungsoo reflek bergerak menuju arah asal suara. Dan detik itu juga, Kyungsoo merasa dunia berhenti berputar, serentak dengan jantungnya yang kehilangan irama berdetak, kerongkongannya terasa kering, tubuhnya serasa layu dan mati rasa. Kyungsoo terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat sekarang pasti hanya sekedar khayalan atau ilusinya sendiri karena dia terlalu merindukan sosok ini, terlalu sering memikirkannya, hingga Kyungsoo terus menerus menghayalkannya. Namun, semakin Kyungsoo meyakinkan sosok yang tengah berdiri di depannya adalah semu, sosok itu terasa semakin nyata, semakin mendekat padanya, datang padanya.
"Do Kyungsoo"
Suaranya terdengar lebih berat, seakan ada banyak beban yang ingin dia tumpahkan dalam satu nama yang dia sebut itu.
Disana, dia berdiri dengan pandangan matanya yang tajam tanpa bisa di jelaskan.
Dengan gemetaran Kyungsoo membalas.
"Jong, Kim Jongin..."
.
.
.
TBC
-JUST FRIEND Chap.2 -
To
Knapa kai bgtu lou dia uda tau persaan kyungsoo ma dia?
Kasian kyung
From author
Author percaya kok mereka bakal bahagia bersama *cielah
To dokydo91
Next chap dtunggu thorrr *u* btw ini prnh d post sblmny kah? aku kyk prnh bc tp kayak sih hehe. .
From author
Chap2 is up, silahkan menikmati. Cerita ini belum pernah di publish sebelumnya
To Yecharmin
njot thor
tapi boleh kasih saran kaga? buat yg lebih dramatis(?) lagi. yg buat nangis :v soalnya feel nya aku belum dapat. kalau lanjut yg panjang yep :v
From author
Udah dilanjut nih, sudah lebih panjang juga, semoga suka ya
To Kaisooship
kok nyesek bacanya T.T
kyungsoo keduluan lagi ya..
bikin jongin tau perasaan kyungsoo dong, biarpun jongin straight
From author
Tenang, pelan-pelan Jongin bakalan sadar kok
To parkminoz
menyentuh banget ff nya xD
kasian si d.o sakit hati TTTT
tapi siapa suruh suka sama cowo/? .g
lanjut thor...semangatt ff nya!
From author
Terimakasih, kamu review pertama di ff saya ^^
Saya rasa, fic ini akan saya jadikan 3 chapter atau 4 chapter, ya sekitar itulah, jadi tidak akan selesai begitu panjang. Mungin jika ada diantara para readers pernah membaca fic dengan jalan cerita mirip seperti Just friend, tapi saya berani jamin bahwa saya tidak pernah memplagiat karya orang lain. Saya mohon maaf jika jalan ceritanya pasaran, saya akan berusaha lebih keras lagi.
Akhir kata, Review for chap.3 please
Kamsahamnieda ^^
