CHAPTER 1
Seorang namja dengan poni rambut yang jatuh kedepan menutupi mata kanannya berlari menyusul seorang namja yang tengah berjalan lambat di lapangan parkir Starlight Senior High School.
"Hyung," panggilnya, membuat namja di depannya yang ternyata adalah Ken itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke namdongsaengnya.
"Aku tidak pulang bersama hyung hari ini, aku akan pergi mencari kado bersama Ravi. Tolong mintakan izin kepada eomma juga." Ternyata Hongbin menyusul hyungnya hanya untuk mengatakan itu.
Ken mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya kembali, menuju ke mobilnya dan pergi meninggalkan Hongbin yang tengah berjalan menghampiri Ravi – sang namjachingu.
.
.
.
Ken POV
Sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah aku terus memikirkan namja bernama Jung Taekwoon yang selalu cuek itu, sangat berbeda dengan namja maupun yeoja lain yang selalu heboh kalau aku dan Hongbin lewat. Ya mungkin bisa dimakhlumi karena dia hanya satu peringkat di bawahku yang berarti dia adalah namja tertampan ketiga di sekolah, tapi Ravi yang berstatus namja tertampan keempat pun terkagum-kagum pada kami – atau Hongbin lebih tepatnya. Jika kuingat-ingat lagi dia bahkan tidak pernah memandangku dan Hongbin, saat kami berada di dekatnya ia selalu membuang muka.
Aku sudah sampai di halaman rumah. Segera kuraih ranselku dan turun dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ken," panggil N eomma dari arah kamarnya.
Kuletakkan ranselku di sofa ruang tamu dan segera menuju ke kamar eomma.
"Dimana Hongbin?"
Aku sedikit cemberut ketika eomma menanyakan Hongbin. Selalu begitu, selalu Hongbin yang ditanyakan.
N eomma menarikku agar masuk ke dalam.
Kuperhatikan eommaku semakin cantik saja, walaupun ia juga seorang namja sama sepertiku tapi ia cantik dan kecantikannya itu diturunkannya padaku dan Hongbin, tentu saja.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku sambil mendudukkan diri di sofa berwarna krem yang terletak di bawah jendela.
"Eomma punya kabar baik."
Mataku berbinar ketika mendengar kata 'kabar baik'. "Apa itu eomma?" tanyaku antusias.
N eomma menggeleng pelan. "Eomma tidak akan mengatakannya sekarang. Kita tunggu Hongbin pulang."
"Tapi Hongbin sedang berkencan dengan Ravi."
"Tidak apa-apa, eomma akan tunggu."
Aku mempoutkan bibirku. "Kalau begitu aku akan menelpon Hongbin agar ia cepat pulang."
.
.
.
Saat ini aku, N eomma, dan Hongbin sedang duduk bertiga di kamar N eomma. Aku dan Hongbin duduk di atas karpet yang melapisi lantai sedangkan N eomma duduk di atas sofa seperti seorang ratu. Ya benar, eommaku adalah seorang ratu sedangkan aku dan Hongbin adalah pangeran tampan.
"Eomma, cepat katakan apa kabar baik itu," rengekku sambil menarik-narik ujung kemejanya.
"Ne eomma, Binnie juga penasaran."
N eomma membenarkan posisi duduknya, berdeham, kemudian bersiap untuk mulai mengatakan 'kabar baik' itu.
"Ehm… Kabar baiknya adalah…." Kurasa eomma sengaja menggantung kalimatnya agar aku dan Hongbin semakin penasaran.
"Eomma, palli!"
"Kabar baiknya adalah… Kalian akan segera memiliki seorang adik," ucapnya sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Aku dan Hongbin menatap eomma dengan bingung. Bagaimana bisa? Appa kami sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dan sepuluh tahun terakhir ini aku hanya tinggal bersama N eomma dan Hongbin saja. Setahuku N eomma juga tidak pernah dekat dengan namja maupun yeoja manapun setelah kepergian appa kami.
"Eomma… Bagaimana bisa?" tanya Hongbin yang rupanya masih sama bingungnya denganku.
"Ne, eomma, jelaskan pada kami," tuntutku.
"Sama seperti bagaimana kalian ada, begitulah adik kalian ini ada."
Aku menggeleng, tidak bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan. "Bukan eomma, maksudku, siapa yang hamil? Eomma hamil? Atau eomma menghamili yeoja atau namja lain? Atau eomma akan mengadopsi anak?"
"Tentu saja eomma yang hamil," jawabnya sambil mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata.
"Mwo?! Eomma hamil?!" pekikku dan Hongbin bersamaan.
"Siapa yang melakukannya? Katakan padaku eomma, biar aku dan Ken hyung yang menghajarnya," kata Hongbin panik.
"Apa? Menghajarnya? Kenapa dihajar? Dia sangat tampan, eomma yakin kalian akan menyukai appa baru kalian."
"Appa baru?" tanyaku.
N eomma tersenyum. "Nanti malam ia akan datang untuk makan malam bersama kita. Oh ya, kalau bisa kalian ajak namjachingu atau yeojachingu kalian untuk makan malam bersama sekalian."
Hongbin tersenyum bahagia. "Tentu eomma, aku akan mengudang Ravi."
Aku kembali mempoutkan bibirku. "Aku tidak punya namjachingu ataupun yeojachingu eomma."
Kurasakan tangan halus eomma membelai rambutku. "Tidak apa-apa, mungkin belum saatnya."
Aku mengangguk tanda mengerti.
.
.
.
Author pov…
N eomma, Ken, Hongbin, dan Ravi sudah duduk manis di kursi makan, menanti 'calon appa baru' mereka yang belum juga datang.
"Eomma, appa baru kami suka ngaret ya?" tanya Ken pada N eomma yang segera menghadiahi anak sulungnya tersebut dengan sebuah deathglare.
TingTong…
Suara bel rumah berbunyi, menandakan seseorang yang sedang dinanti-nantikan telah tiba.
"Biar aku saja eomma," Ken mencegah eommanya yang akan bangkit. Namja bertubuh tinggi itu berlari kecil menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
"Silakan ma…," Ken tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika melihat siapa yang berada di balik pintu. "Kau…."
TBC
