Jaebum memandangi Jinyoung yang terbaring di kasur kamar tamu Mark, lelaki yang terkurung di tubuh perempuan itu cemberut kesal, menarik selimut lebih tinggi ke atas bahunya, wajahnya merah padam.

Hanya mereka berdua di kamar itu, Jaebum menghampiri Jinyoung perlahan sembari membetulkan kancing bajunya, Jaebum menaikkan satu lututnya ke atas kasur yang Jinyoung tiduri, lalu Jaebum mendekatkan wajahnya pada Jinyoung, kedua tangannya bertumpu pada kasur, menghalangi Jinyoung untuk pergi.

Perlahan, Jaebum mendekatkan wajahnya pada Jinyoung.

Mendekat. Mendekat. Mendekat.

"Buka bajumu," Jaebum berbisik.

Jinyoung menarik selimut semakin tinggi.

"Kau nggak akan pake baju sebesar itu saat naik motorku, 'kan? Ganti dengan baju Bambam yang lebih kecil," Jaebum berbisik lagi. Di bawahnya, Jinyoung meneriakkan iya aku tahu dan dasar penggoda dengan suaranya yang terdengar lebih tinggi.

Jaebum suka sekali dengan reaksi Jinyoung, sedari dulu, Jaebum sudah bisa membaca Jinyoung, semua pergantian mood-nya, semua siratan yang Jinyoung arahkan padanya, bahkan Jaebum bisa membaca Jinyoung hanya dari matanya.

Jaebum dan Jinyoung berencana membeli beberapa baju yang pantas untuk Jinyoung yang sekarang, karena tidak ada yang tahu pasti kapan Jinyoung akan kembali semula, dan untuk sementara akan lebih baik saat Jinyoung keluar rumah, pakaiannya layak. Better safe than sorry.

Setelah tertawa kecil melihat reaksi Jinyoung, Jaebum menjauhi Jinyoung yang masih menggerutu hingga melemparkan bantal ke arah punggung Jaebum—Jinyoung masih kesal setelah Jaebum menciumnya tadi, setelah tangan Jinyoung menampar keras pipi Jaebum, lelaki yang lebih muda itu berlari ke arah kamar tamu dan mengunci dirinya. Tentu saja Jaebum bukan orang bodoh karena Mark pasti punya kunci cadangan.

Tubuh Jinyoung mungkin berubah menjadi perempuan, tapi tidak ada yang berbeda dari sifatnya—ia meminta untuk dimengerti, mudah kesal, dan lari dari masalah.

"Ayolah, kau mau kecantikkanmu luntur kalau kau bersikap seperti itu?" Ujar Jaebum.

"Aku laki-laki! Aku nggak cantik! Berhenti mengkategorikan aku perempuan!"

Jaebum memandangi Jinyoung lama.

"Aku nggak bilang kamu perempuan?" Jaebum menelengkan kepalanya, memberi kesan imut yang dipaksakan, "bahkan sebelum ini terjadi, kamu cantik, Jinyoung. Cantik di sini nggak selalu tentang wajah."

Jinyoung kini sudah seperti udang rebus.

"Ayo, sebelum mataharinya makin panas," Jaebum mengulurkan tangannya pada Jinyoung.

.

.


.

.

symphonia — chapter two
warning: trans?
catatan: fast update because school is a mile away

.

.


.

.

Dengan kemeja flanel Bam yang masih sedikit kebesaran untuknya, Jinyoung berjalan mengelilingi toko pakaian dalam perempuan. Seumur hidupnya ia tidak pernah bermimpi akan masuk ke sini, terlebih, masuk bersama Jaebum.

Setelah memilih beberapa yang mungkin sesuai ukurannya, Jinyoung menyelesaikan urusannya di kasir dan bersiap untuk pergi ke pemberhentian selanjutnya, sebelum sang kasir berkata sesuatu.

"Kalian sangat manis bersama, langgeng ya?"

Jinyoung dan Jaebum sama-sama berubah jadi udang rebus.

Setelah detik-detik menegangkan di toko pakaian dalam, Jinyoung dan Jaebum keluar dan berjalan ke motor besar Jaebum yang terparkir rapi di lahan kosong tidak jauh dari toko. Jinyoung tidak tahu mereka akan kemana setelah ini, ia hanya akan menuruti Jaebum.

"Kita ke asrama," Jaebum berkata santai.

"Hah?" Jinyoung menaikkan alisnya, "ta-tapi gimana kalau ada yang lihat aku? Itu sekolah khusus cowok, demi Tuhan!" Lelaki yang memiliki rambut panjang tergerai itu panik.

Jaebum tersenyum, "Kau meremehkan Im Jaebum,"

Ini bukan pertanda baik.

Jaebum menaiki motornya dan mengenakan helmnya, lalu menyuruh Jinyoung melakukan hal sama dan dalam hitungan detik Jinyoung sudah duduk rapi di belakang Jaebum, dengan menghela napas.

Sudah sekitar dua tahun Jaebum membawa motor kemana-mana, ia termasuk anak sekolah yang agak.. nakal? Jika kau menyebutnya begitu, tapi orang tuanya tidak banyak berkomentar tentang Jaebum.

"Pegangan," Jaebum menitah, dan Jinyoung melingkarkan lengannya dan berpegang pada jaket di bagian torso Jaebum.

.

.


.

.

Ternyata masuk sembunyi-sembunyi ke asrama cukup mudah, karena sekarang sedang liburan musim panas dan hanya beberapa anak yang menetap di sekolah—biasanya karena malas pulang atau memang memilih bersantai di sekolah. Jinyoung dan Jaebum sendiri sudah biasa tidak pulang karena jadwal mereka pulang ke orangtua mereka hanya pada liburan musim dingin dan musim semi.

Jaebum membuka pintu asrama mereka, lalu dengan gesit menarik Jinyoung, menutup kembali pintunya, dan menguncinya.

"Oke, ambil beberapa barang yang kau butuhkan selama kita tinggal di rumah Mark Hyung, dalam kondisi begini kau nggak mungkin diam di asrama, aku akan menemanimu di sana," kata-kata Jaebum entah bagaimana seperti menyihirnya, seperti menjanjikan kenyamanan Jinyoung hanya dengan kata menemanimu.

Jinyoung lalu bergegas mengambil beberapa barang yang ia pikir ia butuhkan. Hingga tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

"Jaebum, Jaebum?"

"Oh shit," Jaebum mendesis, ia mendorong Jinyoung ke arah kamar mandi dan menutup pintunya. Masih panik, Jaebum membuka sedikit pintu kamarnya, menampakkan Junho di depannya.

Dengan senyum ceria, Junho menyapanya, "Jaebum~ sudah kuduga itu kau! Aku melihat motormu di belakang gedung olahraga, jadi aku ke sini. Apa kau bersama Jinyoung?" Sudah Jaebum duga, seniornya ini mencari Jinyoung, sudah bukan rahasia bahwa Junho selalu memperhatikan sang adik kelas itu seperti menyukainya, entah hal itu benar atau tidak, Jaebum tidak terganggu, selama Jinyoung juga tidak keberatan, karena Junho orang yang baik.

"Um.., dia sedang ke perpustakaan, aku akan menjemputnya nanti sore..."

"Biar aku saja yang jemput! Aku akan bawa mobil dan kau bisa bersantai!" Masih dipisahkan oleh pintu kamar asrama yang hanya terbuka setengahnya, Junho memaksa masuk.

"Em, Hyung.., Jinyoung juga mau ke rumah temannya setelahnya.., kau tidak begitu tahu tempat itu, jadi kurasa olehku saja?" Ia kembali membuat jawaban palsu.

Junho mengerucutkan bibirnya, "Selalu seperti itu, aku heran kalian berdua tidak melakukan hal-hal yang aneh," ia lalu tertawa, setelah itu ia terdiam cukup lama, matanya berubah serius dan sedih, Jaebum hanya memperhatikannya, "jujur saja Jaebum, aku suka pada Jinyoung. Orientasi seksualku memang begini, aku tidak tahu bagaimana pandangan Jinyoung terhadapku."

Jaebum memperhatikan seniornya itu, terkejut oleh pengakuannya.

"Ya, aku memang tidak mendekatinya gila-gilaan karena aku takut malah akan membuat Jinyoung jijik," Junho tampak sedih, namun ia tersenyum, "tapi aku juga tidak mendekatinya dengan intens karena selalu ada kamu di dekatnya."

Mata Jaebum membelalak.

"Caramu memandang Jinyoung, dan sebaliknya, kau tidak merasakan sesuatu? Semacam itu?"

Jaebum meneguk ludah, "Hyung.."

Junho lalu berjalan menuju pintu kamar Jaebum, saat sudah berada di luar kamar, ia menghadap Jaebum lagi dan tersenyum, "Aku akan meneleponmu! Beri tahu aku dimana Jinyoung nantinya~" dan pergi begitu saja.

Masih terpaku, Jaebum memandang pintu kamarnya yang masih setengah terbuka, hanya saja sudah tidak ada orang di depannya. Ia kemudian menutup pintunya perlahan. Lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi, membukanya, menemukan Jinyoung tertidur di bath tub.

"Idiot," Jaebum menghela napas.

Lelaki dengan dua tahi lalat di kelopak mata kirinya itu menghampiri Jinyoung, merapikan poni Jinyoung lembut, matanya mempelajari Jinyoung, bagaimana Jinyoung berubah menjadi perempuan tidak membuat begitu banyak perubahan pada wajah Jinyoung, pada dasarnya Jinyoung cantik, bahkan sebagai laki-laki, pembawaannya yang lembut dan penyayang membuat orang terkadang melihat Jinyoung seperti adik perempuan mereka.

Suara Junho berputar lagi di kepalanya, apa ia merasakan sesuatu saat menatap, dan dibalas tatap oleh Jinyoung?

Jaebum tidak tahu. Ia bahkan tidak tahu alasan sebenarnya ia mencium Jinyoung di rumah Mark tadi pagi, ia mengatakan ia ingin menghentikan tangisan Jinyoung seperti sedang bercanda, dan Jinyoung salah paham menganggapnya orang mesum yang tidak bisa menahan nafsu.

Sebenarnya ia hanya tidak suka melihat Jinyoung menatapnya sesedih itu. Setiap mata Jinyoung menatap Jaebum, ia merasa senang, tidak ada kurang, tidak ada lebih, mata Jinyoung tidak pernah terlihat begitu memilukan, karena itulah ia mencium Jinyoung.

Jika dipikir-pikir, ia baru mencium sahabatnya, tapi saat itu sahabatnya memiliki tubuh perempuan, jadi Jaebum harap itu tidak masalah.

Setelah lama terdiam, kelopak mata Jinyoung bergerak, mengejutkan Jaebum, mata Jinyoung terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah Jaebum.

Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi mengetahui Jaebum adalah hal pertama yang ia lihat membuat Jinyoung tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Putri Tidur," Jaebum ikut tersenyum, cahaya matahari sore hari muncul dari jendela kamar mandi di belakang Jaebum, membuat apa yang Jinyoung lihat menjadi lebih indah.

"Pangeran," Jinyoung mengoreksi.

"Pangeran Tidur."

Mereka hanya tertawa untuk beberapa saat sebelum membawa beberapa barang dan menyelinap ke belakang gedung olahraga, dan dengan gerak cepat langsung tancap gas menuju rumah Mark.

.

.


.

.

Di rumah Mark, Youngjae melamun memikirkan entah apa, Mark sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, Bambam dan Yugyeom sedang bermain playstation, dan Jackson berlalu melewatinya, namun Jackson menyadarkannya, "Woy."

"Oh, Hyung." Youngjae membalas singkat, ia berkedip cepat.

"Mikirin apa, sih?" Jackson duduk di samping Youngjae dan merangkul lelaki itu.

Youngjae menatap Jackson sejenak sebelum menghela napas lagi dan memandangi dinding, "Ya Jaebum Hyung dan Jinyoung Hyung lah. Apa lagi?" Ia menggigit bibirnya, "kau lihat saat Jaebum Hyung mencium Jinyoung Hyung? Kau nggak merasa apa gitu?"

"Tentu saja lihat, tapi aku kira Jaebum memang hanya main-main, maksudku, Jinyoung tadi memang goddamn gorgeous, sulit mengontrol diri, tahu." Jackson menjawab seadanya.

"Well, yeah, itu bisa saja," Youngjae kelihatan seperti berpikir lagi, "tapi aku merasakan sesuatu.., seperti, yah, begitu.., susah menjelaskannya."

Jackson yang tidak suka berbasa-basi hanya menebak, "Maksudmu, they're possible lovebirds? Am I right?"

Wajah Youngjae merah padam, membayangkan kedua Hyung kesayangannya saling jatuh cinta membuatnya campur aduk, "T-tapi aku tahu Jinyoung Hyung tetap seorang laki-laki.. bukannya aku menentang mereka.. tapi aku ingin mereka bahagia—"

Jackson memotong dengan menaruh telunjuknya pada bibir Youngjae, "Aku nggak melawan hal-hal seperti itu, jika mereka jatuh cinta, biarkan mereka jatuh cinta. Mereka tahu yang terbaik," Jackson memindahkan jari telunjuknya pada kaleng sprite yang baru ia buka.

Youngjae lalu terdiam, sebelum berkata lagi, "Tapi mereka bodoh."

Dan dengan begitu Jackson nyaris menyemprotkan sprite yang baru ia teguk, "Kau benar, mereka bodoh soal cinta."

Mereka berdua terdiam sesaat.

Jackson menaikkan alisnya, Youngjae melakukan hal yang sama.

Sambil tersenyum, Jackson berkata, "Apa kau sepikiran denganku?"