Disclaimer

Vocaloid – Yamaha Crypton Future Media

Story – Me

Normal POV.

Pancaran sinar jingga menghiasi seantero jepang. Waktunya bagi para pelajar dan pekerja untuk pulang. Kini kita melihat kesalah satu SMA terbaik yang ada dikota tokyo, yaitu SMA Voca. Sekolah ini terkenal karena prestasinya dibidang musik. Tak perlu dipertanyakan lagi berapa banyak alumni dari sekolah ini yang akhirnya menjadi penyanyi papan atas.

Contohnya ada Shion kaito dari angkatan 20, Megurine Luka dari angkatan 22, Sakane Meiko dari angkatan 20 dan masih banyak lagi.

Sekarang ada seorang pria berambut Honey Blonde dengan poninya yang menutupi mata kanannya, memiliki mata berwarna azzure, dan memiliki tinggi sekitar 170 cm. Kini dia sedang berkacak pinggang didepan meja seorang gadis yang sedang tidur.

"Hei Hatsune-san, bangunlah, sudah soreloh, ayo pulang." Teriak pria tersebut disamping telinga si gadis. "Ampun deh, kenapa setiap hari aku harus melakukan hal bodoh ini."

Pria berambut Honey Blonde tersebut kemudian mengambil buku dari dalam tasnya. Di lipat buku tersebut sehingga membentuk silinder. Setelah dilipat, dia memukul kepala gadis tersebut dengan bukunya.

"ADUH." Ringis gadis yang sudah terbangun itu. "Apa yang kau lakukan dasar Shota!" Geram gadis tersebut.

"Shota?!? Hei aku ini lebih tinggi darimu 4 cm, aku memiliki wajah yang cool jadi jangan panggil aku Shota!!" Balas pria tersebut dengan nada geram disambungi dengan memukul kepala gadis itu dengan bukunya (lagi).

"ADUUUHH!!.. Sakit tahu!!"

"Jika aku tak melakukan ini kau pasti tidak akan pernah bangun. Jadi cepat beresi bawaanmu, kita harus pulang." Ucap pria tersebut sembari menaruh kembali bukunya kedalam tas.

"Baik-baik." Ucap gadis tersebut dengan nada malas.

Selesai membereskan bawaannya, gadis itu mulai berlari menghampiri pria berambut Honey Blonde yang sudah menunggunya depan gerbang sekolah.

"Ayo Hatsune-san." Ajak pria tersebut sembari mengulurkan tangannya ke sang gadis.

"Ok Len-chan." Gadis tersebut membalas ajakannya dengan nada yang lembut dan memegang uluran tangan si pria.

Miku POV

Perkenalkan, namaku adalah Hatsune Miku. Aku sekrang berada dikelas 11 dari angkatan ke 25 dari SMA Voca. Tinggiku 166 cm dengan berat 45 cm, kurus ya? Aku juga berpikir begitu. Seorang 'Shota' yang mengaku dirinya cool disampingku ini bernama Kagamine Len. Dia adalah teman sekelasku dari kelas 10. Aku cukup dengannya karena kami duduk bersebelahan.

Ngomong-ngomong tentang Len, dia menjabat sebagai ketua kelas. Meskipun nampangnya menjadi tanda tanya, ternyata sesosok Kagamine Len adalah seorang pemimpin yang berwibawa, cerdas dan tenang. Contohnya dia bisa mengatasi krisis uang kas dikelas tanpa perlu ada seorang pun yang harus membantunya. Kagami Rin-san, gadis yang terkenal karena nilainya yang selalu merah, kini nilainya berangsur-angsur membaik berkat ajaran khusus dari Len. Ya, itu sekian jasa Len saat menjadi sosok pemimpin, lantas apa jasa Len jika tidak jadi pemimpin? Jawabannya hanya satu. Dia sukses membuat hidupku yang dulunya monoton kini menjadi berwarna.

Kenapa begitu? Baiklah akan kuberitahu. Dulu aku adalah orang yang tidak memiliki seorangpun yang bisa kusebut teman dari SMP. Dikarenakan aku memiliki trauma yang cukup mendalam saat aku memiliki teman pertamaku pada waktu SD, dan aku tidak ingin menceritakannya kepada siapapun. Disaat hari pertama kali sekolah di SMA. Lenlah orang pertama yang berkenalan denganku. Saat itu aku hanya menganggap kalau dia ingi tahu namaku saja. Namun dari pekenalan singkat itu, aku dan Len menjadi sangat dekat.

Makan bersama di jam istirahat, Belajar bersama diperpustakaan, dan pulang bersama. Berkat sorang Kagamine Lenlah aku sudah mulai bisa melupakan traumaku ini. Dan sekarang aku mempunyai beberapa teman seperti Megpoid bersaudara, Utatane Piko-san, Kagami Rin-san, Miyakawa Aria-san, dan Kamine bersaudara.

"Hatsune-san."

"Kenapa, Len-chan."

"Sebelum kerumahmu, bagaimana kalau kita pergi kesana dulu." Len menunjuk kesebuah kedai makanan kecil yang ada diseberang jalan.

"Boleh saja."

"Sip." Dia membawaku kekedai tersebut.

Didalam kedai ini suasananya sangatlah tenang meskipun ramai. Kulihat ada yang sedang minum, ada yang hanya sekedar ngobrol-ngobrol, ada juga yang sedang tidur.

"Paman, aku pesan Katsudon, tapi pakai daging ayam, hehehe." Len menyengir didepan kasir yang dijaga oleh seorang pria parubaya.

"Siap. KATSUDON AYAM 1." Teriak paman tersebut kearah dapur. "Mau pesan apa lagi?"

"mmmm...Hatsune-san, kau ingin memesan sesuatu?"

"kalau begitu aku pilih Tenpura saja." Kataku sembari mengambil uang didalam saku.

"eh eh eh... Tidak usah Hatsune-san, biar aku saja yang bayar." Tukasnya sambil menahan tanganku.

"Tapi..."

"Tidak apa-apa. Anggap saja hadiah." Belum sempat aku selesai berbicara, dia sudah mengelak duluan, dasar.

"hah... Baiklah. Tapi hadiah macam apa itu, tenpura saja?" Ucapku dengan nada sarkastik.

"Kan kau sendiri yang ingin tenpura."

"iya iya. Lain kali akan kuganti uangmu."

Pesannan kami sudah sampai ditangan, waktunya melanjutkan perjalanan kerumah.

"Hei Hatsune-san."

"Kenapa?"

"Menurutmu aku harus mencukur rambutku tidak?"

[Hmmmm... Memang benar sih kalau rambutnya sudah agak memanjang. Tapi panjangnya tak sampai membuatnya kesulitan dalam melihat.]

"Kupikir tidak usah." Jawabku dengan tegas.

"oohhhhh.." dia hanya ber-oh ria.

"Ngomong-ngomong kemana kacamamu? biasanya kau memakainya." Tanyaku yang baru sadar kalau Len dari tadi tidak memakai kacamata.

"Oh itu, aku lupa membawanya berangkat tadi. Jadi aku tak menggunakannya seharian ini. Tapi tenang saja, aku masih bisa melihat dengan jelas kok." Ucapnya dengan nada yang tegas sambil membusungkan dada.

"gak nanya." Jawabku singkat.

"Dih jahat." Dia mencubit-cubit pipiku. Ya... aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Jika aku membuatnya marah atau ngamberk, pasti dia akan mencubit pipiku. Ini sudah dilakukannya sejak kami berada dikelas 11.

"Hei lepaskan cubitanmu itu, kita sudah sampai rumahmu loh." Melepaskan tangan Len.

"Ah, tak terasa." Mengabrak-ngabrak plastik yang dibawa. "Ini tenpuramu Hatsune-san." Memberikan sebuah bungkusan yang berisi tenpura.

"Terima kasih, sampai ketemu besok." Kulangkahkan kakiku keseberang jalan, karena rumahku ada diseberang rumah Len.

Sesampainya dirumah. Kutaruh bungkus tenpura diatas meja makan. Lalu aku pergi kekamar mandi untuk mandi malam. Setelah mandi kubuka bungkus tenpura tersebut dan memakannya bersama nasi. Ya, aku tinggal sendiri. Orang tuaku sudah wafat ketika aku berusia 6 tahun. Bahkan sebelum mereka belum wafatpun, aku belum pernah makan bersama ayah dan ibu, dikarenakan mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Aku cukup iri melihat anime atau temanku yang bisa makan bersama dengan keluarganya setiap hari. Rasanya dunia, waktu, perasaan mereka menjadi satu. Berkeluh kesah, merayakan keberhasilan, dan masih banyak lainnya secara bersama sehingga menghasilkan keharmonisan dalam rumah tangga mereka.

"HATSUNE-SAN."

"MIKU-CHAN."

Terdengar suara teriakan laki-laki dan perempuan dari luar. Dengan berat kaki kulangkahkan kakiku ke pintu depan. Kubuka pintu rumahku dan...

"Selamat malam Hatsune-san."

"Selamat malam Miku-chan."

"Gumi-chan, Gumiya-kun, Rinto-kun, Lenka-chan." Aku sungguh kaget melihat keempat temanku ada disini. "Apa yang kalian lakukan disini? Sudah malam tahu? Bagaimana kalau kalian dicariin orang tua kalian?" Tanyaku dengan raut wajah panik.

"Tenanglah Miku-chan, kami berempat baru pulang dari tempat Les kami. Kebetulan kami lewat sini, jadi kami berfikir lebih baik kalau kita semua berkunjung kerumahmu dulu. Hihihihi. Oh iya, ini ada kue untuk mu Miku-chan." Jelas Gumiya-kun sambil memberi kotak kue.

"Terima Kasih semuanya, silahkan masuk dulu." Ajakku sambil tersenyum lembut.

"Maaf mangganggu."

"Permisi."

Normal POV.

Malam itu menjadi malam yang cukup panjang untuk Hatsune Miku, bermain, mengobrol dan bercanda bersama teman-temannya dirumahnya adalah hal yang sangat langka. Senyum dan tawa terpampang jelas diwajah Gadis Berrambut Twin Tail tersebut. Sementara itu diluar rumah Hatsune Miku...

"Sial, aku kalah cepat." Seorang pria berambut Honey Blonde yang kita kenal Kagamine Len kini berada didepan rumah Miku sambil membawa kotak kue. "haaaahhhhh." Helaan nafas yang panjang dan garukan tangan ke atas kepalanya yang agak gatal dilakukannya sekarang. "Biarlah, masih ada hari esok." Len melangkahkan kakinya dan pergi menjauh dari rumah Hatsune Miku.

TBC

Yeeeyyy akhirnya masuk ch 1. Maaf kalau masih jelek T-T

Note :

[ ] = Ngomong dalam hati

MRR.