I Really Didn't Know Chap. 2
Title : I Really Didn't Know
Author : Putri ChanBaek26
Casts :
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Luhan
- Sehun
- Chen
- Others
Pairing : ChanBaek
Genre : T, Sad.
Warning! : SHOUNEN-AI! YAOI! BOY X BOY, BOYS LOVE, & TYPO(s)
Note : FF ini murni dari otak gaje saya, kalau ada persamaan dengan FF lain mungkin hanya suatu kebetulan belaka. Tapi jangan pernah coba – coba untuk meniru/Plagiat FF saya! Sekian :D
Bacanya sambil dengerin lagu I Really Didn't Know versi Baekhyun & Chen ya? Biar berasa XD
Happy Reading!
Ketika ia memasuki apartemen itu pandangannya terhenti saat melihat sepatu mungil yang terletak dirak sepatu. Ia seperti pernah melihat sepatu itu. Namun, Luhan menepis semua itu. Mungkin saja itu hanya perasaannya saja, lagi pula model sepatu kan banyak yang mirip.
Ia pun berjalan menuju kamar Chanyeol, bermaksud untuk mengejutkan Chanyeol. Namun langkahnya terhenti saat mendengar jeritan seseorang.
"Chanyeol! Hentikan! Sakit sekali.. Akh—"
Chap. 2
Luhan mencoba menajamkan pendengarannya, tapi ia kembali mendengar jeritan yang kini berubah menjadi rintihan itu.
Ia pun melemparkan kantong plastik yang berada ditangannya itu kesembarang arah. Dengan segera ia mendobrak pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
Dan Luhan pun langsung luluh kelantai saat melihat pemandangan didepan wajahnya. Dua orang namja tanpa busana saling berpelukan. Ia merasa ingin mati saja saat melihat itu.
"Luhan!" Ucap Chanyeol terkejut. Baekhyun pun sama terkejutnya, ia segera mendorong tubuh Chanyeol dari atas tubuhnya.
"Luhan, aku—"
"Diam!" Teriak Luhan keras. Ia sudah menangis dengan hebat.
Chanyeol dan Baekhyun pun terburu - buru memakai pakaian mereka. Kemudian Chanyeol berlari kearah Luhan, ia memeluk namja cantik itu dengan erat.
"Lepaskan aku, brengsek!" Pekik Luhan, ia segera mendorong Chanyeol agar menjauh.
"Maaf, Luhan~ah." Lirih Baekhyun yang kini berdiri didepan Luhan.
Luhan segera mendongakkan kepalanya untuk melihat namja mungil itu. Mata merahnya menatap tajam seperti ingin mencakar - cakar wajah cantik Baekhyun.
"Kau! Teman sialan! Berani kau berbuat seperti itu pada pacarku!" Pekik Luhan, ia segera mendorong Baekhyun hingga terjatuh.
"Maaf.. Hiks." Ucap Baekhyun sambil menangkup kedua tangannya didepan wajah.
"Kau pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan minta maaf? Bermimpi saja kau!"
Plak!
Luhan menampar pipi Baekhyun dengan keras, membuat namja mungil itu menangis semakin keras.
"Yang kau lakukan hanya menangis? Namja macam apa kau? Banci! Berdiri kau!"
Luhan langsung menarik kerah baju Baekhyun, dengan tangan kanannya ia kembali menampar wajah yang penuh dengan air mata itu.
"Hiks.. Sakit Luhan." Lirih Baekhyun, ia segera berlutut dihadapan Luhan. Namun seperti kesetanan Luhan malah menendang Baekhyun dengan keras, ia semakin brutal tatkala Baekhyun menahan kakinya yang sibuk melancarkan serangan.
Ia bahkan sempat menendang wajah Baekhyun, hingga namja mungil itu jatuh tak sadarkan diri.
Kalian tidak lupa dengan Chanyeol kan? Ternyata ia sedang merekam perkelahian dua namja itu, dengan wajah tanpa dosa ia malah bertepuk tangan ketika melihat Baekhyun jatuh tak sadarkan diri.
"Kau menang Luhan~ah! Keren!" Ucap Chanyeol sambil mengacungkan jempolnya.
Luhan hanya menatap tajam kearah Chanyeol, namun sedetik kemudian ia berlari kedalam pelukan namja tampan itu.
"Kenapa kau seperti itu Chanyeol~ah? Hiks." Isak Luhan. Baju Chanyeol bahkan sudah basah karena airmata Luhan.
"Dia yang memaksa Chagi. Aku tidak bisa menolak. Lagi pula aku belum sempat memasukkan kedalam kok. Untung saja kau datang." Ujar Chanyeol sambil mengelus kepala Luhan, namun dalam hati ia mengutuk kedatangan namja itu. Karena ia hampir sedikit lagi menyatukan tubuhnya dengan tubuh Baekhyun.
"Hiks.. Lalu kemana kita taruh tubuhnya?"
"Buang saja."
Baekhyun mengerjapkan matanya membiasakan saat terkena sinar matahari. Badannya terasa remuk ketika digerakkan, dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna ia pun menatap sekelilingnya. Ternyata ia tidur ditempat sampah, pantas saja ia merasakan bau yang sangat menyengat.
Kemudian ia teringat dengan kejadian kemarin, air matanya pun menetes. Ia tidak menyangka akan menjadi seperti itu. Ya, semua itu memang salahnya, sepenuhnya salahnya. Namun mereka tidak seharusnya menaruh ia ditempat sampah seperti ini. Ia merasa bahwa harga dirinya lebih rendah dari sampah. Benar - benar menyedihkan.
Baekhyun berjalan dengan pelan kedalam kelasnya, takut kalau ia sampai bertemu dengan Luhan ataupun Chanyeol. Ia benar - benar tidak siap dengan itu semua.
"Baekhyun!"
Baekhyun gelagapan saat seseorang tiba - tiba memeluknya dengan erat, orang itu adalah Chen.
"Chen~ah, ada apa?" Tanya Baekhyun bingung.
"Diam, aku sudah tau semuanya. Aku sudah bilang, aku akan melindungimu Baekhyun~ah."
Baekhyun merasa dadanya semakin terasa sesak, tanpa bisa ditahan air matanya pun mengalir dengan deras. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih Chen!"
"Ya, akan ku bunuh mereka kalau berani menyakitimu lagi."
Baekhyun mengangguk, mereka pun berjalan menuju kursi mereka sambil berpegangan tangan.
"Luhan memberitahu padaku mengenai kejadian kemarin. Aku tidak menyangka mereka sekejam itu." Kata Chen dengan wajah memerah karena emosi.
"Tidak apa – apa. Aku yang salah."
"Tidak! Suatu saat Tuhan akan membalas mereka! Aku yakin!"
"Y-ya."
Kaki pendek itu terlihat melangkah dengan terburu - buru, tangan kanannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, entah karena apa. Setelah sampai ditujuannya, ia pun langsung berlari masuk. Tujuannya yaitu ke wastafel, karena sedari tadi ia menahan untuk tidak mengeluarkan semua isi perutnya.
Ia sakit, wajahnya terlihat pucat. Tubuhnya juga terlihat sangat lemah.
"Hoekk—"
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, ia pun memandang kearah kaca yang berada dihadapannyanya. Mengamati wajah cantiknya yang kini terlihat sangat pucat. Dengan sedikit senyum paksa ia mulai berjalan untuk keluar toilet.
Namun secara tidak sengaja ia berpapasan dengan seorang namja berkulit susu.
"Baekhyun!"
"S-Sehun."
Keduanya saling bertatapan lama, mata namja mungil yang ternyata Baekhyun itu hanya menatap sayu. Sedangkan namja berkulit susu itu menatapnya dengan tajam.
"Ayo ikut aku!" Sehun pun menarik Baekhyun dengan keras, Baekhyun hanya mengikut saja. Ia terlalu lemah untuk bahkan melepaskan pegangan Sehun.
Setelah 5 menit berjalan, mereka pun sampai disebuah ruangan yang berbau obat - obat-an. Ya, itu ruang kesehatan.
"Tidur." Titah Sehun dengan ketus. Ia kemudian berjalan ketempat obat - obat-an disimpan. Ia cukup tau mengenai obat - obat-an karena Appanya adalah seorang dokter.
"Di-dimana Dokter yang biasanya berjaga disini?" Tanya Baekhyun lemah, ia menatap sekelilingnya. Dan itu kosong, tidak ada orang lain disana.
"Ini jam makan siang, mereka juga butuh istirahat."
Sehun menyodorkan obat dan air putih kearah Baekhyun, dan segera diterima namja mungil itu. Walaupun ia sempat ragu.
"Aku tidak tau kau sudah makan atau belum, tapi kurasa obat ini aman walaupun dalam keadaan perut kosong." Ucap Sehun sambil berlalu kearah belakang.
Baekhyun pun meminum obat itu dengan perlahan, kemudian ia kembali berbaring. Keringat dingin mengucur dari dahi dan tubuhnya, sepertinya ia demam.
Sehun kembali dari belakang dengan membawa air dan kain kecil. Kemudian namja tampan itu menempelkan kain itu ke dahi Baekhyun. Baekhyun tidak menolak, karena ia memang membutuhkan itu untuk menurunkan panasnya.
"Kau sangat lemah, pantas saja kau mudah disakiti." Kata Sehun sambil duduk disamping tempat tidur Baekhyun. Baekhyun hanya menatap bingung kearah Sehun.
"Kau namja kan? Tapi tenagamu tak lebih kuat dari tenaga wanita tua yang renta."
Baekhyun menutup matanya, untuk saat ini ia sedang malas berdebat.
"Dipergoki oleh sahabat sendiri saat sedang bercinta dengan pacar sahabatmu sendiri apakah membuatmu bahagia?"
Baekhyun meraih tangan Sehun yang berada disampingnya, ia meremas tangan itu dengan pandangan memohon. Ia benar - benar sakit saat ini, ia butuh istirahat.
Tapi Sehun segera menepis kasar tangan itu, seperti tangan itu adalah sesuatu hal yang menjijikkan.
"Kau menjijikkan!" Ucap Sehun sedikit keras.
Baekhyun merasa kini kepala dan perutnya bagai diputar - putar secara bersamaan, itu benar - benar menyakitkan.
"Hoeek—"
Dan Baekhyun pun kembali memuntahkan isi perutnya kelantai, ia menangis menahan sakit hati dan tubuhnya. Ia benar - benar tidak tahan dengan semuanya.
Sehun mulai beranjak dari kursinya, menuju pintu masuk dan keluar. Meninggalkan namja mungil yang masih setia menangis karena rasa sakitnya.
Menyedihkan..
Luhan melipat tangannya didada, pandangannya menatap kearah Baekhyun yang sedang membaca buku. Sebenarnya Baekhyun hanya berpura - pura saja, ia hanya ingin menghindari tatapan tajam milik Luhan.
"Apa julukan yang tepat untuk orang ini? Penusuk dari belakang?" Tanya Luhan pada teman disampingnya, tapi tangannya menunjuk kearah Baekhyun.
"Pelacur mungkin." Ucap teman Luhan itu dengan datar.
"Kyungsoo~ah! Kau benar sekali! Haha" Tawa Luhan sambil merangkul temannya itu. Teman Luhan yang bernama Kyungsoo hanya tersenyum sebentar. Matanya sibuk menatap Baekhyun yang masih menunduk.
"Kalau Baekhyun pelacur, lalu kau apa? Penjilat? Lucu sekali" Gumam Chen santai, namun semua dapat mendengar gumamannya itu.
"Maaf, tapi aku tidak berbicara padamu." Ucap Luhan kesal.
Chen hanya tertawa, dalam hati sebenarnya ia ingin sekali membunuh orang itu.
"Kalau kau mau mengejek Baekhyun, kau akan langsung berurusan denganku!"
Luhan tertawa mengejek. Matanya menatap kearah Chen meremehkan.
"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan! Kau itu cuma si culun kutu buku!"
"Kalau aku culun dan kutu lalu apa masalahmu?" Tanya Chen menantang. Ia bahkan sudah berdiri dihadapan Luhan.
"Tidak ada. Pantas saja Xiumin lebih memilih aku daripada si culun sepertimu! Haha." Luhan kembali tertawa, bersama Kyungsoo tentunya. Sedangkan orang - orang berada disitu seolah tidak peduli, mereka sibuk dengan urusan mereka masing - masing.
Baekhyun? Ternyata ia menelungkupkan wajahnya dimeja, ia menangis.
"Apa yang sekarang kau rasakan, adalah apa yang kurasakan dahulu! Kau merebut Xiumin dariku! Dan kini pacarmu yang menyelingkuhimu dari belakang! Ingat! Karma pasti berjalan! Dan itu sedang menyerangmu, Xi Luhan!"
Luhan terdiam mendengar perkataan Chen, entah mengapa ia merasa sesak didadanya. Namun karena egonya yang tinggi, ia kembali tertawa. Seolah menertawakan perkataan Chen, padahal jauh dilubuk hatinya ia menertawakan kebodohannya.
"Terserah! Yang penting namja murahan itu tak ada artinya di mata Chanyeol. Chanyeol is mine!"
Setelah berujar seperti itu, Luhan dan Kyungsoo pun keluar dari kelas.
Chen mencoba menstabilkan emosinya, kemudian ia pun kembali kearah Baekhyun. Ia memeluk namja itu dari belakang.
"Sudah kukatakan, aku akan melindungimu." Bisiknya.
Baekhyun melangkahkan kakinya dengan gontai, wajahnya terlihat pucat pasi. Bagai tanpa nyawa. Matanya menatap lurus kedepan, namun tatapan itu terlihat sangat kosong.
"Baekhyunnie baby!" Panggil seseorang dari dalam sebuah mobil, kepalanya menyembul keluar.
Baekhyun menolehkan kepalanya kearah orang itu, semula ia sedikit terkejut. Namun ia berusaha bersikap santai. Ia bahkan melangkahkan kakinya semakin cepat.
"Oh ayolah! Kau tidak akan bisa kabur!" Ujar orang itu.
Dan benar saja, karena tiba - tiba seseorang mengangkat tubuhnya yang mungil. Orang itu segera membawa Baekhyun ke dalam mobil.
"Lepaskan aku Oh Sehun!" Pekik Baekhyun keras. Sementara namja yang ternyata Sehun itu terlihat tidak terpengaruh, ia bahkan sudah memasukkan tubuh mungil itu ke dalam mobil dengan kasar.
"Kita akan bersenang - senang!" Ucap namja yang menyetir, –Chanyeol.
Baekhyun merasakan tubuhnya seperti mati rasa, Chanyeol sudah menungganginya hingga beberapa ronde. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk menolak, atau bahkan untuk berteriak. Ia sudah pasrah. Karena namja yang ia cintai, ternyata tidak mencintainya. Kata - katanya dahulu memang terbukti hanya kebohongan belaka. Apa yang semua Chen katakan benar, seharusnya ia mendengarkan perkataan sahabatnya itu.
Ia sangat menyesal sekarang. Ia merutuki betapa bodohnya dirinya, yang mudah tertipu oleh rayuan buaya seperti Chanyeol.
"Hiks..."
Akhirnya tangisan itu keluar juga, sebelumnya ia hanya menjerit pilu. Mungkin suaranya sudah serak sekarang.
"Kenapa? Kau menyesal? Aku malah ketagihan." Ucap Chanyeol yang duduk di sofa hotel berbintang lima itu. Ia hanya memakai celana pendek, badannya ia biarkan terbuka. Sehingga menampilkan tubuh atletisnya yang penuh keringat.
"K-kau.. B-brengsek!" Lirih Baekhyun dengan terisak.
Chanyeol hanya tertawa, ia segera mendekat kearah Baekhyun. Mengecup bibir mungil itu singkat.
"Aku memang brengsek. Kau saja yang bodoh karena tidak menyadari hal itu."
"T-tapi kenapa k-kau lakukan ini padaku?" Tanya Baekhyun sangat lirih, matanya yang indah seperti bulan sabit terlihat menutup. Seolah menekan agar air tidak bersalah itu berhenti mengalir.
"Kenapa? Pertanyaan bodoh! Salahkan saja dirimu yang indah ini. Aku tidak mungkin menyia - nyiakan namja sepertimu. Kau harus jadi milikku sebelum menjadi milik orang lain."
"L-lalu kenapa tidak kau pertahankan saja aku?"
"Karena.. Aku tidak mencintaimu."
Baekhyun menutup wajahnya dengan selimut, ia biarkan tangisannya semakin keras. Ia meraung - raung seperti orang gila. Ya, hatinya memang sudah hancur. Bahkan kalau ada pisau disampingnya, ia tidak akan segan - segan mengiris nadinya didepan namja itu.
Chanyeol hanya tersenyum, ia memakai pakaiannya dengan santai. Seolah tidak ada yang terjadi. Padahal namja mungil didepannya terlihat menggenaskan. Secara fisik dan mental.
Chanyeol kemudian melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari ruangan itu, disana sudah ada namja berkulit susu yang sedang menatap gelisah.
"Kau kenapa?" Bingung Chanyeol saat melihat temannya itu.
"Dia yang kenapa?" Tanya namja itu balik.
"Sudah gila, mungkin."
"Kau yang gila!"
Namja berkulit susu yang kita kenal sebagai Sehun mulai melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Satu kata yang terlintas dipikirannya saat melihat keadaan namja mungil itu— menyedihkan.
Ia pun berjalan mendekat, diraihnya selimut tebal itu sehingga wajah namja mungil itu terlihat.
Seketika ia merasakan seluruh persendiannya lemas ketika melihat wajah namja itu, ia tidak tau kenapa. Tapi wajah Baekhyun terlihat sangat— ah, Sehun bahkan tidak dapat mendekskripsikannya.
"Baekhyun, kau—"
"Pergi kau! Sialan! Bajingan! Mati kalian semua!" Teriak Baekhyun sangat keras, ia bahkan menjambaki rambutnya.
Sehun melangkah mundur, bagaimanapun mood Baekhyun sedang tidak baik. Tapi dengan melihat keadaan Baekhyun yang sekarang, Sehun berani jamin namja itu pasti akan memiliki
pikiran yang sempit. Sewaktu - waktu ia mungkin dapat menerjunkan dirinya dari atas hotel ini.
"Tenanglah."
"Kau suruh aku tenang?! Aku tidak bisa tenang sebelum aku mati! Kau mati! Kalian semua mati! Hiks!" Teriak Baekhyun terdengar pilu.
Ia kemudian beranjak untuk berdiri, walaupun ia merasakan sakit luar biasa ditubuh bagian bawahnya.
Namun Sehun ternyata lebih sigap darinya, ia lebih dulu menahan tubuh mungil itu agar tidak berdiri. Ia langsung membungkus tubuh Baekhyun dengan selimut.
"Aku tidak mau melihat tubuhmu yang kotor itu." Ucap Sehun tepat di depan wajah Baekhyun.
Baekhyun kembali meraung dengan keras, ia bahkan sempat memukul wajah Sehun.
"Aku memang kotor! Aku kotor karena si BRENGSEK sialan itu! Arggh!" Kini teriakan Baekhyun berubah menjadi jeritan pilu. Ia memegang kepalanya yang tiba - tiba sakit, mungkin efek dari emosinya yang berlebih.
"Tenangkan dirimu! Kau terlihat menyedihkan!"
Baekhyun tidak menjawab, ia bahkan hanya diam sambil menutup matanya. Melihat itu Sehun
pun menghembuskan napas lega. Setidaknya ia melihat Baekhyun sudah sedikit lebih tenang.
"Aku pergi dulu. Sepertinya kau butuh waktu untuk sendiri." Ucap Sehun, kemudian ia berjalan kearah pintu. Sebelum ia benar - benar keluar, ia masih menyempatkan diri untuk melihat kearah Baekhyun. Pandangannya terlihat sendu.
Seorang namja yang mempunyai wajah seperti malaikat terlihat tengah tersenyum kearah temannya, mereka terlihat tengah asik berbincang - bincang.
Teman namja berwajah malaikat itu juga tersenyum kearahnya.
"Aku tidak pernah tau kita akan bertemu disini. Kau sudah sukses Kris~ah." Ucap namja berwajah malaikat itu kepada temannya.
"Kau juga Suho~ah, aku tidak menyangka kau bekerja dengan profesor terkenal tapi gila itu." Ucap teman namja berwajah malaikat itu—Kris.
"Haha, kau jangan seperti itu. Prof. Lee bukan gila, tapi jenius." Bela namja berwajah malaikat—Suho.
"Karena kejeniusannya ia sedikit gila kan?"
Kedua namja tampan itu kembali tertawa.
Sebenarnya mereka teman sejak SMA, tapi mereka berpisah ketika mereka melanjutkan pendidikan mereka dijenjang perguruan tinggi. Suho tetap di Seoul, namun Kris kuliah di Kanada. Sehingga mereka tidak berjumpa selama bertahun - tahun.
Sekarang Kris telah kembali ke Korea, ia bekerja di salah satu perusahaan yang terkenal di Korea. Dan disinilah mereka sekarang, dikafe yang terlihat mewah. Pertemuan yang mengesankan.
"Oh ya, bagaimana dengan si mungil? Apa dia sudah besar? Aku merindukannya." Ucap Kris sembari tersenyum.
"Dia sudah kuliah sekarang, tapi tetap saja mungil. Haha."
"Seperti dirimu Suho~ah? Sepertinya kalian memang keturunan pendek." Ledek Kris.
Suho mengumpat kecil, ia merasa sahabatnya itu tidak berubah. Selalu saja mengejek dirinya.
"Daripada kau keturunan raksasa." Balas Suho tak mau kalah.
"Baiklah – baiklah. Aku sangat merindukannya. Kapan aku bertemu dengannya?" Tanya Kris berharap.
"Aku tidak tinggal bersamanya, kau tau sendiri. Prof. Lee itu sangat keras kepala. Ia memaksa ku untuk tinggal bersamanya. Minggu ini aku akan pulang kerumah, kau bisa ikut kalau kau mau."
Kris tampak berbinar mendengar perkataan Suho terakhir, ia pun mengecup tangan temannya itu dengan spontan.
"Tentu saja aku mau! Terima kasih Suho~ah!"
"Please Kris, aku bukan gadis Kanada. Aku tidak selera dengan ciumanmu!"
Tok!
Kris menepuk kepala Suho pelan, walaupun tidak sopan tapi mereka sudah biasa seperti itu.
"Aish! Awas saja kalau kau suka dengan adikku!" Ketus Suho sambil mengelus kepalanya.
"Sejak awal aku memang sudah menyukai Baekhyun."
Baekhyun memasuki apartemennya dengan tertatih - tatih, ia kehilangan semuanya. Harga dirinya, kehormatannya, semangat hidupnya, semuanya! Ia bahkan merasa hampir gila.
Ia pun memasuki kamarnya, pandangannya menyapu seluruh sudut kamarnya. Ia sedang mencari sesuatu. Ya, sesuatu yang bisa ia minum, lalu sedetik kemudian ia akan mati. Itu yang ia cari. Benar - benar pikiran yang sempit.
Ia kembali keluar dari kamarnya, menuju ke dapur. Dan menemukan berbagai macam jenis pisau disana. Namun ia hanya membutuhkan racun, bukan benda tajam.
Ia pun membuka semua lemari yang berada di dapur, tapi tidak menemukan apapun. Hanya ada botol racun tikus, tapi tidak ada isinya.
Ia melangkah keluar dengan masih tertatih, menjelajah ruang tamu mereka. Dan lagi - lagi ia tidak menemukan apapun disana.
Akhirnya pandangannya tertuju pada kamar hyungnya, Suho. Beruntung karena kamar itu tidak terkunci, jadi ia bebas masuk ke dalam.
Ia pun membuka semua laci yang berada dikamar Suho, tapi ia juga tidak menemukan apapun disana.
"Hiks! Aku harus mati malam ini.. Hiks"
Hampir saja ia putus asa saat itu juga, namun mata sipitnya menangkap benda kecil yang berada diatas meja nakas Suho.
Ia pernah ingat, beberapa bulan yang lalu Suho menunjukkan padanya benda kecil itu dengan bangga. Benda itu memang sangat cantik karena terbuat dari Kristal. Didalam nya ada cairan putih yang juga terlihat bersinar. Saat itu Baekhyun juga sempat dibuat kagum oleh benda itu.
Tapi ia ingat pesan terakhir sebelum Suho pergi kerumah Prof. Lee, Suho mengatakan jangan sampai cairan didalam Kristal itu terminum. Karena cairan itu bisa membuat mati.
Kalau dulu Baekhyun sempat bergidik ngeri mendengar perkataan Suho, tapi kini ia tidak merasa takut sedikit pun. Karena itulah tujuannya saat ini, yaitu MATI.
Ia pun membuka botol kecil itu dengan tangan gemetar, ia tidak takut untuk meninggalkan dunia. Tapi ia takut membuat hyungnya kecewa, karena Suho adalah hyung satu - satunya yang ia miliki.
Setelah tutup botol itu terbuka, Baekhyun pun mengarahkan ujung botol kecil itu kemulutnya.
Kesan pertama yang ia rasakan saat pertama kali cairan itu menyentuh lidahnya adalah pahit. Sangat pahit malah, karena Baekhyun terlihat seperti tidak sanggup menahan rasa pahit itu dilidahnya.
Namun dengan gerakan cepat Baekhyun pun memasukkan seluruh cairan itu kemulutnya.
Setelah cairan itu sepenuhnya masuk, tiba - tiba Baekhyun merasakan panas diseluruh tubuhnya. Tulangnya terasa ingin putus, sedangkan lehernya terasa tercekik.
"Uhuk! Argh..!" Baekhyun memegangi lehernya dengan kuat, seolah takut kalau lehernya itu putus saja.
Tapi sayang, karena tangannya juga terasa sangat sakit. Bahkan seluruh tubuhnya, Baekhyun pun terlihat berguling kesana kemari, mungkin karena ia tidak tahan dengan rasa sakit yang menderanya.
"Arggh! Sakit sekali..! Arggh.. Akh—"
Dan itu adalah teriakan terakhir Baekhyun malam ini. Karena kini ia terlihat tak sadarkan diri, dari mulutnya bahkan keluar buih yang cukup banyak. Baekhyun telah berakhir.
Mungkin~
Chanyeol terlihat duduk disamping Luhan, tangannya sibuk mencomot snack yang berada di hadapannya. Pandangannya terfokus pada layar datar yang kita kenal sebagai televisi. Sesekali ia tampak tertawa saat melihat drama yang ia tonton. Luhan pun begitu. Ia juga terlihat fokus melihat kearah televisi.
Sedangkan seorang namja berkulit susu, yang ternyata sedari tadi berada disamping Chanyeol dan Luhan terlihat menatap kosong kearah televisi. Perasaannya tidak enak, apalagi saat membayangkan wajah Baekhyun terakhir kali. Ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada namja itu.
"Perasaanku tidak enak." Gumam Sehun, namun Chanyeol yang berada disampingnya mendengar itu.
"Kenapa?" Tanya Chanyeol dengan mulut penuh.
"Entahlah, tiba - tiba aku merasa khawatir dengan Baekhyun." Jawab Sehun sambil memegangi dada kirinya. Sebenarnya mulai tadi malam perasaannya tidak enak, namun ia berusaha menutupi itu
"Mungkin kau merindukannya." Ucap Luhan dengan tawa mengejek. Tentu saja Sehun merasa kesal, ia tidak suka dengan cara Luhan menertawakannya.
"Terserah kau saja."
"Kalau kau khawatir padanya temui saja dia langsung." Kata Chanyeol dengan seringai yang tercetak jelas diwajahnya, namun Luhan tidak dapat melihat itu.
"Ck.. Aku akan menemuinya.. Kapan – kapan."
"Bodoh! Temui sekarang saja! Ini kan masih pagi." Kata Chanyeol sambil menjitak kepala Sehun.
Sehun hanya mendengus kesal sambil memegangi kepalanya.
"Baiklah! Aku pergi sekarang!"
Sehun pun melangkahkan kaki jenjangnnya keluar apartemen Chanyeol, sebelum ia menutup pintu ia mendengar teriakan dari Luhan.
"Kalau pelacur itu menggodamu tampar saja pipinya itu! Dia pasti menangis! Haha."
Sehun pun mengumpat kecil saat mendengar perkataan Luhan itu, entah kenapa kini ia merasa sangat membenci Luhan.
'Sialan kau!'
TBC
Jangan lupa review ya~
