"Uchiha Sasuke..." gumam Hinata.
Neji melotot ke arah Hinata. "Apa kau mengenalnya?!"
Hinata menatap Neji dan ajudan Konoha bergantian. "Apa itu sejenis buku?"
.
.
.
Marriage Online © Hyuuga Ryota
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated T+
.
.
.
.
Hinata menghampiri kakaknya dan kedua tamu dari ruang tamu dengan nampan yang berisi the dan biskuit.
"Silahkan dinikmati," ujar Hinata sopan sambil meletakkan hidangan-hidangan di meja ruang tamu. Setelah itu, ia mengembalikan nampan di dapur dan bergabung dengan kakaknya yang sedang berbicang-bincang dan duduk di samping Neji.
"Hinata, perkenalkan dia yang bernama Torune Aburame," ujar Neji menunjuk pada pria yang berkacamata. "Dan dia Yamato," tunjuk Neji pada seorang pria bersurai cokelat pendek.
"Hyuuga Hinata desu, yoroshiku Aburame-san, Yamato-san," kata Hinata sedikit membungkukkan tubuhnya.
Kedua ajudan Konoha tersebut membungkukkan kepalanya sejenak, "Yoroshiku, Hyuuga Hinata-san," ujar mereka bersamaan. Setelah itu, mereka bertiga kecuali Hinata menikmati ocha hangat yang disediakan oleh Hinata lantaran hawa mulai dingin.
"Ano… apa aku akan menikah dengan buku sejarah?" tanya Hinata.
"Uhuk… uhuk… uhuk… uhuk!" terdengar suara tersedak di sekelilingnya. Sedangkan Hinata memilih bersabar, menanti jawaban dari ajudan Konoha.
'Mereka seperti Nii-san, selalu tidak berhati-hati saat meminum ocha,' pikir Hinata menatap prihatin pada kedua tamu dan kakaknya yang tersedak. "Itu masih panas, minumlah dengan hati-hati agar tidak tersedak."
Hinata menatap heran ketiga orang di sekitarnya. Bukankah ia sudah memperingatkan? Kenapa mereka masih terbatuk-batuk?
"Apa tehnya terasa pahit?" tanya Hinata khawatir. Menyadari kekhawatiran adiknya, Neji mati-matian menahan batuknya.
"Thidhak… uhuk… tidak kok Hinata," ujar Neji menenangkan. Ia memberi sinyal pada kedua ajudan Konoha agar menahan batuknya.
Yamato berdeham, berusaha menghilangkan batuk yang ingin keluar dari mulutnya. "Apa anda belum mengenal Tuan Uchiha?"
Hinata menatap Yamato dan menggeleng sebagai jawaban, "Aku tidak mengenalnya."
"Kenapa kau bisa berpikir, kau akan menikah dengan sebuah buku sejarah?" tanya Torune yang sejak tadi berdiam diri. Hinata menoleh menatap Torune.
"Aku pernah diberitahu tentang sebuah buku sejarah yang berisi tentang gubernur pertama Konoha dan memiliki sebuah kipas besar yang menjadi benda keramat klan Sarutobi. Bukankah namanya Uchiwa Sasuke? Dan buku itu berjudul The Legend of Uchiwa Sasuke."
"Jadi kau berharap menikah dengan gubernur atau dengan buku sejarah?" tanya Yamato menatap Hinata tidak percaya.
"Kau salah Hinata."
Hinata menoleh menatap Neji bingung, "Apa yang salah?"
"Kau melupakan kata 'Sarutobi' di belakang kata Sasuke, dan itu berarti kau tidak menikah dengan buku."
"Jadi siapa yang kunikahi?"
"CEO Uchiha yang bernama Uchiha Sasuke dan berumur 24 tahun," jawab Neji mantap.
Hinata mengerutkan kening, ia menatap kedua ajudan Konoha bergantian. "Seperti apa suamiku itu?"
Bukannya mendapat jawaban, kedua ajudan itu melongo. Tadi tidak mengenalnya dan sekarang mengakui bahwa sosok itu suaminya, batin kedua ajudan itu dan Neji dalam hati.
"Dia hebat dan keren," jawab Yamato dengan semangat.
"Benarkah? Sehebat apa dia?" tanya Hinata penasaran.
Yamato memegang dagunya membentuk pose berpikir, "Dia hebat dalam segala bidang," ia menatap yakin pada Hinata.
"Benarkah? Kenapa dia yang hebat itu harus menikah denganku? Bukan dengan yang lain?" tanya Hinata bingung.
Neji mengangguk menyetujui pertanyaan yang dilontarkan Hinata, "Ya, aku juga merasa aneh. Kenapa adikku ini bisa mendapatkan seorang yang lebih tua darinya?"
"Hal itu sudah ditetapkan oleh pemerintah Konoha dan tidak bisa diganggu gugat. Saya berharap bahwa ini bukanlah keluhan anda," ujar Torune yang sejak tadi hanya mengamati interaksi Hinata, Neji, dan Yamato.
Hinata menundukkan kepalanya, "Begitu," ujarnnya pelan.
Neji mengerutkan dahinya, tanda ia benar-benar bingung, ia menyandarkan tubuhnya di sofa, "Jujur, aku tidak menyangka bahwa Hinata akan mendapatkan seorang yang lebih tua dari dirinya. Jika aku boleh tahu bagaimana ia bisa mendapatkan pasangan seperti ini?"
Torune membenarkan kacamatanya, "Sebenarnya hal ini adalah rahasia pemerintah. tetapi jika untuk meyakinkan para pengantin, hal itu tidak masalah. Sebenarnya sistem untuk mendapatkan pasangan dalam program ini adalah dengan metode acak."
"Acak?"
Yamato mengangguk, "Ya, acak. Tapi pasangan ditentukan berdasarkan umur sebaya atau umur di sekitar sang klien dan prediksi tentang kualitas anak yang dihasilkan."
Wajah Neji mendadak memerah karena malu dan tidak adil secara bersamaan. Sedangkan Hinata memilih menikmati hidangan cinnamon rolls di hadapannya. "Jika seperti itu sistemnya. Kenapa adikku mendapatkan suami yang lebih tua tujuh tahun?! Dan apa maksud kalian prediksi… anak?" Hinata menoleh menatap kakaknya yang tiba-tiba memelankan suaranya saat mengatakan 'anak'.
'Anak? Nii-san akan menikah dan punya anak kah?' batin Hinata dalam hati.
"Sebenarnya tentang masalah umur suami Hinata-san yang tidak seumuran saya kurang tahu, tapi untuk prediksi kedua anak mereka bisa dibilang bagus," ujar Yamato dengan nada serius.
"A-a, begitu ya…" kata Neji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa ia yang terkenal akan kewibawaannya malah jadi gugup dengan masalah pernikahan adiknya.
Torune menatap Neji yang memalingkan wajah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan Hinata yang sibuk makan cinnamon rolls bergantian, 'Sebenarnya siapa yang akan menikah di sini?' pikirnya.
Mendadak suasana menjadi hening dan canggung, hanya suara jarum jam yang berdetak dan suara perapian.
Yamato yang tidak tahan dengan kecanggungan yang terjadi memilih membaca berkas dan data terbaru tentang Hinata. Ia berdeham guna menarik perhatian Hinata dari kesibukannya yang sedang menghitung jumlah gula balok.
"Uchiha Sasuke, calon suamimu pernah tidak naik kelas," ujar Yamato yang membuat tubuh Hinata menegang. "Tapi prestasinya di bidang matematika, fisika, dan kimia cukup bagus."
Hinata mendongakkan kepalanya, ia merasa sedikit excited. Ia menatap Yamato senang.
"Kudengar, kau ketinggalan beberapa pelajaran penting karena mengerjakan hukuman. Mungkin dia bisa mengajarimu tentang hal ini," ujar Yamato bersemangat. Iris Hinata berbinar-binar.
"Berarti aku tidak ketinggalan pelajaran Taka-sensei jika terlambat," ujar Hinata bersemangat.
"Tepat!" seru Yamato senang karena bisa membuat Hinata tertarik lagi.
'Entah kenapa aku merasa Yamato seperti menawarkan guru les kepada gadis ini,' batin Torune dalam hati sambil menatap Hinata yang tersenyum bahagia dan Yamato yang memuji prestasi akademik sang bungsu Uchiha. 'Atau seperti seorang sales?' batinnya kembali.
Ia menatap Neji yang sedang sibuk membaca sebuah berkas. 'Sejak kapan berkas tentang Uchiha Sasuke ada di tangannya?!' pikir Torune kaget.
"Hinata," panggil Neji menginterupsi interaksi Yamato dan Hinata.
"Ya?"
Neji menyodorkan sebuah berkas yang semula ada di tangannya ke Hinata, "Lihatlah."
Hinata menerima berkas yang disodorkan Neji dan membacanya. Di berkas tersebut terdapat sebuah foto berukura disertai dengan biodata umum di sana. Iris berwarna lavendernya menatap foto itu lekat-lekat.
Di foto itu tampak seorang pria berumur sekitar 24 tahun dengan setelan resminya. Iris onyxnya yang menatap datar dan ekspresinya yang datar menunjukkan keangkuhan dan kearogannya. Setelan jasnya yang resmi dan rapih menunjukkan kewibawaannya.
Hinata tercenung menatap foto itu. 'Sepetinya aku pernah melihat orang ini, tapi di mana ya?' pikir Hinata, sesekali mengedarkan pandangannya tampak berpikir keras.
"Ehem," suara dehaman menyadarkan Hinata dari lamunannya. Ia menatap sosok yang berdeham yang ternyata adalah Yamato.
"Maaf, sepertinya kami harus pergi sekarang karena masih banyak klien yang harus kami datangi," ujar Yamato membungkukkan tubuhnya sedikit.
Torune mengulurkan tangannya pada Hinata dan Hinata memberikan berkas di tangannya kepada Torune. Torune segera memasukkan berkas itu ke dalam map.
Setelah mereka membereskan berkas-berkas, ajudan Konoha itu beranjak dari sofa menuju pintu depan yang diikuti duo Hyuuga.
"Hinata-san," panggil Yamato.
"Ha'i?"
"Saat tahun ajaran baru, Hinata-san akan mendapatkan seorang supervisor dari sekolah untuk membimbing anda dalam program ini." Hinata mengangguk mengerti.
"Kami permisi dulu," pamit Yamato membungkuk yang diikuti oleh Torune. Hinata dan Neji ikut membungkukkan tubuhnya.
Yamato dan Torune kembali menegakkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan duo Hyuuga yang masih di depan pintu dan mengamati tamunya hingga berbelok ke tikungan. Karena hawa yang mulai dingin, Neji dan Hinata memutuskan masuk ke dalam rumah dan menutup serta mengunci pintu.
Dengan langkah riang Hinata berjalan mendekati meja ruang tamu dan membereskan meja ruang tamu sampai suara menginterupsi kegiatannya.
"Hinata," panggil Neji.
"Ya?"
Neji menatap punggung Hinata dan berjalan mendekati Hinata, 'Apa aku harus memberitahukan hal ini kepada 'mereka'?' batin Neji. "Tidak jadi," jawab Neji ragu-ragu. Hinata melirik Neji yang sekarang ikut membantunya membereskan ruang tamu.
'Ada apa dengan Nii-san? Wajahnya pucat sekali,' pikir Hinata.
.
.
.
Winter, Uzu High School
Konoha, 12 Januari 20XX
08.15
Hinata mengeratkan blazernya dan berjalan menuju kelas. Tak jarang ia mendapatkan sapaan saat perjalanannya menuju kelas.
"Hinataaa!" seru seorang gadis yang berlarian di tengah koridor dan menarik perhatian beberapa siswa. Hinata membalikkan tubuhnya dan bertepatan dengan itu ia mendapatkan pelukan hangat dari gadis bersurai pirang.
Hinata tersenyum tipis dan membalas pelukan gadis itu, "Bagaimana kabarmu Shion-chan?"
Gadis yang bernama Shion itu meregangkan pelukannya, "Baik, Swiss benar-benar menakjubkan~" ujarnya bersemangat. Hinata tersenyum melihat reaksi sahabatnya itu dan melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan ditemani oleh sahabatnya sejak SD.
"Seindah apa dengan Jepang?" tanya Hinata sambil menyingkirkan anak rambut dan meletakkannya di belakang telinga.
Shion tesenyum lebar, "Tentu saja Jepang! Karena ada kau di sini~" ujarnya sambil merangkul pundak Hinata.
Hinata tertawa mendengar perkataan Shion, melihat Hinata yang tertawa, Shion ikut tertawa. Dan mereka tertawa bersama di koridor yang mulai ramai itu.
Shion dan Hinata menghentikan tawanya. Shion menatap blazer Hinata, "Apa kau masih menjadi ketua kelas?" Hinata mengangguk. "Apa kau tidak berniat menyerahkan jabatanmu pada yang lain?"
Hinata menggeleng lesu, "Tidak ada yang tertarik dengan jabatan ini Shion-chan."
"Ah iya aku lupa, tunggu sebentar," kata Shion menghentikan langkahnya dan mulai membuka resleting tasnya. Hinata ikut menghentikan langkahnya dan menatap Shion dengan tatapan penasaran. "Ini dia!" seru Shion mengangkat tinggi-tinggi benda yang ada di tangannya.
Iris Hinata berbinar-binar menatap benda di tangan Shion, "Lindt Chocolate," ujarnya pelan. Shion tersenyum mendapati temannya yang tampak ingin memakan benda yang ada di tangannya.
"Ini oleh-oleh dariku Hinata-chan. anggap saja ini hadiah valentine dan hadiah ulang tahun dariku," ujar Shion tersenyum senang dan menyodorkan sekotak cokllat yang bertuliskan Lindt PETITS DESSERT.
Hinata menerimanya ragu-ragu, ia menatap Shion, "Benarkah?"
Shion mengangguk, "Ha'i. kau sudah bekerja keras menjadi ketua kelas Hinata-chan. anggap saja itu adalah penghargaan atas kerja kerasmu," kata Shion mantap sambil menampakkan senyum terbaiknya di hadapan Hinata.
Hinata ikut tersenyum, ia segera menerjang Shion dan memeluknya erat, "Arigatou Shion-chan,"
Shion yang awalnya terbelalak melihat tingkah Hinata kemudian tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya itu. "Douitta."
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengamati interaksi kedua sahabat karib itu. Seseorang itu menyeringai, "Hinata-chan, ya?"
.
.
.
"Diberitahukan kepada seluruh siswa yang berusia 17 tahun berkumpul di Meeting Room pada jam istirahat. Sekali lagi, diumumkan kepada seluruh siswa yang berusia 17 tahun berkumpul di Meeting Room pada jam istirahat. Terimakasih."
Tidak terdengar lagi suara interkom yang menarik perhatian siswa, mereka kembali memperhatikan guru yang sedang mengajar. Hinata melirik jam tangannya, ia menghela nafas menyadari bahwa tinggal 3 menit lagi bel istirahat akan segera berbunyi.
'Sepertinya aku harus menunda memakan coklat dari Shion-chan,' batin Hinata dan sesekali melirik coklat yang ia simpan di loker meja.
Hinata mengetukkan pensilnya di meja, ia melihat Minato-sensei yang masih mengajar dengan semangat tentang Sejarah. Hinata memutuskan menggambar bundar di bagian pojok kanan bawah kertas yang ada di buku rangkumannya.
Ia tidak bersemangat kali ini. Kesempatannya untuk menikmati coklat yang terkategorikan terenak di dunia pupus sudah. Semangatnya untuk mengikuti pelajaran juga mulai menghilang.
Tet Tet Tet
Bel istirahat pun berbunyi, terdengar helaan nafas lega yang mengisi ruangan kelas itu. Dengan sigap Hinata membereskan barang-barangnya.
"Sekian dari saya. Terimakasih," ujar guru muda itu membereskan alat mengajarnya.
"Terimakasih sensei," ujar siswa kelas 11-4 serempak disertai dnegan bungkukan. Setelah membalas hormat dari para siswa, sensei bersurai pirang itu melenggang pergi meninggalkan kelas.
Hinata segera mengambil notes dan penanya lalu berjalan menuju pintu kelas sampai suara seseorang memanggilnya yang membuat langkahnya terhenti.
"Ne kaichou, bukankah kau akan diberikan penyuluhan tentang MO? Untuk apa membawa notes? Kau tidak menghadiri rapat kelas, kaichou," ujar salah satu pemuda bersurai kecoklatan dengan tato segitiga merah di pipinya.
Hinata menatap sebal pada pemuda itu, "Ini bukan urusanmu Inuzuka-san."
Pemuda yang dipanggil Inuzuka itu bersiul lalu menatap kelas yang masih ramai, "Hei lihatlah! Kaichou kita membawa notes untuk penyuluhan MO!" seru Kiba yang dapat didengar oleh seluruh penjuru kelas.
Semua siswa yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. Hinata hanya menatap datar pemandangan di hadapannya. Hal sepeti ini sudah biasa terjadi, jika hal ini terjadi yang dilakukan Hinata adalah diam dan menunggu mereka selesai tertawa.
Namun dugaannya salah, karena teman-teman sekelasnya bukan menganggap itu sebagai lawakan tetapi malah sebagai bahan olok-olokan. Ia menarik nafas panjang, dan mengambil sebuah benda dari saku blazernya.
Duak!
Brak!
Jeritan kesakitan mulai terdengar. Hinata tersenyum miring yang membuat kelas hening seketika. "Apa yang kubawa bukan urusanmu, Inuzuka-san." Setelah itu, Hinata segera pergi dari kelas yang hening itu.
"Kiba! Apa yang dia lemparkan kepadamu?" tanya seorang pemuda bersurai hitam yang memiliki gaya rambut berbentuk mangkuk.
Kiba mendecih dan mengangkat tangannya seraya menunjukkan benda yang ada di tangannya, "Ia melempar biji buah jeruk, Lee."
Seluruh penghuni kelas itu terkejut mendengar pa yang ditunjukkan oleh Kiba. Pemuda yang dipanggil Lee itu menatap luka di dahi temannya, "Besar sekali tenaganya."
Kiba mengangguk, "Kenapa kita memiliki ketua kelas seperti itu sih? Menyebalkan sekali," ujar Kiba dan menepuk pantatnya yang berdebu karena terpelanting dari tempat duduknya dan berakhir dengan jatuh di lantai karena ulah Hinata.
"Berhentilah berperilaku kekanakan. Jika kau menyukainya, kau tidak perlu mengejeknya Kiba," ujar seseorang bersurai cokelat dengan kacamata yang membingkai matanya.
Kiba mendengus kesal dengan semburat tipis berwarna merah di pipinya. Pemuda bermarga Inuzuka itu segera pergi meninggalkan kelas dengen menahan malu.
.
.
.
Meeting Room
"Kalian dikumpulkan di sini untuk mendapatkan detail-detail tentang program pemerintah yaitu MO. Sebagaimana yang kita ketahui, MO merupakan sebuah system yang dibuat pemerintah untuk memajukan kualitas hidup para generasi penerus bangsa di Jepang. Dan ini membuat kalian semua terikat dalam sebuah ikatan pernikahan dengan pasangan kalian," ujar Hiruzen Sarutobi selaku kepala sekolah di Uzu High School.
Mendengar penjelasan dari sang kepala sekolah, murid-murid yang berkumpul di meeting room mengeluarkan berbagai ekspresi dan komentar yang membuat Meeting Room yang semula hening menjadi ramai.
Pikiran negatif mulai menghampiri para siswa laki-laki. Mereka menganggap dengan terjalinnya sebuah ikatan pernikahan itu berarti mereka berhak melakukan apa saja terhadap pasangannya. Hinata yang mendengar para siswa laki-laki yang sibuk dengan perbuatan kotor yang akan mereka lakukan hanya bisa menghela nafas.
"Diamlah kalian!" bentak Tsunade selaku penjaga perpustakaan dan guru biologi. Beruntung, dengan adanya Tsunade, situasi di meeting room dapat terkendali. Begitu mendengar bentakan dari Tsunade, siswa laki-laki mulai diam dan suasana kembali hening.
Suara dehaman sang kepala sekolah kembali menarik perhatian siswa, kecuali Hinata yang sibuk membaca catatan di notesnya. "Ikatan pernikahan bukan berarti kalian bisa bertindak seenaknya dan melakukan perbuatan di atas umur 20-an. Bagaimanapun juga, kalian masih terkategorikan sebagai…"
Hinata yang sibuk membaca notesnya tidak mendengarkan penjelasan sang kepala sekolah. Entah kenapa ia merasa sangat beruntung, ia sudah menyiapkan rangkuman tentang pelajaran kimia di notes kecilnya untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi dan ia tidak akan ketinggalan pelajaran. Bibirnya sesekali berkomat-kamit membacakan tulisan-tulisan di notesnya dengan nada pelan.
"Hei," panggil seseorang menepuk pelan bahunya yang membuatnya menghentikan kegiatan belajarnya. Hinata menoleh dan menatap sang pelaku.
Hinata memiringkan kepalanya sedikit, "Ya?"
"Siapa supervisormu?"tanya pemuda itu.
Hinata mengerutkan dahi, pemuda yang ada di sampingnya menghela nafas, "Kau tidak membaca kertas yang berada di hadapanmu?" tanya pemuda itu lagi.
Hinata segera menolehkan kepala, memastikan keberadaan kertas yang dimaksud. "Sejak kapan ini dibagikan?" tanya Hinata, irisnya bergerak kesana kemari membaca isi dari kertas tersebut dan sejenak melupakan notesnya.
"Sejak 3 menit yang lalu. Siapa supervisormu?" tanya pemuda itu penasaran saat ia melihat iris Hinata melebar tanda terkejut.
"I-itu "
"Dengan keberadaan supervisor, perbuatan kalian akan diawasi karena pemerintah juga tidak bisa hanya mengawasi kalian saja. Dan juga bagi siswa yang mengikuti program MO ini hanya mengikuti 4 jam pelajaran di hari Jum'at," ujar Darui selaku ajudan Konoha.
Kurenai, selaku Humas di sekolah Uzu berdeham, "Hari Jum'at adalah hari keluarga, hari dimana kalian dapat menjalani kehidupan rumah tangga kalian. Dan tentu saja kalian masih dibawah pengawasan supervisor. Dengan demikian, pada hari Jum'at kalian akan pulang pada jam 12.45 keterangan lebih lanjut, bisa kalian tanyakan pada supervisor kalian. Sekian."
Sorak sorai membahana mengisi Meeting Room yang luas itu. Wajah bahagia dan senang terpatri di masing-masing murid yang menghadiri perkumpulan pada hari itu, termasuk dengan pemuda yang berada di samping Hinata.
Pemuda bersurai pirang itu bersorak paling keras daripada murid-murid lainnya, berbeda dengan Hinata dan seseorang yang berada di pojok ruangan yang masih diam terpaku.
Seseorang yang berada di pojok ruangan itu menatap Hinata lapar, "Hyuuga, kau akan menjadi milikku," desisnya dengan suara rendah.
Sedangkan Hinata menatap kosong pada meja di depannya. Tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya saat mendengar pengumuman dari sang Humas. Mungkin hanya dirinya yang tidak merasa bahagia pada pengumuman yang disampaikan oleh Humas.
.
.
.
Setelah keluar dari Meeting Room, Hinata menghentakkan-hentakkan kakinya kesal yang menjadi salah satu bentuk kekecewaannya pada pengumuman yang didengarnya.
Hari Jum'at adalah hari favoritnya. Hari dimana terdapat beberapa pelajaran favoritnya yaitu fisika, dan biologi, serta bahasa. Di hari itu juga, ia mengikuti kegiatan klub kesukaannya yaitu klub lukis yang diketuai oleh senpainya yang akan lulus yaitu Sai-senpai.
Dan di hari itu, ia hanya bersekolah selama 4 jam yang berarti ia tidak mengikuti salah satu pelajaran favoritnya. Jika bisa, ia ingin umurnya dipalsukan atau lahir telat agar ia waktu belajarnya di sekolah tidak dipotong.
Ia yang sedang sibuk mengumpat dalam hati dan banyak pikiran tidak menyadari segerombolan manusia di depannya. Karena menunduk dan tidak melihat jalan dengan benar, ia malah menabrak segerombolan manusia itu.
"Aw," rintihnya pelan sambil menggosok-gosokkan dahinya pelan. Mendengar rintihan Hinata, beberapa dari mereka membalikkan badan dan melihat dalang yang membuat rintihan itu.
"Eh, kaichou?" tanya mereka memastikan.
Hinata terkejut mendengar oran itu memanggilnya kaichou, ia melupakan sejenak rasa sakit di dahinya dan mendongak, menatap para segerombolan manusia di hadapannya. "Apa kalian mengenalku?"
Mereka mengangguk bersamaan, salah satu dari mereka angkat bicara, "Kelas kita bersebelahan kaichou, dan rumor tentangmu juga tersebar."
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu ya?"
"Mungkin karena kau terlalu banyak belajar," komentar gadis berambut merah panjang.
Gadis yang berada di samping gadis berambut merah membelalakkan matanya menyadari temannya yang asal berkomentar, "Karin!" desisnya di telinga sang teman, gadis itu kembali menatap Hinata dan tersenyum, "Namaku Saara, yoroshiku."
"Oh, yoroshiku," ujar Hinata dan membungkukkan badannya pelan lalu menegakkannya kembali. "Tidak seharusnya kau memanggilku kaichou, karena aku bukan kaichoumu."
Sontak mereka menunduk sedih, "Kami tahu," ujar salah satu dari mereka yang bernama Amaru.
Hinata yang memang tidak terlalu peka dengan keadaan berkata dengan nada polos, "Jika kalian tahu, kenapa kalian memanggilku kaichou. Kalian juga memiliki kaichou, kenapa malah mengakui kaichou kelas lain?"
Tayuya, gadis yang berada di belakang Amaru angkat bicara, "Kaichou kita mesum dan tidak bertanggung jawab dengan anggota kelasnya. Hyuuga-san adalah kaichou idaman kami, kami menganggapmu kaichou di kelas kami."
Hinata hanya bergumam cuek lalu berkata, "Baiklah, itu terserah kalian. Kalau begitu aku pergi dulu, jaa~" ujar Hinata melenggang pergi meninggalkan gerombolan gadis yang sempat ditabraknya.
Ia menghentikan langkahnya yang keempat karena ada suara yang menginterupsi. "Tunggu Hyuuga-san!" seru Karin, Hinata berbalik dan menatap mereka bingung.
"Ada apa?"
Mereka saling berpandangan satu sama lain, mengirimkan kode apakah harus mengatakannya atau tidak dan akhirnya tercetuslah sebuah keputusan.
"Hyuu "
"Hyuuga-san, kami membutuhkan bantuanmu," pinta Karin yang menyela pembicaraan Saara.
"Bantuan?" gumam Hinata pelan yang dapat didengar oleh mereka berempat.
"Ya bantuan. Onegai!" seru Karin sambil membungkukkan tubuhnya.
.
.
.
TBC
Sistem MO juga sudah dijelaskan di sini. Saya berharap, minna-san tidak bingung lagi dengan sistem MO, dan MO itu menurutku tidak ada. Hanya khayalan author + ceramah guru + inspirasi dari komik Koi to Uso (akhirnya inget juga nama komiknya) = Marriage Online
Walaupun ada yang memberi saran untuk mengganti genrenya menjadi humor, saya agak ragu untuk mengubahnya, karena takut membuat fic ini jadi humor yang garing.
Terimakasih atas segala bentuk apresiasi minna kepada saya lewat review, fav, dan follow fic ini serta fav dan follow saya. Jujur aku tidak menyangka review dan favenya akan sebanyak itu. Terimakasih banyak minna yang membuat saya terharu.
Doain saya sukses Ujian Kenaikan Kelas ya~ sekian dan Sampai Jumpa!
