Don't look back
.
.
.
by Galang
.
.
Main chara:
U.Sasuke
U.Naruto
H.Sakura
H.Hinata
.
Genre:Suspense,Horror.
.
Disc:M.Khisimoto
Chapter 2 : How?
Sebuah mobil bus sedang berhenti di tepian jalan. Mobil bus yang berwarna Hijau tua itu menurunkan Tiga orang penumpang. Ketiga penumpang yang baru saja turun dari bus itu segera mengatur barang-barang mereka. Menyangkut tujuan mereka sudah sampai.
Bus itu kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Setelah sang supir sudah menurunkan penumpangnya di tempat tujuan. Tak lupa membunyikan klakson sebagai tanda akan pergi. Seseorang yang diturunkan tadi hanya melambaikan tangannya ke kiri dan kanan.
Tiga remaja, dua laki-laki dan satu perempuan.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki, memasuki jalan setapak yang di antaranya berjejer pohon-pohon rimbun.
Cuaca yang cukup panas dari terik matahari membuat gadis barambut merah muda itu agak mengeluh.
"Kenapa tadi tak bawa payung yah?" keluhnya sembari mengangkat pergelangan tangannya kejidatnya.
Serasa capeknya belum hilang sebab melakukan perjalanan jauh dari kota sampai ke tempatnya sekarang ini. Dirinya berada paling depan, seakan dirinya lah sebagai pemimpin jalanan.
Sedikit-sedikit ia menengok kebelakang untuk memperhatikan ke dua pria yang berbeda warna rambut itu. Satunya berambut kuning yang terlihat sedang bersemangat.Lihat saja dia tak tampak capek meskipun dipunggungnya ada tas ransel yang berat. Sementara disamping kanan pria berambut kuning itu, seorang lagi berjalan santai. Entah raut wajahnya sedang memikirkan sesuatu.Rambut hitamnya yang agak panjang bergerak bebas mengikuti arah angin.
"Hey kalian berdua" ucapnya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Otomatis keduanya juga menghentikan langkahnya.
Gadis itu berbalik, ia melepaskan jaket hitamnya dan kini tinggal kaos lengan pendek berwarna putih.
"Apa kalian tak kasihan melihatku membawa tas yang besar ini? " ucapnya sambil menunjuk tas yang cukup besar. terpaksa ia jatuhkan ke tanah.Masalahnya dirinya sudah tak cukup kuat membawa tas itu.
Sementara kedua pemuda itu hanya menatap bosan temannya.
"Hey Sakura, kau terlalu banyak bawa barang, itu sampai menyusahkanmu tau" kata temannya yang berambut kuning pada Gadis yang ternyata namanya adalah Sakura.
"Aku ini perempuan, jadi wajar membawa perlengkapan banyak, tidak seperti kalian yang mempunyai kebutuhan sedikit" jelas Sakura sambil mengikatkan kedua lengan jaketnya dipinggang.
"Sakura, apa kau tahu? kita ini tidak mau rekreasi atau semacamnya, pikirku saja rasanya kita cukup bawa yang dibutuhkan saja" balas temannya lagi yang berambut kuning.
"Naruto, laki-laki dan perempuan itu beda, jadi kau mana bisa mengerti" Sakura merogoh kantong celana jeansnya mencoba mencari sesuatu.
Sementara anak laki-laki berambut kuning yang bernama Naruto hanya pasrah dengan penjelasan gadis didepannya itu.
"Hey teme, bukannya kau yang mengusulkan perjalanan ini hah? jadi kau saja yang membawa tasnya Sakura" perintahnya dengan tampang lesuh pada temannya yang disamping.
"Hn baiklah, lagi pula tasku juga tak terlalu berat" ucap teman Naruto dan kemudian mengambil tas Sakura.
"Hmm Sasuke disini tak ada signal, atau ponselku yang bermasalah? coba lihat ponsel kalian" ucap Sakura pada temannya yang barusan mengambil tasnya, tentu saja itu juga ditujukan pada Naruto.
Orang yang dipanggil Sasuke juga mengecek ponselnya. Begitupun Naruto, tapi sama saja semuanya tak ada signal.
Sasuke memasukkan ponselnya kedalam saku celana hitamnya. Sambil menenteng tas Sakura, ia melirik pada Naruto. Naruto yang diperhatikan kini memberikan senyuman pada temannya itu, seakan menjawab tatapan sasuke.
Sasuke beralih menatap Sakura yang sedang mengangkat tangan kanannya sambil memegang ponsel, bermaksud untuk mencari signal.
Sakura menghentikan aktifitasnya. Ia juga menatap balik Sasuke kemudian berkata.
"Sungguh, tak apa Sasuke, aku dan Naruto ikut denganmu karna keinginan kami, bukan paksaanmu, jadi jangan merasa tak enak" kata Sakura sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Sasuke hanya diam, tak bisa berkata apa-apa. Jujur saja ia tak merasa enak pada dua rekannya ini. Sakura dan Naruto adalah sahabat Sasuke dari kecil hingga sekarang mereka terus bersama. keduanya tahu jika Sasuke itu menyukai hal yang mistis. dan disinilah mereka sekarang, di sebuah tempat yang entah apa namanya.
berbekal pengetahuan dari sang supir yang barusan mereka tumpangi bisnya.
Jika ditanya apa alasan mereka kemari. entah Naruto ataupun Sakura tak punya jawaban itu. Tapi Sasuke lah yang jadi alasan mereka kemari. mereka berdua hanya mengikuti Sasuke. Mereka juga berpikir ini sebagai liburan mereka setelah melewati ujian final dikampus yang membuat mereka suntuk. Lain halnya Sasuke, dirinya hanya ingin melihat seperti apa desa itu. mengenai Desa tersebut, ia hanya mendengarkan dari penuturan beberapa orang yang sempat ia tanyai. Rasa penasaranpun menggelitiknya untuk mendatangi Desa itu. yah desa yang dikenal sangat angker, bahkan tak sekalipun ada di peta. Desa Kyaro.
"Hey ayo cepat kita berangkat, kata pak supir tadi lurus saja kan? hanya melintasi jalan ini, kita pasti sampai ke Desa itu" ucap Naruto.
"Hmm iya, setelah nanti kita buat tenda disana" kata Sasuke sambil berjalan melewati Naruto dan Sakura, ia berinsiatif untuk memipin jalan.
Ketiganya pun kini melanjutkan perjalanan mereka. Melewati jalan setapak yang beriringan dengan deretan pohon juga semak-semak diantaranya. Beberapa pohon itu ada yang tumbang, dalam pikiran mereka mungkin itu ulah penebang kayu.
Diperjalanan juga tak luput dari suara cicitan burung-burung yang hinggap didahan pohon. Naruto yang kini sejajar berjalan bersama Sakura terlihat menguap, sementara Sakura tak henti-hentinya memandang keadaan sekitar.
Sasuke dan Naruto terkesan Santai.lihat saja pakaian mereka. Sasuke memakai kaos Hitam polos dan menggendong tas ransel krem dipunggungnya, celana puntung berwarna hitam jadi serasi dipadukan dengan bajunya, sepatu sport berwarna putih dan bercorak hitam semakin lengkap stelannya kini.
sedangkan Naruto, ia memakai kaos Orange yang didepannya bergambar sebuah lingkaran berwarna putih, ia juga mengenakan celana puntung hitam dan sepatu sport putih.
Ketiganya terus berjalan. Sesekali Naruto mengeluarkan candaannya yang membuat Sakura dan Sasuke terhibur. Kadang juga menceritakan beberapa kegiatannya di kampus. Biasa Sakura gantian bercerita. banyak hal yang ia lalui selama ia bersahabat dengan Naruto dan Sasuke. Sementar Sasuke hanya diam, ia hanya jadi pendengar baik untuk kedua sahabatnya itu.
Semakin jauh jalan mereka, semakin berubah pula tempat yang mereka lewati. Kini mereka seperti berada disebuah Hutan.Jalan setapak yang membawa arah itu perlahan-lahan mulai hilang. Mereka juga melewati beberapa batu yang cukup besar dan juga terlihat beberapa ukiran aneh di batu itu, kesannya sangat menyeramkan. Sakura yang tadi semangat berceloteh kini terdiam, ia mendekatkan dirinya pada Sasuke. Sakura sadar jika perjalanan mereka akan seperti ini. tapi ini kemauannya yang bersih keras untuk ikut.
Terdengar suara gagak menggema di hutan itu. Yang terlihat dipandangan mereka kini hanya pepohonan yang menjulang tinggi. Beberapa pohon itu diikat dengan tali shimewa. Naruto sedikit bergidik jika memandang pohon-pohon itu. mereka seperti di awasi oleh Pohon-pohon yang cuma diam ditempat itu. Suasana seakan berubah. Kini mereka bertiga mulai diam dalam sunyi, dan hanya terdengar suara langkah mereka yang melangkah, menginjak dedauanan kering yang gugur dari pohon-pohon itu. Batu-batu dengan ukiran aneh itu seperti menyembunyikan sebuah makna. Tak ada lagi suara kicauan burung yang indah. Keadaan sekitar mendung karena sinar matahari dihalau oleh rimbunnya pohon-pohon itu. Sehingga menambah kesan yang mencekam di hutan itu.
Tak ada yang mau mengeluarkan suara. Mereka bertiga masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Bayangan-bayangan dari berbagai kepala mereka serasa semakin mendukung situasi saat ini. Perasaan takut yang menguasai isi pikiran yang membuat kita tak bisa berpikir positif lagi. apa yang biasa dipikirkan itu? dalam diam coba melawan pikiran itu, bayangan akan sosok yang akan tiba-tiba muncul. Atau sebuah suara yang mungkin akan terdengar samar ditelinga,suara geraman atau suara tangisan. Beberapa kali coba membuang pikiran itu agar tak mengganggu keadaan mental. Tapi percuma saja.
Bayang-bayang itu tetap akan terpikirkan jika suasana yang sekarang seperti ini.
Sasuke memang merasa cukup aneh dengan keadaan sekitar. Dirinya berpikir ini masih siang. Tapi kenapa suasana sudah menjadi tak enak seperti ini. tapi semakin ia cuek karena ini semua hanyalah permainan pikiran yang semakin menjadi-jadi. apalagi saat panik, segala persepsi atau terkaan serasa menjadi nyata. Dirinya coba berhenti sejenak dari perjalanan, dan kedua temannya yang dibelakang juga berhenti. Sasuke menengokkan kepalanya kebelakang untuk melihat dua sahabatnya itu.
Keduanya memasang senyum. Sampai sasuke pun ikut tersenyum. Ia rasa semua baik-baik saja. senyuman yang ia berikan pada dua temannya dibelakang adalah untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. tapi ia tak memungkiri jika kedua temannya itu tengah menahan ketakutan, terlihat dari wajah pucat mereka. Sasuke membalikkan lagi kepalanya menghadap depan.
Sebuah tangan memegang pundak Sasuke dari belakang. Ia tahu jika itu adalah tangan Sakura. ia memegang tangan yang ada dipundaknya itu. yah benar saja tebakannya jika itu tangan Sakura. Terasa dari jari-jemari kecilnya yang halus. ia tahu maksud Sakura. Mungkin agar dirinya tak usah merasa tak enak hati sudah membawa mereka untuk melakukan perjalanan konyol ini. Sasuke sedikit tersenyum, ia masih memegang tangan yang bertengger dipundaknya itu. Dalam hati ia bersyukur memiliki teman seperti Naruto dan Sakura. Seseorang melangkah mendahuluinuya, dan itu adalah Naruto. Masih memegang tangan dipundaknya, ia coba berbalik kebelakang.tapi sebelum ia berbalik, Sakura sudah mendahuluinya dan berjalan bersama Naruto.
Sasuke terdiam, nafasnya tercekat. Dirinya yang tadi berniat berbalik kebelakang tiba-tiba ia urungkan. Karena ia masih memegang tangan yang berada dipundaknya itu.Sementara kedua temannya sudah berada jelas didepan matanya. Lantas siapa dibelakangnya?...
Ia lepaskan pegangan itu. Dengan cepat ia kumpulkan keberaniannya.dan ia langsung memutar badannya untuk melihat siapa dibelakangnya...
Nihil... tak ada apapun selain Pohon-pohon. Pandangannya menerawang kesana-kemari, bulu romanya kini terasa dan keringat dingin mulai membasahi dahinnnya.
"Sasuke? oy kenapa diam" itu suara Naruto yang memanggilnya.
Sasuke menatap dua sahabatnya itu. Mencoba mencari kepastian jika mereka melihat sesuatu. Tapi nihil, pancaran mata kedua sahabatnya itu seakan biasa saja dan tak terjadi apapun. Dia mencoba mengacuhkan apa yang terjadi barusan.
Ia melanjutkan perjalanannya. mereka bertiga masih terdiam dalam keheningan itu. tak ada yang berbicara, hanya suara langkah mereka yang terdengar.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini sampailah mereka bertiga di sebuah gerbang yang nampak tua. Gerbang yang masing-masing telah berdiri sebuah palang dan disampingnya terdapat pagar beton yang sepertinya menutup apa yang di sembunyikan didalamnya.Terlihat tua, termakan usia, lihat saja dinding-dinding yang sudah menghitam seperti terbakar. Sebagian catnya mengelupas, ditumbuhi akar-akar pohon yang menyelimuti dinding itu. Sementara kayu palang yang ada dua masing-masing di sisi kiri dan kanan tampak telah lapuk. Disampingnya terdapat sebuah papan nama yang berdiri dengan bantuan sebatang kayu yang juga usang. Dipapan itu tertulis. Kyaro town.
"Sepertinya kita sudah sampai teman-teman" ucap Naruto entah pada siapa.
Sasuke mengamatinya, raut wajahnya terlihat biasa saja saat memperhatikan gerbang itu. Memang terlihat tua dan juga tercium bau dedaunan yang kering.
Sementara Sakura hanya diam. dirinya tampak sedikit takut tatkala memandang gerbang itu. Ia Menelan ludahnya saat melihat tulisan di papan tepat samping kiri mereka.
KYARO TOWN
Mereka bertiga memasuki gerbang itu dengan perasaan was-was. Sasuke coba melihat apa didalamnya. dan jelas terlihat beberapa rumah kuno berderetan. Rumah yang sudah tak layak dihuni, tak ada yang rawat. Sambil memperhatikan rumah-rumah itu, mereka juga mencoba menyentuh dinding rumah yang sudah lapuk itu. Tak ada kehidupan disini. Hanya kesunyian dan kehampaan saat mereka merasakan aura dari desa tersebut.
"Sasuke apa disini ada orang yah?" kata Naruto mencoba memecah keheningan yang ada.Dirinya sendiri cukup tak enak memandang rumah-rumah itu.
"Dari yang kudengar, tak satupun ada yang tinggal disini" Ucap Sasuke yang menghentikan kegiatannya meraba-raba dinding rumah itu. kemudian beralih menatap kedua temannya.
Sakura nampak diam saja. mati-matian ia coba menahan rasa takutnya. dirinya pucat seakan tak mau tahu apa yang terjadi pada desa ini.
"Yang kudengar dari cerita orang. disini pernah terjadi pembunuhan massal. semua warga mati mengenaskan dan entahlah apakah rumor tentang kutukan iblis itu ada benarnya" jelas Sasuke
Kedua sahabatnya memperlihatkan gelagat yang berbeda saat mendengar cerita itu. Sakura jelas sekali terlihat ketakutan dari raut wajahnya. Sementara Naruto hanya diam menantikan cerita lanjutan dari Sasuke.
"Konon katanya, disini sering sekali terjadi penampakkan, tapi aku kurang yakin karena hal itu hanya kudengar dari cerita orang. tapi yang menjadi inti dari pembunuhan ini adalah... " Sasuke menggantung kalimatnya. ia menatap kedua temannya untuk mendapat izin melanjutkan ceritanya.
Sakura diam, ia mendekatkan dirinya pada Naruto. Sementara Naruto masih menatap Sasuke yang ada didepannya, kemudian ia menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Sosok hantu perempuan yang bersarang di sebuah cermin tua. percaya atau tidaknya gosip ini, tapi entah kenapa aku sangat penasaran ingin menyelidikinya".
Mereka bertiga kembali terdiam. sementara Sakura cukup takut mengeluarkan suara. pandangannya sedikit menerawang ditiap sudut desa yang terdapat sebuah kolam yang sudah menghitam airnya. pikirannya menerka-nerka apa yang ada didalam kolam itu? apakah tengkorak manusia?.
Angin berhembus seakan menerpa tubuh mereka.Sensasi dingin terasa menusuk dikulit. tak sadar jika ini sudah sore.
Desa ini tampak tersembunyi dari dunia luar. Eksistensinya terhalau pada sebuah hutan yang seakan menyelimuti desa ini. Desa yang sudah ditinggali zaman yang semakin modern, desa yang sudah tak terjamah oleh sentuhan Manusia, desa yang juga telah dihapus keberadaannya karena menyimpan segala misteri atau urban legend di riwayatnya.
"Hari sudah sore, sebaiknya kita mencoba mengelilingi desa ini. mungkin masih ada tempat yang layak kita singgahi" usul Sasuke pada kedua temannya. Keduanya menurut saja. Mereka mempercayakan perjalanan ini pada Sasuke.
Mereka mengambil jalan di antara rerumahan tua itu. Suara derap langkah yang menginjak tanah yang sedikit becek menyulitkan langkah mereka. Terlihat dari masing-masing sepatu mereka yang ditempeli lumpur. Ketika melewati jejeran rumah yang ada di sisi kiri dan kanan. mereka menemukan tangga yang lebarnya cukup luas. Mereka menuruni tangga itu dan terus berjalan.
Sampai pada saatnya mereka menemukan sebuah rumah. Rumah yang keberadaannya lain diantara rumah tua itu. meskipun rumah itu nampak tua, tapi entah kenapa rumah itu tampak beda dipandangan mereka.
Mereka menghampiri rumah itu...
.
.
.
.
.
TOK TOK...
"Apakah ada orang didalam? " ucap Naruto sambil mengetuk pintu rumah itu.
Sasuke mengamati rumah itu. meskipun tak mungkin ada orang di dalam rumah ini. apa salahnya untuk mencoba.
"Permisi... "
Tak ada jawaban dari dalam rumah itu sehingga mereka menyudahi mengetuk pintu tersebut.
"Memang tak ada orang disini" kata Sasuke. dirinya mencoba memegang gagang pintu itu, mencoba untuk membukanya.
Ceklek...
Terkunci.
"Sudahlah sebaiknya kita pikirkan bagaimana caranya kita menginap"
kata Naruto berniat pergi dari situ. tapi sebelum Naruto berniat melangkahkan kaki dari situ Sasuke langsung mencegatnya dan berkata:
"lihat alas kaki itu, sendal itu tampak masih baru" ucap Sasuke. Dibawah pintu itu tepat didepannya ada sebuah alas kaki yang dibagiannya terdapat lumpur yang sebagiannya sudah mengering, sementara bagian lain masih basah. Sasuke menerka bahwa sendal ini baru habis digunakan semalam. jelas nampak pijakan kaki yang tercetak disitu.
"Pasti didalam ada orang" ucap Sasuke berpikir sambil memegang dagunya.
Sekali lagi mereka mengetuk pintu itu.
.
.
.
.
.
.
Hinata pov
Aku mendengarkan percakapan mereka. mereka belum juga beranjak dari situ. kudengar suara ketukan semakin keras. aku berpikir mungkin arwah itu ingin mengelabuiku dengan cara seperti ini. agar aku percaya dan membuka pintunya.
Tapi sedikit prasaanku yakin jika itu adalah manusia. Aku merasakan hawa dari balik pintu itu seperti aura yang baru. aku bingung harus bersikap seperti apa saat ini.
"Jika ada orang coba ketuk pintu ini dari dalam"
Terdengar suara berat yang lembut itu. aku berpikir ingin mengikuti intruksinya. Tapi entahlah, tersirat juga keraguan dalam diriku untuk mengikutinya. dan kuputuskan untuk diam saja.
End Hinata pov
.
.
.
.
.
Sasuke menghela Nafas karna tak kunjung mendapat balasan, entah berapa kali sudah ia mengetuk pintu itu. Sementara kedua temannya yakni Sakura dan Naruto tetap diam. Sakura yang saat ini sedang memegang lengannya. dapat ia rasakan kuku Sakura menancap pada kulitnya. rasanya perih juga, mungkin temannya itu mengisyaratkan untuk beranjak dari situ.
Habis sudah kesabarannya.
"Baiklah kita pergi, mungkin memang tak ada orang" dimulut ia berkata seperti itu. Tapi entah kenapa prasaannya mengatakan bahwa didalam ada orang.
Mereka bertiga beranjak dari situ. mungkin mereka akan membuat tenda agar bisa beristrahat malam ini. Sementara hari sudah semakin sore. mungkin beberapa menit akan menjelang malam.
TOK...
Belum jauh dari rumah itu. Terdengar suara ketukkan dari dalam. Mereka bertiga kemudian berbalik lagi menuju rumah itu.
Sasuke kembali mengetuknya beberapa kali agar yang didalam mendengarnya.
"Hey apakah kau mendengar kami?" ucapnya agak keras sambil mengetuk pintu.
"Tolong buka pintunya" Ini Naruto yang bersuara.
"Jika kau mendengar kami, ketuk dua kali pintu ini" kata Sasuke lagi memberi kode orang yang didalam.
Tok tok...
Dua ketukan berasal dari dalam. Sasuke dan temannya sontak terkejut. berarti didalam ada seseorang. mereka terus mengetuk pintu itu.
"Bisakah kau membuka pintumu? kami permisi mau menginap malam ini kalau bisa" Kata Sasuke berharap orang yang didalam itu mau membuka pintunya.
Tak ada reaksi apapun, hanya keheningan. Sasuke habis kesabarannya. ia berpikir mungkin orang itu takut pada mereka.
"kami datang dengan baik-baik. kami dari kota, jika tak keberatan bolehkah kami menginap di rumahmu, hari sudah malam kami tak tahu harus kemana" Sasuke menunggu reaksi dari dalam.
Sementara Naruto sudah terlihat kesal.
Tak ada jawaban. Sasuke menghela napasnya. mungkin orang ini harus diberi kepercayaan dulu.
"Apa kau laki-laki? jika ia ketuk pintu 2 kali. jika tidak ketuk pintu sekali" Sasuke mencoba berkomunikasi lewat ketukkan pintu itu.
Lama terdiam, tak kunjung mendengar suara ketukkan. Mungkin orang itu benar-benar tak mau mengikuti apa yang ia perintahkan.
"sudahlah Sasuke, ini sudah mau malam. sebaiknya kita bergegas" Sakura berkata dan berusaha mengajak Sasuke.
Tok...
Seketika itu mereka kembali penasaran. berarti orang didalam adalah perempuan.
"Nona anda tak perlu takut, kami memang bertiga. tapi salah satu dari kami ada perempuan juga. kami tak tahu harus bersinggah dimana, kau bisa mempercayai kami" bujuk Sasuke pada orang yang ia tak kenal itu. tapi tanda ketukkan tadi membuat ia tahu jika didalam itu adalah seorang perempuan.
"Hmm begini... berapa usiamu? maaf menanyakan ini, ketuklah pintu ini sebanyak usiamu. jika kau tak mau tak apa-apa. kami akan pergi" tawar Sasuke sekali lagi.
Terdengarlah suara ketukkan dari dalam, dalam hati Sasuke menghitung setiap ketukkan itu begitupula dengan Naruto dan Sakura.
terdengar ketukkan 19 kali.
"Ah 19 yah, kau seumuran dengan kami. percayalah kami tak berniat jahat, kami hanya ingin menumpang malam ini saja" katanya kali ini, tersirat sebuah keyakinan yang ia berikan pada orang yang didalam rumah itu.
Menunggu dan menunggu untuk kepastian yang tak jelas. Membuat kesabarannya di uji kali ini saat menunggu sang pintu terbuka. Sakura tak ikut andil dalam hal ini. Dia merasa bahwa ini semua sia-sia. Apa yang dikatakan Sasuke barusan tak kunjung membuat sang pemilik rumah mau membuka pintunya.
"Hmm sudahlah Sasuke, sepertinya kita memang harus mencari tempat lain" ucap Naruto kali ini. Mencoba menyadarkan temannya itu untuk berhenti melakukan sesuatu yang sia-sia.
Sasuke hanya diam. ia membenarkan perkataan Naruto kali ini. tapi entah kenapa ia sangat penasaran dengan pemilik rumah itu. Tapi kali ini sudah cukup rasanya, lelah, dan tak ada hasilnya.
Mereka bertiga beranjak pergi dari rumah itu. Karna mereka tak mungkin mengharapkan orang itu mau membuka pintunya. Dirinya juga harus memikirkan teman-temannya apalagi Sakura, mungkin Sakura sudah lelah dan butuh istrahat.
Mereka bertiga berhenti tak jauh dari rumah tersebut. Mencoba membuat tenda sementara Naruto mengambil kayu-kayu yang ada disekitarnya. Mencoba mengumpulkannya agar dapat dibakar nanti dan bisa menghangatkan mereka.
.
.
.
.
.
.
Hinata mendengarkan suara orang-orang itu. ia sedikit merasa bersalah. seharusnya ia membuka pintunya dan membiarkan mereka masuk. Tapi Hinata saat ini sangat tak bisa mempercayai apa yang ada diluar. Bisa saja itu ulah iblis yang mencoba mengganggunya. Tak mungkin ada orang yang berkeliaran disini selain dirinya.
Entah mengapa dirinya harus memastikan esok hari untuk mengecek orang itu. jika memang mereka masih ada berarti mereka adalah manusia. tapi jika sebaliknya berarti itu hanyalah sebuah ilusi.
Hinata sedikit mengingat peristiwa yang lalu saat ia hampir ditipu oleh ilusi iblis itu. Saat itu ia mencoba mencari sayur ataupun sesuatu yang bisa dimakan. Ya Hinata selama ini hidup sendiri. semua keluarganya tewas saat kejadian itu. dimana semua warga saling membunuh satu sama lain akibat kerasukan roh jahat.
Hanya dirinya yang selamat karena rumahnya sudah dikelilingi air suci yang disiram neneknya dulu. sebab itu hantu maupun iblis tak akan bisa menganggunya jika ia didalam rumah.
Kenapa sampai ayah dan ibunya tewas?.
Itu karena saat itu orang tuanya berada diluar rumah. Ia bersama neneknya dan adiknya berada di rumah. mereka memang tak menyaksikan langsung tragedi itu. Tapi mereka mendengarnya...
Ya mereka mendengarkan teriakan warga yang saling membunuh itu. Teriakan yang sangat menyayat hati, suara jeritan meminta ampun,suara tangisan menahan sakit. Semuanya menjadi satu. Hanya dengan mendengar teriakan itu dirinya pun dapat merasakan kekacauan yang sedang terjadi diluar pada waktu itu.
Ingatan itu kembali teringat lagi. Kenangan yang mungkin tak bisa ia hilangkan dalam memorinya dan membuat luka yang teramat sakit dihatinya.
Saat usai kekacauan itu, mereka mencoba melihat keadaan diluar. sontak mereka terkejut akan pemandangan yang tersaji didepan mereka. Banyat mayat yang berbaring ditanah. bau anyir seakan menusuk hidung mereka. Tubuh-tubuh yang tak lagi utuh dan beberapa benda tajam seperti, kapak, pisau, dan sebagainya berhamburan ditempat itu.
Genangan darah seakan menutup tanah itu. bagaikan kolam darah dan beberapa bagian tubuh terpampang sangat jelas di mata mereka.
Rasa mual saat memandangnya karena organ-organ tubuh seperti otak, ginjal,dan usus berserakan ditmpat itu.
Tempat itu bagaikan lautan darah dengan dipenuhi mayat-mayat.
Hinata kembali tersadar. ia memejamkan matanya berusaha membuang jauh ingatan itu. tragedi yang membuatnya sampai terjebak di desa ini dan tak bisa keluar.
Tapi itupun percuma. ia tetap saja mengingat kejadian itu di tiap harinya. Apalagi saat ia, neneknya dan adiknya coba melarikan diri dari desa ini. Namun sia-sia. Jalan keluar dari desa ini seperti tak ada dan tiba-tiba saja seluruhnya menjadi gelap gulita. Entah kenapa tiba-tiba menjadi malam. Tak ada lagi cahaya matahari, terang, kini semuanya terselimuti oleh kegelapan. Dan saat itulah ia harus kehilangan nenek beserta adiknya. Samar-samar waktu itu ia melihat seorang wanita berwajah setan menangkap nenek dan adiknya. ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Mencoba kembali ke desa dan berharap masih ada orang yang hidup.
Tapi sesuatu yang membuatnya terkejut saat kembali didesa adalah...
Semua mayat yang terbaring ditanah itu menghilang. keadaan itu tiba-tiba bersih seperti tak terjadi sesuatu.
Hinata bingung. sebenarnya permainan macam apa yang dilakukan iblis ini.
Dan disinilah ia sekarang. terjebak di desa ini tanpa satu orang pun tahu. Makanya ia tak mempercayai suara orang yang barusan mengetuk pintunya. Tapi jauh dilubuk hatinya ia berharap itu adalah manusia. yang mungkin bisa menyelamatkannya dari permainan gila ini.
.
.
.
.
.
.
Malam telah tiba, ketiga remaja ini sedang duduk berjejer didepan tenda mereka. Sasuke dikiri, Sakura berada ditengah dan terakhir Naruto. Mereka bertiga berdekatan sambil memandang kobaran api yang ada didepan mereka. ya setidaknya mereka hangat malam ini.
Sakura yang ditengah-tengah kedua lelaki itu saat ini memakai jaketnya yang hitam. dan juga sarung tangan, tak lupa ia mengenakan kupluk dikepalanya. Sementara Sasuke memakai sweater berwarna biru tua. Naruto memakai sebuah selimut yang ia bungkuskan ke seluruh tubuhnya.
"hey Sasuke..." panggil Naruto yang masih setia memandangi kobaran api itu.
Sasuke tak bergeming. Ia hanya diam entah memikirkan sesuatu.
Walaupun tak dibalas Naruto tetap mengucapkan sesuatu.
"Sebenarnya apa tujuanmu kemari? " tanya Naruto. jujur ia heran dengan temannya yang satu ini. Ia masih bingung apa sebenarnya tujuan Sasuke datang kemari.
"Entahlah Naruto, walaupun aku menyukai sesuatu yang mistis. aku masih tak tahu apa sebenarnya tujuanku kesini" Jawabnya yang juga bingung.
Sasuke merasakan penasaran dengan desa ini saat mendengar cerita dari orang-orang.
Jujur saja dia sempat bingung saat mereka sampai tempat ini.
Sebenarnya bukan mereka saja yang berniat pergi ke desa ini. Tapi banyak orang yang sudah mencoba memasuki desa ini. tapi semuanya tak pernah pulang. Begitulah yang ia dengar dari orang-orang.
"Aku berpikir mungkin itu rasa penasaranmu Sasuke. apakah kau ingin melihat makhluk astral?" Terka Naruto mencoba membaca apa keinginan sahabatnya ini.
Sakura yang mendengar perkataan Naruto barusan, sukses membuatnya ketakutan saat ini. Sakura merapatkan dirinya pada Sasuke.
"Bukan Naruto, aku hanya ingin memastikan sesuatu" Jawab Sasuke lagi. Ia melihat Sakura yang ketakutan semakin dekat dengan dirinya. Ia Merasa bersalah juga, seharusnya ia menolak keinginan gadis itu untuk ikut.
"Memastikan sesuatu? apa itu? " Naruto bingung dengan jawaban Sasuke.
"Entahlah... " hanya itu yang bisa Sasuke ucapkan. Dia tak ingin memberi tahukan apa sebenarnya tujuannya kemari.
Naruto tak bertanya lagi. ia kembali diam. meresapi keheningan malam itu, sampai saat ini tak ada kejadian yang ganjal. Sejujurnya Mereka sudah menerka-nerka apa yang akan terjadi malam ini. tapi tak ada satupun sesuatu yang aneh. Semuanya tampak baik-baik saja.
Mereka bertiga memutuskan memasuki tenda saat api mulai padam. Kini mereka bertiga sudah siap untuk tidur. Sakura berada ditengah, sementara Sasuke dikiri, Naruto dikanan.
Sakura tak merasakan khawatir tidur bersama kedua sahabatnya ini, Meskipun mereka lelaki. Sakura sudah kenal mereka berdua. Naruto dan Sasuke bukanlah lelaki yang senang mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka berdua betul-betul menjaganya dalam keadaan apapun.
Tak terasa rasa kantuk mulai terasa, semuanya memutuskan untuk tidur. Karena seharian rasa pegal mulai terasa. Satu hari melakukan perjalanan dimobil. dan berjalan cukup jauh memasuki hutan ini. Otomatis membuat tubuh mereka lelah dan juga perlu istrahat.
Sakura dan Sasuke tampak sudah tertidur. Tapi Naruto saja yang belum tertidur. Entah kenapa ia merasa tak bisa tidur kali ini. Sungguh dirinya benci saat seperti ini. Dimana hanya dirinyalah yang terjaga. Mencoba memejamkan matapun tak ada hasilnya. mencoba membuang semua pikiran agar rileks tapi tak ada juga gunanya. Terpaksa saat ini ia hanya berkeluh kesah pada diri sendiri.
Sunyi, tak ada suara apapun. Ia tampak sedikit heran dengan keadaan didesa ini. Apalagi desa ini dikelilingi hutan, pastinya akan ada suara hewan-hewan dimalam begini. tapi ini sama sekali tak ada. Desa ini terlalu sunyi pikirnya.
Itupun membuatnya sedikit takut, sebab kini api telah padam dan otomatis tak ada lagi penerangan. Keadaan sekitar mulai gelap. walaupun Naruto sudah membuka matanya tapi tetaplah kegelapan yang ia lihat. Ini terlalu gelap pikirnya. Ini sama saja membuat dirinya semakin tak enak, bagaimana jika ada orang jahat?, seperti difilm-film yang ia tonton. Lagipula saat ini banyak kabar berita yang mengabarkan maraknya penjualan organ tubuh manusia.
Ia jadi ingat waktu minggu lalu ia menonton sebuah berita tentang ditemukannya seorang wanita dikamar hotel yang sudah tak bernyawa. Wanita itu ditemukan didalam kamar mandi dengan keadaan telanjang, dan perutnya terdapat luka sayatan yang menurun dari dadanya. organ tubuhnya sudah tak ada. Sampai sekarang polisi belum menemukan sang pelaku.
Pikiran Naruto semakin menjadi-jadi. ia berpikir bagaimana jika pembunuh itu berada disini? kemungkinan itu benar.karena tempat ini jauh dari eksistensi luar.
Naruto jadi ngeri sendiri, perasaannya mulai was-was. ia membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia kini berusaha untuk tidur.
Sekarang tak ada apa-apa yang terdengar, Dalam selimut Naruto masih terjaga, ia berusaha untuk tidur tapi sia-sia saja. semua indranya saat ini sangat sensitiv. ia coba tenang agar pikirannya rileks. atau dia mungkin bisa mengingat-ingat hal yang lucu agar ia tak terlalu memikirkan sesuatu yang menakutkan.
BRUUKK...!
Terkejut, kaget saat mendengat sesuatu barusan. sesuatu yang terjatuh dari atas entah apa itu. Naruto mulai cemas, pikirannya kembali membayang-bayangkan sesuatu yang menakutkan. Suaranya keras sekali. ia yakin mungkin teman-temannya mendengarnya juga.
"Sasuke... Sasuke... " ia coba memanggil nama temannya itu. berharap temannya mendengar panggilannya.
"Sakura... Sakura.. hey" tak berhasil, ia mencoba memanggil Sakura. Tapi hasilnya sama saja. mereka berdua tak menjawab panggilannya.
Saat ia mencoba memanggil kembali. Tiba-tiba terdengar suara langkah dari asal suara yang jatuh tadi. Sontak Naruto menjadi panik dan menutup mulutnya rapat-rapat agar ia tak bersuara. Ia membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Saat ini tubuhnya bergetar hebat, degupan jantungnya tak menentu. Ia berkeringat hebat saat ini, suara nafasnya dapat ia dengar dan ia mencoba mengecilkan suara nafasnya itu dengan cara manahan nafasnya. Terdengar suara jantungnya yang sangat kencang tak beraturan. Pikirannya menerawang berusaha menebak apa itu.
SREEEK... SREEEK
Terdengar sesuatu yang seperti diseret. tak ayal lagi rasa takutnya ini. Ia coba dengan hati-hati menggeser tubuhnya agar berdempetan dengan Sakura. Sungguh ia tak peduli jika Sakura marah. Ini lebih menakutkan. Naruto berharap kedua temannya menyadari suara itu, dan langsung terbangun. Tapi harapannya sia-sia, dapat ia dengar nafas Sakura yang tenang dan juga suara dengkuran halus Sasuke. Gila pikirnya... kedua temannya tertidur pulas. ingin rasanya membangunkan mereka tapi seakan gerakannya terbatas kali ini.
'Apa yang harus kulakukan? sial... apa itu'
Ia coba mengumpulkan keberaniannya. Ia menghitung dalam hati. mencoba dengan aba-aba itu agar bisa mengeluarkan suara.
'1... 2... 3'
"Akh... "
Tapi sayang suaranya tak mau keluar, ia saat ini terlalu takut sehingga ia lupa bagaimana caranya mengeluarkan suaranya. Seakan suaranya tercekat ditenggorokannya. Tapi dirinya tak menyerah, kali ini ia semakin berusaha mengumpulkan keberaniannya yang berangsur-angsur hilang itu.
'baiklah dalam hitungan ketiga aku akan memanggil Sasuke' katanya dalam hati.
'1. .2...3'
"Sas... k"
Tak bisa, suaranya seakan tertahan. Dan parahnya suara langkah itu seperti berlari menuju kearah mereka. terdengar sekali saat suara seretan itu semakin cepat. Dalam hal ini Naruto semakin panik. berusaha tenangpun mana bisa jika keadaan seperti ini.
Suara langkah itu kemudian berhenti. Naruto bisa menebaknya. dimana tepatnya suara itu berhenti. suara itu berhenti tepat disampingnya!.
Kini langkah pelan terdengar lagi. langkah itu menuju kedepan. Naruto takut saat ini. dirinya bergetar hebat saat mendengar suara res yang terbuka. itu tandanya tenda mereka sedang dibuka dari luar.
Apa yang dipikiran Naruto kini semakin kacau, ia serasa mau mati seakan tak bisa menghirup udara lagi. Terasa sekali cengkraman dipergelangan kakinya. perlahan ia merasa sesuatu memasuki selimutnya dari bawah. Ia beranikan dirinya kali ini. Ia mengambil Ponselnya dan langsung menyalakannya kemudian menyenter apa yang sedang masuk kedalam selimutnya itu.
Mata Naruto membulat. Jantungnya seakan mau copot dari tempatnya. Ia melihat seorang Nenek tua dengan rambut putih, Wajahnya tampak hitam dan keriput, matanya putih polos tanpa pupil. Sosok nenek itu menyeringai kemudian tertawa.
Naruto berteriak sejadi-jadinya...
"Aaaaah!!!... Sasuke... Sasuke toloong...! "
Dengan cepat Nenek itu mencekik leher Naruto sehingga ia tak mengeluarkan suara lagi. Naruto merasa seluruh darah bertumpuk dikepalanya, lehernya serasa terjepit dan tenggorokannya seakan mau putus.
Ponsel Naruto jatuh, tapi masih bisa menerangi keadaan sekitar. Sehingga dirinya masih bisa melihat sosok yang mencekiknya itu.
Nenek berwajah hitam legam itu kemudian membuka mulutnya dan...
BREESSSSHHHH...
Ia memuntahkan darah ke wajah Naruto. Darah yang busuk sekali bau bangkai, serasa dirinya mau mual saat tak sengaja darah itu tertelan sebagian. Darah itu memenuhi Wajah Naruto. Berusaha Naruto mencoba melawan dengan memukul wajah nenek itu. Tapi percuma saja. Ia berharap kedua temannya menolongnya, tapi sama sekali ia tak merasakan gerakan dari kedua temannya itu.
JLEB...
Habis sudah. Mata kiri Naruto ditusuk oleh sosok nenek itu dengan jari telunjuknya. Rasa perih yang luar biasa ia rasakan. ia tak bisa memberi perlawanan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N: Halloo. oh yah buat john dan sarada makasih dah baca chapter pertama. ini sebenarnya fict udah lama banget. hanya saja waktu itu dipost di grup fb lovely fanfics of sasuhina. dan disini ceritanya agak berbeda. karena saya mengubahnya sedikit. bagi yang sudah mmbaca otherside (old mirror) pasti sudah tahu apa yang akan terjadi dalam cerita. tapi saya sudah bilang ini saya remake. pasti ada bedanya.Oh yah. dlu banyak yang tanya soal fict ini. kenapa desanya bernama Kyaro town?eeeeaaaa karna authornya suka main game suikoden 2. dan kebetulan itu desa yang paling sering disinggahi(karna tak tahu jalan)yup sekian.maaf banyak bacot.semoga fict saya menghibur.Bagi yang mau kritik dan saran saya terima termasuk flame.
