BTS Kim Seokjin (Jin) | BTS Jung Hoseok (Hoseok) | BTS Min Yoongi (Yoongi)
BTS Jeon Jungkook (Jungkook) | NCT Yuta Nakamoto (Yuta)
© all chara(s) belong to their agency
T = True Love
Because T aims for True Love
Target 1: Y
"I broke up with Zhoumi.", kataku sesampainya aku di meja kerja sahabatku.
"Kamu baru berhasil nemuin namja yang namanya berawalan huruf Z, eh, udah main diputusin aja. Gila, kamu, Jin!", teriak Hoseok sambil melotot tidak percaya dari balik monitor komputernya.
Jung Hoseok, sahabatku sesama produser di KBS TV yang langsung menjadi teman seperjuangan sejak hari pertama kami berdua diterima kerja empat tahun yang lalu. Hoseok berpotongan 'orang TV' banget dengan rambut cepak, kulit agak kecoklatan, setelan polo shirt-jins-sneakers, tag KBS TV yang selalu tergantung di leher, dan kantung mata yang sudah bisa dibilang beranak-cucu saking parahnya karena kurang tidur. Hoseok suka sok ganteng, padahal, deep down, aku tahu rasa percaya dirinya ancur banget.
Sebetulnya, Hoseok itu naksir Jungkook, presenter untuk dua acaraku. Jungkook itu mungil, imut, menggemaskan. Walaupun Jungkook seorang laki-laki, tapi tidak sedikit laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan perhatian dari Jungkook. Tidak sampai di situ saja, karena Jungkook sangat menggemaskan, banyak wanita (khususnya para noona) yang rela saling jambak untuk menjadi pacar Jungkook. Persaingan ketat untuk mendapatkan hati Jungkook membuat Hoseok memilih jadi secret admirer saja dan harus cukup puas dengan perhatian dari Ji Hansol, banci coordi-oppa yang katanya naksir berat sama Hoseok dari dulu.
Yah, bagaimana pun juga, Hoseok termasuk orang yang cukup tabah untuk mendengarkan curhatanku, cukup open minded untuk mengerti 'kesintingan'ku, dan cukup tolol untuk tidak meyadari bahwa aku sering memanfaatkan dia sebagai alasan untuk tidak menemui cowok-cowok yang jadi korban 'keisengan'ku. Tahu, dong, pemanfaatan seperti apa yang kumaksud?
"Hoseok, angkatin handphone aku, dong. Bilang aku lagi di kamar mandi."
"Hoseok, temenin aku ngeliput konser BigBang! Biar aku nanti nggak bingung kalau ntar ketemu salah satu mantan aku di sana."
"Hoseok, tukeran mobil, yuk. Zhoumi mata-matain aku terus, nih."
Bagaimana? Hoseok sangat bermanfaat, bukan?
Di sisi lain, ada hal yang sangat kukagumi dari Hoseok. Demi adik-adiknya, dia rela berhenti kuliah arsitektur dan banting setir kerja supaya bisa membantu orang tuanya membiayai mereka. Pokoknya, aku cinta banget sama Hoseok sebagai sahabat terbaik yang pernah aku punya.
"Jadi, tinggal berapa lagi, sih, Jin?", tanya Hoseok sambil mengangkat kesepuluh jari tangannya ke depan wajah. "Let's see… Mantan kamu adalah… Ahyoung, Bi, Chorong, Dokyoem, Eru, Fhito—kamu kok bisa ketemu sama orang Filipina, sih?"
Belum aku menjawab, sudah ada yang ikut menghitung deretan mantanku. "Terus siapa lagi, ya? Hm.. Goban, Hyungri, Ilban,… J belum ya?", kata Yoongi yang tiba-tiba saja nimbrung obrolanku dengan Hoseok. Meski sudah bersahabat denganku sejak SMA, Yoongi masih sering mengalami kesulitan mengingat list mantanku, ternyata.
"Koda, Lee, Matthew, Namgi, Ora, Park, Que, Ryu, Sammy, Uri, Valent, Wiki, Xiumin, Zhoumi.", jawabku lancar, hafal di luar kepala.
"Berarti tinggal berapa huruf lagi?, tanya Yoongi bingung, ternyata masih kehilangan hitungan.
"Tiga. J, T, sama Y."
"Kamu boleh pacarin aku kalau mau, lumayan buat ngelengkapin Y-nya.", kata Yoongi sok berbaik hati. Rambut pendeknya hari ini ditata dengan pomade sehingga rambut cepaknya tampak klimis dan licin. Setelan kerjanya dipadu dengan jas yang membuatnya terlihat sangat maskulin. Apalagi ditambah dengan dasi dan pantofel hitam sebagai pelengkap. Ganteng abis.
Memang, aku tidak pernah mempermasalahkan gender dalam urusan pacaran. Aku cuma ingin mengoleksi mantan sesuai dengan list abjad. Semakin cepat terpenuhi, semakin bagus. Jadi, aku tidak peduli apakah dia perempuan atau laki-laki, asal nama depannya berasal dari abjad yang belum pernah aku pacari, maka kami akan jalan.
Hoseok tidak pernah puas meledek Yoongi 'Jomblo Abadi' walaupun dia akan segera dihantam pukulan karate Yoongi yang lumayan bisa bikin memar-memar. Yoongi itu good looking, tahu. Masalahnya, orang tua Yoongi terlalu selektif untuk memberi lampu hijau pada cewek maupun cowok yang ingin macarin dia. Dari 12 cowok dan 5 cewek yang pernah mendekati Yoongi, yang direstui cuma satu, itu juga sudah lama putus.
Lama-lama Yoongi jadi malas pacaran karena butuh perjuangan ekstra untuk dapat restu dari orang tuanya. Dan, begitu lah dia sekarang, suka asal ngomong. Mana sudi aku pacaran sama Yoongi, sudah ketahuan busuk-busuknya begitu.
"Aku nggak habis pikir, memangnya kamu nggak pernah ngerasain cinta beneran, ya, Jin?", suara Jungkook terdengar dari sudut ruangan. Jungkook merupakan anak bungsu di keluarganya sekaligus maknae di sini, manjanya tak ada dua. Ngomong aja masih ber-aku-kamu dengan nada imut layaknya anak gadis. Walaupun begitu, kalau merajuknya lagi tidak kumat, dia baik dan manis sekali. Aku jadi tidak bisa tidak sayang sama anak itu.
Hari ini Jungkook menggunakan celana chinno krem ketat dan kaos putih polos dipadu blazer warna cokelat tua. Rambut keemasan Jungkook hasil coloring di salon mahal daerah Gangnam ditata jadi ikal-ikal kecil yang lembut. Jungkook mirip tokoh little angel abad kini yang stylish dengan sejuta gayanya. Ngomong-ngomgong, sekarang dia sedang memoles lip balm yang baginya merupakan rutinitas setiap pagi yang haram kalau terlewati.
Hoseok, fans nomor satu Jungkook, langsung sok mendukung kata-kata yang tadi Jungkook ucapkan. "Iya, dasar, ya? Jin seharusnya respect something called love."
Aku bangkit dari meja Hoseok lalu mendelik kepadanya. Hoseok nyengir antara minta ampun dan minta pengertian. Lalu aku mendesis, "CAPER BANGET."
Sementara itu, Jungkook yang diberi kode sama sekali tidak sadar bahwa tadi Hoseok berusaha menunjukkan padanya kalau Hoseok rela melakukan apapun untuknya. Apapun. Jungkook malah menutup tube lip balm-nya, menyimpannya di tas kosmetik miliknya yang lumayan besar, lalu mengeluarkan lip shine andalannya dari merk YSL.
"Maksud aku, don't you feel your life is empty without love?", cetusnya setelah lip gloss-an.
"Oh, baby. No, no, no.", aku menggoyang-goyangkan telunjukku ke arah Jungkook lalu bersenandung. "Love is just a game~…"
"Permisi."
Suara berat seseorang menghentikan keributan di ruangan produser. Semua orang menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang cowok tinggi menggunakan t-shirt hitam dengan jins biru pudar yang robek-robek di lututnya. Poni depannya yang lurus terlihat agak panjang hingga nyaris menyembunyikan mata sipitnya, tapi tidak mampu menutupi wajah gantengnya. Kulit putih, mata sipit sayu tapi nyolot, dan gaya acuh tak acuh… Hello, sexy… Beware.
"Ya? Cari siapa?", sambarku tanpa memedulikan tatapan menghina Hoseok. I can't resist handsome men, so what?
"Saya kemarin ditelepon buat interview sama yang namanya Jin.", kata cowok itu tanpa mengubah posisinya, menunjukkan dia tidak grogi sama sekali.
"Nyolot amat. Panggil Jin-ssi, kek. Dasar anak kecil!", seru Hoseok, tidak bisa menerima kenyataan kalau cowok ganteng yang akan membuatnya semakin terlihat standar bertambah satu lagi.
"Oh, kamu yang ngelamar jadi presenter buat acara musik itu, ya?". Samar, aku teringat sebuah janji yang kubuat beberapa hari yang lalu.
Sebentar lagi acara tahunan salah satu merek rokok terkenal, dan KBS TV berhasil nyosor kerjasama eksklusif untuk menayangkan acara itu secara live. Hmm.. good money. Jadi, selama satu bulan ini dibuka lowongan presenter freelance hanya untuk acara itu. Agak susah mencarinya, karena klien inginnya presenter itu seorang pemusik juga. Repot, deh..
Oh, iya. Cowok itu hanya mengangguk waktu aku tanya.
"Kadang aku nggak ngerti prosedur di sini. Itu acara kan aku produsernya, kok yang interview calon presenter-nya si Jin? Aneh..", ucap Hoseok misuh-misuh agak terlalu kencang sampai aku yang berdiri di dekat pintu pun dapat mendengarnya dengan jelas.
Aku berbalik dan berucap dengan nyolot. "Heh, acara itu aku yang bikin konsepnya, bego. Satu-satunya alasan kenapa kamu yang jadi produsernya adalah: aku bakal liburan ke Bali minggu depan.", aku membalikkan tubuhku jadi menghadap cowok yummy itu lagi. "Ya sudah, kita ngobrol di ruang meeting aja, yuk."
Aku menendang meja Hoseok ketika berjalan menuju ruang meeting. Cowok seksi itu mengikuti berjalan di belakangku.
"Kamu duduk bentar, ya. Aku mau ngambil berkas kamu dulu.", aku menyilakannya duduk dan menutup pintu ruang meeting.
"Gatel!", sembur ketiga sahabatku tapi dengan nada berbeda-beda ketika aku keluar dari ruang meeting. Jungkook dengan nada lucu, Yoongi dengan nada menggoda, dan Hoseok dengan nada mengganggu.
"Biarin!", jawabku sambil tersenyum jahil. "Lumayan. Pemandangan pagi-pagi, hehehe.. Duh, lupa aku, tuh anak siapa sih namanya? Busyet, nih CV banyak banget lagi!"
Aku mengaduk-aduk tumpukan CV dan beruntung menemukan yang kucari.
"Masa kamu nggak tahu dia siapa, Jin?", tanya Jungkook. "Itu kan rapper-nya NCT."
"Oh, ya?", tanyaku, tidak tertarik. "Aku nggak pernah merhatiin rapper-nya. Namanya siapa, memang?"
"Nggak tahu. Aku cuma tahu kalau dia rapper-nya NCT."
"Aneh, deh. Di CV ini juga nggak ada namanya… padahal data yang lain lengkap. Wuih, doi bukan anak kecil, Hoseok! Dia lebih tua setahun dari aku. Haha. Lumayaaan~", kataku sambil meneliti berkasnya. "Duh, fotonya ganteng amat. Lihat, deh!"
Lalu, sambil melambai gembira, aku melangkahkan kakiku menuju ruang meeting lagi.
"Kepedean, tuh. Dikira semua orang tahu kalau dia rapper-nya NCT? Idih. Lagian, nama band kok NCT. Maksudnya apa coba nama disingkat pake inisal begitu?!", omel Hoseok. Sudah persis ibu-ibu yang suka nongkrong di tukang sayur komplekku setiap pagi.
Aku melotot sekali lagi pada Hoseok sebelum membuka pintu ruang meeting. Untung saja ruangan itu kedap suara. Kalau tidak, cowok yang ada di dalam sana pasti sudah dongkol mendengar obrolan kami tentangnya.
"Sorry, AC-nya aku matiin. Dingin soalnya.", suara berat itu menyambutku lagi. Dan dia sudah ber-aku-kamu dengan lembut, tidak nyolot seperti tadi.
Cowok gula itu sudah duduk bersandar dengan santainya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan tangannya. Aku memandang takjub dan mulai mengakui dalam hati ucapan Hoseok tentang kenyolotan cowok ini.
"Nggak apa-apa. Nggak ngaruh juga, kok."
Aku memutuskan untuk membuatnya sadar bahwa dia bukan siapa-siapa. Step one, aku duduk di meja, sehingga posisiku lebih tinggi dari dia. Step two, aku tidak langsung berbicara tapi membaca dan membolak-balik berkasnya dulu selama tiga menit dan sama sekali tidak menghiraukan dia. Waktu ketukan tangannya di meja berhenti, aku baru mengangkat wajahku dan menatapnya.
"Jadi, aku udah baca CV kamu. Well.. not bad."
Step three, dia harus tahu kalau dia tidak cukup penting untuk membuatku tahu sedikitpun tentangnya, kecuali dari CV-nya.
"Tapi… aku disuruh nyari orang yang profesinya musisi, biar fasih ngomongin soal musik dan nggak cuma ngomongin hal standar. So…"
"Aku main musik, kok!"
"Oh, ya?", jawabku pura-pura terkejut.
"Iya. Selain rap, aku juga yang buat beberapa lirik lagu di band. Gitar, piano, sama drum juga bisa aku mainin."
"Gitu, ya..? Band kamu apa memangnya?", tanyaku sambil memasang tampang aku-meragukan-ucapanmu.
"NCT.", gayanya masih ngeselin, tapi dari intonasinya terdengar kalau dia mulai nggak se-pede tadi. "Neo Culture Technology."
"Hm.. Kayaknya aku pernah denger, sih…", sekarang tampangku menunjukkan aku-sangat-nggak-yakin-denganmu.
"Baru debut lima bulan yang lalu, sih. Baru bikin mini album satu..", lirihnya.
Aku menyunggingkan senyuman licikku secara imajiner. "Oh, pantesan..! Makanya aku nggak terlalu hapal.."
See, you're nothing. So, behave properly, dude!
"Aku mesti nanya satu pertanyaan sama kamu.", lanjutku. "Apa yang kamu punya sampai kita mesti milih kamu?"
Dia diam sejenak. "Aku punya background musik yang kuat. Jauh sebelum debut, aku udah sering manggung sama tim rapper underground di kota asalku di Jepang. Dan, nanti yang main di acara KBS aku kenal semua.. Aku juga orangnya kooperatif."
Untuk ucapan 'background musik yang kuat', wajahku menampilkan ekspresi ah-masa-sih?
Untuk ucapan 'sering manggung sama tim rapper underground', wajahku menampilkan ekspresi so-what?
Untuk ucapan 'yang main di acara itu kenal semua', wajahku menampilkan ekspresi wah-selamat-yeee.
Lalu, untuk ucapan 'orangnya kooperatif', wajahku menampilkan ekspresi jinjja?-I'm-not-sure.
Dia mulai panik tuh. Kekeke. Aku berhasil ngerjain dia. Makanya, jangan sombong-sombong sama Tuan Seokjin!
Sebetulnya, dia memenuhi kriteria, kok. Lumayan pinter, musisi, dan yang terpenting: ganteeeeng!
Jadi, aku berdiam lagi sebentar, sok-sok-an berpikir, lalu mengangguk pelan. "Oke kalau gitu. Kapan bisa mulai training?"
"Any time.", jawabnya, lalu berdiri dan menjabat tanganku. "Thanks, ya."
Aku menjabat tangannya sekilas lalu berjalan ke arah pintu. "Ntar aku kabarin lagi."
Dia mengikutiku tapi sebelum mencapai pintu yang sudah kupegang, dia berhenti lalu terkekeh. Suara kekehannya gemesin banget, sumpah!
"Kenapa?", tanyaku, bingung dengan tingkahnya.
"That's it? Aku kira interview-nya bakal kayak gimanaaaa gitu. Aku sampe nervous."
"Masa? Nggak kelihatan, tuh.", kataku. "Seserem-seremnya interview nggak akan diapa-apain, lah. Paling juga ditanya-tanya doang."
"Yaaa, you know, gosip tentang produser yang suka macem-macem sama anak interview-an?"
"Oh.. itu sih produsernya aja yang kurang ajar. Lagian biasanya yang begitu om-om dengan tampang genit. Kalau aku kan nggak begitu, jadi, ya.. nggak akan seganas itu."
Dia tersenyum geli. "Tadinya aku ragu. Tapi waktu aku tahu Jin yang bakal nge-interview itu kamu, jujur.. nervous-ku hilang."
Dih. Pede banget dia. Tapi, ada heat aneh yang kurasakan antara aku dan dia. Aku merasa ada desiran di tengkukku. Aku kenal sekali dengan perasaan ini. Lust. Wangi cowok itu semakin menyengat, semakin dekat, semakin tajam. Membuatku tergoda.
"Maksud kamu?"
"Maksud aku.. kalau kamu yang ngapa-ngapain aku, sih…. Yaaa.. aku nggak keberatan.", katanya sambil menunduk malu sekilas lalu menatapku lagi.
Aku terdiam agak lama dan menatapnya lamat-lamat. Dia nggak mundur walaupun aku merasa napasnya tertahan.
"Nama kamu siapa?"
"Yuta. Yuta Nakamoto."
Haha. Cowok seksi, nyolot, manis, lucu, ganteng, dan namanya berawalan dari Y.
Perfect person. Perfect timing.
Aku melepas genggaman tanganku pada handle pintu dan malah menguncinya alih-alih membukanya. "Aku bukan produser ganas. Tapi, kalau kamu nggak keberatan, yaaah.. Aku bisa juga, lah, sekali-sekali…"
Sejurus kemudian aku merasakan ciuman lembut dari bibir tipisnya. Manis.
Hanya dalam beberapa detik saja ciuman lembut itu berubah jadi liar dan panas. Hmm.. Gotcha, Y!
tbc
ORUL2's corner: jadi, udah ngerti belum alur dan tema ceritanya? kalau belum ngerti, jadi jin itu punya obsesi buat ngumpulin mantan sesuai abjad. semuanya udah pernah dia pacarin kecuali tiga huruf: J, Y sama T. sekarang jin udah dapet si Y tuh. mulus amat ya jalan idupnya, apa yang dimau langsung didapet wkwk. kira2 siapa hayooo yang jadi J dan T, next targets-nya jin? :D
