Kibum yang tak sadarkan diri di pelukan Kyuhyun sudah dibawa ke rumah sakit terdekat dari sekolah mereka.

Pagi hari yang cerah sudah dibuat heboh oleh pingsannya Kim Kibum. Saat ini Kibum tengah dirawat secara intensif di salah satu kamar pasien. Anak-anak yang tadinya memaksa ingin ikut menemani Kibum sudah ditenangkan. Teman-temannya hanya boleh menjenguknya saat jam istirahat oleh pihak sekolah agar tak mengganggu proses belajar-mengajar. Sedangkan kini yang menunggui Kibum adalah keluarganya yang sudah diberi kabar oleh pihak sekolah.

"Waeyo Kyu? Kau masih khawatir dengan Kibum?"

"Aniya. Aniya..."

"Tapi di dahimu ada tulisan 'Aku berbohong'."

"Mwoya?!"

"Reaksimu seperti yang kuharapkan." Tawa Changmin, ia melindungi kepalanya dari amukan Kyuhyun.

"Tenang saja. Istirahat nanti kita akan menjenguknya ramai-ramai. Oh, dan kalian bisa melanjutkan kisseu-kisseunya kalau Kibum sudah baikkan."

"Ya! Sekiya!"

"Siapa yang kau katai br*ngsek Cho Kyuhyun-ssi?"

"Animnida sonsaengnim. Jwesonghamnida."

Sementara di lain sisi, Donghae terlihat sedang mencoret-coret sesuatu di mejanya, terkadang melihat jam di tangannya dan kembali mencoret meja lagi. Ia sungguh mengkhawatirkan keadaan sahabatnya berharap dengan melihat jam terus menerus, waktu akan cepat berlalu dan ia bisa segera melihat keadaan Kibum. Meskipun ia sudah tahu kalau keluarga Kibum sudah dihubungi, tetapi sebelum melihat Kibum secara langsung hatinya benar-benar tak bisa tenang.

.

.

.

Jam istirahat tiba, teman sekelas Kibum beramai-ramai pergi kerumah sakit untuk menjenguknya. Mereka tentu tak bisa diam saja melihat Kibum yang awalnya baik-baik saja malah tiba-tiba jatuh dan pingsan.

Dan disinilah mereka. Memenuhi sesak kamar rawat vvip yang Kibum tempati. Untung saja kamar itu luas dan Kibum sudah diperbolehkan menerima tamu.

"Ne. Kibum-kun. Daijoubu desuka? G-gwenchanaseumnika?" Tanya salah satu siswi asal jepang yang sudah satu tahun sekolah di korea masih saja kesulitan berbicara dengan bahasa korea.

"Kibumaaaaa... say aaaaaaaa...pesawat tempur nomor XXX1 akan lepas landas! Kka.. buka mulutmu! Ppali!" Paksa Donghae, ia menyuapi Kibum seperti menyuapi seorang bayi. Perilakunya itu menarik perhatian sebagian orang di dalam ruangan itu.

"Pesawat tempur nomor XXX1? Tidak salah sebut Donghae-ssi? Kau ingin mengajak Kibum menonton film XXX. Ya kan?"

"Micheosseo?! Ya! Sini kau. Sebutkan nama dan tanggal lahirmu sebelum aku mencabut nyawamu dalam sekali serang!" Donghae tersulut emosi. Kibum sudah susah payah menahan malu dengan melayani Donghae dan membuka mulutnya, malah yang menyuapi dirinya mengarahkan sendok ke pipinya dan pergi begitu saja mengejar orang yang mengatainya tanpa tahu kalau wajah dan pakaian Kibum jadi kotor akibat ulahnya.

"Hah? Kau ingin merayakan ulang tahunku? Aku ingin kado boneka jerapah yang besar."

"Geurae! Akan kubelikan sebagai kado kematianmu. Sini kau!"

"Ckck. Bocah kelebihan energi itu... tidak tahu apa ini rumah sakit? Dipikirnya ini wahana memancing. Berisik."

"Tempat pemancingan bukannya tempat yang tenang?"

"Ne. Kalau mau bicara sesuaikan dulu dengan situasi dan kondisinya pabboya."

"Apa kau bilang? Kau mengataiku bodoh barusan. Memangnya kau pintar hah?!"

"Hoy. Hoy.. diamlah. Ini. Gantian kupas apelnya, kalian bertiga."

"Jangan salah sangka. Ini sapu tangan punya Changmin dan kebetulan aku berada di sampingmu." Kibum jelas melihat wajah Kyuhyun yang merona. Ia juga melihat Kyuhyun mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap kotoran di wajah dan bajunya dari kantong celananya sendiri. Ia juga melihat wajah khawatir darisana makanya ia berdiri paling dekat dari Kibum.

"Anggap saja aku sedang baik hati. Dengar ya. Aku akan membalas perlakuanmu yang tadi menciu- lupakan." Kyuhyun memalingkan muka. Ia tak sanggup melanjutkan kata-kata yang mempermalukan dirinya sendiri apalagi dihadapan banyak orang.

"Perlakuanku yang mana Kyuhyun-ssi?" Kyuhyun terperanjat saat tiba-tiba Kibum menahan tangannya berlama-lama di dada Kibum.

"Ehe-hem. Ehem. Silahkan diteruskan. Kami sudah puas melihatmu baik-baik saja Kibum-ssi. Sekarang kami akan kembali kesekolah. Jaga Kyuhyunku baik-baik ya." Goda Changmin dan mengodekan teman-teman yang lain untuk keluar.

"Minna-san... kajja!" Siswi asal jepang itu menarik tangan Donghae paksa yang tampaknya berat hati meninggalkan Kibum.

"Eommonim, sebaiknya Anda pulang saja. Jeongmal Jwesonghamnida. Temanku akan merawatnya dengan baik." Ibunya Kibum yang sejak tadi berada di luar ruangan untuk memberi keleluasaan bagi teman-teman anaknya yang ingin menjenguknya, melirik ke dalam ruangan dan melihat senyum Kibum yang kini telah kembali.

"Kau benar. Uri Kibumie sudah baik-baik saja."

"Kajja. Eommonim, kami akan mengantarkanmu sampai lobby. Kami juga akan kembali ke sekolah."

Sementara di dalam ruangan rawat yang kini sunyi hanya tinggal dua orang yang tersisa, kini suasananya menjadi benar-benar canggung. Kibum sudah melepaskan tangan Kyuhyun refleks saat Changmin berdehem tadi dan menggiringnya keluar.

"Perbuatan siapa ini. Mengupas apelnya setengah-setengah. Warna dagingnya sudah merah lagi. Orang sakit tidak boleh makan-makanan yang sudah banyak kumannya. Aku akan membuangnya sebentar. Kau jangan kemana-mana Kibum-ssi. Yang lain kenapa pergi semua? Aku akan memanggil ibumu di luar." Saat Kyuhyun akan beranjak pergi, Kibum menahannya dan menarik Kyuhyun untuk ikut duduk di samping ranjangnya. Karena tak tega tak memenuhi permintaan orang sakit, Kyuhyunpun hanya menuruti Kibum tanpa protes.

"Hanya duduk. Tidak boleh pegang yang lain." Ancam Kyuhyun mencegah tangan Kibum yang akan menyentuhnya. Pada kenyataannya ranjang rawat itu hanya di khususkan untuk satu orang jadinya sempit. Pastilah tubuh keduanya bersentuhan.

Kibum mengangkat tangan, tanda menyerah. Tetapi tidak untuk kakinya. Kata Kyuhyun tidak boleh pegang yang berarti tanganlah yang melakukannya, jika kaki tentu saja boleh. Kibum tak kehabisan akal untuk dekat-dekat dengan Kyuhyun. Ia mengaitkan kakinya pada kaki Kyuhyun yang sepatunya sudah dilepaskan.

"Neo! Aish jinjja! Sebutkan maumu setelah itu lepaskan kakiku namja mesum!" Kyuhyun menunjuk-nunjuk Kibum sedangkan pipi putih di balik masker itu sudah menggembung sebal.

"Tidak boleh ada yang turun dari ranjang sebelum jam lima sore. Jika melanggar, hukumannya akan ditentukan oleh siapa yang bertahan." Kyuhyun melebarkan matanya. Kibum benar-benar bocah menyebalkan. Bagaimana bisa tidak boleh turun dari ranjang sebelum jam lima sore. Bagaimana kalau ada dokter yang akan memeriksa keadaan Kibum? Mau taruh dimana muka Kyuhyun nanti. Bagaimana kalau ia ingin buang air kecil? Kibum benar-benar membuat Kyuhyun frustasi dengan tingkahnya yang seenaknya kepadanya. Ingin membuatnya mencintai Kibum bukan berarti dengan cara pembulian seperti ini. Masih ada cara lain yang lebih romantis, bukan. Romantis? Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikirannya melayang kemana-mana menimbulkan pertanyaan untuk Kibum.

"Wae?"

"Geurae. Aku setuju. Kalau kau yang turun duluan karena ingin buang air kecil atau yang lain, perjanjian batal. Kalau aku yang turun lebih dulu, terserah padamu aku akan kau hukum seperti apa." Kibum mengangguk senang. Ia mengambil kotak obat di atas meja samping ranjang dan mengambil perban. Perban itu ia ikatkan pada pergelangan tangan mereka berdua agar ia tahu Kyuhyun tak akan kabur kemana-mana.

"Kau puas?! Kenapa harus diikat seperti orang bodoh begini huh?!"

"Aku akan menjadi orang bodoh kedua setelahmu. Jadi tenanglah. Aku mau tidur." Pungkas Kibum yang setelahnya menurunkan tempat tidurnya dan menyamankan posisi berbaringnya. Jika ini adalah sebuah anime mungkin saja tergambar jelas empat siku yang menandakan Kyuhyun sangat-sangat kesal.

"Kim Kibum..." kalau saja Kibum tidak sedang sakit, sudah dipastikan Kibum akan benar-benar dibuat babak belur oleh kemampuan taekwondo yang dari kecil Kyuhyun pelajari.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

.

HAPPY BIRTHDAY URI KIM KIBUM! SARANGHAEYO YONGWONHI! August 21st.