Chapter 1
Disclaimer : I don't own Metal Fight Beyblade. Just plot.
Rating : T
Warning : OOC, nggak jelas, agak lebay -_-;" , banyak typo
AN : This is my first fanfic, but I'm too lazy to translate, so, I use Indonesian languange.
Saya : "Ciao! I'm a new author in FFn" *teriak-teriak kayak orang gila, disambut orang-orang dengan dilempar kembang 7 rupa, dupa, air mawar*
Kucing lewat : Miaw! Miaw!( dibaca :"Ceila, sok Inggris lo, Author ndeso!") *nunjuk2 saya / aku (sama aja ya?)*
Saya : *ngeliat kucing lewat* "Ya Tuhan... berikan aku kesabaran..." *ngelus-ngelus dada*
Nah, ini Chapter 1 lanjutan Prolog, makasih banget buat Laila Sakatori 24 dan Red BloodRiver buat review di prolog. Maaf kalau cerita ini tidak berkenan di hati anda semua(-_-;).
Hahaha, maaf kalau update-nya agak lama (dibaca :bukan update geledek (-_-!)) .
Aku (-_-!) rasa cerita ini cukup cacat, kebanyakan Typo, nggak jelas. Hiks! TT_TT;"
Aku rasa daripada kelamaan pidato, mendingan langsung aja ke cerita, yuk! #ngarep REVIEW. Enjoy it! ^_^
The Endless Love
Chapter 1
-Hyouma POV-
Pagi yang cerah di Koma Village, desa tempat tinggalku. Aku sedang melatih beyblade-ku bersama ketiga temanku.
"Aries! Sheep Horn Throw!" seruku. Jiwa bey-ku, berwujud domba, keluar dari metal face, kemudian menerbangkan bebatuan dan dedaunan di sekitarnya.
"Wow, Hyouma! Kau hebat!" puji Gingka, yang merupakan teman masa kecilku. Kenta dan Madoka bertepuk tangan. Mereka menghampiriku setelah itu.
"Tidak, ini tidak seberapa," kilahku.
"Tapi itu hebat Hyouma!"
"Latihan cukup," kata Hokuto, seekor anjing yang dapat berbicara. Aku menangkap Clay Aries yang melesat kearahku.
Aku memandangi 'partner setia'ku, menghela napas lega. "Aries, kita berhasil kali ini...," gumamku. Metal wheel Aries bersinar, seakan mengiyakan.
Waktunya istirahat. Kini aku duduk di sebuah kursi kayu panjang di taman desa Koma. Angin berhembus lembut, menemaniku menulis sesuatu.
Ya, menulis sesuatu adalah kebiasaanku. Diam-diam aku sering menulis banyak hal di tempat sunyi. Kali ini aku membayangkan seseorang...
Seseorang yang mengisi hatiku...
"HYOUMA!"
Aku menoleh. Gingka berlari mendatangiku, dan akhirnya duduk disampingku. "Lagi ngapain! Sebentar lagi kita harus pergi ke Metal Bey City!"
Aku menganguk dan menutup bukuku, "baiklah, aku siap-siap sekarang," jawabku, kemudian berdiri. Gingka mengikutiku, matanya menatap pada buku kecil yang kupegang.
"Buku apa itu?" tanya Gingka.
"Eh... ngng...," aku tak bisa menjawab pertanyaan itu Buku ini menyimpan segala rahasiaku, semacam buku harian. Aku terlalu malu untuk menjawabnya. "Rahasia..." jawabku. Aku tak mau mendengar respon Gingka kalau dia tahu isi buku ini.
"Oh...," hanya itu responnya. Kemudian aku dan Gingka hanya diam sampai rumah. Setelah ini kami akan pergi ke Metal Bey City untuk memenuhi panggilan WBBA.
Stasiun kereta Koma Village.
"Hati-hati kalian semua," pesan Hokuto sebelum pintu kereta ditutup. Aku, Gingka, Kenta, dan Madoka melambaikan tangan.
"Sampai jumpa Hokuto!" seru kami. Tak lama kemudian, pintu ditutup dan kereta mulai berjalan. Kereta ini sangat sepi. Penumpangnya hanya kami dan segelintir orang. Kamipun memilih kursi untuk diduduki.
Kami duduk di kursi dua orang untuk satu deret barisan. Aku duduk di samping Gingka, Kenta disamping Madoka dibelakang kami.
Gingka melihat pemandangan lewat jendela disampingnya, " Hei Hyouma! Sudah lama kau tidak ke Metal Bey City, kan?" tanyanya. Aku mengangguk.
Jujur, aku sedang berusaha menghilangkan trauma akibat pertandinganku dengan Reiji, blader phsyco itu. Meskipun sekarang aku bisa beybattle, namun aku masih agak trauma dengan insiden di Battle Bladers itu.
Aku berharap, 'Dia' ada disana. Di Metal Bey City. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Dadaku terasa berdebar, membayangkan dirinya dalam anganku.
Ah! Entah kenapa tiba-tiba kepalaku sakit. Belakangan ini kepalaku sering sakit, dan tubuhku sering cepat lelah. Gingka menengok kearahku, kaget melihatku menahan sakit.
"Hyouma, daijobu ka? Kamu nggak apa-apa?"
Aku menggeleng, "tidak apa-apa...," jawabku lesu. Aku memegangi kepalaku, rasanya sangat sakit. Keringat dingin mengucur. Aku merasa bersalah, telah membuat orang lain khawatir padaku. Aku tidak ingin menyusahkan orang lain karena hal ini.
"Benar?" tanya Gingka ragu. Aku mengangguk.
"Aku hanya kelelahan." jawabku meyakinkan. Gingka masih terlihat cemas, namun tidak secemas tadi.
"Sebaiknya kau tidur saja. Nanti kalau sudah sampai kubangunkan," kata Gingka. Aku mengikuti sarannya, membetulkan posisi duduk, bersandar, dan berusaha terlelap.
"Gingka! Hyouma! Bangun! Ini sudah sampai!" aku mendengar suara Madoka. Aku membuka mataku. Kulihat Madoka dan Kenta berdiri dihadapanku.
"HOAHMMMM...! Sudah sampai, ya!" tanya Gingka, dia mengulet kemudian mengucek kedua matanya. Fiuh! Syukurlah kepalaku tak terasa sakit lagi. Kamipun segera turun dari kereta dan segera menuju gedung WBBA.
Pintu otomatis terbuka. Kami segera memasuki gedung ini, gedung milik WBBA. Gingka berjalan paling depan. Tampak 2 orang lelaki di depan kami, salah satunya bocah seumuran Kenta, dan seorang seumuranku.
"HAIII~~~ MINNA-SAN...!" sapa anak kecil itu, melambaikan tangannya, sedangkan yang seumuranku hanya melambaikan tangan dan tersenyum.
"Hai! Yuu! Tsubasa!" balas kami, menghampiri mereka.
"Kenchi~~~...!" bocah berambut jingga itu melesat kearah Kenta dan memeluknya. Kenta terlihat gelagapan kemedian balas memeluknya.
" Ah, Yuu! Sudah cukup!" Kenta berusaha melepaskan pelukannya. Bocah bernama Yuu itu melepaskan pelukannya dan cengengesan.
"Lama tak bertemu kalian," kata lelaki seumuranku. Rambutnya panjang berwarna abu-abu keperakan .
"Ya. Kau selalu sibuk dengan urusan WBBA, Tsubasa. Makanya kau jarang bertemu kami," kata Gingka, memandangi lelaki yang bernama Tsubasa itu.
"Ah, Hyouma! Kau datang juga?" tanya Yuu, menunjukku.
"Ya, yang seperti yang kau lihat ." jawabku.
"Sebaiknya kalian segera menemui Ryuusei-san," saran Tsubasa, "kami juga dipanggil olehnya..."
Hagane Ryuusei adalah ayah Gingka, bekerja sebagai pimpinan WBBA, yang merupakan organisasi Beyblade dunia.
"Ok! Ayo kita kesana!" ujar Gingka bersemangat. Kami segera menuju lift, dan memasukinya.
Kami sampai didepan sebuah ruangan. Pintunya tertutup. Tsubasa mengetuk pintu itu.
"Masuklah," terdengar suara lelaki dari dalam ruangan. Setelah pintu terbuka, kami masuk kedalamnya. Disana ada lelaki paruh baya yang sedang duduk, dan seorang gadis membawa buku.
"Wah, kalian semua! Kebetulan kami sedang menunggu kalian," sapa lelaki paruh muda. Dialah Hagane Ryuusei.
Gadis seumuranku datang menghapiri kami. Jantungku berdegup begitu kencang, makin berdebar ketika berada tepat didepanku.
Dialah gadis yang kucari...
"Hai Hikaru!" sapa Gingka.
"Ya," balas gadis itu singkat. Matanya menatap kami satu-persatu.
Hasama Hikaru, nama gadis itu. Sudah lama aku menyukainya, namun aku tak bisa mengungkapkannya, hanya bisa menyimpannya dalam hatiku yang terdalam. Aku tak tahu perasaan gadis itu, namun sampai sekarang aku masih... menyukainya...
"Ini untuk kalian," Hikaru memberikan selembar kertas, padaku. Hanya padaku. Ah... aku menahan perasaanku. Kurasa aku semakin... semakin...
Hikaru memiliki rambut berwana biru muda, sama sepertiku. Kulitnya gelap menambah kesan eksotis. Dia sangat cantik untuk ukuran gadis sepertnya. Tubuhnya jenjang, mengenakan setelan biru tua dengan sepatu hitam.
Sayangnya, gadis ini agak sulit untuk didekati, walaupun ia baik dan cukup ramah. Semua itu yang membuatku makin menyukainya. Dia berbeda dengan gadis seumurannya yang biasanya hanya bisa berdandan. Dia beyblader yang cukup tangguh.
"Eh, Hyouma! Ngapain kau bengong begitu?" ucap Gingka , menyikut pinggangku pelan. Aku tersentak dari lamunanku.
"Ah... eh, aku hanya sedang memikirkan bagaimana training dan tugas kita nanti. Kita dipanggil untuk itu, kan?" aku malah balik bertanya, menyembunyikan jawaban sebenarnya. Gingka menaikkan alisnya sebelah, bingung.
"Nah, minna-san...," kata Ryuusei-san sambil menyalakan monitornya, "ini yang harus dibicarakan pada kalian...,"
"Hhhhhh... akhirnya selesai juga, ya," kata Gingka lega, melakukan streching. Maklum, pertemuan kali ini sangat lama. "Kau mau pergi ke kedai burger bareng, tidak?"
Aku menggeleng, "aku tidak ingin makan burger."
"Ya sudah kalau begitu," Gingka segera pergi keluar dari gedung WBBA. Aku berjalan menuju gudang WBBA, mengambil ember kecil, kira-kira sepuluh buah.
"Hai!" aku merasa bahuku ditepuk. Ketika kutengok ke belakang, bocah lelaki berambut jingga memberikan tanda peace dengan nyengir khasnya,
"Oh, hai Yuu! Sedang apa kau disini?" tanyaku pada bocah itu.
"Aku bosan, jadi aku mengikutimu kesini." jawabnya dengan nada seperti biasanya, riang. "Kau sendiri ngapain kesini? Bawa ember lagi!"
"Aku mau latihan sekarang," jawabku, lalu pergi keluar sambil membawa ember-ember itu.
Yuu mengejarku, "kalau begitu, kita battle saja!" ujarnya bersemangat.
Battle? Siapa takut? Aku akan merebut kemenanganku yang pernah dia ambil! "Ok! Kalau begitu, ayo bat-" ucapanku terputus dengan suara Kenta yang memanggil bocah itu.
Kenta berlari kearah kami, "Yuu! Kau mau ikut makan burger bersama?" tawarnya. Spontan, Yuu langsung mengangguk.
"Maaf, deh, Hyouma! Battle-nya lain kali saja!" kata Yuu dengan wajah innocent. Aku hanya tersenyum simpul.
Giliran Kenta melirikku, "Hyouma, kau mau ikut?"
"Tidak, aku mau latihan sekarang," jawabku. Kenta mengangguk, bersama Yuu dia pergi melesat ke kedai burger, menyusul Gingka. Aku membawa ember-ember itu di lapangan belakang milik WBBA.
Setibanya disana, lapangan itu sepi. Hanya ada satu-dua orang pegawai WBBA yang berjalan di lapangan itu. Aku mengisikan ember itu penuh air, kemudian menjejerkannya lurus. Setelah selesai menyusun ember, aku berdiri di depan ember paling ujung (kira-kira jaraknya 1 meter dari ember).
Aku menyiapkan shooter dan beyblade-ku, kemudian melakukan posisi shoot, "3... 2... 1... GO SHOOT...!" seruku memberi aba-aba sendiri, "ARIES!"
Aries menghantam ember pertama dengan kuat sehingga jatuh dan airnya tumpah, begitupun seterusnya sampai ember terakhir. "Selesai!" gumamku, aku menangkap Aries yang melesat kearahku.
"Wah, hebat juga kau!" seseorang muncul kehadapanku, angin meniupkan helai rambut panjangnya yang berwarna kelabu keperakan.
Aku tersenyum, "Tsubasa! Darimana kau muncul!"
"Aku! Kebetulan aku lewat kesini dan melihatmu berlatih. Lumayan hebat juga!" jawab Tsubasa. "Bagaimana kalau kita battle disini! Sudah lama aku tidak beybattle!" tantangnya sambil menunjukkan Earth Aquilla dihadapanku.
Tantangan lagi! "Baiklah, ayo battle sekarang!" balasku, menunjukkan Clay Aries-ku. Kami langsung berhadapan dengan jarak 10 meter.
Setelah posisi shoot siap, kami... "3...2...1... GO SHOOT!" seru kami bersamaan. Beyblade kami jatuh bersamaan ditengah 'arena' pertandingan ini.
"Aquilla! Serang dia!" Aquilla melesat cepat menuju Aries.
"Aries! Menghindar!" perintahku. Aries langsung menghindar, berhasil melarikan diri dari Aquilla. Lawanku terlihat tenang-tenang saja.
"Huh! Kali ini tak kubiarkan lolos!" Aquilla kembali mengejar Aries dan menabraknya cukup keras, aku sendiri hampir terperanjat.
Sial! Sepertinya dia sangat kuat! pikirku, tetapi, aku harus tetap tenang untuk memikirkan peluang yang ada. "Kau ingin battle yang seperti ini! Akan kulayani!" ujarku. Aries kembali menghindar. Sebenarnya ini taktikku untuk menghabiskan energi lawan yang mengejarku, setelah itu, Aries akan menyerang dan... Aquilla akan kalah! Aku harus hati-hati kali ini!
"Lagi-lagi kau mau kabur, ya!" Aquilla melesat dan menghantam Aries lagi, lebih keras daripada yang tadi. Sepertinya taktik ini harus kuakhiri sekarang.
"Aku serius sekarang!" ucapku dengan senyuman, "kubuktikan keseriusanku! Aries! Sheep Horn Throw!" seruku. Ram, wujud Aries muncul.
Hikaru memberikan secangkir ocha hangat pada Ryuusei-san. Ryuusei-san menatap layar laptopnya dengan wajah serius.
"Turnamen di kota A berjalan sukses," gumamnya, kemudian melihat secangkir ocha disamping laptopnya, "ah, Hikaru, terima kasih...," ucapnya. Hikaru menangguk dan Ryuusei meminum ocha-nya, dan meletakkan cangkirnya kembali.
"Bagaimana turnamen di kota B?" tanya Hikaru.
Ryuusei-san meng-klik kota B kemudian membaca informasi-informasi didalamnya, "tidak ada masalah juga di kota ini...," jawabya. Ryuusei-san mengarahkan kursornya kearah kota C.
"Ryuusei-san... mm... manajer... apakah tahun ini akan ada diadakan turnamen akbar seperti Battle Bladers?"
Ryuusei-san memandang kearah Hikaru dan menggeleng, " tidak , kalau turnamen antar desa dan kota ada, seperti sekarang ini," jawabnya. Ryuusei-san menatap Hikaru dalam, membuat gadis itu salah tingkah.
"Ngng... ada apa manajer... Ryuusei-san...!" tanya Hikaru, gugup.
" Sebaiknya kau panggil aku Phoenix, atau 'Phoenix si Burung Abadi yang Bersinar'! Hahaha!" Ryuusei-san terbahak, berdiri kemudian menepuk bahu Hikaru, "kau memang asisten handal!" lanjutnya, masih terbahak-bahak.
Apa maksudnya! Manajer aneh! Hikaru sweatdrop melihat Ryuusei-san masih terus terbahak. "I... iya... baiklah..." suara Hikaru terdengar pasrah.
DHUAAARR...! Ryuusei-san terlonjak. Ledakan itu mengejutkan dirinya dan asistennya itu. "Ledakan apa ini!" tanyanya, masih dengan wajah kaget.
"Tidak tahu, tapi sepertinya dari lapangan dibelakang sana!" jawab Hikaru.
Ryuusei-san bangkit, "ayo kita lihat!" ajaknya, menarik tangan Hikaru kencang dan berlari menuju lapangan belakang WBBA. Hikaru tak dapat melepaskan tangannya yang digenggam Ryuusei-san super erat.
"B...baik manajer... tapi sebelumnya, lepaskan dulu tangan saya,"
"Uhuk! Uhuk!" aku terbatuk-batuk diantara asap pekat yang mengebul di sekelilingku, berusaha kuat untuk berdiri tegak. Bagaimana dengan hasil pertandingan kali ini? Siapa pemenangnya?
Aku mendengar suara beyblade melayang kebelakangku, kemudian terjatuh. Beyblade siapa itu? Jangan-jangan...
Asap yang mengebul, perlahan menipis dan hilang. "Aries! Dimana aries!" tanyaku mencari-cari Clay Aries. Aku mundur dan... tap! Sepertinya aku menginjak sesuatu, dan ternyata...
Aku melihat sebuah Beyblade yang terinjak olehku, mataku terbelalak dan... "ARIEEEEEES...!"jeritku histeris melihat beyblade-ku tergeletak diatas lapangan. Aku berlutut dan meraih 'partner setiaku', menghela napas. Tiba-tiba aku tersentak dan tersadar.
Tunggu! Bagaimana dengan Aquilla! Apakah dia juga...
Aku segera membalik badan dan berdiri. Oh, tidak! Aquilla... . Kulihat Aquilla tetap berputar. "Aries, kita kalah..." gumamku lemah, memandangi Aquilla yang masih terus berputar kuat.
"Lumayan hebat juga," ucap Tsubasa, mengambil beyblade-nya dan tersenyum.
Ugh! Aquilla sangat hebat! Dengan satu kali serangan 'special movement'-nya sudah menaklukan Aries. Sungguh, lawan yang amat tangguh! Kekuatanku belum ada apa-apanya! Aku menggeram, namun inilah kenyataan yang harus kuhadapi.
"Hyouma!" panggil Tsubasa, aku mengadahkan wajah tertundukku. Lelaki berambut panjang itu berdiri didepanku.
"Ada apa!" tanyaku sedikit sinis, "aku tahu kau menang..."
"Pertandingan tadi hebat juga! Suatu saat, ayo tanding lagi!" ujar Tsubasa, terlihat bersemangat namun tetap kalem. Aku memandanginya, sedikit kaget dengan ucapannya tadi.
Aku mengangguk, 'Spirit Blader'-ku kembali. Benar juga! Kekalahan ini hanya sementara. Suatu saat nanti, aku pasti bisa mengalahkannya dengan kekuatanku! Bahkan mungkin... aku menghela napas sebelum melanjutkan pikiranku... aku akan mengalahkan Gingka! Rival terkuatku!
"Ya!" balasku, "tapi berikutnya, akulah yang akan menang!" lanjutku dengan spirit yang meluap. Aku mengulurkan tanganku dan berjabat tangan.
"Hei! Kalian tidak apa-apa! Ada apa ini!" tanya seorang lelaki paruh muda berlari tergopoh-gopoh kearah kami. Aku memandang kesekitarku, lapangan yang tadinya rata berubah menjadi retak-retak akibat battle tadi.
"Tadi kami battle," jawabku singkat. Lelaki paruh muda itu, Ryuusei-san masih melihat kesekitarnya.
"Siapa yang menang?"
"Tsubasa," jawabku. Akh! Tiba-tiba kepalaku sakit lagi... bukan, sakitnya jauh lebih hebat daripada yang kemarin-kemarin! Seketika itu juga aku memegangi kepalaku yang tersiksa luar biasa. Aku merasakan tubuhku melayang, lepas.
"HYOUMA!" kudengar suara mereka memanggilku. Tubuhku terasa seperti terbentur sesuatu. Kubuka mataku yang sempat tertutup perlahan, Ryuusei-san dan Tsubasa menahan tubuhku ynag hampir terjatuh.
"Hyouma, daijobu ka! Kau kenapa!" Ryuusei-san bertanya dengan suara cukup keras, raut wajahnya terlihat sangat cemas. Aku menggeleng lemah. Ugh! Mengapa aku selemah ini? Pikirku tak terima. Aku berusaha menguatkan diriku namun yang terjadi malah sebaliknya. Napasku justru terengah-engah dan tercekik. Rasanya aku tak bisa bernapas lagi.
"Tapi kau wajahmu pucat sekali! Sebaiknya kau dibawa ke kamarmu dan beristirahat disana!" Tsubasa memapahku, dibantu Ryuusei-san. Tidak! Aku sudah menyusahkan orang lain! Apa-apaan aku ini! Aku tak mau merepotkan orang lain! Tapi sekarang! Aku telah menyusahkan mereka !
"Ryuusei-san!" seorang gadis berambut biru muda berlari kearah kami, "ada apa ini!" tanyanya tanpa melihat keadaanku.
"Astaga!" desisku lemah tanpa terdengar siapapun. Hikaru! Gadis itu kini melihat kearahku. TIDAK! Aku tak mau dilihat gadis itu dengan keadaan yang lemah dan payah ini! Aku tak mau dia menganggapku seorang lelaki yang lemah! Tapi aku... tubuhku...
"Hyouma...," ucap Ryuusei-san pelan. Ryuusei-san, kumohon jangan katakan kalau aku... " sepertinya dia sakit," lanjutnya. Ryuusei-san! Kau sudah mengatakannya! Aku... aku...
Hikaru memandangiku dengan tatapan yang tak begitu kumengerti, entah iba atau apa. Hikaru, kumohon jangan pandangi aku seperti itu! Aku tak mau dikasihani olehmu!
"Kalau begitu, bawa saja dia kekamarnya," saran Hikaru, persis seperti saran Tsubasa tadi. Akupun dipapah oleh kedua lelaki itu menuju kamarku.
"Nah, ini kamarmu Hyouma!" kata Ryuusei-san. Hikaru membuka pintu kamar baruku itu.
Aku melihat sekeliling kamarku. Kamar itu terdiri dari dua tempat tidur sederhana yang terbuat dari kayu, dengan seprai, bantal dan selimut semuanya serba putih. Dindingnya berwarna biru muda yang lembut. Diantara kedua tempat tidur ada jendela berukuran sedang. Agak jauh dari samping tempat tidur, ada sebuah pintu yang tertutup.
"Nah ini kamarmu dan Gingka," kata Ryuusei-san, menuntunku ke tempat tidur dan membaringkanku diatasnya."Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya sembari menyelimutiku dengan selimut. Ugh! Aku benci diperlakukan seperti ini! Aku bukan anak kecil lagi!
"Jauh lebih baik," jawabku dengan wajah masam.
Ryuusei-san mengelus rambutku, "Hikaru, Tsubasa, sebaiknya kalian tinggalkan kami berdua disini," perintahnya dengan senyuman. Hikaru dan Tsubasa segera meninggalkan kamarku. Kini aku hanya berdua dengan Ryuusei-san yang duduk dipinggiran tempat tidur.
Lelaki beranak satu itu menatap mataku, "kau tak suka diperlakukan seperti ini, ya! Maafkan aku, Hyouma. Aku hanya ingin bernostalgia. Waktu kecil kau dan Gingka sering kuperlakukan seperti itu waktu mau tidur," ucapnya penuh rasa bersalah.
Tentu saja! Waktu itu berbeda dengan aku yang sekarang! protesku dalam hati. Namun aku menggelengkan kepalaku, "tak apa Ryuusei-san, justru akulah yang telah menyusahkan...,"
Ryuusei-san tersenyum, aku melihat sisi kebapakannya (atau keibuannya?). Aku telah mengenalnya sejak aku lahir, jadi aku tahu semua sifat yang ada pada lelaki tersebut.
"Kau tak pernah menyusahkan sama sekali," Ryuusei-san menenangkanku, lalu beranjak dari tempat itu, "sebaiknya kau beristirahat, aku pergi dulu. Selamat tidur," ucapnya sebelum meninggalkan kamar. Aku segera menarik selimutku dan memejamkan kedua mataku.
Telingaku menangkap suara derap langkah orang yang berlari. Kubuka mataku, dan aku mendengar percakapan-percakapan didepan kamar ini.
"Sssst! Gingka! Jangan lari-lari! Nanti dia bangun!" aku mendengar suara Madoka. Sepertinya 'dia' yang Madoka maksud adalah aku.
Gingka tertawa kecil, meringis, "maafkan aku, Madoka! Aku nggak sabar untuk mengetahui keadaannya," jawabnya.
"Gingin! Aku yang bawa burgernya, sini!"
"Ah, ya! Ini Yuu!" ujar Gingka. Pintu kamar terbuka, aku menyembunyikan diriku kedalam selimut.
"Hyouma!" panggil Gingka, aku membuka sedikit selimutku dan melirik para tamu yang datang : Gingka, Madoka, Kenta dan Yuu.
"Oh, hai minna-san!" balasku lemas, lalu mengangkat selimut dan akhirnya aku terduduk bersandar oleh papan tempat tidurku.
"Kudengar dari ayahku dan Tsubasa, tadi kau hampir pingsan, ya?" Gingka memastikanku dengan nada serius.
"Mungkin, tapi sekarang aku tak apa-apa," jawabku. Gomen minna-san... aku telah membuat kalian cemas dan khawatir...
"Sepertinya sakit kepalamu sering banget kambuh. Sebenarnya kau ini kenapa?"
"Ngngng... aku tak tahu..." jawabku, dengan kepala tertunduk.
"Mungkin kau butuh ke Rumah Sakit sekarang," saran Madoka.
"Tidak usah Madoka. Ini bukan apa-apa," jawabku, "gomen... maafkan aku telah menyusahkan kalian...," ungkapku sambil menatap semuanya satu-persatu.
"Tidak! Kau tidak menyusahkan kami!" jawab semuanya. Gingka merangkul bahuku, aku terkejut. "Jangan pernah bilang begitu! Kau adalah bagian dari kami! Kita ini sahabat!"
Aku terkejut, Gingka menganggapku sahabat? Bukan hanya teman masa kecilnya? Namun kulihat kejujuran dari matanya. Kulihat satu-persatu wajah semuanya. Tatapan mata mereka mengatakan hal yang sama dengan Gingka.
"Arigatou..." ucapku lirih. Jujur, aku terharu mendengar ucapan Gingka tadi. Aku, bukan hanya sekedar teman masa kecil, tetapi sahabatnya.
"Ah! Kau tak perlu begitu!" sanggah Gingka, tersenyum lebar.
"Gingka, bagaimana dengan burgernya! Udah mau dingin lho!" ujar Kenta.
"Oh, ya! Hyouma! tadi kubawakan ini untukmu, Tsubasa, ayah dan Hikaru! Eh, Yuu! Berikan kantong yang itu padaku," ucap Gingka menunjuk kearah salah satu kantong yang dibawa Yuu.
"Nih!" Yuu memberikan kantong itu langsung padaku, bukan pada Gingka. Aku menerimanya dengan tangan yang bergetar.
"Arigatou minna-san...," ucapku berulang kali.
"Sudahlah, Hyouma! Nggak usah sungkan begitu!"ujar Gingka. Yang bisa kulakukan saat ini, membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
Sesuatu merasuki pikiranku, aku merasa sesuatu yang buruk menantiku. Perasaan ini membuat jantungku berdebar sangat kencang dan tak dapat berhenti.
Apa yang akan terjadi! Mengapa perasaanku tak enak begini! MENGAPA!
TBC (to chapter 2)
Saya : "TBC? Penyakit yang batuk-batuk itu, ya!" *o'on mode on*
Kucing lewat : Miaw! Miaw! Miaw! (dibaca : "Bukan itu Author o'on! Itu 'To Be Continued'! Dasar katro!")
Saya : "Oh" (bulat)
Kucing lewat : Miaw! Miaw! Miaw! Miaw! (dibaca : "Ah, garing lo! Ga lucu lo...! Cepetan deh lo akhirin hidup lo!") *nyakar muka saya*
Saya : Ok, Minna-san...! Jangan lupa kritik saran serta pujian *ngarep mode on* di REVIEW. REVIEW YES, FLAME NO...! See you...! ^_^
