Chapter one: A for aww.

Nayeon berlari tergesa-gesa menuju kantin. Ia sudah memiliki janji dengan temannya untuk berkumpul di sana tapi karena tadi Mr. Oh meminta bantuannya untuk mengantarkan beberapa berkas ke ruangannya, Nayeon jadi terlambat.

Nayeon melihat arlojinya─Sial, jam istirahat akan segera berakhir. Ia semakin mempercepat lajunya, dengan terus memperhatikan jarum jam tangannya, tanpa melihat kedepan. Lajunya terlalu cepat, sampai-sampai Nayeon tidak mengetahui tali sepatunya lepas. Tiba-tiba,

/BRUKK/

Nayeon jatuh telungkup karena kecerobohannya sendiri. Kondisi lorong sedang tidak terlalu ramai saat itu, hingga Nayeon tidak perlu merasa malu karena tidak ada orang yang menyaksikan kejadian memalukan itu.

Oops, sepertinya Nayeon salah. Di belakangnya berdiri seorang lelaki, yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari pertama sampai akhir.

"Aww." adalah kata pertama yang Nayeon ucapkan.

"Kau tak apa?" tanya lelaki tersebut.

Nayeon berdiam di tempat, tetap dalam posisi telungkup diatas lantai yang dingin. Suara khawatir lelaki itu semakin membuat Nayeon tidak mau bangun─saking malunya.

Bingung karena tidak mendapat respon, lelaki itu mendekati Nayeon, berjongkok di sampingnya. Nayeon memejamkan matanya rapat-rapat, terlalu malu untuk menghadapi kenyataan. Ingatan tentang teman-temannya yang sedang menunggu di kantin hilang, persetan dengan itu─yang Nayeon inginkan adalah segera terbebas dari situasi awkward ini.

Merasa saling diam adalah bukan keputusan yang tepat, perlahan Nayeon bangun dari posisinya. Dengan takut-takut, Nayeon menatap lelaki itu─yang kini sedang tersenyum.

"Y-ya.. aku tidak apa-apa." balas Nayeon untuk menjawab pertanyaan lelaki itu, Senyuman lelaki itu semakin lebar, membuat Nayeon ingin bersembunyi di lapisan bumi yang paling dalam─entah karena malu, atau tidak kuat dengan senyuman manis lelaki ini.

"Mau kubantu?" ucap lelaki tanpa nama itu seraya mengulurkan tangannya. Nayeon segera menggeleng dan berdiri sambil menggumamkan 'tidak usah' berkali-kali.

Lelaki itu mengangguk dan mengeluarkan senyuman manis itu lagi─yang Nayeon akui sebagai kelemahan barunya.

Kecanggungan seakan enggan pergi dari dua sejoli ini. Hingga akhirnya dengan beberapa pertimbangan, lelaki itu kembali mengulurkan tangannya.

"Namaku Choi Seungcheol, kau?"

"Na-namaku Im Nayeon." balas Nayeon dengan gugup, tanpa menjabat tangan Seungcheol.

Seungcheol yang merasa kembali terabaikan, menurunkan tangannya dengan malu. Nayeon yang menyadari itu, segera menahan tangannya dan menjabatnya, sebelum tangan itu benar-benar turun.

"M-maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu." ucap Nayeon dengan nada bersalah. Perlakuan Nayeon ini membuat Seungcheol terkekeh geli, membuat Nayeon menatapnya bingung.

Seungcheol kembali tersenyum, "Kalau begitu, salam kenal. Dan sampai jumpa, Nayeon."

Seungcheol melenggang pergi, meninggalkan Nayeon dengan wajah semerah tomat. Nayeon menangkup kedua pipinya, sambil tersenyum malu. Kemudian kembali berjongkok untuk mengikat tali sepatu sialannya itu.

Setelah selesai mengikat sepatunya dengan rapi, Nayeon kembali melanjutkan perjalanannya ke kantin dengan senyuman yang seakan tak mau pergi dari bibirnya.

FIN

421 words.

A/N : Hahahah. Gak tau deh, ini ff apaan. Idenya tiba-tiba muncul aja pas dengerin lagu SEVENTEEN – Still Lonely. Yang mana ff sama lagunya aja gak nyambung, huhu. Aku juga mau ngucapin maaf sama foreword, judul, dan cerita yang gak nyambung u_u
Oh, ya. Terimakasih untuk yang sudah direview di forewordnya. Pasti kalian salahsatu dari suruhanku ya- hahahah. Btw, ini elatan rapet ga tulisannya(?)

Hope you like it deh, RnR?