"Aku sangat ingin mengingatmu, Yifan."
Ada yang bilang, sesuatu yang dilakukan secara berulang akan sulit untuk dilupakan. Jadi atas dasar hipotesa yang tidak jelas dari siapa itu, Yifan mendapat ide.
Malam ini dikamar bernuansa biru tua yang redup, Yifan tengah menulis sesuatu dimeja belajarnya. Bukan belajar, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menggunakan meja ini berdasarkan fungsinya. Tapi sesuatu yang lebih penting. Tentang Zhang Yixing yang juga tak diketahuinya sejak kapan masuk kata 'penting' dihidupnya. Jika mau mengurutkan daftar kepentingannya sekarang menjadi : Zhang Yixing, Zhang Yixing, Zhang Yixing, Yixing, basket, mama, papa, Yina. Jangan kaget jika tak ada kata tugas kampus karena Yifan bukan mahasiswa teladan.
Ia membuat daftar hal-hal apa saja yang bisa dilakukan setiap harinya dengan Yixing, ini langkah awal untuknya menepati janji. Kejadian sore tadi sedikit gila atau dengan kata lain benar-benar sangat idiot, menyatakan cinta pada Yixing? Demi Tuhan, Wu Yifan bukanlah pria polos yang baru mengenal cinta. Umurnya sudah dua puluh empat tahun, ia pernah mengencani wanita dan bahkan beberapa sempat berakhir diatas ranjang. Meski begitu, Yifan bukan pria brengsek khas orang barat. Ia tak akan berkencan jika tanpa perasaan, apalagi meniduri wanita hanya untuk bersenang-senang. Sederhananya, Yifan mengerti seperti apa itu cinta. Tapi kali ini, terhadap tetangganya yang pelupa, ia amat sangat tak mengerti. Kenapa jantungnya selalu berdetak diluar batas normal saat bersama Yixing? Kenapa seluruh rongga ditubuhnya selalu sesak dengan rasa senang karena mendengar suara lembut terkesan lirih itu? Kenapa ia sulit bernafas dan aliran darahnya serasa berhenti ketika Zhang Yixing tersenyum, oh dan jangan lupakan cekung mungil nan manis dipipi kanannya yang jadi musuh utama jantung Yifan? Atau ketika tidak sengaja menyentuh kulit Yixing ada setrum aneh terasa, yang membuat Yifan selalu memperingati diri untuk tak sering melakukan skinsip pada pria itu agar resiko mati tersengat listrik dapat berkurang. Yifan benar-benar tak mengerti kenapa ia berubah jadi orang bodoh yang tak mengerti apapun soal cinta, seolah ia memang baru pertama kali merasakannya. Semua definisi cinta yang ia tahu selama ini tak berlaku untuk Yixing. Tapi yang pasti, perasaannya kali ini jauh lebih tulus. Jadi tak Yifan hiraukan jawaban ambigu Yixing tadi sore. Lagipula, Yifan juga tidak yakin pria seperti Yixing mengerti apa itu cinta.
Yifan masih sibuk menorehkan pulpen bertinta biru di lembaran kertas buku note-nya, ditemani alunan lembut musik serta suara bariton Jeff Bernad dengan lagunya My Dear. Memudahkan isi otaknya bekerja memproduksi ide-ide romantis untuk dilakukannya bersama Yixing nanti.
Cklek
"Gege, boleh aku masuk?"
Itu pertanyaan retoris, Yifan menyadarinya ketika ia menoleh dan mendapati adik perempuan berpiyama minnie mouse itu sudah berada didalam wilayah teritorial kamarnya dengan pintu dibelakangnya yang bahkan sudah tertutup. Tangan Yifan bergerak cepat menutup buku note miliknya, mengingat keingintahuan Yina terhadap hal-hal yang bukan urusannya sangatlah besar.
"Ada apa?"
Yina tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih rapi. Ada dua kemungkinan untuk arti senyuman ini, menurut pengalaman Yifan. Pertama, berita baik sungguhan yang akan disampaikan dan kedua, barita baik bagi Yina dan kabar buruk untuk sang kakak.
"Temani aku keluar sebentar?!"
Dan sialnya kemungkinan kedua yang lebih sering terjadi. Yifan mengerang, merentangkan kedua tangannya keatas sampai terdengar bunyi gemeretak antar sendinya. Lalu setelah itu kembali menatap adiknya dengan raut wajah datar andalannya.
"Malas."
Yina cemberut, bibirnya yang semula melengkung keatas kini tertekuk sempurna kebawah. Untuk beberapa detik mampu membuat Yifan mengingat seseorang yang reaksinya tak jauh beda dengan Yina jika sedang kecewa. Yeah, you absolutely know who is he.
"Jahat sekali, kau tega ge, adikmu yang manis ini keluar sendiri di malam yang dingin?"
"Ya kalau begitu tidak usah keluar, Yi."
Meninggalkan adiknya yang masih cemberut, Yifan mulai mengambil langkah menuju ranjangnya. Berpura-pura ingin segera tidur agar Yina menyerah merayunya dan pergi dari wilayah kamarnya. Tapi yang ia lupakan, adiknya itu punya otak yang jenius.
"Oke, aku bisa pergi sendiri mengantar sup ikan buatan mama. Lagipula rumah Yixing ge kan hanya disebelah. G night."
Satu nama yang disebut oleh Yina cukup membuat langkah Yifan berbelok sedikit. Bukan menuju ranjangnya, melainkan ke arah lemari gantung untuk mengambil mantel coklat tebalnya, mengenakannya cepat, lalu berbalik kearah adiknya yang tengah mendekap dua tangannya didada, menatap sinis sang kakak. Yifan juga menambahkan senyuman di wajahnya sekarang.
"C'mon, Yi. Nanti sup ikannya akan dingin."
Yifan membuka pintu dan memegang kedua bahu adiknya agar bisa mendorongnya kuat karena Yina masih setia dengan hanya menatapnya tajam.
"Tingkahmu seperti orang yang sedang jatuh cinta, ge."
Dalam hati Yifan berteriak membenarkan ucapan sang adik, tapi yang ia tunjukan hanya senyum super lebarnya.
...
Pukul setengah delapan malam lewat sepuluh menit, saat dua bersaudara Wu ini tengah duduk disofa coklat muda yang sedikit kusam didalam sebuah rumah mungil (karena hanya ada dua kamar tidur, ruang tengah, dapur, kamar mandi, serta halaman depan yang ditanami bunga matahari yang tingginya hampir mengalahkan Yina), sederhana (Yifan tak melihat ada benda elektronik selain jam dinding besar yang membuat setiap detik dalam waktu berbunyi kecil), dan nyaman (perpaduan seluruh ruangan berwarna cream pudar dengan warna kuning dari bunga matahari dihalaman, membuat rasa nyaman sendiri bagi penghuninya). Yifan tak heran, tipikal sang penghuni rumah dengan lingkungannya adalah sama. Mungil, sederhana, nyaman, seperti Zhang Yixing dan neneknya tentu saja.
"Gege, tatapanmu itu seperti seorang perampok yang sedang meneliti rumah incarannya."
Bisikkan kecil Yina mampu membuat Yifan berhenti mengedarkan pandangnya kesekitar, dan menjadikan adiknya itu titik penglihatannya. Alis tebalnya tertekuk, Yina menatapnya seolah ia perampok sungguhan.
"Jangan bercanda, Yi."
Mana ada perampok setampan Wu Yifan kan? Adiknya itu memang butuh pelajaran tata krama lebih. Yifan hanya sedikit takjub saja melihat rumah sekecil ini tapi memiliki aura nyaman yang besar. Tidak seperti Yina yang hampir setiap hari bermain disini, Yifan justru baru pertama kali masuk kerumah Yixing setelah hampir dua bulan mereka bertetangga. Dan lagi, alasan utamanya melihat sekeliling ruangan ini adalah tidak adanya sang alasan utama dia berada disini.
"Yixing dikamar, ia langsung tidur setelah pulang bermain dengan kalian tadi."
Nenek Shu datang dari arah dapur lengkap dengan nampan berisi dua gelas teh madu hangat, meletakkannya dimeja. Yina langsung meraih salah satu gelas dan meminumnya pelan, sedangkan sang kakak masih tak bereaksi hanya matanya yang berkedip tiga kali.
"Dia sedikit demam. Badannya hangat, salahku tidak mengingatkannya tentang jaket saat akan keluar tadi."
Entah, fakta jika seorang Zhang Yixing sedang sakit mempengaruhi banyak hal di diri Yifan. Seluruh sendi tubuhnya melemas dan anehnya ia juga merasa seperti kata 'demam' berlaku untuknya sekarang. Bahkan titik-titik keringat sebesar biji jagung mulai menuruni pelipisnya, membuat poni rambut pirangnya jadi saling menyatu dan menempel. Berikutnya ada rasa bersalah yang seperti batu menimpa dadanya, sesak sekali. Yixing sakit, dan keadaan Yifan sangat buruk sehabis mendengarnya.
"A ap apa dia baik-baik saja?" kegaguan Yifan menahan pergerakan nenek Shu yang hendak kembali kedapur mengambil rantang berisi sup ikan tadi yang isinya telah dipindahkan. Yina juga menaruh gelas teh yang sisa setengah ke atas meja, segera menatap heran pada kakaknya yang tiba-tiba terlihat aneh.
Wanita tua dan berkarisma itu tersenyum lembut menyadari kekhawatiran yang besar dari nada suara Yifan, "Dia baik-baik saja. Terimakasih untuk jaketmu yang membuat keadaannya tak lebih buruk, Yifan."
Ada sebersit rasa lega bagi Yifan meski sesak masih mendominasi tapi setidaknya ia sudah punya cukup tenaga untuk balas tersenyum dan mengangguk sebagai respon. Ia mengingatkan diri untuk selalu memastikan Yixing mengenakan baju hangatnya di hari-hari beku yang akan datang. Sepeninggal nenek Shu yang kembali kedapur, Yina masih menatap heran keadaan aneh kakaknya yang kini melempar pandang pada sebuah pintu bercat coklat kayu di sudut kanan ruangan ini. Sesuatu dalam dirinya berkata bahwa dibalik pintu itulah Zhang Yixing tengah berbaring dan bergelung dalam mimpi-yang Yifan doakan semoga-indah.
"Ge, are you okay?" suara Yina memecah doa dalam hati Yifan. Ia bukan seorang yang taat kemarin, tapi hari ini Yifan berharap doa kecilnya yang meminta Yixing segera sehat bisa didengar. Dengan gerakan kaku, Yifan menoleh pada anak perempuan bermantel putih kebesaran disampingnya. Yina tipe orang yang optimis dan jarang resah, tapi sekarang Yifan bisa melihat kekhawatiran di mata biru adiknya.
"Apa aku terlihat seburuk itu?"
"Kau seperti orang sekarat sekarang." Yina bergidik ngeri.
Zhang Yixing hanya demam dan Wu Yifan sudah seperti orang sekarat? Bagus, perasaan macam apa yang ia miliki untuk laki-laki pelupa itu? Yifan mulai menerka tentang keberadaan satu kata lagi diatas 'cinta' apa ada? Sebuah rasa yang membuatnya merasa terikat sejauh ini dengan seseorang, takdir terkejam yang membuatnya jatuh terlalu dalam pada pesona sesama manusia.. atau memang Zhang Yixing bukanlah seorang manusia? Ia seorang malaikat, jika ingat senyumnya yang terlampau indah untuk ukuran manusia biasa, menurut Yifan.
.
.
Yifan bangun di pagi yang menjadi awal bulan Desember. Mengeluh tentang dinginnya udara dan hidungnya mulai tersumbat cairan. Flu memang tidak pernah jadi hal baik, yang mengherankan semalam ia masih merasa sehat-sehat saja. Oke, pengecualian tentang kata sekarat saat di rumah Yixing itu.
Jadi setelah sarapan, mamanya memaksa Yifan menelan beberapa butir vitamin C yang langsung dituruti tanpa bantahan seperti biasa. Kondisi tubuhnya harus baik karena ia akan melakukan beberapa hal besar hari ini. Dengan Yixing sebagai kata kuncinya.
"Yifan, yakin tak ingin berangkat bersama dengan papa?"
Suara berat papanya mengintrupsi kegiatan Yifan memakai long coat tebal warna coklat didepan pintu. Ia menoleh dan mengangguk pasti. Ia akan mulai menjalankan beberapa daftar yang ia tulis semalam. Dan salah satunya adalah mengantar Yixing ke tempat kerjanya di pusat kota.
"Yey! Berarti kursi depan akan jadi milikku sepenuhnya!"
Well, tempat duduk samping kemudi memang jadi hal utama yang diperdebatkan oleh dua saudara berbeda umur empat belas tahun itu. Yifan sudah sadar jika itu kekanakkan, jadi mulai sekarang ia akan mengalah untuk pergi ke kampusnya dengan bus kota. Salahkan saja Maserati nya di Canada yang dijual untuk alasan penghematan keluarga. Lagipula yang terpenting adalah Yixing juga naik bus untuk menuju ke toko buku tempatnya bekerja.
"Aku berangkat!"
.
Satu menit berjalan dari pintu rumahnya untuk sampai didepan pagar besi berwarna kayu milik tetangganya. Yifan melirik jam tangannya, setengah tujuh pagi. Menurut informasi yang ia dapat dari Yina, toko buku milik Luhan buka pukul delapan pagi. Lalu selebihnya Yifan memperkirakan sendiri, butuh sepuluh menit jalan kaki sampai halte terdekat, lalu perjalanan menggunakan bus ke pusat kota akan memakan waktu hampir satu jam. Jika perkiraannya tidak meleset, Yixing akan berangkat di jam segini. Semoga..
"Yifan?" suara lembut itu dan pintu pagar yang terbuka membuat Yifan beku ditempat. Kombinasi mematikan. Suara lembut Yixing dan senyumnya di pagi hari.
"Hai..."
Tali ranselnya ia genggam erat. Berpikir tentang bagaimana perpaduan jeans abu-abu dan jumper biru tua kebesaran serta syal putih polos yang melingkar asal dileher hingga menutupi dagu dapat menghasilkan sosok seindah Zhang Yixing di pagi ini.
"Selamat pagi, Yifan. Sedang apa?" yang ditanya masih berusaha keras membuat suaranya keluar sementara Yixing bergerak memunggunginya untuk menutup pintu gerbang rumahnya.
"Pagi. Aku disini.. me.. menunggumu?" entah apa maksud nada bertanya di ucapan Yifan, ia hanya tidak begitu yakin dengan satu kata yang bisa mewakili kegiatannya disini pagi ini.
Sekarang Yixing sudah berbalik lagi menghadapnya lengkap dengan satu langkah yang membawa ia lebih dekat dengan Yifan. Dari jarak ini ia bisa menghirup aroma peach lembut yang memabukkan, terlalu feminim untuk menguar dari tubuh seorang laki-laki. Kecuali Yixing, dia laki-laki tapi sangat manis, Yifan membela dalam hati.
"Menungguku?" kening yang nyaris tertutup poni rambut hitamnya itu mengernyit. Tapi tetap terlihat manis di mata Yifan.
"Ya. Mau.. berangkat bersama?" Yifan mulai mengutuk diri saat sadar tingkahnya sekarang seperti anak baru puber yang sedang menjalani masa pendekatan pada orang yang ia sukai. Angin pagi yang masih sejuk berhembus disampingnya, seolah mengingatkan Yifan tentang umurnya yang nyaris seperempat abad. Menjijikkan sekali bertingkah seperti ini.
"Aku masih ingat jalan ke toko buku, Yifan. Jangan khawatir."
Yifan diam. Dalam hati ingin sekali berteriak..
"Ini bukan lagi aku yang mengkhawatirkanmu, tapi tentang caraku membuatmu tidak melupakanku! Bodoh!"
Ternyata hatinya tak cukup untuk menampung keinginannya, jadilah kalimat itu terucap sempurna dengan nada naik beberapa oktaf. Yifan berbikir bahwa Yixing akan ketakutan dengan bentakannya, berjalan lebih dulu dan mengatakan sesuatu tentang 'jangan pernah lagi menemuiku, Yifan'.
"Terimakasih, Yifan." lalu Yixing tersenyum lagi, Yifan masih tak menyangka perkiraannya akan jauh meleset. Tapi yang jelas tubuhnya menghangat di pagi awal Desember yang dingin. Zhang Yixing sumbernya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu."
"Aku mengerti. Jadi bisa kita mulai jalan sekarang? Karena berdiam diri akan membuat kita membeku."
Yixing hanya tidak sadar saja, seberapa banyak kehangatan yang menguar dari kehadirannya disini.
"Tentu. Yakin tak ada yang dilupakan?"
Hembusan angin kembali menyapa ditengah senyum Yixing yang kembali terukir. Yifan melihat gelengan kecil dari pria didepannya, tangannya mulai berontak untuk segera menarik Yixing ke dalam sebuah pelukan yang nyaman. Tapi Yifan mana berani.
"Aku masih mengingatmu dengan jelas."
"Oh ya? Siapa aku?"
"Wu Yifan, tetanggaku, kakak Yina, dan.. "
Yixing maju selangkah, Yifan menahan nafas saat aroma peach itu semakin mendominasi penciumannya. Dan kalimat Yixing selanjutnya membuat senyum pertama Yifan di bulan Desember muncul.
"Seseorang yang akan selalu kuingat."
.
.
Bus kota memang akan selalu padat oleh manusia-manusia yang terburu-buru dikejar waktu dan deadline. Karena itu Yifan memberanikan diri menggenggam tangan Yixing dan menuntunnya untuk mencari celah yang lebih nyaman untuk mereka berdiri dalam bus yang mulai kembali bergerak.
Tak ada tempat duduk tersisa, pilihannya hanya berdiri menumpu pada besi pegangan diatas. Yifan menemukan spot yang sedikit lengang di bagian kanan bus, ia menarik Yixing yang tampak kesulitan berjalan ditengah kerumun manusia lain. Sampai akhirnya Yifan berhasil membawa pria itu berdiri didepannya, dan Yifan mulai menjaga keseimbangan dengan menumpukan tangan kanannya pada gagang besi diatas.
"Yifan, aku tak bisa meraih besi itu."
Bus sudah berjalan yang membuat Yixing terlihat lucu karena tubuhnya bergerak ke kanan-kiri karena tak ada yang bisa ia jadikan pegangan untuk menjaga keseimbangan. Spot yang ditemukan Yifan ini memang cukup lengang, tapi posisi Yixing yang terpojok dengan kursi penumpang membuatnya kesulitan meraih pegangan diatas yang memang sedikit jauh dari jangkauannya. Yifan tertawa melihat Yixing yang terombang-ambing didepannya, tawa yang cukup keras mengundang perhatian seisi bus. Tapi Yifan tak peduli, ia justru meraih pinggang Yixing dan menariknya semakin rapat pada tubuh tingginya. Melingkarkan tangan kirinya yang bebas disekitar pinggang ramping itu, sengatan aneh kembali Yifan rasakan, kali ini ia mengabaikannya karena rasa hangat dan nyaman jauh lebih besar.
"Kalau begitu seperti ini saja."
Yixing mengangkat kepalanya untuk menemukan sorot mata hitam yang memandangnya. Jarak antar hidung mereka hanya sekitar tiga centi, salahkan Yifan yang juga ikut menunduk. Tubuhnya sudah tidak lagi bergerak karena lengan panjang Yifan yang menahan kuat pinggangnya.
"Ini memalukan, Yifan."
"Tapi nyaman."
Hening kemudian. Yixing kembali menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya didalam lilitan syal yang melingkari leher. Sementara Yifan mulai berdoa agar jantungnya bersikap lebih normal, atau jika tidak Yixing akan segera menyadari detakan keras disana yang menggambarkan seberapa gugup Yifan sekarang.
"Kau gugup? Jantungmu berdetak cepat."
Jantung sial jantung sial jantung sial!
"Disini pengap sekali, aku baru pertama kali naik bus kota di Changsa!"
"Jadi kau gugup karena ini pengalaman pertamamu naik bus?"
"Y..ya, kau pikir apa?'
"Kupikir sama sepertiku yang gugup dalam posisi ini."
Zhang Yixing yang terlalu jujur itu sedikit menyebalkan. Tanpa sadar Yifan mengeratkan pelukannya pada pinggang Yixing.
"Aku bahkan selalu gugup saat didekatmu, bodoh."
Kecepatan serta lirihnya gumaman itu membuat Yixing tak mendengarnya dengan baik. Ia mengerjap dan kembali menatap Yifan, "Kau bicara sesuatu?"
Yifan memilih membuang pandangnya ke kerumunan orang disekitarnya, bus tampak sangat tenang dengan orang-orang yang sibuk dengan gadget masing-masing. Mungkin hanya ia dan Yixing saja yang memiliki sebuah interaksi disini.
"Bagaimana keadaanmu? Nenek bilang semalam kau demam setelah pulang dari taman kemarin."
Bus berhenti dihalte berikutnya dan beberapa orang mulai ikut menyesakkan diri dalam keramaian isi bus, beruntungnya beberapa orang juga ada yang turun. Yifan refleks mengeratkan lingkaran tangannya pada Yixing saat mulai terasa dorongan disana-sini. Dan nafasnya kembali tersangkut di tenggorokan saat kedua tangan Yixing kini ikut melingkar dipinggangnya. Yifan berdoa lagi, untuk ketenangan sang jantung didalam sana.
"Lebih baik."
.
.
Mulai detik ini Yifan akan mulai memikirkan lagi tentang basket yang masuk dalam daftar kepentingannya, karena olahraga itu yang menahannya di kampus hingga sampai pukul delapan malam ini. Padahal sebelumnya ia berjanji akan menjemput Yixing di toko buku dan sudah memaksa laki-laki pelupa itu untuk menunggunya. Untuk kali ini, Yifan berharap pikun Yixing kambuh sehingga tak perlu menunggunya selama tiga jam (Yixing pulang pukul enam sore)
Tapi Yifan tetap berlari secepat mungkin setelah turun dari bus, menyusuri kompleks pertokoan yang sudah lumayan sepi. Yifan sempat menghubungi Luhan tadi, tapi laki-laki mungil itu bilang bahwa ia tidak pergi ke toko karena ada urusan lain jadi bisa dipastikan Zhang Yixing akan seorang diri jika tetap menunggu ditengah udara yang serasa membekukan paru-paru ini. Jangan tanya soal ponsel pada Yixing, ia telah menyerah memiliki benda itu setelah beberapa kali menghilangkannya.
Jarak yang harusnya ditempuh dengan sepuluh menit berjalan santai kini hanya lima menit bagi Yifan yang berlari dengan kaki-kaki panjangnya. Oksigen disekitarnya makin menipis karena dinginnya udara yang ia hirup, nafasnya tersengal, flu tadi pagi belum menghilang meski tidak parah. Dan sosok yang berdiri didepan toko kecil diujung jalan memperparah sendat aliran nafasnya. Yifan kali ini berjalan pelan menghampirinya yang tampak masih belum menyadari keberadaan orang lain disekitarnya, satu lagi kebiasaan Zhang Yixing yang menyebalkan. Melamun dengan wajah yang bertambah manis.
Tiga langkah lagi, dan Yifan baru menyadari syal yang tidak melingkari leher Yixing melainkan disampirkan di lengan kirinya. Yifan curiga jika laki-laki itu memang sengaja ingin mati beku.
"Yixing.."
Pandangan mereka bertemu. Yifan dengan rasa bersalahnya dan Yixing yang tampak sangat terkejut.
"Yifan? Ada apa?" suaranya masih saja setipis angin dingin yang lewat. Tapi raut wajah bingungnya serta pertanyaan yang ia lontarkan, memaksa Yifan menyadari sesuatu yang seharusnya tak perlu lagi membuatnya terkejut.
"Ada apa?"
Yifan mengulangi pertanyaan dengan nada yang sama. Laki-laki didepannya mengernyit heran sebelum berakhir dengan seulas senyum tipis di bibirnya yang nyaris berwarna putih.
"Iya, ada apa Yifan kesini? Tidak biasanya." senyumnya memang tak selalu menjadi hal baik. Kali ini mampu membuat Yifan benar-benar membeku ditempat, menatap pria yang lebih pendek didepannya tak percaya.
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?"
Yixing tampak berpikir, raut wajahnya berubah sendu tersampaikan dengan baik. "Menunggu"
"Siapa yang kau tunggu, Zhang Yixing?"
Mengenal Zhang Yixing selama lebih dari sebulan harusnya sudah akan terbiasa dengan hal seperti ini. Tapi nyatanya tidak, Yifan masih merasa sesuatu dalam tubuhnya hancur ketika lagi-lagi terlupakan oleh Yixing.
"Perasaanku mengatakan untuk menunggu seseorang setelah selesai bekerja."
Udara malam ini bergerak lembut diantara mereka, menyibak surai pirang dan hitam si dua laki-laki. Menghantar rasa sedih dengan sempurna.
"Dan siapa seseorang itu?"
"Aku.. tidak tahu"
Yifan memutus kontak mata mereka sejak tadi, seketika saja aspal jalan dibawah sepatunya tampak lebih menarik dibanding Zhang Yixing. Ada apa dengan perasaan Yixing? Seharusnya ia melupakan saja semua hal yang pagi ini terjadi hingga tak perlu repot menunggu apapun malam ini. Sekeras apapun usaha Yifan untuk tidak kecewa, tetaplah gagal. Janjinya tak terpenuhi dihari pertama. Entah hanya sampai mana hal yang Yixing ingat tentangnya hari ini.
Satu menit dan Yifan kembali mengangkat pandangnya menemukan Zhang Yixing dengan aura kerapuhannya yang mengintip. Selalu seperti ini, Yixing akan tampak rapuh jika ia sedang melupakan sesuatu. Seperti orang sekarat yang memohon untuk tetap hidup.
"Ayo pulang" kali kedua ia menggengam tangan itu terasa berbeda. Dingin sekali. Yifan panik sendiri, "Ya Tuhan, kau membeku!"
Diraihnya satu lagi telapak tangan Yixing, menyatukannya, dan membungkus kedua telapak tangan itu dalam genggaman tangan-tangannya yang lebih besar dan tentu saja lebih hangat. Menggosok-gosokkannya lalu menghembuskan nafasnya kesana, melakukan hal apapun yang ia tau untuk membuat suhu tubuh seseorang kembali naik. Yixing yang hanya diam menatap, wajahnya pucat tak berekspresi. Mengingatkan Yifan pada pertemuan pertama mereka.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Yifan putuskan bertanya ditengah nafas yang masih ia hembuskan pada telapak tangan yang ia genggam. Bodoh jika ia tak selalu khawatir melihat Yixing yang dalam keadaan seperti ini.
"Tak ada. Hanya saja aku tetap harus menunggu seseorang, Yifan. Tidak bisa pulang sekarang"
"Kau bahkan tidak tahu siapa orang yang kau tunggu, Yixing!"
"Tapi aku yakin dia pasti datang."
Suasana menghangat, terlebih untuk Yifan. Ucapan Yixing barusan memberi arti tersembunyi bahwa alam bawah sadar Yixing sangat mempercayainya. Meski otaknya tak bisa mengingat, tapi hati dan perasaan Zhang Yixing meyakininya.
Yifan melepaskan genggamannya, mengambil syal putih yang tersampir dilipatan siku tangan kanan Yixing. Lalu tanpa banyak bicara lagi segera melilitkan bahan lembut itu disekitar leher jenjang pria didepannya yang hanya menatap tanpa berkedip, "Ya, pada akhirnya dia memang datang jadi ayo pulang?!"
"Apa maksudmu?"
Telapak tangan mereka kembali menyatu, mengisi ruang kosong diantara sela jari yang ada, Yifan sudah akan menuntun Yixing untuk segera melangkah tapi laki-laki itu tak bergerak dan menatapnya penasaran.
"Mulai sekarang, aku akan selalu jadi orang yang datang. Jadi jika kau melupakan siapa orang yang sedang kau tunggu, maka aku adalah satu-satunya jawabanmu. Mengerti?"
Yixing masih menatapnya tanpa kedipan namun kali ini ekspresinya lebih hidup, terkejut yang bercampur dengan sedikit tertegun. Yifan tak bisa menahan tangannya untuk tak bergerak lebih jauh dari sekedar menggenggam, bergerak lembut mengusak surai hitam yang tampak berkilat ditengah nyala lampu toko yang kekuningan tepat diatas mereka. Lalu senyum dibibir Yifan terbentuk.
"Yifan, ada yang sedang kulupakan tentangmu ya?" kesedihan kembali terlihat dibola mata Yixing, ia sudah mulai mengerti sesuatu yang salah terjadi. Lagi. Dan itu pasti tentang Yifan.
"Ya, dan aku akan selalu mengingatkanmu."
"Maaf."
"Bisa kau katakan lagi? Siapa aku?"
Tangan Yifan sudah bergerak turun, sedikit membungkukkan tubuh menjulangnya agar pandangan mereka bertemu. Yixing mengukir senyum mematikannya. Dan kali ini, ia yang menautkan jemarinya dengan milik Yifan. Erat, sampai rasanya tak ada udara dingin yang mampu menyusup diantaranya.
"Wu Yifan, kakak Yina, tetanggaku, dan orang yang akan selalu kuingat."
"Pintar. Aku juga orang yang akan selalu datang disetiap penantianmu."
"Apa itu juga harus selalu kuingat?"
"Tentu saja, bodoh. Tapi yang terpenting dan harus kau ingat adalah.."
Entah keberanian dari mana, Yifan yang tadi takut untuk hanya menggenggam tangan Zhang Yixing kini justru mampu melakukannya lebih jauh. Tubuhnya yang ia sejajarkan dengan Yixing memudahkan untuk mencuri satu kecupan singkat dari bibir tebal didepannya. Hanya kecupan dan singkat, tapi mampu membuat seluruh sendi tubuhnya melemas. Seperti sesuatu telah mengangkat dan menerbangkan dirinya. Alhasil suara yang berusaha ia keluarkan hanya menghasilkan bisikan lembut ditelinga Yixing yang sama sekali tak bergerak karena rasa kejut bersumber dibibirnya.
"Aku seseorang yang mencintaimu."
.
.
.
...
Buat SodariBangYifan, jujur aku baru tau film itu dari kamu hehe dan setelah aku search.. Ya, karakter Yixing disini sedikit mirip dengan yg di peranin si cantik Drew, kayanya.. Soalnya aku jg belum yakin mau dibawa kemana ini alurnya/?
And thanks a lot for review, guys~ you all are the best! ^^
