Jaejoong mengurung dirinya di kamar. Ia langsung pulang ke rumah setelah insiden di laboratorium siang tadi. Setiap Jum'at Kibum selalu memberikan pengobatan gratis di panti asuhan dan rumah jompo sampai sore nanti sehingga Jaejoong tidak perlu khawatir mommy-nya akan tahu ia membolos kecuali jika pihak sekolah menelfon.
Dan sepertinya merek sudah menelfon karena sekarang ia bisa mendengar Kibum menggedor pintu kamarnya.
"Choi Jaejoong, cepat keluar!" Perintah Kibum, kesal. "Dasar anak bodoh! Kenapa kau tidak pukul mereka sampai babak belur?! Malah pulang seperti pengecut!" Protes Kibum sambil terus memukul pintu.
Jaejoong yang merasa jengah, membuka pintu kamarnya. "Ibu berkelahi itu tidaklah benar." Ujar Jaejoong lesu.
Kibum mendecak kesal. Ia melepas jas putihnya. Siang tadi pihak sekolah menelfon Kibum karena anaknya itu berkelahi di saat jam pelajaran biologi berlangsung dan kemudian meninggalkan sekolah begitu saja. Selama ini pria yang berprofesi sebagai dokter itu sudah muak dengan sikap anaknya yang berfikir kekerasan bukanlah jalan keluar dari masalah dan pola pikirnya condong mengarah pada suaminya itu. "Yah! Aku tahu tetapi bisakah kau realistis sekali saja?! Mereka adalah remaja tidak berotak yang hanya bisa diajari dengan ini!" Ujar Kibum sambil mengepalkan tangannya ke udara. Berusaha menunjukkannya pada Jaejoong.
Jaejoong hanya menunduk sementara Kibum memijat keningnya, stress. "Fine. So, what happen?" Tanya Kibum diakhir.
Jaejoong hanya menggelengkan kepala sambil menunduk. "Kau ingin aku memukul betismu dengan rotan, heh, bocah!" Ancam Kibum jengah.
"Aku takut mommy mengamuk di sekolah besok!" Ujar Jaejoong sambil merajuk. Ia takut insiden di Spanyol saat berada di tingkat tujuh terulang kembali.
"Oh, jadi karena masalah itu lagi." Kibum tertawa, terdengar sangat mengerikan.
"Mom, sudahlah. Awalnya memang kesal tetapi sekarang aku sudah tidak apa-apa." Ujar Jaejoong meyakinkan.
"Biar aku ke sekolah besok." Ujar Kibum geram. Pria itu langsung turun dari lantai atas, kamar anaknya dan bersiap menelfon pengacaranya untuk mengajukan tuntutan ke pihak sekolah.
"Mom!" Panggil Jaejoong berusaha menghentikan Kibum yang sudah menuju ruang kerjanya di sayap kanan mansion mereka. Anak itu berusaha meraih tubuh ibunya yang terlihat mengacuhkan panggilannya.
"Jangan menghalangiku!" Perintahnya pada Jaejoong. Ia melepaskan genggaman tangan anaknya. Jaejoong yang keras kepala, langsung beralih memeluk kaki Kibum sambil merengek terseret-seret dilantai ketika Kibum tetap pada keputusannya.
"Mom, jangan."
"Kau ingin daddy-mu yang turun tangan atau aku, heh?" Tanya Kibum, mengancam. Jaejoong menggeleng sambil memelas. Ia ingat bagaimana mommy-nya yang kejam ini menuntut sekolah lamanya di Spanyol dan menjadikan bangunan itu rata dengan tanah. Kibum memang suka meledak-ledak jika menyangkut tindak diskriminasi yang diterima Jaejoong karena ia pun seorang male pregnant tetapi jika hal ini sampai terdengar oleh telinga Choi Siwon, Jaejoong tidak bisa membayangkannya. Hanya Choi Siwon yang dapat memaksa orang yang paling Jaejoong takuti di dunia untuk menikahinya. Melihat kenyataan ini membuatnya tidak bisa memandang rendah daddy-nya itu.
"Aku memilih pilihan ketiga." Ajunya.
Kibum hanya mengerutkan alis.
...
Sesuai perjanjian, Kibum tidak menelfon pengacaranya tetapi bukan berarti pria itu tidak datang ke sekolah dan mengancam kepala sekolah Jaejoong sampai pucat pasi. Kibum langsung tersenyum sambil memasang kacamata hitamnya, puas sudah mengeluarkan ancamannya untuk menutup sekolah karena melakukan tindakan diskriminasi terhadap anak kesayangannya. Pria itu langsung saja berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelas yang Jaejoong tempati. Jaejoong duduk di barisan pertama paling dekat dengan jendela yang menghadap ke halaman sekolah. Kibum menghembuskan nafas lega melihat Jaejoong baik-baik saja. Akhirnya pria itu pun memutuskan untuk pulang kerumah.
Bel istirahat berbunyi. Guru Nam, selaku guru Matematika, langsung mengakhiri kelasnya. Jaejoong tergesah-gesah mengeluarkan bekal makan siangnya yang berisiskan tiga potong onigiri dengan isian daging dan kimchi. Perutnya sudah kelaparan sejak tadi. Kibum terlihat tidak setuju dengan penawaran yang ia ajukan sehingga ia harus mati-matian merengek pada mommy-nya itu sampai melupakan sarapannya.
"Um, enak." Bisik Jaejoong sambil tersenyum. Onigiri buatan umma-nya memang selalu lezat. Jaejoong mengirim pesan singkat pada umma-nya bahwa ia sangat berterima kasih kepada pria yang melahirkannya itu untuk tidak berbuat keributan di sekolah dan hanya berbicara pada kepala sekolah saja. Jaejoong tersenyum simpul mendapati balasan dari Kibum tanpa menyadari suasana kelasnya yang terasa sangat muram. Semua teman sekelas Jaejoong menatapnya dengan pandangan kesal tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya menitikan air mata sambil memakan bekal milik mereka. Sementara Jaejoong yang saat itu sedang bahagia membuat mereka semakin iri dan kesal.
Seorang gadis teman sekelas Jaejoong nekat berjalan menghampirinya walaupun beberapa teman sebangku gadis itu sudah menahannya untuk tidak pergi. "Kenapa kau tega sekali..." Gadis itu terisak. "...kenapa kau menghancurkan bisnis keluargaku!" Protesnya sambil menangis di depan meja Jaejoong. Jaejoong yang tidak mengerti apapun hanya kebingungan sambil melihat ke sekelilingnya. Pria itu bingung dan merasa waspada takut jika ini adalah acting mereka untuk mem-bully-nya. Sayangnya yang ia lihat adalah semua teman sekelasnya terlihat murung dan berusaha menahan tangisannya.
Pandangan Jaejoong kembali fokus pada gadis yang menangis di depannya itu. "A-apa yang kulakukan?" Tanya Jaejoong tidak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Semua pelanggan tidak jadi memesan suku cadang dari pabrik keluargaku." Isaknya. Gadis itu tidak terima ketika ayahnya pulang dengan wajah lesu berbicara pada ibunya bahwa semua pesanan dibatalkan padahal proses produksi sudah mencapai 90%. Merekapun harus membayar pinjaman dari bank yang jumlahnya tidaklah sedikit.a
"Ke-kenapa aku? Semuakan bisa kebetulan." Tanya Jaejoong sekali lagi, ia masih tidak mengerti.
"Semua karena orang bermarga Choi. Satu-satunya yang bermarga Choi di kelas ini hanya kau..." Gadis itu menangis semakin kencang. "...gara-gara kejadian kemarin. Bahkan Changminpun tidak masuk hari ini." Ujarnya lirih.
Jaejoong melirik bangku Changmin yang kosong hari ini. Semua teman sekelasnya terlihat kesal menatapnya. Entah apa yang terjadi pada mereka, Jaejoong tidak tahu. Ia menelfon Kibum, memastikan ummanya itu menepati janjinya.
Bunyi nada sambung terdengar menggema di dalam kamar mandi pria. Di dalam bilik kamar mandi, Jaejoong duduk di kloset setelah menghindar dari tatapan tidak suka teman sekelasnya. Bahkan ia pun memakan onigiri-nya di dalam sana.
'Jae, ada apa?' Tanya Kibum disebrang sana.
"Mom, kau berjanji hanya berbicara pada kepala sekolah bukan?" Tanya Jaejoong berusaha tenang takut mommy-nya tersinggung. Ia hanya ingin memastikan bahwa Kibum tidak ingkar.
'Ya. Apa terjadi sesuatu?'
"Mereka menangis karena bisnis keluarga mereka hancur." Jaejoong mengeluh sambil memijat keningnya, sama seperti yang Kibum lakukan ketika stess.
'Sepetinya daddy-mu tahu sesuatu.' Ujar Kibum. Ia teringat pada bodyguard yang disewa Siwon untuk menguntitnya setiap hari. Mungkin saja hal itu terjadi pada Jaejoong, sayangnya anak satu-satunya itu terkadang tidaklah peka.
Terdengar hembusan nafas kasar dari telfon kemudian bunyi ketukan mengakhiri pembicaraan mereka.
...
Jaejoong kembali membolos walaupun ia sedikit khawatir Kibum akan memukul betisnya dengan rotan kembali. Remaja berusia 17 tahun itu pergi ke kantor daddy-nya yang hanya sebuah gedung kecil berlantai tiga. Gedung itu adalah gedung dengan gaya futuristic dimana berbentuk seperti kubah dengan rangka baja yang menjadi kerangkanya. Jaejoong sangat suka dengan bangunan ini karena pandangannya tidaklah terhalang oleh tembok-tembok beton yang bisanya ia lihat pada bangunan kantor yang terlihat kotak-kotak. Poin penting yang paling Jaejoong sukai adalah ia bisa melihat pantulan samar dirinya disetiap dinding kaca.
Penjaga resepsionis menyambutnya dengan ramah. Wanita itu meminta Jaejoong menyebutkan namanya dan mempersilakannya untuk langsung ke lantai tiga menemui daddy-nya. Sesampainya disana, seorang sekertaris Siwon langsung mempersilakan masuk keruangan yang dihuni oleh satu orang itu.
Jaejoong sudah sering ke kantor daddy-nya dan memang begitulah proses yang harus ia jalani. Rungan Choi Siwon adalah ruangan terluas di gedung ini. Luasnya hampir mencapai 50 meter persegi dan hanya diisi dengan satu meja dan satu kursi yang didisain khusus begitupun dengan lantai dan interior lainnya. Sayangnya Jaejoong tidak terlalu suka dengan laintai marmer berwarna mutiara hitam yang terkadang membuatnya takut berada disana pada malam hari meskipun lampu sudah dinyalakan.
Jaejoong membuka pintu ruangan dengan perlahan dan terkejut mendapati ada dua orang sedang berdiri menghadap meja Siwon dan salah satunya memakai seragam sekolah yang sama dengan miliknya.
"Daddy!" Panggil Jaejoong. "Apa aku mengganggu?"Tanyanya.
Kedua pria yang berada di depan meja Siwon berbalik. Jaejoong hanya tercengang mendapati ternyata pria yang memakai seragam sekolah itu adalah Shim Changmin. Sayangnya Changmin tidak demikian. Changmin terlihat kesal sambil membuang muka tidak ingin Jaejoong merasa puas melihat lebam di wajahnya sehabis dihajar habis-habisan oleh ayahnya kemarin. Seumur hidupnya, remaja yang selalu menempati juara pertama itu tidak pernah dikasari oleh orang tuanya, sayangnya sekarang tidak lagi. Saat ia pulang sekolah, remaja itu mendapati ayahnya sudah pulang dan duduk di sofa menunggunya dengan amarah yang sudah memuncak. Tanpa disangka saat ia menyapa, remaja itu malah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dan sekarang ia harus meminta maaf kepada Jaejoong untuk menyelamatkan rumah sakit keluarga mereka.
Jaejoong berjalan perlahan menuju meja Siwon dengan rasa bersalah yang luar biasa. Ia melihat Changmin yang terlihat semakin marah padanya. Siwon terlihat acuh, pria itu sibuk menandatangani berkas-berkas yang ia periksa sejak tadi.
"Jaejoong-ssi, atas nama anak saya, Changmin, saya meminta maaf sebesar-besarnya. Tolong maafkan dia." Ujar kepala keluarga Shim itu sambil membungkukkan badannya begitupun dengan Changmin.
Sebenarnya Changmin muak dengan semua ini tetapi ia pun tidak ingin keluarganya bangkrut karena ulahnya itu. Sejak pagi tadi mereka disini berdiri sambil meminta maaf pada pria Spanyol yang terlihat sangat berpengaruh itu. Ia melihat bagaimana ayahnya rela berdiri berjam-jam untuk meminta maaf dengan tubuh yang bergetar, padahal sejak awal pria spanyol itu terlihat cuek dan tidak peduli.
"I-iyah." Ujar Jaejoong gugup.
Jaejoong hanya kebingungan melihat mereka yang masih membungkuk. Ia melihat daddy-nya yang terlihat cuek dari biasanya.
Changmin mendengar ayahnya berdeham pelan memberinya sebuah kode yang harus ia lakukan. "Ma-maafkan saya. Jaejoong-ssi." Pinta Changmin takut.
"I-iyah." Ujar Jaejoong.
Siwon langsung menghentikan pekerjaanya mendengar permintaan maaf dari Changmin pada anaknya. "Aku percaya kau sudah mengajarkan anakmu dengan baik, Tuan Shim. Dan kurasa semua masalah kecil ini sudah selesai. Semoga kita bisa bekerja sama dilain waktu." Siwon tersenyum seperti tidak terjadi apapun.
"Terima kasih." Ujar Tuan Shim dengan raut wajah yang terlihat lega. Ia kembali menundukkan kepalanya diikuti oleh Changmin sebelum menghilang di balik pintu.
Jaejoong hanya meneguk ludahnya. Ternyata selama ini, remaja pecinta gajah itu tidak menyangka daddy-nya begitu menyeramkan. Pantaslah Kibum, umma-nya terpaksa menikahi pria Spanyol itu.
"Ini belum jam pulang sekolah, bukan?" Tanya Siwon. Jaejoong hanya gugup tidak bisa berkata apa-apa. "Kau ingin betismu dipukul rotan lagi, heh, bocah?" Tanya Siwon sekali lagi, mirip seperti Kibum.
Jaejoong kembali meneguk ludahnya. Sudah dipastikan dengan jelas bahwa orang yang melakukan semua hal itu adalah pria dihadapannya.
"Daddy, kenapa kau lakukan itu semua? Bukankan kau yang mengajarkan tidak menyakiti orang lain." Tanya Jaejoong pelan.
"Bukankah mereka yang memulai dan kau sendiri yang berkata akan membuat keluarga Shim menderita." Ujar Siwon, kembali memeriksa dokumen dihadapannya.
"Tetapi aku hanya marah sesaat." Ujar Jaejoong memelas.
"Lalu kau ingin bagaimana?" Tanya Siwon.
"Yah, tentu saja mengembalikannya ketempat semula." Ujar Jaejoong sambil menghela nafas.
"Aku sudah hampir menghabiskan satu juta dolar untuk hal ini." Ujar Siwon tidak mau kalah.
"Aku akan meminjam uang pada mommy." Ujar Jaejoong polos. Siwon hanya bisa bersabar dengan pemikiran putranya yang polos itu.
"Kau pikir dari mana mommy punya uang? Bahkan uang yang ia habiskan untuk selingkuhannya pun, berasal dari rekening milikku." Ujar Siwon kesal. Jaejoong membuatnya teringat pertengkarannya dengan Kibum kemarin.
Jaejoong mengerucutkan mulutnya. "Itu salah daddy yang selalu membawa pria lain ke hotel. Apalagi yang seumuran denganku." Ujar Jaejoong protes. Beginilah interaksi ayah dan anak keluarga Choi. Mereka saling membuka aib seakan-akan hal itu adalah hal yang wajar untuk dikatakan.
"Salahkan mommy-mu yang selalu dingin. Kami bahkan hanya bercinta satu tahun sekali." Protes Siwon kesal. Ia mengambil cerutunya dari laci meja dan meresapinya perlahan.
"Dad, apakah pantas merokok di depan seseorang yang masih dibawah umur?!" Protes Jaejoong tidak suka. "Dan bisakah kau membawakan kursi kesini, aku lelah berdiri terus."
Siwon hanya mengembuskan nafasnya, lelah. Ia mematikan cerutunya dan memanggil sekertarisnya melalui intercall untuk membawakan kursi agar anaknya bisa duduk. Siwon memang sengaja hanya meletakkan satu kursi diruangan yaitu kursi miliknya, ia lebih senang jika ia tidaklah diganggu saat bekerja. Jaejoong pengecualian karena hanya putra satu-satunya ini yang bisa diajak berkonsultasi atas masalah yang menimpa rumah tangganya dengan Kibum walaupun pekerjaan anak itu hanya protes dan protes.
Beberapa menit kemudian, seseorang membawakan kursi dan Jaejoong duduk disana, tepat di depan Siwon. "Mommy sangat kesal mendengar daddy membawa pria lagi ke hotel." Ujar Jaejoong sambil mengeluarkan satu potong onigiri sisa makan siangnya dan memberikannya pada Siwon. "Daddy belum makan kan?"
Siwon hanya terperanga menatap bekal makan siang Jaejoong. Ia menutup wajahnya, merasa menyesal. Teringat bagaimana dulu Kibum yang menjadi dokter pribadinya selalu membuatkan onigiri yang didalamnya ada irisan daging dan kimchi ketika ia pura-pura mengeluh sakit perut. "Dia hanya mencintaimu." Ujar Siwon lirih.
...
Jung Yunho merasa enggan untuk kembali pulang kerumah dan mendapati Heechul yang tidak henti-hentinya membicarakan remaja yang direncanakan akan menikahinya itu. Tentang bagaimana keuntungannya bila menjadikan remaja itu istrinya kelak. Inilah alasan Jung Yunho pulang agak larut malam ini, berusaha menghindari Heechul sayangnya wanita yang sudah hampir mencapai usia 50 tahun itu masih betah berjaga di depan televisi.
"Ibu tidak tidur?" Tanya Yunho pada ibunya.
Heehul hanya menggeleng sambil kembali melanjutkan menonton sinema tengah malam yang menampilkan sebuah film romantis yang agak erotis itu. "Yunho temani aku disini, maukan?" Tanya Heechul sambil menepuk sisi sofa yang masih kosong disebelahnya.
"Hem." Jawab Yunho sambil menghampiri ibunya itu.
"Kau sudah mempertimbangkan pertunangan itukan?" Tanya Heechul.
Yunho hanya mendesah pelan. "Ibu sudahlah, jangan bicarakan hal itu. Dia masih SMA. Masa depannya sangat bagus untuk apa dia bergantung padaku." Ujar Yunho.
"Apa kau tidak akan menyesal? Kau tahu Andrew itukan? Dia orang terkaya nomor 3 di dunia. Dia bisa membantu krisis keuangan perusahaanmu dan lagi kalau kalian menikah, kekayaan mer-"
"Ibu, aku menghargaimu dan tidak ingin berdebat lagi. Aku bisa mengembalikan kondisi keuangan kita dan itu bukan dengan menikahinya. Ada baiknya anak itu sendiri yang mengelola bisnis orang tuanya." Ujar Yunho final. Ia meninggalkan Heechul sendiri di sana.
...
Hari ini adalah hari dimana Jaejoong akhirnya tidak lagi membolos sekolah. Sejak kejadian kemarin, tidak ada lagi yang berani menindasnya begitupun dengan Changmin yang terlihat menghindar darinya. Semua guru pun melakukan hal yang sama karena sebuah isu aneh yang membuatnya geli. Mereka semua menganggap Jaejoong adalah anak seorang gangster. Remaja itu merasa malu sendiri mengingat bagaimana kepala sekolahnya yang botak itu berkeringat dingin menatapnya, ulah dari Choi Kibum yang datang kesekolah kemarin. Mommy-nya memang sangat menyeramkan.
Bel pulang sekolah berdentang tepat pukul 4 sore. Remaja ini pun langsung memasukan semua peraltan sekolahnya ke dalam tas miliknya dan berjalan menuju gerbang. Sampai saat ia melihat Yunho di depan sambil melambaikan tangan. Yunho membawanya menuju rumah makan kecil di pasar dekat dengan sekolahan Jaejoong. "Ada apa?" Tanya Jaejoong sambil mengunyak Tteokbokki miliknya.
"Aku harap kau tidak tersinggung. Aku tidak ingin menikah." Ujar Yunho hati-hati takut jika pria dihadapannya ini tersinggung.
Jaejoong mengangguk paham. "Aku mengerti." Ujar Jaejoong.
"Kau yakin mengerti?" Tanya Yunho tidak yakin.
"Yah, tentu saja." Ujar Jaejoong sambil terus mengunyah makannya.
Yunho mendesah pelan. "Syukurlah aku pikir kau akan tersinggung."
Jaejoong tertawa. "Sikapmu yang kemarin yang membuatku tersinggung tetapi aku mengerti. Jadi aku tidak menyalahkanmu." Ujar remaja itu sambil kembali memesan Jajangmyeon. "Ini kau yang bayarkan?" Tanya Jaejoong khawatir sambil berbisik. Pasalnya ia tidak membawa sepeserpun uang, hanya uang receh yang cukup untuk menaiki bus pulang.
Yunho mengangguk. "Jadi bisakah kau mengatakannya pada ibumu. Bahwa aku menolak perjodohan ini?"
"Hm." Jaejoong mengangguk.
"Baguslah." Ujar Yunho gembira. Tanpa ia sadari Jaejoong berubah masam menyadari Yunho terlalu bergembira. Jaejoong berfikir bahwa Yunho sama dengan teman sekelasnya yang tidak menerima ia seorang M-Preg karena itu pria ini menolak perjodohan. "Kalau boleh tahu, berapa umurmu sekarang?"
"Tujuh beyas." Mulut Jaejoong penuh dengan makanan.
"Aku 30." Ujar Yunho sambil menunjuk dirinya. "Umur kita berbeda sangat jauh lalu kenapa kau menerima pertunangan ini? dan lagi kita berdua pria?" Tanya Yunho.
"Aku pikir kau orang baik jadi aku setuju saja. Pria, wanita sama saja."
"Lalu kau pikir aku orang jahat?" Tanya Yunho sedikit tersinggung.
"Sepertinya? Kau terlihat memandangku jijik ketika tahu aku adalah M-Preg."
"Ma-maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya syok mengetahui bahwa pria dapat melahirkan."
"Tenang saja. Aku sudah melihat banyak ekspresi sepertimu saat tahu bahwa aku seorang male pregnant dan aku berlapang dada. Aku ini adalah anak yang dibesarkan dengan pikiran terbuka. Aku juga tidak menyesal menjadi m-preg." Ujar Jaejoong sambil menepuk dadanya bangga.
"Aku minta maaf. Memang, aku merasa aneh ada hal yang sepertimu tetapi mau dikata apa. Kau sendiri menerimanya." Ujar Yunho diakhir sebelum Jajangmyeon pesanannya selesai diantarkan. Jaejoong terlihat senang, mata anak itu terlihat berbinar mendapati mie berwarna hitam itu ada dimejanya. Yunho hanya tersenyum melihat tingkah Jaejoong. Sebagai anak orang kaya sepertinya Jaejoong tidak terlihat manja. Anak itu tidak mengeluh Yunho membawanya ke pasar bukan restoran mewah yang berada dihotel bintang lima.
Bahkan anak ini terlihat tidak pernah makan. "Ajhuma, minta lagi! Tambahkan irisan dagingnya yang banyak. Biar semua ajhushi ini yang bayar."
oOo
Chapter selanjutnya...
"Hei tuan pemarah! Apa kabar!"
