.

Trouble Maker

Naruto © Masasshi kisimoto

High School DxD © Ichie Ishibumi

Trouble Maker © DiwarX

WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, dan sebagainya.

Pair : [ Naruto Uzumaki X Sona Sitri ]

.

Chapter 2 : Iblis Betina

.

Tombak cahaya itu dengan cepat melesat ke arahnya. Naruto benar-benar tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir secepat ini.

"Jangan menyerah,"

Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya itu membuatnya kembali membuka matanya. "Nii-san?" Gumamnya pelan.

"Dengar. Sebelum kau kukalahkan lagi, jangan pernah membiarkan orang lain mengalahkanmu!"

Kata-kata itu membuat dirinya membeku. Dia mengingat bahwa dulu sebelum kakaknya menghilang dia pernah mengatakan kalimat itu padanya.

Dengan ragu Naruto mengangkat tangan kanannya ke depan.

Blasshh!

Tombak cahaya itu tiba-tiba menghilang menjadi kepulan asap dan tertiup oleh angin malam yang berhembus. Sedangkan Reynare hanya mampu menatap remaja pirang itu dengan tatapan syok dan was-was.

"Percayalah pada kekuatanmu sendiri." Kalimat itu kembali terdengar dalam benaknya.

"Aku tidak pernah mempercayai sihir..." Naruto berdiri dan berjalan pelan ke arah Reynare yang berdiri di depannya. Karena rasa takut akan kemampuan pemuda di depannya itu membuat Reynare langsung menciptakan dua buah tombak cahaya di kedua tangannya, dan melemparkannya pada Naruto.

Pyarr!

Satu tombak yang di lemparkannya langsung hancur hanya dengan kibasan tangan dari pemuda di depannya. Dan tentu saja hal itu menambah rasa takut yang kini menghinggapi datenshi perempuan itu.

"Aku tidak mempercayai hal berbau supranatural..."

Dengan keadaan kaki gemetar Reynare langsung melemparkan tombak cahaya terakhirnya pada Naruto yang hanya berjarak 5 kali darinya. Namun tobak cahaya itu hanya ditangkap Naruto dengan mudah dan bahkan tanpa perlu meremasnya tombak cahaya itu hancur bagaikan debu tertiup angin.

Dengan perlahan sebuah cahaya membungkus tangan kanan Naruto, dan saat cahaya itu meredup tampak sebuah gauntlet putih dengan aksen segi delapan berwarna emas di atasnya serta jari-jari tajam berwarna hitam.

",, Karena tidak ada satu pun dari mereka yang mempan padaku!" Teriak Naruto sambil melepaskan pukulan tangan bergauntlet itu pada wajah Reynare. Pukulan dari Naruto membuatnya mundur beberapa langkah, serta darah keluar dari bibirnya.

Reynare tidak menyangka bahwa pukulan dari pemuda itu selemah ini. "Siapa sangka, bahwa kau punya Sacred Gear,". Ucap Reynare pada Naruto yang memasang mode bertarung ala berandalan miliknya.

"Tapi kau tetaplah manusia yang tidak berguna, dan sebagai anak yang baik. Bagaimana kalau kau mati dengan tenang di sini, dan berhenti mengganggu pekerjaanku, hm?" Pertanyaan dari Reynare itu malah membuat Naruto tertawa terbahak-bahak.

"Kau tahu, obaa-san. Tidak ada satu pun berandalan di dunia ini yang mau menuruti perintah." Naruto berucap pelan dan langsung berlari menerjang Reynare. Reynare yang melihat pemuda itu berlari ke arahnya dengan sebuah tinju langsung membuat tombak cahaya sekali lagi.

Naruto yang melihat musuhnya membuat sebuah tombak dari cahaya langsung mengangkat tangannya ke depan. Dengan seketika tombak yang baru terbentuk itu langsung musnah.

"Kau bukan ibuku!"

Duuaggh!

Pukulan pertama mengenai wajah Reynare dengan telak.

"Kau bukan keluargaku!"

Buagghh!

Pukulan kedua mengenai perutnya dan sukses membuat Reynare memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Kau bahkan juga bukan kekasihku. Jadi..." Naruto menunduk menyiapkan sebuah tinju terkuatnya.

"Jangan kau pikir aku akan menuruti perintahmu, SIALAN!"

Duaagghh! Brakk!

Sebuah uppercut dengan telak menghantam dagu Reynare hingga membuatnya menabrak bangku taman yang ada di sana hingga patah menjadi dua.

Reynare yang kini diliputi rasa takut yang tidak terkira karena kekuatan aneh pemuda di depannya itu langsung kabur dengan sebuah lingkaran sihir.

"Kabur, eh." Saat dia berniat melihat keadaan Issei tiba-tiba tubuhnya limbung ke depan dan penglihatannya mulai menggelap.

"Are,, kenapa dengan tubuh...ku?"

Brukk!

.

-o0o-

.

Saat dia membuka matanya yang pertama dia lihat adalah sebuah langit-langit dengan sebuah lampu gantung yang belum pernah dia lihat sekalipun.

"Aku... di mana?"Ucap Naruto parau.

"Oh kau sudah bangun." Tanya seorang gadis berambut hitam panjang yang di ikat ponytail dengan sebuah pita berwarna oranye.

"Himejima-senpai, kah?" Naruto memastikan.

"Ara ara. Tak kusangka kau mengenaliku Uzumaki-kun," perempuan itu berucap dengan sebuah senyum simpul yang terukir di wajahnya. Naruto menatap sekeliling mereka, dan dia sama-sekali tak mengenali sekarang ini dia ada di mana.

Terakhir dia ingat dia sedang bertarung dengan perempuan bersayap gagak yang telah membunuh Issei. Tunggu Issei, bagaimana dengan keadaannya.

"Hyoudo. Di mana dia?" Panik Naruto saat teringat teman sekelasnya yang tertusuk tombak cahaya perempuan itu tadi malam.

"Tenang saja, Hyoudo-kun sedang istirahat disana." Tunjuk Akeno pada sosok Issei yang kini tengah terlelap dalam posisi nungging. Dan tentu saja itu membuat Naruto jengkel setengah mati.

Dia kira pemuda itu akan mati setelah semua hal yang terjadi padanya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berdiri dan beranjak dari sofa tempatnya berbaring.

"Kalau begitu aku pergi sekarang. Aku berterima kasih atas bantuanmu kali ini. Dan aku pasti akan membalasnya suatu hari nanti." Ucap Naruto tanpa menatap Akeno, dan berniat beranjak pergi. Namun sebuah pertanyaan menghentikan langkahnya.

"Sebenarnya kau ini siapa, Naruto Uzumaki?" Pertanyaan itu keluar dari sebuah sosok yang tidak terlalu terlihat karena suasana remang-remang yang ada di ruangan itu. Dan yang terlihat oleh Naruto hanyalah surai merah yang mengingatkannya pada sosok yang dulu pernah dia panggil ibu.

"Apa maksudmu Gremory-senpai?" Tanya balik Naruto. Meskipun tersembunyi dalam kegelapan itu, Naruto dapat tahu siapa yang kini berbicara padanya, pasalnya cuma ada satu orang yang memiliki rambut berwarna merah seperti itu. Dan dia adalah Rias Gremory, sosok idola yang paling terkenal di Kuoh Akademi.

"Kau mempunyai Sacred Gear, namun tidak memiliki aura Sacred Gear. Jadi sebenarnya kau ini apa?" Jelas Rias.

"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi jika yang kau maksud adalah gelang ini,," tunjuk Naruto pada sebuah gelang putih di tangan kanannya, yang tadinya sempat berubah menjadi semacam gauntlet besar saat melawan perempuan bersayap gagak tadi.

",, Ini adalah peninggalan kakakku. Dan siapa aku ini, aku hanyalah seorang berandalan yang suka bikin onar." Lanjutnya. Dia kembali melanjutkan berjalan ke arah pintu yang dia yakini merupakan pintu keluar dari ruangan itu.

Dia membukanya pelan, sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu dia berucap singkat pada mereka berdua. "Aku tidak peduli dengan siapa atau apa senpai-senpai ini. Tapi, aku akan menganggap masalah ini tidak pernah terjadi, namun aku akan tetap membalas hutangku pada kalian nanti." Setelah itu dia benar-benar keluar dari ruangan itu.

"Akeno. Sepertinya kita harus mengawasinya mulai sekarang." Ucap gadis Gremory itu. Sementara Akeno tahu apa yang dimaksud oleh rajanya yang sedang duduk sambil menatap beberapa bidak Evil Piece di depannya.

"Ya, kau benar Buchou. Baru kali ini ada manusia yang menolak semua Evil Piece milik iblis." Ya itulah yang sedari tadi terus berkecamuk dalam pikiran Rias. Saat dia baru selesai mereinkarnasi Issei menjadi iblis, dia ingin mereinkarnasi juga pemuda pirang itu sebagai salah satu peeragenya. Namun yang dia dapat adalah semua Evil Piece miliknya terpental ke mana-mana. Seakan pemuda itu menolak untuk dijadikan seorang iblis.

"Manusia yang dapat memusnahkan tombak cahaya dengan mudah, Naruto Uzumaki, memang sebuah misteri yang sangat menarik,"

.

-o0o-

.

Naruto kini berjalan dengan santai di tengah malam yang dingin itu. Dia tidak menyangka bahwa insiden yang dihadapinya malam tadi bisa membuatnya tidak sadar sampai pukul 01.24 malam. Dan tentu saja jalanan kota Kuoh kini terlihat sangat lenggang, dan hanya ada beberapa mobil yang melintas.

Dia berjalan di pinggiran sungai yang berada tepat di bawah jembatan kota kuoh.

Brukk!

Merebahkan tubuhnya pada rerumputan dipinggir sungai itu, menatap cahaya rembulan yang menerobos sela-sela awan kelabu yang menutupi langit pada malam itu.

"Rambut dicat pirang, luka mirip codet berjumlah tiga buah di masing-masing pipinya, serta pakaian lusuh dan robek di beberapa bagian. Anak muda jaman sekarang kenapa suka sekali berkelahi sih," Naruto langsung melonjak kaget saat mendengar pernyataan tadi.

Di sana berdiri seorang pria paruh baya berambut hitam dengan ujung poni berwarna pirang, dia mengenakan pakaian sejenis yukata untuk pria berwarna abu-abu. Serta sebuah alat pancing yang ada di tangannya.

"Jika mau kasih masukan pada orang lain, ngaca dulu kenapa? Rambut aja nyemirnya kagak rata kayak gitu," ejek Naruto.

"Ini warna asli bego!" Teriak pria itu.

"Sebenarnya apa maumu pak tua?" Tanya Naruto sinis.

"Langsung to the point, huh? Kau tidak ingin tahu aku ini siapa?" Tanya pria itu. Dia heran dengan pemuda ini. Jika biasanya orang bertemu dengan dia untuk pertama kalinya, dia pasti akan bertanya siapa kau? Tapi pemuda ini tidak begitu. Seakan dia tidak peduli dengan siapa maupun apa dirinya itu. Seorang pemuda yang tidak ingin tahu apa isi dari dunia ini.

"Kenapa harus bertanya begitu? Dan apa juga untungnya mengetahui namamu?!"

Azazel hanya dapat menatap pemuda itu dengan sebuah keringat sebesar biji jagung di pelipisnya. Dia hanya tidak menyangka ada orang se cuek ini pada keadaan di sekelilingnya.

"Terserahlah, aku mau mancing dulu!"

"Kagak nanya!"

Sebuah perempatan tercipta di pelipis Azazel mendengar kalimat cuek dari Naruto. Azazel yakin bahwa bocah ini belum pernah ngerasain ngupil pake tombak cahaya miliknya. 'Sabar Azazel, kau pernah menghadapi orang yang lebih menjengkelkan dari ini' batin Azazel miris.

Sementara Naruto tanpa sadar sudah tenggelam dalam rasa kantuk yang sedari tadi menghinggapinya. Sepertinya dia akan bolos sekolah besok.

.

-o0o-

.

Naruto berjalan pelan memasuki gerbang Kuoh mengenakan seragam sekolah normal namun blazer yang seharusnya dikenakan malah dia gantung di atas bahu kirinya. Dia menengok ke langit untuk sesaat, menatap langit biru yang terlihat begitu indah dihiasi oleh gumpalan kapas yang mereka sebut awan.

"Langit terasa begitu tinggi. Benar begitu, nii-san?" Ucapnya sambil menatap gelang putih di tangan kanannya.

Tanpa dia sadari dia telah diawasi sejak dia masuk ke dalam gerbang sekolah oleh seorang perempuan berambut crimson dari lantai dua. Serta seorang perempuan berambut hitam sebahu sera kacamata yang membingkai di wajahnya.

Dia terus berjalan ke depan dan memasang sikap acuh-tak acuh saat semua siswa maupun siswi yang ada di sekitar memandangnya dengan tatapan takut.

Ia tak terlalu peduli anggapan orang tentang dirinya, dia tidak perlu pengakuan dari orang lain untuk hidup. Yang dibutuhkan untuk hidup hanyalah uang. Uang yang dapat membuatmu lupa akan segala hal, dan bahkan dapat membuat tubuhmu membesar seperti halnya sapi perah yang di kasih makan dengan berlebihan.

Jika ada yang bilang bahwa dia mata duitan, maka akan dijawab Naruto dengan lantang bahwa itu memanglah benar. Dia memang ingin memiliki banyak uang untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan oleh kedua orang brengsek yang dia panggil ayah dan ibu.

Saat dia sampai di kelasnya dia langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada seluruh penghuni kelas di sana yang kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda. Takut, benci, jengkel, dan masih banyak lagi ekspresi yang sulit di ucapkan lewat kata-kata.

Naruto langsung duduk di bangkunya yang terletak di deretan paling belakang, atau lebih tepatnya di dekat jendela yang langsung menghadap ke lapangan Kuoh Akademi. Selang beberapa saat seorang guru masuk ke dalam kelas dan berniat memulai pelajaran, namun pandangannya terhenti pada sosok Naruto yang kini tengah menatap langit lewat jendela di sebelahnya.

"Uzumaki, kenapa kau tidak masuk kemarin?" Tanya seorang laki-laki paruh baya yang Naruto tahu adalah guru matematikanya.

"Maaf sensei, tapi aku hanya mengikuti poster yang ada di gerbang sekolah saja." Ucap Naruto pada guru itu. Dia bermaksud mengatakan bahwa poster yang tertempel di gerbang Kuoh Akademi itulah yang membuatnya membolos.

"Apa maksudmu mengikuti poster yang ada di depan?"

Sedangkan Naruto hanya dapat menghela nafas, dia berdiri dan memasang pose berkaca pinggang. "Kau tahu apa yang di tulis di sanakan, sensei?" Tanya Naruto dengan wajah mengejek yang sukses membuat perempatan di kepala sang guru keluar sebanyak empat buah.

"T-tentu saja aku tahu, di sana tertulis Kata Aku Malu Datang Terlambat, bukan! Jelas aku tahu karena akulah yang membuatnya."

"Maka dari itu, aku tidak masuk karena aku malu datang terlambat. Jadi aku bolos saja," ucap Naruto tanpa menunjukkan wajah bersalah, serta membuat seluruh kelas bising karena suara tawa dari semua anak.

Sedangkan sang guru hanya dapat menahan rasa kesalnya karena telah di permainkan oleh siswa urakan di depannya. "Kau tahu Uzumaki, kau bisa aku skors karena kelakuanmu hari ini," ancam sang guru.

"Di skors. Sungguh? Kalau begitu silah kan!" Ucap Naruto penuh rasa syukur sambil membungkuk ke arah sang guru.

"Sialan!" Teriak sang guru yang sudah tidak kuat menghadapi siswa di depannya itu sambil membanting bukunya. Jika di teruskan biarkan begini dia pasti akan masuk ke dalam halaman pertama sebuah surat kabar dengan judul Seorang Guru Tewas Karena Memarahi Muridnya. Dan itu terlalu tragis untuk akhir dari kisah hidupnya.

"Kau akan mendapat hukuman yang lebih berat dari pada skors Uzumaki!" Dia berucap dengan nada yang seakan tidak memiliki semangat hidup lagi.

Tap tap tap

Srakl!

Semua pasang mata langsung mengarah pada pintu yang dengan tiba-tiba terbuka dengan kasar. Mereka semua mendapati sosok sang ketua OSIS yang kini memasang wajah super kesal.

"Cepat sekali?" Dia tidak percaya hukuman yang dibicarakan guru di depannya itu akan datang dengan begitu cepat dalam wujud iblis betina berkacamata itu.

"Uzumaki, kita perlu bicara." Dia berucap sambil berjalan ke depan Naruto lalu menarik kerah belakangnya. Semua orang menatap Sona yang kini menyeret Naruto dengan pandangan syok serta sejuta pertanyaan yang berkeliaran di kepala mereka.

Mereka tidak menyangka ketua OSIS mereka yang terkenal akan kekaleman serta ekspresi datarnya itu dapat menunjukkan ekspresi kesal yang berbanding terbalik dengan sifat dinginnya. Seakan pemuda yang di seretnya itu memiliki pengaruh besar pada sosok Sona Sitri.

.

-o0o-

.

"Hey, lepaskan aku, megane onna," perintah Naruto.

"Dan kenapa aku harus menurutimu?"

"Karena ini sangat menyakitkan, megane onna," balas Naruto.

Sona langsung menghentikan langkahnya. Dia melepaskan cengkeramannya pada kerah Naruto. "Bisa kau hentikan panggilan anehmu itu, kau tahu itu sangat menyebalkan," ucap Sona yang kembali pada sifat dingin dan kalemnya.

"Lalu aku harus memanggilmu apa?"

Sona memasang pose berpikir untuk memikirkan panggilan yang tepat untuknya. Yang terdengar bagus dan berwibawa.

"Kalau begitu kau harus memanggilku Ojou-sama," ucap Sona dengan sebuah seringai yang membuat rahang Naruto jatuh ke bawah.

"Kau pikir kita sedang di fic Kaichou wa Ojou-sama?! Aku lebih memilih ikut Son Goku mengumpulkan ketujuh dragonball dari pada memanggilmu dengan sebutan itu!" Teriak Naruto.

"Begitu kah? Kalau begitu terserah kau saja mau memanggilku apa?"

"Hah, jadi apa yang sebenarnya kau mau, Terserah-san?" Tanya Naruto.

Naruto mencoba mengembalikan topik ke masalah awal, karena dia merasa pembicaraan mereka telah keluar terlalu jauh dari topik.

Sona membenarkan kacamatanya yang sedikit merosot karena perdebatan alot gak jelas mereka tadi. "Kau tidak perlu banyak tanya, biar kepala sekolah yang menjelaskan semuanya," ucap Sona dan kembali melanjutkan jalannya ke ruang kepala sekolah.

"Karena aku sendiri juga tidak tahu," lanjutnya namun hanya sebuah bisikan lirih.

"Kau bilang apa tadi?" Tanya Naruto, karena dia seperti mendengar bahwa gadis di depannya itu berbisik tentang suatu hal yang tidak diketahuinya.

"Bukan apa-apa."

Sona menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kepala sekolah. Naruto menelan ludahnya sendiri saat melihat pintu di depannya itu. Sedangkan Sona menatap Naruto dengan aneh.

"Jangan memasang ekspresi seolah kita sedang berada di depan pintu gerbang BOSS lantai, bodoh," ucap Sona.

"Kenapa kau jadi cerewet sekali sih, perasaan minggu-minggu lalu kau kalem-kalem aja saat memergokiku membolos?" Tanya Naruto.

"Itu bukan urusanmu."

Sona mengetuk pintu di depannya dengan pelan. Dia mendengar sayub-sayub suara yang menyuruhnya masuk.

Sona membuka pintu itu dengan pelan. "Kouchou-sensei, saya telah membawa Uzumaki-kun kemari, jadi apa yang ingin Anda bicarakan pada kami?" Tanya Sona.

"Begini Sitri-kun. Karena masalah yang di sebabkan oleh Uzumaki-san sudah terlalu banyak, aku ingin kau mengawasinya selama satu bulan ke depan, untuk mencegahnya berbuat onar selama semester baru ini."

"APA!" Teriak mereka berdua tidak percaya.

"Kau pasti bercanda kan Kouchou, mana mungkin aku harus mengawasi alien dari planet lain ini kan?" Tanya Sona yang kini menatap sang kepala sekolah dengan tatapan kosong seolah kalimat dari kepala sekolah tadi telah menerbangkan jiwanya.

"Kau pasti bercanda kan, mana mungkin aku harus di awasi oleh iblis betina ini?"

Sang kepala sekolah hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Maaf, tapi inilah hasil dari rapat guru kemarin. Siswi paling teladan dipasangkan dengan siswa paling buruk di sekolah," pernyataan dari kepala sekolah itu begitu menusuk Naruto.

"Entah kenapa kata dipasangkan itu membuat leherku terasa gatal, dan juga gelar paling buruk itu bukannya terlalu keterlaluan jika ditunjukkan padaku?" Tanya Naruto sambil membayangkan seseorang yang dia rasa lebih pantas memandang gelar itu.

Dan sosok itu kini sedang mengintip eskul kendo yang sedang ganti baju bersama ketiga temannya.

Hachii!

"Kau kenapa Issei?" Tanya seorang remaja berkepala plontos itu pada temannya yang tiba-tiba bersin.

"Entahlah Matsuda, sepertinya aku masuk angin." Ucapnya.

"Jangan keras-keras, nanti kita keta-"

"KYAAAAA!"

"Huan."

Back to Naruto...

"Lalu kau ingin di juluki apa? Sampah masyarakat? Atau Bajingan tengik?" Balas sang kepala sekolah dengan sinis.

"Kurasa yang paling buruk akan cocok untukku."

.

-o0o-

.

Pulang sekolah terasa begitu lama bagi Naruto, tidak hanya harus menjadi bahan tontonan dari banyak siswa-siswi karena perempuan yang kini berjalan di belakangnya itu. Dia harus menahan rasa kesalnya pada beberapa siswa yang melemparinya dengan glare mereka masing-masing.

Mereka kini berjalan di pinggir jalanan kota Kuoh. Tujuan mereka adalah rumah Naruto yang berada di ujung blok itu.

"Sudah kubilang berhenti mengikutiku, Siroti-san," ucap Naruto pada perempuan yang sedari tadi terus berjalan di belakangnya dengan jarak 5 meter layaknya seorang stalker.

"Hentikan panggilan anehmu itu, bodoh." Sungut Sona.

"Maaf lidahku tergigit,"

"Tidak kau pasti sengaja," bantah Sona.

"Lidahku tergigit kok," ucap Naruto dengan sebuah senyum terpaksa di wajahnya. Dan tentu saja itu membuat alis Sona berkedut kesal. Dia memang selalu berpikir jika laki-laki di depannya itu sangat menyebalkan.

"Kau benar-benar membuatku kesal Uzumaki-kun."

"Baguslah kalau kau kesal, kau bisa lekas pergi dari sini, hus hus." Ucap Naruto sambil menggerakkan tangannya seolah dia sedang mengusir kucing liar yang masuk ke rumahnya.

"Maaf tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu." Sona berhenti berjalan dan berkacak pinggang menghadap punggung Naruto. "Dan apa itu mengganggumu, Yankee-san?"

"Tentu saja itu sangat menggang-" Ucapan Naruto terhenti saat tiba-tiba seakan melihat sosok perempuan yang sangat familiar baginya sedang duduk di dalam taksi yang melaju cukup kencang. Sona menatap aneh Naruto yang tiba-tiba menghentikan ucapannya dan malah mengalihkan pandangannya pada taksi yang melintas barusan.

"Sepertinya cuma perasaanku saja," gumam Naruto pelan dan hanya terdengar seperti bisikan yang sangat pelan lalu melanjutkan jalannya. Namun terdengar sangat jelas bagi Sona. Tapi Sona tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu pada Naruto saat dia melihat ekspresinya.

Ekspresi itu seperti seorang yang telah lama ingin bertemu dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Dan entah kenapa saat memikirkan itu ada sesuatu yang aneh pada diri Sona, dia merasakan sebuah perasaan gelisah yang tak biasa. Sebuah perasaan yang sangat sulit dia gambarkan dengan kata-kata lewat otak cerdasnya.

Brukk!

Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri Sona tidak sadar jika pemuda di depannya itu sudah berhenti. An tentu saja dia langsung menabak punggung pemuda itu.

Sambil menggosok hidungnya yang terasa sakit dia menatap pemuda yang kini tengah berdiri di depan sebuah pintu gerbang tradisional yang seluruhnya terbuat dari kayu.

"Ayo masuk," ajak Naruto dengan pelan.

"Eh, masuk? Jangan-jangan ini rumahmu?" Jujur Sona tidak menyangka bahwa pemuda di depannya itu memiliki rumah yang dapat dia katakan cukup besar untuk ukuran penduduk biasa. Seakan keluarga dari pemuda itu sangat berpengaruh pada daerah di sekitar sini.

"Kenapa? Kalau tidak mau masuk pulang sana gih," usir Naruto.

"Jangan bilang kalau di dalam di penuhi oleh banyak anggota yakuza?" Entah kenapa Sona menjadi begitu paranoid jika sedang bersama berandal pirang satu ini.

"Kau pikir aku Icijou Raku?!"

Naruto membuka gerbang itu dan membiarkan Sona masuk terlebih dahulu, lalu menutupnya kembali. Sedangkan Sona kini malah terkagum dengan apa pekarangan itu. Entah mengapa nuansa tradisional sangat terasa di sana.

Sebuah kolam kecil dengan air mancur bambu pun ada di sana, dan yang paling membuat Sona penasaran adalah sebuah ruangan yang letaknya terpisah dengan bangunan lainnya.

"Ne.. Uzu-"

"Naruto,"

"Apa?" Tanya Sona tidak paham.

"Panggil saja Naruto, entah kenapa kalau kau terus memanggil margaku aku jadi merinding sendiri." Terang Naruto.

Sedangkan Sona hanya dapat sweatdrop mendengar pernyataan Naruto barusan. 'apa hubungannya marga dengan merinding coba?' Batin Sona.

"Jadi ruangan apa itu, Na-ru-to?" Ucap Sona dengan nada mengejek saat penyebutan nama Naruto barusan.

"Aku jadi menyesal menyuruhmu memanggil nama depanku.." dia mengalihkan pandangannya pada gedung yang ditunjuk Sona. "...Itu adalah dojo. Dulu aku selalu berlatih di sana?" Jelas Naruto.

"Dulu?"

"Ya, aku belum menginjakkan kakiku ke sana lagi setelah 6 tahun yang lalu," Naruto berucap sambil menerawang ke atas seakan mencoba mengingat masa lalu.

"Kenapa?"

"Banyak hal yang terjadi. Ngomong-ngomong kenapa kau jadi banyak tanya sih? Cita-citamu ingin jadi wartawan ya?" Naruto tidak habis pikir, bagaimana gadis minim ekspresi semacam Sona Sitri dapat berubah 180 derajat seperti ini.

Apakah ini pertanda SPP-nya akan naik lagi. Pemikiran seperti itu langsung di buang Naruto jauh-jauh, karena yah, itu terlalu tidak masuk akal.

Sementara itu Sona hanya diam saja dan menganggap pertanyaan Naruto tadi hanyalah angin yang telah tertiup dan tak akan kembali lagi.

Naruto hanya dapat menghela nafas pasrah menghadapi iblis betina satu ini. Dengan cepat Naruto membuka pintu rumahnya, dia langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan malah langsung melenggang ke arah tempat sepatu, lalu melepaskan sepatu sekolah yang Ia pakai.

"Permisi?" Ucap Sona.

"Maaf kalau berantakan, duduklah di mana pun kau suka. Akan kubuatkan teh." Ucap Naruto pada Sona yang kini mulai sibuk mengobservasi seluruh isi ruangan ini.

"Nee... di mana orang tuamu?" Tanya Sona pada Naruto yang berada di dapur. Sementara butuh waktu hingga hampir satu menit sampai Sona mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

"Mereka sudah meninggal," Sona langsung kaget saat mendengar pernyataan dari Naruto barusan. Dia benar-benar tidak tahu jika pemuda ini adalah seorang yatim piatu, dan itu membuatnya merasa bersalah karena telah mengungkit masalah itu lagi.

"Maaf," ucap Sona sambil menunduk.

"Bicara apa kau ini, tidak usah di pikirkan. Yang lalu biarlah berlalu, dan yang perlu kita hadapi hanyalah masa depan." Ucap Naruto yang datang dari arah dapur sambil membawa nampan yang berisi sebuah teko dan dua buah gelas.

Naruto langsung duduk di kursi yang berseberangan dengan Sona duduk. Dia menuangkan teh hijau itu pada gelas Sona.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, karena aku yakin pasti ada hal penting yang membuatmu harus ikut ke rumahku, bukan?" Tanya Naruto.

"Sebenarnya kau ini siapa Naruto, aku dengar dari Rias bahwa kau memiliki kemampuan aneh yang bisa memusnahkan tombak cahaya dalam sekejap. " tanya Sona.

Sementara Naruto hanya mampu menghela nafas pasrah. Dia merasa seperti sedang di interogasi oleh iblis betina ini.

"Tunggu, kenapa tomato-senpai bisa memberi tahumu kalau aku punya kemampuan aneh ini. Sebenarnya apa hubunganmu dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini?" Dia malah balik bertanya.

"Karena aku adalah seorang iblis, begitu juga dengan Rias," Sona berucap sambil menunjukkan sayap kelelawar miliknya. Sona sama-sekali tidak mendapati ekspresi terkejut dari raut muka si berandal pirang itu, yang ada hanya wajah menjengkelkan lengkap dengan ketiga kumis kucing di masing-masing pipinya.

"Aku tidak percaya," pernyataan dari Naruto itu sukses membuat Sona menjatuhkan rahangnya ke meja. Dia tadi sempat berpikiran jika pemuda di depannya itu sudah tahu jikalau dia adalah seorang iblis, tapi dia malah bilang kalau dia tidak percaya? Lihatlah kedua sayap kelelawar di belakangnya, mereka berdua nyata bung.

"Aku juga bisa menggunakan sihir," ngotot Sona sambil membuat teh yang Naruto hidangkan tadi melayang tepat di depannya. Sementara Naruto kembali menghela nafasnya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh bola air itu, dan dengan sekejap air teh yang melayang itu langsung tumpah berceceran dilantai.

"Sekarang sudah hilang, jadi tidak ada alasan lagi untukku percaya kalau kau adalah seorang iblis." Sekali lagi Naruto tetap mempertahankan pendapatnya itu. Karena dia memang tidak percaya dengan semua itu, meskipun semua bukti telah terpampang jelas di depan matanya.

"Jadi, sebenarnya kekuatan apa itu?"

"Ini adalah kutukan yang ditinggalkan oleh orang tuaku," .

.

.

To be continue...

A/N : Yo, apa kabar semuanya, pastinya baikkan. Bagaimana chapter dua kali ini, aku memang berniat membuat fic yang satu ini lebih santai dibandingkan dengan fic ane yang satunya.

Namun sebelumnya ane mau minta maaf pada temen ane si Anggarda El NiiJyuusan karena bawa-bawa fic kamu, anggap aja gua promosiin :v .

Bagaimana si Naru kagak jadi mati kan. Meskipun ane memang suka membunuh tokoh utama, aku tidak akan membunuhnya pada awal cerita. Masak baru 2 chapter si tokoh utama langsung mati.

Dan juga sosok Sona bisa dikatakan OOC, yah sebenarnya sifatnya itu sama kaya di canon dan hanya berbeda jika di sana ada Naruto, karena entah kenapa dia merasa selalu salah jika berbicara dengan berandalan yang satu itu.

Dan untuk gauntlet putih milik Naruto itu bukanlah Sacred Gear. Karena Sacred Gear pada dasarnya adalah artefact yang terdiri dari kumpulan energi sihir, atau paling tidak memiliki kekuatan yang mengandung sihir. (Setidaknya itu opiniku dan jika kalian memiliki pendapat yang berbeda silahkan saja)

Sedangkan kemampuan dari Naruto adalah menghapuskan segala macam sihir, menolak segala macam sihir yang ada. Namanya adalah Imagine Breaker jika kalian pernah baca LN Toaru majutsu no index atau paling tidak nonton animenya kalian pasti tahu. Dan gauntlet milik Naruto itu adalah sebuah segel yang ditinggalkan oleh kakaknya, guna mencegah kekuatan Naruto meledak dan mengganggu penggunaan sihir yang ada di Kuoh.

Dan kenapa segel itu tidak musnah karena kekuatan Naruto? Itu akan terjawab di pertengahan cerita ini.

Juga, mungkin ini yang terakhir. Sifat berandal Naruto memang tidak terlalu terlihat di chapter ini, dan akan muncul lagi di chapter2 depan. Aku hanya ingin menunjukan sisi lain dari dunia DxD yang biasanya sarat akan hal-hal berbau supranatural.

.

Oke saya akan menjawab pertanyaan dari yang kagak login kemarin..

Femix : Makasih kurasa kagak bisa kalo update kilat, karena aku masih harus ngurus fic ane yg satunya

Pendy : oke. Masalah hinata kayaknya kagak ada deh, dan narutonya hidup kog, tuh lagi berantem ama Sona diatas. Sikap Naruto disini burik, err maksudnya dia tidak peduli dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Apalagi hal-hal supranatural, dia malah kagak percaya.

EL23 : gk usah dua kali juga maho, loe kan udah review di bawah -_-"

Kuasa sudah cukup vanyak aku bicaranya.. sampai-sampai mulut ane berbusa..

.

Okeh,, see you next time and thanks for reading...

.

Kakha...