"MANIS"
.
'Naruto selamanya milik Masashi Kishimoto'
Rate : T Genre : Romance. Pair : NaruHina
WARNING :
Banyak typo bertebaran, OOC(mungkn?), Alur cepat, Author pemula, not plagiat, dll.
Nb : Jika anda tidak suka dengan cerita yang saya buat, silakan dibaca sampai selesai dulu dan silakan mereview kekurangan dari cerita saya.
.
.
.
.
Start
"Sakura, kau dengar tidak rumor tentang Naruto-senpai?"Tanya gadis pirang yang diikat pony tail pada gadis pink yang ada di depannya.
"Tidak, memang kenapa Ino?"Timpal Sakura.
"Kudengar dia menolak semua ajakan perempuan ke prom night! Katanya dia hanya ingin orang yang disukainya yang menjadi pasangannya! Oh my god, betapa beruntungnya wanita itu!" Cerita Ino dengan semangat yang berkobar-kobar.
"Hee..Aku jadi penasaran siapa perempuan itu?"kata Sakura.
"Benar, aku juga sangat penasaran! Apa mungkin itu Shion-senpai? Kudengar akhir-akhir ini hubungan mereka dekat.." Tebak Ino.
"Mungkin saja." Sakura menganggukan kepalanya setuju.
GREK
Hinata yang sedari tadi diam mendegarkan obrolan kedua sahabatnya tiba-tiba berdiri dan menatap kedua sahabatnya dengan gugup, "I-ino-chan, Sakura-chan. Maaf aku ingin ke tempat Neji-nii, membantu pekerjaan Osisnya." Ucap Hinata.
"Baiklah, mau kuantar?" Tawar Sakura yang langsung dibalas gelengan kecil dari Hinata.
"Tidak usah, kalian disini saja. Aku bisa sendiri kok, dan juga nanti Ino-chan dan Sakura-chan tidak usah menungguku, aku pulang dengan Neji-nii."Jelas Hinata dengan senyum lembut terlukis diwajahnya.
"Siap Bos" Jawab keduanya kompak dan setelah itu terdengarlah tawa bahagia dari ketiga insan itu.
.Melt.
Hinata berjalan ke ruang Osis dengan lesu, merasa bersalah telah membohongi kedua sahabatnya. Seharusnya, Hinata membantu pekerjaan kakakknya besok tapi mengingat mood Hinata hari ini yang cukup buruk akibat perlakuaan senpainya 3 hari yang lalu ditambah Ino dan Sakura yang membicarakan tentang prom night dan senpainya itu membuat mood Hinata semakin memburuk dan dengan terpaksanya Hinata harus mengindari pembicaraan tentang senpainya oleh karena itu Hinata kabur dari sana dengan alasan membantu kakaknya. Nasi telah menjadi bubur, mau diapakan lagi? Lebih baik Hinata benar-benar membantu pekerjaan kakakknya hari ini daripada menggalau ria karna senpainya, itu lebih baik. Dan akhirnya Hinatapun sampai di ruang Osis.
CKLEK
"Permisi.." Ucap Hinata setelah membuka pintu ruang Osis.
"Ah, Hinata. Ada apa?"Tanya seorang pria berambut panjang yang sedang duduk mengerjakan dokumen di kursi kebesarannya.
"Neji-nii, boleh aku membantu pekerjaanmu? Aku sedang tidak ada kerjaan."Ungkap Hinata, ia menatap Neji penuh harap.
"Baiklah, kau bisa membereskan ruangan ini? Tanpa Tenten ruangan ini seperti kapal pecah."Pinta Neji yang dibalas dengan anggukan Hinata, Hinatapun mulai membersihkan ruangan itu.
"Memangnya Tenten-san kemana?"Tanya Hinata disela-sela pekerjaannya.
"Dia sakit dan tidak masuk sekolah."Jawab Neji, sekarang ia sibuk dengan gadgetnya. Dokumen yang sedari tadi ia kerjakan nampaknya sudah selesai.
"Kak Neji tidak menjenguk Tenten-san?" Tanya Hinata.
"Sudah, kemarin."Jawab Neji dan hanya dijawab 'oh' oleh Hinata. Hening melanda mereka cukup lama tapi tak lama kemudian dipecahkan oleh Neji.
"Hinata, aku akan ke kantor kepala sekolah. Maaf tapi aku tidak bisa pulang bersamamu nanti, ada 'sesuatu' yang harus kulakukan." Ucap Neji, ia berjalan menuju pintu.
"Iya, Neji-nii. Aku mengerti kok."Jawab Hinata.
"Oh ya satu lagi, nanti akan ada anggota Osis yang kesini. Tidak apa-apakan?"
"Mou, aku bukan anak kecil lagi Neji-nii."Rajuk Hinata dan dibalas dengan tawa geli Neji.
"Aku pergi dulu." Pamit Neji.
"Iya.."Jawab Hinata. Setengah jam berlalu dan sekarang Hinata sudah selesai membersihkan ruang Osis, sekarang tinggal merapikan dokumen dan arsip di rak. Dengan cepat Hinata meletakkan dokumen-dokumen yang telah ia tumpuk tadi sesuai dengan tempatnya masing-masing dan tinggal satu dokumen yang harus diletakkan Hinata tapi sayangnya Hinata tidak bisa menggapainya walau sudah berjinjit. Tiba-tiba dari belakang sebuah tangan merebut buku yang dipegang Hinata dengan lembut dan meletakkannya di rak yang tidak bisa Hinata gapai tadi.
"Ah, terima ka— Uzumaki-senpai?!" Pekik Hinata kaget melihat siapa yang membantunya tadi.
.Melt.
Hening melanda mereka berdua, Naruto sibuk mengerjakan dokumen-dokumen yang tadi belum sempat Neji selesaikan dan Hinata hanya duduk diam di sofa, tangannya meremas kuat tas yang berada di pangkuannya. Hinata tidak nyaman dengan situasi saat ini.
Hinata berdiri, " Uhm..Saya pulang dulu senpai."Ucap Hinata akhirnya, ia sudah tidak tahan berada di ruangan ini. Niatnya kesini untuk menghindari hal-hal yang berbau Naruto bukan untuk berdua bersama Naruto.
"Tunggu."Ucapan Naruto menhentikan Hinata.
"Y-ya?"Takut-takut Hinata menjawab.
"Duduklah kembali."Pinta Naruto yang dituruti Hinata dengan tenang.
"Hinata"Panggil Naruto kembali.
"Iya?"
"Ini tentang ajakanku kemarin." Hinata langsung menegang mendengar ucapan Naruto.
"..."
"Untuk ciuman itu aku tidak akan minta maaf." Hinata mengerutkan dahinya kesal, seharusnya senpainya ini minta maaf! Secara ia merebut first kiss Hinatakan?! Naruto beranjak dari tempatnya dan mendekat kearah Hinata, Ia berlutut dihadapan Hinata. Hinata dapat merasakan keseriusan di kedua bola mata Naruto yang telah menatapnya sekarang.
"Tapi untuk ajakanku ke prom night itu serius. Juga tentang kau yang lebih manis itu juga aku serius kok." Ungkap Naruto. Hinata merasakan pipnya memanas, senpainya ini jika mengatakan 'manis' pasti Hinata langsung teringat kejadian kemarin dan itu sungguh sangat memalukan. Hinata menggeleng pelan, menyadarkan dirinya sendiri dari bayangan kejadian itu dan mulai serius menanggapi Naruto.
"Tapi kudengar senpai hanya ingin orang yang senpai sukai yang menjadi pasangan senpai..bu-bukankah itu Shion-senpai? Kalian juga serasi, tapi kenapa senpai malah mengajakku?"Tanya Hinata.
"Karna orang yang aku sukai itu kau bukan Shion." Jawab Naruto.
"Apa?!" Teriak Hinata.
"Aku menyukaimu." Jelas Naruto.
"Senpai..tolong jangan bercanda!" Seru Hinata tetap tidak percaya.
"Aku tidak bercanda ! Aku menyukaimu!" Bentak Naruto membuat Hinata terdiam.
"..."
"T-tapi a-aku belum terlalu mengenal senpai.." Cicit Hinata pelan.
"Kalau begitu kencan denganku."
Hinata mengerjapkan matanya, Hinata tidak salah dengarkan?
"Apa?"Kata Hinata pelan.
"Besok kencan denganku!" Jelas Naruto.
"T-tapi senpai.." Protes Hinata tidak terima.
"Ayolah Hinata.."
"Ok-ok, terserah senpai saja.." Hinata sudah pasrah sekarang percuma menolak ajakan senpainya yang satu itu, terlalu keras kepala.
"Ah, satu lagi Hinata." Ucap Naruto.
"Apa lagi senpai?" Sungguh Hinata lelah menghadapi permintaan aneh senpainya yang satu ini.
"Boleh aku menciummu lagi?"Tanya Naruto dengan polos. Hinata melotot menatap Naruto.
"Tidak boleh!" pekik Hinata kesal.
Nah, bagaimanakah kencan mereka berdua besok ya?
TBC
Etoo, pertama saya mengucapkan terimakasih pada para readers yang sudah meriview,favorite,dan follow. Maaf tidak bisa membalas review readers sekalian tapi sungguh saya sangat senang atas rievew anda sekalian, saya harap anda mau meriview lagi entah itu kekurang ff saya atau apa.
Dan untuk sekedar Informasi Neji disini adalah ketua Osis dan Naruto adalah wakilnya. Naruto sekarang kelas 2 SMA berarti Hinata kelas 1 SMA.
Sekali lagi terimakasih dan sampai ketemu di chapter selanjutnya.
