Don't Call Me Mama! Part 2

.

Remake and translate from Homosexual Happy Wedding - Fujisaki Kou

Not 100% story from that manga. I edit it with my own words for easy to understanding and I also add some new character here.

Hope u enjoy this story^^

.
o0o

.


.


.

.

Matahari sudah bersinar terang. Burung pun ikut berkicau menyambut hari yang cerah.

Inilah kebiasaan Park Chanyeol selama beberapa hari ini, mengawasi apartemen Baekhyun dari balik kaca mobil yang terparkir didepan apartemen Baekhyun, sejak petang hingga esok hari.

Dari pengamatan selama 3 hari ini, Baekhyun tidak pernah keluar dari apartemen dan ini semakin membuat Chanyeol khawatir.

Wajah Chanyeol kelelahan dan banyak pikiran.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, ia memutuskan kembali pulang kerumah.


.


.

"Waaah… appa sudah pulang! Selamat datang~"

Kyungsoo menyambut ceria kedatangan Chanyeol. Anak yang berusia lima tahun itu tersenyum riang, mengulurkan tangannya agar ayahnya mau menggendongnya.

"Selamat pagi, Kyungsoo-ya. Tumben Kyungie sudah bangun pagi."

"Dimana Baekkie hyung~! Dimana dia~?"

Dengan semangat Kyungsoo menanyakan keberadaan Baekhyun. Dia selalu berharap Chanyeol membawa Baekhyun kembali kerumahnya.

"Baekhyun hyung sedang sibuk belajar, dia tidak bisa datang kemari, Kyungie."

"Apakah Baekkie hyung akan menjemput Kyungie disekolah?"

Kyungsoo memilin-milin piyamanya, dia sangat merindukan Baekhyun dan berharap Baekhyun datang menjemputnya nanti di TK sepulang sekolah.

"Untuk sementara ini, appa akan menjemput Kyungie. Jadilah anak yang baik dan tunggu appa, ya?"

Selalu kata itu. Kalimat sederhana tapi bak mantra sihir, agar Kyungsoo patuh padanya.

Kyungsoo anak baik dan anak baik harus selalu menuruti perintah orang tianya. Itulah yang Chanyeol ajarkan.

Jika Chanyeol sudah mengatakan bahwa Kyungsoo anak yang baik, dia tidak akan bisa melawan dan membuat wajah Kyungsoo langsung cemberut.

"K-kyungie adalah seorang anak yang baik." Ucapnya, tak berani menatap wajah ayahnya.

"Pintar… Kyungsoo harus sabar menunggu."

Chanyeol tahu jika anaknya tidak suka dengan sikapnya, tapi dia tetap bangga dengan Kyungsoo. Dia mengelus pucuk kepala Kyungsoo dengan penuh sayang agar Kyungsoo mengerti.

"K-kyungie akan menunggu."

Walaupun Chanyeol bisa merasakan perasaan Kyungsoo yang kehilangan Baekhyun, tapi secara garis besar dia tidak pernah mengerti perasaan anaknya yang sebenarnya. Kyungsoo selalu sendiri dan kesepian. Sosok Baekhyun sangat membuatnya bergantung akhir-akhir ini.

Kyungsoo langsung memeluk Chanyeol, mencoba menahan tangis.


.


.

Disebuah apartemen yang berpencahayaan redup, Baekhyun terbaring menyamping, memeluk tubuhnya sendiri dilantai dingin ruang tengah.

Suasana suram menyelimuti sekelilingnya. Matanya terbuka, tapi pandangannya tak fokus.

Baekhyun selalu terbayang akan kejadian beberapa hari lalu yang telah merubah segalanya. Merubah Baekhyun yang mulai leluasa bersikap ceria, menjadi Baekhyun yang bertambah suram. Lebih suram daripada sebelum dia mengenal keluarga Park. Terlebih Park Chanyeol.

Sebenarnya ketika mereka berciuman, Baekhyun sudah mempunyai keinginan untuk menyerahkan dirinya secara utuh untuk Chanyeol, pria dewasa yang Baekhyun anggap selalu bisa mengerti dirinya. Tapi apa?

"Aku… sangat menyesal, Baek. Aku salah kira kau… adalah istriku."

Ugh!

Matanya terpejam erat. Menghirup udara dan menahannya.

Kalimat itu selalu menghantui Baekhyun.

Dia tidak bisa mempercayainya, perkataan itu. Bagaimana bisa Baekhyun yang seorang lelaki dianggap pria berengsek itu sebagai istrinya?

Begitu menusuk, bahkan masih tersisa hingga saat ini.

Mengingat kalimat itu, semakin membuat Baekhyun terpuruk. Baekhyun berusaha melupakannya. Perlahan.

Semuanya akan berjalan baik!

Baekhyun berusaha menyemangati dirinya sendiri. Tapi, bagaimanapun dia merasa kehilangan kehangatan seseorang yang selama kurang dari sebulan ini bersamanya.

Sejak awalpun tanpa kehadiran Chanyeol, Baekhyun baik-baik saja. Mengapa kini dirinya menjadi lemah hanya karena sesosok pria yang telah menyakitinya?

Udara dingin –semu- dia rasakan sampai ketulang, sama saat masa kecilnya. Tak dianggap ada.

Nyut!

"Aduh… APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN XI LUHAN?!"

"Maaf, aku tak lihat. Kau tiduran dilantai ya?" Luhan berlalu dengan santainya melewati Baekhyun yang sudah duduk dari lamunannya.

Baekhyun mengelus pergelangan kaki kanan, mengendus sebal.

Entah sejak kapan Luhan masuk ke apartemennya. Bahkan lampu apartemen yang redup kini menjadi terang pun, Baekhyun tidak sadar.

Apalagi kelakuan kejam Luhan yang seenaknya menginjak kakinya, kini malah dengan santainya rusa itu duduk di sofa dengan jari tangan dan pandangan mata fokus ke ponsel yang digenggamnya. Pasti sedang chatting-an dengan Sehun. Baekhyun yakin itu!

Baekhyun menghela nafan pelan, menyadari jika dirinya sedari tadi hanya memikirkan Park Chanyeol. Bodohnya dia.

"Apakah kau melakukannya dengan sengaja?"

Luhan mulai fokus menatap Baekhyun yang masih duduk dilantai dengan kepala tertunduk lesu. Benar dugaanya.

"Selama tiga hari ini kau sangat aneh, Baek…."

Kini Baekhyun balas menatap Luhan.

Baru kali ini terdapat pembicaraan yang serius diantara mereka. Biasanya saat salah satu marah, maka pihak lain menganggap itu sebagai hal lucu dan hanya angin lalu.

"… Kau bodoh! Sampai membolos masuk kelas juga. Kau selalu bilang bahwa kau bisa melakukan semuanya sendiri, tapi sekarang apa? Baek, aku ada disini. Aku temanmu juga. Berceritalah tentang masalah yang kau hadapi saat ini…"

Ya, Luhan selalu bersamanya. Luhan selalu ada untuknya. Baekhyun menghargai itu, tapi dia takut. Baekhyun takut jika terlalu bergantung pada Luhan dan akhirnya dia akan kehilangan ketika Luhan meninggalkannya.

Baekhyun berpikir terlalu jauh.

"… Ini aku bawakan strawberry shortcake untukmu. Kau berhutang padaku! Sampai aku batal melanjutkan menginap di rumah Sehun! Aigoo kasihan Hunnie tak jadi dapat jatah seperti biasanya."

Baekhyun hanya terkekeh kecil.

Jika dihari biasa, Baekhyun mungkin akan langsung lari kencang dan membuka kardus yang berisi kue kesukaannya. Tapi saat ini, Baekhyun hanya tersenyum. Berusaha tersenyum agar teman satu-satunya ini lega. Tidak khawatir lagi padanya.

Luhan tersenyum lembut yang membuat wajahnya terlihat cantik dan manis pada saat bersamaan, dia begitu bahagia melihat Baekhyun yang mulai menghilangkan ekspresi suramnya. Pantas saja Oh Sehun jatuh cinta kepadanya, sudah cantik, baik lagi.

Melihat Luhan yang tertawa riang saat ini, lumayan menghibur untuk Baekhyun. Dia sangat berterimakasih, ternyata temannya sadar saat dia merasa kesepian.

Pada saat ini Baekhyun mulai lebih percaya pada Luhan. Entah apa yang akan terjadi pada persahabatan mereka kelak, tapi untuk saat ini adalah saat yang menyenangkan untuk mereka lakukan bersama.

Mereka berdua berbincang hangat di sofa sambil memakan strawberry shortcake. Tawa hangat dan pertengkaran kecil menghiasi percakapan mereka.

"Umm.. Baek…"

Merasa dipanggil, Baekhyun menolehkan kepalanya kearah Luhan.

"… Apa mungkin kau jatuh cinta dan kemudian kau langsung ditolak?"

Jleb!

"Eh?"

Luhan hanya mengerjap polos belum mengadari sesuatu.

Sebenarnya luhan hanya bercanda menanyai Baekhyun. Tapi melihat ekspresi Baekhyun yang kaget dan tertohok serta menundukkan kepala.

"Jadi benar, ya?!"

Luhan mengernyitkan dahi, ragu.

"Cerewet!"

Walaupun dia tidak sepenuhnya ditolak, tapi ketika Baekhyun menyadari bahwa hatinya sudah patah.

Kenyataan itu membuat Baekhyun semakin suram.

"Eh… sebaiknya aku kekamar saja…"

Melihat Baekhyun yang kembali suram, Luhan langsung kabur. Sepertinya dia tak usah mengganggu Baekhyun dulu. Biarlah Baekhyun menenagkan diri. Baekhyun sangat menakutkan jika seperti ini.

Bip!

Tiba-tiba posel Baekhyun berbunyi.

Setiap jam, dia selalu menerima pesan singkat dari Chanyeol.

Chanyeol sepertinya mengkhawatirkan Baekhyun, tapi ketika Chanyeol meminta maaf…

From: Park Chanyeol

Aku sungguh minta maaf dengan semua yang terjadi, Baek. Aku mabuk hingga membuatmu tak suka dengan perlakuanku. Itu pasti menjadi sebuah kenangan buruk untukmu.

Aku tidak tertarik dengan sesama pria.

Ini sunggu keterlaluan!

Kata-kata itu sungguh tidak ingin Baekhyun dengar dari pria yang dia cintai. Chanyeol. Pria itu, pria yang dikira Baekhyun mengerti dirinya sepenuhnya, tapi sebenarnya pria itu tak tahu apa-apa tentang Baekhyun.

Baekhyun teringat sosok Kyungsoo yang nakal tapi menggemaskan. Andaikan dia bukan anak Chanyeol, mungkin sudah Baekhyun culik.

Kyungsoo-ya, sepertinya kita tidak akan bertemu lagi. Maafkan hyung yang sudah seenaknya jatuh cinta dengan ayahmu.

Baekhyun berusaha tegar. Ini adalah cara yang terbaik untuk keluarga Park dan untuk dirinya sendiri.

Baekhyun menghela nafas lagi, dia sudah mantab dengan keputusannya.


.


.

Dikediaman Park.

Ring! Ring! Ring!

Chanyeol yang akan pergi keapartemen Baekhyun untuk keperluan pengawasan seperti biasa, kini terhenti karena telepon rumahnya berdering.

"Halo?"

"Ini aku, Baekhyun… Maaf beberapa hari ini aku tidak kerumahmu tanpa pemberitahuan."

Ah!

Chanyeol tidak menyangka jika Baekhyun akan menelponnya. Pesan singkat darinya pun tidak pernah Baekhyun balas.

"BAEKHYUN! K-kau ada dimana sekarang?" Chanyeol panik.

Diseberang telepon, Baekhyun memejamkan mata. Meresapi suara yang tengah ia rindukan, sudah lama ia tidak dengar suara pria berkacamata itu. Baekhyun paham akan kemarahan Chanyeol ini, memang salahnya sudah membolos kerja semala 3 hari. Baekhyun belum berani bertemu dengan Chanyeol.

Baekhyun tersenyum dan mengutarakan keputusannya…

"Aku berhenti. Aku tidak akan pergi ketempatmu lagi."

Deg!

"TUNGGU, BAEK! Ayo kita bertemu dan membicarakan ini baik-baik!..."

Sontak saja Chanyeol terkejut. Apakah kesalahannya begitu fatal?

Ada rasa mengganjal yang begitu pekat, dia tidak ingin Baekhyun berhenti.

Chanyeol tidak ingin Baekhyun pergi.

Chanyeol tak ingin Baekhyun meninggalkannya.

Dia sudah sangat bergantung pada Baekhyun. Rasa kehilangan kini sangat nyata Chanyeol rasakan.

Baekhyun juga ingin kembali ketempat itu, tapi dia tidak ingin menambah rasa sakitnya. Tubuh kecilnya tak sanggup menahan lagi rasa sakit itu.

"Baek! Aku mandi dulu ya!"

Suara keras Luhan mengejutkan Baekhyun yang masih menelepon Chanyeol.

Chanyeol kaget mendengar ada suara laki-laki lain yang sedang berada dengan Baekhyun.

Mandi?

Apakah mereka tinggal bersama?

Chanyeol tidak dapat menerima.

"S-suara laki-laki… Siapa Baek?"

Baekhyun memejamkan mata dan menghela napas perlahan. Haruskah dia…

"Aku… aku sudah mempunyai pacar, Chanyeol… dan pacarku… pacarku adalah seorang laki-laki."

"EH?"

Ya, Baekhyun berbohong. Ini adalah satu-satunya cara.

Dia harus melakukan itu agar Chanyeol membencinya.

Agar Chanyeol menghindarinya.

Agar Chanyeo menjauhinya.

Agar Chanyeol jijik padanya.

Agar Chanyeol muak bertemu dengannya.

Agar… Baekhyun tidak berharap lagi pada Chanyeol, yang berbeda pandangan dengan dirinya.

"Terima kasih untuk semuanya, Profesor Park. Jagalah Kyungsoo dengan baik dan titip salam untuknya." Ucap Baekhyun mengakhiri percakapan, memutus sambungan telepon mereka.

Chanyeol berdiri kaku, terkejut.

Sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.

Dia tak mempercayai semua ini.


.


.

Berbeda dengan Chanyeol, Baekhyun hanya duduk lemas bersandar sofa.

Luhan yang telah selesai mandi, bertanya-tanya.

Mengapa keadaan sahabatnya ini menjadi semakin parah?

"Hey, Baek. Kau kenapa?"

"Aku tak apa-apa, Lu. Semuanya sudah berakhir. Aku… sudah tak akan mengharapkannya lagi."

Dari awal, Baekhyun memang tidak mempunyai kesempatan dan kediaman Park yang nyaman bukanlah tempat yang cocok untuk lelaki menyimpang seperti dirinya.

Baekhyun mulai merenung lagi.


.


.

Bukankah Baekhyun… sering berkencan dengan wanita?

Chanyeol yang masih memegang gagang telepon, masih kaku berdiri.

Di kampus, dia sering mendengar jika Baekhyun sering pergi dengan wanita yang berbeda-beda. Chanyeol kira Baekhyun menyukai wanita. Tapi, mengapa kini Baekhyun bisa berkencan dengan laki-laki?

Brak!

Dengan entengnya Chanyeol melempar telepon wireless ke lantai.

Chanyeol terlihat begitu emosi. Dia marah saat mendengar Baekhyun mempunyai pacar seorang lelaki… lelaki selain dirinya.

Dug!

Serpihan telepon yang sudah remuk, diinjak lagi oleh Chanyeol.

Pantas saja Baekhyun sangat marah padanya.

Waktu Chanyeol berkata jika menyentuh Baekhyun karena rindu istrinya, itu bohong!

Dia memang mabuk saat itu, tapi Chanyeol tidaklah sebodoh itu tidak bisa membedakan orang masa lalunya dengan orang yang sangat berharga saat ini. Chanyeol sadar jika yang ia cium itu adalah Baekhyun.

Pada awal rencananya, Chanyeol ingin membuat Baekhyun jatuh cinta padanya secara perlahan. Tapi saat ia mabuk, dia lupa segalanya.

Pesan singkat yang dia kirim kepada Baekhyun hanyalah sebuah bentuk penyangkalan agar Baekhyun benar-benar memaafkannya dan tidak menghindarinya yang seorang penyuka sesame jenis.

Sejak awal bertemu Baekhyun, Chanyeol sudah sangat ingin memiliki lelaki yang bisa membuatnya begitu mempunyai rasa ingin melindungi. Apalagi melihat Kyungsoo yang juga menyukai Baekhyun, Chanyeol sangat ingin memilikinya. Menjadikan sosok baru yang akan memberi suasana baru dirumahnya.

Jadi Baekhyun juga sama sepertinya?

Chanyeol sangat ingin melampiaskan rasa frustasinya saat ini.

Dia harus cepat memikirkan cara agar Baekhyun kembali padanya dan menjadi miliknya.

Untung ini sudah malam. Kyungsoo pun sudah tidur. Tidak baik jika anak sepolos Kyungsoo melihat ayahnya yang sedang dipenuhi amarah.


.


.

Esoknya.

"Baek! Didepanmu ada tiang!"

Duak!

Tertabrak pilar pun Baekhyun tidak menunjukkan rasa sakit. Dia hanya sedikit menyingkir dan melanjutkan langkahnya menuju gerbang kampusnya, pulang.

Sebagai sahabat yang baik, Luhan menjadi bodyguard dadakan untuk Baekhyun. Bahkan luhan menolak tawaran Sehun saat ingin menjemputnya.

Sejak Baekhyun menelpon Chanyeol, pria itu tak ada kabar. Tidak ada lagi pesan singkat yang mampir di ponselnya.

Ada yang salah… walaupun Chanyeol dan Baekhyun berada di Universitas yang sama –walau berbeda keperluan-, meraka tak pernah bertemu satu kali pun.

Ha?!

What the hell!

Baekhyun memukul kepalanya.

Mengapa dia sangat bodoh?!

Untuk apa memikirkan Chanyeol.

Apa yang Baekhyun harapkan?

Seharusnya itu bagus jika mereka tidak bertemu lagi.

Bip!

"Ah!"

Ada pesan?

Awas saja kalau pesan itu dari operator. Mood Baekhyun sangat buruk, sekarang.

Eh?

Ini dari Chanyeol. Entah mengapa jantung Baekhyun berdebar dan pipinya sedikit bersemu merah.

Bodohnya Baekhyun yang tanpa ia sadari dia terus berharap.

From: Park Chanyeol

Kyungsoo hilang!

Dia sering berkata jika ia sangat ingin berkunjung ke rumahmu, mungkin dia pergi kesana!

Apa-apaan ini? Kenapa Chanyeol tidak becus menjaga anaknya sendiri!

"Hey, Baek! Kau mau pergi kemana? Bukankah kita akan pergi membeli bublle tea?! Hey!"

Selalu seperti ini.

Luhan menghentak-hentakkan kakinya, kesal.

Jika seperti ini, Sehunlah pihak yang diuntungkan.

Rusa manisnya pasti akan mengadu padanya dengan wajah marah imut, pipi pun menggembung menggemaskan. Itu menjadi hobi tersendiri untuk Sehun, menenangkan rusa yang sendang ngambek.


.


.

Kyungsoo?

Kyungsoo!

Baekhyun berlari menujua partemennya dengan kecepatan penuh.

Ketika berada di halaman gedung apartemennya, Baekhyun berkeliling mencari dimana Kyungsoo berada.

"…Dia sering berkata jika ia sangat ingin berkunjung ke rumahmu…"

Mungkinkah Kyungsoo masuk kedalam gedung apartemen sendirian?

Baekhyun menaiki lift dan memencet tombolnya dengan tidak sabar. Dengan cepat dia berlari menyusuri lorong apartemennya.

Kyungsoo duduk didepan pintu apartemennya. Darimana dia tahu nomor apartemennya?

"KYUNGSOO!"

Baekhyun menghela napas lega.

"Hiks… B-baekkie hyung!"

Saat Kyungsoo sadar, dia menatap sosok Baekhyun yang sangat dirindukannya. Mata bulatnya berair dan mulai menangis terus memanggil-manggil nama lelaki yang ia rindukan.

Kyungsoo berlari memeluk Baekhyun, memeluk Baekhyun erat. Dia sangat merindukan Baekhyun.

Baekhyun mengusap-usap pelan bahu mungil Kyungsoo yang saat ini berada dalam pelukannya.

"Mengapa Kyungsoo… mengapa Kyungie bisa sampai kesini?"

Baekhyun bertanya halus. Sungguh ia tak sanggup melihat Kyungsoo yang saat ini sendang menangis tersedu-sedu.

"Hyung… berjanji menjemput Kyungie… dan mengapa hyung tidak datang menjemput Kyungie lagi?...hiks…"

Air mata Kyungsoo mengalir dengan derasnya. Kyungsoo sudah sangat sayang kepada Baekhyun.

"… KYUNGSOO TIDAK SUKA JIKA HYUNG TIDAK ADA! Huwaaa."

Tangis Kyungsoo semakin pecah. Dia merasa kehilangan sudah berhari-hari tanpa kehadiran Baekhyun disisinya, tidak ada lagi sosok yang selalu setia bermain bersamanya.

Baekhyun mengusap pipi tembam Kyungsoo yang kini basah penuh air mata, lalu berkata lembut…

"Maafkan hyung, Kyungsoo-ya… tapi, hyung sudah tidak bisa melakukan semua itu lagi."

Wajah Kyungsoo memucat, alis tebalnya saling bertautan.

"TIDAK! Argh"

Buk! Buk! Buk!

Kyungsoo menghentak-hentakkan kakinya kesal ke lantai. Dia tidak terima dengan perkataan Baekhyun tadi. Dia benci jika Baekhyun sudah tidak mau menjemputnya lagi. Itu berarti Baekhyun tidak sayang lagi padanya.

"Kyungsoo-ya… maafkan hyung."

Baekhyun berusaha menenangkan Kyungsoo yang masih saja menangis –semakin kencang-. Sungguh baekhyun tidak ingin bersikap demikian, tapi..

Deg!

Baekhyun merasakan kehadiran seseorang.

Ya

Seseorang yang bagaimanapun juga masih ia rindukan.

Park Chanyeol

Park Chanyeol yang berdiri disamping mereka tanpa ekspresi. Menatap Baekhyun dengan menahan segala rasa. Kali ini dia harus melakukannya secara perlahan. Jangan emosi.

Chanyeol masih sama menawannya dari saat terakhir kali mereka berjumpa. Rambut hitam yang tertata rapi. Wajah tampan dan mata tajamnya yang sering tersembunyi dibalik kacamata berbingkai hitam. Baekhyun tidak sadar jika kacamata itu menyembunyikan lingkar hitam yang samar. Chanyeol sudah lelah dengan semua ini dan ia ingin segera memberbaiki semuanya.

"Baekhyun, ayo ikut kami pulang kerumah."

Baekhyun sudah tidak bisa melawan jika sudah berhadapan dengan Chanyeol. Inilah alasan mengapa dia tidak mau lagi bertemu dengannya. Baekhyun merasa menjadi lemah hanya dengan kehadiran Chanyeol, apalagi Kyungsoo yang masih saja terisak memeluknya.


.


.

"Kyungsoo, appa ingin berbicara dulu dengan Baekhyun. Cepat masuk ke dalam kamar dan tidur."

Chanyeol termasuk ayah yang keras jika menyangkut peraturan. Ini untuk mendidik sikap Kyungsoo.

Kyungsoo yang diperintah ayahnya, tak bisa membantah. Dia menatap Chanyeol dengan tatapan tajam selama beberapa detik dan langsung melangkah masuk kedalam kamarnya. Setidaknya Baekhyun berada di satu rumah dengannya, itu sudah membuat Kyungsoo tenang.

Blam!

Setelah Kyungsoo masuk kedalam kamar, suasanya menjadi tenang. Chanyeol tak tahu harus memulai darimana untuk memulai percakapan meraka.

Hanya tertinggal Chanyeol dan Baekhyun yang berada diruang tamu.

Baekhyun melihat singkat sofa coklat itu, langsung memejamkan mata.

"Tidak ada lagi yang perlu kita dibicarakan. Kyungsoo sudah mau kembali kerumah, sekarang aku pamit pulang."

Baekhyun beranjak pergi dari rumah yang telah banyak memberinya kenangan ini.

"Ini membuatku gila, Baek…"

Grep!

Tiba-tiba Chanyeol merengkuh Baekhyun kedalam pelukan hangat yang dirindukannya.

"… membiarkanmu bersama dengan lelaki lain, aku tidak mungkin mengijinkan itu. Aku tak terima."

Blush!

Rasa permen kapas yang Baekhyun sukai kini bermunculan lagi.

Chanyeol berbicara begitu lembut kepadanya. Apalagi makna dari ucapan Chanyeol, kembali membuatnya berharap. Tapi… jangan lagi Baek!

"L-lepaskan…"

Grep!

Chanyeol semakin mempererat pelukannya.

Kali ini, aku tidak akan bertindak bodoh lagi!

"Maafkan aku, Baek. Tapi saat ini aku tidak akan menahannya lagi."

Baekhyun terkejut. Apa maksud Chanyeol?

Chanyeol serius, Baekhyun yakin itu.

Chanyeol membuka kacamatanya. Ini seperti déjà vu.

Baekhyun dapat melihat dengan jelas tatapan mata Chanyeol penuh cinta yang sangat mengharapkannya. Mengharapkan dirinya. Apakah ini mimpi?

Bruk!

Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun agar berbaring disofa. Dia mencium Baekhyun untuk keduakalinya di waktu yang berbeda. Tangannya bergerak aktif melepaskan pakaian yang mereka kenakan.

Wajah Baekhyun sangat merah hingga telinga, malu.

Apakah Chanyeol mabuk lagi?

Sepertinya tidak, karena Baekhyun tidak mencium adanya aroma alkohol sedikitpun.

Dengan pasti lidah Chanyeol membelah bibir Baekhyun dan melumat bibir Baekhyun yang lembut. Sejak pertama kali Chanyeol mencium Baekhyun, dia sungguh sangat tergila-gila dengan bibir tipis itu. Akhirnya kini rasa manis bibir Baekhyun dapat ia rasakan lagi.

Sebagai pihak penerima, Baekhyun pasrah.

Jika ini berakhir buruk lagi, setidaknya dia punya kenangan untuk dikenang walaupun itu menyakitkan. Lagipula Chanyeol memperlakukannya dengan lembut. Itu membuat Baekhyun berbunga.

Pakaian Baekhyun sudah terlepas semua. Tidak ada seulur benangpun menutupi tubuh putihnya.

"Kau tidak melawanku?"

Seringai Chanyeol begitu tampan. Kemeja putih Chanyeol yang tidak terkancing dengan benar, membuat Chanyeol begitu menggoda apalagi Chanyeol juga sudah menanggalkan celana kainnya.

Chanyeol menindih Baekhyun dan memberi jarak terhadap tubuh sosok mungil yang berada dikukungannya itu dengan lengan kuat yang bertumpu pada sofa.

Baekhyun tidak kuat melihat dada bidang Chanyeol yang terlihat kokoh untuk sandaran. Lirikan Baekhyun jatuh kepada kesejatian Chanyeol yang menggantung di tengah paha pria kekar itu. Baekhyun sangat malu.

Chanyeol meremas pantat Baekhyun untuk menggoda. Tangannya terus menjelajah bagian tengah tubuh lelaki yang ia cintai. Chanyeol meremas pelan junior Baekhyun dari pangkal hingga ujung, lalu jari telunjuk dan jari tengah Chanyeol bergerak mengelus-elus lubang Baekhyun. Mencoba memberi rangsangan.

Chanyeol berbisik mesra ditelinga Baekhyun dan mencium-cium kecil dirinya.

"… apakah kau sering melakukan ini?"

Tubuh Baekhyun mendadak kaku. Baekhyun meyakinkan dirinya kalau ia akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Walaupun Chanyeol menganggap dirinya murahan, tapi dia sudah bulat dengan keputusannya. Chanyeol beranggapan seperti itu juga adalah salahnya.

Tangan Baekhyun terulur merengkuh tubuh besar Chanyeol yang berada dihadapannya. Dia sudah yakin.

"Wow… sabar, Baek. Aku akan memasukkannya perlahan. Ugh… ini sangat ketat.."

Chanyeol mencoba memasukkan jarinya ke lubang anal lelaki yang berusia delapan tahun lebih muda darinya itu.

"Arghh… Chan…"

Baekhyun mencengkram erat kerah kemeja Chanyeol. Ini sangat menyakitkan saat jari tengah Chanyeol terus berusaha membobol masuk kelubangnya. Baekhyun sungguh tidak menyangka rasanya sesakit ini.

Luhan pernah bercerita pengalaman pertamanya dengan Sehun, tapi tidak dapat menggambarkan rasa sakit ini.

Tubuh Baekhyun sangat kaku, ini menyebabkan Chanyeol kesulitan memasukkan jarinya.

"Baek.. Ugh.. seharusnya kau tahu… jika kau tidak rileks dan melonggarkan lubangmu… jariku tidak akan bisa masuk."

"CHAN!"

Baekhyun menjerit merasakan benda asing membobol lubang analnya.

Akhirnya jari Chanyeol berhasil masuk.

Eh?

Chanyeol terkejut. Bukan karena teriakan Baekhyun, tapi karena dia menyadari keketatan lubang Baekhyun.

Ha?

Sialan!

Ini pertama kali bagi Baekhyun! Aku yakin itu!

Chanyeol mengeluarkan jarinya dari lubang Baekhyun dan sedikit memberi jarak.

"K-kenapa?... Kau pernah bilang kalau kau punya pacar pria…. A-aku telah melakukan yang buruk lagi!"

Chanyeol frustasi. Dia berpikir jika Baekhyun dan pacarnya sering bercinta, jadi melakukan sekali dengannya pun tak masalah.

Jika lubang Baekhyun masih perawan, Chanyeol takut jika Baekhyun marah lagi padanya. Tapi dibalik semua itu, pria itu sangat senang. Baekhyun belum pernah tersentuh.

Rasa cintanya kepada Baekhyun semakin bertambah. Dia yakin, hari ini dia harus mendapatkan Baekhyun.

"Aku bohong... aku tidak memiliki pacar… tapi, Chan… Kau bisa tetap melanjutkannya…"

Entah Bagaimana ekspresi Baekhyun saat ini karena dia menundukkan kepalanya. Sikap itu membuat Chanyeol bingung.

"Me-mengapa…?"

Baekhyun menegakkan kepalanya, tapi dia terlalu malu menatap mata Chanyeol

"Karena… A-aku mencintaimu!"

Terlambat jika Baekhyun menarik ucapannya.

Baekhyun tidak tahu mengapa dia menjadi seberani ini. Tapi, dia lega. Setidaknya Chanyeol sudah mengetahui perasaannya.

"Eh?!"

Chanyeol sudah mendengar pengakuan Baekhyun, terkejut. Lidahnya kelu, tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Terlihat semburat merah juga dipipi pria yang dewasa itu, walau tidak sekentara warna merah dipipi Baekhyun.

"Aku tidak sanggup melupakanmu, seperti kau yang tak bisa melupakan… istrimu." Baekhyun melirihkan kata terahir. Seseorang tak ia kenal tapi secara tidak langsung berhasil membuat Baekhyun sakit hari selama beberapa hari ini.

Mendengar setiap perkataan Baekhyun, Chanyeol sadar.

"Maaf… karena aku tidak menyadari perasaanmu. Aku telah melukaimu begitu banyak, Baek."

"Apa?..."

Suara Chanyeol yang pelan, tidak sampai ditelinga Baekhyun sepenuhnya membuat dia bingung.

Tangan Chanyeol terulur merengkuh rahang Baekhyun. Pandangan mata tulus terarah ke mata sipit Baekhyun dengan penuh perasaan.

"Baekhyun, aku mencintaimu… saranghae."Chanyeol tersenyum lembut, menatap Baekhyun penuh luapan cinta.

Perasaan berdebar mereka berdua rasakan.

Chanyeol merasa begitu mencintai Baekhyun, lebih dari mencintai seseorang dimasa lalunya.

Hidupnya tanpa Baekhyun begitu kacau dan tak terarah. Melihat Baekhyun sedih, Chanyeol tidak kuat untuk menahan tangannya untuk memeluk tubuh kecil rapuh yang mempunyai banyak kesedihan dimasalalu.

Chanyeol begitu ingin melindungi Baekhyun.

Memberi sinar kehidupan, memberikan rasa aman bahwa dunia ini tak seburuk apa yang selama ini Baekhyun rasakan.

"Aku mencintaimu sejak lama, Baek. Tapi bodohnya aku yang takut untuk bertindak. Aku sangat pengecut."

Senyuman tulus Baekhyun kembali. Sangat indah dan tulus.

Mereka berdua saling memandang, melempar senyuman dan berpelukan kembali. Menikmati momen yang sudah meraka tunggu-tunggu.

Seandainya sejak dulu, mereka saling terbuka, mungkin tak akan serumit ini. Tapi, ini menjadi kisah tersendiri bagi mereka berdua yang akan selalu tertempel rekat dalam ingatan.

"Chan… Lakukanlah… perlahan dan lembut…"

Baekhyun berbisik pelan.

Sudah tanggung melihat mereka berdua sama-sama telanjang.

"Tentu."

Chanyeol mengeratkan pelukan Baekhyun, mengangkat tubuh ringan Baekhyun ala bridal style menuju kamar.


.


.

"PEMBOHONG!"

Baekhyun marah karena Chanyeol membohonginya.

"M-maafkan aku, Baek… Aghh ahh.. aku tak bisa berhenti."

Chanyeol telah berjanji jika akan melakukannya dengan lembut, tapi kecepatan Chanyeol menumbuk lubangnya sangat beringas.

Walaupun terasa nikmat karena kejantanan Chanyeol selalu menemukan titik ternikmatnya dalam setiap tumbukan, tapi rasa perih masih membayangi Baekhyun. Ingat! Ini adalah pertama kalinya seseorang memasukkan kejantanannya kedalam lubang sucinya. Baekhyun yakin, lubangnya lecet dan besok dia tak sanggup berjalan dengan benar.

"Ahh… C-chan aku t-tak sanggup ahh m-menahannya lagi…"

Baekhyun terus mengencangkannya pelukannya. Dia sudah tidak kuat menahan cairan yang ingin keluar dari kejantaannya. Chanyeol dengan cepat selalu menusukkan kejantanan besarnya ketitik sentive yang paling terdalam dalam lubang Baekhyun.

Meraka menggerakkan pinggul berlawanan arah, saling memberi kenikmatan. Selang beberapa menit kemudian akhirnya meraka merasakan puncak mereka.

"AAAHH!"


.


.

"Baekhyunnie, gwaenchana?"

Chanyeol dan Baekhyun sudah bangun. Ini sudah pagi hari.

Setelah malam pengakuan panas mereka, Baekhyun hanya sanggup tidur terkurap. Rasa perih dipantatnya perlahan sirna karena Chanyeol sudah mengoleskan salep penahan sakit semalam. Walaupun sebelumnya dia tergoda dengan menjilat-jilat lebih dahulu lubang surge Baekhyun. Untung tak sampai keterusan melakukannya untuk ketiga kalinya.

"Salahmu yang terlalu kasar untuk ukuran pemula sepertiku! Dan kau sangat kejam! Jahat! Tega!"

Baekhyun menggurutu, mengenggelamkan wajahnya dibantal putih yang lembut. Melihat Baekhyun yang sangat menggemaskan saat seperti ini, membuat Chanyeol merubah posisinya jadi tengkurap juga. Chanyeol sebenarnya harap-harap cemas kalau dia tidak mendapat jatah lagi saat pantat Baekhyun baikan.

"Mengapa begitu?" dengan sok polosnya Chanyeol bertanya.

Kepala Baekhyun menoleh menatap sinis kearah Chanyeol, mengendus sebal.

"Salain kebodohanmu yang terlalu kasar diranjang, kau sangat kejam menyuruh Kyungsoo menunggu di depan apatemenku! Dan kau appa yang buruk membuat drama kalau Kyungsoo hilang agar kau bisa bertemu denganku!"

Sebenarnya Baekhyun sedikit tersentuh dengan ini semua. Jika tidak, meraka tidak akan berada di tahap intim seperti ini. Dia hanya tidak suka jika harus membawa Kyungsoo yang polos ikut serta. Dia tidak tahan dengan kepolosan Kyungsoo, mau-maunya dibohongi ayah kejamnya.

Namanya juga polos, Baek.

"Apakah kau membenciku?"

Chanyeol cemberut, merajuk. Baekhyun jengah menatap seorang ayah yang tidak dewasa sama sekali. Untung Kyungsoo anak yang mandiri. Baekhyun mencoba bersabar dan menikmati ini.

"Jika aku membencimu, aku tidak akan melakukan semua ini denganmu." Lirih baekhyun malu-malu menenggelamkan wajahnya lagi kebantal.

Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun yang malu-malu menjawab pertanyaannya, sangat manis.

Cup!

Chanyel mengecup singkat pucuk kepala Baekhyun dengan penuh rasa terima kasih.

Hubungan mereka sudah resmi pacaran, itu membuat angannya mereka mengambung.

Mulai dari sekarang, Baekhyun adalah milliknya.

Chanyeol tertawa pulas dan Baekhyun memandang kekasihnya dengan tatapan aneh.

Clek!

Eh?

"Kyungsoo?"

Baekhyun dan Chanyeol terkejut karena tiba-tiba Kyungsoo masuk ke dalam kamar Chanyeol. Mereka berdua merubah posisi mereka menjadi duduk dan selimut menutupi kemaluan mereka.

Baekhyun sedikit mendesis menahan pantatnya yang masih tersasa perih.

Kyungsoo hanya diam didepan pintu, sepertinya dia juga terkejut melihat Baekhyun berada diatas ranjang bersama dengan ayahnya.

Pikiran Baekhyun blank. Ini adalah pemandangan yang buruk untuk anak seusia Kyungsoo. Melihat ayah dan dirinya telanjang, untung selimut ranjang menutupi tubuh mereka hingga pusar.

Setelah beberapa detik, raut wajah bingung Kyungsoo berganti. Kini Kyungsoo memasang wajah tersenyum ceria, heart lips-nya membuatnya begitu menggemaskan untuk dipeluk.

"Yey! Yey! Yey~!"

Kyungsoo tiba-tiba melompat-lompat senang mengelilingi kamar Chanyeol yang cukup luas.

"Eh? Mengapa dia sangat senang?" Tanya Baekhyun yang melihat Kyungsoo yang mendadak heboh.

Chanyeol menggaruk-garukkan telunjuknya di pelipis, ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Umm.. Aku pernah berkata pada Kyungsoo, jika ada seseorang yang tidur seranjang dengan appa-nya, dia boleh memanggilnya 'Eomma'. Umm.. lalu jika melihat keadaan kita saat ini, …."

"Kau didik apa anakmu itu?!"

Mata Baekhyun melebar, terkejut. Chanyeol memang bodoh!

"… sebagai eomma, marilah kita mendidik anak kita~!"

Chanyeol dengan ceria tak menganggap ucapan Baekhyun.

"Apa-apaan kau ini!" Baekhyun tidak terima bahwa dirinya dipanggil eomma.

"Kyungsoo-ya, kau tidak keberatan kan?"

Seenaknya sendiri Chanyeol memutuskan sesuatu. Selalu seperti itu.

Chanyeol hanya tertawa dan memeluk erat tubuh Baekhyun yang memunggunginya dari belakang.

"Eh?" Kyungsoo mengerjapkan mata bulatnya.

Sekarang anak hiperaktif itu berusaha naik ke atas ranjang tempat Chanyeol dan Baekhyun berpelukan…

"Appa curang! Kyungie ingin bermain dengan Baekkie eomma juga~! Minggir! Kyung ingin memeluk eomma~"

"Yak! Mengapa kau memanggilku eomma?!"

Walaupun Baekhyun tidak terima, dia tetap memeluk Kyungsoo.

"Hehehe~" dengan cengiran polos khas anak-anak, Kyungsoo mengeratkan pelukannya.

Baekhyun memaklumi itu. Dia tersenyum tulus dan menggoyang-goyangkan tubuh mungil Kyungsoo agar tenggelam di dalam pelukannya.

Apapun yang terjadi, Baekhyun tidak akan sendiri lagi.

Mulai saat ini, dia mempunyai sebuah keluarga rahasia. Hanyalah mereka sendiri yang tahu kehangatan keluarga ini.

Chanyeol bahagia melihat anaknya begitu bahagia saat ini. Melihat Baekhyun dan Kyungsoo salaing berpelukan, dia ikut merengkuh Baekhyun yang masih memeluk anaknya, dia memeluk orang yang sangat ia sanyangi dengan erat. Dan ketiganya tertawa bahagia.

Chanyeol berjanji, tidak akan menyakiti kedua orang yang berada dalam pelukannya ini. Selamanya.

.

.

.


o0o


.

.

Omake

"Eomma~! Eomma~! Eomma~! Baekkie eomma~!"

Kyungsoo berlarian riang berkeliling meja makan memanggil-manggil Baekhyun. Dia mendapatkan ibu baru, tentu saja anak itu senangnya bukan main.

Baekhyun yang sedang di dapur, menggeleng-gelengkan kepala dengan panggilan Kyungsoo terhadapnya.

"Aku harus mengajarkan Kyungsoo agar tidak memanggilku eomma ketika dihadapan orang lain."

Dia menghela nafas dan melanjutkan masakan untuk sarapan meraka.

.

.

.


o0o


.

Hai hai~

Thanks for:

Reviews

- munakyumin137 - dandelionleon - HeeKyuMin91 - Guest - exindira - bluebble - chanbaek perfect - cucunyachanbaek - hsandra - HyunBee - keziaf - neli amelia - sanyakie - ThatXX94 - Guest - Guest - Dandelion99- yukiyukaji

Follow/Favorite

- Aracy27 - EXO Love EXO - EXOticsBaby - HyunBee - LuckyDeer - Mhrs826 - Nety264 - Retno992 - RismaSbila - SeiraCBHS - baexian ree - bluebble - cucunyachanbaek - dandelionleon - el2311 - exindira - fireDlight27 - galaxyfrisca - letslove-xo - neli amelia - parkchan17 - sanyakie - bubbl exxooo - chanbaek perfect - jengkyeol -

Terimakasih buat dandelionleon, sudah memberi saran :*

Akhirnya ffnya kelar juga hehehe… tapi, sebenarnya it is and not end.

Manganya masih ada lanjutannya yey~ Adakah yang senang? Adakah yang nunggu kelanjutannya? Kkk #ngarep

Akan saya usahakan g akan sampai setengah bulan dianggurin… umm mungkin bisa dibilang sequel Independent Boy akan saya post (^o^)v

Saya mau mengadakan voting~ kan chapter Independent Boy selanjutnya bakal ada couple baru, the next couple siapa?

Kristao … Sulay … Chenmin

Saya mohon bantuannya~ (з´`ε)

See u soon~