Halo lagi para pembaca~
Grup Chat KookMination kembali dengan karya hasil relay nih xD
Nah, berikut beberapa member yang ikut menyumbang waktu, ide, dan untai kata di tiap paragraf:
Ao_Hikaru
Jiminitation
Gummysmiled
JeonRicky
-picklepetals
Wandaa_styles
-CumiCute
December D
PikaaChuu
jiminienchim
Disunting oleh Gummysmiled, PikaaChuu
Selamat menikmati~Kritik dan saran diterima dengan senang hati:)
Enjoy our fiction
.
.
.
.
Jungkook menyipitkan matanya begitu keluar dari gedung kantornya. Sinar matahari begitu menyengat. Ia pun mendesah. Apa mataharinya di rumah juga se-bersinar ini?
Ia sangat rindu oleh senyuman istri tercintanya. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia rela mengabaikan panggilan pimpinan direksi dari perusahaan lain. Walaupun proyeknya kali ini benar-benar tak bisa dibilang kecil.
Tapi pikirannya terus terbayangi oleh sosok kecil istrinya dengan perut buncitnya. Dan ia tak ingin meninggalkan sosok itu lebih dari 6 jam perharinya. Semoga saja ia disambut oleh senyum secerah matahari milik sang istri.
Dan dengan begitu ia pergi. Menaiki kotak besi beroda kesayangannya, melintasi jalan kota Seoul yang tak terlalu padat hari itu. Sementara pikirannya melayang, setengah fokus ke jalan, separuh yang lain memikirkan pria manis dengan perut buncit untuk entah yang ke berapa kali hari ini.
Jungkook tak menyia-nyiakan waktunya begitu mobilnya berhenti. Langsung melangkahkan kaki keluar, melewati taman dengan banyak bunga yang ditanami Jimin. Sedikit melonggarkan dasi sebelum ia meraih gagang pintu.
"Aku pulang."
Pria itu masuk untuk menemukan Jimin yang berdiri memandang halaman belakang. Terlihat begitu tenang, dan seakan tak menyadari kalau Jungkook sudah pulang. Jadi pria Jeon itu memanfaatkannya dengan langsung memeluk tubuh itu dari belakang. Lengannya melingkar, dengan jemari yang bertaut di atas perut buncit itu. Sedangkan dagunya bertopang di atas bahu Jimin, dengan bibir yang sekilas mengecup lehernya.
"Ah, kau sudah pulang," gumam Jimin. Lantas dirinya menarik senyum bahagia, kala jemari Jungkook mengusap permukaan perutnya penuh perasaan.
"Apa jagoan kecilku nakal hari ini?" bisik Jungkook mesra.
Terkekeh Jimin mendengarnya. Ia selalu menyukai momen di mana suaminya menunjukkan rasa antusiasme sebagai seorang calon ayah.
"Tidak, Appa. Aku anak baik~" Jimin membalas jenaka, menirukan suara anak kecil yang menggemaskan.
Giliran Jungkook yang melepas tawa. Tubuhnya merunduk, berjongkok sehingga posisinya berada di depan perut istrinya. "Anak Appa pintar sekali. Nanti harus jadi anak yang tampan, ya~"
Jimin merengut dalam sekejap. Wajahnya membahasakan protes. "Tampan? Tapi aku mau anak perempuan."
Jungkook hanya tertawa kecil membalas protes sang istri.
"Apa kau sudah ke dokter lagi?" Jungkook bertanya tanpa melepaskan lingkaran tangan di perut Jimin, seketika rautnya berubah menjadi khawatir ketika pria yang dipeluknya menggeleng.
"Kenapa?" Jimin mendengus sebelum menjawab, "Aku ingin pergi bersamamu."
"Kau tahu itu tidak baik untuk kesehatanmu." Jungkook memutar badan sang istri ketika mengatakannya, telapak tangan besar pemuda itu menangkup bahu sempit yang diajak bicara. "Kau bisa mengajak Taehyung, atau Seokjin Hyung, atau siapapun untuk mengantar."
Tapi Jimin menggeleng, surai gelap yang membingkai wajah mungilnya terayun perlahan. "Tidak. Bagaimanapun juga, aku merasa aman apabila kau ada di sisiku." Ia berkata dengan orbit berkilau oleh euphoria, "Karena bersamamu, aku rasa, aku akan selalu baik-baik saja."
Jungkook tersenyum. Kelopaknya menyipit dan yang ia lihat kini bukanlah hanya sekedar Park Jimin. Suaminya itu sedang mengenakan cinta di wajahnya, sebagaimana yang ia lakukan tatkala mereka sedang membicarakan tentang sang bayi di dalam perut buncit itu.
Dan Jungkook pikir, ia tidak bisa memikirkan apapun selain kebahagiaan.
Kebahagiaan yang akan membuat hidupnya sempurna. Membayangkannya saja sudah membuat pria Jeon ini, tiada hentinya menarik kedua sudut bibirnya, membentuk lekukan yang menunjukan sedikit gigi kelincinya.
"Maafkan aku sayang, aku hanya ingin kau dan bayi kita sehat," ucap Jungkook seraya menyentuh surai halus istrinya didalam dekapannya.
Jimin menunduk, merasa bersalah atas keegoisannya. Membalas pelukan itu erat, seraya berkata, "Maaf, aku janji ini tidak alan terulang."
Pria Jeon kembali tersenyum, membalas dekapan sang istri, mengecup lembut pangkal kepalanya."Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat. Karena jagoan kita ini harus diperiksakan," pinta Jungkook seraya mengusap perut buncit milik Jimin dengan lembut.
Jimin menarik nafasnya dan mempoutkan bibirnya.
"Sudah kubilang, kalau aku ingin bayi perempuan, Jeon Jungkook!"
Jungkook terkekeh, melihat sikap Jimin yang selalu bisa membuatnya menggigit bibir bawahnya, karena menahan gemas. Pria itu pun mengecup bibir tipis sang istri.
Kecupan singkat itu sukses membuat pipi Jimin merona, entah itu kecupan yang keberapa hingga saat ini. Tapi tetap saja, pria Jeon selalu bisa membuat Jimin menunduk malu, menyembunyikan wajah meronanya dibalik senyuman manisnya.
Jungkook lalu mengusap surai Jimin dengan gemas. "Ayo berangkat."
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Mereka berdua sampai di rumah sakit yang tidak begitu besar, namun juga tidak kecil. Dengan sang pria yang bermarga Jeon selalu tersenyum manis dengan menggandeng istri mungilnya.
Rumah sakit tersebut masih lengang ketika mereka menapakkan kaki di sana. Suasana yang sunyi dan bau disinfektan menyengat melewati bulu-bulu hidung. Jimin mengernyit, sedikit banyak tidak menyukai bagaimana kondisi yang berlangsung di rumah sakit itu.
Setelah menyatakan maksud kedatangan mereka, mereka diminta untuk menunggu di kursi yang disediakan.
Jungkook menggenggam jemari Jimin yang dingin, tahu benar bahwa yang membuat gugup pria yang dicintainya bukanlah perihal pertemuan dengan obigyn melainkan karena kecemasannya pada buah hati mereka.
"Jangan takut, Jimin-ah. Bayi kita kuat. Sepertimu yang mampu bertahan bersamaku selama ini," bisik Jungkook dengan jemari mengikuti alur urat nadi milik Jimin yang sedikit menonjol.
Jimin mengulaskan senyum. "Aku tahu, dia mewarisi kehebatanmu. Tendangan kakinya luar biasa."
Dan Jungkook tertawa. Membuat matanya mengerut dalam lipatan, meski begitu tidak mengurangi ketampanannya dan Jimin merasa jatuh cinta, lagi.
Entah mengapa Jimin merasa perlu mengatakannya. "Aku mencintaimu."
Dan Jungkook tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak melengkungkan kurva. "Kau tahu aku lebih dari sekedar mencintaimu."
Dan bayi di dalam kandungan Jimin menendang kecil membuat Jimin terpekik kecil, "Sepertinya dia cemburu."
"Daddy juga mencintaimu, Peanut. Jangan menendang Papamu terlalu keras," ucapnya, seketika merasa lucu pada panggilan kecilnya pada bayi mereka.
Peanut.
Panggilan untuk si mungil itu muncul kala Jimin tahu usia kandungannya masih kurang dari satu bulan. Ia datang sendiri ke rumah sakit, baru kala Jungkook pulang diberikannya hasil laporan kesehatan siang tadi.
Reaksi Jungkook seperti calon ayah muda kebanyakan. Pupil melebar lalu menghujami pemikat hatinya dengan banyak ciuman ringan. Tidak kreatif memang...
Tapi Jimin tetap suka. Itu artinya Jungkook sudah benar-benar mengubur dalam rasa risihnya pada bocah, pada bayi.
"Jadi, sudah berapa bulan kata dokter?"
Jungkook bertanya dengan pandangan tak lepas dari laptop. Ya, dia pulang cepat bukan berarti tugas kantornya selesai. Tapi karena Jimin yang meminta.
"Hmm..." Jimin menggumam sebentar, mengingat-ingat. Tangannya sibuk menyuapkan potongan buah ke mulut Jungkook, ganti makan malam karena keduanya sama-sama malas. "...belum sampai satu bulan. Satu minggu? Dua? Intinya dokter bilang janinnya baru sebesar kacang."
Tangan Jimin meletakkan garpu kala berbicara, karena telunjuk dan ibu jarinya hampir bersentuhan menggambarkan 'kecil sekali'.
Jungkook hanya tersenyum, memberi ciuman di pipi Jimin lalu berucap, "Peanut. Ah, bukankah itu lucu? Biar kupanggil dia Peanut!"
Jimin tertawa saja. "Ya ya ya... terserah. Sekarang makan buahnya sendiri, bayi besar."
Jimin kira itu hanya kesenangan sekejap dari euforia Jungkook. Namun, nyatanya masih bertahan sampai sekarang.
"Jeon Jimin." Dan nostalgia kecil-kecilan itu terhenti kala nama Jimin diserukan seorang perawat.
Jimin segera bangkit. Kakinya melangkah perlahan menuju ruangan yang sudah pernah ia kunjungi sebelum-sebelumnya. Sesekali mengusap pelan perutnya yang membuncit, seakan menenangkan bayi di dalam sana dari pemeriksaan yang mungkin saja (bagi janin berumur enam bulan) mengerikan.
Dan di balik meja itu duduklah seorang pria-dokter Kim Seokjin. Seorang yang sama yang telah melakukan pengecekan padanya sejak bulan-bulan kemarin.
"Hai, Jimin. Bagaimana kabarmu? Apa Peanut baik-baik saja di dalam sana, hm?"
Sedikit basa-basi sebelum sang dokter mulai memeriksa perutnya. Dan diam-diam Jimin berpikir, tentang bagaimana rasanya ketika Peanut lahir di dunia.
Dia pasti akan menjadi ibu paling bahagia sedunia. Mungkin yang orang-orang katakan tentang perjuangan selama berbulan-bulan itu akan terbayar ketika si bayi lahir adalah benar. Mungkin memang tidak mudah. Mungkin juga akan terjadi sesuatu yang buruk nanti. Mungkin rasanya akan sakit-Jimin takut dengan semua pikiran itu, tapi memikirkan tentang makhluk mungil yang akan segera ia timang membuatnya tak lagi ragu.
Jimin bahkan rela kalau harus mengorbankan nyawa untuk anaknya nanti.
Pemuda manis itu cuma tersenyum kecil menanggapi basa-basi Seokjin. Tangannya menggenggam jemari Jungkook lebih erat, matanya sedikit bergetar dan Jungkook langsung merangkul Jimin.
"Peanut kita pasti baik-baik saja. Percaya padaku." Jungkook mengecup pelipis Jimin, lalu membantu istri manisnya berbaring agar Seokjin bisa memeriksanya.
Tangan Jimin tidak berhenti menggenggam jemari Jungkook, dia menekan-nekan ibu jarinya di punggung tangan suaminya.
"Aku takut." Jimin berbisik begitu Seokjin mengoleskan cairan khusus sebelum membawa transducer untuk mengitari perut Jimin yang besar.
Jungkook tersenyum, merapikan poni Jimin yang mulai basah oleh keringat karena dia terlalu takut. Wajah Jungkook mendekat, lalu mengecup kening Jimin cukup lama.
"Tidak apa." Dia ikut berbisik sambil menatap Jimin tepat di matanya, "Apapun hasilnya, si kecil di dalam perutmu akan tetap menjadi Peanut kita."
Lalu Jimin tersenyum, dia dan Jungkook bahkan tidak mendengar ucapan Seokjin ketika dia bilang ada dua detakan jantung yang terdengar dari layar ultrasound.
Seokjin bahkan sampai berdehem. "Jadi kalian calon orang tua muda, bisakah dengarkan aku barang sekejap? Coba hentikan dulu tatapan-tatapan penuh cinta itu."
Dan Jimin juga Jungkook hanya mengeluarkan dera tawa kecil tanda maaf.
"Aku punya kabar bagus di sini."
Jimin berkedip saja, sementara Jungkook menunggu dengan tenang apa yang akan Seokjin lanjutkan.
"Kalian tahu, ada sepasang degup yang kudengar. Itu artinya..." Seokjin memang sengaja menggantung kata.
"KEMBAR!" Itu bahkan teriakan keduanya, Jimin dan Jungkook. Yang lantas mendapat gelengan maklum dari Seokjin. Ya, Seokjin bahkan masih agak ragu sanggupkah pasangan muda ini mengurus bayi?
Sanggupkah mereka mengurangi waktu tidur? Sanggupkah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan urusan anak?
Dan lagi, sanggupkah mereka berhenti bermesraan!? Seokjin bahkan tak tahu harus bagaimana memisahkan dua sejoli yang masih juga berdekapan erat.
Beberapa prosedur lanjutan pun dilakukan. Selama itu pula genggam tangan Jungkook selalu terkunci kuat pada telapak mungil Jiminnya.
Setelah semua rampung, Seokjin menyimpulkan bahwa bayi kembar mereka dalam kondisi baik dan aktif berkembang pesat. Tidak ada hal lain selain haru dan sukacita pada titik ini; semua terasa sempurna. Yang perlu keduanya siapkan hanyalah mental dan kematangan sebagai calon orang tua yang baik serta mampu melindungi buah hatinya.
Jungkook dan Jimin menyiang keraguan di awal. Mereka begitu bahagia, dan menyampaikan rasa terima kasih tidak terkira pada dokter yang telah membawa kabar begitu manis bagi pasangan muda ini. Keduanya mohon diri untuk pulang.
"Kakiku pegal," bisik Jimin setibanya mereka di rumah.
Kakinya memang pegal luar biasa, entah karena terlalu banyak berjalan di lorong rumah sakit atau karena tambahan bobot lain di dalam rahimnya.
"Mau kupijat?"
Jimin mengangguk dan Jungkook membimbingnya duduk. Dengan telaten ia memijat betis Jimin yang terlihat bengkak di balik celana panjang berbahan katun yang dikenakannya.
Jungkook menarik celana Jimin hingga sebatas lutut dan melihat banyaknya pembuluh darah seperti sarang laba-laba di bagian betis dan pahanya, varicose veins.
"Apa ini sakit?" tanyanya sembari mengelusnya.
"Tidak," jawab Jimin cepat menyadari raut Jungkook yang mendadak murung. "Tidak sakit, Kook-ah."
Jimin menatap Jungkook yang masih sibuk mengelusi beberapa titik di mana pembuluh darahnya terlihat menyedihkan, seolah tengah berusaha mengurainya.
"Jangan berlagak baik-baik saja, Jimin-ah. Aku tahu pasti berat mengandung dua bayi," ucapnya menyesal.
Jimin tersenyum dan meraih wajah Jungkook, mengecup bibirnya pelan sebelum menyatukan kening keduanya dan mendesau, "Aku tidak berlagak baik-baik saja. Selama ada kau, semuanya selalu baik-baik saja."
Mata Jungkook menyipit. "Menggombaliku, eh?"
"Aku belajar darimu," balas Jimin cepat.
Dan ia merasa tubuhnya melayang, Jungkook menggendongnya. Jimin memekik kecil dalam gendongan Jungkook yang membuatnya merona.
"Aku pasti berat," bisiknya di dada Jungkook.
"Tidak. Jika itu kau, semuanya terasa ringan."
Jimin tidak bisa menahan kuntum senyumnya yang mekar. "Gombal."
Dan Jungkook hanya membalas dengan tawanya yang terdengar renyah juga segar seperti embusan angin di pantai kala musim panas tengah mencapai puncaknya. Jimin suka suara tawa pria yang paling dicintainya ini di dunia, selalu suka. Karena ia akan jatuh cinta, lagi dan lagi.
"Kau tidak mau memberi nama adik Peanut?" tanya Jimin ketika Jungkook menendang pintu kamar mereka dengan sebelah kaki.
"Aku tengah memikirkannya," balas Jungkook membiarkan pintu itu tertutup dalam geritan halus. "Bagaimana dengan Bubble?"
Jimin menggeleng tidak setuju. "Biarkan aku memilih kali ini."
"Bagaimana dengan Cupcake?" Jimin bertukas antusias. Maniknya mengilat riang. Jungkook tidak tahu kenapa Jimin bisa terlihat begitu menggemaskan tatkala pemuda itu kelewat bahagia seperti saat ini.
Jungkook mengangguk. "Tidak buruk," komentarnya. Bagaimanapun juga, pilihan Jimin akan selalu menjadi pilihannya. Ia tidak mungkin menggelengkan kepala ketika menemukan sosok dengan perut buncit itu terlihat bersinar dalam kegembiraan.
Karena bagi Jungkook, tidak ada yang lebih indah daripada melihat seorang Jeon Jimin tersenyum.
"Hei, kira-kira, bagaimana rupa anak kita nanti?" Suara Jimin kembali membelah keheningan di antara mereka. Jungkook mengerutkan dahi, memutar otak dan melukiskan bayangan wajah bayi dalam rahim Jimin dalam angan.
"Kalau dia perempuan, dia pasti manis. Sepertimu, kurang lebih," kata Jungkook kemudian. Yang diajak bicara terkekeh, sedikit banyak tersipu oleh pernyataan sang suami.
"Dan kalau dia lelaki, dia pasti sama sepertiku; tampan, banyak disukai wanita, dan menyenangkan. Dia juga akan dicintai orang-orang." Jungkook kembali melanjutkan. Jimin mengerutkan dahi, tersenyum timpang, lalu terkekeh kecil.
"Hei, itu tidak sepertimu, Jung," katanya. "Kau tidak menyenangkan, sejujurnya kau menyebalkan. Apa-apaan itu dicintai orang-orang? Pembohongan publik."
Pria yang lebih tinggi itu tertawa kecil. ia menaruh tubuh mungil sang istri di ranjang kemudian mengecup lembut keningnya. "Selama aku tidak membohongimu, tidak apa-apa, kan?" Ia pun mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Jimin kembali bersemu merah.
"Ya-ya sudah, sana kau mandi! Dasar bau!" seru Jimin. Jungkook menatap manja Jimin sebelum memasuki kamar mandi. "Dan pria bau ini adalah calon ayah di dalam perutmu, sayang~" Beruntunglah dirinya yang sudah memasuki kamar mandi sehingga tidak terkena lemparan bantal yang digunakan sang istri untuk menyerang dirinya.
Di dalam kamar mandi, Jungkook menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tersenyum sumringah, sekarang. Entah mengapa, tapi ia tak bisa lagi menahan perasaan bahagia yang terus meluap-luap di hatinya. Kepalanya terus memutar bayangan jika kedua anaknya lahir di dunia ini, dengan Jimin yang terus menemaninya hingga hari tua.
Oh Tuhan…. Semoga kau tak mengambil sedikitpun kebahagiaan keluarga kecil ini. Karena—seperti Jimin—Jungkook akan mempertaruhkan apa saja demi kebahagiaan yang tak terhingga ini. Dan ia semakin meneguhkan hatinya, jika semua akan baik-baik saja.
Ya.. kita do'a kan saja keluarga kecil Jeon ini akan terus berbahagia.
.
.
.
.
.
Sedikit catatan kaki:
Hello, this is KookMination (again)
Terima kasih telah membaca~
Btw, kami masih terima member baru untuk yang ingin bergabung ke group chat line KookMination. Bisa kirim id Line lewat kotak review. Atau PM juga boleh :)
Harap berikan tanggapan, saran, dan kritik kalian untuk cerita ini ya~
.
.
.
Believe us, once you kookmIN you can't kookmOUT
