No edit..typo merajalela..
Enjoy!!
Chapter 2
Sasuke terbangun dari tidurnya kala merasakan sinar mentari yang perlahan masuk melalui jendela kamarnya. Diambilnya ponsel diatas nakas dan melihat jam yang tertera dilayar. Pukul 05.30 menit. Ditaruhnya kembali ponsel itu ditempat semula.
Fokusnya kini tertuju pada gadis yang semalam telah resmi menjadi wanita itu. Wanita yang begitu dicintainya, yang menjadi pemilik hatinya. Wanita yang dinikahinya 4 tahun lalu saat wanita itu masih menjadi pelajar SMU. Mereka terpaksa berpisah karena syarat yang diajukan oleh ayah mertuanya. Namun kini tak ada lagi yang akan menghalanginya untuk bertemu dengan wanita pujaannya. Wanitanya kini telah kembali kepelukannya dan Sasuke tentu saja tak akan melepaskannya begitu saja.
Sasuke mengembangkan senyumnya kala melihat wanitanya menggeliat dalam pelukannya.
"Aku senang saat bangun melihatmu disampingku seperti ini," gumam Sasuke seraya mengecup kening istrinya.
Perlahan Hinata membuka kelopak matanya. Amethys yang selalu disukai Sasuke itu kini terlihat.
"Ohayou...Hime!"
"Ohayou mo, Sasuke-kun...", balas Hinata. "Jam berapa sekarang?" tanyanya kemudian.
"Jam 5.30 menit," jawab Sasuke seraya mengeratkan kembali pelukannya. "Kau tahu? Aku sudah lama menantikan hal ini," ujar Sasuke setelah terjadi keheningan untuk beberapa saat.
Hinata mengernyit heran dalam pelukan Sasuke. "Apa?" tanyanya seraya mendongakan kepalanya untuk menuntut penjelasan dari sepasang onyx yang selalu dikaguminya.
"Melihat mu dipelukanku saat aku terbangun di pagi hari seperti ini."
Hinata mengembangkan senyum simpulnya. "Benarkah?"
"Tentu saja! Kau tak percaya padaku?"
"Entahlah! Selama ini kau selalu dikelilingi wanita cantik."
"Kau cemburu?"
"Tentu saja! Istri mana yang tak cemburu melihat suaminya dekat-dekat dengan wanita lain." Hinata mengerucutkan bibirnya yang langsung saja disambar oleh Sasuke. Refleks Hinata memukul bahu suaminya itu.
"Kenapa memukulku?" protes Sasuke.
"Kau itu selalu saja mencuri kesempatan."
Sasuke terkekeh. "Tak ada yang lebih cantik dan lebih menarik bagiku selain dirimu." Dikecupnya kening wanita yang menjabat sebagai istrinya itu. "Kau adalah wanita kedua yang paling berharga setelah ibuku. Aku tak akan pernah melepasmu. Kau ingat itu, Nyonya Uchiha!" Kembali dikecupinya wajah ayu istrinya.
Tiba-tiba Hinata tersentak seperti ingat sesuatu. "Oh iya, ngomong-ngomong tentang ibu, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya," ujar Hinata.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Sasuke penasaran.
"RA-HA-SIA!!" Jawab Hinata penuh penekanan. "Ini urusan wanita," lanjutnya seraya terkekeh pelan.
"Kau mau main rahasia-rahasiaan denganku? Mau ku hukum, hm?" Sasuke menyeringai.
"Kyaaaaaaaa...Hentikan, Sasuke-kun!! Aku harus segera menemui ibu!" protes Hinata kala Sasuke mulai menghujaninya dengan ciuman.
"Hn. Setelah kau menerima hukumanmu. Lagipula ini masih terlalu pagi. Ibu pasti mengerti." Dan kejadian semalam pun terulang kembali.
Pagi ini media sosial Jepang dihebohkan kala Uchiha Sasuke mengunggah sebuah foto seorang wanita berambut indigo panjang yang sedang menikmati secangkir teh dipagi hari, disalah satu akun medsosnya. Namun sayang, wajah wanita itu tak terlihat jelas karena foto itu diambil dari arah samping belakang. Foto dengan caption "Beautiful DayWelcome home, Hun...Love you" langsung menuai berbagai macam reaksi.
Tak hanya rekan sesama selebritisnya yang terkejut. Para penggemarnya dari seluruh dunia pun tak kalah heran. Pasalnya, selama ini Sasuke tak pernah memajang foto seorang wanita pun kecuali ibunya. Apalagi dengan caption yang seperti itu, seolah-olah Sasuke ingin menunjukkan bahwa dia memiliki hubungan istimewa dengan gadis dalam foto tersebut. Jelas saja mereka heran, karena itu bukan Sasuke sekali.
"UzumakiNaruto10Hey...teme, siapa dia? Aku baru tahu kau punya kekasih. Katakan padaku siapa dia, teme!@UchihaSasuke."
"HarunoSakiWooww...Ini benar-benar mengejutkan. Siapa dia Sasuke-kun? Sepertinya dia sangat istimewa untukmu@UchihaSasuke."
"Sabaku_GaaraBenarkah ini? Kau sudah membuat heboh pagi-pagi begini @UchihaSasuke."
"Shion_Miko05Kau membuatku patah hati @UchihaSasuke-kun."
"Ten10Sepertinya aku kenal dengan warna rambutnyaShe looks so gorgeous@UchihaSasuke."
Begitulah...dan masih banyak komentar yang masuk, baik dari teman-temannya maupun dari para fansnya. Namun sampai detik ini Sasuke belum berkomentar apapun mengenai foto yang tadi pagi diunggahnya. Dia hanya tersenyum saat membaca komentar-komentar yang masuk. Kebanyakan komentar itu berisi pertanyaan tentang siapa wanita itu, selebihnya ungkapan patah hati, namun ada juga yang memberinya selamat.
Hinata sendiri tengah mengemudikan mobil Sasuke menuju ke mansion Uchiha untuk menemui ibu mertuanya. Dia berangkat satu jam setelah Sasuke pergi. Memutar radio yang ternyata sedang menyiarkan wawancara sang suami.
Hinata berdecak sebal kala sang penyiar menanyakan tentang wanita yang diunggah Sasuke dalam akun media sosialnya. "Tck...Dasar dia itu," gumamnya, namun senyum tipis tersungging dibibirnya.
"Dia wanita yang spesial. Jadi, aku tak akan membaginya pada siapa pun." Hinata terkekeh sendiri mendengar jawaban sang suami.
"Waah,sepertinya dia memang benar-benar spesial ya, Sasuke-kun? Aku jadi iri," ujar sang penyiar dengan nada centilnya. "Lalu bagaimana dengan para fans mu? Mereka pasti patah hati."
"Tanpa fans aku bukanlah siapa-siapa. Aku menghormati dan menyayangi mereka semua. Tapi, ini hidupku dan aku telah memilihnya. Jadi, aku harap para fans bisa mengerti dan mendukung hubungan kami," ucap Sasuke bijak.
"Ah...aku sebenarnya patah hati juga. Tapi, kuharap hubungan kalian berjalan lancar. Aku juga berharap suatu hari nanti kau mau mengenalkannya pada para penggemarmu," tambah sang penyiar.
"Jika sudah saatnya pasti akan ku perkenalkan. Terima kasih atas dukungannya. Aku benar-benar sangat menghargainya."
"Baiklah para pendengar sekalian. Itu tadi bincang-bincangku dengan Uchiha Sasuke-kun. Jangan lupa untuk membeli CD terbarunya! Sekali lagi terima kasih atas waktunya Sasuke-kun, dan selamat atas hubunganmu," cerocos sang penyiar. "Sebelum kami mengakhiri wawancara kali ini, Sasuke-kun akan menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua. Apa kau akan menyanyikan salah satu single dari album barumu?" tanya sang penyiar antusias.
"Ah...tidak. aku akan menyanyikan sebuah lagu dari James Arthur - Say You Won't Let Go."
Tak lama terdengar suara petikan gitar yang mulai dimainkan. Sasuke bernyanyi diiringi gitar akustik kesayangannya yang selalu dia bawa kemana pun sejak 4 tahun lalu. Gitar itu merupakan hadiah dari Hinata sebelum perpisahan mereka tak lama setelah mereka menikah. Gitar itu pula yang menjadi pengobat rindunya kala terpaksa harus berpisah dengan istri tercinta untuk sementara waktu.
Hinata mendengarkan suara merdu suaminya sambil sesekali ikut bersenandung sampai akhirnya dia sampai dikediaman mertuanya.
"Aku sudah selesai. Kurasa tak ada jadwal lagi setelah ini. Apa kau mau menjemputku?" tanya Sasuke pada seseorang disebrang telpon sana.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Kabari aku jika kau sudah sampai!"
"Aku mencintaimu."
Dan...ucapan Sasuke barusan membuat teman-temannya yang tadi melakukan pemotretan bersama, serentak membolakan kedua mata mereka. Begitu tak percaya mendengar kata cinta keluar dari bibir Sasuke yang biasanya pelit kata itu.
"Apa kau benar Uchiha Sasuke?" tanya Naruto tak percaya.
"Kau terbentur sesuatu ya?" Gaara tak tahan untuk tak bertanya.
"Ini benar-benar kejutan. Apa yang barusan itu gadis yang kau unggah fotonya tadi pagi?" Kini giliran Sasori yang bertanya.
"Kau benar-benar punya kekasih ya?" Toneri pun tak ketinggalan.
"Hn. Dia bukan kekasihku," ujar Sasuke datar sambil melangkahkan kakinya menuju Kakashi, sang manager, yang sedang mengobrol dengan manager lainnya. 'Tapi dia istriku', lanjutnya dalam hati. Bibirnya menyeringai tipis.
"Apa-apaan dia itu? Dia bilang bukan kekasih, lalu apa maksudnya kata 'aku mencintaimu' itu?" umpat Naruto kesal.
"Aku akan pulang dengan'nya', kau tak perlu mengantarku. Apa besok aku ada jadwal?" Terdengar suara Sasuke yang tengah berbicara dengan managernya.
"Apa 'dia' menjemputmu?" tanya Kakashi dan melihat Sasuke menganggukkan kepalanya. "Well...kau punya waktu seminggu untuk bersenang-senang. Aku sudah mengatur ulang jadwalmu. Aku tahu kau sangat merindukan'nya'," ujar Kakashi dengan mata menyipit, tanda dia sedang tersenyum dibalik maskernya.
"Hn. Terima kasih, Kakashi. Aku pergi." Sasuke langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tepat saat ponselnya bergetar.
"Sampaikan salamku pada'nya'! seru Kakashi, Sasuke hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik dan terus melanjutkan jalannya dengan ponsel yang menempel ditelinganya.
Teman-temannya langsung menghampiri Kakashi yang sedang mengobrol dengan manager mereka.
"Apa kau mengenal gadis itu, Kakashi?" tanya Naruto langsung.
"Kurasa kalian juga mengenalnya," jawab Kakashi seraya mengangkat bahunya acuh.
"Siapa?" Sasori mengerutkan keningnya heran.
"Ini sungguh benar-benar bukan diriku, tapi aku sangat penasaran dengan gadis yang fotonya diunggah Sasuke tadi pagi," ungkap Gaara kesal.
"Bagaimana kalau kita lihat siapa yang menjemputnya?" usul Toneri. "Manusia es itu benar-benar membuatku penasaran."
"Aku setuju." Naruto tanpa ragu melangkah keluar ruangan disusul ketiga temannya yang lain, Gaara, Sasori, dan Toneri.
Manager mereka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah para artisnya yang terkadang bersikap konyol itu. Mereka pun sebenarnya penasaran, kecuali Kakashi tentunya, namun mereka masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum menyusul para artisnya itu.
Sasuke menyunggingkan senyum tipisnya kala melihat mobil sport Zenvo ST1 berwarna dark blue terparkir cantik ditempat parkir VIP didepan gedung agency yang menaunginya. Sasuke pun mempercepat langkahnya menuju kearah mobilnya berada. Beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat menyapanya.
Tak jauh dari belakang Sasuke, keempat sahabatnya tampak mengikutinya diam-diam. Mereka memperhatikan kemana Sasuke melangkahkan kakinya.
"Bukankah itu mobil Sasuke?" Sasori menyipitkan matanya memperhatikan.
"Bukankah dia tadi berangkat bersama Kakashi?" si pirang Naruto pun tak kalah heran.
"Tapi itu memang benar mobilnya," Toneri menimpali.
"Bukankah tadi dia bilang 'seseorang' akan menjemputnya?" Pertanyaan Gaara seolah mengingatkan mereka. Tapi...
"Sejak kapan si teme itu membiarkan orang lain menyentuh mobil kesayangannya?" Tanda tanya semakin membesar dikepala Naruto.
"Apalagi sampai mengijinkannya untuk mengemudikannya." Gaara tak kalah heran.
"Bahkan Itachi-nii saja tak berani mengemudikan mobil kesayangan si teme itu," Naruto kembali berkomentar.
"Ini keajaiban. Aku jadi semakin penasaran siapa yang sudah mengubah manusia es itu," Toneri menimpali. Naruto, Gaara, dan Sasori mengangguk-angguk setuju.
Mereka berempat terus memperhatikan Sasuke yang kini telah memasuki mobilnya tersebut. Tak lama mobil itu pun perlahan meninggalkan area parkir dengan berbagai macam pertanyaan dibenak orang yang melihatnya, termasuk keempat pria tampan yang menjadi sahabatnya.
"Dia masih tak menunjukkan dirinya," keluh Naruto kesal. Ketiga temannya yang lain hanya mengangguk lesu.
"Kau sudah makan?" tanya Sasuke yang kini tengah menyetir mobilnya. Di tempat parkir tadi mereka bertukar posisi didalam mobil. Sesekali matanya melirik kearah sang istri yang tengah memainkan ponselnya.
Merasa tak mendapatkan respon, Sasuke pun mendengus sebal.
"Sayang, kau sedang apa sih? Apa ponselmu lebih berharga dariku?" Sasuke merajuk.
Hinata menyunggingkan senyum lembutnya, seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Tadi aku memasak bersama ibu, dan membawanya sebagian untuk kita. Bagaimana kalau kita makan di apartement saja?" tawar Hinata.
"Kau memasak?" Hinata menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sasuke.
"Aku juga membuat sup tomat kesukaanmu," tambah Hinata.
Wajah Sasuke berbinar ceria, "Benarkah? Sudah lama aku tak memakan masakanmu. Apa masih seenak dulu?"
"Kau coba saja nanti!"
"Ngomong-ngomong, apa saja yang kau dan ibu lakukan seharian ini?" tanya Sasuke kemudian.
"Well...kami bersenang-senang. Aku dan ibu melakukan banyak hal. Ibu juga membantuku untuk mulai mengurus persiapan pembukaan kafe dan toko kue ku. Kami tadi kesana," terang Hinata.
"Bagaimana persiapannya? Maaf aku tak bisa mengantarmu kesana," sesal Sasuke.
"Sangat baik." Hinata tersenyum. "Kurasa kau terlalu berlebihan, Sasuke-kun. Itu terlalu besar dan mewah." Hinata menolehkan kepalanya menatap sang suami yang sedang mengemudi.
"Apa yang kau katakan, sayang? Itu bahkan tidak ada apa-apanya. Lagipula, kau adalah istriku. Sudah menjadi kewajibanku untuk membahagiakanmu. Apapun yang membuatmu senang akan kuberikan," ujar Sasuke seraya mengusap kepala Hinata lembut.
"Tapi itu terlalu berlebihan," Hinata masih mencoba protes.
"Tidak ada yang berlebihan untukmu. Aku sudah menyiapkannya sejak lama. Kau tahu? Aku bahkan harus berdebat dulu dengan ayah mertua tentang hal ini. Beliau juga ingin memberikan sebuah toko untukmu. Tapi, kurasa itu kewajibanku sebagai suamimu," jelas Sasuke. Hinata tersenyum dan mengangguk mengerti. Bahkan sejak 4 tahun lalu Sasuke pun selalu mengiriminya uang sebagai nafkahnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Terima kasih, anata," ujar Hinata akhirnya.
"Tapi, itu semua tidak gratis, sayang," Sasuke menyeringai.
"Maksudmu?" Hinata mengerutkan keningnya.
"Tck...masa kau tidak mengerti, sih?!" Sasuke berdecak sebal.
"Aku memang tidak mengerti, Sasuke-kun." Sasuke gemas sendiri dengan istrinya.
"Kau harus membayarnya dengan dirimu. Aku libur seminggu ini. Bagaimana jika kita pergi ke Ame?" tawar Sasuke.
"Lalu persiapan toko ku bagaimana?"
"Aku akan menyuruh orang mengawasinya. Kau tak perlu khawatir! Lagipula ada ibu disini. Pasti ibu tak keberatan jika dimintai tolong."
"Aku tak mau merepotkan ibu, Sasuke-kun."
"Kalau begitu aku akan menyuruh temanku untuk mengawasinya. Tak ada alasan lagi," putus Sasuke mutlak.
"Baiklah. Mau bagaimana lagi?!" Sasuke tersenyum saat mendengar ucapan Hinata.
Tak lama kemudian mereka tiba di apartement Sasuke dan langsung menaiki lift.
"Sup buatanmu semakin enak," komentar Sasuke setelah mereka selesai makan malam. Hinata tersenyum sambil neneruskan kegiatannya mencuci piring bekas makan mereka.
"Aku cukup sering membuatnya, terutama saat aku sedang merindukanmu," ujar Hinata tanpa berbalik. Sasuke menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang.
"Kau tahu? Aku harus berjuang mati-matian menahan rinduku padamu. Jika bukan karena perjanjian sialan itu, sudah sejak dulu aku menjemputmu." Sasuke sesekali mengecupi pipi dan leher sang istri.
Hinata mematikan kran air dan mengelap tangannya dengan lap kering kemudian berbalik menghadap suaminya. Sasuke merengkuh pinggang ramping Hinata.
"Sekarang kau tak perlu menahannya lagi bukan?" Hinata tersenyum lembut seraya mengalungkan kedua tangannya keleher sang suami.
Sasuke mengecup bibirnya singkat. "Tentu saja!" Dibawanya tubuh ramping Hinata kedalam pelukannya.
"Setelah pulang dari Ame, bagaimana kalau kita pindah ke rumah kita?" tanya Sasuke. Mereka kini tengah menonton televisi. Sasuke menjadikan paha Hinata sebagai bantalnya.
"Apa tidak apa-apa? Bukankah itu cukup jauh dari agensimu?" Hinata bertanya balik sambil mengelus surai raven Sasuke.
"Tapi, disana cukup sepi dan tenang. Jadi tidak akan ada yang mengganggu," ujar Sasuke dengan seringai menggodanya. "O'iya, apa kau sudah memakai alat kontrasepsi?" Sasuke menatap wajah cantik istrinya dan melihat Hinata mengangguk malu.
"Tadi ibu mengantarku menemui dokter kenalannya."
"Maafkan aku, sayang! Bukan aku tak ingin kau mengandung anakku. Tapi, beri aku waktu paling tidak 1 tahun untuk memilikimu untuk diriku sendiri. Setelah itu, aku akan membuatmu hamil berulang kali." Ucapan Sasuke refleks membuat Hinata memukul lengan sang suami yang sedang memainkan surai indigonya.
"Kenapa kau suka sekali memukulku?" Sasuke mencebikkan bibirnya.
"Dasar mesum!!" protes Hinata dengan wajahnya yang tampak merona.
"Tidak apa-apa, aku mesum hanya padamu," Sasuke terkekeh.
Drrrtt...drrrtt...drrrtt...
Suara dering ponsel Sasuke mengalihkan perhatian mereka dari layar televisi.
Dobe's calling...
Sasuke menatap malas ponselnya yang menampilkan nama sahabat pirangnya dilayar. Dengan enggan Sasuke menjawab panggilan tersebut.
"Hn. Ada apa Dobe?" Ujar Sasuke malas.
"Teme, kau dimana?" Suara Naruto terdengar memekakan telinga Sasuke.
"Aku di apartement."
"Cepat kemari! Kami sedang di club, semuanya berkumpul disini."
"Aku sibuk." Sasuke masih menjawab malas.
"Ayolah!! Lagipula kau sibuk apa? Tak biasanya kau jam segini sudah berada di apartement. Memangnya apa yang sedang kau lakukan?"
"Bukan urusanmu! Besok aku mau ke Ame pagi-pagi, jadi aku tak bisa kesana. Sampaikan saja salamku untuk yang lain!" ujar Sasuke lagi. Lalu tanpa menunggu balasan dari Naruto, Sasuke langsung menutup sambungn telponnya.
"Ada apa, Sasuke-kun? Siapa yang menelpon?" tanya Hinata sambil terus mengelus surai suaminya dengan sayang.
"Naruto. Dia mengajakku ke club. Mereka sedang berkumpul," Sasuke menjawab malas.
"Kenapa kau tak kesana?"
"Untuk apa? Aku lebih memilih berduaan denganmu daripada dengan mereka."
"Apa kalian sering berkumpul di club?"
"Well...tidak juga. Jadwal kami sama-sama padat. Kami hanya sesekali berkumpul disana untuk menghilangkan penat setelah bekerja."
"Pasti banyak wanita cantik dan seksi disana."
"Kau cemburu?" Sasuke bangun dari tidurannya. "Aahh...aku senang sekali mendengarnya." Dipandanginya sang istri dengan mata berbinar dan nada suaranya yang terdengar menggoda.
"Apa sih? Aku kan cuma tanya."
Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Sasuke meraih remot dan mematikan televisi kemudian langsung menggendong sang istri ala bridal style.
"Kyaaaaa...Sasuke-kun, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Hinata meronta dalan gendongan suaminya. "Jangan macam-macam, Sasuke-kun! Besok kita harus bangun pagi," protes Hinata yang tidak digubris sama sekali oleh Sasuke.
Selama seminggu di Ame, Sasuke benar-benar mengurung istrinya di kamar selama 4 hari penuh. Baru pada hari ke 5 mereka berjalan-jalan menikmati pemandangan kota Ame, tentu saja dengan penyamaran. Merepotkan memang, tapi Hinata masih belum mau hubungan mereka diketahui oleh publik.
Hinata terlihat begitu kelelahan, tapi dia senang bisa menghabiskan waktu bersama sang suami tercinta.
Setelah seminggu menjalani 'bulan madu', mereka pun kembali menjalani rutinitas seperti biasanya. Sasuke kembali disibukkan dengan jadwalnya sebagai seorang public figure, sedangkan Hinata sibuk mempersiapkan pembukaan cafe sekaligus toko kuenya.
Sesekali mereka keluar berdua, dengan menyamar tentu saja. Hingga kini masih tak ada yang tahu tentang hubungan keduanya. Hinata masih enggan publik mengetahui hubungan mereka. Dia tidak mau hidupnya selalu diburu oleh para pencari berita. Sasuke sendiri tak masalah jika hubungannya dengan Hinata diketahui banyak orang. Pria itu ingin semua orang tahu jika sang Hyuga telah berubah marga menjadi seorang Uchiha.
Malam ini Sasuke pulang lebih awal dari biasanya. Perasaannya sungguh tak enak karena sedari tadi siang Hinata tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesannya.
Mata kelamnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga apartement tempatnya tinggal bersama sang istri. Namun, Sasuke sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan istrinya. Masuk lebih ke dalam Sasuke mulai mencari ke seluruh ruangan, kamar, kamar mandi, dapur, balkon, semuanya sudah Sasuke periksa tetap tak menemukan Hinata.
"Kau dari mana saja? Aku mencarimu. Kau membuatku khawatir."
Sasuke langsung menghampiri sang istri saat melihatnya masuk ke dalam apartement.
"Kau mengabaikanku seharian ini. Kau bahkan tak menjawab telponku atau membalas pesanku," ujar Sasuke lagi saat tak mendapat respon Hinata. Istrinya itu melewatinya begitu saja dan langsung masuk kedalam kamar mereka. Sasuke menghela napas pelan seraya mengekori sang istri dibelakangnya.
"Sayang, kau masih marah padaku? Aku kan sudah minta maaf. Lagipula kau tahu sendiri jika berita itu sama sekali tidak benar." Nada suara Sasuke terdengar merajuk. Hinata masih mengacuhkannya.
"Sayang..." Sasuke masih mengekori Hinata yang mengacuhkannya.
Kruyuukk...
Hinata hampir saja tertawa saat mendengar perut Sasuke yang berbunyi. Dia pun membalikkan badannya menghadap sang suami.
"Kau belum makan?" tanya Hinata pelan.
Sasuke menundukkan kepalanya seraya menggeleng. "Bagaimana aku bisa makan jika seharian ini kau terus mengabaikanku? Bahkan kau mendiamkanku sejak 2 hari yang lalu," ujar Sasuke setengah merajuk. Wajahnya dibuat sememelas mungkin agar sang istri luluh. Seandainya orang-orang melihat tampangnya saat ini, dijamin seluruh dunia akan menertawakannya.
Hinata menghela napasnya kemudian berjalan keluar kamarnya.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
"Kau harus makan, Sasuke-kun!"
Tanpa menunggu respon Sasuke, Hinata kembali melangkahkan kakinya. Sasuke pun mengikutinya.
Hinata mulai menyiapkan bahan-bahan masakan seadanya. Sasuke duduk mengamati istrinya yang sedang memasak di kursi bar. Tak membutuhkan waktu lama, makanan pun jadi. Hinata membuatkan nasi goreng ekstra tomat kesukaan suaminya.
"Mau kemana? Temani aku makan!" pinta Sasuke dengan wajah memelas saat Hinata hendak kembali ke kamar.
Hinata pun terpaksa menemani suaminya makan. Sasuke hanya menghabiskan waktu 5 menit untuk makan, antara lapar dan ingin segera berbicara dengan istrinya.
"Sayang, kita harus bicara!" Sasuke mencekal tangan Hinata yang hendak pergi.
Hinata menghela napasnya pelan. "Aku sudah tahu semuanya, Sasuke-kun. Aku tak sengaja bertemu Kakashi-san tadi siang. Dia sudah menjelaskan semuanya padaku," jelas Hinata.
"Lalu kenapa kau masih mengabaikanku?" tanya Sasuke tak terima.
"Aku masih kesal padamu," ketus Hinata.
"Lalu aku harus bagaimana agar kau tak kesal lagi padaku?"
Hinata mengangkat bahunya acuh kemudian beranjak dari duduknya.
"Jawab dulu pertanyaanku, sayang!" Sasuke mengekori istrinya.
"Aku mau mandi, Sasuke-kun. Badanku lengket semua."
"Aku ikut. Aku juga belum mandi."
"Tidak mau. Kau tunggu aku selesai dulu."
"Aku juga tidak mau. Pokoknya aku ingin mandi denganmu." Tanpa menunggu ucapan Hinata selanjutnya, Sasuke langsung menarik tangan istrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Selesai mandi yang memakan waktu cukup lama, mereka berdua kini tengah berbaring dengan Sasuke yang memeluk erat Hinata.
"Jangan mengabaikanku lagi, sayang! Hidupku kacau jika kau abaikan." Sasuke menyesap aroma lavender yang menguar dari tubuh istrinya.
"Aku hanya cemburu, Sasuke-kun. Fotomu terlihat begitu mesra dengannya. Kau membuat banyak orang salah paham."
Hinata mencebikkan bibirnya. Hatinya terbakar api cemburu saat 2 hari lalu beredar foto sang suami yang tengah digandeng seorang perempuan berambut pirang pucat yang diketahui bernama Shion.
Sudah menjadi rahasia umum dikalangan para selebritis dan wartawan jika Shion menyukai Sasuke, rekannya sesama penyanyi. Meskipun Sasuke sudah jelas-jelas menolaknya, tapi dengan tak tahu malunya Shion terus berusaha mengejarnya. Terlebih setelah Sasuke semakin sering mengunggah foto Hinata, meskipun masih tak menampakkan wajahnya, dimedia sosialnya, Shion pun selalu mencuri-curi kesempatan untuk mendapatkan foto Sasuke saat bersamanya.
"Kalau begitu, saat konserku nanti aku akan memperkenalkanmu pada semua orang agar mereka tahu aku milikmu," ujar Sasuke.
"Tapi, Sasuke-kun..." Hinata hendak protes namun Sasuke memotongnya.
"Tidak ada tapi-tapi lagi. Aku juga ingin semua orang tahu jika wanita cantik ini milikku." Sasuke mengecup puncak kepala Hinata.
Hinata hanya bisa pasrah kali ini, mungkin memang sudah saatnya orang-orang tahu tentang hubungan mereka.
"Terserah kau saja, Sasuke-kun. Tapi, bagaimana dengan karirmu?" tanya Hinata ragu.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua orang tahu tentang hubungan kita," tegas Sasuke tak ingin dibantah. Hinata hanya mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong, bagaimana persiapan kafe dan tokomu? Kapan pembukaannya?" tanya Sasuke kemudian.
"Baik. Semuanya berjalan lancar. Ibu sangat membantuku. Jika tidak ada halangan, minggu depan sudah mulai bisa dibuka," jelas Hinata.
"Aku pasti akan datang."
"Jika kau datang pembukaan kafeku bisa kacau."
"Bukankah itu bagus, kafemu pasti banyak pengunjung." Sasuke terkekeh pelan. "Lagipula bukankah kau pernah bilang akan mengundang teman-temanku saat diacara pertunangan Ino? Teman-temanku saja kau undang masa suamimu sendiri tidak." Hinata memutar matanya malas mendengar nada merajuk dalam suara suaminya.
"Ah, ngomong-ngomong tentang temanmu, kemarin aku bertemu dengan Naruto-san dan Gaara-san, dan Sakura-san" ujar Hinata.
"Dimana kau bertemu mereka?" tanya Sasuke.
"Didekat kafeku. Mereka sedang melakukan pemotretan disekitar sana, jadi kuajak sekalian mampir sebentar untuk mencicipi kue buatanku. Mereka menyukainya dan memintaku untuk mengundang mereka saat pembukaan nanti," terang Hinata panjang lebar.
Sedang asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Kau dengar itu, Sasuke-kun? Ada yang menekan bel."
"Ck...siapa yang datang malam-malam begini? Mengganggu saja." Sasuke berdecak kesal
"Cepat buka! Mungkin Itachi-nii. Tadi dia menelponku akan menginap disini malam ini," sahut Hinata.
"Kenapa aniki menelponmu?"
"Dia sudah menelponmu, tapi katanya ponselmu tidak bisa dihubungi."
Sasuke menautkan kedua alisnya, kemudian memeriksa ponselnya yang ada di nakas dan ternyata mati. "Baterai ponselku habis sepertinya," gumam Sasuke pelan.
"Sudah cepat sana buka! Kasihan jika Itachi-nii menunggu lama," Hinata mengingatkan.
Sasukebpun bangun dan berjalan keluar kamar untuk membukakan pintu. Namun, matanya menatap horor saat melihat ternyata bukan sang kakak yang datang, melainkan sahabat dobenya yang datang bersama Sasori dan Sakura.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Sasuke dingin untuk menutupi rasa terkejutnya.
"Sejak kapan kau mengubah password apartementmu?" Naruto balik bertanya dengan wajah yang tak kalah kesal dan tanpa permisi langsung nyelonong masuk ke dalam diikuti Sasori dan Sakura, meninggalkan Sasuke yang masih terdiam mematung di dekat pintu.
Sasuke segera tersadar dan langsung menutup pintu mengikuti ketiga sahabatnya. Pemandangan di depannya membuatnya melotot seketika.
"Sasuke-kun siapa yang da..." Hinata menatap horor ketiga orang yang kini memandangnya dengan rasa terkejut luar biasa.
"...tang."
"Hi-hinata-chan, sedang apa kau disini?" tanya Naruto yang tampak begitu terkejut melihat Hinata yang hanya memakai piyama tidurnya.
Pun dengan Sasori dan Sakura, mereka pun bertanya-tanya sedang apa Hinata disana? Kenapa Hinata memakai piyama? Ada hubungan apa sebenarnya diantara Sasuke dan Hinata. Mereka butuh penjelasan sekarang juga!
TBC,
