Summary:
Luhan amat sangat yakin jika Cameron Dallas adalah laki-laki yang menduduki nomor satu sebagai laki-laki paling tampan di hati Luhan, namun tidak sampai saat ini. / "Jadi, Tuan,berapa umurmu?" / "Nomormu kusimpan ya, Oh Sehun. Sampai bertemu lagi." [EXOFIC, Comedy Romance, GS,Hunhan and other EXOfficial pairings]
This is my own storyline. I don't copy this from other fiction,this is my imaginaton. Don't Be a plagiator, don't bashing ;)
.
Created by
SEONG HEE JO
A Hunhan's fiction
-This fic is specially dedicated to my lovely cutie exo couple,Hunhan-
.
Based from a sweet angst-romance novel by Nyrae Dawn with the same title.
I only adapted the title and the main idea.
The whole plot and storyline is mine. So please, don't bashing J.
"CHARADE"
.
.
.
"Demi Tuhan Xiao Lu,"
Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada, menatap teman pirangnya yang kini tengah membuang ingus dengan brutalnya. Si pirang kini menenggelamkan kepalanya di tumpukan boneka yang semula tertata apik di ranjang Baekhyun. Tangan kanannya menggenggam erat ponsel imut dengan berbagai gantungan juga stiker kekanakan sementara kakinya bergerak gelisah, menjuntai di bawah ranjang.
"Luhaen," Baekhyun mendesah sebelum menggerakkan kakinya mendekat menuju teman pirangnya. Beberapa kali Baekhyun berjengit geli ketika telapak kakinya menyentuh tisu-tisu yang mengandung lendir-lendir hijau milik si pirang yang sejak 2 jam yang lalu melapisi karpet beludru di kamarnya.
Baekhyun menarik kedua kaki Luhan yang menjuntai dan membawa tubuh itu untuk segera beranjak dari ranjangnya, namun yang ditarik memekik manja dan menggulingkan tubuhnya menuju sisi ranjang, menjauh dari Baekhyun yang kini menggeram kesal.
"Kau tahu Luhan," Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada, "seharusnya kau pergi ke dokter sekarang juga dan meminta resep untu flu-mu alih-alih menodai kamarku dengan virus-virusmu."
Luhan meraung lembut seiring ia mengarahkan otot-otot lengannya melewati kepalanya dan meregangkan jemarinya, menguap lembut sebelum berucap dengan intonasi yang menyebalkan, "Terimakasih atas pengusirannya, sahabatku sayang."
Baekhyun memutar bola matanya malas.
Luhan kembali berkutat dengan ponselnya. Kini ia berbaring tengkurap―masih di ranjang Baekhyun―dan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya yang terlipat, sementara tangan kanannya menggenggam erat ponselnya yang sedari tadi tak menunjukkan tanda kehidupan. Luhan membawa kuku jari telunjuknya yang terpoles cat kuku berwarna turquoise mengetuk layar ponselnya sebelum berdecak kesal.
"Kenapa belum menelepon, sih?!"
Baekhyun yang sedari tadi hanya menonton si pirang berguling-guling di ranjang imut-nya mulai berbicara.
"Biar kutebak," Baekhyun membawa pantatnya terhempas di samping tubuh ramping Luhan yang tengkurap di ranjang. Luhan sedikit mengalihkan pandangan pada Baekhyun ketika kenyamanannya terusik karena ranjang yang berderit dan mengempes beberapa mili akibat berat tubuh Baekhyun. Si pelaku kini berusaha menyamankan tubuhnya. Baekhyun menyandarkan kepalanya pada lengannya yang bertumpu pada bantal bulu angsa. Sebuah seringai imut tercipta di bibir manisnya.
"Dia belum menghubungi, ya?" Seketika rona merah bersemu tipis di pipi tirus Luhan. Si pirang dengan cepat bangkit dari aksi bergulingnya dan duduk bersila di depan Baekhyun. Baekhyun memekik tertahan ketika Luhan menggenggam jemarinya erat-erat.
"Baekhyun, aku tahu ini tidak masuk akal tapi entah kenapa aku berpikiran kalau–" Luhan menggantungkan kalimatnya. Kini matanya menatap defensif dan jemarinya bergetar gelisah. Baekhyun mengernyit ketika Luhan menggigit bibir bawahnya dan menatap meja rias Baekhyun dengan pandangan aneh.
"Apa?" Baekhyun menggoyangkan jemari Luhan yang berada di genggamannya. Baekhyun melihat keraguan tersirat dalam dua bongkah netra kecoklatan milik Luhan.
"Baekhyun, kenapa tiba-tiba saja aku berpikir kalau... dia selingkuh?"
Kemudian terdengar suara pekikan kecil yang Baekhyun sadari adalah suaranya sendiri. Kini kedua tangannya tengah menutup mulutnya dan bola matanya melebar. Luhan membasahi bibirnya sebelum menutup wajahnya dengan bantal berbentuk angsa milik Baekhyun.
"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu? Seharusnya kau ingat bagaimana perjuangannya dulu demi mendapatkanmu, tidak mungkin dia melepasmu begitu saja. Tentu?" Baekhyun meletakkan kedua tangannya pada pundak Luhan.
"Tapi aku merasakannya sendiri, Baekhyun!" Luhan mengerang setelah melempar bantal angsa Baekhyun dengan keras. "Merasakan apa?" Baekhyun menggoyangkan tangan Luhan lebih keras, mendelik tak sabar. Luhan mengerucutkan bibirnya.
"Kai itu ya Baek, sekarang seperti lebih memperhatikan ponselnya daripada diriku setiap kali kami bertemu." Luhan menarik ponselnya dan menggoyangkan ponsel di depan wajah Baekhyun, seolah mempertegas bahwa benda itu yang membuat Kai berubah.
"Dia akhir-akhir ini juga selalu tidak punya waktu untukku," Baekhyun mengerukan alis, "entah alasannya jam tambahan lah, kegiatan ini itu lah, lama-lama aku seperti jomblo saja!"
Baekhyun sebenarnya sedikit tak suka cara Luhan mengatakan kata 'jomblo' secara gamblang begitu, serius, itu menyakiti hatinya―ehm,yang jomblo.
Yah, walaupun jomblo, tapi Baekhyun tidak buluk-buluk amat. Dia cukup laku di Sekolah. Setidaknya pernah ada empat laki-laki yang pernah menyatakan cinta padanya. Tapi jelek. Hehe. Setidaknya itu membuatnya bangga―ehm, sedikit.
"Dan Baekhyun, aku seringkali mencium bau parfum wanita pada dirinya. Apa mungkin..?" Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menangkup kedua pipi Luhan dengan jemari kecilnya.
"Itu hanya perasaanmu saja, Luhan. Karena kalian jarang bertemu, jadi perasaan-perasaan seperti itu kerap muncul. Kau harus percaya padanya," Luhan menggigit bibirnya bingung.
"Tapi Baek–"
Luhan tak menyelesaikan kalimatnya begitu ia menyadari ucapan Baekhyun ada benarnya juga.
"Sudahlah, berhenti memikirkan anak itu dan buatlah dirimu nyaman tanpa kehadirannya. Nah, sekarang lekas bangunlah dari ranjangku dan bersihkan tissue-tissue mu sementara aku akan menelepon Pizza Hut terdekat dan memberi perutmu makan sebelum kau menelan bantalku bulat-bulat."
Luhan mengerang dan berguling bangkit dari ranjang Baekhyun sementara temannya meraih gagang telepon wireless di nakas dan menuliskan serentet nomor yang menghubungkannya pada Pizza Hut.
"Aku ingin jamur dan keju untuk topping Piza-ku,"ucap Luhan pada Baekhyun yang disambut lambaian singkat dengan jemari oleh Baekhyun, sembari memungut tissue pertama dan melemparnya pada tong sampah edisi Frozen milik Baekhyun di sudut kamar.
Sebenarnya Luhan sangat menyukai kamar sahabatnya ini alih-alih kamarnya sendiri. Kamar Baekhyun selalu rapi dan wangi, tidak seperti kamarnya. Kamar ini selalu menguarkan aroma segar white lily yang menenangkan, namun bukan hanya itu yang membuat Luhan jatuh hati pada kamar Baekhyun.
Kamar ini dipenuhi dengan fitur-fitur dan barang-barang koleksi Disney yang menggemaskan. Kamar ini didesain sedemikian rupa sehingga bernuansa Disney.
Ranjang Baekhyun berbentuk bulat berwarna putih, memiliki rajutan di tengah tengah ranjang membentuk wajah Baymax di Big Hero 6. Karpet beludrunya bergambar Anna, Kristoff, dan Sven sedangkan tong sampah imutnya berbentuk Olaf. Itu semua Baekhyun dapatkan di Disney Land Tokyo ketika Frozen Fever sedang menjarah Jepang saat itu.
Di sisi bagian barat kamar Baekhyun, terdapat lemari kaca yang dipenuhi oleh boneka-boneka dan figur-figur mini karakter Disney. Ada patung lilin Elsa seukuran manusia di sudut ruangan dekat dengan lemari kaca yang dipesan khusus oleh Baekhyun dari pamannya yang bekerja di Museum Madame Tussauds.
Di sudut ruangan yang satunya terdapat rumah-rumahan berbentuk Istana Cinderella yang tingginya nyaris menyentuh telinga Luhan, dipenuhi dengan figur-figur kecil Disney Princess dan Pangerannya.
Kamarnya bernuansa biru, seolah-olah seperti Istana Elsa dan dilengkapi dengan kandelir palsu yang menyerupai es, dipasangi lampu sedemikian rupa sehingga ice chandelier bohong-bohongan itu tampak seperti nyata.
Luhan sangat menyukai kamar Baekhyun.
Ia dan Baekhyun bekerja menjadi pegawai kedai coklat di salah satu kedai dekat dengan London Business School. Mereka menjadi pegawai paruh waktu selama 6 hari dalam seminggu. Walaupun uang saku Luhan dan Baekhyun lebih dari cukup, mereka tetap bekerja dan menghabiskan gaji mereka untuk hobi mereka. Dan Baekhyun akan menghabiskannya untuk membeli semua tetek-bengek-namun-unyu yang ada di kamarnya ini.
Luhan? Luhan akan menghabiskan gajinya untuk membeli Givenchy atau Louis Vuitton edisi terbaru. Walau tingkat keborosan Baekhyun lebih banyak dari Luhan, tapi Luhan akan menghabiskan banyak sekali uang untuk baju-bajunya.
Luhan pertama kali bertemu Baekhyun di semester pertama ia kuliah. Berbeda dengan Luhan yang terlihat manis dengan rok rimpel biru muda dan bando berwarna pastel, Baekhyun terlihat rapih dan nggak neko-neko. Gadis itu menggunakan cardigan hitam dan skinny jeans, berwajah cuek dan rambut lurus sepanjang punggung dengan poni samping.
Luhan lupa membawa diktatnya di hari pertama dan itu membuat Baekhyun terpaksa memberikan beberapa lembar kertas untuk catatan Luhan. Dan sejak saat itulah mereka menjadi dekat.
Mereka melewati semester demi semester. Melakukan ujian bersamaan, dan gagal di salah satu mata pelajaran juga bersamaan. Mereka sama-sama mendapat F di mata pelajaran hukum dan remed bersama-sama. Mereka adalah partner.
"Piza-nya akan datang sekitar 1 jam lagi dan selagi menunggu, kau mau melakukan apa?" Suara Baekhyun menghentikan lamunan Luhan tentang masa-masa yang telah ia lalui dengan Baekhyun. Luhan telah selesai dengan tissue terakhirnya ketika gadis di hadapannya berkata kepadanya. Luhan mengetuk dagunya seolah berpikir, kemudian berseru, "Netflix?"
Dan mereka pun tertawa bersama.
.
"CHARADE"
Copyrighted. ©yeolatte 2015. All right reserved
Distribution of any kind of prohibited without the written consent of Jo Seong Hee.
.
.
.
Chapter 1 : My boyfriend's yeojachingu
.
.
.
"Jongin?"
Luhan menghempaskan pantatnya pada kursi taksi. Kini ia tengah berusaha menghubungi pacarnya itu setelah tiga hari ini laki-laki tan tersebut tak menghubunginya. Dan setelah mencoba untuk menghubungi ke-empat kalinya setelah tiga sebelumnya berakhir tak dijawab, laki-laki itu mengangkat teleponnya pada dering terakhir dengan suara sengau yang mencurigakan.
"Ya, Luhan?" Luhan mengernyit.
"Kemana saja kau tiga hari ini?" Luhan memindahkan ponselnya pada telinga satunya sembari menunggu jawaban Jongin. Terdengar suara gaduh di sana sebelum Jongin kembali bersuara, "Aku sibuk."
Luhan menghela napas panjang.
Lagi-lagi..
Sibuk. Sibuk. Sibuk.
Jongin yang sekarang sangat bertolak belakang dengan Jongin yang dulu.
"Aku sekarang ada di taksi menuju apartemenmu. Aku berharap kau tidak kehabisan keju karena aku akan memasak spaghetti di tempatmu." Jongin segera menyahutnya, "Jangan! Jangan kemari!"
Gadis pirang tersebut mengernyit. Kerutan di dahinya semakin bertambah ketika suara gaduh di seberang sana semakin menjadi-jadi.
"Jongin, kau tidak apa-apa? Kau sedang apa sekarang?" Terdengar sekilas suara-suara aneh dan kemudian hening sejenak. Suara Jongin menginterupsi kemudian, "maaf Luhan, tadi ada sesuatu." Kerutan pada dahi Luhan sedikit demi sedikit menghilang ketika tak ada lagi suara gaduh di seberang.
"Jadi, bisakah kau menceritakan padaku kenapa kau girang sekali ingin memasak di tempatku hari ini?" Luhan menyunggingkan senyum manis walau ia tahu Jongin takkan melihatnya. "Tentu kau tidak lupa bukan sekarang hari apa?"
"Hari apa ini? Hari.. rabu?" Bibir Luhan mengerucut mendengar jawaban Jongin. Demi Tuhan sekarang ia berulang tahun. Tidak mungkin kekasihnya itu melupakannya, bukan?
"Kai, sekarang hari ulang tahunku!" terdengar kekehan Jongin di seberang.
"Tentu saja aku tidak lupa, Deer. Selamat ulang tahun," Luhan tersenyum mendengar suara Jongin. Ia tidak sabar segera turun dan sampai di depan apartemen Jongin, memeluk laki-laki itu dan merayakan ulang tahunnya seharian di sana.
"Tidak ada surprize untukku kali ini?" Jongin tertawa, "Maaf sayang, aku terlalu sibuk untuk menyiapkan surprize. Tapi tenang saja, sekarang kau tak perlu kemari. Nanti malam aku akan menjemputmu dan kita makan malam bersama, bagaimana?" Luhan menautkan alis heran, "Memangnya kenapa? Kita bisa makan siang di tempatmu sekarang."
"Tidak, Luhan, tidak. Aku sekarang benar-benar butuh konsentrasi mengerjakan proposal untuk coachella minggu depan. Aku akan segera menyelesaikannya dan menuju tempatmu pukul 6, apakah itu oke?"
Luhan mendesah dramatis sebelum memaksakan seulas senyum, "Oke, aku mengerti."
Sambungan terputus beberapa saat kemudian setelah Jongin berhasil meyakinkan Luhan bahwa ia tak akan terlambat. Seharusnya taksi yang dinaiki Luhan kini membawanya menuju apartemennya, namun alih-alih berputar balik, taksi itu masih berjalan lurus menuju apartemen Jongin. Luhan tetap harus kesana. Mau atau tidak maunya Jongin, Luhan harus kesana. Ia harus memastikan bahwa Jongin memang benar-benar mengerjakan tugasnya atau ia hanya membual.
Luhan mengecek arlojinya. Jam menunjukkan pukul 12.45. Itu tandanya Jongin sudah ada di apartemennya sejak 1 jam yang lalu karena sekarang hari Rabu, dan Jongin tidak memiliki jadwal di hari Rabu selain kuliah, itupun jika Jongin tidak membolos.
Bagus.
Kini saatnya Jongin menjelaskan semuanya pada Luhan.
.
.
.
Pemuda itu terbangun setelah telepon genggamnya berdering untuk yang entah keberapa kalinya. Cahaya musim panas menembus jendela kaca apartemennya. Beberapa kali matanya berkedip, membiasakan cahaya pagi bersirobok dengan onyx kepunyaannya.
Dering teleponnya berhenti, namun tak ada sama sekali keinginan baginya untuk mengecek siapa yang menghubunginya di siang bolong begini. Dia menyingkap selimut dan berjalan ke arah lemari; menyentaknya dan meraih celana asal-asalan.
Belum sempat ia memakai celananya, telepon selulernya berdering lagi. Ia tergesa-gesa berlari ke arah meja lampu mencari-cari di mana benda kecil itu. Siapa tahu kabar penting.
Bibirnya mendesah kecil ketika melihat siapa yang meneleponnya saat ini. Kekasih formalnya, Xi Luhan.
"Ya, Luhan?" Jawabnya serak.
"Kemana saja kau tiga hari ini?" Jawab seseorang di seberang.
Jongin melirik gadis yang sedang telentang di ranjangnya dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya sedang mengerang kecil; siap untuk terbangun dari tidurnya. Tak ingin membuat gadis itu terganggu, ia berjalan menjauh menuju ruang tamu dan menjawab, "Aku sibuk."
Setelah beberapa menit, percakapannya dengan Luhan di telepon berakhir. Pemuda berkulit tan tersebut lama menatap ponselnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya, ia menenggelamkan ponselnya pada saku celana yang sudah ia pakai dengan ringkas.
Ia hendak kembali ke kamarnya dan bersiap untuk mandi jika saja gadis yang semalaman tertidur di sampingnya telah terjaga. Gadis itu duduk di tengah ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, menatap Jongin dengan matanya yang membuat Jongin luluh karenanya.
"Hey, sudah bangun?" Sapa Jongin lembut. Gadis itu memiringkan kepalanya, sama sekali tak berniat membalas sapaan laki-laki tan di hadapannya.
"Barusan itu.. Luhan?" Gadis bermata bulat itu bertanya dengan datar, dan Jongin mengangguk setelahnya.
"Dia berkata akan kemari, namun aku melarangnya. Hari ini dia berulang tahun," Jongin berjalan ke arah nakas, menyentaknya, sebelum melempar ponselnya ke dalam, "semalam aku mengingatnya, namun aku melupakannya begitu saja ketika terbangun hari ini."
Kyungsoo, gadis itu, menatap Jongin sejenak sebelum mengomentari cerita singkat Jongin. "Kau seharusnya membelikannya hadiah. Bagaimanapun juga kalian masih sepasang kekasih,"
Jongin balas menatap Kyungsoo dan mendengus. "Aku akan memutuskannya hari ini,"
"Tapi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan kau berniat untuk menyakitinya di hari terpentingnya dalam setahun? Kau bersungguh-sungguh?" Kyungsoo tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari laki-laki tan yang kini sibuk mondar-mandir mencari pakaian yang tepat. "Sungguh," Jongin menjawabnya tanpa menatap Kyungsoo.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Aku sama sekali baik dengan hubungan gelap kita jika memang yang kau khawatirkan adalah aku," Kyungsoo menyamankan duduknya di ranjang Jongin yang berantakan.
Jongin telah siap dengan pakaiannya dan bersiap masuk ke kamar mandi setelah ia menjawab, "Bukan hanya kau yang kukhawatirkan, aku khawatir akan semuanya. Aku tidak ingin melukai kalian berdua lebih lama lagi," Dan tanpa sadar Kyungsoo tersenyum mendengarnya. "Bagaimanapun juga hubungan kita adalah salah, dan aku tidak ingin terus menerus merasa bersalah setiap kali aku bertemu Luhan. Aku tidak ingin mengkhianatinya untuk waktu yang lebih lama dari ini. Aku hanya ingin semua ini menjadi benar,"
"Percayalah padaku Kyungsoo," Jongin melanjutkannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Sepersekian detik yang terdengar hanyalah deru shower dari dalam kamar mandi, dan dengung pendingin ruangan. Keduanya tak ada yang berbicara sampai kemudian bel apartemen Jongin berbunyi.
Kyungsoo buru-buru mengambil bathrobe yang tergantung di belakang pintu kamar dan menghampiri intercom di ruang tamu. Begitu gadis itu melihat siapa yang datang di apartemen Jongin, Kyungsoo tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mendenguskan senyum miring. Nice timing.
"Sebaiknya kau bergegas, Kai." Ujar Kyungsoo dengan suara keras dari ruang tamu. Gadis itu bersiap untuk membuka pintu ketika Jongin berteriak 'Ada apa?' dari kamar mandi.
"Pacarmu yang cantik, sudah tiba di sini."
.
.
.
"Akhirnya.."
Oh Sehun mendesahkan napas lega setelah ia berhasil keluar dari kantor megah di belakangnya. Beberapa menit yang lalu ia masih bergumul di lobi kantornya dan menangani sekretarisnya yang terus menerus menahan dirinya agar tidak pergi, mencekoki dirinya dengan email-email yang harus ia baca. Lelaki itu melonggarkan kaitan dasi yang serasa mencekik sembari melirik arloji.
Kini waktu menunjukkan pukul 13.35. Jam makan siang akan berakhir 25 menit lagi, dan Sehun benar-benar membutuhkan asupan untuk perutnya yang kelaparan.
Ia berjalan melewati Aventador-nya yang terparkir apik di depan pintu lobi. Tangannya dengan cekatan menggulung lengan kemejanya sebatas siku, melirik mobilnya sekilas, sebelum berjalan melaluinya. Biarlah kekasih hitam-kuningnya itu beristirahat sejenak selagi ia menikmati sedikit kopi. Lagipula tempat yang ia tuju tidak begitu jauh dari kantornya, dan ia tidak ingin melewatkan quality time-nya untuk sekedar menikmati udara segar London.
Ya,
London.
Kota ini masih sama seperti saat ia pertama kali kemari. Matahari di sini tak pernah seterik matahari di Korea, meski di siang bolong sekalipun. London selalu berawan dan cuacanya bersahabat, yah.. meskipun cuaca London selalu bertolak belakang dengan suasana hatinya.
Sehun menyusuri pinggir jalan besar yang mana bila ia berbelok ke arah timur, Sungai Thames; ikon dari London membentang luas. Sepasang kakinya menapak pada langkah terakhirnya di kompleks kantornya dan kemudian berbelok ke arah timur
Dan..,
voila.
Sehun mendesah seolah-olah ia baru saja tahu bagaimana cara mendesah, begitu sepasang obsidian miliknya disuguhi pemandangan yang tak akan membuat nuraninya jenuh.
Selamat datang di Surga, Oh Se.
Sehun semakin hanyut oleh hiruk pikuk yang membawa langkahnya menuju keramaian Queen's Walk. Dengan pemandangan luar biasa akan Tower Bridge yang berdiri kokoh seolah menantang cakrawala tuk beradu dan siluet London Eye seolah bianglala tersebut baru saja hadir di peradaban, Sehun mana sudi meninggalkan kota ini dan kembali ke Seoul.
Sejak pertama kali ia diboyong dari Seoul dan dikenalkan pada keluarga ayahnya, London adalah hidupnya.
Sepasang kakinya melangkah lebih cepat, seolah tak sabar untuk segera memasuki kedai kopi langganannya di suatu sudut terlupakan Queen's Walk yang tak berlabel―namun entah mengapa selalu berhasil membuat Sehun gila akan secangkir espresso-nya.
Ah, itu dia.
Kedai kopi tersebut sudah terlihat dari tempat Sehun berdiri sekarang. Sedikit lagi, maka ia dapat menyesap kopi hitam pekat favoritnya itu. Sedikit lagi, ia dapat melupakan sejenak akan semua pekerjaannya yang melelahkan dalam kepulan aroma kopi yang memabukkan. Hanya sedikit lagi..
Namun fantasi gilanya akan rasa pahit espresso yang memenuhi kerongkongannya buyar seketika ketika seseorang menabrak pundak Sehun brutal dan membuat laki-laki itu terhuyung mundur beberapa langkah.
Sehun baru saja akan mengeluarkan kata mutiaranya jika saja ia tak menoleh ke belakang dan mendapati orang yang menabraknya adalah seorang wanita. Gadis itu duduk tersimpuh di tanah, di antara keramaian hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang.
Wajahnya oriental; namun kulitnya pucat, tidak seperti orang asia kebanyakan. Make up-nya luntur tak karuan dan rambutnya yang dicat pirang juga mencuat kesana kemari, tak tertata. Gadis itu sejenak menatap Sehun tanpa mengatakan sepatah kata. Matanya sembab, dan bibirnya bergetar.
Gadis ini sedang menangis.
Sehun berdecak sedikit sebelum menekuk lututnya dan mengulurkan tangan pada gadis tersebut. Sebenarnya ia kurang suka ini. Bagaimanapun juga ia hanya memiliki sisa waktu sekitar 20 menit untuk menyesap espresso kemudian kembali ke berkas-berkasnya di kantor, dan kejadian ini menguras waktu-waktu berharganya.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Sehun menggoyangkan tangan kanannya di depan wajah sang gadis dan gadis itu pun mengerjap di buatnya, "Nona?"
Gadis itu menunduk sejenak sebelum berusaha untuk berdiri dan Sehun membantunya. Ketika gadis itu telah berdiri dengan sempurna, Sehun sempat dibuat terkejut melihat tinggi tubuh mereka yang tepat. Gadis itu menatap Sehun dengan sebersit binar pada kedua netranya.
Sehun, sebagai seorang direktur muda dari perusahaan raksasa yang workaholic dan dingin setengah mati. Tampangnya yang menjual dan tubuhnya yang enak dilihat serta kekayaan keluarganya yang tak akan habis tujuh turunan membuat dirinya diserbu puluhan gadis yang memiliki wajah dan tubuh yang 'menjanjikan'. Ditatap seperti ini oleh gadis muda bukanlah hal yang tidak biasa baginya, jadi ia mengabaikan bagaimana cara gadis tersebut menatapnya.
"Maaf akan kejadian ini, saya sedang buru-buru. Anda tidak terluka, bukan?" Ayolah, aku ingin ini segera berakhir..
Gadis itu linglung dan nyaris mengangguk sebelum menggeleng dengan cepat. Si pirang menunjukkan siku kanannya pada Sehun dan berseru, "Aku terluka!" Dan ketika Sehun melihat sikunya, memang benar ada sebercak luka di sana.
Sehun menghela napas berat dan menahan dirinya untuk tidak melirik arloji–karena itu sangat amat tidak sopan–dan membuat dirinya sendiri meraih lengan gadis itu dan berpura-pura mengeceknya.
"Eum, begini nona. Waktu istirahatku akan berakhir sekitar beberapa menit lagi namun aku belum mendapatkan jatah makan siangku dan aku tidak bisa membawamu ke klinik terdekat untuk memengobati lukamu. Jadi..," Sehun mengeluarkan dompet pada celana pullovernya dan meraih beberapa lembar poundsterling sebelum menyematkannya pada tangan kanan gadis di hadapannya.
"Ini, ambillah. Kau tentu masih bisa berjalan ke klinik sendiri bukan? Atau kau perlu aku untuk menyetop taksi untukmu?" Gadis itu tampak tidak senang dengan sikap Sehun. Matanya menatap lembaran uang yang kini ada di tangannya sebelum menatap Sehun nanar, "Apakah aku terlihat seperti gadis yang butuh uang?"
Sehun menutup kedua belah bibirnya dengan tangan kanannya yang terkepal ketika ia membawa matanya menyusuri gadis itu dari pangkal kepala sampai ujung kaki. Ya, dari penampilannya gadis di hadapannya tidak seperti gadis yang butuh uang. Tatanan rambut-nya, walau acak-acakkan, namun terlihat elegan dan berkelas. Wedges-nya juga pasti tidak murah.
Dan Sehun menyadari bahwa gadis ini baru saja merasa dihina dengan asumsi Sehun yang seolah-olah menyatakan secara gamblang bahwa dia adalah seorang gadis yang sengaja menabrak orang random di jalanan demi mendapatkan beberapa lembar uang.
"Jadi jika kau tidak membutuhkan uangnya, hal lain apa yang dapat kubantu? Tentu saja karena aku telah menabrakmu sampai kau terluka, aku harus melakukan sesuatu untuk menebusnya bukan?" Si pirang menatap Sehun tajam membuat yang ditatap bergidik ngeri.
Gadis itu menyeka air matanya yang sebenarnya sia-sia karena jejak air matanya mulai mengering sebelum bersedekap memandang Sehun dengan angkuh. Berbeda dengan tatapannya beberapa menit yang lalu ketika Sehun menabraknya.
"Jadi, Tuan, berapa umurmu?"
.
.
.
Luhan tahu seharusnya ia tidak percaya dengan ucapan Baekhyun. Seharusnya ia percaya akan bau parfum wanita yang melekat pada Jongin memang benar parfum wanita.
Sialan. Jongin..
Keparat!
Luhan menyeret kakinya yang terbalut wedges pink imut terbaru–yang ia beli spesial untuk hari ulang tahunnya–dengan make up luntur karena air mata.
Ia baru saja menaiki taksi tercepat dari Billford Hill menuju Victoria's Garden begitu keluar dari apartemen Jongin. Keputusannya untuk tidak pulang dan tetap menuju apartemen Jongin akhirnya berakhir begini.
Begitu taksi yang membawanya berhenti di salah satu apartemen di Billford Hill tadi, ia segera turun dan menaiki lift. Jemarinya di luar perintah menekan angka 15, lantai di mana kekasihnya―Kim Jongin―tinggal. Ketika ia hendak memasukkan serentet nomor lock-key apartemen Jongin yang juga ia hapal di luar kepala, pintu telah terlebih dahulu dibuka dari dalam.
Namun alih-alih Jongin yang menyambutnya, seorang wanita yang tidak asing berambut hitam sebahu dengan bathrobe membalut tubuhnya berdiri di ambang pintu menatap Luhan dengan tatapan aneh.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap satu sama lain. Sampai suara serak laki-laki dari dalam menginterupsi mereka. Luhan merasa jantungnya teronggok di bawah kakinya begitu melihat kekasihnya dalam balutan kemeja putih dan celana hitam lengkap dengan rambut basah khas baru keramas. Jongin menatapnya gelagapan sementara sepasang netra Luhan semakin lama semakin panas.
"Kai, katakan padanya apa yang terjadi. Sekarang." Kyungsoo, gadis itu, membuka suara tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Luhan sementara Luhan sendiri menatap Jongin nanar. Tak ada gejolak di bola matanya. Mereka berpandangan cukup lama, sebelum Jongin mendesah. Menyerah.
"Ya, aku memang berbohong, Luhan."
"Maafkan aku, kukira hubungan kita sampai di sini saja."
Luhan menjerit frustasi mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Bagaimana mata bulat Kyungsoo menatapnya tajam dan Kai yang seenaknya mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan 2 tahun lamanya, seolah-olah ia dan Luhan tak pernah mengalami apa-apa sebelumnya.
Bajingan.
Kim Jongin, sialan!
Wedges-nya membuat suara ketuk-ketukan menyebalkan setiap kali ia melangkah menyusuri hilir Sungai Thames di Queen's Walk. Sebenarnya Luhan sangat menikmati setiap kali sepatu–nya mengeluarkan suara tuk-tuk imut setiap kali ia melangkah. Namun tidak kali ini. Hari ini Luhan benar-benar kacau, dan tuk-tuk imutnya sama sekali tidak mengembalikan moodnya.
"Jalang! Kyungsoo jalang!"
Luhan membiarkan maskaranya luntur begitu saja sembari berjalan terseok-seok dengan kedua tangan terkepal; tak berniat menghapus air matanya. Gadis pirang itu tak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya terhadapnya, ia kini hanya ingin berjalan tanpa arah; membuat betisnya pegal sembari menunggu suasana hatinya sedikit membaik.
Luhan memang selalu begini ketika patah hati. Terakhir kali ia pacaran adalah kelas 2 SMA, dan ia menghabiskan 8 jam penuh berputar-putar di Ferris Wheel Shanghai sampai dipaksa turun oleh penjaganya karena Luhan tak mau membayar.
Ia kira Jongin tidak akan membuat Luhan mengalami keadaan yang sama. Ia kira Jongin akan setia. Ia kira Jongin tidak akan meninggalkannya sama seperti mantannya terdahulu. Namun ternyata, lebih pahit dari yang ia duga.
Luhan tengah menyapu poninya ke belakang rambutnya ketika pundaknya tak sengaja menubruk seseorang sampai ia terjungkal ke depan. Geez, terimakasih pada wedges 12 sentimeternya untuk itu.
Luhan baru saja akan mengumpat pada seseorang yang berhasil membuat pantatnya mencium aspal dengan cara yang tidak elit itu jika saja ia tidak menengadah dan melihat dengan jelas wajah sang penubruk.
Luhan yakin sekali. Ia amat sangat yakin jika Cameron Dallas adalah laki-laki yang menduduki nomor satu sebagai laki-laki paling tampan di dunia di hati Luhan, namun tidak sampai saat ini. Begitu melihat rupa sang penubruk, Luhan merasa bunga-bunga berjatuhan di atas kepalanya dan matanya berkunang-kunang. Laki-laki ini macho banget, sih.
Laki-laki itu menatapnya dengan dahi berkerut samar dan alis mengkerut tidak suka. Dari raut wajahnya sepertinya laki-laki itu sama sekali tidak menyesal telah menabrak Luhan.
Laki-laki itu menekuk sebelah lututnya dan mengulurkan tangan pada Luhan setelah beberapa detik mereka habiskan untuk saling menatap.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Kata laki-laki itu sembari menggoyangkan tangan kanannya di depan wajah Luhan, "Nona?" Luhan mengerjap dibuatnya.
Luhan menunduk sejenak. Sial. Suaranya sangat gentle membuat Luhan merona. Ia berusaha menyembunyikan rona kemerahan di pipinya ketika laki-laki itu membantunya berdiri.
Luhan menatap wajah sang penabrak dari ujung rambutnya sampai ke kaki. Ya, wajahnya menarik. Dengan kulit albino dan rambut cepak kecoklatan yang membuat bentuk wajahnya semakin kentara. Kemeja dan celananya pasti dari rumah mode Armani, dan aroma maskulin yang menguar dari tengkuknya pasti adalah Clive Christian. Entah yang nomor berapa tapi baunya mengingatkan Luhan akan vanilla dan cendana.
Laki-laki di hadapannya sepertinya bukanlah mahasiswa, dilihat dari penampilannya. Tapi Luhan yakin 90% laki-laki di hadapannya tak jauh lebih tua daripada dirinya.
"Maaf akan kejadian ini, saya sedang buru-buru. Anda tidak terluka,bukan?" Suaranya berat namun sedikit khas, dan Luhan langsung memberi nilai delapan untuk Laki-laki di hadapannya.
Luhan terlihat bingung karena ia memang tidak begitu mendengar pertanyaan laki-laki tersebut dan nyaris menganggukkan kepalanya ketika ia merasakan denyut perih di siku kanannya.
"Aku terluka!" Laki-laki tersebut melihat sekilas ke arah siku Luhan dan ia mendesah tertahan. Laki-laki itu menggigit bibir bawahnya sebelum meraih lengan Luhan dan mengeceknya prihatin.
"Eum, begini nona. Waktu istirahatku akan berakhir sekitar beberapa menit lagi namun aku belum mendapatkan jatah makan siangku, dan aku tidak bisa membawamu ke klinik terdekat untuk memengobati lukamu. Jadi..," Laki-laki itu mengeluarkan dompet pada celana pullovernya dan meraih beberapa lembar poundsterling sebelum menyematkannya pada tangan kanan Luhan.
"Ini, ambillah. Kau tentu masih bisa berjalan ke klinik sendiri bukan? Atau kau perlu aku untuk menyetop taksi untukmu?" Luhan menatap lembaran uang di tangannya sebelum mendesis kesal, ia menatap dengan lantang ke arah mata sang penabrak, "Apakah aku terlihat seperti gadis yang butuh uang?"
Laki-laki itu sejenak memperhatikan penampilannya. "Jadi jika kau tidak membutuhkan uangnya, hal lain apa yang dapat kubantu? Tentu saja karena aku telah menabrakmu sampai kau terluka, aku harus melakukan sesuatu untuk menebusnya bukan?" Luhan menatap wajah laki-laki di hadapannya ketika tiba-tiba sebersit ide muncul di benaknya.
Luhan menyeka air matanya yang sebenarnya sudah kering sejak beberapa saat yang lalu sebelum bersedekap dengan cara yang congkak, "Jadi, Tuan,berapa umurmu?"
Laki-laki di hadapannya mengernyit seolah bingung dengan pertanyaan Luhan sebelum membuka mulutnya ragu-ragu. "Sebenarnya itu pertanyaan yang cukup privasi,"
Laki-laki itu mengerjap sejenak sebelum melanjutkan, "namun aku 22."
Sepasang mata rusa itu berkedip beberapa kali sebelum berbinar-binar seperti anak 5 tahun yang kegirangan ketika ditawari eskrim kesukaannya.
"Bagus! Bagus sekali!" Lelaki itu menatap Luhan bingung dan ketika bibir Luhan terbuka siap untuk mengatakan sepatah kata selanjutnya, lelaki itu buru-buru menyelanya.
"Em, Nona. Aku harus segera pergi sekarang. Dan," Sehun merogoh kartu nama di saku kanannya sebelum menyerahkannya pada Luhan, "hubungi saja nomor ini jika tubuhmu tidak baik-baik saja sampai nanti malam karena sekarang sudah semakin siang dan aku belum mendapatkan jatah istirahatku, jadi.. selamat siang."
Sebelum laki-laki itu berbalik, Luhan sempat melirik name tag yang tertera di dada kirinya.
'Sehun Oh'
Luhan yang menyadari laki-laki itu semakin jauh dari tempatnya berdiri semula segera berteriak memanggil, "Tuan Sehun!"
Sehun segera mengambil langkah seribu menuju kedai kopi yang sedaritadi menjadi tujuan awalnya. Sehun sebenarnya tidak perlu repot-repot berdesakkan di Queen's Walk untuk mendapatkan secangkir espresso. Ia bisa saja menyuruh salah satu bawahannya membeli untuknya. Namun kepalanya terlalu penat dan ia ingin mengistirahatkannya sejenak dengan menghidup udara segar di luar gedung dan membeli kopinya sendiri. Namun―sayangnya―inilah yang terjadi.
"Tunggu!"
Sehun tetap berjalan walau ia dapat merasakan Luhan kini telah mengejarnya. Beberapa kali laki-laki itu menggumamkan 'Permisi' karena lautan manusia taktahu mengapa semakin sesak saja. Entah efek dari keinginannya segera mendapatkan espresso atau karena sedang dikejar wanita aneh dengan maskara luntur, ia tidak tahu. Ia hanya ingin segera kembali ke kantornya dan menghilang dari pandangan gadis di belakangnya yang oh-entah-mengapa semakin terasa dekat saja.
"Hey, aku tahu kau mendengarku." Luhan berusaha mati-matian berlari di kerumunan orang dengan wedges imutnya dan ia butuh usaha ekstra untuk itu. Ia harus menahan kedua kakinya untuk tidak berlari karena tumitnya sedikit terkilir saat jatuh tadi dan berkali-kali rambut pirangnya menghalau pandangannya. Oh bagus, sekarang ia kehilangan Sehun.
Kemana laki-laki itu pergi?
Sungguh Luhan tidak bisa membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja. Sungguh, pertama kali Luhan melihat laki-laki itu sebersit ide nakal muncul dalam kepalanya. Mungkin saja laki-laki itu dapat membantunya.
"Sial, cepat sekali menghilangnya."
Luhan baru saja akan putus asa dan melangkahkan kakinya untuk mencari taksi jika ia tidak teringat benda persegi panjang, tipis, dan licin yang sedari tadi ia genggam. Aha! Kartu nama Oh Sehun!
"Wah. Orang Korea rupanya, ya?" Luhan buru-buru menyimpan nomor dan alamat yang tertera di ponselnya sebelum mengulum bibir bawahnya dengan cara yang membuat pria manapun menggigit jari.
"Nomormu kusimpan ya, Oh Sehun. Sampai bertemu lagi."
Siang itu Luhan kembali ke apartemennya dan melupakan tentang hubungannya yang baru saja kandas,
setidaknya..
untuk sejenak.
.
.
.
Words Count (Chapter 1) : 5.042
-Charade-
by SEONG HEE JO
.
To Be Continued
Halooo~~ Ini dia chapter 1 nyaaa.
Aku bingung ngenyelesain chapter ini ciyus, endingnya aku tulis pas ide lagi mampet dan aku males ngotak-atik lagi. Hehe, semoga tidak mengecewakan.
Oh ya, aku mau tanya sesuatu sama readers-readers. Kenapa ya kadang pas aku upload story gitu di sempurna , tapi begitu di doc manager selalu ada bagian yang kepotong. Dan itu kadang bikin susah buat edit ulangnya. Kadang yang kepotong emang bagian ga penting, tapi pas aku baca ulang itu gak enak semua. Kaya misal yang kepotong itu cuma "Mr. Park?" tapi begitu aku upload cuma nongol "?" kan anehhhh -_-
Kalo ada yang tahu gimana cara ngatasin ini dan bikin aku semakin semangat upload story, kasih tau aku dums. Soalnya aku bener-bener keganggu sama iniii.
Kaya sekarang ini aku lagi upload story ini. Di jelas-jelas cuma ada 5.042 words, tapi di doc manager jadi 5.039 words. Serius aku gatau ko gini, aku jadi males baca ulang -_-
Gomawo~~
Love, Estelle
