Tittle : Nae Aegya
Chapter : 2 of ?
Disclaimer : Semua pemain milik diri mereka sendiri, Tuhan, dan orang tua mereka tentunya. Saya hanya meminjam nama, dan FF ini pastinya milikku. Mohon maaf jika ada kesamaan alur atau ide, tapi ini murni karangan saya.
Pair : Yunjae
Another Cast : Hangeng, Heechul, Changmin, Yoochun, and Junsu.
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort, Family
Warning : Yaoi, MPREG, OOC, Typo, Miss-Typo, dan lain-lain.
.
Don't Like YAOI or MPREG? Just get out by click the X button!
.
BRAK
"Yah Hyung! Kenapa menggebrak meja begitu? Aish mengagetkanku," seorang namja berjidat lebar tengah menggerutu, saat dengan asiknya membaca buku sastranya, namja didepannya malah menggebrak meja setelah menerima panggilan telepon dari seseorang yang jelas ia tidak tahu.
Yunho duduk di kursinya lagi setelah mendapat omelan dari Yoochun, sahabat terdekatnya, "Chun, apa kau punya rekomendasi pengacara yang bagus?"
Yoochun menatap bingung pada namja bermata musang didepannya ini, "Pengacara? Untuk apa Hyung? Jangan bilang kau berurusan dengan polisi? Atau lebih parahnya lagi –"
"Ada atau tidak?" Yunho menatap geram pada Yoochun. Ia sedang serius, kenapa sahabatnya yang playboy dan kadang pabbo ini malah memberondongnya dengan banyak pertanyaan, yang jelas saja membuat kepalanya semakin sakit.
Yoochun menghela napas, nampaknya Yunho sedang tidak mau bertele-tele, "Ada, bukankah Junsu pengacara. Kau lupa bahwa kekasih seksiku itu pengacara, eoh?"
Yunho berdecih pelan mendengar sahabatnya itu memuji kekasihnya sendiri secara langsung, "Suruh dia datang kemari," Yunho melebarkan tangannya, guna merenggangkan otot-ototnya yang kaku, ia juga memijat pelan lehernya yang terasa berat.
Yoochun sedikit melongo, "Yah Hyung! Kau kira dia tidak sibuk? Memangnya keperluanmu penting sekali sampai menyuruh kekasih tersayangku datang, eoh?"
"Penting, aku ingin kekasihmu itu mengurus perceraianku."
Yoochun kini semakin melongo, "Mwo? Kau mau bercerai dengan Jae Hyung? Memangnya apa sih masalah kalian? Selama ini belum ada masalah yang terdengar oleh telingaku," Yoochun sedikit menerawang, ia memang belum pernah mendengar hubungan retak keluarga sahabatnya, kenapa sekarang Yunho bilang akan bercerai?
Yunho memandang sengit pada Yoochun, "Aku juga tidak tahu. Yang jelas suruh kekasihmu itu agar secepatnya mendatangiku. Arraseo?!"
Yoochun mengangguk malas, Hyungnya ini kalau sudah begini berarti tak mau dibantah. Biarlah nanti kekasihnya yang membujuk Yunho agar bercerita, karena ia tak mau terlalu mendalami masalah orang lain. Yang akan ia lakukan sekarang hanya membujuk Junsu agar tidak marah-marah dulu padanya setelah mendengar bahwa Yunho akan bercerai atau menceraikan Jaejoong. Karena Jaejoong adalah sahabat Junsu, ia tak mau kena siram omelan dan suara lumba-lumba kekasihnya. Ia bergidik membayangkannya.
.
.
.
"Jae, kau suka rasa jeruk atau mangga?" Heechul menoleh pada Jaejoong yang memandangnya bingung di belakang tubuhnya.
Jaejoong nampak berpikir sejenak, "Jeruk. Memangnya kenapa Eomma?"
Heechul tersenyum, lalu menaruh sekaleng susu bubuk berperasa jeruk di atas troli belanjaannya, "Ini susu yang harus kau minum mulai sekarang," ia tersenyum lagi saat melihat Jaejoong yang mengernyitkan alisnya.
"Tapi aku sudah punya," Jaejoong mengerucutkan bibirnya imut.
Heechul memandang heran pada anaknya, "Benarkah? Kenapa Eomma tidak melihatnya di kopermu?"
Jaejoong nampak berpikir, apa ia belum mengeluarkannya dari koper kemarin sore? Atau jangan-jangan?
"Ah aku lupa membawanya dari rumah," namja cantik itu menunduk sedih saat mengatakan kata 'rumah', berarti tempat yang ia tinggali selama dua tahun belakangan bersama Yunho, orang yang ia cintai.
Heechul mengelus beberapa helai rambut yang menutupi pandangannya dari mata besar Jaejoong, "Sudahlah, jangan bersedih, ne? Tidak baik untuk aegya…"
Jaejoong tersenyum kecil menanggapi ucapan Eommanya, "Gomawo, Eomma…"
"Ah benar, apa setelah ini kita harus makan diluar? Appamu pergi bekerja, jadi kita makan besar hari ini, otte?" Heechul tersenyum lebar.
Jaejoong tertawa kecil, ia mengerti jika Eommanya tidak ingin melihatnya bersedih terus, ia mengangguk semangat menjawabnya.
Heechul makin tersenyum melihat anaknya yang bersemangat, "Baiklah, kajja!"
Jaejoong tersenyum dan mengangguk dua kali, lalu mengikuti Eommanya yang kini berjalan ke arah kasir berada. Ia menyentuh pelan perutnya yang tertutupi jaket tipis. Ia tidak boleh terpuruk sekarang, karena ada banyak yang mengkhawatirkannya, meski Yunho bukan salah satunya. Ia hanya bisa menunduk sedih ketika mengingat Yunho yang belum juga menghubunginya dari kemarin. Apa ia memang tidak berarti bagi Yunho?
.
.
.
Yunho menghela napas panjang. Ia menselonjorkan kakinya pada sofa yang ia duduki. Tangannya masih memegang sebuah dokumen kantor yang harus ia baca, pelajari, dan tanda tangani secepatnya. Menjadi seorang direktur di perusahaan sendiri membuatnya begitu sibuk, tak berbeda jauh dengan karyawan biasa.
Yunho memijat pelan lehernya yang terasa kaku, lalu memukul-mukulnya pelan seperti sedang memijat. Ia jadi ingat, setiap ia merasa lelah dengan pekerjaannya, Jaejoong akan datang tiba-tiba ke ruangannya, lalu memijat punggungnya yang pegal, juga terkadang kaki yang keram. Ia tersenyum tanpa sadar saat mengingatnya, namun senyumannya pudar saat mendengar ketukan pintu.
TOK TOK
"Masuk," Yunho menurunkan kakinya dari sisi lain sofa, ia harus menjaga sikap walau dirinyalah pemimpin perusahaan.
CKLEK
"Mianhae Sajangnim, namja bernama Kim Junsu–ssi ingin bertemu dengan anda," sekertaris pengganti Jaejoong itu kini menunduk lalu pergi setelah Yunho memberi kode dengan mengangguk dan tangan mengisyaratkan agar tamunya masuk.
"Annyeong," Yunho berusaha sopan pada Junsu, sedangkan Junsu menatapnya geram.
"Sudah tidak usah basa-basi, aku tidak punya banyak waktu." Junsu langsung mendudukan dirinya di sofa panjang yang tadi dipakai Yunho untuk bersantai, sedikit mendorong dada namja bermata musang itu agar duduk di sofa single yang kosong, bukan yang berdekatan dengannya.
Yunho hanya diam tanpa reaksi, ia tidak berkomentar terhadap perilaku kekasih sahabatnya ini yang katanya 'seksi'.
"Jelaskan kenapa kau mau bercerai dengan Jae Hyung?" Junsu menatap tajam pada Yunho.
Yunho menghela napas panjangnya, "Aku juga tidak tahu. Pengacara keluarganya menghubungiku dan bilang akan menyiapkan surat-suratnya, dan menyuruhku menyiapkan pengacara."
Junsu berdecak pelan, "Jae Hyung yang menceraikanmu? Pasti ada alasan yang sebenarnya Hyung."
Yunho kini menatap Junsu tak mengerti, "Maksudmu?"
"Aish kemana perginya Yunho Hyung yang katanya cerdas, eoh? Begini saja tidak mengerti. Baiklah, ceritakan bagaimana Jae Hyung memilih ke China dan langsung ingin menceraikanmu," Junsu mengambil ponselnya lalu mengetik beberapa kata untuk pesan singkat yang ia kirim pada Yoochun.
"Jaejoong di China?"
Junsu menatap tak percaya pada Yunho, apa sahabat dari kekasihnya ini tidak tahu tentang Jaejoong yang pulang ke rumah orang tuanya?
"Kau tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, Hyung? Jae Hyung kemarin mengambil penerbangan siang ke China, aku hanya mendengarnya dari Heechul Ahjumma. Ceritakan kejadian yang sebenarnya. Palli, aku tak punya banyak waktu kosong!"
Yunho menghela napas, "Kemarin seharusnya aku yang marah. Dia membuat lelucon yang tidak lucu sama sekali, dan aku tidak suka dia berbohong."
Junsu menaikkan sebelah alisnya, "Jae Hyung berbohong apa?"
Yunho kembali melanjutkan ceritanya setelah meminum air putih di atas meja, "Hamil. Dia mengatakan itu padaku, padahal dia kan namja, heh," Yunho tampak tertawa garing.
Junsu membulatkan matanya, "Mwo?! Seharusnya kalian bahagia, pabbo! Bukan malah bercerai begini! Aish bisa gila aku!"
Yunho menatap sengit pada Junsu yang malah seolah menunjuknya salah, "Yah! Kenapa aku harus bahagia jika dia membohongiku, lagipula aku tidak suka anak kecil."
"Mworago?! Kau pikir Jae Hyung membohongimu dengan mengatakan bahwa dia hamil hah?"
Yunho menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu dia tidak berbohong?"
Junsu mendecih pelan, "Jung Yunho pabbo!"
Yunho bergerak gelisah, "Tapi kau tahu kan aku tidak suka anak kecil, dan itu juga yang membuatku menikahinya."
"Mwo?! Jadi kau menikahi Jae Hyung bukan karena cinta? Hanya karena kau tidak mau memiliki anak saja hah?"
BRAK
"Su-ie kenapa kau berteriak dari tadi?" Yoochun datang tergopoh-gopoh dan langsung memegang tangan Junsu yang akan melayangkan tamparan di wajah tampan Yunho.
"Chunnie…" Junsu langsung memeluk Yoochun yang menatapnya khawatir.
Yoochun langsung menepuk-nepuk punggung kekasihnya, "Kenapa, Su-ie? Apa namja brengsek ini menyakitimu, hm?"
Yunho menatap sengit pada pasangan yang berpelukan di depannya, "Yah! Kau itu sahabatku, tapi kenapa mengataiku brengsek, hah?!"
"Kau memang brengsek Hyung! Kalau tidak kenapa kau berhasil menyakiti hati Jae Hyung hah?!"
Yoochun ikut-ikutan menatap tajam Yunho yang menatap mereka penuh kelelahan, "Hyung, aku sudah mendengar semuanya. Changmin sudah menceritakannya padaku lewat telepon tadi siang."
Junsu menatap kekasihnya intens, "Minnie? Apa dia yang jadi, ah dia kan pengacara kepercayaan Hangeng Ahjussi," gumamnya.
Yunho hanya diam mendengarkannya.
Yoochun mendudukkan dirinya dan kekasihnya pada sofa panjang yang tadi ditempati Junsu sendirian, "Kalau kau tidak mau punya anak, lebih baik kau tidak usah menikah. Kau itu pengecut Hyung, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab."
Junsu mendongakkan kepalanya menatap Yoochun, tumben kekasihnya ini berbicara dewasa?
"Chunnie, sepertinya itu bukan kata-kata yang pas. Mereka kan sudah menikah," mata Junsu menatap Yoochun yang menatapnya dengan pandangan 'Oh aku lupa'.
Yunho tetap diam.
Yoochun berdeham lalu melanjutkan ucapannya, "Maksudku kau itu pengecut karena tidak mau mencoba mempercayai Jae Hyung. Kudengar kau juga bilang kalau kau menyayanginya dan bukan mencintainya, benar?"
Yunho mengangguk.
"Mworago?!" Junsu berteriak, "Kau mengatakannya begitu saja hah?"
"Kau bilang kau tidak suka anak-anak kan? Jika iya, coba kau pikirkan, kalau waktu itu Ahjumma dan Ahjussi berpikiran yang sama denganmu, kau pasti tak pernah ada di dunia ini, Hyung," Yoochun menghela napasnya panjang, tak sia-sia ia membaca buku sastra beberapa minggunya yang senggang.
Yunho diam dan mulai memasang wajah berpikir.
Junsu juga diam dan ikut membayangkannya.
Yoochun melanjutkan ucapannya yang belum selesai, "Beruntung Ahjussi dan Ahjumma memikirkan tentang penerus keluarga dan perusahaan. Jika tidak, pastinya nama Jung Yunho atau Jung yang lain tidak ada, mengingat mereka sekarang sudah tiada."
Junsu mengangguk begitu menyadari inti dari ucapan panjang kekasihnya.
Sepuluh menit terlewati begitu saja. Seperti mendapati sesuatu yang penting, Yunho langsung berdiri dari duduknya, dan tanpa bicara sepatah kata, ia melangkah cepat keluar ruangan. Menyisakan tatapan bingung Junsu dan cengiran lebar Yoochun.
.
.
.
TBC
A/N : Ada yang nanya, kenapa di chap 1 ada kata kekasih buat Yunjae, itu karena beberapa orang luar menganggap suami - istri sebagai kekasih, entah kenapa. Dan di chap ini ada beberapa kata-kata Reviewers yang aku masukkan, semoga kalian lihat. Dan juga ada yang nanya apakah ada pair lain selain Yunjae, di chap kemarin juga menjelaskan kalau ada Hanchul, nah di chap ini juga sudah ada jawabannya, Yoosu. Adakah yang bisa merekomendasikan lagu Yunho atau Jaejoong yang mengandung arti dalam dan bermakna, atau yang bahagia juga boleh, karena jujur, saya jarang mendengarkan lagu korea kecuali soundtrack film.
.
Review please m(-x-)m
.
Gomawo 27/5/2013 6:00 PM
.
Jason
