Menjinakan seseorang yang lebih anarkis daripada beruang kutub seperti Luhan mungkin bukan hal yang mudah.

Sangat tidak mudah.

Bahkan dengan orang seperti Oh Sehun yang mana dia adalah pria kejam, mengintimidasi, kaisar yang memerintahkan dunia dunia bawah dengan tangan besinya yang dingin bahkan para mafia lain akan meletakkan kepala disepatu mahalnya, Luhan dan segala hal tentang keras kepalanya sama sekali tidak bisa dibuat tuntuk.

Luhan berbeda, dia menyimpang daripada kebanyakan, tidak masuk akal dan penuh kejutan.

Sehun tidak akan pernah menemui seseorang yang berani berteriak dan mengumpat brengsek, sialan, cabul, bajingan dan orang gila didepan ujung hidungnya sendiri selain Luhan.

Dia tidak gentar pada pengawal Sehun dengan wajah yang menyeramkan seperti Kris, dia juga berusaha untuk tidak gemetaran ketika Sehun pertama kali menodongkan pistol dikeningnya.

Melampaui apa yang Sehun harapkan, kaisar dunia bawah tersebut benar benar terkesan. Nah sudah dikatakan bukan, jika dia berbeda dan sangat istimewa.

Luhan tidak melemparkan diri padanya dan memohon seperti pelacur yang haus penis, tidak juga memerasnya ketika Sehun dengan sukarela melempar kartu hitam tanpa limit kearahnya, dan terlebih lagi membuat anak laki-laki itu mau membuka paha untuknya, itu adalah perlawanan yang sengit dan membuat kepala Sehun sedikit bocor. Sebaliknya, anak itu malah melarikan diri dan mendoakan dirinya agar cepat impoten—Wajah kris menjadi biru karena menahan tertawa saat mendengar ini—, kartu hitam tanpa limit yang dia berikan berakhir ditong sampah, dan ketika Sehun berusaha untuk bercinta —sebenarnya memperkosa— dengannya, dia melakukan sedikit perlawanan kecil yang mengagumkan, menendang guci antik seharga 10 juta won kearah Sehun dan mengenai kepalanya dengan sukses sebelum benar benar menyerah.

Sehun percaya, Luhan pasti pemain bola yang baik saat duduk dibangku SMA.

Luhan menolaknya mentah dan menyatakan ketidak sudiannya, Sehun hampir tidak pernah menerima penolakan dalam hidupnya, bahkan beberapa orang malah melemparkan diri mereka dengan sukarela kepadanya, dan setelah berpikir dalam waktu yang cukup panjang. Sehun memutuskan, bahwa Luhan adalah miliknya.

Sejak Luhan muncul, seolah olah, dunia Sehun telah diberi judul. Perlahan-lahan, Sehun tidak menyadari pada awalnya, tapi ketika dia mendongkak sekali dan mendapati apa yang ia lihat sekarang. Kaisar yang kejam itu tahu bahwa beberapa hal telah berbeda.

Sehun tersenyum kecil, Luhan menggeliat dengan manja seperti anak kucing yang manis, kepala anak laki-laki itu berada diatas dadanya dengan tubuh mereka yang masih saling terjerat satu sama lain seperti memang dimaksudkan untuk itu. Terbungkus rapi dengan seprei dari ujung kaki sampai pinggul.

Tidak ada siapa-siapa disini, tapi Sehun adalah orang yang rakus dan serakah. Dia tentu tidak mau berbagi pemandangan tubuh telanjang kekasihnya yang berharga dengan siapapun. Sekalipun itu hanyalah sebuah lukisan yang terpajang dengan Indah didinding kamarnya.

Sehun menilik kebawah, leher Luhan penuh dengan beberapa tanda ciuman yang memerah dan sedikit kelihatan cabul, sehun menyeringai, penjahat seharusnya tidak meninggalkan sidik jari apapun atau barang bukti lainnya, tapi daripada seorang penjahat, ini lebih seperti seorang seniman yang ingin meninggalkan tanda kepemilikan pada mahakaryanya.

Luhan menggeliat lagi, dan kali ini anak laki-laki itu bangun.

Sehun tersenyum dan Luhan menatapnya dengan mata yang menyipit.

"Sudah bangun? " tanya Sehun.

Luhan mengangguk pelan setengah mengerang.

Sehun memerah sampai titik habis energinya saat mereka bercinta, dan Luhan bahkan terlalu lelah untuk membuka kedua matanya.

"Kau bajingan Sehun" Luhan bergumam merdu.

Sehun tersenyum miring dan menarik anak laki-laki itu kepelukannya.

"Menjauh dariku mesum, aku tidak mau bertanggung jawab dengan ereksi konyolmu lagi" Luhan mendorong Sehun dan menggeliat untuk menjauh darinya.

"Kau sudah menjadi anak baik hari ini, kemari, aku akan memberimu hadiah"

"Apa-apaan, jika hadiah yang kau maksud adalah seks atau hal hal cabul lainnya, aku serius akan menendang pantatmu Sehun" seru Luhan galak.

sehun terkekeh dan menarik Luhan dengan mudah untuk mendekat dengannya. Luhan berteriak seperti anak kucing yang manis dan mencoba mencakar Sehun dengan cakar kecilnya.

"Kau selalu berpikiran buruk tentangku ya Luhan. Aku tidak sekejam itu untuk memaksamu melanjutkan sesi seks kita, kau kelelahan" ucap pria itu mudah.

Luhan mendengus dan memilih untuk tidak mempercayai kata kata yang keluar dari mulut buaya Sehun.

"Aku tidak percaya, kalau itu benar lalu hadiah apa yang kau maksud? Jika itu sebuah jam tangan yang seharga distrik gangnam seperti kemarin maka aku akan meninjumu"

"Tenangkan pantat cantikmu Luhan, hadiahnya bukan itu"

"Maaf, pantatku terlalu sakit untuk diminta menjadi tenang sekarang. Katakan saja apa hadiahnya. Aku terlalu lelah untuk berbicara panjang lebar denganmu Sehun" Luhan mendelik.

"Baiklah kitten, hadiahnya adalah.. Kau bisa minta apapun kepadaku dan aku—"

"Akan mengabulkan semuanya. Wow! Apakah kau serius? " Luhan bersemangat dan tersenyum lebar.

Sehun mengecup keningnya dan tersenyum "tentu saja, apapun itu asalkan kau senang. Pengecualian untuk pengawal. Mereka adalah absolut"

Luhan mengutuk. Bernegoisasi dengan bajingan ini lebih sulit dari apa yang bisa ia pikirkan dikepala kecilnya.

"Oke baiklah! Kuharap kau tidak akan menarik kata-katamu dan menyesal karena sudah mengatakannya ya" ancam Luhan.

Sehun tersenyum dan mengangguk.

Luhan menyeringai "aku ingin agar besok tidak diantar dengan lamborgini merah sialan itu! Serius Sehun, orang orang mulai menanyakan penjabat mana yang menaiki mobil itu ketika melihatnya! " keluh Luhan, dia mendesah lelah dan Sehun tertawa atas penderitaannya.

"Kau bisa mengatakan itu mobil milik suamimu Luhan"

"Kau bukan suamiku Sehun! Dasar gila! "

"Aku iya. Dan kau adalah ibu rumah tangga kaya milikku"

"Serius Sehun, berhenti mengatakan omong kosong sebelum aku meninjumu, aku bukan nyonya mu! " rajuk Luhan.

"Tapi kau memasak dan membersihkan rumahku, servicemu diranjang juga memuaskan—"

"Sialan! Berhenti disitu! Intinya aku bukan ibu rumah tanggamu, nyonyamu, istimu atau apapun itu brengsek! " barista lucu itu mendesis.

"Oke baiklah, tenangkan dirimu sayang. Marah tidak baik untuk bayi kecil ki—"

"AARRGGG.. SINI KUCAKAR WAJAHMU. AKU TIDAK HAMIL DAN AKU INI LAKI LAKI! TULEN! " amuk Luhan, Sehun tertawa kecil dan memeluk erat kekasihnya. Hampir seperti mencekik pikir Luhan. Sehun berhenti tertawa dan menatap wajah manis tersebut sebelum kemudian dia bertanya "Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan pada mobil itu kit? "

Luhan menepuk jidatnya "Nah! Aku hampir melupakan itu karena ledekan konyolmu. Pokoknya terserah, aku benci melihatnya. Letakan saja itu ditong sampah atau buang kelautan lepas"

"Hanya itu? "

"Yeah hanya itu"

Keesokan harinya.

Luhan mendengus, setelah mobil lamborgini itu pergi sekarang Sehun malah menggantinya dengan mobil impor mahal lainnya.

Luhan mengutuk Sehun yang ada entah dimana dan berharap pria itu tersedak atau apapun.

"Tuan, silahkan masuk" ujar jongin sopan. Luhan mengangguk kecil tanpa perlawanan. Pinggangnya sakit dan dia sedang malas untuk berdebat.

Tapi sebenarnya ia agak penasaran juga. Kemana kiranya mobil lamborgini merah milik sehun itu perginya karena jujur saja, Luhan tidak melihat mereka digudang tempat Sehun biasanya menyimpan koleksi mobilnya dan sebenarnya perasaan Luhan tidak enak tentang mobil itu.

"Jongin.. " akhirnya Luhan memutuskan bertanya.

Pengawal itu membungkuk sebentar membuat Luhan merotasikan matanya sebelum menjawab "ada yang bisa saya bantu tuan? "

"Ah tidak-tidak! Tidak perlu tegang jongin santai saja, aku bukan Sehun okay. Hanya saja, anu kenapa kita tidak berangkat dengan mobil yang kemarin? "

Luhan menyatakan pertanyaan satu juta dollarnya. Jongin masih pada wajah dinginnya dan menjawab dengan datar "mobil lamborgini merah yang dikeluaran eksklusif kemarin? " tanya jongin memastikan.

Luhan meringis mendengarnya, itu pasti mahal batinnya "iya itu! Kemana mobil jelek itu? " tanya luhan mendesak. Jongin masih dengan wajah tenangnya menjawab.

"Oh, mobil itu sudah dibuang oleh Tuan Oh ke teluk Suncheon tadi malam atas permintaan anda tuan" tersedak oleh ludahnya sendiri, luhan melotot dengan ngeri. Orang gila mana yang akan melempar mobil mewah impor mereka keteluk suncheon?!

Luhan mengusap wajahnya frustasi, terpukul oleh kata kata jongin tadi, isi kepalanya menjawab.

Sehun, Sehun orangnya.

Luhan pasti telah menyelamatkan bangunan rumah anak yatim, anak kucing dan anak anjing dikehidupan lampau untuk mendapatkan orang gila itu menjadi kekasihnya, barista itu berpikir konyol.

Bajingan gila yang kaya, Luhan berjanji dia tidak akan berkata kata dengan sembarangan lagi pada Sehun mulai sekarang, batinnya.

.

.

.

.

Author's note : bisa diskip karena ini bakal puanjangg.

Halo minna-san aku balik! *peluk* dannnn, maaf kalau chapter ini alurnya kecepetan atau sejenisnya. Huhu, aku bener2 gaberbakat sebenernya dalam tulis menulis, cuma ngotot aja mau ngeramaiin fandom hunhan kita yang tercinta ini T^T *kibar bendera shipper* mohon dimaafkan kalau ada kata yang tidak berkenan atau typo atau lainnya *bows*

Daaaan, terimakasih banyak buat saran dan masukannya kemarin *peluk cium* aku gabisa balas review kalian satu2 tpi aku bener2 berterimakasih atas apresiasi kalian.

Dan ada salah satu dri kalian yg sadar klau dichap sebelumnya Luhan pkai kata ganti 'kamu' sedangkan Sehun 'kau' xD sebenernya gaada alasan khusus, aku cuma ngerasa kalau sehun pkai 'kau' trus luhan pkai 'kamu' kesan dominannya sehun bakal lebih kerasa dan menurutku luhan yg pakai 'kamu' terkesan menggemaskan walaupun dia sedang mengumpat xD jadi jatohnya ga sangar2 bngetlah dia 'kamu bajingan sehun!' /nosebleed

Last, jangan ragu untuk memberikan kritikan atau saran, sampai jumpa di chapter selanjutnya~.