Big is Cute
KHR © Amano Akira
This fiction © Gemini Slacker
Peringatan : No Beta Reader, OOC, Shonen Ai dll.
Pairing : [Nama]x?{ditentukan melalui poling} dan beberapa CanonxCanon.
AN : Okay, pertama Mini-chan minta maaf karena sudah mengingkari janji. Karena Mini-chan tidak bisa mengupdate kisah ini dengan menampilkan chapter 1 sampai chapter terbaru, yaitu chapter 4. Akan tetapi, berhubung Mini-chan ingin segera mem-publish hasil editan chapter 1 ini. Mini-chan harap kalian mau memaafkan Mini-chan.
Mini-chan akan segera mengusahakan untuk mempublish chapter lainnya. Doa 'kan agar tidak ada halangan. Nah, sekarang selamat menikmati kisah ini. Don't forget to Review~. Ciao~~.
Keterangan :
"Blabla…" = Bicara biasa
'Blabla…' = Pikiran karakter
[Nama] : ubah dengan nama kalian
[N. Lengkap] : Ubah dengan Nama lengkap kalian
.: Big 01 :.
~ let's go to Japan! ~
Koridor lantai dua gedung sekolah SMA Swasta Elit A
{[Nama] PoV}
"Eh, lihat! Si gendut sudah datang, tuh." Kata salah satu murid perempuan kepada temannya.
"Ih, kenapa dia masih datang, sih? Sekolah ini 'kan hanya untuk orang terhormat." Kata temannya sambil menatapku dengan jijik.
'Kalau begitu, bersikaplah seperti orang terhormat, dong, dasar muka badut.' Hina ku dalam hati sambil berusaha untuk tidak memutar mataku. Secara, bisa masalah jika aku menunjukkan ekspresi atas perkataan mereka.
'Menjengkelkan, setiap hari selalu seperti ini.' Pikirku jengkel sambil berjalan menuju kelasku yang berada di ujung kolidor, tanpa mempedulikan pandangan dan hinaan yang diberikan padaku dari semua murid lainnya. 'Yah, sudahlah, 'kan tinggal 1,4 tahun lagi aku akan lulus dari sekolah ini. Jadi, aku hanya harus bersabar sedikit lagi.' Pikirku sambil membuka pintu kelasku.
Ketika aku melangkahkan masuk ke dalam kelas, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengenai kakiku dan sebelum aku melihat apa yang mengenai kakiku, aku langsung merasakan sekujur menggigil karena terkena seember penuh air es yang ternyata telah disiapkan untuk mengerjaiku.
"AHAHAHA, SI GENDUT ITU BENERAN KENA JEBAKANNYA!" Seru salah satu murid laki-laki di kelasku sambil tertawa bersama murid lainnya yang ada di kelas.
'Huh, padahal masih pagi tapi, mereka sudah sebegitu semangatnya mengerjai orang.' Pikirku lemas sambil ke koridor untuk menuju ke lokerku yang berada di lantai satu, tanpa mempedulikan gelak tawa dan ejekan dari semua orang.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku tiba di depan lokerku untuk mengambil seragam cadangan ku. Akan tetapi, sepertinya hari ini mereka tidak hanya menyiapkan satu cara untuk mengerjaiku. Secara, aku menemukan pintu lokerku yang belum lama aku tinggalkan telah dihiasi dengan 2 potongan papan kayu yang dipasang bersilangan.
'Ukh, kalau begini, mustahil aku bisa ambil seragam cadangan ku.' Pikirku sambil menggigit bibir bawahku. 'Tunggu dulu. Mungkin lebih baik aku langsung pulang saja. Toh, saat ini di rumah sedang tidak ada orang.' Pikirku girang sambil mengingat kalau Adik laki-laki ku sedang berada di sekolah dan sejak 3 hari yang lalu, Ibu lembur di kantornya.
'Yap, aku pulang saja, ah. Lagipula, hari ini sedang tidak ada tes' Pikirku senang sambil merencanakan apa yang aku lakukan setelah sampai di rumah.
Akan tetapi, sayangnya rencanaku harus buyar ketika aku mendengar suara yang memanggilku.
"Astaga, [Nama]! Kenapa kamu bisa basah kuyup begini?!" Tanya Bu Nina yang syok melihat diriku basah kuyup dan menggigil kedinginan. "Ya, ampun, badanmu sampai dingin begini. Ayo, ikut Ibu ke UKS. Nanti, Ibu carikan baju ganti untukmu." Katanya yang langsung menyeret ku menuju ke Ruang UKS berada.
'Ah, mengjengkelkan! Tak bisakah aku membolos sehari saja. Sungguh sekolah yang nyebelin!' Gerutu ku kesal dalam hati dan membiarkan tubuhku diseret oleh Guru Bahasa Inggrisku yang memiliki tubuh yang lebih kecil dariku.
=^.^= Big is Cute =^.^=
"Nah, minum obat dan tehnya, supaya kau tidak masuk angin." Kata Bu Ditha, sang guru UKS sambil menyerahkan obat flu dan segelas teh hangat untuk ku yang sudah berganti baju.
"Untung tadi ibu lewat ruang loker. Kalau tidak, entah sampai kapan kamu bakal basah kuyup, [Nama]." Kata Bu Nina yang lega setelah badanku sudah tidak menggigil lagi.
'Justru, aku berharap Ibu tidak lewat. Jadi, aku bisa membolos.' Gerutu ku kesal dalam hati sambil meminum obat dan Teh-nya
"Tapi, kenapa tadi kamu tidak segera ke UKS, [Nama]?" tanya Bu Ditha cemas.
"Tadinya, aku mau ambil seragam cadangan yang ada di dalam loker, tapi…"
"Ah, benar juga! Tadi sekilas Ibu melihat lokermu dipasang papan kayu! Benar-benar, deh. Perbuatan mereka sudah keterlaluan! Mereka harus-"
"Harus apa?" Tanya ku yang memotong perkataan Bu Nina. "Ibu memang salah satu Guru yang mengajar di sekolah ini dan sudah sewajarnya Ibu melindungi dan membelaku. Akan tetapi, dengan itu saja tetap tidak bisa menghentikan mereka. Tanpa uang, Ibu tidak bisa melawan mereka." Kataku tegas sambil melatakkan gelas di atas meja dan mengambil tas sekolahku.
"Aku pikir, Ibu seharusnya sudah tahu itu semua setelah melihat apa yang pernah terjadi pada Pak Edi." Kataku pelan sebelum melangkah pergi dari Ruang UKS, meninggalkan kedua Guru yang jadi terkenang dengan seorang Guru yang sekarang harus hidup menderita karena melindungi orang seperti diriku.
Yah, sekitar 2 bulan yang lalu, Bapak Edi yang merupakan salah satu pengajar di sekolah ini harus merelakan kehilangan pekerjaannya karena telah menghukum para murid yang telah melakukan penindasan padaku.
Sebenarnya, tidak ada yang aneh dari seorang Guru menghukum muridnya yang telah berbuat penganiayaan pada temannya sendiri. Malah tergolong wajar. Bahkan, hukuman yang diberikan Pak Edi tergolong ringan karena hanya memanggil orang tua masing-masing murid dan di suruh untuk membuat surat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi.
Akan tetapi, sayangnya, justru hal itu yang membuat Pak Edi kehilangan pekerjaannya di sekolah ini. Bahkan, Pak Edi dan keluarganya mesti rela pindah ke Papua karena sikap egois para orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan kalau anak mereka telah berbuat nakal di sekolah.
Sungguh, betapa hebatnya kekuatan dari sekumpulan uang kertas dalam menjatuhkan keadilan di negara ini.
"*Mendesah* Tapi, dari itu semua. Yang harus disalahkan adalah diriku yang selalu membuat orang lain kerepotan." Ucapku pedih.
'Seandainya, aku tidak masuk ke sekolah ini… Sudah pasti, Pak Edi dan keluarganya masih bisa berada di Jakarta. Pak Edi tidak mesti harus mengajar di pedalaman Papua. Serta putra Pak Edi yang tertua pasti bisa mendapatkan program biayasiswa untuk kuliah di Amerika.'
"Ah, sudahlah [Nama]. Lebih baik sekarang kau belajar yang benar agar nantinya kau bisa menepati janjimu pada Pak Edi." Kataku pada diriku sendiri sebelum menuju ke kelasku dengan langkah tegas.
=^.^= Big is Cute =^.^=
Jam 12.45, Awal jam pelajaran ke 4, pelajaran terakhir.
{Normal PoV}
"Baiklah, sebelum memulai pelajaran, Bapak akan membagikan hasil ulangan dari 2 hari yang lalu." Kata Pak Amir yang merupakan Guru Matematika sambil mengeluarkan kumpulan kertas nilai ujian dari dalam tasnya.
'Huh, aku pasti mesti remed, deh.' Pikir [Nama] yang sudah yakin mendapat nilai di bawah 40. Secara, ketika mengerjakan soal ujian minggu lalu, [Nama] asal memberi jawaban yang kebetulan jawaban soalnya adalah bentuk pilihan ganda. Hal ini, dikarenakan pada malam sebelum hari ujian, dia lupa kalau besok pagi ada ulangan Matematika. Jadi, dia lebih memilih bermain game online sampai larut malam. Apalagi, saat itu tidak ada tugas rumah yang harus dikerjakan.
Oleh karena itu, betapa terkejutnya dirinya, ketika dirinya tidak mendapatkan keisengan dari teman sekelasnya dan dirinya malah disuguhkan pemandangan dari teman sekelasnya sibuk menghapal rumus Matematika.
'Yah, santai saja 'lah. Toh, aku selama ini memang sering harus remed kalau ada ulangan.' Pikir [Nama] santai.
{AN : Anak baik jangan tiru perbuatan [Nama], ya! Kalian tidak boleh bergadang jika besok ada sekolah dan kalian juga harus selalu belajar, mau ada atau pun tidak ada tugas dan ulangan! Okay~}
"Eh, pasti si gendut dapat nilai terendah lagi, deh" Bisik seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh dari [Nama] kepada teman sebangku nya sambil melihat ke arahnya dengan pandangan mengejek.
'Oh, please, deh ah. Kau 'kan sudah tahu jawabannya. Bisa 'kan, tidak mengungkit hal ini lagi?' Gerutu [Nama] sambil memutarkan matanya mendengar bisikan dari anak perempuan yang dia sendiri malas mengingat namanya.
"Hah, itu si bukan pasti lagi. Dia memang tidak pernah mendapat nilai lebih dari 72 di setiap mata pelajaran." Jawab temannya yang juga melihat [Nama] sambil berusaha menahan tawanya.
"Oi, hentikan mengejeknya. Nanti dia marah dan meledakkan tubuhnya yang besar seperti bom itu dan kita bakal kena sial." Kata murid laki-laki yang duduk tidak jauh dari kedua murid perempuan tadi.
"Ya, aku juga setuju dengannya. Aku sudah repot dengan mencium bau menyengat dari si gendut itu. Jadi, tolong jangan sampai ditambah lagi, deh." Keluh salah satu murid laki-laki lainnya yang menyebabkan sebagian murid yang mendengarnya jadi berusaha menahan tawa agar tidak ketahuan Pak Amir.
'Mungkin aku gemuk dan tidak pintar, tapi setidaknya aku ini masih punya otak untuk tidak bersikap seperti sampah.' Gerutu [Nama] dalam hati sambil berharap Pak Amir segera membagikan hasil ujiannya dan memulai pelajarannya.
'Ini sungguh menyebalkan. Mentang-mentang aku ini punya tubuh tergemuk dan memiliki nilai standar di sekolah ini, bukan berarti aku boleh di jadikan objek pelampiasan penghinaan seperti ini.' Pikir [Nama] kesal sambil melihat ke luar jendela. 'Apa aku tidak bisa mendapatkan teman yang tidak memandang bentuk fisikku dan kemampuan otak?' Tanya [Nama] sambil melihat langit dengan penuh harap.
"[N. Lengkap]" Panggil Pak Amir yang sontak membuat [Nama] kaget dan terburu-buru berdiri dari kursinya yang menyebabkan kursi itu terjatuh ke lantai.
"Oi, hati-hati gendut! Nanti sekolah ini terkena gempa gara-gara kamu." Seru salah satu murid laki-laki lainnya yang membuat seisi kelas jadi penuh suara tawa.
"Sudah hentikan!" Bentak pak Amir sambil memukul mejanya dengan keras. "Berhenti mengganggu, [Nama]?!"
"Kami tidak mengganggunya, Pak. Kami hanya menggodanya." Jawab murid yang lainnya yang disetujui murid lainnya.
'Ya, ya. Terserah kalian, deh.' Gerutu [Nama] dengan kesal dalam hati sambil membetulkan kursinya sebelum berjalan menuju ke Pak Amir untuk mengambil hasil tesnya.
"Jangan diambil hati perkataan mereka, [Nama]." Kata Pak Amir yang berusaha menghibur [Nama] ketika dia tiba di depan meja guru. "Lagipula, kali mereka tidak akan lagi menghinamu, ketika mengetahui kalau kamu mengalahkan mereka semua dalam ulangan kali ini." Tambahnya yang membuat [Nama] dan yang lainnya keheranan.
"Huh, apa maksud Bapak?" Tanya [Nama] dengan penuh tanya dan mulai merasakan firasat buruk sambil berulang kali mengatakan 'Semoga bukan yang itu.' Dalam hatinya berkali-kali.
Tanpa menyadari wajah pucat [Nama] dan kebingungan murid yang lainnya, Pak Amir melanjutkan dengan wajah senang. "Di ulangan kali ini, kau mendapatkan nilai paling sempurna di kelas, [Nama]. Kamu mendapat nilai 100." Katanya dengan bangga yang membuat semua orang syok mendengarnya, termasuk [Nama] sendiri.
"Pak, apa gak salah? Masa si gendut mendapat nilai sempurna?! 'Kan biasanya dia lebih sering mendapat nilai 72 ke bawah dalam pelajaran Bapak." Protes salah satu murid.
"Benar Pak? Apa Bapak yakin si gendut ini tidak nyontek?"
"Tentu saja, Bapak yakin. Apa kalian semua lupa kalau Bapak adalah guru paling keras dalam mengawasi ujian?" Bentak Pak Amir yang membuat semua murid terdiam dan tidak berani memprotes lagi. Secara, apa yang dikatakannya memang benar. Walaupun, Pak Amir sudah berusia 53 tahun, dia terkenal sebagai guru paling killer di antara semua guru di sekolah. Bahkan, saking killer-nya, Pak Amir merupakan guru pengawas paling sibuk mengawasi peserta ujian ketika ujian penting diadakan, seperti ujian semester atau pun pas UN.
'Gawat, aku dapat nilai di sempurna di ujian Matematika! Ini mustahil, padahal aku mengerjakan tes ini kan tanpa belajar sama sekali dan aku juga mengerjakannya dengan asal-asalan.' Pikir [Nama] dengan penuh ketidakpercayaan dan tidak peduli dengan perbincangan antara teman sekelasnya dengan Pak Amir. 'Tunggu, jika aku dapat nilai sempurna dalam pelajaran, terutama dalam pelajaran Matematika, itu artinya mulai hari ini ada kemungkinan aku akan mendapatkan kesialan tanpa henti?!' Pikirnya yang langsung panik.
"Pak Amir, tolong segera ubah nilaiku sejelek mungkin! Ah, tidak. Tolong ubah menjadi Nol!" Minta [Nama] dengan penuh harap, panik, cemas, horor yang bercampur jadi satu.
Mendengar permintaan [Nama] membuat semua orang bengong keheranan dan syok. Secara ini pertama kalinya dalam sejarah yang ada di dunia, ada orang yang mendapatkan nilai sempurna dalam matematika, tapi malah minta diubah menjadi nilai nol. Akan tetapi, [Nama] yang sudah ketakutan, sama sekali tidak peduli dengan tatapan yang dia terima dari semua orang. Secara saat ini yang ada di kepalanya hanyalah berusaha memikirkan segala cara untuk mengubah nilai sempurna itu menjadi jelek.
Hal ini diakibatkan oleh kemiripan nasip [Nama] dengan Tsunade dari Manga Naruto, yang di mana jika Tsuna menang berjudi maka itu artinya dia akan mendapatkan kesialan, sedangkan untuk [Nama], dia akan mendapatkan kesialan jika mendapat nilai mata pelajaran di atas 72.
Yap, hal inilah penyebab utama kenapa [Nama] tidak pernah mendapatkan nilai lebih dari 72 dalam setiap mata pelajaran dan mengakibatkan nilainya selalu standar. [Nama] terlalu takut mengalami akan nasip sialnya dan parahnya dia sendiri tidak tahu berapa lama kesialannya akan terjadi pada dirinya. Plus, dia juga tidak tahu bagaimana menghilangkan kutukan aneh ini. Jadi cara terbaik yang saat ini bisa [Nama] lakukan adalah terus mendapatkan nilai dibawah angka 72 sampai dirinya lulus dari universitas nanti.
"Kenapa malah bengong! Cepat diubah nilainya, kakek tua sialan!" Bentak [Nama] kesal yang membuat semua orang semakin syok. Karena melihat dirinya berani memanggil guru paling killer dengan panggilan kakek tua sialan.
"(Nama)~, Mama datang menjemputmu~." Seru seorang Wanita yang terlihat pertengahan umur 30 tahun yang muncul tiba-tiba di depan pintu kelas [Nama] dengan wajah riang.
Wanita tersebut, memiliki rambut panjang sepinggang dengan warna (Warna Rambut) dan sepasang mata (Warna Mata). Dia memakai setelan jas kantor berwarna (Warna Jas) yang terlihat sangat rapi di tubuhnya yang kurus.
"Huh, ngapain Ibu kemari? Memangnya tidak lembur lagi?" Tanya [Nama] keheranan kepada wanita yang merupakan Ibunya yang seharusnya berada di kantornya saat ini.
"Duuh, 'kan Mama sudah ingatkan kamu untuk memanggil Mama dengan Panggilan Mama bukan Ibu, [N. Lengkap]! Panggilan Ibu terlalu kuno dan ketinggalan jaman." Kata Ibu [Nama] A.K.A Mama [Nama] yang hanya membuat putri satu-satunya memutar matanya dengan ocehan yang sering dia dengar.
"Kedua, seperti yang Mama katakan barusan. Mama datang kemari untuk menjemputmu. Secara malam ini, kita berserta adikmu akan segera berangkat ke jepang dan tinggal di sana selamanya. Jadi, hari ini adalah hari terakhir kamu bersekolah di sekolah ini~" Katanya riang yang tanpa sadar membuat semua orang terkejut.
"EEEEEEEEHHHHHHHHH?!"
'TIDAAAAK! TAMAT SUDAH RIWAYATKU!' Teriak [Nama] dalam hati yang bisa merasakan dewa kesialan sedang tersenyum lebar ke dirinya.
.
..
~Bersambung…~
..
.
AN : Nah, bagaimana? Apa kalian menyukainya? Mini-chan harap kalian menyukainya. Apalagi, Mini-chan sengaja buat agak sedikit lebih panjang dari sebelumnya {yah, walaupun ada bagian yang Copy-paste}. Nah, sekarang silahkan memberikan review dan poling kalian di kotak Review. Ciao~
.
Give me a Review, Follow and Faforite Me and this story (˘‿˘ʃƪ)
